Disclaimer : I do not own Naruto.

Warning : OOC. Ficlet.

Words : 1.710


Knot.

By VikaKyura.

- Evening -


Sasuke baru saja pulang dari kantor.

Setelah lelah bekerja seharian, dua hal yang selalu dilakukan olehnya ketika tiba di rumah adalah merebahkan diri di sofa empuknya sambil menikmati secangkir kopi hangat.

Si lelaki menyeruput pelan cairan keruh itu, lalu kembali menyimpan cangkirnya di meja. Ia menghela nafas. Sasuke belum juga berjumpa dengan adiknya sedari tadi. Padahal gadis itu sudah ia panggil sebanyak dua kali.

"Ino." panggilnya lagi, kini agak keras. Setelah panggilan pertamanya diabaikan dan panggilan keduanya hanya dijawab dengan sahutan.

"In-"

"Aku datang." Pintu kamar milik gadis itu menjeplak terbuka.

Ino melenggang keluar, menghampiri tempat sang kakak. Sementara Sasuke seketika terpaku di tempat, saat melihat penampilan adiknya itu sekarang. Refleks ia memijat pelipisnya yang mendadak terasa pening. Bukan karena lelahnya kumat, tetapi akibat melihat penampakan si gadis saat ini.

Ino sedang memakai setelan baju two piece berwarna ungu yang belakangan ini dibelinya. Kaus turtle neck tanpa lengan yang dipadukan dengan mini skirt. Pakaian berbahan minim itu jelas tidak dapat menyembunyikan seluruh bagian tubuhnya. Pusar dan pahanya sedang diperlihatkan.

Ino mendatangi si lelaki dengan langkah malas. "Jadi, aku sudah boleh pergi sekarang?" tanyanya.

Sejam lalu ia memang sudah meminta izin pada sang kakak untuk pergi keluar malam ini dengan temannya, via telpon. Tapi sampai saat ini si gadis belum juga mendapatkan kejelasan, diperbolehkan atau tidaknya.

"Aku belum memberimu izin." Ujar Sasuke mengingatkan, dengan nada monotonnya yang biasa. Ia memang bermaksud untuk membicarakan mengenai masalah itu sekarang.

Ino memutar mata sambil melipat tangannya di depan dada, masih berdiri di hadapan sofa tempat sang kakak duduk.

"Kak, ini acara 'malam akrab angkatan' terakhir yang bisa kuikuti karena aku akan menjadi mahasiswi yang lulus paling cepat. Tidak akan lama kok, paling dua jam. Lagipula ini masih belum malam-malam amat." Tuturnya. "and I will always stick with my friends, aku janji." Tambahnya, cepat. "Kau punya nomer ponsel mereka kan? Kau masih bisa memonitorku."

Sasuke hanya mendongak lurus ke arah Ino. Lalu lelaki itu beranjak berdiri dari duduknya.

"Lantas ada apa dengan gaya busana yang sedang kau pakai ini?" tanyanya, menusuk.

"Hm?" Ino mengerutkan dahi. "Aku harus lebih modis saat aka-"

Pok.

Gadis itu sedikit berjengit ketika sang kakak tiba-tiba menangkup perutnya yang sedang terbuka.

"Sudah kubilang aku tidak mengizinkanmu pergi dengan perut dan paha terekspos seperti ini." ujar lelaki itu dingin.

Ino masih menahan nafas, merasakan telapak tangan hangat sang kakak menekan-nekan dan meremas perutnya.

"Ganti." Titah Sasuke. Wajahnya sedang dicondongkan, hanya berjarak beberapa senti dari Ino.

Si gadis mengerjap. Refleks ia mengangkat lengannya yang sedang dilampiri kain tebal berwarna lilac, menunjukkan buntalan garmen itu. "Aku akan memakai mantel ini kok-"

"Baju kurang bahan seperti ini tidak layak dipakai." Potong Sasuke. Kemudian ia melepas perut gadis itu dan berbalik pergi, melangkah menuju kamarnya. "Malam ini kau tidak boleh pergi kemana-mana." Putusnya sepihak.

