Title: Dark Red

Author: kyoonel1220

Main Casts: Sehun and Luhan

Other Casts: Baekhyun, Kyungsoo, Suho, Kai

Length: Chaptered

Disclaimer: Sehun milik Luhan, Luhan milik Sehun. Titik.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Oi, rusa. Wajahmu nampak berseri-seri sekali. Apa kau sedang bahagia?" Tanya Baekhyun ketika Luhan baru saja datang dan menduduki kursi dibelakangnya. Luhan yang mendengarnya pun merona,

"Ya? A-ah, berseri-seri dari mananya, . Wajahku kan memang selalu memancarkan kebahagiaan." Jawab Luhan kikuk. Baekhyun menatapnya datar dan kemudian ia kembali teringat sesuatu untuk ditanyakan kepada sahabatnya ini.

"Oh iya, ngomong-ngomong, soal pembahasan kita 'aku-akan-memutuskan-Kai' tempo hari di rumahmu, apa itu benar-benar akan kau laksanakan?" Tanyanya serius. Seketika Luhan membeku. Oh ayolah, apakah ia setega dan sejahat itu berencana akan memutuskan Kai? Dan parahnya lagi, demi dosennya sendiri! Bahkan Luhan baru diajarkan beberapa hari oleh Sehun, namun dirinya telah jatuh dalam pesona sang dosen muda dengan begitu mudahnya. Mereka bahkan berciuman—yang membuat wajah Luhan berseri-seri bahagia pagi ini— tempo hari dengan sangat panasnya.

Baekhyun yang melihat Luhan malah melamun pun menoyor sayang kepalanya,

"Kenapa malah melamun, sih? Aku bertanya dan sebaiknya kau menjawab." Dengusnya sebal. Luhan pun langsung tersadar dan segera menjawab, "Melamun apanya? E-eum.. untuk pertanyaanmu yang barusan, aku rasa aku akan memikirkannya lagi. Sudahlah Baek, aku ingin ke toilet dulu sebentar." Kilah Luhan dan langsung berlalu meninggalkan Baekhyun.

"Ku harap kau tak sungguh-sungguh dengan ucapanmu waktu itu, Luhan." Gumam Baekhyun.

.

.

"AAARRRGGHHH! Sebenarnya ada apa dengan diriku?!" Teriak Luhan frustasi ketika sudah berada didalam kamar mandi. Ia menatap pantulan dirinya didepan cermin wastafel, apa kau benar-benar akan mengakhiri hubunganmu dengan Kai, Luhan? Apa kau sejahat itu pada kekasih tercintamu sendiri, huh? Tanyanya dalam hati. Ia mendesah frustasi dan segera membasuh wajahnya dengan air keran agar pikirannya kembali segar. Kemudian ketika ia mendongak ia melihat— "KAU?!" —Sehun yang sedang berdiri bersandar dengan tangan bersedekap menatapnya tajam. Saat ini hanya mereka berdua yang berada dikamar mandi.

"Jadi, apa yang sebenarnya terjadi pada dirimu?" Tanyanya dingin. Luhan yang masih betah menatap pantulan diri Sehun itu pun meneguk ludah paksa mendengar pertanyaan dingin Sehun. Apa maksudnya? Sejak kapan dia disini? Pikirnya bingung.

"Aku mendengar teriakan konyolmu dan ketika aku masuk aku melihat kau sedang membasuh wajahmu." Ucap—atau jawab Sehun seakan bisa membaca pikiran Luhan. Luhan mengerjapkan matanya beberapa kali guna mencerna ucapan Sehun. Tiba-tiba saja Sehun mendekat kearahnya. Ia masih menatap Sehun dari cermin yang perlahan mendekatinya.

"Apa kau tak ingin memberitahu apa yang sebenarnya terjadi dengan dirimu padaku?" Bisik Sehun menakutkan ketika sudah berhasil mendekati Luhan. Luhan hanya bisa diam membeku mendengarnya, terlebih nafas hangat Sehun yang menerpa nerpa telinga kanan dan tengkuknya.

Tiba-tiba saja tangan kiri Sehun terlingkar manis diperutnya, "A-apa yang—" Ucapan Luhan terpotong karena ia merasa bagian tengkuk sebelah kanannya terasa perih. Ya, Sehun baru saja menorehkan sedikit goresan pada bagian itu menggunakan cutternya.

