Runnin On Empty

.

.

Pairing:

Jung YunHo X Shim ChangMin a.k.a HoMin

Genre:

Romance

Rate:

T

Warning:

AU, Yaoi, Typos, OOC, membosankan, mengandung bahasa santai, senjang umur yang panjang, alur mundur dan blahblahblah.. DLDR!

Mohon maaf untuk ketelatan update… #bow

Diharap masih mau baca ini fanfic abal..

.

.

Happy Reading! ^^

.

.

Dua tahun berlalu.

Tak ada yang tahu perasaan masing-masing.

Kita merasakannya.

Kapan sebuah kata pewakil rasa terucap.

Dari bibir penuh dusta yang sedang terbuka.

Pikirku.. Apa cukup waktu?

Walau cinta tak perlu ucapan.

Tapi bukankah butuh pengakuan.

Teruslah berlari.

Sampai penantian pemutus kekosongan teraih.

.

.

Rasa aneh yang bergemuruh di dada. Juga kesenangan yang tiada tara. Ingin sekali diungkapkan dengan kata-kata. Tapi sayang lidah kelu seakan beku. Ingin juga diungkapkan dengan gerakan. Tapi tubuh kaku seakan takut jatuh. Rasa apa yang mendera? Apakah sakit yang akan terasa setelahnya?

"Yunho hyung? Kenapa?"

Tanya seorang lelaki muda berumur dua puluh pas. Tatapannya memelas melihat lelaki lain yang tengah terbaring lemas di atas kasur berbalut kain tipis warna biru laut. Lelaki itu terbatuk tanpa sebab. Ia menunjuk sebuah gelas beling berisikan air bening. Sang lelaki muda bernama Shim Changmin beranjak untuk mengambil gelas tersebut. Kemudian memberikannya kepada Jung Yunho, lelaki yang tengah berbaring.

"Makasih, Min-ah," ucap Yunho dengan senyum lemas.

Changmin hanya mengangguk. Tangannya terulur menempelkan telapaknya pada dahi lelaki kesayangannya. Panas langsung mendera telapak putih nan halusnya. Ia menutup mulut yang terbuka karena kaget. Matanya melotot dengan sorot khawatir.

"Hyung! Kamu sakit!" teriaknya.

Yunho terbatuk lagi. "Nggak kok. Cuma demam," ia menyesap air dengan mulut perih.

"Tapi itu tetap saja sakit," Changmin berkacak pinggang. Menatap Yunho dengan sangar. "Udah aku bilang kamu jangan latihan terus-terusan! Walau itu acara penting sekalipun!" tatapannya tajam setajam silet yang siap mengoyak Yunho perlahan namun pasti.

"T-tapi kan, Changminnie.."

"Nggak ada tapi-tapian! Kamu ini nggak pernah dengerin aku ya!"

"K-kalau –uhuk- aku nggak latihan nanti Dance-ku gagal, Changdollie,"

"Nggak mau tahu! Kalau kamu jadi sakit juga performance kamu kan jadi keganggu! The King of Stage-hyung. Aku nonton kemarin. Aku senang penampilan kamu keren. Tapi ternyata akhirnya jadi sakit gini kan aku jadi sedih," ucap Changmin panjang lebar.

Yunho Cuma cemberut di kasurnya. Bergelung dengan selimut usang agar terhindar dari jeratan Bambi imut yang sedang marah. Ia meraih bonekanya. Sama-sama Bambi. Membisikkan gumaman sayang pada benda mati itu kemudian memeluknya. Batuk-batuk dulu baru memejamkan mata. Ia kaget ketika cahaya menyerang. Rupanya Changmin yang menyingkap dengan bara api menguar.

"Tuh kan hyung nggak dengerin aku lagi,"

Yunho menatap sang Bambi versi manusia dengan mata sayu. "Mau bobok~" ucapnya manja. "Pusing kamu marahin," dia memejamkan mata perlahan dengan lemas.

Changmin tersontak. "Eh? Hyung? M-maafin aku deh," ia menggaruk belakang kepala. "Aku emosi tadi,"

Yunho menggeleng. Jadi tambah pusing.

Changmin beringsut masuk ke dalam gelungan selimut usang Yunho. Sedikit menutup hidung karena selimutnya yang bau iler. Tapi ia tidak peduli. Yang terpenting adalah orang dalam selimut ini, yang tak berdaya dan butuh perhatian lebih. Ia menatap wajah tampan hyung-nya dalam gelap. Seperti pertama bertemu. Walau gelap tapi masih tampak gantengnya.

Mereka berada dalam selimut yang bau namun nyaman dan hangat.

"Hyung aku beliin obat ya,"

"Iya,"

"Nanti mau makan apa? Aku yang masak,"

"Bubur saja,"

"Minumnya? Air putih saja ya, biar cepet sembuh,"

"Iya,"

"Mau aku pijat? Kata Appa pijatanku enak,"

"Boleh tuh,"

"Mau buah nggak?"

