© Masashi Kishimoto
Summary :
jalan kehidupan itu sama seperti buku. Pasti ada suatu hal yang menjadi pembuka dan tentu akan diakhiri oleh sebuah penutup. Tapi,bagaimana jika pembuka dari buku itu juga diawali sejak ia membuka lembaran buku? Akankah akhir dari cerita itu juga akan tertutup di lembar terakhir buku itu? penasaran? Silahkan mampir../summary ancur, oke!
pair : Nejiten
Warn : Fanon! Headcanon! tak mungkin luput dari Typo(s), gaje, ancur, judul sama isi gk nyambung dll XD X3 :'V. Mohon sarannya di kotak review..:)
~Happy Reading~
.
.
- Departemen Store-
"Nee Mizu... menurutmu bagus kanan atau kiri, hm?" ujarku seraya menunjukkan kedua jas yang tergantung di hadapanku pada Mizu.
"Ma..Ma..Maa.." aku langsung menoleh ke arah Mizu.
"Hei..? Tadi kau bilang apa? Coba katakan sekali lagi pada mama, sayang.." aku melupakan sejenak tumpukan jas-jas mewah tersebut. Bagiku, mendengar kalimat pertama Mizu jauh lebih penting dari apapun. Gadis kecil itu tertawa girang di gendonganku, tanpa sadar kedua sudut bibirku tertarik ke atas.
"Ma..Ma.." ulangnya.
Aku nyaris berteriak di tempat itu, jika saja seseorang tak membungkam bibirku. Aku mendelik padanya.
"Tahan pekikanmu sampai di rumah nanti." Ujar suamiku ketus—he..? Dia masih marah rupanya.
jika kalian ingin tahu kenapa ia bisa berada disini, mudah saja, ingatkah kalian tentang hal yang ia katakan padaku tadi pagi? Haha... intinya ini semua karena sifat posesifnya yang berlebihan—oke, kembali.
"Tapi, bisakah kau melakukannya selain dengan menciumku seperti tadi, huh?" desisku tajam seraya memalingkan wajahku. Dapat kulihat seringai nakal muncul di bibir tipisnya.
"Memangnya kenapa? Toh, toko ini milikku. Aku bebas melakukan apapun disini." Aku berdecak sebal kemudian berlalu meninggalkannya.
"Meskipun toko ini milikmu—dan kebetulan sepi—kita juga harus tetap menjaga etika, sayang." Ujarku lalu kembali sibuk memilah-milah jas yang hendak kubeli. Terkadang aku bergumam dan menggelengkan kepalaku saat melihat jas-jas itu.
Tiba-tiba suamiku datang dan meletakkan dagunya di puncak kepalaku, ia bergumam pelan.
"Apa kau lapar, hm? Bagaimana jika kita keluar mencari sebuah restoran atau semacamnya..." aku tahu jika dia hanya asal bergumam, tapi aku memiliki firasat buruk pada kalimat selanjutnya, "...dan lupakan soal kejutan untuk mantan sahabatmu. Sama sekali tak penting."
Tuh.. kan?
Aku menghela nafas panjang, kemudian membalik tubuhku dan menatap dalam matanya. Menyelami iris amethst yang selalu membuatku terhanyut ke dalamnya. Memandang setiap inchi wajahnya yang sudah menemaniku dua tahun ini.
Aku termenung sejenak. Kemudian seulas senyum tipis merekah di bibir ranumku.
"Wakatta wa, kupikir aku dan Mizu juga mulai lapar, Nee Mizu...?" gadis kecil itu lagi-lagi terlonjak girang dalam pelukanku.
"Ma..Ma..Ma...!" pekiknya riang. Aku tersenyum gemas menatapnya. Tiba-tiba tangan suamiku terulur untuk menggendong Mizu. Di pundaknya.
"Hei gadis kecil, apa kau pikir orang tuamu itu hanya mama mu saja, hm? Kenapa cuma mama mu yang kau panggil? Coba katakan papa.." ucapnya pada Mizu.
"P..Pa..Pa. Pa..Pa.."
"Anak pintar.." gadis kecil itu kembali terlonjak girang.
