Gadis itu berbaring lemah tidak sadarkan diri di bawah lantai yang mulai kotor dengan tumpukan debu yang bertebangan di sekitarnya. Dia berbaring disana menunggu pertolongan orang yang segera menyadarinya, dia tertidur, setidaknya itulah yang diinginkannya berharap ini semua adalah mimpi.

Namun, itu sama sekali bukanlah mimpi...

Dia terbangun, dia menyadari dirinya harus segera bangun. Dengan segenap kekuatan yang tersisa dia memerintahkan seluruh panca indera yang ada di dalam dirinya untuk "hidup".

Tidak, tidak ada yang terjadi. Seluruh hal yang dapat dia rasakan hanyalah suasana gelap dan berisik... ah, dia menyadari indera pendengarannya mulai aktif...

Jemari tangannya mulai bergerak menyentuh lantai yang bercampur pasir. Pasir...? Ahh, kini indra perabanya sudah aktif, kalau begitu ini adalah saatnya untuk...

Bangun!

Dia butuh bangun sekarang, perlahan-lahan dia membuka matanya... dan berhasil.

Dengan susah payah dia mencoba untuk duduk, samar-samar pandangannya kabur tapi dia tetap mencoba menggelengkan kepala supaya fokus kemudian dia memalingkan pandangannya ke sekelilingnya tanpa mengerti apa maksud dari semua ini.

"Ahh, Apa yang sebenarnya telah terjadi?"

"Dimana ini?!"

"Ouchh, S-sakit!"

"I-itu tadi apa? Hujan meteor, kah?..."

"Lalu benda ini...?!"

"Kartu...?"

Gadis itu, Dengan susah payah gadis berambut abu-abu itu mencoba mengumpulkan segenap tenaga yang tersisa untuk berdiri, sambil berpegangan pada sisi tembok dia berjalan menyusuri lorong koridor gedung sekolahnya yang mulai runtuh.

.


.

Tidak ada seorangpun menyangka peristiwa ini.

Pagi hari Sekolah Akademi Otonokizaka mendadak dikejutkan dengan serangan benda angkasa yang tiba-tiba menghantam bangunan sekolah mereka. Tanpa ada peringatan berita apapun, tiba-tiba cuaca pagi hari yang cerah dan damai itu dalam sekejab telah berubah menjadi hari yang penuh tragedi. Teror, Sebuah tanda dimulainya kembali era sejarah baru dunia yang mencekam, terulangnya kembali cerita misteri legendaris yang sudah lama dilupakan oleh umat manusia dan kini menjadi kenyataan.

"Rin! Maki! Apakah kalian tidak apa-apa?!" seru gadis kelas dua tersebut berlari menghampiri kedua adik kelasnya yang tergeletak pingsan di sudut koridor dengan pintu kelas tidak jauh dari tempatnya berada. Pertama adalah si gadis berambut coklat muda.

"Aku...?! Ugh, Kotori-senpai? Ada apa ini, kak?," tanya Rin, gadis itu dengan suara lemah. Sang senpai mendengar pertanyaan itu dengan jelas namun dia juga tidak tahu harus menjawab seperti apa kepadanya. Jika bisa berkata jujur dia juga ingin menanyakan hal yang sama kepada orang lain, bagaimanapun juga semua yang terjadi pada saat ini benar-benar tidak dapat mereka mengerti.

Apa yang diketahui oleh Kotori pada saat ini adalah keadaan sekeliling bangunan kelas sekolahnya telah rusak parah. Sejauh dia memandang hanya terlihat puing-puing reruntuhan tembok ruang kelas yang telah retak dan hampir roboh. Selain itu juga terlihat rongga besar yang tercipta di dinding bangunan sekolah mereka akibat hantaman keras dari peristiwa sebelumnya sehingga membuat pancaran sinar matahari disertai hembusan angin panas langsung segera terasa menyengat menerpa kulit mereka.

Lantai yang retak menjadikan tempat mereka berdiri sering terjadi getaran dan guncangan setiap kali dia mencoba untuk melangkah ke sisi lainnya. Begitu parah dan tampaknya gedung sekolah ini memang tinggal menunggu hitungan waktu mundur saja sebelum akhirnya benar-benar roboh. Pada saat itu hanya ada satu hal yang Kotori pikirkan yaitu bagaimana caranya agar mereka bisa keluar dari bangunan sekolah ini dengan selamat.