Sehun pun tersenyum senang melihat ada luka yang menghiasi tengkuk indah Luhan karena ulahnya. Kemudian ia membisikan sesuatu pada Luhan yang sedang merintih menahan sakit, "Sebentar ya, sayang, aku ingin merasakan vitamin pagiku dulu."

Kemudian Sehun menghirup aroma anyir yang menguar menusuk indera penciumannya. Ia sangat suka aroma darah. Tak lama setelah itu, ia pun segera menjulurkan lidahnya pada luka tersebut dan dengan pergerakan yang dibuat se-sensual mungkin ia menjilat cairan merah itu dari bawah ke atas. Setelah itu, ia menyesap kuat-kuat dan terus menjilati luka Luhan dengan penuh kesenangan. Luhan merasakan perih yang berkali-kali lipat sekarang. Ia terus saja menggigit bibir bawahnya guna menahan rintihan pilunya. Ia tak bisa berbuat apa-apa sekarang, karena kedua tangannya dikunci dengan sangat kuat oleh Sehun dalam posisi Sehun memeluknya dari belakang.

"Ah..aahhh…" Desah Sehun ketika ia sudah habis menikmati vitaminnya. Ia menatap area tengkuk Luhan yang habis ia kerjai itu dengan pandangan senang. Kombinasi yang sempurna, merah karena goresanku menimbulkan luka menyenangkan, dan semakin merah ketika kucicipi, pikir Sehun. Tak lama ia menatap Luhan dari pantulan cermin yang sedang memejamkan matanya sambil menggigit kuat bibir bawahnya. Ia pun tersenyum miring. Luhan yang menyadari dirinya sudah tak dikerjai Sehun lagi pun perlahan membuka matanya. Dan ketika sudah terbuka sempurna, tatapannya terkunci pada kedua mata elang Sehun yang tengah menatap serta menyeringai kearahnya.

"Sekali lagi kuakui, kau memang benar-benar memesona, Luhan." Ujarnya penuh penekanan. Dengan cepat Sehun membalikan tubuh Luhan dan mendorongnya ke dinding lalu menghimpitnya dengan tangan yang masih ia kunci. Dan tanpa aba-aba ia mencium bibir Luhan dengan penuh gairah. Ciuman Sehun terasa sangat panas dibibir Luhan. Sehun memberikan lumatan-lumatan memabukkannya pada Luhan. Luhan hanya diam saja tak tahu harus berbuat apa. Ia merasa seperti dejavu.

Ketika Luhan akan membalas lumatan Sehun, tiba-tiba saja Sehun menghentikan ciuman panasnya. Dan ia menatap Luhan yang juga menatapnya. Hidung mereka bahkan nyaris bersentuhan. "Dari jarak yang sedekat ini saja aku tahu bahwa kau sedang merona." Bisiknya seduktif. Ketika Luhan ingin memalingkan wajahnya, dengan cepat bibir Sehun kembali meraup bibir Luhan. Ia menciumi bibir Luhan dengan panas dan basah, tak peduli Luhan tidak membalasnya lagi. Tak lama ciuman sepihak itu terhenti. Dan Sehun segera menjauhkan jaraknya dengan Luhan.

"Kau cantik sekali. Aku sampai kebablasan." Kekeh Sehun ringan. Kemudian ia segera melepas pergelangan tangan Luhan yang tadinya ia kunci dan memasukkan cutternya yang tadi ada disaku kemejanya kedalam tas. Lalu menatap arloji klasiknya,

"Lima menit lagi kelasku dimulai, sebaiknya kau cepat masuk ke kelas, Luhan." Ujarnya lalu berlalu meninggalkan Luhan. "Oh iya, untuk yang barusan, aku harap kau tidak memberitahukannya pada siapapun, kalau sampai kau berani memberitahukan hal tadi pada sesorang, aku jamin kau akan menyesal, sa-yang-ku." Ucap Sehun—membelakangi Luhan—penuh peringatan sebelum ia membuka pintu toilet dan keluar.

Luhan terduduk lemas dilantai toilet. Ia memegangi dadanya yang berdegup tak karuan sambil menatap hampa kepergian Sehun. Jantungnya berdegup kencang karena senang, ia dapat merasakan kembali bibir Sehun namun di satu sisi ia merasa aneh dengan sikap Sehun yang seolah-olah men-capnya sebagai hak kepemilikan sang dosen. Untuk apa kau meng-cutterku? Untuk apa pula kau menciumku lagi? Dan apa maksud pernyataanmu tadi? Luhan memikirkannya sampai kepalanya pusing. Kemudian ia kembali merasakan perih pada daerah sekitar tengkuknya yang sudah diapa-apakan Sehun tadi.