Ah.. ini sangat menggemaskan! Aku mengeluarkan ponselku dan mengabadikan moment ini di kamera. Mungkin suatu hari nanti aku akan berpikir untuk mencetaknya dan membingkainya menggunakan pigu—.. Eh?!
.
"Tenten.. mau sampai kapan kau disana?"
"Ma..ma..maa!"
"A-ah? Gomenee.. hihihi.." aku tersadar dari lamunanku dan berjalan mendekati mereka.
.
Baiklah sayang, usaha yang bagus untuk menghalangiku kali ini. tapi, jangan anggap remeh otak istrimu ini, oke?
.
.
.
Back to story
Bel sekolah berbunyi nyaring menembus lorong-lorong di Suna High School siang itu. Neji bersiap mengemasi peralatan alat tulis serta buku-bukunya. Selesai dengan urusannya, Neji segera beranjak keluar kelas untuk menemui sahabat lamanya yang berada di kelas sebelah. Uchiha Sasuke.
Namun, sebuah tangan mungil menghalangi jalannya dengan menarik ujung baju seragamnya. Ia menoleh ke belakangnya,
"N-Neji-san, a-aku menyukaimu! Jadilah kekasihku!"
Pekikan nyaring tersebut menarik perhatian murid-murid lainnya. Beberapa murid ada yang melongok dari jendela kelas mereka. Tak lama kemudian terbentuklah sebuah lingkaran besar, dengan gadis itu dan Neji di tengah-tengahnya. Neji hanya mendengus pelan. 'terjadi.. lagi? Ck, menyebalkan." Batin Neji. Sekarang kalimat penolakan apa lagi yang harus ia lontarkan?
.
"Maaf, Nona... sepertinya kau salah memilih orang yang kau sukai. Karena... saat ini Neji Hyuuga sedang menyukai seseorang." Ujar seseorang menginterupsi.
Otomatis pekikan heboh itu terhenti sejenak, namun tak berlangsung lama karena pekikan yang jauh lebih heboh terdengar setelahnya. Seorang pemuda dingin dengan gaya rambut emo tampak berjalan santai ke arah Neji seraya membawa tas sekolahnya. Ia tersenyum—lebih tepatnya menyeringai—pada seluruh orang disana. Neji memijit pelipisnya jengah.
"Bagus Sasuke. Kau membuat hal ini semakin merepotkan!" Desis Neji setelah Sasuke tepat berada di sebelahnya. Beberapa murid perempuan semakin histeris saat melihat dua pangeran sekolah yang berdiri di tengah-tengah mereka.
Sasuke tak menanggapi ucapan Neji, ia justru melanjutkan perkataannya tadi.
"Seseorang yang ia suka adalah seorang gadis yang ia temu—Ah!"
Neji menyikutnya. Sasuke mendengus pada sahabatnya, kemudian ia menoleh pada gadis yang cukup berani menyatakan perasaannya pada Neji itu.
"Hn.. Dan maaf saja, orang itu bukan kau... Matsuri-san." iris onyx itu menatapnya tajam. Membuat gadis yang bernama Matsuri itu bergidik ngeri dan berlari ke belakang dengan rasa malu yang tak tertanggungkan.
"Jadi.. apa yang kalian lihat? Bisa bubar sekarang?" suara Neji memecah keheningan yang sempat terjadi. Beberapa diantara mereka berbisik-bisik dan juga yang menatap kagum pada mereka berdua.
.
"Ck.. ayo pulang." Neji mulai berjalan didepan Sasuke.
"Ah... kau pulang sendiri dulu hari ini." Neji menoleh heran ke arah Sasuke, kedua alisnya bertaut.
"Tak biasanya, memangnya ada apa?"
"Yahh.. sudah lama aku tak mengunjungi kekasihku, jadi rencanannya aku akan menjemputnya sekarang." Sasuke mengendikan bahunya.
"Oh, ya sudah kalau begitu." baru satu langkah Neji berjalan, Sasuke memanggilnya.
"Kau tak mau ikut?" tawar Sasuke. Neji mengerling sinis pada Sasuke.
"Apa kau sangat yakin kekasihmu itu tak akan jatuh cinta padaku begitu melihatku nanti?" ia menyeringai. Sasuke memutar bola matanya jengah.
