Disclaimer : demi apapun, naruto bukan punya saya, punya masashi sensei, aku hanya pinjam saja.

.

.

Queen

.

(Hati hati typo, tulisan mendadak hilang, OOC, AU dan lain-lain. Udh usahain sebagus mungkin)

.

.

Queen by author03

Romance/Fantasy

.

.

.

Please.. Dont like dont read.. Thanks.

.

.

Chapter 3

.

.

.

.

Hinata tersenyum lembut pada ayah nya yang tersenyum lembut padanya setelah mengucapkan beberapa kalimat dan menopikan mahkota emas ke kepalanya.

...

Hinata berdiri dari posisi duduknya di singasana yang baru saja menjadi miliknya yang langsung membuat para prajurit dan manusia di sekitarnya bersorak penuh kebahagiaan. Hinata adalah anak tunggal dari raja dan ratu Hyuuga. Dimana harusnya anak lelaki lah yang menerima mahkota ini tapi karena Hinata tak memiliki adik lelaki ataupun kakak lelaki. Tahta ini jatuh padanya. Usianya baru 20tahun. Memang muda tapi itu tak berarti ia tak bisa memimpin kerajaannya.

.

.

.

Hinata menghentikan langkahnya ketika ia berdiri di bawah ranjang king sizenya yang terletak ditengah ruangan kamarnya dengan jarak satu meter yang kemudian menanggalkan gaun putih panjang yang menempel di badannya.

...

Ia kembali berjalan mendekat keranjang dan merangkak keatas hingga berada diatas tubuh lelaki bersurai kuning yang terduduk diatas ranjang itu. Lelaki ini adalah calon suaminya. Meraka akan menikah beberapa hari lagi.

Hinata menempelkan satu tangannya ke tengkuk lelaki itu dan mendekatkan wajahnya ke wajah tampan lelaki itu.

.

.

Terlihat di tengah-tengah padang pasir yang terus disinari cahaya matahari tapi tak cukup menyengat untuk menghentikan dua manusia yang tengah beradu pedang.

Seng.. Pedang Hinata menepis pedang lelaki bersurai kuning di hadapannya yang hendak mengenai lengannya.

Ia menunduk ketika pedang itu menebas kearahnya, ia yang kemudian membalas menusukkan pedangnya ke depan tapi berhasil di hindari lelaki itu.

Hinata membenarkan posisi berdiri nya tapi lelaki itu langsung menepis pedang ditangannya dengan pedangnya yang langsung membuat pedang di gengaman Hinata melayang ke belakang.

Tck.. Hinata terdiam sejenak yang kemudian tersenyum lembut pada lelaki itu yang berhasil mengacungkan pedang ke lehernya dengan jarak 3cm.

.

.

"Pain, aku memintamu untuk hidup lebih lama dan selalu membantu sang pemimpin saat ini maupun dimasa mendatang." perintah Hinata saat ujung pedang emasnya berada di atas kepala lelaki bersurai orange yang berstatus sebagai prajurit pribadi nya. Pain selalu bersamanya sedari kecil hingga saat ini. Ia sangat mempercayai Pain dan Hinata rasa kesetiaan Pain akan sangat diperlukan di saat ini ataupun nanti. Jadi, ia tak akan mengizinkan Pain untuk tertidur selamanya.

"Daulat ratu.." jawab Pain patuh. Ia akan selalu mematuhi ratunya apapun yang terjadi. Ia akan selalu bersama ratunya dengan alasan apapun tanpa niat pergi sedikitpun.

.

.

Hari ini adalah hari yang paling berbahagia untuk Hinata dan semua orang. Dimana ia baru saja masuk ke kamar barunya dengan lelaki yang baru saja menjadi suaminya dengan mengikat janji suci pernikahan beberapa jam lalu.

Hinata berdiri didepan cermin sambil menanggalkan jepitan-jepitan yang menyanggul rambut indigonya ke atas.

"Anataa.." panggil nya lembut dengan penuh kebahagiaan ketika suaminya memeluknya dari belakang.

Hinata membalikkan badannya dan mengelus lembut pipi eksotis suaminya. Hari ini hari yang paling ia tunggu-tunggu selama tiga tahun ini. Akhirnya ia menikah dengan orang yang paling ia cintai. Ia telah mendapatkan tahta, orang tercintanya, kasih sayang kedua orang tuanya, pengakuan semua manusia didekatnya. Tak ada lagi hal lain yang ia inginkan saat ini. Semuanya sudah lebih dari cukup. Ia sangat senang.

"Aku sangat bahagia." ucap Hinata sambil mendorong pelan tubuh suaminya yang membuat nya terus melangkah mundur. Kata-kata tak cukup mengatakan betapa bahagia dirinya saat ini.

Lelaki yang berstatus suami Hinata memutar badannya dan badan Hinata yang membuat posisi mereka berganti.

Perlahan ia mendorong pelan tubuh istrinya yang membuat istrinya terbaring ke tengah-tengah ranjang.

Tak bisa ia katakan betapa bahagianya dirinya dengan pernikahan ini. Akhirnya gadis yang sangat ia cintai menjadi miliknya. Wajahnya memang datar ataupun terkesan dingin tapi istrinya sangat mengenal dirinya. Dia pasti tahu bahwa kini dirinya sangat bahagia.

"Sekarang aku adalah milikmu." ucap Hinata lembut saat suaminya itu mendekatkan wajahnya dan mengecup lehernya. Hinata merasakan cinta dalam kecupan itu. Setiap kali lelaki ini menyentuhnya. Ia merasakan cinta dan merasa diinginkan. Ia tak akan pernah melepaskan lelaki ini.

.

.

"Aku Hyuuga Hinata. Aku dilantik menjadi ratu beberapa saat lalu dan aku menikah dengan lelaki yang sangat aku cintai." Hinata menulis dengan penuh kebahagiaan pada buku emas ukuran lumayan besar dengan kuas emas kecil yang dioles tinta hitam yang dihadiahi suaminya dihari pernikahan mereka. Buku ini akan di isi oleh cerita hidupnya dengan keluarga barunya.

.

.

Tiga hari berlalu setelah pernikahan mereka. Hinata cukup kecewa karena selamam siang, suaminya pergi dikarenakan ada urusan tapi Hinata mengerti. Bagaimana pun suaminya itu memiliki tugas untuk di urus.

Tok tok tok..

Hinata membuka pintu kamarnya yang diketuk entah oleh siapa.

...

"Ada apa?" tanya Hinata kepada tujuh orang lelaki yang berdiri didepan pintu kamarnya yang baru saja ia buka. Mereka ini adalah orang-orang yang bekerja untuk ayahnya dan kini bekerja untuknya. Ada kepentingan apa mereka kemari?

.

.

"Ini merupakan ritual untuk keberuntungan dalam keluarga, yang mulia." Hinata menatap peti emas yang terbaring dilantai ruangan bawah tanah dengan perasaan berbunga-bunga. Beberapa lelaki tadi mengatakan ritual ini agar mereka diberkahi anak dan keluarga yang berbahagia. Hinata tak pernah tahu ada ritual seperti ini tapi mendengar kata berbahagia dan keluarga sungguh membuat dirinya senang.

...

Senyum tak kunjung hilang dari bibir Hinata meskipun pintu peti telah di tutup dari luar.

Perlahan ia memejamkan matanya...

.

.

Beberapa menit kemudian peti itu di buka dari luar dan senyum masih tak kunjung hilang dari bibir Hinata karena lelaki yang berdiri didekat lelaki tadi yang mengatakan soal ritual ini adalah suaminya.

Suaminya sudah pulang..

Lelaki yang berstatus suami Hinata mengulurkan tangannya dan langsung di sambut oleh Hinata.

Anata..

.

.

Waktu berlalu...

Dimana mereka yang awalnya memiliki dua malaikat kecil kini telah tumbuh dewasa. Dimana putra nya telah mengambil alih kerajaan dan putrinya telah tumbuh cantik dan menikah dengan lelaki dari kerajaan lain.

.

.

Waktu terus saja berganti. Dimana Hinata dan suaminya semakin bertambah usia yang akhirnya meninggal meskipun begitu. Hinata tak pernah menyesal. hidupnya sangat sempurna meskipun kedua orang tuanya pergi terlalu cepat. Ia senang. Hidupnya terasa sangat sempurna.

.

.

Dimana setelah kematiannya, yang Hinata rasakan hanya kosong dan gelap. Apakah orang mati masih bisa merasakan? Ia tak tahu apa yang ia pikirkan atau apakah ia tengah memikirkan sesuatu? Yang ia tahu hanyalah ia merasa dirinya terbaring tak bernafas tapi tiba-tiba ia melihat cahaya. Air membasahi badannya dan matanya terbuka.

Angin mengadu padanya ketika ia medudukan dirinya dari posisi baringnya.

Tujuh lelaki itu membodohi nya. Itu bukan peti ritual tapi peti mimpi. Alasan suaminya pergi bukan karena tugas tapi mereka bertujuh menjebaknya dan membunuhnya.

Semuanya. Orang tua dan saudaranya mati dibunuh secara diam-diam dan bergantian oleh mereka bertujuh dan langsung dibakar agar tak meninggalkan jejak.

Mereka mengambil alih dan semua yang ada di kerajaan itu. Semua orang terpaksa menuruti sang raja baru.

Tapi siapa sangka ketujuh manusia itu ingin kekuasaan utuh hingga pertumpahan darah terjadi pada mereka semua dan akhirnya hanya tersisa satu orang.

Keenam orang itu dimakamkan di peti dan disembunyikan kesalah satu ruangan di piramida.

Kalian pasti bertanya-tanya mengapa keluarga Hinata bisa dikalahkan dengan begitu mudah tapi tidak dengan Hinata? Itu karena semua kekuatan ayah dan ibunya telah di turunkan padanya. Saat itu dia lah yang terkuat. Tak ada satu manusia pun yang bisa mengalahkannya termaksud suaminya. Tapi karena cintanya, ia membiarkan suaminya mengacungkan pedang ke lehernya.

.

.

Tak lama setelah itu Pain kembali dari tugas yang diberikan ayah Hinata dan dia mengetahui semuanya. Ia memilih membunuh sang raja baru atau lebih tepatnya penghianat. Memakamkannya ditempat yang sama dengan sekutunya dan pergi mencari sang ratu setelah mengambil buku yang dia dapat dari meja didekat singgasana. Ia tahu buku ini buku yang sangat dibanggakan ratunya tapi penghianat itu dengan lancang nya mengotori buku ini dengan tulisannya.

.

.

Waktu berlalu, tak ada keturunan ataupun raja baru. Semua manusia ingin cara hidup baru.

Mereka semua memilih memakamkan istana beserta semua aset dan makamnya ke dalam tanah, pasir tepatnya dan pergi ke jalan masing-masing.

.

.

Waktu berlalu dan berlalu..

Tanah bermunculan. Istana, piramida beserta isinya semakin ditindih tanah-tanah. Langit-langit istana mulai runtuh tapi tidak dengan dinding-dingin emas istana yang kokoh. Air mulai tinggi dan memenuhi bagian barat hingga utara. Air laut masuk kedalam pasir, tanah dan mulai mengikis batu bata di ruang bawah tanah istana hingga memenuhi ruangan bawah tanah tersebut tapi atap ruangan yang kokoh membuat air itu tetap didalamnya.

.

.

Waktu lagi-lagi berganti. Seberapa kokoh suatu benda, akhirnya benda itu akan perlahan mengikis.. Lantai bergetar. Kedua manusia itu terjatuh ke dalam ruangan yang dipenuhi air..

Pain berhasil menemukannya. Ruangan rahasia di bawah tanah istana yang tak pernah dia tahu. Dimana sang ratu terjebak.

Kedua tangan Hinata mencengkram kuat kedua sisi peti emas yang telah mengurungnya hingga meremuk. Ia bodoh. Ia telah sadar dan belajar satu hal. Tak ada yang sempurna di dunia ini. Jika ada maka itu hanyalah mimpi. Ia tak mempercayai siapa lagi. Ia benci semua nya. Ia akan membunuh mereka semua.

.

.

.

.

.

"Ruto! Naruto!" Sakura sungguh lelah memanggil dan menguncang bahu kekasihnya tapi kekasihnya masih saja membeku sedari tadi. Apa yang terjadi?

"Anata..." Sakura langsung terdiam ketika Naruto mengucapkan kata anata.. Untuk siapa kata itu?

.

.