"A-Aku juga tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi disini." Jawab sang senpai panik. "Sepertinya sekolah kita telah hancur akibat dihantam oleh batu meteor. E-Entahlah, yang pasti kita harus segera keluar dari bangunan ini sekarang. Tidak aman untuk tetap terus berada disini." lanjut Kotori.

"Cepat, bangunkan temanmu, Maki-chan!".

Rin mendengar perintah tersebut, tanpa membuang waktu dia bergegas meraih arah samping untuk membangunkan Maki yang masih tergeletak di lantai tidak sadarkan diri. Dengan langkah pelan dan hati-hati dia menyebrang mendapati tubuh gadis berambut merah tomat itu.

"Maki-chan, Maki-chan...! Bangun, Maki-chan! Ini bukan saatnya tidur siang!" pinta Rin galat berusaha membangunkan tubuh Maki sembari menggoyang-goyangkan badannya secara keras.

"Hei, Rin-chan cara kamu membangunkan orang itu aneh sekali, hihihi..." tegur Kotori yang tidak tahan untuk menahan tawanya saat melihat tingkah Rin yang sepertinya sangat menikmati momen menggoyang-goyangkan badan Maki tersebut.

"Gezzz... Hentikan Rin, itu sakit!" protes Maki yang telah sadar dari pingsannya. "L-Lagipula siapa juga yang tertidur?!"

"A-Aku cuma berbaring sebentar saja, kok!", timpalnya dengan sifat tsundere yang dimilikinya berusaha mengelak dari kenyataan yang sebenarnya. Bagaimanapun juga pada saat itu dia memang tidak tahan dengan guncangan yang terjadi pada tubuhnya barusan. Sesaat, dia merasa bahwa guncangan itu jauh lebih parah daripada hantaman keras dari insiden yang baru saja dialaminya.

"Ahh, syukurlah-nyaa" kata Rin lega. Dia bahkan tampak lebih ceria setelah mendengar suara Maki yang telah sadar. Begitu senang sehingga tanpa dia sadari saat ini malah memeluk tubuh Maki dengan sangat erat sehingga membuat tubuh Maki kesakitan.

"Arrgghhh... RIN, SAKIT!"

"Lepaskan atau aku akan mulai memukulmu!" gertak Maki.

"Aww... Maki keterlaluan-nya.." rengek Rin. "Maaf-nyaa!"

Sementara itu Kotori yang melihat itu semua hanya bisa menggelengkan kepalanya saja. "Yah, baiklah kalau begitu, ayo kita keluar dari bangunan ini sekarang!" katanya memberi komando kepada kedua adik kelasnya.

"Semuanya, ayo kita lewat sini!"

.


.

Sekolah Akademi Otonokizaka adalah bangunan sekolah yang terletak di perbatasan 3 daerah distrik, antara Akibahara, Kanda dan Jinbou. Gedung sekolah yang cukup besar ini terdiri dari 3 lantai dan dikelilingi lapangan yang cukup luas nampak rerumputan hijau di bagian depannya dan disebelah kanannya terdapat kantin tempat para siswi berkumpul atau berteduh di bawah pohon besar yang rindang.

Yah, walaupun secara historis gedung ini termasuk bangunan lama yang usia berdirinya cukup memungkinkan untuk didaftarkan sebagai situs bersejarah oleh UNESCO namun tetap saja gedung ini masih berdiri kokoh hingga sekarang. Cukup mengesankan melihat bangunan sekolah lama ini masih ada berdiri di daerah Tokyo, tempat berkembangnya era modernisasi arsitektur bangunan dunia.

Namun, bukan berarti ini tidak menjadi suatu masalah bagi Sekolah Akademi Otonokizaka. Oleh karena negara jepang saat ini sedang mengalami masalah serius tentang semakin menurunnya jumlah penduduk mereka maka sekolah ini juga dari tahun ke tahun turut mengalami penurunan jumlah pendaftaran murid. Pada awalnya ini adalah sekolah yang dibuka sebagi sekolah campuran antara laki-laki dan perempuan, namun karena masalah rendahnya jumlah anak yang melanda jepang pada saat ini sehingga jumlah murid dari waktu ke waktu semakin menurun dan menjadikan sekolah ini berubah menjadi sekolah akademi khusus anak perempuan hingga hari ini.

.


.

"AWAS...!" seru Kotori dengan sigap menghentikan langkah kedua adik kelas dibelakangnya, sebelum...