"Sshhh…perih.." Rintihnya. Kemudian dengan sekuat tenaga ia mencoba bangkit dan membasuh kembali wajahnya. Ia tak akan bisa melihat luka yang telah dibuat Sehun pada dirinya dicermin. Luhan mendesah frustasi, dan dengan cepat ia meng-lap wajahnya dengan sapu tangan, lalu ia segera meninggalkan kamar mandi untuk mengikuti pelajaran Sehun.

.

.

CKLEK!

Pintu kelas terbuka dan menampakkan Luhan yang tengah berdiri canggung diambang pintu. Sehun yang tadinya tengah menerangkan presentasinya pada murid pun sontak menoleh. Semua mata tertuju padanya. Lalu Sehun berdehem,

"Kau terlambat masuk kelasku, tuan Luhan. Masuk." Ucapnya tegas. Luhan pun meneguk ludah paksa dan perlahan berjalan memasuki ruangan dan ingin segera duduk dikursinya, ketika setengah perjalanan, langkahnya terhenti karena mendengar ucapan Sehun.

"Bisa-bisanya kau terlambat memasuki kelasku. Apa alasanmu terlambat memasuki kelas?" Tanyanya. Luhan membeku, "Hadap aku selagi aku berbicara padamu, tuan Luhan." Perintahnya. Semua murid pun hanya dapat diam karena suasana kelas tiba-tiba saja menjadi mencekam.

Dengan perlahan Luhan pun membalikan badannya menghadap Sehun yang tengah berdiri angkuh didepan kelas. Tatapannya terkunci oleh tatapan Sehun. Luhan menggaruk tengkuknya, jantungnya berdegup kencang saat ini. Kau bertanya seolah-olah kau tidak tahu apa yang telah terjadi antara kita beberapa menit yang lalu, Sehun, pikirnya. Sehun menatap Luhan tajam, "Jawab dengan jujur." Perintahnya.

"Anu…a-aku habis dari toilet, Sehun. Dan habis itu aku mampir dulu ke perpus untuk mengembalikan buku yang aku pinjam." Ucap Luhan dalam satu tarikan nafas. Luhan melihat ada guratan senyum yang terpatri di wajah tampan Sehun setelah ia mengatakan alasan palsunya.

"Seperti itu. Silahkan duduk. Jika kau sekali lagi terlambat memasuki kelasku, aku tidak akan bertoleran lagi dan aku tak menerima alasan apapun darimu." Ucapnya tenang. Luhan menganggukan kepalanya cepat dan segera membalikan badannya menuju tempat duduknya.

.

"Jadi kau ke perpus juga? Pantas saja lama." Ucap Baekhyun ketika kelimanya sudah berada dikantin pada Luhan. Luhan menganggukan kepalanya singkat.

"Kau telah memberikan kesan buruk padanya, sayang." Sindir serta kekeh Kai yang mendapat satu jitakan telak dikepalanya oleh Luhan.

"Auh, maaf, maaf." Gumam Kai. Luhan mendelik kearahnya. "Haahh…entah mengapa aku jadi tidak berselera untuk makan." Gumam Luhan frustasi sambil mengaduk aduk suram sup pesanannya.

"Kau harus makan, Lu. Aku lihat tadi saat kau terlambat memasuki kelas tadi garis wajahmu terlihat seperti orang stress." Ucap Kyungsoo pelan. Luhan hanya diam tak merespon.

"Benar, sayang. Kau harus makan." Ucap Kai perhatian dan ketika ingin merangkul Luhan, tak sengaja tangannya mengenai luka yang ada ditengkuknya. Luhan pun meringis tertahan,

"Aahh.." Ringisnya. Kai menatap Luhan tak mengerti ketika ia sudah berhasil merangkulnya.

"Kau kenapa? Kenapa meringis seperti itu?" Tanya Kai khawatir. Luhan menatap Kai canggung lalu ia menatap teman-temannya bergantian yang tengah menatapnya bingung. Luhan menelan ludah paksa lalu tersenyum kikuk dan menggelengkan kepalanya. "Aku tidak apa apa." Jawabnya.