"Ck! Siapa yang menyuruhmu untuk bertemu Sakura, huh?! Lagipula Sakura juga tak mungkin menyukai pemuda setengah-setengah sepertimu." Ketus Sasuke.
"Hei..! apa maksudmu setengah-setengah?! Aku laki-laki tulen, baka!"
"Oh ya...? coba kutanya sekarang, apa kau memiliki kekasih?"
"Apa hubungannya, laki-laki tulen dengan memiliki kekasih?! Tak masuk akal!" Neji meninggikan suaranya, terbawa emosi. Ia cukup sensitiv jika membahas masalah ini. Memang rambutnya panjang, tapi apa hubungannya dengan kelaki-lakiannya? Kuso!
"Bisakah kau santai sedikit, heh!" Sasuke kesal sendiri jadinya, "Yah..setidaknya jika kau memiliki kekasih ada sedikit kepastian bahwa kau menyukai lawan jenismu, bukannya se—"
"Cukup! Aku laki-laki tulen, oke! Berhentilah membahas topik konyol ini, dan cepat katakan padaku kenapa kau mengajakku?" Neji memijit pelipisnya—lagi.
"Oke-oke.. aku hanya ingin memberi tahu kalau Sakura bersekolah di Konoha High School."
"Lalu? Apa hubungannya denganku?"
Sasuke menatap horror Neji, ia berusaha mati-matian untuk tidak langsung mencekik orang super bodoh ber-IQ 190 yang tidak menggunakan otak nya di saat seperti ini.
"Neji apa kau baru saja kehilangan otak jeniusmu?"
"..."
"..."
"... oke-oke, aku paham situasinya. Biar kutebak, kau pasti lupa menanyakan dimana sekolahnya, benar?" Neji mengangguk seadanya. Sasuke menghela nafas lagi. "Logikanya... jika kau bertemu dengan Tenten di perpustakaan konoha—apalagi ia mengatakan bahwa sekolahnya dekat dengan perpustakaan Konoha—maka sekolah apa yang terlintas di pikiranmu, Hyuuga?"
"..." Neji masih me-loading kata-kata Sasuke barusan. Hingga ia tak menyadari bahwa Sasuke sudah berjalan jauh di depannya. "Perpustakaan Konoha.. Perpustakaan..Konoha..Konoha. Eh..?! Konoha?!"
"SASUKE TEME! AKU IKUT!"
# # #
-PERPUSTAKAAN KONOHA-
Tenten tak bisa menahan senyumnya sedari tadi. Ia tahu, jika terus menerus seperti itu, orang-orang akan menganggapnya gila. Tapi ia sungguh tak bisa mengendalikan degup jantungnya yang terus berdegup kencang dan mengalirkan darah ke seluruh wajahnya serta perasaan senang yang menyelimuti rongga dadanya. Tenten tak menyangka sebuah surat singkat seperti itu akan mengubah suasana hatinya secepat ini. Tenten sangat ingin membalas surat itu.
Namun, kalimat seperti apa yang akan ia tulis? Ia bingung, di surat itu tertulis jelas maksud Neji membalasnya. Hanya sebagai ungkapan terima kasih, atau bisa juga diartikan penutup. Tenten menghela nafas pasrah. Tak mungkin ia membalas surat itu dengan topik yang berbeda, akan terlihat jelas jika Tenten hanya ingin memanjangkan cerita di surat itu—jika ia benar-benar menulisnya.
"Haah~ apa yang harus kulakukan.." ia duduk menyender di rak sebelah kiri, sedikit menunduk sehingga rambut coklatnya— yang hari ini kebetulan digerai—terjatuh menuruni pipi porselennya.
Perlahan tangannya bergerak mencari benda kotak kecil yang berada di tasnya. Kepalanya mendongak sedikit untuk mencari kontak email Sakura. Tiba-tiba otaknya memikirkan sesuatu,
"Oh iya, Sakura kan sedang menemui kekasihnya...ck." ia bergumam frustasi, padahal baru saja ia ingin menyanyakan hal ini pada sahabat merah mudanya, "Eh.. tapi, bodo ah! Aku tak peduli siapa yang mau ia temui, lagipula hanya mengirimi email tak akan mengganguu seluruh acara kencan mereka, kan?" lanjutnya. Jemari lentiknya mulai menari diatas layar touchscreen ponselnya.
