Ini sudah sebulan semenjak Touma berada di Jepang. Selama itu jugalah dia kesana-kemari mencari kabar tentang keluarganya, walau pun sejauh ini hasilnya masih nihil. Touma sempat kesal sekali dengan kakaknya. Karena entah bagaiman caranya, tiba-tiba saja dia dihubungi oleh pihak Tōtsuki dan mengatakan agar dia datang hari ini untuk mengikuti upacara pembukaan.
Saat itu Touma kesal, dia mengira hal ini ada campur tangan kakaknya satu itu. Ternyata dia salah kaprah. Kepala sekolah Tōtsuki yang bernama Nakiri Sanzaemon ternyata melihatnya saat tes dan mencoba makanannya. Pada saat diberi tahu perihal tentang upacara pembukaan suara penelphonnya agak beda, ternyata yang memberi tahunya adalah Nakiri Sanzaemon sendiri. Pantas saja suaranya tidak ada merdu-merdunya.
Di Tōtsuki, Touma serasa artis. Semua orang melihat dan membicarakan dirinya. Memang benar kata orang, setiap tindakan pasti ada hasilnya. Akibat kejadian tadi pagi saat pembukaan, Touma benar-benar berasa artis. Sebenarnya Touma sendiri merasa tindakannya tadi pagi agak berlebihan.
Salahkan rasa kesalnya yang masih tersisa dari tempo hari, akibat bocah tak tau diri yang sudah ia lupakan namanya itu. Akibat bocah itu, Touma baru saja melakukan sebuah pidato yang luar biasa dan sukses menjadikan satu sekolahan menjadi musuhnya.
Nee-chan pasti sangat senang saat tahu dia dimusuhi satu sekolahan.
"Itu bagian menariknya!"
Tch, menarik dari mana. Anggaplah Touma itu bebal -yang nyatanya memang bebal- jadi Touma tidak merasa di hina. Lagi pula Touma merasa tidak butuh teman. Memangnya siapa yang mau berteman dengan gay sepertinya? Touma agak ragu akan hal itu. Apalagi di negara ini.
Kembali. Touma memang agak –sangat- bebal, jadi dia kebal hinaan. Lagian dia itu tipe masa bodo, kalau soal seperti itu. Tapi, telinganya ini jadi sangat sensitif kalau mereka sudah membahas 'dari mana asal si anak baru itu?' kalau topiknya masuk ke situ Touma jeli sekali. Bukannya apa, tapi Touma ngeri saja membayangkan nama Ame'Ist diseret-seret. Untungnya saat ini dia masih aman.
Tapi sungguh! Touma benar-benar merasa terkenal sekarang. Semua orang mendadak mengenalnya. Semua orang membicarakannya. Agak idiot sebenarnya, tapi Touma lumayan senang sudah bisa menggemparkan sekolah barunya ini. HAHAHA!
Terkutuklah pikiran abstrak milik nee-chan, yang sudah mengotorinya!
... ...
Remettre
.
Shokugeki no Souma Fanfiction
Saeki Shun, Tsukuda Yuuto, Morisaki Yuki
(A) Kou 'd Bear
.
Warning!
Alternate Universe/Reality
BoysLove, Yaoi, Gay
Typo, OOC, OC
.
Newbie darling
.
~Don't like, Don't read~
... ...
Padahal ini hari pertama, tapi di Tōtsuki mereka sudah mulai pelajarannya. Mungkin karena hanya Souma yang berhasil masuk ke Tōtsuki jalur SMA, yang lainnya? Mereka mulai dari SMP. Jadi mereka semua sudah ada antisipasi buat tempur. Tugasnya di hari pertama ini adalah memasak sejenis beef steak secara berkelompok.
Touma sekelompok dengan seorang gadis bersurai biru tua. Namanya Todokoro Megumi. Walaupun anaknya terlihat pemalu dan gugupan, Touma bisa melihat potensi dari gadis berwajah polos di depannya itu. Walau pun tidak terlihat, sebenarnya Touma tau kalau gadis itu sebenarnya enggan berpasangan dengannya. Tapi rasa keenganan yang ada pada gadis itu agak beda, terkesan seperti rasa takut.
