A/N : Yeah!! I'm on the roll, baby! Mari kita lanjutkan cerita ini, SEKARANG! Muahahahahah!!
Disclaimer : Duh. Masih bukan punya gue, tuh. Ntar kalo udah jadi punya gue, gue kasih tau, kok, seluruh dunia. Tapi, buat sementara ini, biarkanlah Yugioh menjadi hak milik Kazuki Takahashi. Hiks…
Warning : Blindshipping (AtemxYugi), Bronzeshipping (MarikxMalik), Tendershipping (BakuraxRyou), dan sedikit hint Castleshipping (SethxJou) disini.
Nasi goreng. Daging kambing. Acar, bawang, dan kerupuk udang. Semuanya ada asal duitnya juga ada. Rasa lezat. Dijamin halal. Karena kambingnya kenal semua. Ada yang tetangga dan ada yang masih sodara dengan yang punya. Inilah dia. Makan sekali dijamin kau minta lagi. Makan sekali dijamin kau muntah lagi. Makanlah nasi goreng kambing. Yang terbuat dari daging kambing, oleh para kambing, dan untuk dirimu wahai kambing. (Nasi Goreng Kambing – P Project) Mauuu... Sluuurrrppp...
Katsuya membuka kedua matanya perlahan-lahan. Rasa pening di kepala dan sakit di sekujur tubuhnya masih terasa, membuat pemuda berambut pirang itu mengerang pelan. Pikirannya yang sedikit kabur membuatnya bingung saat mendapati dirinya berbaring di sebuah tempat tidur besar dan sangat empuk. Ruangan yang ia tempati juga sangat asing baginya. Ruangan itu memiliki langit-langit yang sangat tinggi dengan pilar-pilar besar dari batu pasir menopang beban atap. Beberapa ukiran-ukiran aneh yang belum pernah Katsuya lihat tampak menghiasi beberapa sudut dinding, terutama di kusen pintu dan jendela. Tak jauh dari tempat tidur yang ditempati Katsuya, sebuah bukaan yang mengarah langsung ke pemandangan kota nampak disana. Angin lembut menerobos masuk ke dalam kamar dan memainkan rambut Katsuya yang sedikit berantakan, serta membuat suhu di dalam kamar menjadi lebih sejuk.
"… Dimana aku…?" bisik Katsuya, bingung. Perlahan-lahan ia mulai menjajakkan kakinya di lantai batu yang dingin. Ia baru menyadari bahwa pakaiannya sudah berubah total dari apa yang ia pakai sebelumnya. Pakaiannya sekarang menyerupai daster panjang berwarna putih bersih. Sebuah sabuk tipis seperti tali tampak melilit dengan longgar di bagian pinggangnya.
Katsuya memperhatikan penampilan barunya di depan kaca besar yang tak jauh dari tempat tidurnya. Ia terlihat seperti orang-orang di jalanan ramai yang ia lihat baru-baru ini. Tapi, pakaiannya tampak begitu putih dan bersih dibandingkan mereka. Pakaian itu cukup nyaman, namun Katsuya tetap saja merasa risih karena ini kali pertamanya ia mengenakan pakaian menyerupai rok ini. Hanya perempuan seperti adiknya yang memakai rok begini.
Saat Katsuya sedang sibuk mematut-matut diri di depan cermin, seseorang memasuki kamarnya. Orang itu mirip sekali dengan salah satu penyelamat sang Pangeran Domino. Rambutnya yang berbentuk seperti bintang, mencuat ke berbagai sudut dengan warna hitam, pirang, dan sedikit merah. Pakaiannya hampir serupa dengan Katsuya, namun ada sedikit corak dan perhiasan emas menghiasi tubuh mungilnya. Yang membuatnya sedikit berbeda dari penyelamat yang kemarin adalah sorot matanya yang begitu lembut dan bersahabat. Selain itu, warna matanya juga berbeda, yaitu lavender, sementara sang penyelamat berwarna merah. Disamping itu, kulitnya tidak segelap si penyelamat itu.
"Ah! Kau sudah sadar rupanya." katanya riang. Ia masuk ke dalam kamar sambil terus tersenyum. Di tangannya, ia memegang nampan besar berisi makanan dan minuman yang ditujukan untuk Katsuya. "Aku tadinya hanya ingin mengantarkan ini untukmu karena Malik bilang kau mungkin akan lapar saat sadar nanti." lanjutnya, masih dengan nada riang gembira. Ia meletakkan nampan berisi makanan itu di atas meja kecil tepat di samping tempat tidur.
Katsuya masih belum mengerti bahasa yang ia gunakan. Ia hanya menatap bingung nampan berisi makanan dan bocah yang baru datang itu. Apakah makanan itu untuknya? Ia sendiri tidak tahu dan tidak bisa bertanya. Ia tak bisa menggunakan bahasa mereka. Padahal, Katsuya begitu kelaparan hingga bunyi perutnya yang keroncongan terdengar sangat jelas.
