Title : Kim Family
Rated : T
Cast/Pairing : BTS member/NamGi (Namjoon X Yoongi)
Disclaimer : Semua cast buka milik kami (maunya sih milik kami ._.) Tapi cerita gaje ini milik kami.
Warning : Boys love
DON'T LIKE DON'T READ
Namjoon lebih berani lagi kali ini. Lidahnya ikut membelai bibir Yoongi, membuat Yoongi merinding. Tetapi sejurus kemudian Yoongi sadar, dirinya sedang dilecehkan.
Dengan kuat Yoongi mendorong tubuh Namjoon menjauh, membuat Namjoon sedikit terkejut. Napas Yoongi sedikit terengah-engah karena ciuman itu. Yoongi menatap Namjoon dengan tatapan tajamnya yanga hanya dibalas tatapan datar oleh Namjoon.
Namjoon kembali duduk di kursi miliknya, tidak menghiraukan Yoongi yang sedang menatapnya tajam. Yoongi menghela napas kasar, percuma saja dia melakukan itu, tidak ada gunanya. Tatapan tajamnya tidak mempan untuk pemuda tinggi itu.
Hahh Yoongi harus terbiasa dengan sikap atasannya sekarang.
-oOoOoOoOoOoO-
Hari pertama menjadi sekretaris atasan membuat Yoongi lelah, lelah menghadapi Namjoon dan juga tugas-tugas yang tidak bisa dikatakan sedikit. Jam sudah menunjukkan pukul 9 tetapi pekerjaannya tidak selesai juga. Yoongi merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku karena hanya duduk dalam 2 jam ini. Hahh sepertinya akan lembur lagi, batin Yoongi.
Namjoon juga masih setia duduk di kursi kebesarannya dengan laptop miliknya. Dirinya melirik pelan kearah jam yang ada diruangannya lalu beralih melirik sekretaris barunya.
"Yoongi.." Panggil Namjoon dengan suara beratnya, membuat Yoongi sedikit terkejut lalu menatap atasannya itu dengan pandangan bertanya lalu kembali pada kegiatan menulisnya.
"Sudah malam, kau mau pulang?" Namjoon yang mengerti tatapan Yoongi langsung saja menyampaikan pertanyaannya.
"Sebentar lagi, sudah mau selesai dan kau jangan pulang dulu, ada beberapa berkas yang harus kau tanda tangani." Ucap Yoongi yang membuat Namjoon menggelengkan kepalanya. Yoongi dengan seenaknya memerintahnya.
"Aku sudah mau pulang, kalau tidak kau ikut saja ke apartemen ku." Ucap Namjoon membuat kegiatan menulis Yoongi terhenti.
"Tenang, aku tidak ada maksud lain selain menyelesaikan pekerjaan ini." Yoongi memicingkan matanya menatap Namjoon, tidak yakin dengan apa yang Namjoon katakan.
"Serius, daripada disini kan. Aku ingin pulang dan mandi agar lebih segar. Kupastikan kau nyaman bekerja di apartment ku." Yoongi berpikir sejenak, merasa ragu tetapi pada akhirnya mengangguk juga.
Yoongi membereskan barang-barang miliknya dan berkas yang akan ditandatangani Namjoon itu lalu mengikuti langkah Namjoon menuju parkiran.
-oOoOoOoOoOoO-
Yoongi hanya terdiam. Bedua didalam mobil bersama Namjoon lebih awkward daripada berdua di ruang kerja bersama Namjoon. Tentu saja karena berada di ruang kerja, masing-masing sibuk dengan pekerjaan.
Yoongi menatap lurus kedepan dan bergerak gelisah. Perjalanan dari kantor menuju tempat Namjoon rasanya lama sekali. Kantuk mulai menyerang Yoongi, perlahan matanya tertutup. Yoongi tertidur dengan kepalanya yang bersandar pada jendela mobil.
Namjoon yang menyadari tidak ada pergerakan dari Yoongi memutuskan untuk melirik Yoongi sebentar. Dia tertidur, batin Namjoon. Senyuman terukir di bibir Namjoon, membuat lesung pipi yang selama ini tersembunyi terbentuk jelas di pipinya.
5 menit kemudian mereka telah sampai dibasement gedung apartemen elit milik Namjoon. Namjoon mematikan mesin mobilnya lalu menatap wajah Yoongi yang sedang tertidur. Manis, batin Namjoon.
Tangannya mengelus pelan pipi Yoongi, jari-jarinya beralih mengelus bibir ranum Yoongi, bibir yang sangat manis menurut Namjoon. Perlahan Namjoon mendekatkan wajahnya ke Yoongi, lalu menempelkan bibirnya ke bibir manis itu. Hanya sebuah kecupan ringan, tidak lebih. Namjoon kembali ke posisinya lalu mengguncang pelan badan Yoongi.
"Ya bangunlah~" Panggil Namjoon, tetapi tidak ada hasil, Yoongi masih belum membuka matanya. Mungkin dia kelelahan, pikir Namjoon. Namjoon memutuskan menggendong Yoongi, tidak tega juga membangunkan pemuda manis yang sedang tertidur itu.
Namjoon menggendong Yoongi ala bridal menuju lift yang ada di basement menuju lantai 9, tempat dimana ia tinggal. Yoongi terlihat menyamankan dirinya kedalam gendongan Namjoon sedangkan Namjoon tersenyum simpul melihat kelakuan Yoongi, sunggu berbeda saat mata sipitnya terbuka.
TING!
Lift itu kini sampai pada lantai yang dituju Namjoon. Namjoon melangkahkan kakinya ke pintu bernomor 9394 membuka pintunya lalu masuk kedalam.
Namjoon terus melangkahkan kakinya sampai dia mencapai kamar miliknya. Perlahan pemuda jangkung itu merebahkan tubuh mungil pemuda yang sedang tidur itu ke kasur miliknya lalu melepaskan sepatu milik Yoongi.
Namjoon kembali meneliti wajah Yoongi, tangan besarnya menyingkirkan surai yang menutupi kening Yoongi. Dirinya kembali tersenyum. Hah apakah kau sudah gila, Kim Namjoon, batinnya. Ya dia telah gila, gila karena pemuda manis ini.
Namjoon beranjak menuju lemari pakaiannya. Mencari piyama miliknya yang sudah kekecilan. Untuk apa dia mencarinya? Tentu saja piyama itu untuk Yoongi, tidak akan nyaman jika tidur dengan pakaian seperti itu. Namjoon membuka pakaian Yoongi satu persatu dengan pelan, tidak ingin mengganggu ketenangan tidur Yoongi.
Tujuan awalnya yang hanya ingin menggantikan pakaian Yoongi malah menjadi 'mari melihat badan mulus Yoongi'. Dirinya takjub akan makhluk ciptaan Tuhan yang satu ini, sangat indah. Namjoon beranjak dari kasur, memutuskan untuk membersihkan dirinya karena itu memang tujuan utamanya pulang.
15 menit Namjoon menyegarkan dirinya dibawah guyuran shower. Ia melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi hanya dengan balutan handuk kecil yang dibawanya tadi, menampakkan otot-otot yang mulai terbentuk pada tubuh tingginya.
Namjoon membuka lemari pakaiannya, biasanya bos besar ini hanya mengenakan boxer saat tidur, tetapi karena ada Yoongi dan tidak ingin Yoongi berpikir macam-macam nantinya, dia memutuskan untuk menggunakan singlet putih tipis yang dipadukan dengan boxer hitam miliknya.
Fokusnya mengenai Yoongi yang sedang tertidur dengan kaki yang merenggang dan kedua tangannya memeluk bantal guling yang ada diatasnya. Namjoon melangkahkan kakinya dan naik ke atas ranjangnya. Ia mengelus surai blonde milik Yoongi. Halus, batinnya.
Tangannya beranjak mengelus pipi tirus sekretarisnya, sesekali ia menusuk kecil pipi tersebut. Lama bermain dengan pipi Yoongi, pandangannya tak sengaja melihat bibir tipis Yoongi, ia mengelus lembut bibir mungil yang selalu mengeluarkan umpatan. Ia heran, kenapa ada bibir secantik milik Yoongi namun kata-kata yang keluar mampu membuat Namjoon meringis.
Entah dorongan siapa, ia mulai mendekati bibir tersebut.
CUP
Hanya menempel, jujur saja, Namjoon sebenarnya ingin dari sekedar menempel, namun kewarasannya masih mendominasi otaknya. Jadi ia hanya menempelkan bibir tebalnya ke bibir tipis Yoongi. Kecupannya berakhir dengan Namjoon yang menjilat bibir Yoongi dan mengakibatkan desahan keluar dari bibir yang baru saja ia klaim *kembali*.
Setelah selesai dengan acara memonopoli Yoongi, ia melirik ke arah jam weker yang berada di meja nakas disebelah ranjang miliknya, jarum pendek menunjukkan angka 10 sementara jarum panjang jatuh di angka 6, itu berarti sekarang telah larut malam.
Ia menyamankan posisinya tepat disebelah Yoongi. Posisi Yoongi tengah membelakangi Namjoon, membuat Namjoon tidak tahan untuk tidak memeluk tubuh mungil itu. Namjoon melingkarkan tangannya ke pinggang Yoongi lalu menarik pelan tubuh Yoongi agar lebih merapat padanya.
Kini dada milik Namjoon menempel pada punggung Yoongi. Rasa hangat dari dada Namjoon membuat Yoongi merasa nyaman dan semakin merapat ke Namjoon. Namjoon tersenyum simpul melihat pergerakan pemuda mungil yang berada dipelukannya sekarang. Yoongi dengan mata terbuka dan mata terpejam sangatlah berbeda, batin Namjoon.
Namjoon menarik selimut, menyelimuti Yoongi dan juga dirinya. Ia mulai memejamkan matanya, meyusul Yoongi yang sudah lebih dulu pergi ke dunia mimpi. Pada akhirnya mereka tidur dalam posisi yang cukup dekat dengan dada milik Namjoon yang menempel pada punggung milik Yoongi.
-oOoOoOoOoOoO-
Sang mentari kembali muncul, menandakan sudah pagi. Terlihat seorang pemuda manis yang tengah tertidur sedikit merasa terganggu karena sinar milik sang mentari masuk melalui celah-celah gorden kamar milik atasan pemuda tersebut.
Dengan berat hati, dia mulai membuka matanya, menyesuaikan cahaya yang masuk kedalam matanya lalu mengucek pelan matanya. Hahh berapa lama aku tidur, pikirnya.
Pemuda manis yang biasa dipanggil Yoongi itu terlihat bingung, dia baru sadar tidak berada dikamarnya. Langit-langit kamar, juga aroma di kamar itu bukan milik kamarnya. Ya Tuhan, dia baru ingat semalam dia akan menyelesaikan pekerjaan di apartment milik atasannya itu.
Dirinya hendak bangkit, tetapi terhenti ketika dirinya merasakan sepasang lengan memeluk pinggangnya. Yoongi mendelik horror, pikiran buruk mulai memenuhi kepala cantiknya itu. Yoongi berbalik ke belakang yang langsung disuguhi pemandangan atasannya yang sedang tidur itu.
Tampan, batin Yoongi terpana. Yoongi terdiam cukup lama memandang wajah Namjoon, dirinya hampir saja lepas kendali jika saja Namjoon tidak membuka suaranya.
"Aku tahu aku menawan." Itulah yang menyadarkan Yoongi. Namjoon berucap masih dengan mata terpejam dan lengan yang masih melingkar pada pinggang milik Yoongi. Yoongi tentu saja terkejut.
"YA!" Yoongi mengambil bantal yang digunakannya untuk tidur lalu memukul Namjoon dengan bantal itu. Namjoon membuka mata dan menahan serangan bertubi-tubi dari Yoongi.
"Ya, ya, tenanglah!" Ujar Namjoon menahan tangan Yoongi yang hendak memukulnya lagi. Yoongi terlihat terengah karena mengerahkan semua tenaganya untuk memukul Namjoon.
"Seharusnya aku tidak percaya padamu. Apa yang kau lakukan hah?" Tanya Yoongi galak.
"Aku tidak melakukan apa-apa." Jawab Namjoon sambil merubah posisinya dari rebahan menjadi duduk yang otomatis membuat selimut yang mereka gunakan hanya menutupi pinggang kebawah milik Namjoon, mengekspos dada sexy milik Namjoon.
Awalnya Yoongi terpesona tetapi tak lama kemudian ia menjadi panik, pikiran buruk semakin memenuhi kepalanya. Yoongi sudah kembali siap untuk memukul Namjoon, tetapi usahanya gagal karena Namjoon lebih cepat darinya. Namjoon sudah menahannya duluan.
"Tenang dulu nona Min, ah tidak sebentar lagi akan menjadi nyonya Kim." Ujar Namjoon santai. Yoongi ingin kembali protes tetapi sudah dihentikan duluan *lagi* oleh Namjoon dengan kecupan ringan di bibir Yoongi. Yoongi diam membatu.
"Kau hanya salah paham. Kita hanya tidur bersama, tidak lebih." Ujar Namjoon.
"Lalu kenapa kau tidak memakai bajumu?" Tanya Yoongi heran.
"Aku tidak bisa tidur jika memakai atasan. Sebenarnya aku sudah pakai, tetapi kulepas lagi karena tidak bisa tidur. Lagian kenapa harus panik, kau kan berpakaian lengkap." Ucap Namjoon sambil melangkah menuju kamar mandi. Dirinya tahu sebentar lagi Yoongi pasti akan berteriak lagi.
Mendengar ucapan Namjoon otomatis membuat Yoongi menatap tubuhnya sendiri, memeriksa keadaannya. Dirinya sudah berganti memakai piyama kebesaran milik Namjoon. Tidak ada siapa-siapa disini kecuali dirinya dan Namjoon, itu artinya…
"YA KIM NAMJOON!" Seru Yoongi dengan keras. Sedangkan Namjoon malah terkekeh didalam kamar mandi.
-oOoOoOoOoOoO-
Jam sudah menunjukkan pukul 10 ketika Namjoon telah selesai dengan acara mandinya. Ketika dirinya baru saja keluar dari kamar mandi, Yoongi sudah menunggu didepan pintu kamar mandi itu dengan melipat kedua tangannya, ingin mengomeli Namjoon.
Tetapi niatnya hilang begitu saja ketika melihat Namjoon yang hanya berbalut handuk kecil dari sebatas pinggang, menutupi aset berharga miliknya dengan rambut basah yang masih mengalirkan bulir-bulir air.
Yoongi menjadi gugup, segera saja dia mengalihkan pandangannya ke samping. Namjoon yang memperhatikan gerak gerik Yoongi tersenyum kecil. Pemuda didepannya ini sungguh menarik.
Sekelebat ide jahil muncul di pikiran Namjoon, tanpa membuang-buang waktu ia segera mewujudkan idenya.
"Kau mau mandi bukan?" Tanyanya mubazir.
"I-iya." Suara Yoongi mendadak bergetar. Fuck, umpatnya dalam hati.
Mendengar suara Yoongi yang bergetar, Namjoon semakin semangat untuk menjahili pemuda yang menarik hatinya ini. Ia melangkahkan kakinya mendekati Yoongi. Satu langkah maju, dua langkah mundur. Itulah kegiatan kedua sejoli sama jenis kelamin tersebut.
SKAK!
Punggung Yoongi menabrak dinding kamar Namjoon, Yoongi menelan ludahnya. Wajah mereka dekat, sangat dekat. Tangan Yoongi telah memegang bisep Namjoon untuk menahan desakan lebih lanjut.
"A-apa mau mu?" Walau dengan suara yang gugup Yoongi tetap memasang wajah galaknya yang sebenarnya malah membuat inner Namjoon menari-nari ala Hawaiian.
"Mau ku? Kau tanya apa mau ku?" Namjoon membeo. Yoongi pun mengangguk cepat agar kegugupannya tidak terlihat oleh sang atasan.
"Ini mau ku." Balas Namjoon kemudian mengendus rahang tegas milik Yoongi. Geli, itulah yang Yoongi rasakan. Hidung Namjoon menyusuri rahangnya dan perlahan-lahan turun ke lehernya.
"Engghhh~" Desah Yoongi tak tertahankan. Bagaimana mungkin Yoongi tidak mendesah, saat leher jenjangnya diendus, dijilat kemudian diemut dan digigit kecil oleh atasannya, belum lagi sensasi dari CO2 yang keluar dari hidung atasannya membuatnya semakin menggila.
"Sssttopphhh" Pinta Yoongi berhenti, alih-alih mendengarkannya, Namjoon malah semakin gencar untuk melanjutkan acaranya. Namjoon tahu Yoongi sedang dalam keadaan berbohong.
Bibirnya saja yang memerintahkan untuk berhenti namun cengkeramannya pada bisep Namjoon semakin mengerat dan apa itu? Yoongi mendongakkan kepalanya ke atas. Akses bebas untuk Namjoon sebebas jalan tol yang sering ia lewati.
Namjoon semakin terbawa, setelah menggigit kecil Namjoon segera mengisap leher itu dengan kuat. Rintihan kesakitan dan juga kenikmatan keluar dari bibir Yoongi.
Setelah Namjoon selesai meninggalkan corak berwarna merah di leher putih Namjoon, Namjoon mengecup bibir Yoongi sebentar kemudian beralih ke lemari pakaiannya. Yoongi yang diperlakukan seperti itu hanya mematung di tempat. Blank, itulah yang Yoongi alami.
"Hey Yoongi, kau sampai kapan akan mematung terus? Bahkan aku telah selesai memakai baju ku." Tegur Namjoon.
"Eh?" Yoongi tersadar dari acara mematung dan melamunnya.
"Apakah kau mau aku mandikan? Ah ayo, aku mau." Kata Namjoon sembari melipat kemejanya. Melihat itu, dengan tenaga yang tersisa, ia melemparkan deathglarenya kepada atasannya.
"Bermimpi lah!" Seru Yoongi sambil melangkah masuk ke kamar mandi.
"Ho? Bahkan melihat tubuh telanjang mu pun aku sudah pernah Yoongi." Ujarnya sambil menaikkan suaranya.
"F*CK YOU!" Umpat Yoongi dari kamar mandi. Namjoon? Jangan tanya lagi, ia merasa sangat senang, mungkin ke depannya Namjoon harus membuat Yoongi lembur agar ia menginap di apartemen Namjoon.
Langkah Yoongi terhenti kala ia melihat cermin di kamar mandi tersebut. Ia mengucek matanya.
"Ah tidak, aku pasti salah lihat." Inner Yoongi berbicara. Namun sayangnya, ia tidak salah lihat. Ya, ia kini sedang memastikan tanda merah yang ada di lehernya. Setelah beberapa menit melihat dan memastikan, suara Yoongi pun kembali terdengar.
"AAAA SIALAN KAU KIM NAMJOON. DASAR CABUL!" Namjoon hanya meringis dan juga terkekeh mendengarnya.
-oOoOoOoOoOoO-
Mereka sampai di gedung perusahaan dalam keadaan sangat telat. Namjoon memasuki gedung perusahaan milik ayahnya diikuti oleh Yoongi di belakangnya. Banyak karyawan yang memandang aneh pada mereka, ah, lebih tepatnya memandang aneh ke Yoongi.
Sekilas tidak ada yang aneh. Namun apabila diteliti lebih lagi, sebenarnya mereka menatap aneh atas syal yang bertengger di leher Yoongi. Yoongi yang ditatap seperti itu hanya tersenyum canggung dan merutuki atasannya itu, dalam hati tentunya.
Bagaimana tidak berpasang-pasang mata tidak menatapnya dengan heran. Mengapa ada syal yang bertengger di leher sekretaris baru tersebut? Apalagi selama ini Yoongi dikenal sebagai orang yang berpakaian modis namun tetap simpel.
Ini adalah musim panas pastinya orang orang akan memilih menggunakan pakaian yang berbahan tipis agar mereka tidak kepanasan. Hey? Apakah Yoongi lupa sekarang musim apa? Sederet pertanyaan muncul di benak para karyawan lain, termasuk Hoseok, sahabat Yoongi.
Hoseok memutuskan untuk berjalan disebelah Yoongi.
"Ya, apa yang terjadi?" Tanya Hoseok dengan volume berbisik, takut jika atasan yang berada didepannya ini mendengar apa yang dikatakannya. Sebelum Yoongi menjawab, Namjoon membalikkan badannya, membuat Hoseok tersenyum canggung lalu membungkukkan badannya sedikit.
"Min Yoongi, cepatlah." Perintah Namjoon, suaranya terdengar tegas. Yoongi memberi tatapan 'akan kuceritakan nanti' yang tentu saja dimengerti oleh Hoseok karena Yoongi sering mengeluarkan tatapan itu akhir-akhir ini.
Yoongi mempercepat langkah kakinya, mencoba mengimbangi langkah lebar milik Namjoon. Kini mereka telah sampai didalam lift, hanya ada mereka berdua. Mereka sama-sama diam, sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
"Hey.." Panggil Namjoon pelan. Yoongi mengalihkan pandangan pada Namjoon menatapnya bingung. Namjoon tetap diam, hanya memandang dalam wajah manis milik Yoongi. Yoongi terlihat salah tingkah dan kembali menatap lantai lift yang terbalut oleh karpet merah itu.
Tak lama setelah itu mereka telah sampai dilantai 15, tempat dimana ruang kerja Namjoon berada. Yoongi langsung saja membuka syal nya saat sampai diruangan milik Namjoon, dirinya merasa kepanasan dengan syal itu.
Sedangkan Namjoon langsung saja duduk di meja kerjanya tanpa mengatakan apapun. Yoongi sedikit heran, kenapa atasannya itu yang biasanya hobi menggodanya menjadi diam seperti ini. Yoongi mengedikkan bahunya lalu ikut membuka lembar kerjanya.
Keduanya fokus ke pekerjaan masing-masing sampai akhirnya seseorang masuk tanpa izin. Namjoon baru saja ingin memberikan tatapan mematikannya kepada sosok yang dengan seenaknya masuk kedalam ruang kerjanya, tetapi diurungkan karena sosok itu adalah ayahnya sendiri.
Yoongi segera berdiri dari duduknya saat tahu sosok itu adalah pemilik perusahaan tempatnya bekerja lalu membungkukkan badannya tanda hormat. Sang Presdir tersenyum melihat Yoongi lalu menepuk pelan pundak Yoongi.
Senyumannya lebih terkembang lagi ketika melihat sebuah tanda merah yang bertengger di leher putih milik Yoongi. Tentu saja dia tahu siapa pembuat tanda merah itu, siapa lagi kalau bukan anaknya, Kim Namjoon.
Namjoon ikut berdiri ketika ayahnya semakin dekat kepada meja kerjanya.
"Ada apa appa?" Tanya Namjoon heran. Appanya ini menjadi sering sekali mengunjunginya saat dia dipindahkan bertugas di Seoul.
"Tidak, appa hanya bosan saja." Jawab ayahnya.
"Apa appa tidak ada pekerjaan lain? Aku tidak bisa menemanimu appa, pekerjaan kami menumpuk." Ujar Namjoon dengan pandangan menyesal.
"Tidak apa, kerjakan saja kesibukanmu. Sebentar lagi appa akan pergi." Ucap ayahnya membuat Namjoon tersenyum lalu kembali duduk untuk melanjutkan pekerjaannya.
"Bagaimana harimu bekerja disini?" Ayahnya bertanya.
"Ya lumayan, mungkin belum terbiasa saja appa." Ujar Namjoon, pandangannya terfokus kepada pekerjaannya. Alih-alih mengerjakan pekerjaan, Yoongi ikut mendengar percakapan antara ayah dan anak itu.
"Sebentar lagi juga akan terbiasa, apalagi ditemani sekretaris manis seperti itu kan." Ujar ayahnya dengan nada jahil, membuat Namjoon tertawa kecil. Sedangkan kegiatan Yoongi terhenti sebentar ketika mendengarnya.
Pipinya terasa panas, padahal dia sering dipuji manis, tetapi kenapa baru kali ini dia tersemu merah begitu? Apa Yoongi jatuh cinta kepada appanya Namjoon? Tidak, tentu saja tidak. Yoongi merasa seperti dipuji oleh mertua sendiri, lalu juga tawa pelan milik Namjoon, seakaan bangga memiliki istri semanis Yoongi.
Yoongi menggelengkan pelan kepalanya, membuyarkan semua pikiran yang Yoongi anggap konyol itu. Sadarlah Yoongi, batin Yoongi.
Tanpa disadari oleh Yoongi, Namjoon menatapnya saat appanya berkata seperti itu. Namjoon melihat rona merah itu meskipun dari jauh, salahkan saja kulit Yoongi yang kelewat putih itu. Senyum kecil terbentuk di bibir Namjoon.
"Yasudah appa akan kembali dulu. Jangan buat sesuatu yang meninggalkan bekas, pintar-pintarlah menandai di tempat yang tidak akan dilihat orang lain." Ucap ayahnya dengan senyum jahilnya lalu meninggalkan ruangan itu.
Ucapan terakhir itu membuat Yoongi semakin malu, ternyata tanda itu terlihat oleh Presdir. Yoongi melemparkan deathglare kepada Namjoon yang dengan santai kembali fokus kepada laptopnya.
"Ya, ini semua karenamu, dasar cabul." Ujar Yoongi dengan nada yang agak tinggi. Namjoon menatapnya sekilas.
"Ini tidak sepenuhnya salahku, kau juga tidak menolak kan. Mulutmu mengatakan stop tetapi tubuhmu tidak." Ucap Namjoon dengan seringaian mesum. Yoongi terdiam, tidak bisa mengatakan apa-apa. Rasanya dia ingin sekali menjambak atasannya itu.
Namjoon melihat jam dinding yang ada di ruangan itu. "Sebentar lagi akan ada meeting, segera siap-siap. Setelah meeting kita akan makan siang." Ucap Namjoon yang langsung saja diiyakan oleh Yoongi. Yoongi segera mengumpulkan berkas-berkas penting untuk meeting nanti.
-oOoOoOoOoOoO-
Meeting berjalan lancar, senyum Namjoon terkembang, Yoongi juga ikut senang dengan keberhasilan meeting kali ini. Untuk kesekian kalinya Yoongi kembali terpesona dengan Namjoon, cara Namjoon mengikat klien.
Karena keberhasilan ini, Namjoon mentraktir Yoongi di sebuah café dengan ruangan vvip, sehingga sekarang hanya ada Yoongi dan Namjoon yang duduk berdampingan.
"Kau ingin makan apa?" Suara Namjoon membuyarkan seluruh lamunan Yoongi, membuatnya sedikit kebingungan dengan apa yang Namjoon katakana tadi.
"Kau ingin makan apa?" Ulang Namjoon lagi.
"Terserah saja, aku akan makan apapun." Jawab Yoongi dengan menatap Namjoon.
"Bagaimana kalau mulut lubang mu memakan milikku?" Namjoon mulai menggoda Yoongi dengan berbisik tepat ditelinga Yoongi.
"Mati saja kau!" Seru Yoongi, tak habis pikir mengapa atasannya itu senang sekali menggodanya. Wajahnya semerah tomat sekarang. Yoongi segera mengambil selembar menu yang ada disana lalu mengipas-ngipaskan ke wajahnya, rasanya panas sekali.
Namjoon tersenyum mesum sebelum memanggil waiter yang ada di café itu. Namjoon memesan makanan untuknya dan juga untuk Yoongi tentunya. Sembari menunggu pesanan, mereka hanya terdiam saja.
Sebenarnya banyak yang ingin Yoongi bicarakan untuk lebih dekat dengan atasannya, tetapi karena perkataan Namjoon tadi sudah merusak moodnya, dia tidak jadi membicarakannya.
"Tempat asalmu dari mana?" Tanya Namjoon memecah keheningan.
"Daegu." Ucap Yoongi singkat, sedangkan Namjoon mengangguk mengerti.
"Kau dekat juga ya dengan appa mu." Ucap Yoongi membuat Namjoon menatapnya.
"Ya begitulah. Kami memang dekat tetapi tidak begitu sering bertemu karena pekerjaan." Ucap Namjoon. Yoongi tersenyum kecil, tiba-tiba dia rindu kepada kedua orang tuanya.
"Setidaknya kalian masih bisa bertemu. Aku hanya bisa pulang ke Daegu saat tahun baru." Ucap Yoongi dengan suara pelan. Namjoon menatapnya lekat.
"Kau rindu pada orang tuamu?" Tanya Namjoon yang dijawab anggukan oleh Yoongi.
"Kalau begitu besok kita pergi ke Daegu." Ucapan Namjoon membuat Yoongi kaget.
"Hah? Ke Daegu? Besok?" Tanya Yoongi meyakinkan.
"Ya, tidak ada meeting sampai minggu depan kan? Bawa saja semua pekerjaannya kesana, kita kerjakan disana sekalian menjenguk orang tua mu." