Sweet Devil

Disclaimer: Karakter milik mereka sendiri

Pair: SuLay

Warning: BL, Bahasa campur aduk, Typo(s), OOC (untuk kebutuhan cerita), dan Garing sekali :"D

.

.

.

Chanyeol mulai merasa risih melihat sang boss sedari tadi tidak bisa diam. Pemuda bermarga Kim itu sedari tadi duduk lalu berdiri, berjalan mondar-mandir dengan jari-jari tangan yang masih menempel di dagu lalu duduk lagi dan menghela napas panjang. Dan terus begitu selama beberapa menit sampai Chanyeol dan minion-minionnya yang lain pusing melihatnya.

"Ahhh… mou, Boss, kau ini kenapa?"

Keberanian Chanyeol mendapat pandangan horror dari orang-orang di sana, bahkan dari dirinya sendiri. Sebenarnya, sedari tadi temannya yang lain ingin mengatakan itu, tapi melihat mood boss mereka yang—terlihat tidak jelas (ya, entah itu baik atau buruk, mereka tidak bisa memastikan karena entah kenapa rautnya sedang tidak bisa diterjemahkan).

Takutnya kalau moodnya sedang jelek, mereka bisa jadi ampas saat itu juga. Yeah, jangan remehkan fisik boss mereka yang—kecil—tidak terlalu besar (tolong jangan bilang itu dihadapannya), tenaganya bisa seperti kuli bangunan—ah tidak, lebih tepatnya kuli panggul orang di arena smack down. Sekali angkat langsung bisa terlempar satu kilo meter.

Ya keleus.

Well, tidak sehiperbola itu sih sebenarnya, tapi yeah, dibanding manusia biasa, mungkin si boss ada titisan Saitama meskipun tidak hobi push up.

p.s: Karena boss mereka lebih suka latihan angkat beban, biar nanti bisa menggendong sang uke tercinta di pelaminan. Katanya.

Setelah mendengar Chanyeol. Junmyeon langsung diam dan menghadap Chanyeol dengan pandangan yang masih sulit diterjemahkan. Chanyeol langsung menelan ludah yang tiba-tiba terasa sekeras batu, dan sedikit—banyak merutuki mulutnya yang tidak bisa di rem karena terlalu kesal.

"Haah—"

Saat itu, seluruh minion Junmyeon mendadak tegang, padahal yang dilakukan Junmyeon hanyalah menghela napas.

"—Menurutmu, Chanyeol—"

Yang lain sudah bisa membuang napas lega, sementara Chanyeol yang namanya disebut-sebut masih harap-harap cemas.

"—What does "fuck me" mean?"

"Hah?"

"Fuck me. It exactly what it means. Right? Jadi artinya orang itu meminta—" Junmyeon menjeda kalimatnya untuk membuat pose dengan menepuk-nepuk jari telunjuknya ke telunjuk tangan yang lain seperti anak perawan yang sedang memberi kode ingin minta dicium. "—yeah. Something like that"

"Tunggu dulu boss" Chanyeol memberhentikan perntanyaan yang malah nanti menjurus ke curhatan "Maksudnya bagaimana boss? Otakku yang tidak cerdas ini belum mampu mencerna apa maksud dari perkataanmu. Lagipula siapa pula yang bilang "fuck me" kepadamu?" tanyanya dengan kening yang berkerut.

Wajah Junmyeon tiba-tiba memerah, dan itu membuat orang-orang yang berada di sana jadi merinding seketika. Mereka ingin keluar dari suasana yang tiba-tiba merah muda itu sebenarnya, tapi mereka penasaran juga kenapa boss mereka bisa jadi seperti itu. well, alasan yang lain dan yang utama adalah karena mereka takut, sebenarnya.

Kini telunjuk Junmyeon menggaruk-garuk kecil pipinya yang masih berwarna merah muda "Itu… umm—" Junmyeon semakin malu-malu kucing, dan membuat mereka semakin merinding dan semakin penasaran apa yang membuat si little devil bisa beraura fuwa-fuwa seperti itu "—Yixing yang bilang"

Chanyeol hampir tersedak ludahnya sendiri setelah mendengar jawaban polos dari sang boss. seingatnya, terakhir kali Junmyeon curhat, dia bilang pemuda China itu malah semakin menjauhinya, tapi sekarang, Bossnya bilang Yixing mengatakan "fuck me" kepadanya. Seriously?