Sang bocah bermata lavender itu tertawa saat mendengar bunyi aneh yang berasal dari perut Katsuya, membuat sang pangeran tersipu malu. "Makanlah. Makanan itu memang untukmu, kok."
Dengan ragu, Katsuya mengambil sedikit makanan asing yang dihidangkan di depan matanya. Ia tidak pernah melihat makanan seperti itu, apalagi mencicipinya. Sambil memejamkan mata, Katsuya memasukkan makanan itu ke mulutnya. Dikunyahnya perlahan-lahan dan ditelan, sementara pemuda berambut tiga warna itu terus memperhatikannya dengan senyuman. Tak disangka, ternyata makanan itu enak juga! Tanpa basa-basi lagi, Katsuya langsung menghabiskan makanan yang ada di depannya. Tak peduli lagi ia dengan tata cara makan yang sopan. Ia kelaparan setengah mati.
Pemuda berambut unik itu terus mengawasi Katsuya yang makan dengan liarnya itu. Senyum lebarnya lama kelamaan menghilang dan digantikan dengan senyum sedih. Kasihan sekali ia, pikirnya. Pasti ia begitu kelaparan sampai selahap ini makannya. Pemuda itu kemudian teringat adegan saat sang Pharaoh dan Pendetanya kembali ke istana sambil menggendong pemuda ini.
FLASHBACK
Yugi, nama pemuda bermata lavender itu, mendongakkan kepalanya dari bacaan yang ada di tangannya saat mendengar ribut-ribut di arah lorong. Alis matanya bertaut, bingung. Tidak biasanya istana heboh seperti itu. Kehebohan biasanya baru terjadi kalau ada tamu penting kenegaraan. Tapi, setahu Yugi, sang Pharaoh tidak menantikan kedatangan siapa pun hari itu.
"Kenapa di luar ribut sekali?" tanya seorang pemuda berambut putih bersih dan berkulit pucat. Ia juga memakai ekspresi bingung yang sama dengan Yugi.
"Entahlah, Ryou…" gumam Yugi. Perlahan-lahan ia mulai beranjak dari kursinya dan berjalan menuju asal muasal keributan. Ryou, sang pustakawan, mengikuti Yugi keluar dari perpustakaan karena terdorong oleh rasa penasaran yang begitu besar. Mereka berdua berjalan diantara orang-orang yang lalu lalang dengan paniknya, membuat mereka semakin gelisah. Beruntung, wajah familiar yang sangat mereka kenal muncul di ujung lorong satunya.
"Malik!!" panggil Yugi. Ia melambai-lambaikan tangannya tinggi ke udara untuk menarik perhatian sang tabib istana.
Malik yang sedang berjalan dengan terburu-buru hanya membalas sapaan Yugi sambil mengangguk. Pemuda berambut pirang itu langsung memasuki sebuah kamar tamu dengan peralatan medisnya.
Yugi dan Ryou hanya bisa bertatapan dengan heran. Tak biasanya Malik bersikap dingin seperti itu pada mereka. Biasanya Malik akan menghampiri mereka dan berbincang-bincang sebentar. Sikapnya yang terburu-buru seperti itu biasanya terjadi saat salah satu anggota kerajaan terluka dan membutuhkan pengobatannya.
"Daripada kita terus bertanya-tanya seperti ini, ayo kita kesana juga, Yugi!" ajak Ryou sambil menarik pergelangan tangan Yugi menuju kamar tamu tersebut.
Di dalam kamar tamu terdapat beberapa orang selain Malik. Dua diantaranya adalah Bakura dan Marik yang sedang beradu mulut dengan Atem. Sementara itu, Seth tampak sedang menyelimuti seseorang di atas tempat tidur.
"Kan kami sudah bilang, Pharaoh! Kalau kau mau jalan-jalan keluar, kau seharusnya mengajak kami!!" kata Bakura sedikit emosi.
"Itu hanya jalan-jalan sebentar, Kura." bela sang Pharaoh tak mau kalah.
"Jangan panggil aku Kura, brengsek!!"
"Hei!! Jangan mulutmu, bodoh! Kau mau kupecat dari jabatanmu sebagai pengawal pribadiku, hah?!"
"Tapi aku tidak suka dipanggil itu!!"
"Deritamu, K. U. R. A."
"BRENGSEK!!"
"Arrrgh!! Berhenti kalian berdua! Ini bukan masalah panggilanmu, Bakura! Ini masalah Pharaoh yang seenaknya keluar istana dan pulang membawa… membawa… 'itu'!!" Kali ini giliran Marik yang histeris. Jari telunjuknya menunjuk ke arah pemuda berambut pirang yang sedang terbaring tak sadarkan diri di atas tempat tidur. Malik ada di sampingnya dan sedang memeriksa keadaannya sambil diawasi Seth.
"Hei, 'itu' juga seorang manusia, Marik…"
"Apa pun itu! Yang mau kutanyakan adalah, untuk apa kau membawa dia?!"
"Apa kau baru membelinya di pasar budak?" tanya Bakura curiga. "Memangnya pelayanmu masih kurang?"