To : Sakura-chan
From : Me
Sub : Ask something about a letter
Sakura, menurutmu apa yang harus kutulis di surat balasan ini? Isinya adalah ucapan terima kasih, dan sekarang aku bingung mau membalas apaa... mana mungkin aku akan membalas dengan topik yang berbeda kan? kesannya seperti aku sangat ingin terus mengobrol dengannya, padahal aku kan... memang ingin sih :v
Balas cepat, atau aku akan menghantuimu malam ini!
Setelah menekan tombol send pada ponselnya, ia kembali menyimpannya di saku seragam. Sambil menunggu balasan email, ia membaca kembali surat dari termenung sejenak, sekelebat ide tiba-tiba terlintas di kepalanya. Dengan cepat ia merogoh tasnya dan mencari pulpen dan selembar kertas.
.
"Huft! Akhirnya selesai...! Aku tahu jika si jidat lebar itu tidak bisa diandalkan disaat-saat seperti ini." ia tersenyum puas. Lalu ia selipkan kertas itu di antara lembaran-lembaran buku Romeo and Juliet seperti biasa.
# # #
Sementara itu..
Sudah sekitar 10 menit Sakura berada di depan gerbang sekolahnya, tentu saja untuk menunggu kekasihnya—Sasuke. Namun masih belum ada tanda-tanda kedatangan Sasuke sejak tadi. Tiba-tiba Sakura merasa HPnya bergetar di saku roknya, dengan cepat tangannya meraih benda mungil itu. Ia berharap jika itu adalah email dari Sasuke. Tapi,
To : Me
From : Tenten-chan
Sub : Ask something about a letter
Sakura, menurutmu apa yang harus kutulis di surat balasan ini? Isinya adalah ucapan terima kasih, dan sekarang aku bingung mau membalas apaa... mana mungkin aku akan membalas dengan topik yang berbeda kan? kesannya seperti aku sangat ingin terus mengobrol dengannya, padahal aku kan... memang ingin sih :v
Balas cepat, atau aku akan menghantuimu malam ini!
"Huh.. kupikir dari Sasuke, dasar pandaa menyebalkaan!" Sakura nyaris saja membanting Hpnya, jika saja ia tak ingat perjuangannya bekerja siang-malam demi mengumpulkan uang untuk membeli ponsel tersebut. Tak ada pilihan lain selain membalas email dari Tenten.
Baru satu kalimat ia tulis, sebuah suara mengejutkannya.
"Sakura!"
Dengan cepat Sakura menoleh dan mendapati kekasihnya bersama seorang temannya yang—tak kalah tampan—berambut panjang, sedang berjalan ke arahnya.
"Maaf aku sedikit terlambat, apa kau menunggu lama?"
"Emm.. tidak sama sekali, aku juga baru keluar, hehe." Sakura tersenyum manis, Sasuke sedikit memalingkan wajahnya.
"Ah ya, Sakura, kenalkan, dia sahabat Neji" ujar Sasuke. Neji yang merasa terpanggil menoleh ke arah mereka berdua, lalu mengangguk seadanya.
"Hyuuga Neji."
"Neji, kenalkan, kekasihku. Haruno Sakura." Lanjut Sasuke. Sakura tersenyum kemudian ikut mengangguk pada Neji.
"Haruno Sakura-desu hajimemasshite, Neji-san.." ucap Sakura lembut. Sedetik kemudian, Sakura sadar akan satu hal.
NEJI..? HYUUGA NEJI...?!
Sakura tertegun, hingga tanpa sadar terus menatap wajah Neji. Neji yang dilihat seperti itu lama kelamaan risih juga, apalagi saat ini ia merasakan aura Sasuke yang mencekam ditambah deathglare yang tentu saja berasal dari iris hitam legam tersebut.. 'Sial, apa mungkin kata-kata Neji tadi benar? Bahwa Sakura akan langsung jatuh cinta pada nya?! Hah.. konyol!' Sasuke berdehem keras
"EKHMM...!" sontak baik Sakura maupun Neji langsung menoleh ke arah Sasuke.