"Nggak ah. Nggak mood makan buah,"

"Eh? Nggak boleh gitu hyung harus makan buah! Biar segar!"

"Iya deh terserah –uhuk-"

"Buah apa yang enak?"

"..Buah dada,"

".." Changmin sedikt merona. Ingin ditampar saja hyung-nya. Tapi ditahan mengingat sang hyung sedang sakit. "Aku serius, hyung!"

"Hmm.. buah apel, pear, dan lain-lain,"

"Oke, masuk list,"

Yunho mengangguk.

"Hyung selimutmu bau. Aku cuci ya nanti?"

Anggukan lagi.

"Aku ambil uang di dompetmu ya untuk beli yang tadi?"

".."

Jeda sejenak. Terdengar suara dengkuran keras seorang Jung Yunho. Changmin tersenyum. Didekatkannya bibirnya pada boneka dalam pelukan Yunho, lalu membisikkan sesuatu. Tak perlu tahu apa yang ia bisikkan. Karena memang tidak penting. Ia membuka selimut. Menghirup udara segar sebanyak yang ia bisa. Tampaknya ia harus mencuci selimut Yunho setelah empunya sembuh.

.

.

"Obat sudah, bumbu untuk buburnya sudah, buah apel sudah, pear sudah,"

Changmin mengeluarkan semua bungkusan-bungkusan yang ia tenteng sedari tadi. Ia baru saja pulang dari Supermarket dekat rumah. Membawa berbungkus-bungkus belanjaan untuk Yunho. pakai uang Yunho tentu saja belinya. Karena ini untuk Yunho. haha.

Changmin mengenakan sebuah Apron biru punya Yunho yang nampak sedikit besar di tubuhnya. Ia mulai mempersiapkan alat dan bahan. Inginnya membuat bubur. Karena Yunho minta bubur tadi. Untung tidak meminta yang aneh-aneh. Biasanya Yunho kalau sedang sakit memang aneh. Mintanya juga macam-macam. Kayak orang ngidam.

Setelah beberapa menit beradu dengan alat masak, bubur pun jadi. Simpel saja. ia menuangkan makanan bentuk cair itu ke dalam mangkuk lucu. Mengiris-iris beberapa jenis sayuran yang berwarna-warni untuk dijadikan Garnish imut. Yunho seperti anak kecil. Harus dipancing dulu dengan yang beginian untuk makan kalau sedang tidak napsu.

Ia meletakkan mangkuk beserta segelas air mineral, lalu obat demam dan batuk ke dalam nampan. Lalu berjalan ke dalam kamar Yunho sambil membawa nampan itu. Ia jadi merasa pembantunya Yunho saja. Tapi ia tidak peduli. Ia sering juga merawat keluarganya persis seperti ini. tapi ketika ia sakit, malah tidak ada yang merawatnya. Itu menyebalkan.

"Ayo, hyung makan dulu, habis itu minum obat,"

Ia meletakkan nampan di atas meja nakas dengan suara nyaring. Yunho yang sedang menungging dengan tidak berperike-Jung-an langsung mengerjapkan matanya dengan lucu. Bias-bias sinar mentari yang mengintip lewat celah kamarnya menghiasi wajah tampannya. Changmin duduk di tepi kasur. Memandangi Yunho yang sedang meregangkan badan. Singlet longgarnya terbuka. Changmin blushing karena melihat otot-otot yang keren.

"Sak..it, Minnie.." Yunho menggumam. Kesadaran belum penuh.

Changmin menepuk pipinya yang terasa panas. "Makanya, ayo makan dulu dan minum obat agar sakitnya hilang, hyung," ia memijat pelipis Yunho lembut.

Yunho melenguh nikmat. Ia mengerutkan alisnya. "Malas bangun. Nanti pusing," suaranya serak sekali.

"Harus bangun, ayolah,"

"Eung. Pusing,"

"Ne, aku tahu," Changmin menghela napas.

Yunho mengunyah sesuatu dalam tidurnya.

"Yasudah lah hyung tiduran saja, aku suapin. Sebentar, aku tata dulu bantalnya, ne," kata Changmin sambil menata bantal-bantal di kasur Yunho.

Agak sulit karena Yunho yang malas bangun dan hanya guling-gulingan. Tapi Changmin sabar. Ia telaten mengurus Yunho-hyung-nya yang sedang sakit. Kepala batu-nya Yunho bukannya melunak malah semakin keras sih jadinya kalau sakit. Changmin mengambil mangkuk bubur dan sendoknya. Ia menyendok sesendok bubur berisi sayur-sayur.

"Buka mulutnya,"

Yunho menutup mata. Mulutnya tidak terbuka. Ujung sendok Changmin sudah menempel di ujung bibirnya. Changmin cemberut. Sendoknya memaksa masuk ke mulut hati Yunho. Yunho melenguh malas.

"Ayo buka~ jangan kayak anak kecil gitu dong, hyung. Kamu udah.." Changmin mulai menghitung umur Yunho. "26 tahun, lho,"

Yunho yang sepertinya mendengar langsung membuka mulutnya. Sendok berisi bubur pun langsung melesat masuk. Rasa panas namun sedikit sedap mendera lidah Yunho. Mulutnya mengunyah pelan. Matanya membuka sedikit. Wajah khawatir Changmin menyerang penglihatannya.

"Makan yang banyak, habis itu diminum obatnya," ujar Changmin.

"Lidahku nggak bisa ngerasa, Cuma dikit, nggak napsu"

Changmin mendesah berat, menyendok kembali bubur buatannya. Ia tetap menyuapi Yunho sampai kenyang sekenyang kenyangnya. Yunho lama-lama pulih bisa bangun dan duduk juga. Tapi tetap disuapi. Baru sampai setengah mangkuk, Yunho menyuruhnya berhenti. Daripada makanannya nanti keluar lagi, yasudah Changmin berhenti. Kemudian dia memberikan Yunho segelas air dan pil obat. Namun tangan Yunho menepisnya.

"Min-ah, aku nggak bisa minum itu," Yunho menunjuk gelas dan obat di tangan Changmin.

"Eh? Wae?"

"Ugh.. nggak bisa tertelan, takut,"

"Nggak apa-apa kok, hyung,"

"Nggak mau,"

"Nanti kamu nggak sembuh gimana?"

"Pokoknya aku nggak mau. Kamu mau aku tersedak lalu mati?" alis Yunho mengerut cemas.

Changmin balas mengerut. "Kamu nggak bakal mati kok Cuma gara-gara nelan pil,"

"Mungkin aja. Pahit juga,"

"Aish.. kalau sama air jadi nggak pahit, hyung. Emang kamu nggak pernah minum obat?"

Yunho terdiam. "Eum.. aku jarang sakit sih. Biasanya juga disuntik,"

Changmin mengangguk. "Terus gimana?"

Yunho mengedikkan bahu tanda tidak tahu. Juga tidak peduli. Sakitnya kan hanya demam. Dikompres dengan air es sedikit dan istirahat sehari semalam juga sudah sembuh. Changmin ini lebay sampai-sampai beli obat dan mengurusnya segala. Tapi ia juga senang sih karena Changmin khawatir padanya.

"Hmm.. pakai cara ini deh,"

Tiba-tiba Changmin berujar. Yunho menatap Changmin. Changmin membuka kemasan pil-nya, mengambilnya, lalu meletakan pil ukuran agak besar itu di tengah lidahnya. Ia mengisi mulutnya dengan air sampai pipinya menggembung seperti Hamster. Yunho ingin tertawa, tapi juga bingung. Dia yang sakit, kenapa Changmin yang meminum obatnya.

Yunho menahan napasnya ketika badan Changmin maju ke depan. Wajahnya yang memang sudah panas karena sakit bertambah panas. Wajah imut Changmin dengan pipi gembul-nya berada tepat beberapa centi di depan wajahnya. Mata Bambi Changmin mengedip polos kemudian menutup. Yunho yang tidak peka akan keadaan juga menutup matanya. Sampailah benda lembut dan basah di bibir hati Yunho. Mulut Yunho tak sengaja membuka karena Changmin yang tiba-tiba menjambak rambutnya.

Brusshh..

"Eung.. –gluk- uhuk-uhuk.."

Itu suara Yunho. Ia kaget karena tiba-tiba saja ada gumpalan air yang masuk ke mulutnya. Juga benda padat rasa pahit yang mampir, tidak sengaja tertelan beserta air yang sampai keluar dari mulutnya. ia terbatuk. Tersedak. Yang tadi itu cukup ekstrem. Dan penyerangnya tidak lain dan tidak bukan adalah sang sahabat, Shim Changmin.

Yunho melotot setelah terbatuk. Jemari-jemari mungil dan halus milik Changmin yang sudah sangat dikenalnya menyapu sekitar bibir Yunho dengan hati-hati. Yunho mendongak, langsung diserang dengan cengiran Innocent milik Changmin yang menyilaukan.

"Maaf ya, hyung aku buat kaget. Tapi nggak apa kan? Jadi bisa minum obat tuh," Changmin terkikik.

Yunho melongo. Setelah sadar beberapa detik kemudian, ia menyentuh bibir bawahnya dengan jari telunjuk. Jantungnya tiba-tiba saja berdebar tak karuan. Wajahnya tambah panas. Jangan sampai sakitnya malah tambah parah setelah minum obat.

"Hyung? Nggak apa-apa?" tanya Changmin.

Yunho menatap Changmin dengan pandangan aneh. Kok bisa sih orang ini tenang-tenang saja dan bertanya dengan polos begitu sehabis mencium sahabatnya sendiri. "Kamu.. nyium aku?" entah kenapa pertanyaan itu terluncur dari bibirnya.

Changmin menggaruk leher. Wajahnya ikut-ikutan merah. "M-mianhae, hyung. B-biar kamu minum obatnya, makanya begitu," wajahnya semakin menunduk dan merah.