Dan seingat Chanyeol, tips terakhir yang ia berikan pada Junmyeon adalah untuk mengajak Yixing makan siang bersama dan berkenalan dengan cara biasa. Tapi apa memang seberhasil itu sampai-sampai gebetan sang boss itu langsung mengatakan hal sevulgar itu kepada bossnya?

Atau Yixing memang murahan? Kalau begitu. dia akan langsung mencabut restunya, karena bagaimanapun ia ingin si boss mendapatkan pasangan yang terbaik. Bukan orang jenis cabe-cabean yang gampang diajak begituan.

"Be-benarkah?" Tanya Chanyeol memastikan.

"Iya"

"Kenapa bisa begitu?"

"Umm well—" Junmyeon tersenyum kecil mengingat kejadian itu "—Jadi, waktu itu aku berniat mengajaknya makan siang, seperti yang kau katakana. Lalu ketika aku sampai di depan kelasnya, dia sendiri yang menemuiku duluan. Dan kau tahu, dengan wajah yang merah merona, dia mengatakan dengan lantang 'Kim Junmyeon, why don't you just fuck me?' katanya"

"…"

"…"

Lalu hening. Junmyeon masih membayangkan wajah Yixing yang semerah tomat dan terlihat sangat manis, dan Chanyeol yang masih mencerna baik-baik apa yang di ceritakan Junmyeon.

Why don't you just fuck me, he said.

Tunggu.

Bukannya ada yang aneh?

OH.

Jadi seperti itu.

Chanyeol mengangguk-angguk sendiri. Dia mulai paham bahwa tidak mungkin Yixing akan mengatakan itu kalau tidak ada maksud lain. maksudnya, ini Yixing loh. Pemuda polos nan oon yang gampang panik (Chanyeol tahu karena dia sering kepo dan sesekai menguntit Yixing juga btw) dan mungkin saja bukan itu yang sebenarnya pemuda China itu maksud.

Mungkin saja, bukannya fuck me, seharusnya dia berkata "fuck off?"

Itu lebih masuk akal, batin Chanyeol.

Lalu pemuda jangkung itu kembali mengangguk-angguk. Ok. alright pasti itu. Tapi ketika ia mendongak dan melihat senyum anomali dari Junmyeon, Chanyeol tidak tega mematahkan ekspektasi sang boss yang mendadak terlalu tinggi.

Tapi, jika tidak diluruskan, nantinya akan semakin repot.

Oke.

Chanyeol jadi dilemma sekarang.

Lalu ia menatap satu persatu minion Junmyeon yang dilihat dari ekspresinya, mereka sama-sama memiliki konklusi yang sama sepertinya. Lalu ia mengatakan "Bagaimana?" pada mereka dengan cara nonverbal.

Sialnya, mereka tidak banyak membantu karena mereka langsung membuang muka saat itu juga. Sialan, nanti kalau tidak ada Junmyeon di hadapannya, ia akan menghadiahi satu bogem mentah pada masing-masing hidung mereka.

"Jadi Chanyeol, menurutmu Yixing mulai menyukaiku?"

Well, boss. Kau terlalu cepat mengambil kesimpulan.

"Err… Yeah, me-menurutku lebih baik kau memastikannya…dulu?"

"Memastikan bagaimana?"

"Menurutku, apa tidak terlalu cepat dia mengatakan hal yang vulgar seperti itu?"

Junmyeon diam sejenak, wajahnya tampak berpikir "Iya juga" Ujarnya sambil mengangguk-angguk "Lalu bagaimana?"

"Menurutku, lebih baik lupakan dulu untuk masalah ini dan kau bisa mulai pendekatan lagi dari awal, bu-bukannya itu sudah lampu hijau, kan ya?"