Touma mantan anak jalanan makanya dia peka sekali kalau membahas rasa takut, hormat, apalagi semangat.
Yah, semoga hari ini akan berakhir baik...
... ...
Walaupun ada kendala yang hadir dikelas tadi karena ulah iseng 2 anak kurang kerjaan, tapi pada akhirnya Touma dan Todokoro berhasil mendapat nilai tertinggi sedangkan mereka dapat..yah nilai begitulah. Terimakasih kepada sifat hobi eksperimennya yang selalu menolongnya pada saat terdesak. Touma juga sadar rasa takut Todokoro sudah berganti dengan rasa hormat dan kagum. Rasanya senang juga ternyata kalau ada yang kagum dengan kita, pantas saja banyak orang yang ingin dikagumi. Berbicara tentang kagum, Touma jadi ingat sesuatu.
Elite Ten. Sebelumnya Touma pernah mendengar tentang mereka dari Manager-san. Touma tau ini adalah wilayah kekuasaan Elite Ten, tapi Touma ngeri juga melihat para murid begitu memuja mereka dan agak...di luar batas. Kenapa Touma menganggapnya diluar batas? Biar ku ceritakan, jadi...
Setelah kelas memasak tadi selesai, Touma tak sengaja melihat si Nakiri Erini dan asistennya. Touma tidak heran, mereka satu sekolah dengannya jadi mengapa harus dia bingung melihat mereka. Toh, mereka satu angkatan. Yang membuatnya heran adalah apa mereka tidak merasakannya? Saat melihat mereka berdua, Touma tidak sengaja melihat bayangan mengerikan di belakang-cukup jauh dari mereka.
Bayangan itu berdiri diujung lorong, sambil tertawa-tawa seram. Setelah Touma perhatikan ternyata itu manusia beraura setan. Kelam, pekat, menakutkan, dan sangat pantas untuk dijauhi. Touma ngeri melihatnya. Orang itu (yang diyakininya adalah perempuan) memakai teropong untuk melihat si Nakiri, siapa sangka di Jepang sudah menyebar virus Yuri alias lesbi? Awalnya si Touma niat jadi Elite Ten. Tapi, kalau fansnya bisa seperti ini...mungkin Touma harus pikir-pikir lagi.
Omong-omong kalau bicara tentang 'memakan' sesama jenis, Touma jadi ingat Todokoro. Dan~ Touma baru saja mengetahui sesuatu tentang gadis pemalu ini.
Todokoro itu Fujoshi dan di seorang penganut yuri.
Sekilas, cuplikan...
" Touma-kun, seperti apa tipe orang yang kau sukai?"
"Ah, aku suka yang gentleman"
"Gentleman?"
"Iya, yang gentle. Yang bisa mengimbangiku dan bisa menjagaku"
"Ano...Touma-kun. Bukankan gentleman adalah kata untuk seorang pria"
"Memang. Maaf aku mungkin tidak memenuhi ekspetasimu sebagai seorang pria-"
Kalimatnya itu tidak jadi selesai. Mau selesai bagaimana, kalau si Todokoro malah teriak-teriak gaje tak henti-henti. Ternyata si Todokoro fujo. Pantas dia teriaknya, teriak ala-ala maniak.
Yah, begitulah pertemanan Touma dan Todokoro terjalin.
Dan siapa bilang Todokoro itu pendiam, jangan dipercaya. Itu cuma cover saja. Nyatanya ini bocah satu, ngomongnya gak henti-henti. Cocok sama Touma waktu sudah masuk mode ngegosip. Todokoro cerita banyak hal, salah satunya satu-satunya asrama yang disediakan oleh sekolah ini. Heran. Rasanya ini sekolah gedenya kelewatan, tapi kok bisa menyediakan asrama cuma sebiji nan jauh diujung sana.