Ino melebarkan aquanya. Rahangnya sedikit terbuka. Serius? Apa kali ini candaannya sudah kelewatan?

Gadis itu segera mengejar sang kakak. "Aku akan ganti baju!" ujar gadis itu cepat-cepat, menyerah saja. "Jadi kumohon izink-"

"Kubilang, malam ini kau tidak boleh keluar rumah." Ujar Sasuke tegas, memperjelas. "Aku tidak mengubah keputusanku." Tandasnya, otoriter.

"Tapi Kak, ak-"

BLAM.

Pintu kamar lelaki itu ditutup. Meninggalkan Ino yang masih berdiri mematung.

Gadis itu mengerjap. Ia menunduk untuk memperhatikan diri. Memangnya apa yang salah dengan penampilannya sampai membuat kakaknya sejengkel itu?

Ino hanya memakai setelan baju yang kini sedang digandrungi para wanita muda di ibu kota tempatnya tinggal itu. Coba tengoklah penampilan para artis remaja di layar kaca, atau para gadis di berbagai belahan kota besar tersebut. Penampilan seperti ini saja sudah termasuk biasa disana! Sasuke seperti tidak pernah menemukan televisi saja!

Lagipula Ino sudah biasa keluyuran di rumah dengan pakaian mini seperti itu.

Oke, Ino pernah berjanji ia tidak akan berpenampilan minim saat pergi ke kampus. Ia juga tahu waktu, kondisi dan tempat. Tapi ini beda cerita. Sekarang ia akan hang out bersama teman-temannya. Haruskah si gadis berpenampilan rapi seperti biasa saat pergi kuliah? Dan ingat, Ino definitely isn't the nerd type. Ia termasuk gadis populer paling stylist di kampusnya. Meski tidak perlu mengumbar lekuk indah badannya.

Tubuh Ino memang sedang sedikit terbuka di bagian perut dan kaki, tapi ini sudah menjadi pemandangan biasa untuk gadis kota. Lagipula Ino tidak sedang memamerkan area privasinya! Oh, astaga. Kakaknya benar-benar kolot sekali!

Ino hanya bisa mendesah dalam sambil merebahkan diri ke atas sofa, merasa frustasi. Ia meraih cangkir kopi kakaknya dan langsung meneguk habis cairan berwarna cokelat kehitaman yang masih tersisa di dalamnya.

Gadis itu paham sekali. Jika telah memutuskan sesuatu, sang kakak sudah tidak akan bisa ditentang lagi. Apabila Ino nekat melawan, ia akan berada dalam masalah berkepanjangan. Jadi dengan terpaksa Ino hanya bisa menurut saja.

Aargh. Si gadis menahan jeritannya dalam hati sambil melempar mantelnya ke atas lantai dingin.

Saat ini ia benar-benar sedang merengut. Bahkan hampir saja menangis.

Kadang Ino memang bertingkah nakal, namun ia tidak sebengal itu. Kenapa si kakak belum juga bisa memberinya kepercayaan?

Ino selalu bisa menjaga diri. Sampai sekarang saja keperawanannya masih aman terjaga. Bahkan ia belum pernah sekali pun berkencan. Terimakasih pada ke-overprotektif-an kakaknya. Jadi Sasuke perlu bukti apalagi?!

Kakak tirinya itu memang selalu overprotektif, tapi kali ini lelaki Uchiha tersebut sudah kelewatan. Selama ini Ino selalu menurut dengan patuh tentang jam malam yang telah ditetapkan dan diberlakukan oleh Sasuke sedari ia kecil dulu bahkan sampai sekarang ia telah beranjak dewasa. Ia hanya sesekali, bahkan jarang sekali, untuk meminta izin keluar di malam hari seperti saat ini.

Tapi sekarang, bahkan setelah ia memohon dan merengek pun, Ino tetap tidak diizinkan. Padahal hari masih awal petang dan Ino sudah berjanji akan pulang sebelum jam sembilan malam. Kurang kudet apa coba?