"Ya ampun.. Haha.. cara kamu aneh. Siapa yang ajarin?"

Changmin menaikkan alisnya. "Eung? Siapa ya? Aaa.. kepikiran sendiri tadi. Aku nggak tahu. Aku nggak salah kan, hyung?"

Rasanya ingin Yunho tarik saja pipi gembil Changmin. "Huft.. kamu nggak salah kok," ia menenangkan jantungnya kembali.

Changmin tertawa malu.

.

.

Sesi makan dan minum obat selesai, sekarang saatnya sesi memijat. Changmin sudah siap dengan minyak zaitun miliknya di tangan. Karena Yunho tidak punya minyak apa-apa, akhirnya pakai minyak zaitun miliknya yang ia bawa di tas. Biasanya untuknya wangi-wangian.

Changmin duduk di tengah kasur dengan Yunho duduk di depannya telanjang dada. Kepala Yunho menyender pada bantal yang dipasang di tembok. Ketika ingin memijat, Changmin malu-malu untuk mengusap punggung liat Yunho. wajahnya memerah sendiri tanpa sepengetahuan Yunho yang asik tidur.

"Hyung, memang masih pusing?" tanya Changmin memecah keheningan.

"Eung? Sudah baikkan sih. Tapi maunya tidur,"

Changmin mengangguk. Ia menghilangkan rasa malunya, tangannya dengan lihai menari di punggung Yunho. Yunho melenguh nyaman merasakan tangan Changmin di punggungnya. "Jangan ketiduran, ne, hyung. Aku sulit pindahinnya nanti,"

"Ehem.." Yunho menenggelamkan wajahnya pada bantal bulu angsanya.

"Hyung pasti pegal ya,"

"Hm?"

"Dance hyung itu semangat sekali. Hyung itu seperti yang jadi bintangnya, bukan artisnya. The King of Stage. Aku sampai terpesona, lho,"

Yunho menoleh. "Wah.. beneran? Nggak ah, biasa aja,"

"Bener kok. Aku selalu suka lihat hyung Dance. Karisma Jung Yunho itu langsung menguar,"

Yunho tersipu dipuji begitu. "Aku juga suka.. dengerin kamu nyanyi,"

"Eh?" tangan Changmin berhenti.

"Iya.. suara kamu itu merdu banget. Aku sampai merinding kalau kamu lagi dapat Solo di Choir kamu. Dadaku berdesir. Setiap kamu mencapai nada tinggi itu juga. Kamu hebat banget deh, Chwangdollie. Sayang jarang dapat Solo yah,"

Kini giliran Changmin yang tersipu. "Hyuuung~~ suaraku itu masih rata-rata, jadi jarang dapat Solo-nya,"

"Menurutku suara kamu Number 1, kok. eh, ayodong, Minnie, lanjutin mijitnya. Tangan kamu enak lho,"

Changmin tertawa. "Ne, hyung. Makasih..,"

"Makasih.. juga,"

Hening kembali tercipta. Rasanya ada suatu kalimat yang kurang terucap. Kalimat sakral yang sanggup mewakili perasaan mereka. Kalimat yang sepertinya hanya akan tertanam dalam hati mereka. Masih tertanam. Tidak ada dari keduanya yang tahu kapan kalimat itu akan terucap. Mereka butuh penantian. Tapi akankah mereka berlari untuk memutus penantian itu? Agar kalimat pereda kekosongan terucap.

'I Love You~'

Mungkin begitulah isi bunyi tersebut.

.

.

Setelah mengurus Yunho dan merapikan kamar Yunho yang bagai kapal pecah terserang badai, Changmin membersihkan diri di kamar mandi Yunho dan bersiap-siap untuk pulang. Entah apa hyung-ya itu masih bisa hidup atau tidak kalau ia tinggal. Tapi bagaimana juga Appa dan adik-adiknya di rumah? Walau ada bibi dan pamannya di rumah tapi kan selalu ia yang mengurus mereka. Belum terbiasa sih dengan orang lain.

Ia melongok, Yunho sedang menyender pada kepala kasur dengan Gadget di tangannya. Ia menghela napas. "Hyung kalau mau sembuh jangan main itu dulu, nanti pusing kamu nambah, lho," ucapnya mengingatkan Yunho.

Yunho cengengesan, lalu meletakkan Gadget-nya di lemari. Ia melihat Changmin yang sudah rapi. tatapannya jadi memelas. "Changmin-ah mau pulang?" tanyanya dengan bibir mengerucut sok imut.

Changmin mengernyit jijik. Imut sih. Tapi.. "Ne, aku mau pulang," jawab Changmin.

"Waaaeeee?"

"Mau mengurus Appa, Sooyeon, Jiyeon,"

Yunho menggeleng. "Kamu bilang ada Shim-Jumma dan Shim-Jusshi di rumah, kan mereka yang mengurus Appa dan adik-adikmu,"

Changmin duduk di tepi ranjang. "Tapi aku udah setengah harian lho di sini, hyung. Mereka kangen nanti. Biasanya yang ngurus mereka kan aku. Belum biasa sama ahjumma dan ahjusshi,"

"Hanya setengah hari. Setengah hari! Nginep dong, Changmin-ah," pinta Yunho. nadanya lebih memelas.