Kai masih menatap kekasih cantiknya curiga serta khawatir. Lalu ketika akan melepas rangkulannya, jari-jarinya tak sengaja mengenai luka Luhan (lagi). Kai mengernyit merasakan jari-jarinya seperti lembab? Lalu ketika ia menarik tangannya ia terperangah melihat cairan merah yang terdapat pada jari-jarinya.

"A-apa..ini?" Tanya Kai tercekat. Luhan sudah keringat dingin dan wajahnya pucat. Chanyeol, Baekhyun, dan Kyungsoo hanya bisa menatap tak percaya.

"Da..rah?" Cicit Chanyeol pelan. Kai menatap Luhan panik lalu saat ingin melihat daerah sekitar tengkuk Luhan, Luhan segera memegang kedua tangan Kai erat.

"Anu…itu Kai. Aku akan menjelaskannya." Ucap Luhan cepat. Luhan merasa Kai sedang menahan amarahnya melihat warna wajah Kai yang menjadi merah.

"Menjelaskan apa, hah?! Itu daerah sekitar lehermu berdarah! Sini, balikkan badanmu aku ingin melihatnya." Ucapan Kai meninggi. Luhan semakin panik dan dengan cepat Kai membalikkan tubuh Luhan lalu ia melihat area sekitar leher Luhan yang… Demi apapun! Darah merah pekat itu mengalir hingga merembes ke kerah kemeja Luhan. Luhan hanya bisa diam.

"APA-APAAN INI, HAH?!" Teriak Kai penuh amarah. Chanyeol, Kyungsoo, dan Baekhyun segera berdiri dari kursi mereka dan melihat apa yang ada ditengkuk Luhan. Mata mereka terbelalak ngeri melihat luka sayat yang terdapat disana serta dibanjiri darah segar. Dengan paksa Luhan membalikan tubuhnya dan kini mengahadap menatap Kai dengan mata yang sudah berkaca-kaca antara menahan sakit dan takut.

"Aku bisa menjelaskannya, Kai!" Seru Luhan panik. Kai mencengkram kedua bahu Luhan dengan kuat. "Je-las-kan." Geramnya marah. Luhan meneguk ludah paksa. Suasana kantin entah mengapa menjadi sangat sepi dan semua mata tertuju pada tempat duduk kelimanya.

"Chanyeol! Ambil kotak P3K di uks, cepat! Ya Tuhan, Luhan." Titah Baekhyun panik menyuruh Chanyeol saat ia berdiri dibelakang Luhan dan melihat darahnya makin deras. Chanyeol pun segera lari secepat kilat menuju uks.

"Jadi, Kai, tadi aku ke perpus lalu saat asyik membaca novel, punggungku menabrak satu rak area buku-buku sejarah yang sudah agak tua. Dan tanpa sengaja leherku tertancap salah serpihan kayu tersebut." Bohongnya. "A-aku tidak sempat memplester lukaku karena stok plesterku sudah habis." Tambahnya cepat.

Kai menggeram tertahan. Karena ia sangat tahu bahwa kekasihnya ini tengah berbohong. Lalu Kai berdecih, "Kenapa kau tak mengatakan yang sejujurnya saja, Luhan?! Kau anggap aku ini apamu, hah?!" Teriak Kai marah sambil tambah mencengkram bahu Luhan. Air mata Luhan sudah mengalir deras karena takut, takut dengan kenyataan bahwa ia kembali mengecewakan Kai untuk yang kesekian kalinya.

"Sudahlah, tenang dulu, Kai! Kau hanya akan tambah menyakitinya!" Seru Kyungsoo sambil melepas paksa cengkraman Kai. Kai pun perlahan melunak dan melepaskan secara kasar cengkramannya. Tak lama kemudian Chanyeol datang dengan membawa kotak P3K, lalu dengan cepat ia menyerahkannya pada Baekhyun.

Baekhyun pun dengan hati-hati membersihkan darah Luhan dengan kapas. Luhan hanya memejamkan matanya dan menggigiti bibir bawahnya karena rasa perih yang begitu nyata. Kyungsoo masih setia mengusapi bahu Kai agar tenang. Chanyeol yang menyadari bahwa seisi kantin sedang memerhatikan mereka, lalu ia berseru

"Kalian pikir apa yang kalian lihat, huh?!" Para pasang mata itupun segera mengalihkan pandangan mereka dan mulai fokus pada kegiatannya semula. Baekhyun sudah membersihkan luka Luhan, dan ia kembali membersihkannya dengan tisu basah, lalu berkata, "Luka sayatanmu cukup dalam, Lu." Ucapnya pelan. Luhan hanya diam tak menanggapi. Dan dengan cepat ia meneteskan obat merah ke luka Luhan.

"AKH!" Jeritnya tak kuat. Baekhyun pun bergumam kata maaf berulang-ulang. Kai tak tega melihat Luhan yang sepertinya sangat kesakitan itupun membuat hatinya serasa teriris, dan dengan cepat ia merengkuh tubuh mungil Luhan kedekapan hangatnya.

"Sshh…tenang, Lu. Kau harus tahan, sebentar lagi lukamu beres." Bisik Kai lembut sambil terus mengusapi sayang punggung Luhan. Luhan mencengkram lengan Kai kuat-kuat guna melampiaskan rasa nyerinya. Ia menangis didada Kai, menangis karena perih dan menangis karena lagi lagi Kai menyerah padanya yang telah berulang kali membuat prianya ini kecewa.

"Dan, selesai!" Girang Baekhyun saat selesai menempelkan plester bermotif rusa pada luka Luhan. Kai pun perlahan mengangkat wajah Luhan yang telah berair mata dimana mana agar menatapnya. Keduanya tengah bertatapan dengan pandangan bersalah.

"Maafkan aku sudah membentakmu tadi, Lu." Ucap Kai menyesal. Luhan menggelengkan kepalanya pelan, "Tidak, Kai. Aku yang salah, aku minta maaf padamu karena telah berbohong padamu untuk yang kesekian kalinya, Kai. Maafkan aku hiks.." Tangis Luhan pecah dan langsung menenggelamkan kepalanya ke ceruk leher Kai. Kai tersenyum lembut lalu tangannya bergerak mengusapi punggung serta kepala Luhan dengan sayang.

"Sudah, sayang. Tak usah menangis lagi. Aku juga minta maaf. Aku mencintai rusaku, sangat mencintai rusaku." Gumam Kai tulus lalu berulang kali mengecupi pucuk kepala Luhan. Luhan merasa sangat jahat pada Kai saat ini, karena mendengar pernyataan cinta Kai untuk yang kesekian kalinya, sedangkan kini hatinya seolah-olah telah terperangkap dalam pesona Sehun, dosennya sendiri.

Baekhyun dan Chanyeol tersenyum lembut melihat sepasang sahabatnya. Dan kyungsoo pun tersenyum juga. Disatu sisi tersenyum karena bahagia Luhan bisa mendapatkan Kai yang begitu tulus serta sayang kepadanya, dan disatu sisi lainnya tersenyum pedih melihat orang yang ia cintai dalam diam—Kai yang begitu mencintai sahabatnya sendiri.

.

.

.

.

.

"Loh? Hari ini memakai motor ya." Ucap Luhan saat dirinya dan Kai berada di parkiran kampus. Kai terkekeh pelan lalu mengusak sayang rambut hitam Luhan.

"Ya, karena Hyeshin memaksaku untuk meminjamkannya mobil." Ceritanya dengan wajah yang dibuat-buat cemberut, Luhan pun gemas dengan tingkah Kai lalu mencubiti pipi Kai kencang.

"Hih, berhenti memasang wajah jelek seperti itu, Kai. Kau terlihat seperti orang dungu." Tawa Luhan sambil terus mencubiti gemas pipi sang kekasih. Mau tak mau Kai juga ikut tertawa dan tak lama memegang kedua tangan Luhan yg sedang mencubitinya. Luhan pun seketika diam.

"Mataku yang salah, atau memang kau yang semakin hari semakin cantik saja, ya? Luhanku cantik sekali, begitu memikat." Puji Kai yang berhasil membuat pipi Luhan merona malu.

"Aku tampan, Kai." Elak Luhan yang mendapat tawa keras dari Kai. Luhan terpana melihat Kai tertawa dengan jarak yang sedekat ini. Hatinya kembali bergemuruh, disatu sisi ia senang melihat Kai nampak sangat senang dengannya, namun disisi lainnya ia kembali merasa jahat pada orang yang sangat mencintainya dengan tulus ini karena hatinya mulai tertuju pada Sehun.