Gadis itu melepas paksa kepangan di rambutnya dan mengacak surai pirang panjangnya itu.

Ia meraih remote dan menaikkan volume televisinya keras-keras sampai full. Gaah. Ino gerah. Ia menggulingkan diri di sofa sambil mulutnya mengumpat semesta.

.

.

Ini sudah lewat tiga jam dari semenjak Sasuke memasuki kamar.

Namun lelaki itu masih saja bisa mendengar suara televisi sedang berbunyi nyaring dari arah luar. Kegaduhan yang berasal dari ruang tengah itu berkali-kali berhasil membuyarkan fokus yang sengaja ia bangun untuk menyelesaikan pekerjaan. Meski Sasuke masih dapat bertahan untuk berkutat dengan alat kerjanya, tapi sesekali ia mengambil break dari Laptopnya itu, untuk merenungkan hal yang sama.

Mungkin kali ini ia sudah kelewatan.

Bukan maksudnya untuk melarang Ino seperti ini. Ia paham sekali adik tirinya juga mempunyai hak untuk menghabiskan malam sesuka hatinya. Namun entah mengapa Sasuke selalu tidak bisa membiarkan gadis itu ditelan kegelapan malam tanpa pengawasaannya. Apalagi kegelapan yang dipenuhi hingar bingar hiburan. Penyakit lama.

Sebenarnya, salahnya juga gadis itu berada dalam fase pemberontakan seperti saat ini. Barangkali akibat belakangan ini Sasuke terlalu mengekangnya.

Lelaki itu menghela nafas.

Ia memutuskan untuk keluar dari ruangannya, mengecek kondisi adiknya yang ia yakini masih dalam keadaan bad mood. Buktinya, gadis yang biasanya menyukai ketenangan itu masih bertahan ditemani oleh raungan keras suara televisi.

Sasuke sudah paham betul, itu adalah salah satu cara si gadis meluapkan emosi dan kekecewaannya.

Sesaat setelah pintu kamar dibuka, Sasuke langsung disuguhkan pemandangan televisi yang sedang menyala sendirian. Onyxnya diedarkan tapi ia tidak segera melihat keberadaan adiknya di ruangan itu. Ia malah nenemukan beberapa buah bantal sofa yang kini sedang tergeletak naas di lantai.

Lelaki itu berjalan menghampiri meja, dan segera menyaksikan berbagai sampah makanan ringan dan botol air mineral sedang tercecer berantakan di sana.

Sasuke menautkan alis, pasti Ino sedang benar-benar jengkel sampai-sampai ia mengabaikan pantangan yang dibuatnya sendiri untuk tidak menyentuh makanan apapun setelah lewat jam 6 sore. Apalagi berbagai jenis camilan berat miliknya seperti ini. Rupanya, gadis itu sedang balas dendam dengan memakan habis seluruh makanan simpanan sang kakak.

Segera saja Sasuke merasa bersalah. Ia yakin Ino akan uring-uringan jika nanti berat badannya naik sedikit saja. Yang pastinya Sasuke akan disalahkan.

Kemudian lelaki itu menengok ke arah sofa. Rupanya si gadis sedang terbaring di sana. Sudah terjatuh dalam lelap. Sasuke memandang muram ke arah gadis yang sedang tertidur itu.

Rambut pirang panjang Ino sedang tergerai berantakan. Riasan di wajahnya belum dihapus. Eyeliner di matanya membuat jejak garis hitam yang luntur sepanjang pipinya. Barangkali akibat tangisan si gadis yang sudah mengering. Ino masih mengenakan baju yang sama, setelan busana mini berwarna ungu itu. Menunjukkan bahwa ia belum juga masuk ke kamarnya sedari tadi.

Sasuke mengarahkan pandangannya pada tubuh semampai gadis itu yang tidak sedang tertutupi selembar selimut pun. Perut ratanya masih terbuka dan rok mininya tersingkap lebar. Kaki mulus jenjangnya sedang sangat terekspos sekarang.