Changmin mengerutkan alis. "Nggak mau! Emang aku pembantu hyung apa?"

"uhuk.. uhuk!" Yunho pura-pura batuk. Ia masuk kedalam selimut dan pura-pura menggigil. Changmin memutar bola matanya. Dasar hyung-nya manja.

"Iya.. iya aku nginep! Puas!" Changmin meninggalkan Yunho untuk mengganti bajunya.

Yunho hanya menyengir sumringah.

.

.

Setelah mengganti baju dengan T-Shirt dan Shortpants, Changmin menuju tasnya. Ia mencari Handphone-nya. rencana menghubungi Appa-nya untuk memberitahu kalau ia akan menginap di rumah Yunho malam ini. Tapi ternyata pulsanya habis. Jadi ia meminjam Handphone Yunho dahulu. Ia menelpon di sofa ruang tengah dengan Yunho yang sedang makan buah di sampingnya. Entah kenapa Yunho sering meliriknya curiga.

"Yoboseyo?" ucap Changmin.

"Ne, Yunho-sshi?" jawab suara berat di ujung sana.

"Appa, ini aku Changmin,"

"Oh, Chami! Kamu kemana aja dari tadi? Kok nggak pulang-pulang?" tanya sang Appa dengan nada suara khawatir.

Changmin tertawa. "Aku ke rumah Yunho-hyung. Ini pakai HP-nya. Appa, aku nginep di rumah Yunho hyung ya malam ini,"

Jeda sebentar. "Eh? Terus yang mau mengurus Appa di rumah siapa kalau kamu nginep?"

Changmin cemberut. "Kan ada ahjumma dan ahjusshi,"

"Tapi Appa kangen~" sang Appa merajuk.

Changmin terkikik. "Baru setengah hari kok, Appa,"

"Hmm.. Appa nggak suka kalau Yoochun dan Junsu yang mengurus Appa," Changmin bisa membayangkan kalau Appa-nya tengah cemberut di seberang sana.

"Wae?"

"Mereka kan sukanya anak kecil. Jadi mereka Cuma main sama Jae, Jiyeon dan Sooyeon. Appa diasingkan, Sayang. Lalu Junsu itu cerewet dan marah-marah mulu. Berisik. Suaranya kayak lumba-lumba. Walau lebih cerewetan kamu T^T,"

Changmin hanya tertawa. "Aku nginap sehari aja kok, Appa. Besok pulang. Yunho lagi sakit. Kasihan. Sendirian. Haha," Changmin melirik Yunho sambil cekikikan, yang dilirik hanya bisa menatap dengan pandangan polosnya. Nggak tahu apa-apa.

"Oh.. Ya ampun.. semoga cepat sembuh deh. Dan.. semoga dia nggak ngapai-ngapin kamu ya, Aegie~"

Changmin blushing. "Eh? I-iya.. tentu,"

"Baik-baik di sana, ne. Besok Sooyeon ke sana antar baju untuk kamu. Appa juga tadi sempat beli Sushi ada yang lebih. Nanti Appa hangatkan, ne,"

"Aaah~ makasih Appa. Paipai~"

"Ne, Paipai~"

Sambungan telepon terputus. Ia senyum-senyum sendiri sambil memandang layar Handphone yang ber-Wallpaper anjing milik Yunho, Taepoong. Yunho memerhatikan dengan gigi yang terus menggerus sepotong daging buah Pear yang telah digigitnya. Mata tidak fokus ke Televisi. Changmin menggerakkan jarinya di layar besar Handphone Yunho. sungguh. Ia penasaran dengan benda canggih ini. Karena stelah 2 tahun berteman, ia tak pernah boleh menyentuh HP Yunho. paling hanya untuk bermain dan menelpon. Ada apa sih di benda ini? apakah sesuatu yang rahasia?

Changmin membuka Gallery, menemukan sebuah folder bernama "Chwang-dollie". Apa-apaan itu? memakai nama panggilannya untuk dibuat nama folder mencurigakan. Ketika ia memencet folder itu, terdengar bunyi Alert, menandakan folder yang terkunci. Yunho langsung melotot, merampas Hp tercinta dari tangan jahil penjajah. Kemudian ia menge-check HP-nya. menghela napas karena Changmin tak berhasil membukanya.

Changmun memajukan bibir bawahnya. "Hyuuung~ kok gak boleh buka sih?"

Yunho menggeleng, menatap Changmin tajam dengan mulut mengerucut. Ia mematikan Hp-nya dengan sekali pencet. "Rahasia,"

"Ih.. biasanya juga hyung kalau punya rahasia langsung diceritakan. Itu kenapa nama folder-nya pakai nama panggilanmu untukku begitu?"