"Kaimu ini memang tampan, baru menyadarinya?" Goda Kai saat ia menangkap basah Luhan yang tengah menatap terpana padanya. Luhan mendengus sebal lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Kai, kemudian ia mencium bibir tebal Kai dengan lembut dan penuh perasaan seakan menyalurkan apa yang ia rasakan saat ini. Kai diam belum merespon. Untungnya keadaan parkiran sekarang sangat sepi, dan tempat Kai memarkir motornya berada diujung. Kai tersenyum dalam ciuman lembut Luhan dan perlahan membalas ciuman sang kekasih.

"Ka-Kai..hmmhh ingatkan aku ahhh,,hmph bahwa aku hh hanya mencintai diri..nngghh mu." Ucap Luhan disela sela pagutannya dengan Kai yang entah sejak kapan menjadi sangat panas. Kai menggigit bibir bawah Luhan sebagai jawaban, lalu pada kesempatan itu ia menelusupkan lidahnya ke goa hangat si cantik. Lidah mereka saling beradu dan tentu saja Kai yang lebih dominan dan berakhir sebagai juara. Ciuman mereka semakin intens serta merta dengan gairah yang diubun-ubun. Luhan memukul-mukul dada Kai pertanda ia sudah sesak, namun Kai malah makin mendorong tengkuknya—yang tadi luka— agar semakin memperdalam tautan mereka.

Luhan meringis menahan nikmat serta sakit disaat yang bersamaan. Ia nikmat karena Kai selalu bisa memanjakan bibirnya, dan ia sakit karena tengkuknya yang terluka ditekan oleh Kai serta sesak karena nafasnya nyaris habis. Dengan kekuatan yang tersisa, Luhan menendang benda diantara selangkangan milik Kai dengan lututnya keras-keras.

"AAAKHH!" Ringis Kai ketika ia sudah melepaskan pagutan panasnya dengan kedua tangan yang memegangi area pribadinya. Nafas Luhan tersenggal-senggal dan wajahnya pun merah padam.

"Ini sakit, bodoh. Ahh..jahat sekali dirimu." Sungut Kai sebal sambil terus memegangi adik kecilnya. Luhan menoyor keras kepala Kai dan berkata, "Kau hampir membuatku mati karena kehabisan nafas, bodoh bodoh bodoh! Sekarang siapa yang jahat, hah?!" Maki Luhan sebal. Kai pun tertawa canggung mendengarnya,

"Sudahlah, sekarang cepat kau antarkan aku pulang. Aku ingin mengerjakan tugas yang diberikan Sehun tadi." Ucapnya. Kai pun mengernyit tak suka mendengar nama 'Sehun'.

"Ayo, cepat, Kaaaiii! Besok pagi tugasnya harus sudah ada dimeja Sehun! Aku harus mengerjakan tugasnya segera." Teriak Luhan ketika dilihatnya Kai malah melamun. "E-eh iya, Lu. Ayo kita pulang." Balasnya dan langsung menduduki motor dengan Luhan dibelakangnya. Mereka pun segera melesat menuju apartemen Luhan.

Tanpa mereka sadari, sedari tadi kegiatan mereka mulai dari acara 'mencubiti-pipi' dan berakhir berlalu dari parkiran, ada sepasang mata yang menyaksikan semua itu dengan jelas. Ia pun mengepalkan tangannya kuat-kuat menahan amarah. Tak lama kemudian ia menyeringai,

"Berstatus kekasih? Kai, namanya? Hah, baiklah, akan kukasih pelajaran kau setelah ini. Berani-beraninya menyentuh apa yang bukan hakmu. Milikku dengan semena-menanya kau sentuh." Desisnya menakutkan. Tak lama kemudian, ia mengeluarkan sebuah pisau lipat agak berkarat dari saku kemejanya dan menatap tajam benda tersebut.

"Mungkin untuk pemanasan saja, kurasa dengan ini cukup." Desisnya lalu mencium pisau agak berkarat itu cukup lama, kemudian tertawa pelan. "Hadiah pertamaku untukmu, Kai-kun." Gumamnya tajam. Dan tak lama setelah itu ia pun segera keluar dari tempat persembunyiannya lalu mengambil motor ninjanya dan langsung melesat menuju apartemennya. Aku tak perlu memberitahu kalian siapa orang itu, bukan?

.

.

.

"Kau serius akan pergi, ketua?" Tanya Minseok —yang kesekian kalinya. Sang ketua—Suho pun menatap jengah kearah bawahannya itu. "Ayolah, Min. Kau pikir aku bercanda?" Balasnya malas. Minseok hanya nyengir tak berdosa.