Tau kan Tōtsuki itu gede sekali. Nah! Ternyata sekolah itu di bagian pusatnya. Sedangkan untuk bagian pingir-pingir masih hutan. Buat Go Green katanya. Asrama Bintang Polar, asramanya Todokoro berada di sana dan sekarang Touma dan Todokoro sedang dalam perjanan menuju kesana. Terlalu asik berbincang memang bisa membuat seseorang lupa waktu, hal itu berlaku untuk semua orang. Termasuk Touma yang lupa waktu, sampai kelewatan bus terakhirnya.
Akhirnya, dimulailah perjalanan Touma ke asrama Todokoro untuk menginap disana. Sebenarnya Touma bisa saja pulang dengan berjalan kaki, tapi Touma terlanjur penasaran dengan asrama Bintang Polar. Lagipula, Todokoro ingin mengenalkan senpai satu asramanya. Siapa tahu senpainya Todokoro itu masuk tipe Touma.
...
Setelah jalan sangat-sangat luar biasa jauh, Touma dan Todokoro sampai di Asrama Bintang Polar. Touma tercengang. Touma kira Asrama Bintang Polar akan, hmm...yah, setidaknya, bergaya kuno-kuno gitu tapi megah. Tapi, kenyataannya? realita itu memang kejam~ Touma heran sendiri, ini sebenarnya asrama apa sarang hantu. Kok bentuknya mirip sarang hantu? Keren si, berasa beda gitu.
Tapi ini asrama satu-satunya loh, yang paling penting...ini deket hutan loh. Sekitar sini pohon semua loh! Kalau ada apa-apa gimana? Touma jadi sangsi kalau mau bilang Todokoro itu sebenarnya normal- ups! Diam emang gak normal ding, agak menyimpang gitu.
Bentuk asramanya saja dari luar sudah tidak meyakinkan, apalagi dalamnya. Sama-sama tidak meyakinkan. Penghuninya aneh semua, hmm beberapa setengah aneh. Tapi mereka semua benar-benar unik. Insting Touma tajam, ingat? Mereka semua punya senjata masing-masing, tidak seperti murid-murid lain yang hanya mengandalkan posisi orang tua atau modal untung-untungan. Andai Touma belum ada apartement, mungkin dia akan mencoba tinggal disini.
Setelah dipikir-pikir lagi, mungkin itu ide buruk.
Seumur hidup dia sudah bergaul dengan orang-orang berotak miring, bahkan otaknya sendiri sudah mulai bergeser. Jangan sampai bener-bener miring. Touma itu freak. Tapi setidaknya dialah yang paling normal diantara orang freak, kalau dibuat level 1-5, Touma berada di level 3. Kasihan orang yang akan menjadi kekasihnya nanti, walaupun Touma yakin nanti dia akan mendapat kekasih yang sebelas-duabelas seperti dirinya. Touma sama sekali gak keberatan kok~
Walaupun berkependudukan aneh, para penghuni Asrama Bintang Polar baik-baik orangnya, mereka ramah dengan orang baru sepertinya. Saat ini saja mereka menggelar pesta untuk menyambutnya sebagai teman dan murid baru, yang ternyata mereka hanya mencari alasan untuk di ijinkan tidur malam dan membuat keributan. Senpai yang ingin di kenalkan Todokora namanya Isshiki-senpai. Isshiki-senpai itu sangat mencolok -dalam artian sebenarnya-. Touma kurang ngerti sama jalan pikirnya, ini malem loh, kamar orang loh, banyak orang loh, ada anak baru loh! Tapi kok bisa dengan santainya dia hanya memakai apron pink bergambar beruang.
Sekalian cuci mata sih, badannya ada isinya juga kok. Kotak-kotak macam roti sobek, Touma berasa full lagi jadinya. Isshiki-senpai ini, mirip uke. Tapi biasanya yang begini malah nipu. Touma berani jamin dia itu seme. Tipe maso.
"Kaerou-san, kalau mau mandi bilang saja. Tidak usah khawatir masalah baju, kami bisa meminjamkannya kok." Yang ngomong tadi itu Marui-san. Si pemilik kamar yang saat ini di jadikan tempat pesta, walaupun sepanjang jalan kenangan dia hanya mengomel dan menggerutu yang topiknya tidak jauh-jauh dari 'Kenapa pesta di kamarku?'.
Marui-san, si pemuda berkacamata ini memperlakukan Touma benar-benar sebagai tamu. Pemuda kutu buku ini sepertinya peka sekali dengan keadaan Touma. Touma memang sedang merasa gerah karena belum mandi, ternyata pemuda berkacamata itu sadar.
"Pinjam baju siapa, Marui-san?"
"Kau bisa meminjam baju Ibusaki-kun. Kalian sepertinya seukuran." Ibusaki. Pemuda tanpa mata, bukan benar-benar tanpa mata. Hanya saja poninya itu yang terlalu panjang, sampai-sampai matanya tak terlihat. Touma saja baru tahu seorang koki boleh memanjangkan poninya sampai menutupi mata. Maklum, Nee-channya sangat ketat peraturan.
Pemuda itu hanya mengeluarkan gumanan, lalu berdiri dan pergi keluar kamar. Touma takut sudah menyinggungnya, ternyata Ibusaki pergi untuk mengambil perlengkapan mandi untuknya. Bahkan ada sikat gigi baru dan sabun cuci muka yang biasa dipakainya, kenapa dia bisa tau sabun muka Touma? Apa kebetulan mereka menggunakan merk yang sama ya, mungkin saja sih. Touma sedang tidak mau berpikir yang berat-berat, jadi dia terima saja peralatan mandi yang diberikan oleh Ibusaki.
Akhirnya Souma pergi mandi. Berpamitan dengan para teman pestanya, Touma berjalan perlahan ke kamar yang telah diberitahu adalah kamar Ibusaki. Tanpa mengetuk pintu Touma masuk dan meletakkan bajunya di atas kasur yang ada di kamar itu. Setelah tinggal dengan nee-channya Touma menjadi terbiasa mengganti baju di kamar, bukan di kamar mandi. Berhubung mereka semua sedang sibuk berpesta Touma yakin sekali kalau mereka tidak akan kesini mencarinya, lagipula dia sudah meminta ijin.
Dari kaus biru dongker yang dipakainya sampai ke celana hitam miliknya, mulailah ia tanggalkan. Kulit seputih susu dan sehalu sutra miliknya mulai terlihat. Goresan-goresan luka sebagai penghias, selalu menjadi pengingatnya akan masa lalu itu terpampang nyata. Dulu sekali, Touma membenci semua luka yang tergores di seluruh tubuhnya. Setiap kali luka-luka itu terlihat, Touma selalu merasa jika dirinya itu...kotor.
Tapi, itu semua masa lalu.
Dulu.
Sekarang, Touma belajar mensyukuri apa yang dimilikinya. Dia tak mau menyesali apa yang terjadi padanya. Kalau dia menyesalinya...bukankah sama saja dia menyesal telah bertemu dengan nee-channya?
Kaki-kaki jenjang milik Touma melangkah masuk ke kamar mandi yang ada disana, sebenarnya ini cukup mengejutkan. Kamar ini memiliki fasilitas yang lebih dari cukup jika dibandingkan dengan kamar Marui-san. Bicara tentang Marui-san, ingatkan Touma untuk memintanya memangil Touma dengan Touma bukan Kaerou. Nama itu terlalu terhormat untuk disandang dirinya.
Touma tau sekali dengan kebiasaannya yang bergalau ria saat mandi. Maka daripada membuat para teman barunya menunggu, Touma memilih mandi air dingin. Yah, walau kemungkinan dirinya untuk terkena demam besok sangat besar, tapi lebih baik begitu dari pada membuat mereka menunggu. Bagaimanapun, sebagai seorang tamu dia harus sadar diri.
Selesai dengan mandi kilatnya. Touma segera pergi keluar kamar mandi untuk memakai bajunya dengan hanya dilapisi sebuah handuk kecil dipinggangnya, tapi disana dia melihatnya...