"Nggak perlu tahu!"

Changmin melempar boneka Bambi yang sedari tadi duduk di tengahnya dan Yunho. telak mengenai wajah Yunho yang merengut. Pelototannya bertambah.

"Changmin!" sembur Yunho marah.

Changmin menjulurkan lidah. Matanya kembali ke Televisi dengan santai. Ia tak menyadari. Jantung Yunho yang kini berdentum cepat. Yunho menatap layar HP-nya yang kini berwarna hitam. Ia melihat pantulan wajah dirinya di layar itu. meski remang-remang dan hanya terkena cahaya TV, ia bisa melihat wajahnya yang penuh lega.

Folder lamanya hampir saja ketahuan.

.

.

"Hyung aku tidur di mana?" tanya Changmin. ia baru selesai mandi dan melakukan rutinitas kulit malamnya. Kalau melihat waktu, kini sudah tengah malam. Tidak biasanya ia begadang. Tapi besok ia libur kerja kuliah dan kerja sambilan sebagai penyanyi Cafe malam hari. Jadi tak apa.

Yunho berbalik dari posisi tidurnya yang tadinya membelakangi Changmin jadi menghadap Changmin. "Biasanya tidur dimana?" alinya naik satu.

Changmin membuat pose berpikir. "Di kamar tamu,"

"Nah! Tidur saja di sana,"

Napas Changmin tercekat. "Hyung, kamu tahu kan kamar tamu banyak kecoak-nya!"

"Iya tahu,"

"Dan hyung tahu kan aku takut kecoak!"

Yunho mengangguk. Pusingnya hilang. Keajaiban. Nggak juga sih. Dia jarang sakit dan kalau sakit bisa sembuh cepat.

"Terakhir kali aku menginap di sana pagi-pagi sudah ada kecoak menempel di piyama-ku, hyung! Kamu nggak mau kan aku teriak-teriak kayak dulu lagi,"

"Terus?"

"Aku.. tidur sama hyung, ne?" Changmin mendekat. Badannya menumpu pada lutut, tangan menangkup di depan dada, matanya memelas. "Ne, ne?"

Yunho menjauh. "Tidak! Boleh!" tolaknya.

"Hyung pwease.." mata Changmin semakin memelas.

Yunho tetap menggelng. Kepalanya masuk dalam selimut. Tinggal matanya yang menyembul. "Kamu mau tidur dimana emangnya? Aku suka nendang kalau tidur. Nanti kamu aku tedang-tendang mau?"

"Nggak apa-apa, kok hyung!"

"Yakin..?"

"100%!"

"Nggak ah!"

"Aaaaaah~ hyung jahat sama Minnie~ please, hyung~ Naem Naem Mi~"

Yunho menutup matanya erat. Dia tidak akan jatuh dalam Aegyo Changmin untuk yang kesekian kalinya lagi. Ia menunjuk sebuah kantung tidur di pojok ruangan. "Kamu tidur pakai itu aja! Yasudah hyung ngantuk! Mau tidur dulu, ne,"

Suara dengkuran terdengar. Changmin merengut. Dengan terpaksa, ia harus tidur di kantung tidur-nya Yunho. Padahal ranjang Yunho itu sangat nyaman walau selimutnya bau. Ia menggelar kantung tidur dengan wajah yang tertekuk. Apa dia bisa tidur? Karena belum bisa tidur, Changmin menyalakan lampu kembali.. Takut ada hantu. Juga ingin baca Novel yang baru dibelikan Appa-nya. Lumayan buat ngantuk. Kalau Yunho sih tenang saja. dia biasa tidur di keadaan terang seperti ini.

Setelah setengah jam membaca buku, akhirnya Changmin tidur. Dia lupa mematikan lampu. Kacamata masih menempel di matanya yang terpejam dan buku masih setia menyangkut di antara jepitan jemarinya. Ia tidur dengan damai. Bisa tahu dari dengkuran halusnya. Sepertinya ia lelah telah mengurus Yunho seharian ini. begadang juga.

Mungkin karena lampu yang menyilaukan, Yunho mengerjapkan mata. Ia bingung melihat lampu yang menyala. Belum pagi, juga belum siang. Ia mendudukkan diri. Kesadaran belum sampai 100%, masih Loading lah istilahnya. Ternyata setelah sadar, pandangannya berhenti pada seonggok manusia yang tengah bergelung dalam selimut di samping ranjangnya. Manusia menyerupai malaikat. Ia tersenyum tipis. Entah terpesona atau lucu. Manusia yang bernama Shim Changmin tidur dengan tidak elite-nya. Kacamata miring, mulut terbuka sedikit dan buku di tangan. Lama-lama ia kasihan juga. Jadi ia berdiri dan menghampiri Sleeping Beauty itu.