Sebenarnya Chanyeol ragu untuk mengatakan Yixing sudah memberi lampu hijau, tapi itu lebih baik daripada ia mengatakan yang sebenarnya, bisa bad mood seharian lah sang boss, dan itu artinya suasana di sana akan mencekam seharian. Haha. Tidak terima kasih.

"Iya kau benar juga. Karena hari ini Yixing pasti sudah pulang, jadi aku akan menemuinya besok. Terima kasih, Chanyeol"

"A-ah iya. Sama-sama"

Semoga, besok akan baik-baik saja.

.

.

.

Sementara itu, di markas geng yang lain, salah satu sahabat sehidup semati dari objek yang dibicarakan Junmyeon, dkk, yaitu Kyungsoo sedang khawatir setengah mati memikirkan nasibnya yang seolah sedang berada diujung tanduk ketika pulang sekolah, tiba-tiba ia dihadang beberapa manusia sangar dan diseret ke markas mereka.

Ia tahu betul, mereka adalah anak buah Kai. Pentolan geng musuh sekolahnya. Karena meskipun sangar, mereka masih mau patuh memakai seragam sekolah mereka.

Pemuda kecil itu tidak mengerti apa dosanya sampai-sampai ia ditawan seperti sekarang. Seingatnya, ia tidak punya hubungan apapun dengan geng musuh mereka yaitu geng Junmyeon kalau memang mereka mengincar geng Junmyeon sampai-sampai ia bisa jadi berharga untuk diculik seperti sekarang.

Lagipula, ia juga merasa ia bukan anak menonjol dan populer, lalu apa faedahnya mereka membawanya kesana?

Dan pertanyaan sekaligus asumi-asumsi dari pertanyaan itu terus terputar diotaknya tanpa ada jawaban. Karena apa? Karena sedari tadi ia dibawa kesana, ia hanya jadi objek pajangan dan tidak diapa-apakan. Maksudnya, dia diculik hanya untuk dianggurkan.

Sedari tadi, ia hanya disuruh duduk manis di sofa usang yang entah sudah berapa lama tidak dibersihkan, dan diawasi oleh seorang pemuda berwajah kotak yang mungkin atau memang salah satu anak buah dari si Kai itu.

Kyungsoo ingin berbicara sebenarnya, namun ketika Kyungsoo berdeham sedikit saja, si wajah kotak yang entah siapa namanya itu malah melirik sinis dan menatapnya dari ujung mata dan membuatnya jadi bungkam seketika.

Lalu akhirnya, ketika Kyungsoo sudah khawatir terkena hemoroid karena duduk terus menerus, pemuda tan bernama Kai sang pentolan geng mulai menampakkan diri dengan wajah sangarnya.

"Ehem—" Ketika Kai berdeham, Kyungsoo langsung berdiri dan memasang kuda-kuda waspada, takutnya pemuda tan itu langsung menyerangnya, Kyungsoo bisa menjotosnya duluan "Selamat siang, Do Kyungsoo-ssi"

"Hah?"

Seriously, Kyungsoo tidak menyangka, dengan wajah sesangar itu, Kai bisa mengucapak selamat siang dengan sesopan itu.

Tanpa mengubah posisi kuda-kuda, dan mengurangi kewaspadaan, Kyungsoo menjawab "Se-selamat siang juga"

Pemuda bernama Kai itu mengangguk "Silahkan duduk" Lanjutnya mempersilahkan Kyungsoo untuk duduk padahal pemuda mungil itu sudah bosan duduk dari tadi.

Meskipun begitu, untuk mencari aman akhirnya Kyungsoo menurut juga dan akhinya mereka duduk berhadapan tanpa mengurangi kewaspadaan dari Kyungsoo. karena ini Kai loh, ketua satu-satunya geng yang kekuatannya hampir seimbang atau mungkin bahkan memang seimbang dengan geng Junmyeon.

"Jadi… apa kau tahu kenapa kau di bawa kesini?"

Mana gua tahu begok. Kyungsoo ingin berteriak itu di depan wajahnya. Tapi sekali lagi, ia sadar diri, ia tak akan mampu melawan Kai dan minion-minionnya.