Seorang pria tampan bersurai coklat muda dengan perut kotak-kotak. Tanpa atasan ataupun bawahan. Hanya dilapisi selembar apron pink bergambar beruang.
Dear God, thank you for my blessed soul.
Really.
Disana. Didepannya. Isshiki-senpai berdiri sambil melihatnya kaget dengan apron yang sudah nyaris terlepas dan hanya menutupi 'miliknya' saja. Lama-lama Touma bisa jatuh cinta dengannya kalau begini terus. Kokoro Touma belum siap untuk melihat pemandangan seindah ini
"Ne, Touma-kun...", suara Isshiki-senpai berbeda sekali dengan yang tadi. Yang ini lebih berat, gelap, dan berkesan...menggoda.
"Apa kau sengaja ingin menggoda senpaimu ini?" mata tajam senpainya itu menatap Touma lekat, seakan-akan Touma mangsa siap terkam. Touma sadar seketika. Dikamar ini hanya ada mereka berdua. Isshiki-senpai buka baju dan Touma tanpa baju. Sebuah bayangan mesum yang harus disensor, melintas sekejap mata di otak Touma. Tanpa ada peringat wajah Touma memerah seperti buah tomat. Tubuh tanpa halangan miliknya ikut-ikutan memerah. Touma gelagapan seketika, nyaris mirip seperti ikan yang kekurangan air.
Sebelum kedua belah bibir merah merona miliknya dapat membentuk sebuat kata, sebuah tangan putih nan kekar menariknya dangan kuat. Touma memekik, siap-siap untuk terjatuh. Touma memang terjatuh. Namun, dia terjatuh dan terlentang pada sebuah objek empuk bernama kasur dengan posisi miring, jangan lupakan keberadaan Isshiki-senpai yang berada di atanya. Memenjara. Memerangkapnya. Seperti burung dalam sangkar.
Touma kaget bukan kepalang. Bayangan-bayangan mesum membanjiri otaknya dan semakin parah. Hawa dingin meyengatnya disana sini, tapi bukan hal itu yang membuatnya meremang. Tatapan mata yang sayu dan tajam itu menusuknya. Kepala surai coklat itu mendekat. Reflek, Touma menutup matanya kuat-kuat dan meremas seprai dengan ganasnya.
"Jangan pasang wajah menggoda begini, atau... Touma-kun memang ingin ku terkam?"
Touma membuka kembali sepasang matanya dengan sekejap, setelah mendengar senpainya berkata begitu. Namun, yang didapati Touma adalah sepasang mata berwarna biru seteduh laut yang sedang ditutupi kabut gelap bernama hasrat menatap lurus ke sepasang mata beriris emasnya. Hasrat itu ada di mata senpainya itu. Tanpa komando tubuh Touma menggigil.
Tangan kekar milik Isshiki mulai merambat dari dadanya, perlahan-lahan naik, namun tanpa menyentuh bagian tersensitif didadanya itu. Sengaja. Senpainya itu sengaja menggodanya dan godaan itu ditanggapi baik oleh tubuh Touma, erangan lembut terlepas dari kedua belah bibir merona Touma. Tangan itu bergerak naik dan sampai di pipi putih nan kenyal milik Touma.
"Senpai...", suara Touma mengalun pasrah.
Dengan suasana yang luar biasa mendukung itu, kedua kepala berbeda surai itu mulai mendekat satu sama lain tanpa tau siapa yang memulai. Mereka mendekat dengan tempo lambat untuk merasakan satu sama lain dengan lebih jelas. Irama nafas mereka satu, sama, serempak. Masing-masing dari mereka membiarkan belahan bibir mereka sedikit terbuka, bahkan sebelum bersentuhan.
Tanpa ragu, mereka saling mendekat. Sepasang mata milik mereka pun tetap terbuka dan saling menatap sayu satu sama lain...
BRAK!