Naruto mengulurkan tangannya entah sadar atau tidak pada tangan Hinata yang terulur ke arahnya. Ia telah mengetahui semuanya. Semuanya soal gadis ini. Gadis ini tidak seburuk yang ia pikirkan. Ia merasa iba pada apa yang telah gadis cantik ini lalui. Dia tak pantas dibenci. Dia tak pantas di kira penjahat. Dia gadis yang baik dan hanya tertekan atas masalah bertubi-tubi yang menghantamnya.

Naruto memeluk erat Hinata. Hatinya terasa sakit sekali. Ia tak mengenal gadis ini tapi setelah mengetahui semuanya. Ia merasa tak bisa membiarkan gadis ini begitu saja.

Hinata menyamankan wajahnya ke pundak suaminya tapi suaminya itu tiba-tiba saja tertarik menjauh?

"Naruto! Apa yang kau lakukan?!" Sakura benci ini. Ia tak tahu siapa gadis itu tapi ia tak suka Naruto mengabaikannya dan memeluk gadis itu dihadapannya!

"Sa-sakura..?" Naruto tersadar bahwa Sakura masih berdiri didekatnya. Apa yang baru saja ia lakukan?

"Jangan bergerak atau kami tembak."

"Naruto! Sakura! Menjauh dari sana!"

"Gaara?" panggil Naruto terkejut setelah ia mengamati sekelilingnya. Sejak kapan rekan-rekannya dan para polisi mengelilingi mereka?

"Naruto! Ayo pergi." Sakura menarik pergi paska Naruto yang masih tak bergerak dari posisinya seolah ia ragu untuk meninggalkan gadis itu. Siapa gadis itu sebenarnya?

"Ta-tapi.." Naruto terpaksa terus melangkah mundur karena Sakura terus menariknya pergi sambil terus menatap Sakura dan Hinata secara bergantian. Mengapa ia jadi ragu? Apa yang ia ragukan?

.

.

.

.

"Hei Ino! Jangan buka!" pekik Karin terkejut pada Ino yang hampir membuka tutup salah satu peti yang baru saja dipindahkan ke ruang bawah tanah, masih di gedung besar milik Sasori.

"Aku penasaran soal ini. Jika saja benar gadis yang dikatakan ratu dua ribu tahun lalu itu ada disini. Apakah manusia didalam sini juga masih utuh?". Ucap Ino penasaran. Ia penasaran isi peti ini adalah tengkorak atau manusia utuh. Ia sungguh penasaran. Ia hanya ingin melihatnya itu saja.

"Tidak. Aku tak ingin ada suatu hal yang terjadi ketika kita membuka peti ini." jawab Karin was-was. Ia tak mau mengambil resiko.

"Karin. Bagaimana jika ada sesuatu yang besar didalam sini?" Karin terdiam dengan ucapan itu. Sejujurnya, ia juga penasaran dengan isi ke tujuh benda ini. Bagaimana jika benda ini adalah sesuatu yang memang harus mereka tahu?

"Kita tunggu Sasori kembali dan cek x-ray. Setelah itu kita baru boleh membukanya." jawab Karin masih pada pendiriannya bahwa benda itu bisa saja berbahaya.

"Tapi ini barang prasejarah. Bisa saja sesuatu dalam benda ini tak bisa dilihat dengan x-ray tapi harus dengan mata kita sendiri?" Karin mulai goyah dengan pendirian nya. Hal itu bisa jadi benar, kan?

...

"Mungkin kita bisa melihatnya sedikit?" Karin mulai menyetujui ucapan Ino beberapa menit kemudian setelah berpikir keras.

"Ya.. Hanya sedikit. Aku akan membuka yang ini. firasatku terus mengatakan aku harus membuka yang ini." Ino mendekatkan tangannya ke salah satu peti yang sejujurnya lebih terlihat baru dan hidup dari pada yang lainnya.

...

Kedua tangan Ino menelusuri pinggir peti. Ia cukup ragu tapi rasa penasarannya berhasil mengalahkan rasa ragunya.

.

.

.

Graapp..

"Kyaaaaaaahhh!" pekik Sakura terkejut ketika badannya tiba-tiba melayang ke belakang, lebih tepatnya ke arah gadis yang masih berdiri tegak di posisinya tadi tanpa bergerak sedikitpun.

"Sakura!" pekik Naruto terkejut ketika ia melihat satu tangan mungil Hinata mencekik leher Sakura.