"Kalau pun Atem membeli budak, pasti bukan untuknya." gumam Marik. Dia melirik Seth yang masih terus mengawasi perkembangan pemuda itu. "Mungkin untuk seseorang berambut cokelat berbaju biru, super sombong dan super menyebalkan?"
"Bilang saja kalau itu aku, Marik!" sembur Seth dengan kesal. "Lagipula, kenapa aku butuh pelayan?!"
"Kan, diantara kita berempat, cuma kamu yang masih lowong." balas Marik dengan entengnya. "Aku dengan Malik, Bakura dengan Ryou, dan si Pharaoh tak bertanggung jawab ini dengan Yugi."
"Oh. Bicara tentang pasangan, itu pasangan kita." kata Bakura gembira. Ia langsung berjalan menuju Ryou dan Yugi yang masih terpaku di pintu masuk. Sang kesatria berambut putih itu langsung memeluk kekasihnya dan menciumnya.
Marik dan Atem menampakkan muka jijik saat melihat adegan mesra antara prajurit dan pustakawan itu. "Tolong jangan bawa-bawa kegiatan di kamar kalian keluar kamar..." tegur Marik yang rasanya sudah siap muntah saat melihat adegan Bakura melumat Ryou yang semakin panas.
"Atem." sapa Yugi sambil sedikit menganggukkan kepalanya, menghormat. Bagaimanapun juga, Atem adalah rajanya meskipun mereka berdua telah berbagi ranjang di malam hari sejak dua tahun yang lalu. Mata lavendernya mengawasi sosok ringkih pemuda berambut pirang itu. "Apa yang terjadi?"
"Aku dan Seth sedang berjalan-jalan di kota, dan tiba-tiba saja aku mendengar seseorang minta tolong. Saat kuselidiki, ternyata pemuda itu sedang diserang oleh lima orang. Dilihat dari situasinya, sepertinya mereka berlima mencoba untuk memperkosanya." kata Atem, menjelaskan kronologis kejadian yang ia dan Seth alami beberapa jam yang lalu. Ia melingkarkan tangan ke pinggang kekasihnya dan membimbing sosok mungil Yugi ke samping tempat tidur.
"Pantas saja mereka menyerangnya." gumam Yugi saat melihat wajah pemuda itu lebih jelas. "Ia manis sekali."
"Tapi tidak semanis dirimu, wahai cahaya hatiku." bisik Atem seduktif di samping telinga Yugi, membuat pemuda bertubuh mungil itu tersipu-sipu.
"Kenapa kalian membawanya kemari? Padahal kalian tinggalkan saja ia di jalanan. Toh, ia sudah selamat." kata Marik enteng. Dihampirinya kekasihnya yang sedang sibuk meramu obat untuk pasiennya yang masih tak sadarkan diri. Ia mencium leher Malik, membuat sang tabib tersentak dan hampir menjatuhkan mortar yang ada di tangannya.
"Mariiik!!" seru Malik kesal. "Aku sedang kerja disini! Jangan ganggu aku!!"
Sang prajurit bermata lavender itu hanya memamerkan deretan gigi putihnya.
"Ia pingsan sesaat setelah kami menolongnya." sahut Seth. Mata birunya masih melekat pada sosok pemuda berambut pirang yang terbaring lemah itu. "Atem yang memaksaku untuk membawanya kemari."
"Memangnya kau tega meninggalkannya sendirian di gang sepi itu dalam keadaan pingsan?" balas Atem kesal.
"Aku tega."
"Nanti kalau ada orang-orang jahat menemukannya, bagaimana?"
"Bukan urusanku."
"Tapi, kalau mereka mencoba untuk memperkosanya lagi bagaimana?"
"Aku tak peduli."
"Tapi, ia manis sekali. Kau setuju, Seth?"
"Ya. Dia manis sekali…"
Semua orang yang ada di ruangan itu langsung menghentikan kegiatan mereka. Malik menghentikan kegiatannya menumbuk ramuan. Bakura dan Ryou menghentikan sesi bercumbu mereka. Semuanya memusatkan mata mereka dengan tatapan tidak percaya. Seorang Seth yang terkenal dingin mau mengakui betapa manisnya seseorang? Ini pasti mimpi...
Seth yang menyadari perkataannya barusan langsung gelagapan. Wajahnya merah semerah tomat segar di bazaar yang barusan ia lewati. "Aa... ke... kenapa kalian melihatku seperti itu?!"
"Sudahlah, Seth." Marik menghampiri Seth dan menepuk-nepuk punggung sang pendeta dengan entengnya. "Akui saja kalau kau memang tertarik dengan pemuda ini. Lagipula, daritadi matamu terus melekat pada wajahnya." lanjut Marik, diakhiri dengan cengiran iseng.
Muka Seth yang sudah merah malah semakin merah saat mendengar perkataan Marik. "Bu... Aku tidak tertarik padanya!"
"Tersipu malu, gagap saat mengeluarkan argumen, dan menolak semuanya. Jelas kau mulai jatuh cinta padanya." goda Bakura.