Suara reruntuhan [BRRUUUKK!] segera terdengar tidak lama setelahnya. Kejadian itu berlangsung beberapa detik hingga letak bebatuan yang seharusnya ada di atap lantai atas gedung sekolah kini berada tepat di hadapan mereka berdiri. Seandainya mereka terlambat beberapa detik saja tentu reruntuhan atap itu akan menimpa mereka bersama.

Namun nasib beruntung belum sepenuhnya menghampiri mereka karena meskipun berhasil lolos dari reruntuhan atap namun saat ini mereka masih terjebak di lantai 2. Mereka mendapati kenyataan bahwa rencana sebelumnya untuk keluar melalui pintu evakuasi menuju tangga darurat yang berada di sisi lain tembok itu telah terhalang sepenuhnya oleh reruntuhan batu. Satu-satunya kesempatan mereka untuk bisa keluar dari lantai itu adalah dengan melewati tangga utama yang berada di ruang tengah namun mereka juga mendapati bahwa anak tangga itu kini telah rusak, bisa dibilang bahwa tangga itu akan segera runtuh jika mereka memaksakan diri untuk melewatinya.

Jalan buntu!

.

"Eww... bagaimana ini?!, apakah kita harus melewati tangga itu" gumam Kotori lirih

["Tapi tangga itu sudah rusak sekarang, kedua sisi anak tangga itu telah hancur hingga menyisakan rangka besi yang membalutinya. Lalu ada celah sekitar satu meter antara tangga atas dan bawahnya. Bagaimana mungkin kita bisa selamat jika melompatinya. Bahkan mungkin tangga ini akan segera hancur apabila salah seorang dari kita berhasil melompatinya"]

Dia melihat ke sekelilingnya dan menghadapi pilihan antara tangga di sebelah kanan atau lobang besar yang menganga di depannya. Lobang itu begitu besar sehingga kamu bisa melihat pagar masuk sekolah dari sana.

["Tapi, t-tidak ada cara lain selain kita harus lompat dari sini tapi apakah mungkin itu aman?"] dia berpikir bahwa satu-satunya cara yang tersisa adalah dengan melompat melalui rongga tembok dinding yang menganga lebar di depan mereka.

"Senpai, Bagaimana ini...?!" teriak Maki yang mulai meracau panik. "Kotori-senpai, kamu kan yang paling senior disini. Cepat, pikirkan cara untuk menyelamatkan diri kita!"

Keadaan waktu itu begitu panik sehingga setiap orang saling menggantungkan hidupnya terhadap orang lain. Kotori sebagai pribadi yang tertua di dalam situasi ini merasa sangat terbeban, begitu merasa kewalahan hingga pada satu titik dia benar-benar tidak sanggup untuk menjaga emosinya lagi, dan kini perbuatan yang bisa dia lakukan sekarang adalah berteriak.

"Aku tahu itu! Kalian tidak perlu mengajariku...!"

"Satu-satunya ide yang aku miliki sekarang adalah kita lompat dari sini!

"Kalau aku sih tidak masalah dengan ini! Tapi bagaimana dengan kalian?! A-Apakah kalian memiliki keberanian seperti itu ?!" bentak Kotori yang sudah tidak tahan menerima omelan Maki sekaligus gagal menyembunyikan emosi yang selama ini telah dipendamnya. Mendadak suasana menjadi hening, kedua murid kelas satu tersebut hanya bisa menundukkan kepala mereka tanpa berani menatap mata Kotori. Kotori juga agak menyesali itu hingga dia begumam lirih kepada mereka "Maaf.."

Gadis itu dilanda perasaan bimbang hingga membuatnya harus berdiam diri untuk bertanya kepada dirinya sendiri.

["Honoka-chan, apa yang harus aku lakukan sekarang?!"]

["Seandainya saat ini aku tidak sedang sakit, aku pasti sedang bersama denganmu saat ini, tapi apakah kalian juga baik-baik saja sekarang?! Aku harap kalian baik-baik saja, honoka-chan... Umi-chan.."]

Pikiran dan perasaan Kotori saat ini sedang bercampur aduk. Di tengah kondisi yang sedang kritis itu dia malah merasa gelisah saat memikirkan nasib teman-temannya yang tidak ada di tempat ini. namun dia tidak bisa merenung terlalu lama karena dia juga harus menemukan cara unuk menyelamatkan nasib mereka bertiga, dia dan kedua kohai-nya, hingga...