"Uhuk! To..tolong!" Sakura memberontak tapi tangan di lehernya sama sekali tak mau lepas. Kakinya yang berjinjit terus saja menahan berat badannya agar tak terangkat lebih tinggi lagi. Tunggu?!

Apa jangan-jangan! Gadis ini yang dibicarakan Sasori dan yang lainnya?!

"Jan...gan berani.. men..yentuhnya." cekikan di leher Sakura semakin mengencang. Gadis ini berani sekali menarik suaminya dan meninggikan suaranya. Lancang sekali!

"Hyuuga! Lepaskan dia." Naruto meninggikan suaranya seolah memerintah dan Sakura langsung terjatuh kelantai karena Hinata melepaskan cekikkannya. Ia terlalu terkejut hingga ia tak sadar ia memanggil gadis itu dengan marganya.

Semua manusia disekelilingnya termaksud Sasori dan rekan-rekannya tentu saja terkejut melihat gadis itu jinak pada ucapan Naruto. Apa yang sebenarnya terjadi?

"Uhukhhaaa! Haaa!" Sakura menyentuh lehernya dan menghirup oksigen sebanyak mungkin. Ia hampir saja mati kehabisan oksigen.

"Sakura, kau tak apa-apa?" Naruto berlari menghampiri Sakura dan memapahnya menjauh dari Hinata yang masih saja berdiri dengan tegap dan memasang wajah tanpa ekspresinya tapi terkesan sangat berwibawa.

"A-aku tak apa-apa." jawab Sakura setelah ia merasa lebih baik. Gadis itu berbahaya sekali.

"Apa yang terjadi?" tanya Sasori masih tak mengerti pada Naruto yang berdiri didekatnya. Mengapa gadis itu terlihat sangat jinak pada Naruto?

...

Naruto tak menjawab. Ia tak tahu bagaimana cara menjelaskannya.

Piam!

Lelaki bersurai orange yang masih setia berdiri dibelakang ratunya menangkap peluru yang melaju ke arah punggung ratunya dengan tangan kosong.

"Jangan menembaknya!" pinta Naruto tanpa sadar yang semakin membuat Sasori menatapnya tak mengerti. Mengapa dia tiba-tiba terlihat sangat khawatir pada gadis itu?

"Acungkan senjata." perintah Sasori sambil mengangkat tinggi satu tangannya yang membuat semua orang di sekitarnya mengacungkan senjata mereka pada lelaki bersurai orange itu dan gadis bersurai indigo dihadapan mereka itu.

"Apa yang kau lakukan? Jangan menembaknya." Naruto mengulangi ucapannya pada Sasori. Apa Sasori tak mendengarkan perkataannya?

"Naruto, dia berbahaya. Dia bisa membunuh kita dengan satu serangan. Kami hanya akan melumpuhkannya." jawab Sasori yang masih berfokus pada pistol ditangannya.

"Kau bisa menggunakan bius." ucap Naruto tak terima. Mengapa mereka harus menggunakan peluru itu?

"Aku tak ingin mengambil resiko jika bius tak bekerja." Gadis ini sangat misterius. Bagaimana jika bius tak bekerja? Dirinya tak ingin mengambil resiko yang bisa membahayakan nyawa mereka semua.

...

Naruto menatap penuh keraguan dan kekhawatiran Hinata yang masih menatap nya lurus. Disatu sisi, ia ingin Hinata tak melawan agar dia tidak terluka tapi di satu sisi Naruto ingin Hinata melawan agar dia tak tertangkap dan berakhir di ruang interogasi dan mungkin dia akan dijadikan bahan tontonan oleh manusia lain. Mengapa ia jadi begini ragu dan khawatir seperti ini? Apa yang terjadi sebenarnya?

Tidak! Lebih baik jika Hinata tak melawan. Dengan begitu dia akan baik-baik saja.

Lekaki bersurai orange itu menunduk hormat pada ratunya dan melangkah mundur menjauhi Hinata seolah mendapat perintah dalam diam dari Hinata yang membuat perasaan Naruto menjadi semakin tak enak. Mengapa lelaki itu menjauh seolah tak akan melindungi gadis itu dari tembakan?

Piamm!

Hinata mengangkat satu sudut bibirnya, memyeringai pada Naruto ketika ia mendengar suara tembakan.