"Ti-tidak tahu"

"Aku—butuh bantuanmu"

Kyungsoo mengedip-kedipkan mata tidak paham. Memangnya bantuan dalam hal apa yang bisa dilakukan rakyat jelata sepertinya?

"Hee… menyangkut apa ya?"

"Zhang Yixing"

OH

Begitu.

Haha.

Kok Kzl ya.

Yeah, karena ia sudah panik setengah mati memutar otak bagaimana hidupnya yang ia anggap sudah berada diujung tanduk bisa terselamatkan, ia dibawa kesana hanya untuk seorang "Zhang Yixing"

Harusnya Kyungsoo sudah bisa menebak kearah sana. tapi pikirannya malah blank dan tidak ingat bahwa kawannya yang satu itu adalah adalah sang pawang preman dan berhasil menarik perhatian para pentolan preman termasuk salah satunya adalah Kai, dan ia tidak ingat memang mungkin saja alasan ia dibawa ke sarang Kai adalah sahabatnya itu.

Tapi untunglah, dengan begitu, ia jadi tidak terlalu khawatir dan sekarang ia merasa sudah bisa mengurangi kewaspadaannya dan bisa bersikap lebih santai di depan Kai.

"Memangnya, kau mau apa?"

"Aku ingin membuatnya menjadi milikku"

"Wah, to the point sekali kau"

Kai memiringkan kepalanya lalu memandang Kyungsoo dengan wajah polos "Memangnya harus basa-basi?"

"Y-ya tidak juga sih" Jawab Kyungsoo. Ia tidak menyangka seorang Kai bisa bertampang seperti itu "Tapi kenapa kau meminta bantuan padaku?"

"Karena ketika dilihat, kau yang paling dekat dengan Yixing"

Kyungsoo tertkekeh kecil "Yakin sekali kau. Memangnya kau pikir apa yang bisa aku lakukan sebagai 'sahabat'nya Yixing?"

"Umm… Aku tidak meminta untuk dicomblangkan dengan Yixing, karena aku ingin mendekatinya dengan caraku sendiri. aku hanya ingin bertanya-tanya tentang Yixing, seperti makanan kesukaan, genre film favoritnya, or something like that"

"…"

"Bagaimana?"

Kyungsoo tidak langsung menjawab. Melihat wajah Kai yang bersungguh-sungguh memang sedikit menggoyahkan hatinya, namun ia merasa ia juga harus memikirkan perasaan Yixing. Ia tahu, sahabatnya itu masih pusing memikirkan Junmyeon, dan jika harus ditambah Kai, ia jadi tidak tega.

Lagipula, kalau Junmyeon tahu ia membantu Kai, bisa-bisa ia terkena imbasnya dari Junmyeon juga.

"Aku… menolak"

"Loh kenapa? Aku tidak minta macam-macam, aku hanya meminta info tentangnya"

"Iya, aku tahu tapi—"

"Tapi kenapa?"

Kyungsoo kembali diam. Tidak mungkin ia bilang kalau Yixing juga sedang didekati oleh Junmyeon. Bisa-bisa terjadi tawuran lagi antara geng Kai dan geng Junmyeon yang notabene musuh bebuyutan.

"Ayolah Kyungsoo, nanti aku akan mentraktirmu makan selama sebulan penuh"

Kyungsoo melirik Kai "Memangnya aku akan menjual temanku hanya demi makanan hah?"

"Kalau begitu… bagaimana kalau voucher jalan-jalan?"

"Tidak!" Tegas Kyungsoo.

"Kalau ditambah—"

Brakk

"Boss, panci limited edition merek xy permintaan dari mami boss, sudah aku dapatkan. Sekaligus aku dapat dua"

Ketika Kai sedang memarahi pemuda berambut plontos yang barusan tiba-tiba datang membahas tentang panci yang dipesan sang ibunda, si sandera malah salah fokus membayangkan 'panci' yang tadi disebut-sebut.

Panci merek xy. Panci limited edition dengan bahan khusus yang membuatnya anti lengket, berbentuk cantik, dan tahan lama.

Kok Kyungsoo jadi ngiler, ya.

"Kalau ditambah panci limited edition yang tak sengata dibeli dua oleh anak buahku, bagaimana?"