"Sudah kubilang aku tidak tertarik padanya!" seru Seth kesal. "Terserah kalian mau bicara apa! Aku keluar!!" Dan sang pendeta pun keluar dari kamar itu dengan muka masih merah padam.
Melupakan keributan yang sempat terjadi, Yugi mendongakkan kepalanya dan menatap kekasihnya yang tampak begitu gembira saat berhasil menjebak sepupunya sendiri. "Tidak seharusnya kau menggoda Seth seperti itu. Masalah jodoh akhir-akhir ini menjadi isu yang cukup sensitif bagi Seth, kau tahu itu, kan?"
"Tapi, tetap saja menggodanya seperti itu begitu menyenangkan." ucap Atem sambil tertawa pelan.
"Ramuanku sudah jadi." lapor Malik. Ia sekarang sedang sibuk memasukkan ramuannya ke dalam botol-botol kecil. "Suruh ia minum ramuan ini setiap habis makan. Dijamin, ia akan sehat seperti sediakala dalam waktu singkat." lanjutnya sambil membusungkan dada.
"Memangnya sakit apa dia?" tanya Marik sambil mengawasi botol-botol itu dengan alis bertaut. Ia paling membenci obat, apa pun khasiatnya. Rasa pahitnya itu membuat lidahnya mati rasa.
"Ia hanya kelelahan." jawab Malik singkat. Ia sedang mempersiapkan balsam untuk mengobati luka-luka yang ada di tubuh pemuda itu. "Istirahat yang cukup dan makan makanan bergizi akan membuatnya sehat seperti semula. Luka-luka ini juga tidak terlalu parah, kok. Hanya perlu diberi balsam ini secara rutin sebelum tidur. Oya. Saat ia terbangun nanti, aku yakin ia akan lapar. Alangkah baiknya kalau ada seseorang yang mau mengambilkan makanan untuknya saat ia sadar nanti. Aku tak bisa menungguinya karena masih banyak pekerjaan yang harus kulakukan. Terutama setelah laboratoriumku dia hancurkan." sambung Malik sambil menunjuk Marik dengan ibu jarinya. Matanya menatap berkeliling, menanti siapapun untuk menjadi sukarelawan.
"Biar aku saja yang menjaganya!" kata Yugi menawarkan jasa. "Toh, aku tidak ada kerjaan."
FLASHBACK END
Begitulah akhirnya bagaimana seorang Yugi berada di kamar itu sepanjang hari. Makanan yang tadinya ia bawa sebenarnya bukan untuk pemuda itu, tapi untuknya. Berhubung petuah dari Malik, ia harus memberikannya pada Katsuya. Selain itu, ia juga sudah makan sarapan yang cukup bersama Atem tadi pagi.
"Siapa namamu?" tanya Yugi, masih mengawasi cara makan Katsuya yang jauh dari sikap seorang pangeran.
Mendengar suara lembut yang diarahkan padanya, Katsuya mendongak dan menatap mata lavender Yugi dengan mata cokelatnya. Karena mulutnya penuh dengan makanan, ia menunjuk dirinya sendiri kebingungan, sebuah isyarat yang menanyakan apakah Yugi sedang berbicara padanya.
Yugi mengangguk antusias, masih tersenyum lebar. "Namaku Yugi." kata Yugi sambil menunjuk dirinya. "Kau?" Ia ganti menunjuk Katsuya dengan telunjuk yang sama.
Katsuya mengerti maksud perkataan pemuda mungil itu. Ia sedang menanyakan namanya. Buru-buru ia telan makanan yang ada di dalam mulutnya dan meminum sedikit air dari piala di sampingnya sebelum menjawab, "Umm... Aku Kat... Maksudku, Jouno."
Yugi hanya terdiam saat mendapatkan jawaban dari Katsuya. Matanya berkedip-kedip lebih cepat dari kepakan sayap capung, membuat Katsuya gugup. Mungkin ia tidak mengerti apa yang kukatakan, pikir Katsuya. Wajar saja. Yang barusan ia gunakan adalah bahasa sehari-hari di Domino, berbeda jauh dengan bahasa yang ia dengar di negeri padang pasir ini.
"Kau... orang Domino?" tanya Yugi dengan bahasa yang sangat dimengerti Katsuya. Bahasa asli para penduduk Domino.
Kali ini giliran Katsuya yang mengedip-ngedip tidak percaya. Mungkinkah telinganya memainkan sebuah tipuan padanya? Ia mendengar pemuda itu berbicara menggunakan bahasa Domino??
"Um... Begitulah. Kau... Bisa bahasa..."
"Aku orang Domino!" kata Yugi antusias. Senyuman di bibirnya semakin melebar. "Wah, aku tak menyangka kalau bisa bertemu dengan orang Domino selain Ryou! Oh! Kau harus bertemu dengan Ryou nanti! Ia juga orang Domino dan sekarang menjadi peneliti sekaligus pustakawan di istana ini!" sambung Yugi dalam satu tarikan napas saking antusiasnya.