Jlebb! Naruto membelakkan matanya kaget ketika sebiji peluru menembus lengan kiri Hinata yang menyebabkan lengannya berdarah. Apa yang terjadi? Mengapa gadis itu membiarkan peluru itu mengenainya?

Piam! Piam!

Peluru kembali menembus pundak dan kaki Hinata tapi dia masih terdiam tanpa mengalihkan pandangannya dari mata Naruto. Begitu juga dengan lelaki bersurai orange itu yang masih setia melihat tanpa niat untuk menolongnya meskipun ia sangat ingin menjauhkan peluru itu dari ratunya.

.

.

.

.

Jedaaaaaarrr!

"Kyaaahh!"

"Aaaa!" Karin dan Ino langsung terpental kebelakang ketika peti yang baru saja Ino buka meledak.

Braacckk!

"Aa.." Ino langsung tak sadarkan diri ketika punggungnya terbentur kuat lemari besar dibelakangnya.

Braacckk!

Mata Karin tak bisa melihat dengan jelas ketika ia berpentul ke dinding dan menindih lantai.

Matanya terus perlahan berkedip, melihat punggung lelaki yang berdiri di pusat ledakan tadi.

Lelaki? Berdiri tegak disana? Apa maksudnya ini?

Siapa dia? Dari mana dia muncul?

"Uu.." mata Karin terpejam dan tak lagi terbuka. Ia telah tak sadarkan diri.

.

.

.

.

Biam! Naruto masih membeku sambil menyaksikan Hinata yang masih tak roboh dengan banyaknya tembakan di tubuhnya. Mata nya bahkan tak berpaling dari mata Naruto sedetikpun meskipun mata itu telah terlihat lemah.

Biam! Hinata tersimpuh ketika ia merasa sudah hampir tak sadarkan diri. Ia akan terus disini. Ia akan menuruti apa kata suaminya yang menyuruhnya untuk tak melawan. Ia mencintai suaminya. Ia akan selalu menuruti ucapan suaminya apapun yang terjadi.

.

"Itu berlebihan. Dia bisa mati." protes Naruto ragu. Dia manusia. Dia bisa mati dengan banyaknya tembakan ditubuhnya.

"Dia bukan manusia biasa. Aku ragu peluru ini bisa melumpuhkannya." jawab Sasori yang masih berfokus pada targetnya. Lebih baik melumpuhkannya total dari pada dia tiba-tiba terbangun dan membunuh mereka semua. Itu tak akan lucu.

.

Piam.. Jlebb! Tembakan terakhir dari pistol Sasori langsung menembus dada Hinata yang langsung membuatnya terjatuh ke aspal dan langsung tak sadarkan diri.

Beberapa polisi menghampiri lelaki bersurai orange tadi dan mengunci kedua tangannya kebelakang dan lelaki itu masih tak melawan, menurut melahan.

.

.

Naruto masih membeku, masih tak bisa bergerak ketika beberapa rekannya dan polisi berjalan dengan was-was menghampiri Hinata yang masih terbaring di aspal dan terlihat tak sadarkan diri, tak lupa dengan pistol yang masih setia mengacung ke arah Hinata.

.

Ini tak benar.

Naruto masih menatap tak percaya Hinata yang terbaring dijalanan dan dipenuhi darah.

Ini tak benar.

Mereka tak seharusnya melakukan itu.

Hinata harusnya tak membiarkan dirinya terluka.

Dia bisa mati.

Bagaimanapun dia adalah manusia.

Meskipun para penempak menghindari organ vitalnya.

Ini tetap tak benar.

Ini sungguh salah.

Hinata harus nya melawan.

Dirinya tak seharusnya diam.

Dia bisa mati.

Dia manusia.

Dia berdarah.

Dia bisa mati.

Lukanya sungguh parah.

Dia dipenuhi lebih dari lima tembakan.

Dia bisa mati!

.

.

.

.

To be continue..

.

.

Yo.. Author rasa ini lebih cocok romance dari pada adventure.. Jadi ya begini la..

Dan oh.. Author udh kepikiran ide fic genre adventure.. Jadi kemarin yang mau adventure.. Sabar ya..

Moga kalian suka.. Maaf kalau ga bagus.. Jila ada pendapat silahkan komen..

Bye bye..