"Baiklah, ayo kita lakukan!" sang kohai berambut merah itu tiba-tiba bersuara lantang.

"Hah?!" kata Kotori yang kaget mendengar respon mereka berdua.

"J-Jika itu memang satu-satunya cara untuk keluar dari bangunan ini yah mau bagaimana lagi?! Aku lebih memilih patah kaki daripada mati konyol tertimpa reruntuhan bangunan sekolah kuno ini" kata Maki sembari melipat tangan di atas dada sementara memalingkan muka.

"Senpai, Kami berdua sudah memutuskan ini! Kalau begitu, kita bertiga akan loncat dari bangunan ini bersama-sama! Bukankah senpai juga telah yakin dengan keputusan itu, kan? Hehehe..." kata Rin mencoba bersikap positif. "Atau kalau misalnya kita mendapatkan nasib buruk, sepertinya uang asuransinya Maki masih cukup untuk membiayai pengobatan kita semua."

"Hei, apa maksudmu itu, Rin?!" Protes Maki.

Kotori hanya bisa menarik alisnya tinggi-tinggi mendengar itu. Dia tahu itu adalah pendapatnya tapi mendengar keputusan mereka berdua yang begitu yakin dengan rencana penyelamatannya membuat dia kecut hati, dia tahu rencana itu begitu sembrono namun kini Kotori tidak punya pilihan lain selain dipaksa melakukan rencana tersebut.

Lagipula, asal ide itu juga adalah miliknya. Ide konyol yang dilihat dari sudut pandang manapun jelas tidak terlihat bahwa itu adalah sesuatu keputusan yang bijak dan dijamin aman dan selamat. Karena meskipun mereka berada di lantai 2 namun jarak antara lantai tempat mereka berada dengan tanah adalah sekitar 50 meter. Jarak yang cukup untuk membuat seseorang patah kaki.

Oleh karena itu, Kotori menjadi ragu-ragu untuk melakukan tindakkan nekat tersebut dan dia hanya berpikir untuk menjadikan dirinya sebagai "kelinci percobaan". Jika itu berhasil dan tidak berbahaya maka dia akan menangkap kedua adik kelasnya dari bawah dengan selamat, namun jika seandainya itu gagal maka itu sudah cukup menjadi contoh bagi mereka berdua agar kedua adik kelasnya itu untuk tidak bertindak gegabah mengikuti tindakannya barusan. Sebuah peringatan yang nyata sekaligus hukuman bagi dirinya sendiri karena telah mengatakan ide rencana aneh kepada mereka, sebuah PHP palsu, begitu pikirnya.,

"B-Baiklah kalau begitu... aku akan melompat terlebih dahulu." kata Kotori ragu.

"Heh?!"

"Nah, Setelah aku sampai di bawah maka aku akan mencoba mencari bantuan orang lain untuk menolong kalian. Oleh karena itulah, Kalian lebih baik menunggu disini seka-.." perkataan itu terpaksa terpotong. Kotori seharusnya menyelesaikan ucapan [sekarang] namun tiba-tiba terdengar suara Maki yang memotong ucapannya.

"BODOH! Kakak kelas bodoh..!" bentak Maki menyelanya. "Kata-katamu barusan itu seperti pesan orang yang sudah siap untuk bunuh diri, tahu?!"

"Gezzz, Tingkah lakumu yang seperti inilah yang selalu membuatku kesal setiap kali aku melihatmu! Terlihat polos, selalu tersenyum seperti tidak mengalami apa-apa padahal dirimu selama ini selalu menanggung beban yang berat! Aku muak melihat aktingmu ini, Aku benci dengan muka topengmu itu, Senpai!."

"Tapi..." perkataan itu tidak dilanjutkannya. Dia tahu, dia salah.

"M..Maki-chan, maaf!" kata Kotori dengan suara gemetar berusaha mendekati Maki. Perasaan haru meliputi dirinya pada saat dia memeluk tubuh adik kelasnya yang sedang gemetar karena mengkhawatirkan keadaannya.

"Setidaknya jika kau ingin bertindak nekat seperti itu maka lakukan itu bersama-sama" kata Maki pelan berbisik di samping telinganya.

"Heeehh?!" teriak Kotori tidak percaya dengan yang perkataan Maki barusan namun saat dia melepaskan pelukannya dan melihat kepada kedua bola mata dari mereka berdua yang sangat serius maka Kotori menjadi tak kuasa untuk menolaknya.