Katsuya hanya bisa menatap tak percaya ke arah Yugi. Betul-betul beruntung ia bisa bertemu dengan orang yang mengerti bahasanya. Daritadi ia terus dibingungkan dengan pola bahasa dan perkataan yang ia tidak mengerti, membuat kepalanya yang pusing tambah pusing saja. "Baguslah aku bisa bertemu denganmu."
Yugi memamerkan deretan gigi putih yang cemerlang. "Kau belum bisa bahasa Mesir, Jou?" tanya Yugi.
"Ah… Begitulah…" sahut Katsuya malu-malu sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Kau mau mengajariku? Sepertinya aku akan tinggal lama disini."
"Tentu saja!!" balas Yugi begitu bersemangat. "Semua orang Domino adalah temanku, dan teman harus saling membantu!"
Katsuya hanya tersenyum saat melihat sikap optimis dan bersemangat Yugi. Melihat sikap yang begitu bebas dan tanpa beban itu membuat Katsuya ikutan bersemangat lagi.
"Ngomong-ngomong, kenapa kau pindah dari Domino?" tanya Katsuya. Ia melanjutkan makan siangnya dengan perlahan-lahan supaya tidak tersedak.
"Itu karena ayahku yang seorang filsuf menemukan bahwa filosofi bangsa Mesir begitu mengagumkan. Makanya, ia mengajak kami sekeluarga untuk pindah kemari. Awalnya hanya untuk beberapa bulan, tapi kemudian kami sekeluarga jatuh hati pada negeri ini dan memutuskan untuk menetap." kata Yugi. Matanya terkadang menatap keluar ruangan sambil tersenyum gembira. "Ayahku juga yang mengajarkan Atem, Pharaoh disini, berbagai ilmu. Makanya, aku sering diajak ke istana dan lama kelamaan jadi terbiasa main kesini."
Katsuya mengangguk-angguk mengerti. "Lalu bagaimana dengan... siapa tadi? Ryou?"
"Ah. Ryou juga punya nasib sama denganku. Ayahnya seorang ilmuwan dan suka meneliti hal-hal baru. Waktu itu, jalur menuju Mesir dari Domino baru saja dibuka. Merasa penasaran dengan tanah baru ini, beliau memutuskan untuk melaksanakan ekspedisi dan langsung jatuh cinta dengan Mesir. Makanya keluarganya memutuskan untuk menetap seperti keluargaku." cerita Yugi. "Ayah Ryou dulu yang memegang perpustakaan istana, namun karena kondisi kesehatannya yang semakin memburuk, Ryou-lah yang menggantikan tugasnya."
"Hmm... Bisakah aku bertemu dengannya nanti?" tanya Katsuya penuh harap. Bertemu satu lagi orang Domino akan membuatnya meresa tidak terkucilkan dari tanah asing itu.
"Tentu! Biasanya ia selalu berada di dalam perpustakaannya. Karena kulitnya mengidap alergi pada sinar matahari, ia tidak boleh keluar istana. Berbeda dengannya, aku suka sekali keluar ruangan dan menyelidiki! Makanya kulit putihku jadi gosong begini. Mana kadang-kadang mengelupas pula..." tambah Yugi diiringi desahan pendek. Ia menunjukkan tangannya yang sedikit berwarna cokelat karena terbakar matahari. "Lama-lama aku bisa seperti orang Mesir sungguhan."
Katsuya tertawa ringan saat mendengar cerita Yugi. Ia betul-betul bersyukur bisa bertemu Yugi yang begitu menyenangkan. Entah mengapa, ia bisa menjadi dirinya seutuhnya di samping Yugi.
Yugi menatap Katsuya yang melanjutkan makan siangnya sambil tersenyum. Pemuda berambut bintang itu juga ikut tersenyum saat melihat pemuda itu senang. "Ngomong-ngomong... Kenapa kau ke Mesir seorang diri tanpa persiapan seperti ini? Kalau Atem dan Seth tidak menemukanmu, bisa-bisa kau mati di luar sana."
Katsuya tersentak saat mendengar pertanyaan Yugi. Ia tahu suatu saat nanti pasti akan ada yang menanyakan hal itu padanya. Memang agak aneh kalau seseorang datang sendirian ke negeri yang masih asing dan tanpa persiapan apapun seperti uang, perbekalan, dan terutama kemampuan berkomunikasi. Tapi, sang pangeran tidak boleh menceritakan yang sebenarnya. Ia harus mengarang sesuatu karena tidak mau orang lain mengetahui bahwa dirinya adalah Pangeran Domino. Misinya datang jauh-jauh ke Mesir adalah untuk menyembunyikan diri. Memberitahukan dirinya adalah pangeran sama saja dengan memberikan akses bagi Keith dan komplotannya untuk menangkapnya suatu hari nanti.
"Ada konflik di Domino." gumam Katsuya. Kepalanya tertunduk, tak sanggup melihat mata lavender Yugi yang terus melekat. "Keith, mantan penasihat istana, melakukan pemberontakan. Seluruh keluarga kerajaan ia bunuh dan kota-kota diserangnya. Termasuk kotaku."