"Jadi, kau akan kemana dulu? Jepang? Cina? Atau Korea?" Tanyanya serius. Suho terlihat berpikir, namun ia mendesah pelan. "Hhh…aku juga belum diberitahu, Min. Jadwal untuk kunjungan ketiga Negara tadi sudah diatur oleh detektif itu." Balasnya. Minseok menaikkan satu alisnya lalu berkata,

"Detektif asal Cina-Kanada itu? Aduh namanya siapa aku lupa…" Suho menatap Minseok malas dan langsung berkata, "Kris. Kris Wu, Min." Minseok terkekeh ringan setelah berhasil mengingatnya.

"Dan, kita pernah kan sekali meminta tolong padanya untuk menangani kasus premanisme didaerah pinggiran California bulan lalu?" Suho menganggukkan kepalanya mengiyakan. Minseok pun menjentikkan jarinya lalu berkata,

"Orang yang tinggi maksimum, tampan, serta mempunyai otak encer dengan rambutnya yang hitam tipis hampir plontos." Ucapnya sambil menerawang membuat Suho mau tak mau tertawa."Dan yang aku dengar, ia juga sering dimintai bantuan oleh beberapa kepolisian dari berbagai daerah ataupun kota bahkan Negara-negara besar, seperti yang kepolisian kita lakukan saat ini." Ucapnya setelah berhasil mengehentikan tawanya.

Minseok menganggukan kepalanya sambil tersenyum, "Kurasa dengan kecerdasan otaknya itu, ia mampu menangani kasus keji seperti ini, ketua." Ucapnya. Suho menganggukan kepalanya setuju, "Ya, dan aku yakin kasus ini akan cepat tuntas lalu kita berhasil menjebloskan Andrew Wastr ke sel tahanan yang dingin. Ia akan dikenai pasal berlapis dan denda yang terbilang fantastis, kau tahu." Ucap Suho.

"Yup! Aku benar-benar tak sabar ingin segera menginterogasinya disini nanti." Geram Minseok. Suho terkekeh pelan mendengarnya.

TRING!

You have a new message! (11:00 PM)

From: Detektif Wu

To:

Selamat malam, ketua Kim. Maaf jika saya mengganggu anda. Saya ingin memberitahukan bahwa kita akan melakukan perjalanan pertama ke Jepang. Jadwal keberangkatan anda dua hari lagi. Siapkan seluruh alat-alat yang biasa anda gunakan saat menangani kasus dan bawa biodata serta berkas-berkas kasusnya. Saya akan menunggu anda dibandara nanti. Terima kasih.

"Rasa penasaranmu terjawab, Min." Ucap Suho sambil memperlihatkan pesan singkat dari sang detektif kepada Minseok. Minseok pun membaca pesan singkat itu dengan seksama dan tak lama kemudian ia menyunggingkan senyuman tipisnya.

"Jadi, sementara kau pergi, kita akan diketuai oleh?" Tanya Minseok. Suho tersenyum kecil lalu menjawab, "Kepolisian kita akan ditangani oleh ketua Cho. Dia merupakan ketua kepala dari kawasan San Fransisco, kau tahu kan?"

Minseok menganggukkan kepalanya, "Si bijaksana garis Korea. Tampan dan dipuja." Suho mengangguk mengiyakan, "Kalau dia yang menangani, paling-paling tak jauh beda dariku." Gumamnya.

"Sepertinya." Minseok menaikkan satu alisnya.

.

.

.

.

.

"Selamat pagi." Sapa Sehun ramah ketika ia memasuki kelas dan dimejanya sudah terdapat tumpukan kliping yang mana adalah tugas yang ia berikan kemarin.

"Selamat pagi." Jawab para mahasiswa kompak. Sehun pun langsung menuju mejanya dan segera memeriksa tugas-tugas yang ia berikan.

"Aku minta dikerjakan sepupuku, kau tahu." Kekeh Baekhyun pelan kepada Kyungsoo dan Luhan yang ada disamping kanan kirinya. Kyungsoo menjitak pelan kepala Baekhyun lalu berkata, "Apa begitu malas? Memanfaatkan sepupu cerdas." Cibir Kyungsoo dan hanya dibalas dengusan oleh Baekhyun.

"Luhan mengerjakannya sendirikah? Materi tentang perundang-undangan kan lumayan banyak, apa tidak malas?" Tanya Baekhyun teralih pada Luhan. Luhan menganggukkan kepalanya imut, "Aku kan mahasiswa yang rajin dan teladan." Ujarnya bangga membuat Kyungsoo mendecih.

"Bilang saja semangat mengerjakannya karena teringat pada yang memberikan tugas." Sindirnya sambil melirik sekilas kearah Sehun yang masih sibuk memeriksa tugas-tugas. Luhan menghela nafas sabar.

"Dan, Luhan. Kau berhutang penjelasan pada kami tentang insiden 'berdarahnya-tengkukmu- dikantin' kemarin." Ucap Baekhyun serius. Kyungsoo pun mengangguk mengiyakan, Luhan hanya meneguk ludah paksa, "Itu, jadi—"

"Maju kedepan, Lu Han." Ucapan Luhan terpotong karena sebuah suara menintrupsinya, suara Sehun. Luhan menatap gugup kedua temannya bergantian 'apa karena kita mengobrol? Kenapa hanya aku yang dipanggil?' arti tatapannya. Keduanya mengedikkan bahunya lalu Kyungsoo berucap tanpa suara, "Maju saja, sana." Luhan pun perlahan bangkit dari kursinya dan mendekati Sehun dengan langkah kikuk.

"Hasil klipingmu terlalu banyak kata-kata yang tidak efisien, Luhan." Ujar Sehun saat Luhan sudah berada dihadapannya. Luhan menatap Sehun canggung, ia benar-benar telah mengerjakannya dengan teliti dan tentunya dengan kalimat yang efisien! Apa yang salah? Ia bahkan membaca berulang-ulang tugasnya agar sempurna seutuhnya, namun apa yang Sehun katakan sangatlah berbanding terbalik dengan ekspektasinya! Kenapa jadi seperti ini? Pikir Luhan bingung.

Sehun menaikkan satu alisnya sambil menahan senyum melihat raut wajah Luhan yang bingung. Lalu ia mengambil kliping punya Luhan dan menyodorkannya, "Perbaiki ini. Aku beri waktu kau sebelum petang nanti, harus sudah ada di mejaku. Paham?" Perintahnya. Luhan menganggukkan kepalanya pelan dan Sehun mau tak mau menampakan senyumannya.

"Kau boleh duduk. Ingat sebelum petang nanti, aku menunggumu, Lu-han." Ucap Sehun pelan namun sarat akan ketegasan. Luhan mengangguk lagi lalu segera berjalan menuju mejanya.

.

.

.

"Apa tidak apa-apa pulang sendiri?" Tanya Kai khawatir. Luhan memutar kedua bola matanya malas lalu berkata, "Iya, Kai. Aku bukan balita lagi." Balasnya mencibir lalu Kai terkekeh pelan dan mengusak sayang rambut Luhan.

"Ingat ya, setelah selesai mengerjakan tugas si dosen mayat itu, segera kumpulkan dan langsung pulang, mengerti?" Kai mengingatkan. "Mayat." Luhan mengulang ucapan Kai dengan nada sakarstik.

"Selalu membelanya." Gemas Kai sambil menjewer telinga kanan Luhan. Luhan melepas paksa tangan Kai dan memukul kepala kekasihnya itu, "Beda. Dia memang bukan mayat, bodoh. Mana ada mayat setampan dan semenawan dia?" Ledek Luhan sambil memeletkan lidahnya dan melambaikan tangannya kearah Kai menuju kantin kampus. Kai tersenyum kecil melihat tingkah Luhan dan kemudian ia termenung. Ia takut bahwa firasatnya benar. Bahwa ia tak lagi dapat memiliki Luhan hanya karena dosennya sendiri. Tak biasanya Kai memerdulikan perihal kebiasaan Luhan yang mudah sekali menyukai orang lain. Tapi Kai merasa kali ini berbeda. Entah apa itu ia tak tahu pasti. Yang jelas, akhir-akhir ini Kai selalu berharap,

"Jangan alihkan hati Luhanku kepada orang lain, ya Tuhan." Gumamnya masam lalu dengan cepat menaiki motor ninjanya dan melesat menuju rumah.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC


Hay hay?! Balik lagi nie dengan chap 2! Yehew, gimana gimana? Suka atau malah aneh? Semoga ini ga ancur dan memuaskan kalian ya huhu:') oke deh, ga banyak cingcong, abis baca review dong ya?! Harigatou^^~