Dilepaskannya kacamata Changmin. tidak rela rasanya. Chagmin kan sangat menggemaskan jika memakai kacamata. Tapi kalau saat tidur kelihatannya jadi tidak nyaman. Kemudian ia beralih pada sebuah Novel tebal di tangan Changmin. Ia membuka sedikit Novel milik Changmin. langsung memasang tampang jijik melihat Novel tebal tanpa gambar yang teronggok lemas. Segera disingkirkannya kumpulan kertas berisi fiksi itu.

Kini tak terasa jemari-nya sudah sampai pada pipi halus Changmin. Walau berbayang bayangan Yunho, tapi Changmin cantik. Jemarinya bergerak dan menari di pipi gembil itu. Mengelus dan meraba pelan. Sangat hati-hati. Ia merinding. Halusnya minta dicium aja. Changmin menggeliat dalam tidurnya, alisnya mengerut. Namun sedetik kemudian kembali damai.

"Eung.. hyung.. mendokusei," gumam Changmin. Yunho tertawa kecil. Changmin mimpi dia. Tapi sepertinya Yunho menjengkelkan dalam mimpi Changmin.

"Changmin-ah.. mau tidur di kasur hyung, ne?" tanya Yunho. Tangannya mengelus surai madu Changmin, menatanya agar tak terlalu menutupi wajah manis sang malaikat kecil.

Changmin mengangguk polos.

Yunho tertawa lagi. Changmin sangat jujur kalau sedang tertidur. "Okay.. hyung gendong, ne?"

Anggukkan lagi.

Dengan itu, Yunho segera mengangkat tubuh jenjang Changmin dari kantung mini. Tidak sulit. Ia kan sering ke-Gym dan sudah melatih otot-otot-nya. Juga badan Changmin yang lebih ringan. Changmin yang tiba-tiba diangkat sepertinya kaget. Ia bangun dari tidurnya namun masih setengah sadar. Matanya memerah terlihat lelah dan ngantuk.

"Hyung~" panggilnya dengan suara serak.

"Ssshh.. tidur lagi, Min-ah, ayo,"

Changmin membalas dengan kedua tangannya yang melingkari pundak Yunho. yunho berjalan ke ranjangnya. Ia meletakkan badan Changmin di kasurnya dengan perlahan, takut membangunkan Changmin yang tertidur kembali. Selanjutnya ia menidurkan diri sendiri di tempat kosong sebelah Changmin.

"Hyung.. G'Nite," ucap Changmin mengagetkan Yunho.

Yunho menoleh, melihat Changmin yang tengah tersenyum dalam tidurnya.

"G'Nite, Minnie. Sarang..–" ia berhenti. Belum. Belum saatnya.

Yunho mendekatkan diri ke badan Changmin lalu menyelimuti kedua tubuh mereka. Sebelum masuk ke alam mimpinya, Yunho mengecup pelipis Changmin dengan lembut dan penuh sayang. Mengharap Changmin mendapat mimpi indah setelah mendapat kecupan dari pangeran tampan sepertinya.

Ia tertidur. Mengucap harapan agar ia bisa tidur berdua dengan Changmin di masa depan. Dengan status berbeda tentunya.

.

.

"Changmin-aaaaaahhhh~~ Wake up, wake up!"

Teriakan kencang Yunho membangunkan Changmin di pagi hari yang tenang itu. Ia terpaksa mengangkat kaki dari mimpi indah yang tengah dialaminya dengan mata melotot. Ia terduduk. Mengacak rambut frustasi karena sebal. Padahal mimpinya sedang enak-enaknya. Jadi terkenal dan punya banyak uang. Matanya melotot sangar pada Yunho yang kini tengah melompat-lompat di kasurnya. Changmin memiringkan kepala kemudian.

"Eh? Hyung sudah sembuh?" tanyanya. Rasa marah pada Yunho lenyap entah kemana.

Yunho mengangguk semangat. "Iya! Sebenarnya sudah dari kemarin malam. Tapi karena kamu yang ngurusin aku terus jadi aku ngebiarin kamu aja. Hehe.." tangannya membentuk 'Peace'.

Changmin Sweatdrop. "Yunho hyung yang gendong aku ke kasur apa aku yang ngelindur lagi?"

"A.. mungkin kamu ngelindur, Min," jawab Yunho polos.

"Eh? Iya kah? Rasanya tadi malam badanku ada yang ngangkat. Pas buka mata nggak tahunya itu kamu, hyung. Bener aku yang ngelindur?"

Yunho salah tingkah. "I-iya kali,"

"Ang! Jangan-jangan ada kamu jadi-jadian, hyung! Gimana dong?" Changmin panik sendiri.

Yunho memutar bola matanya. "Iya deh ngaku. Aku yang gendong. Lagian kasihan kamu tidur di situ. Aku yang penah tidur di situ aja nggak nyaman sama sekali,"

Changmin mengelus dada. "Huft.." ia melihat penampilan Yunho sekarang. "Hyung? Mau olahraga? Pakai kaus dan celana Training?"

"Iya! Ayo ikut, Min-ah!" seru Yunho semangat. Ia kembali meloncat-loncat pada tempat tidur, membuatt Changmin ikut terlonjak karena guncangan.