"A-ah.. gomen.." kata Sakura. Gadis itu tiba-tiba saja langsung menyambar ponselnya dan membalas email ke Tenten.
Hal itu menarik perhatian Sasuke, apa mungkin Sakura merasa malu setelah ketahuan memperhatikan Neji dan sekarang berpura-pura sibuk dengan ponselnya? Baiklah Sasuke mulai tak bisa berpikir jernih sekarang, perasaan menyesal telah mengajak Neji memenuhi otaknya. Alih-alih ingin membantu Neji bertemu dengan Tenten, saat ini Sakura malah terlihat tertarik padanya. Aura mencekam terus menguar dari Sasuke, namun sayangnya Sakura tak menyadari hal itu.
"Sakura.. kau sedang membalas email sia—" perkataan Sasuke terputus,
"Ettoo, Ne-Neji-san.." Sakura beringsut mendekati Neji, membuat Sasuke membulatkan matanya, "Apa kau sudah memiliki kekasih?" tanya Sakura manis pada Neji.
"B-belum." Neji mundur satu langkah.
"Oh ya? Wah kebetulan sekali.." Sakura maju satu langkah lagi
"A-apanya?" Neji mundur selangkah lagi.
"Apa kau suka membaca buku di perpustakaan, Neji-san?"
"Ehm.. yah lumayan.." Neji terus mundur, hingga tanpa sadar ia telah menyentuh dinding di belakangnya. Sementara Sakura terus maju mendekati Neji. Jangan tanyakan bagaimana Sasuke saat ini.
"Sepertinya hari ini akan ada buku baru yang datang.." Sakura tersenyum sangat manis hingga tampak eyesmile nya.
Neji benar-benar butuh bantuan saat ini, ia sudah terhimpit dinding di belakangnya. Persetan dengan Sasuke yang—mungkin—akan membunuhnya. Neji juga seorang laki-laki, tentu saja ia merasakan gejolak aneh yang menyerangnya saat tubuhnya dan Sakura tinggal berjarak beberapa centi. ia memejamkan matanya erat.
"... dan kupikir seorang temanku yang bernama Tenten masih berada di sana saat ini."
Eh? Neji langsung membuka matanya.
"Maksudmu?" tanya Neji. Sakura masih menunjukkan eyesmile manisnya pada Neji.
"Maksudku—"
"Neji aku minta maaf sudah memaksamu kemari, padahal kau harus belajar untuk ujian fisika minggu depan. Jadi, kupikir kau bisa pulang duluan dan tak perlu menungguku." Perkataan Sasuke menarik atensi dua orang di hadapannya.
"O-oh, ujian itu, materinya mudah jadi tidak masalah ji—" ucapan Neji terputus saat melihat deathglare mengerikan Sasuke. "Ah, ya kau benar, aku juga harus pulang sekarang. sampai jumpa." Neji segera mengambil tasnya dan beranjak dari sana.
"Eh? Kau sudah mau pulang? Kenap—"
"Sakura... aku punya beberapa hal yang harus kukatakan padamu, sayang." Sasuke menahan tangan Sakura. Sakura menoleh ke arah Sasuke. Matanya terbelalak lebar. Ia kesulitan meneguk salivanya sendiri. Keringat dingin mengucur deras dari pelipisnya. Ia tak menyadari jika Neji sudah menghilang dari sana.
"Sa-Sasuke-kun.. kau tidak marah, 'kan?" ujar Sakura gagap.
"Aku? Aa..Tidak kok.." Sasuke tersenyum, membuat Sakura sedikit merasa lega ,
"Tapi jangan salahkan aku bila seluruh panggilan dan email mu malam ini tak akan kubalas." Sasuke berbalik dan mulai berjalan meninggalkan Sakura yang cengo di tempat.
"EH...?! Haaahh?!.. Sa-Sasuke-kunn! matte oo! Gomenasaaiii! Sasuke-kunnn...!"
# # #
NEJI P.O.V
Hhh..hh..hahh... Aku masih berusaha menormalkan degup jantungku setelah berlari tadi. Benar-benar pasangan yang menyeramkan! Jika Sasuke, aku sudah tahu sifat menyeramkannya sejak dulu. Tapi, aku tak menyangka kalau ia akan mendapat kekasih yang sama menyeramkannya juga. Aku masih merinding membayangkan betapa mengerikannya Sakura tadi, kukira Sakura adalah type gadis manis, lembut, dan keibuan—type yang sangat cocok untuk Sasuke.