Yugi mengeluarkan suara seperti orang tercekat. Matanya yang tadi bersinar gembira berubah menjadi sedih dan khawatir. "Keith? Bukankah ia dikirim ke pengasingan dalam jangka waktu yang tak terbatas?"
"Sepertinya ia berhasil kembali dan membawa beberapa orang untuk memberontak. Kotaku ia hancurkan dan aku berhasil kabur dengan menumpang kapal saudagar Mesir yang kebetulan sedang berlabuh di dermaga kota."
Yugi menatap Katsuya penuh simpati. Ia beranjak dari kursinya dan duduk di atas tempat tidur, tepat di samping Katsuya. Dibelainya punggung Katsuya untuk menenangkan sang pangeran sambil berbisik lembut, "Tenanglah. Kau aman disini. Tidak akan ada yang bisa melukaimu, Jou."
Katsuya hanya bisa tersenyum lemah. "Terima kasih, Yugi."
Senyum lebar Yugi kembali membangkitkan semangat Katsuya untuk bertahan hidup demi kedua orang tuanya yang telah mengorbankan nyawa. Ia juga semakin bersemangat untuk kembali ke Domino dan menyelamatkan sang adik, Shizuka. Entah kenapa, rasa percaya diri dan semangat hidup Katsuya meningkat drastis setelah melihat senyum cerah Yugi.
"Nah!" seru Yugi riang. Ia menepukkan kedua telapak tangannya sambil berdiri menghadap Katsuya. "Agar kau cepat sembuh, kau butuh minum obat! Biar aku panggilkan Malik untuk mengobatimu!"
"Malik?"
"Dia tabib istana. Semua orang yang ia rawat, pasti sebuh esok harinya!!" Tentu apa yang Yugi katakan itu sedikit hiperbola. "Tunggu sebentar, ya. Aku pasti akan kembali. Jangan kemana-mana!" Dan sang pemuda bertubuh mungil itu langsung melesat keluar, meninggalkan Katsuya dan makan siangnya.
"Minumlah ini." kata Malik tenang sambil menyerahkan sebuah piala penuh dengan ramuan hasil racikannya kepada Katsuya. "Minum sampai habis."
Katsuya menatap cairan mengerikan yang ada di dalam piala dengan kening mengerenyit. Ia mengendus-endus bau yang menguap dari cairan tersebut dan mundur. Baunya luar biasa tidak enak! "Minuman apa ini?" tanya Katsuya pada Yugi.
"Hei Malik. Jouno bertanya, minuman apa ini?" kata Yugi pada sang tabib Mesir itu.
"Katakan padanya kalau itu adalah obat tidur." sahut Malik. Sang pria Mesir itu sedang sibuk merapikan botol-botol bahan ramuannya kembali kedalam kotak kecil yang ia bawa. "Ia butuh istirahat kalau mau cepat sembuh. Jangan pikirkan rasanya, tapi khasiatnya."
Yugi mengangguk mengerti dan menerjemahkan penjelasan Malik kepada Katsuya yang juga mengangguk mengerti. Ia menatap ngeri cairan mengerikan di dalam piala. Pemuda berambut pirang itu mengucap doa sebentar sebelum menenggak habis ramuan itu sambil memejamkan mata. Begitu selesai, ia langsung menyerahkan pialanya kepada Yugi. Tak lama setelah cairan itu masuk ke tenggorokannya, Katsuya merasakan kantuk yang luar biasa dan langsung jatuh tertidur pulas.
"Berapa lama ramuan itu akan bekerja?" tanya Yugi pada Malik saat mereka berjalan kembali menuju laboratorium tempat Malik biasa bekerja.
"Mungkin sekitar lima belas jam." jawab Malik. "Ia akan terbangun esok pagi. Seperti biasa, siapkan makanan di dekatnya. Ia pasti akan merasa sangat lapar. Atau kalau ia sudah cukup kuat, ajaklah ia untuk sarapan di luar. Sedikit sinar matahari Mesir akan membuat kulit pucatnya itu senang."
Yugi tertawa kecil. "Seharusnya kau bicara begitu pada Ryou."
"Ya. Dan begitu ia kembali, aku harus menghabiskan satu bulan persediaan balsam kulitku." kata Malik diiringi dengusan kesal. "Tidak, terima kasih."
Seth baru saja menyelesaikan ritual siangnya dan hendak kembali ke kamarnya untuk istirahat. Sejak pagi, ia terus berada di lapangan kota dimana festival untuk menghormati Ptah akan diadakan. Meskipun ia pendeta yang mengkhususkan diri untuk memuja Ra, tapi sebagai Pendeta Tertinggi Mesir, ia juga mendapat kewajiban mengawasi berbagai festival keagamaan yang diadakan di kota itu, termasuk festival yang akan diadakan beberapa hari lagi.
Pemuda berambut cokelat itu menghela napas panjang. Ia ingin sekali segera membaringkan tubuh lelahnya itu ke atas tempat tidur dari bulu angsanya. Mungkin ia juga harus mampir ke tempat kerja Malik untuk meminta sedikit obat tidur.