"Stop! Stop! Stop it, hyung!" teriak Changmin ramai.

Yunho langsung menjatuhkan dirinya di kasur begitu saja. dengan cengiran bodoh khas yunho yang terpahat di bibirnya. Changmin capek sendiri melihat Yunho. ia berdiri. Langsung meregangkan badannya dan membuat suatu gerakan Stretching. Hal yang biasa ia lakukan. Dalam pikirannya berkecamuk. Ia bingung. Pada stamina Yunho. Baru saja sembuh sudah banyak gerak seperti tadi. Sebenarnya Eomma-nya ngidam apa saat mengandung Yunho? Besi?

"Tunggu aku, hyung. Mau ganti baju dan cuci muka dulu," pamit Changmin yang langsung ngeloyor ke kamar mandi.

.

.

Aku menekan dada kiriku. Ada sesuatu yang berdetak jauh di dalam sana. Cepat sekali. Sebenarnya sudah dari tadi pagi. Saat aku bangun. Menemukan Changmin yang berbaring lemah di sampingku. Tiba-tiba saja air mataku turun. Entah mengapa. Aku sakit. Jantungku berdetak berkali-kali lipat dari sebelumnya. Aku merasakan firasat aneh saat ini.

"Hyung, aku sudah siap!"

Aku memerhatikan Changmin yang sedang mengikat rambutnya ekor kuda. Ia memakai Hoodie dan celana Training sekarang. aku mengagumi kejenjangan kakinya yang sangat Sexy saat terbalut kain longgar itu. Namun.. Here I go again. Jantungku malah semakin tak karuan melihatnya. Sebenarnya ada apa ini?

"Hyung? Kok bengong sih? Waeyo? Kamu tidak enak badan lagi?" Changmin menghampiriku.

Aku menggeleng, mencoba tertawa walau tidak bisa. "Ng-nggak apa-apa kok, Changminnie. A-ayo kita jalan. Nanti malah kesiangan, hehe.." tawaku terdengar sumbang.

Changmin menatapku canggung. Tapi ia mulai menarik tanganku keluar rumah. Ketika di luar, ada tetanggaku, seorang nenek tua sedang menyapu halaman. Ia menyapa kami kemudian melanjutkan acara sapu-menyapunya. Sempat protes karena berisik dari rumahku tadi pagi.

"Ayo hyung! Kita lari dari rumahmu ke rumahku, ne!" Changmin meloncat semangat. Mengundang tawa dariku dan nenek itu.

"Kajja!"

Dan kami mulai berlari. Tidak berlari sungguhan. Hanya jogging. Dengan penuh tawa dan canda di sepanjang jalan. Tidak tahu mengapa, aku mulai merasakannya lagi. Jadi aku menggenggam tangan Changmin selagi berlari. Changmin menatapku bingung. Sedangkan aku mengedikkan bahu. Aku merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi.

"Changmin-ah.. jangan.. lepas,"

Aku hanya bisa mengucapkan itu. sepertinya Changmin tidak terlalu peduli dengan apa yang aku ucapkan. Ia terus berlari mendahuluiku. Kalau aku mengatakan ini kosong, maka kami berlari dalam kekosongan. Aku merasa kosong karena ia seakan tuli akan perkataanku tadi. Kosong karena tanganku sudah terpisah oleh tangannya yang mulai bebas. Aku ingin meraih tangan itu. namun sang pemilik malah mengencangkan kecepatan berlarinya. Ia telah melihat sebuah rumah sederhana yang merupakan rumahnya.

Ia terus berlari tanpa memerdulikan aku yang tertinggal karena merasakan perasaan aneh ini. Tak sadar, ketika ia sedang berjalan di pertigaan jalan, hendak menyebrang, ada sebuah mobil melaju. Mobil hitam. Melaju dengan jalur yang tidak menentu. Beberapa kali oleng menyentuh pot tanaman.

Tidak!

Changmin yang sepertinya tidak sadar akan mobil itu tetap berjalan menyebrang.

Tidak! Changmin!

"Appa~"

Changmin berhenti di tengah. Ia melambai pada Appa-nya yang baru keluar dari rumah. Aku membeku. Mobil itu semakin mendekat. Apa yang harus aku lakukan? Inikah firasat buruk yang aku rasakan sedari tadi.

Kumohon waktu berhentilah!

Ada yang ingin kukatakan pada Changmin..

.

.

CKIIITT!

BRUKK!

"Ch-CHANGMIN-ah!"

.

.

Apa cukup waktu.. pikirku kembali.

Cepatlah terucap.

Belum saatnya.

Kapan.

Bukan masalah waktu.

Ini masalah kesempatan.

Akankah ada kesempatan untuk bersamamu.

.

.

TBC~

.

.

Sudah 2 tahun berlalu..

Tapi ini masih flashback

Maaf kalau alurnya jadi tiba-tiba cepat..

Arigatou sudah membaca dan me-review

Juga yang sudah read n review chapter 2..