"Tenang Neji, Tenang.. Kau hanya terbawa suasana. Lupakan apa yang Sakura lakukan padamu tadi, Lupakan.."
Setelah deru nafasku kembali normal, aku menegakan tubuhku. Mataku seketika membulat saat melihat apa yang ada di hadapanku saat ini.
"Apa aku berencana ke Perpustakaan sebelumnya...?" tanyaku pada diriku sendiri. Saat ini dihadapanku berdiri kokoh dinding bertuliskan 'PERPUSTAKAAN KONOHA'. Tanpa sadar, ucapan singkat Sakura tadi terbayang di kepalaku.
'kupikir seorang temanku yang bernama Tenten masih berada di sana saat ini.'
Apa mungkin Sakura tahu kalau— ck, itu tidak mungkin bodoh.
.
Aku beranjak masuk ke dalam perpustakaan itu. Sejujurnya, aku tidak tahu apa yang membuatku masuk ke perpustakaan seperti saat ini. Memangnya apa urusanku jika Tenten ada disini, toh ini adalah tempat umum. Semua orang bisa kemari kapanpun. Iya 'kan?
NORMAL P.O.V
Neji berjalan santai memasuki Perpustakaan. Entah apa yang ia pikirkan saat ini hingga ia tak melihat seorang gadis berlari terburu-buru ke arahnya. Lalu,
Bruuk!
Semua buku yang dibawa gadis itu berceceran di lantai. Neji tersadar dan langsung membantu memunguti buku-buku milik gadis itu. Neji tak bisa melihat jelas wajah gadis itu, karena rambut coklatnya yang menutupi wajahnya.
"Maaf aku berlari tergesa-gesa tadi, maafkan aku!"
"Hn, lupakan saja."
Setelah itu, sang Gadis berlalu dari hadapan Neji. Neji pun melanjutkan perjalanannya lagi. Hingga ia tiba di lorong novel klasik dan terjemahan. Menarik pelan buku berjudul Romeo and Juliet yang akhir-akhir ini menjadi satu-satunya alasannya berkunjung ke perpustakaan—lebih tepatnya untuk melihat kertas yang terselip di dalamnya.
"Ia tak mungkin membalasnya. Lagipula jika Tenten benar-benar kemari bukan berarti hanya untuk membalas surat begini 'kan? haha, kau mulai aneh Neji." Gumam Neji seraya membuka halaman buku itu.
Sreek..! Secarik kertas terjatuh dari sana. Nafasnya tercekat beberapa saat.
Benarkah? Syukurlah.. aku sempat khawatir akan hilang karena hanya kuselipkan begitu saja di dalam buku ini. Emm... apa setelah ini kau akan jarang mengunjungi perpustakaan lagi? Haha.. aku tahu aku memang bodoh, tapi aku akan datang setiap hari kemari untuk mengecek balasan surat ini darimu. Paling tidak, bila kau tak kunjung membalas surat ini aku bisa tahu jawaban dari pertanyaanku. ^^
Mitsashi Tenten
Neji mengerutkan keningnya dalam, tampak memikirkan sesuatu. Lalu, entah apa yang terjadi, Neji segera berlari ke arah luar Perpustakaan Konoha. Berlari terus hingga ia sampai di pintu gerbang di luar gedung. Nafasnya tampak memburu dan di tangannya terlihat secarik kertas yang sudah kusut karena genggaman tangan Neji. Kepalanya menoleh ke segala arah, mencari seseorang bermahkota coklat panjang.
'Gadis itu! gadis yang tadi bertabrakan denganku! Tak salah lagi, dia pasti Tenten! Warna rambutnya sama, hanya saja mungkin hari ini ia menggerai rambutnya. Tulisan tangannya masih baru. Tintanya masih terasa basah di kertas itu... Tenten..sekali saja, aku ingin bertemu denganmu lagi.' batinnya.
Nafasnya masih memburu, ia masih terus menoleh kesana kemari. Tapi, hasilnya nihil. Ia sama sekali tak melihat Tenten.