"Baiklah... Aku mengerti!" dia menganggukkan kepala.

"Yosh... kalau begitu itu sudah ditentukan! Ayo kita lakukan-nyaa!." tanggap Rin dengan suara riang. Dia gembira melakukan itu meski tidak menyadari betapa bahayanya melakukan itu. Kini mereka bertiga telah berada di depan rongga liang besar yang menganga itu.

"Kita loncat dalam hitungan ketiga yah?, semuanya ayo bergandengan tangan!" kata Kotori memberikan komando. Pada saat itu mereka bisa merasakan bahwa lantai tempat mereka berdiri sudah mulai bergoyang sudah tidak ada waktu yang tersisa untuk tetap berdiri disana.

"A-Aku hitung yah?"

"S-Saaaatu..."

"D-Duuua..."

"T-TIGAAAAAAA!"

Mereka mulai lompat dari gedung itu sambil bergandengan tangan dengan mata tertutup. Entahlah, apa yang sedang mereka pikirkan sehingga harus melompat dengan cara seperti itu. Sudah tentu cara seperti itu bukanlah cara yang aman untuk melompat, apalagi dengan dari jarak ketinggian itu.

"Arrrccchhggggghhh...! Kyaaaa...!"

Seluruh sisiwi itu berteriak bersamaan saat melayang di angkasa. Tidak ada satupun yang berani membuka matanya dan melihat kebawah. Namun, tepat bersamaan pada saat itu Kotori merasakan ada sesuatu yang bergetar di balik saku bajunya, sesuatu bercahaya dari balik saku sakunya. Dia membuka matanya dan melihat ke arah saku tempat dia menyimpan kartu misterius tadi. dan...

["Splasssshh...!"]

Dia terkejut mendapati sinar terang berwarna putih yang berasal dari dalam sakunya itu mendadak berpijar semakin terang lalu menyelimuti tubuh Kotori seutuhnya. Kotori masih bertanya-tanya dengan fenomena aneh yang baru saja dia alami namun kini dia merasakan bahwa sesuatu yang aneh sedang terjadi kepada dirinya, ada yang mengembang di balik punggungnya, dia merasakan bahwa bobot tubuhnya terasa lebih ringan, dan udara disekelilingnya seperti bergerak melambat melawan gravitasi.

Jarak 50 meter itu bukan ketinggian yang tinggi namun bukan juga jarak yang dapat ditempuh dengan cepat untuk menjatuhkan sesuatu hingga sampai ke dasar namun pada saat itu mereka bertiga menyadari bahwa langkah kaki mereka tidak sampai-sampai menapak tanah melainkan bidang dada mereka terangkat melayang. Rin dan Maki bukannya tidak menyadari hal itu namun mereka juga takut untuk mengetahui kebenarannya. Namun karena penasaran mereka berdua pada akhirnya memutuskan untuk membuka mata mereka dan terkejut!

"D-Dipegang oleh malaikat bersayap? Kita pasti sudah mati kan Maki-chan?!" seru Rin dengan suara meratap melihat ke arah Maki.

"Haahh?! S-Siapa yang mati?!" seru Maki menyatakan keterkejutannya. "Heh, apa yang terjadi?! Ehh... Kita terbang!"

"T-Terbang?!" tanya Rin heran. Dia lalu mencoba melihat ke atas dan menyaksikan ada tubuh seorang bersayap layaknya seorang bidadari sedang memegang mereka berdua namun bagaimanapun dia tidak mudah untuk bisa mengenali wajah orang tersebut karena harus melawan sinar matahari langsung. Namun, Rin bisa mengenali warna rambut orang itu. dia adalah...

"KOTORI-SENPAI, K-KAMU TERBANG?!"

Belum sempat Rin selesai dengan keterkejutannya dia segera menyadari bahwa mereka sedang dalam posisi menukik jatuh dan segera akan melakukan pendaratan ke tanah dengan tidak mulus. Dan benar, pada saat itu Maki dan Rin harus menerima kenyataan bahwa mereka terpelanting beberapa kali sebelum akhirnya benar-benar berhenti.

"Aduh... s-sakitnya...!" keluh mereka berdua setelah pendaratan tersebut. Belum sempat mereka bisa fokus dengan luka memar mereka. Mereka dikejutkan dengan teriakan keras dari atas.