Karena terlalu sibuk memikirkan dirinya sendiri, Seth tidak menyadari bahwa kakinya telah membawanya berjalan ke arah kamar sang pemuda berambut pirang yang ia tolong kemarin pagi. Langkahnya terhenti saat pintu masuk menuju kamar sang pemuda tepat berada di samping kananya. Dipandangnya kondisi kamar itu melalui sela-sela kain penutup yang membatasi koridor dan kamar sang pemuda. Seth bisa melihat sosok pemuda itu masih terbaring di atas tempat tidur dengan damainya.
Merasa tidak ada salahnya kalau menengoknya sebentar, Seth pun melangkahkan kakinya ke dalam kamar. Pemuda bermata biru cerah itu melangkah sepelan mungkin supaya tidak membangunkan Katsuya yang telah tertidur berkat obat tidur dari Malik itu.
Seth menatap wajah Katsuya yang begitu damai dengan ekspresi datar. "Siapa kau sebenarnya?" gumamnya kepada dirinya sendiri. Ia tahu, pemuda itu tidak akan bisa mendengarnya. "Seorang diri di negeri yang masih asing bagimu dan tanpa kemampuan berkomunikasi yang baik dengan lingkungan. Kau mau mati, ya?"
Tentu Katsuya tidak bisa membalas monolog Seth itu karena ia sedang tertidur pulas dengan mimpi yang menyenangkan.
Seth terus memandangi makhluk berwajah manis yang sedang terlelap tepat di depannya dan mendengus pelan. "Pantas saja mereka berlima mau menyerangmu. Kau terlihat begitu lemah, kau tahu itu?" Seth kemudian duduk di pinggir tempat tidur. Kedua matanya masih menatap sosok Katsuya yang terbaring tak sadarkan diri. "Kalau aku orang jahat, aku pasti akan tergoda pada wajah manismu dan langsung memperkosamu saat kau terlelap seperti ini."
Entah apa yang membisikinya, Seth menjulurkan tangannya perlahan-lahan dan membelai kulit lembut Katsuya. Sang pendeta merasakan sensasi yang aneh di perutnya ketika merasakan betapa lembutnya kulit sang pangeran. Jantungnya berdetak lebih cepat dan bergemuruh seperti bunyi genderang perang. Napasnya seolah-olah tercekat saat ujung jemarinya bertemu dengan kulit putih dan mulus pemuda berambut pirang itu. Tanpa terasa, wajahnya semakin memerah.
"Kulitmu begitu halus dan putih." bisik Seth pelan. Ia terus mengelus pipi kiri Katsuya. "Aneh. Orang sepertimu bisa membuat jantungku berdetak tidak karuan seperti ini..."
Tiba-tiba, Katsuya mengerang pelan dan membalikkan tubuhnya membelakangi Seth. Karena terkejut dengan gerakan tiba-tiba tersebut, Seth tidak sempat menarik tangannya dan malah menyentuh sepasang bibir lembut milik Pangeran Domino tersebut.
Kaget karena merasakan sensasi begitu luar biasa di ujung jemarinya, Seth langsung menarik tangannya dan berdiri dari tempat tidur. Wajahnya merah padam dan napasnya tersengal-sengal seperti orang baru berlari. Jantungnya bertedak semakin tidak karuan, membuatnya sulit untuk bernapas. Kelembutan kulit dan bibir Katsuya masih membekas di ujung jarinya, membuat hormonnya semakin bergejolak gembira atas rangsangan tersebut.
"Bodoh." desis Seth, kesal pada dirinya sendiri karena berhasil tergoda oleh pemuda tersebut. Padahal, pemuda asing itu tidak melakukan apa-apa selain berbaring disana dan tidur pulas. "Pendeta sepertimu tidak boleh tergoda begitu mudahnya, Seth!" tegurnya pada diri sendiri.
Sang pendeta bergegas meninggalkan ruangan dalam keadaan gugup dan panik. Ia mendapat perasaan sedetik lebih lama di kamar itu bisa membuat kewarasannya hilang. Ia juga takut tidak bisa menahan diri lebih lama lagi dan malah memperkosa Katsuya saat itu juga. Lebih baik ia pergi ke tempat Malik dan meminta obat tidur dengan dosis tinggi.
Seth yang masih sibuk dengan pikirannya sendiri tidak menyadari bahwa ada dua pasang mata yang terus memperhatikan gerak-geriknya. Senyum licik tersungging di wajah dua orang misterius tersebut.
TBC
A/N : Maaf, blindshippingnya dikit. Ehehehe. Oiya. Kali ini gak ada note. Kapan-kapan gue kasih note yang lebih panjang kali lebar kali tinggi. Muahahah!! Dan masalah EEA... kapan-kapan, deh, gue lanjutin. Mumpung muse buat cerita yang ini lagi kenceng, nih! Ahahahah!! Kalo diibaratkan koneksi internet, speed buat cerita ini lagi 1000 pKBs!! Ahahaha!!