Sasuke merengut. Adiknya bisa masuk angin.

Sasuke membungkuk dan segera meraih tubuh Ino, mengangkatnya ke dalam gendongan. Bermaksud untuk mengalihkan gadis itu ke dalam kamar.

Saat mencapai pintu kamar, Ino meringsut. Si gadis sedikit membuka pelupuk matanya. "Onii-chan," gumamnya.

Sasuke menunduk.

Gadis bermanik biru itu kembali menutup mata. Ino mulai memukul-mukul pelan dada sang kakak dengan tangan yang bergerak lunglai. Setelah itu Ino mendengus sambil mengalungkan tangannya erat pada leher Sasuke.

"hiks." Isaknya. Ino membenamkan wajahnya di leher sang kakak. "Kau menyebalkan sekali." Gumamnya, masih setengah linglung.

"Maaf," bisik Sasuke. Hanya itu yang bisa ia ucapkan sekarang.

Ino meringsut lagi. Masih dalam gendongan lelaki itu. Ketika tubuhnya perlahan direbahkan ke atas kasur miliknya, si gadis kembali berucap.

"Tapi aku . . menyayangimu." bisik gadis itu, masih merengkuh erat pundak Sasuke. Sampai akhirnya Ino menarik lengannya dan menjatuhkan kepala pirangnya ke atas bantal.

Mata gadis itu terpejam rapat. Kesadarannya telah sepenuhnya ditelan lelap.

Sasuke menatap wajah cantik milik adik tirinya itu. Ia masih belum menegakkan diri, alih-alih duduk di pinggiran kasur. Diangkatnya satu tangan untuk mengelus noda hitam di pipi gadis itu, memudarkan riasannya yang berantakan. Lalu Sasuke membelai puncak kepala Ino.

Sasuke sadar dirinya sudah bersikap berlebihan dalam hal mengatur kehidupan adiknya itu. Tapi ia tidak punya pilihan lain. Mereka hanya memiliki satu sama lain di dunia ini. Jika bukan dirinya yang menjaga gadis itu, lalu siapa lagi?

Mungkin karena itu, Sasuke berakhir menjadi overprotektif . . dan posesif.

Sasuke mencondongkan wajahnya lagi. "Aku juga menyayangimu." Bisiknya pada telinga si gadis. Ia kembali mengelus kepala pirang Ino, sebelum mendaratkan sebuah ciuman di dahi gadis itu.

"Selamat tidur." Tandasnya.

Ino sedikit menggerakkan wajahnya. Ia menggumamkan pelan beberapa kata yang entah apa itu, Sasuke tak mengerti.

Si lelaki hanya bisa menatap diam sambil menarik sudut mulutnya. Sebuah lengkungan tipis terbentuk di mulutnya.

-TBC-


Sepertinya (kalo ga ada halangan) aku bakal fast update fanfic ini. Soalnya wordnya dikit sih jadi . . lumayan lancar bikinnya XD untuk cerita lain, diusahakan bakal diapdet juga kok~ tunggu yaa

Makasih banyak buat reviewnya, semangatnya dan buat yang nunggu next chapternya ehehe aku senang kalo temen-temen suka sasuino dengan tema ini.

Ternyata ini fenfik sasuino ke-5 vika. Rasanya jadi ketagihan aja nulis cerita mereka lol

Aku seneng koooook balesin review temen-temen, jadi di fenfik lain yg sheetnya lebih bebas pasti aku balesin satu-satu :)

Oya karena ini ficlet, (khusus buat isi cerita diluar author note) paling panjang wordnya (mungkin) cuma sampai 2000an lebih dikit ya. Jadi jangan minta diperpanjang XD

Silahkan review lagi supaya aku bisa tahu isi hati (?) dan pendapat kalian hehe

THANKS A LOT FOR READING/FAV-ING/ALERT-ING/REVIEWING.

Updated : 23.12.2016