"GYAAAA... A-APA YANG TELAH TERJADI KEPADA DIRIKU!", teriak sang bidadari yang masih melayang di angkasa, Kotori menjerit histeris saat menyadari ada sepasang sayap yang tumbuh di balik punggungnya dan yang lebih mengejutkan adalah dirinya kini sedang terbang!

"Err... Kotori-senpai, seharusnya kami berdualah yang seharusnya menanyakan itu? " teriak Rin agar merendah. Kini giliran Rin dan Maki yang menjadi heran.

"Apa yang sebenarnya terjadi disini?! Tubuh apa itu?! Siapa kamu ini sebenarnya?!" tanya Maki bingung.

"A... AKU TIDAK TAHU!", sang bidadari itu hanya frustasi.

Sang bidadari tidak terlalu lama melayang di angkasa, sepertinya ada sesuatu yang tidak dia ketahui hingga membuatnya jatuh dengan tidak terkendali menuju tanah, meskipun begitu dia tetap berhasil mendarat di tanah dengan mulus layaknya seekor burung merpati hinggap di tanah atau lebih tepatnya seperti bola bulu yang mendarat di tanah. Pada saat itu dia tidak tahu harus berbuat apa, Kotori hanya bisa duduk tertelungkup memendam kepalanya di dalam kedua kakinya sementara kedua sayapnya yang merentang lebar juga ikut melingkupi tubuhnya. Selain itu, hanya ada tatapan kosong yang ada di dalam bola matanya pada saat ini. Seluruh peristiwa ini sungguh tidak masuk akal baginya.

.


.

Sementara Kotori masih dilanda perasaan frustasi, kedua gadis kelas satu itu berdiri agak jauh mengamati kakak kelasnya. Namun yang ada disana bukan hanya mereka bertiga saja, dari luar pagar gerbang sekolah nampak ada dua gadis yang sedang berjalan tertatih-tatih menuju ke arah sekolah. Mereka berdua memakai pakaian compang-camping seperti orang yang baru saja keluar dari hutan belantara. Dengan suara serak dan kehilangan tenaga salah seorang disana mencoba memanggil ketiga gadis itu.

"K-Kotori..?! A-Apakah itu kamu?! To... Tolong kami!" teriak susah payah sang gadis tersebut. Kotori familiar dengan suara itu, itu jelas bukan panggilan yang dapat dia hiraukan. Dia masih dilanda perasaan ketakutan dan bingung namun dia tetap mengangkat kepalanya dan melihat ke arah asal suara tersebut. Dia mengenal suara itu, kondisi tubuhnya saat ini begitu berbeda sehingga meskipun jarak mereka terpaut jauh namun Kotori dapat melihat jelas mereka dengan mata kepalanya sendiri layaknya berada di depan matanya.

"Ehh... Umi-chan! Eli-senpai!" teriak Kotori mengenali mereka, dia segera berlari atau lebih tepatnya sedikit melayang untuk mendapati kedua orang itu. Tepat sebelum mereka akan jatuh tergeletak ke tanah, tangan Kotori segera menopang mereka sehingga tidak sampai mencium tanah.

"A-ADA APA INI?!" sahut Kotori dengan suara panik.

"AIR... AIR... AIR...!" hanya itu kata yang bisa terucap dari mulut Eli, rancu panik sang gadis berambut pirang. Tidak berselang lama, mereka berdua pingsan tepat dipelukan Kotori.

Pada saat itu tak seorangpun yang mengerti tentang apa yang harus mereka lakukan sekarang. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang harus kita lakukan sekarang? Bagaimana ini?! Kotori menjadi panik saat melihat kedua orang yang dikenalinya sedang pingsan akibat dehidrasi, sedangkan Rin dan Maki hanya bisa menatap itu dari jarak jauh dengan kondisi cemas.

Sementara itu, dari atas gedung sekolah tampak sesosok gadis misterius berambut coklat pendek, dengan jubah hijau yang melingkupi dirinya sedang menggendong seseorang wanita dewasa paruh baya rambut panjang abu-abu di dalam dekapan tangannya sembari memperhatikan Kotori dan kawan-kawan dari atas sana.

"Hmm... Aku tidak menyangka ternyata dia hebat juga bisa menggunakan kekuatan kartu itu secepat ini." komentar sang gadis misterius itu terhadap Kotori.

.

-chapter 1: end-