Dika the WINGed Kuriboh : Hooo... kayaknya banyak yang menderita soal komputer, ya, selain gue. Ehehhe. Asik! Ada temennya!! (ditampol gara-gara girang sendiri) Yah, bersabarlah, Dika. Suatu hari nanti pasti komputermu bakal waras. Kayak si Mail. (nepuk-nepuk PC sendiri) Awas lo rusak lagi! Gue ganti sama Mello! Emang tu tukang servis pesen spare part kemana? Lama bener… Yugi, Ryou, Bakura, Malik, dan Marik keluar di chapter ini. Kalo Honda, chapter 1 kemaren kan udah. Hehehe. Otogi masih ntar keluarnya. Isis sama Mahad juga ada. Tapi nanti. Hehee. Makasih reviewnya, ya.
Mayonakano Shadow Girl : Hehehe. Yah, salah si Jou jadi karakter favorit gue. Gue bikin menderita terus, kan. Ahahahha! Wah, bagus kalo menarik. Hehehe. Baca terus dan jangan lupa reviewnya, ya. Makasih udah mau review dan baca chapter 2!
Sora Tsubameki : Oya? Bagus, deh, kalo emang pantes. Tadinya gue mau buat dia membabu lagi, tapi gak tega. Kasian, ah. Sekali-kali nasibnya beneran dikit. Hee?? Emang Jou keliatan imut di sebelah mana?? Ahahah! Justru keimutan Jou itu lebih menonjol pas jadi slave sama puppy, lagi. Atau pas di lagi menderita.
Jou : JAHAAATT!!! Kok lo suka nyiksa gue, sih, akhir-akhir ini?!
Eh, sekali-kali elo yang gue jahatin. Lagian, dulu Remus mulu yang kena. Biarkan sekarang dia santai dulu sebelom proyek Puppybashers. Muahahahahaah!!
Jou : Gue gak bakal kena, kan? (ngarep)
Wah, gak tau, ya. Mungkin kalo kita pengen bisa jadi elo kena juga. Pokoknya, kita bakal menyiksa semua uke di FFN! Muahahahahahahaha!! Makasih review-nya, Sora! Review lagi, ya. (wink-wink)
Shena BlitzRyuseiran : Ahahaha!! Jangan, ah. Ntar stok cowok bishi YGO berkurang, lagi. Ntar, siapa yang bisa gue siksa lagi kalo dia mendadak jadi seme? Mending mendadak dangdut. Ehehe. Ah, si Kaiba ngomong 'mutt' dkk itu biar gak ketauan kalo dia naksir lagi.
Kaiba : HEH! Bawa-bawa gue lo sekarang?!
Sekali-kali. Soalnya di cerita ini lo gak ada. Adanya yami lo.
Kaiba : Cih!
Cuih balik. Masalah Seth pervert apa nggak, liat aja Kaiba. Kaiba itu cerminan seberapa perv-nya Seth.
Kaiba : GUE GAK PERVERT!!
Bo'ong. Makasih reviewnya, ya. Jangan lupa review lagi. Ehehehe. Oya, EEA entah kapan gue update. (menghindari timpukan sandal dari Shena)
Messiah Hikari : Soalnya mereka udah gak tahan pengen dikeluarin. Si Atem pake mewek, lagi. (dilempar millennium puzzle sama Atem)
Jou : GUE OGAH DISAMAIN SAMA PEGASUS!! CUIH!! BANCI TAMAN LAWANG GITU DISAMAIN SAMA GUE! GAK LEVEL!!
Ya santai, mas. Gak usah CAPSLOCK semua gitu omongannya. Dasar uke… Yang terakhir rada gak nyambung. Kacangin aja. Udah muncul blindshipping, tapi... Rada-rada kurang, ya? Chapter berikutnya gue tambah, deh. Heheh. Makasih reviewnya. ^^
Vi_chaN91312 : Ahahaha! Namanya juga orang panik. Kapal mana aja ayo dah, gue ikut! Dia sering sial gara-gara muka bikin orang pengen ngapa-ngapain dia, contoh : memperkaos, menghajar, memperkaos lagi, menghajar lagi, memperkaos sekali lagi, menghajar lagi dan lagi, mem… dst. Waktu itu muka Seth sama Atem cerita gak keliatan gara-gara ngebelakangin cahaya matahari, jadi cuma keliatan siluet doang. Hehehe. Makasih reviewnya, ya.
MoonZheng : NOH! Z-nya gede! Halah, ginian aja penting, ya… Anggep aja Jou sempet mandi di kapal. Emang di kapal gak ada kamar mandi, ya? Dan masalah Kisara dakian… Emang dia jorok. (disambit sama Kisara) Ehehee. Heh!! Hetalianya manaaa??! Hetaliaaaaaa….!!! Mau Hetaliaaaaaa!!! (guling-guling di lantai)
Nah, sekarang, gue mau melanjutkan main PHARAOH. Asik, nih. Jadi pengen beli CLEOPATRA… Masih jualan, gak, ya? Tu game jadul…
Coolkid, pamit.