Dengan langkah berat Neji memasuki perpustakaan kembali. Bagaimanapun, ia tak bisa meninggalkan tas nya begitu saja didalam.
.
.
Neji termenung menatap surat di tangannya. ia menghela nafas berkali-kali. Menyesali dirinya yang dengan bodohnya selalu mengacuhkan orang-orang disekelilingnya. Ia menolehkan kepalanya ke arah Jendela perpustakaan di samping kanannya, yang langsung menyajikan pemandangan kota Konoha dari lantai dua. Ia beranjak perlahan mendekati jendela. Iris Amethyst itu terlalu fokus menatap pemandangan di luar sana, hingga ia tak menyadari ada sepasang kaki yang terjulur dari balik rak buku—lebih tepatnya ruang sempit yang berada diantara rak buku dan dinding perpustakaan.
"Akhh! Kakiku terinjak, dasar bodoh!"
Neji berjengit, terkejut. Ia menginjak kaki, namun tak ada tubuhnya—salah, tubuhnya sedang tak terlihat, bukan berarti tak ada. Setelah beberapa saat tak terdengar lagi suara nya, Ia memberanikan diri melongok ke balik rak buku. Terlihat seorang gadis berambut coklat panjang yang tertidur dengan posisi kepala miring ke arah samping, jadi beberapa helai rambut tampak menutupi wajah putihnya. Sedangkan tangannya membawa sebuah buku ensiklopedia. Ia adalah murid SMA, Neji tahu itu, karena gadis itu mengenakan seragam siswi SMA lengkap. Tapi, Siapa? Ia menyelipkan beberapa anak rambut gadis itu di telinganya. Lalu, ia terkejut. karena gadis itu ternyata..
"Tenten..?" gumamnya. Neji mengerutkan keningnya, heran.
"Apa yang ia lakukan disini? Bukankah lebih baik tidur di rumah?" ia berjongkok dihadapan Tenten dan memperhatikan wajahnya dalam-dalam. Memperhatikan setiap inchi wajah damai Tenten ketika tertidur. Kelopak matanya yang menyembunyikan iris Hazel menyejukkan, serta bulu mata lentiknya. Hidung mungilnya yang mancung. Serta, bibir peach tipisnya yang terkatup saat ia tertidur. Rambut coklatnya yang terlihat manis jika tergerai begini. Tak lama berselang, sebuah dengusan geli meluncur dari bibir sang Hyuuga.
"Ia bahkan bisa berteriak saat tertidur. Tak kusangka ia tetap tak terbangun, padahal kupikir aku cukup keras menginjaknya tadi." Neji memperhatikan kaki Tenten. Khawatir bila ada luka sewaktu ia—tak sengaja—menginjaknya tadi. Ia menghembuskan nafas lega saat tak menemukan luka apapun pada kakinya.
"Engh.." erangan meluncur dari kedua belah bibir peach itu. Perlahan kelopak mata yang tadinya menutupi mata Tenten mulai terbuka, dan menampakkan manik hazel miliknya.
Buram. Itulah yang pertama Tenten tangkap dari netranya, ia mengerjapkan matanya berkali-kali. Menyesuaikan intensitas cahaya di sekelilingnya untuk menangkap secara jelas object yang kini ada di hadapannya.
"Neji..?!" pikiknya. Ia memundurkan wajahnya yang sangat dekat dengan wajah Neji. Neji juga melakukan hal yang sama, lalu menarik tangannya yang masih menyentuh rambut Tenten. Wajah keduanya memerah.
"Maaf. Aku tak bermaksud untuk saja, bagaimana kau bisa tertidur disini? Kakimu yang terjulur dari balik rak ini bisa terinjak orang-orang, kau tahu?" Terang Neji.
"O-oh.. begitu? hehe.. maaf." Tenten mengusap tengkuknya. Dalam hati ia meruntuki sahabat merah mudanya yang sudah seenak jidat lebarnya menyuruh untuk menunggu seseorang disini. Sebenarnya bisa saja ia menolak dan pulang ke rumah— karena badannya juga sudah sangat lelah setelah pelajaran olahraga tadi—jika saja tubuhnya menolak untuk pulang saat itu.
-FLASHBACK-
Tenten merogoh saku seragamnya mencari benda kotak yang baru saja bergetar menandakan adanya email masuk. Ia tahu jika itu dari Sakura, maka dengan gerakan cepat ia langsung membukanya. Namun alisnya langsung berkerut dalam saat membaca isi email itu.
To : Me
From : Sakura-chan
Sub : Jangan Pulang!
Tenten! kau masih disana kan?! kuharap kau maish disana. Dan jangan menuju ke pintu keluar sebelum 'seseorang' itu datang. Kalau kau melanggarnya maka kau akan menyesalinya seumur hidup. Ingat! Kesempatan tak mungkin datang dua kali!
Jangan Pulang sebelum ia datang! Ingat itu nona Mitsashi!
Tenten tak habis pikir dengan jalan pikiran sahabatnya. Apa-apaan isi email itu? sudah tidak nyambung dengan apa yang ia tanya, sekarang malah membicarakan seseorang yang akan datang..?! dan menyuruhnya jangan pulang..?!
"Heh.. lucu sekali..! apa kau tahu..? badanku pegal semua setelah lari marathon 4 km pada pelajaran OR oleh guru yang selalu menjunjung tinggi masa muda itu..!" gerutu Tenten.
jika melanggar akan menyesal seumur hidup..?! jujur pada bagian ini Tenten merasa sedikit takut. Memangnya siapa yang akan datang? Malaikat pencabut nyawa 'kah? Kami-sama, ia masih terlalu muda untuk mati sekarang. Akhirnya Tenten membalas email itu dengan perasaan dongkol.
5 menit.
10 menit.
30 menit.
1 jam.
Email yang Tenten kirimkan belum terbalas sama sekali. Sedangkan Tenten sendiri sudah sangat lelah. Ingin sekali pulang, tapi entah kenapa ada satu bagian dari hatinya yang menolak untuk melakukannya.
"Sakura jidatt..! balas emailku sekarang juga atau kuhancurkan kencan kalian!" beberapa kalimat serupa terus ia kirimkan pada Sakura. Tapi, nihil. Sakura sama sekali tak membalas emailnya lagi.
Alhasil ia berjalan ke arah jendela yang langsung terhampar pemandangan Konoha dari lantai dua, Tenten menoleh ke sebelahnya dan menemukan sebuah ruang sempit antara dinding dan rak buku. Sebuah senyum lebar mengembang di bibirnya.
"Memaksa untuk pulang sekarang juga rasanya terlalu lelah. Lebih baik aku menunggu di sebelah sana saja." Gumam Tenten.
Setelah mengambil buku ensiklopedia, ia duduk dan mulai membacanya. Mungkin karena tubuhnya yang memang sudah kelelahan, baru beberapa menit ia langsung jatuh tertidur.
Persetan dengan siapapun yang akan datang. Ia tetap berada disini hanya untuk beristirahat, dan bukan untuk menunggunya. Jadi bila ia tak bertemu dengan orang yang dimaksud Sakura, ia juga tak akan menyesal.
-END OF FLASHBACK-
Lama mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing hingga hening menyelimuti atmosfer keduanya. Namun, tiba-tiba
"Tenten—"
"Neji—"
.
.
.
TBC
A/N :
Maafkan keterlambatan author yang katanya mau janji seminggu sekali #buak (siapa juga yang nungguin lo) oke, intinya author bener-bener lagi mau fokus ke PUN pertama yang mau dilaksanain Januari mendatang TToTT #curcol. Dan juga maafkan Author kalau belum bisa membalas satu-satu review tanpa akun yang udh repot-repot nulis review ke ff gaje sayaa TToTT #nangisbombay.
Oh ya satu lagi, kyknya yang suami nya Tenten itu ada kecelakaan deh -,- udah pada tau ya siapa suaminya? -_-" (gagal deh gue bikin surprise #ngeek) yaudah deh, mau dibenerin kayak apa juga gk bakal mengubah kenyataan kalo reader udah pada tau :'V
Oke sekian A/N gaje yang gk kalah gaje dari ficnya. Btw salam buat D.O dari sayaa hahahaa /
Mind to RnR..? #harusReview! ^^