Kyungsoo tersentak, tak menyangka isi pikirannya bisa terbaca oleh Kai yang sebenarnya tak sengaja melihat wajah mupeng Kyungsoo ketika mendengar kata 'panci limited edition'.

Tapi tidak, ia tidak boleh tergoda dan menjual temannya hanya demi panci limited edition.

"Jadi mau tidak?"

"Tidak"

"Ya sudah, kalau begitu—" Kai mengambil ancang-acang untuk menaikkan volume suaranya "Jongdae! Kau bawa saja panci itu—"

"Tunggu. Kau mau bertanya apa tentang Yixing?"

Kai tersenyum "Aku tanya…."

.

.

.

Pemuda China yang sedari tadi jadi objek obrolan di dua markas preman sedang berguling-guling sendiri di atas kasur sambil memainkan ponselnya untuk berselancar diinternet mencari apapun yang ada di sana.

Ia sudah melihat video-video dari me-tube, sudah melihat berita-berita, sampai-sampai link-link klik bait-pun sudah ia telusuri, tapi tetap saja pikiran tentang mulutnya yang typo kemarin belum bisa hilang dari otaknya.

Awalnya, ia khawatir setengah mati sampai malas sekali pergi kesekolah karena takut bertemu dengan Junmyeon, tapi ternyata pemuda itu malah tidak menampakkan batang hidungnya sama sekali di hadapan Yixing.

Kemarin, ia sempat khawatir Junmyeon akan membullynya. Entah itu bullian tidak langsung seperti menyimpan surat kutukan ke loker Yixing atau bullian langsung seperti melemparnya dengan telur busuk, (atau lebih parah, diajak adu jotos) tapi ternyata Junmyeon tidak melakukannya.

Yixing jadi berpikir, meskipun ia salah bicara, apakah ternyata cara itu berhasil membuat Junmyeon jadi menjauhinya?

Kalau begitu, ia sedikit—banyak bersyukur. Tapi yang jadi beban pikirannya adalah, bagaimana kalau Junmyeon dan minion-minionnya malah sedang menyusun rencana untuk mengerjainya? Bagaimanapun, Ini seorang Kim Junmyeon. Murid berkuasa yang terkenal dengan predikat premannya. Jadi, bagaimana mungkin ia bisa melepaskan Yixing begitu saja?

"Ahhhh"

Yixing kembali mengerang frustasi dan kembali berguling-guling dari kanan ke kiri. Ia sempat berpikir, apakah lebih baik ia pindah sekolah saja? tapi ia menarik kembali pikirannya setelah ia ingat biaya pindah sekolah sekarang ini mahal sekali.

Dan jika ia minta pindah sekolah, baba dan mamanya pasti bilang "Bayar sendiri biayanya!. Memangnya kau pikir uang itu tumbuh dari pohon?"

Ah memikirkan itu membuat Yixing ingin memelihara doraemon.

Ya keleus.

Sibuk dengan pikirannya, ia jadi tersentak ketika tiba-tiba ia mendengar handpone yang sedari tadi dipegangganya berbunyi dan bergetar.

Ia mengerutkan kening ketika ia melihat nomor baru mengirimnya pesan.

From: 087xxxxxxx

Hai Yixing. Selamat malam. kau masih ingat denganku? Aku Kim Jongin, atau Kai.

.

.

.

TBC

.

.

.

a/n:

Sebelumnya, saya mau sungkem dulu hahaha maaf yaaaaa lama.

Untuk chapter kali ini, maaf lagi karena pendek.

Udah updatenya lama, pendek lagi, haha maaf yaaa soalnya lagi bangun mood lagi buat nerusin fanfic ini. umm ada yang mencium bau-bau KaiSoo? Wkwkwkwk

Jadi kalau misalkan gayanya ada yang beda dengan dua chapter kemarin, maaf lagi yaaaa xDDD

Makasih banget buat yang udah follow, fav, dan review, tapi maaf gak bisa bales satu-satu.. mungkin di lain kesempatan bisa saya balas. Pokoknya saya senaaang banget dengan review kalian.

.

.

Ehem. Mind to review again?