"ISSHIKI-SENPAI!", gema teriakan dari dua vokal berbeda terdengar.
Sepasang kaum adam itu mendadak sadar dan menjauhi satu sama lain sebagai reaksinya. Sedetik kemudian, sepasang adam itu menoleh kearah pintu yang terbuka lebar dan berdirilah dua orang muda-mudi disana. Todokoro yang sedang berkaca pinggang dan Ibusaki yang...tidak dapat dijelaskan.
"Senpai! Awalnya aku memang menaruh harapan besar padamu sebagai pendamping Touma-kun. Tapi, aku berbah pikiran! Touma-kun tidak boleh dengan senpai. Karena kalau dengan Senpai, kalian berdua hanya menjadi sex friend. Aku tidak terima itu!...blablabla", iu tadi Todokoro yang bicara. Touma sudah bilangkan kalau Todokoro itu sebenarnya cerewet, lihat saja bagaimana dia mengomel.
"Beraninya senpai mendahuluiku", kali ini Ibusaki yang berkata. Tidak berteriak hanya geraman saja, geraman singa marah beserta aura hitam pekat sebagai latar belakang.
Isshiki dan Touma berpandangan sesaat, bersamaan mereka membuang napas berat.
Ada apa dengan dunia?
... ...
Setelah insiden IsshikixTouma, para warga Bintang Polar sekalian mendadak posesif sekali dengan Touma. Mereka selalu berusaha menjauhkan Touma dari Isshiki. Padahal sebenarnya Touma biasa saja, hal seperti nyatanya sudah lumrah bagi kalangan remaja. Ini pun bukan kali pertama Touma melakukannya, Touma yakin Isshiki-senpai pun sama.
Hei! Jaman sekarang melakukan hubungan seks sebelum menikah bukan hal yang aneh lagi. Lagipula, setau Touma di Jepang kalau seorang gadis masih perawan saat dinikahi mereka akan dianggap rendah. Miris memang. Tapi itu faktanya, dan Touma bukanlah termasuk remaja yang dapat memegang teguh kesucian mereka. Lagian, hal itu sudah lama hilang dari Touma.
Lama sekali...
Yah, Touma harus mengakuinya juga sih. Rasanya hangat saat banyak orang peduli denganmu.
Dan tanpa sadar segaris tipis senyuman muncul di wajahnya.
Selama ini lingkungan Touma hanya sebatas lingkaran nyamannya saja. Touma bersyukur dia memutuskan untuk pergi. Bukankah saat ini adalah saat yang tepat untuk tumbuh dewasa? Touma kembali menatap ke sekitarnya yang dipenuhi remaja sebayanya. Mereka membicarakan banyak hal, mulai dari masakan sampai ke planet-planet tata surya. Sudah dia bilang, mereka semua itu tipe manusia abstrak.
Touma ikut tertawa saat mereka tertawa. Jika jujur sebenarnya Touma tidak tahu apa yang mereka bicarakan, tapi rasanya Touma ikut terseret kebahagiaan mereka semua. Akhirnya Touma menatap ke jendela besar dekat dirinya. Menatap taburan bintang-bintang yang berkedip-kedip genit.
Kira-kira bagaimana kabar keluarganya, ya?
.
.
.
.
.
A/N;
Halo semua, pertama-tama saya mau minta maaf karena saya tidak menepati janji saya untuk update dalam waktu satu 10 hari. Maafkan saya. Saya tidak akan membuat semacam alasan, jadi anggaplah saja kalau kemarin saya memang sedang teledor. Atas kesalahan saya, saya minta maaf sebesar-besarnya.
omong-omong, entah kenapa waktu saya membaca chapter ini rasanya agak gimana gitu. rasanya banyak adegan yang berkesan dipaksakan gitu. gak tau cuma perasaan saya atau emang kenyataannya.
Lalu~ seperti biasa. Mohon dukungan untuk pairingnya-ssu. Karena beda pair, bakal beda cerita+ending.
Akhir kata, terimakasih sudah membaca.
Kou 'd Bear
11/11/2016
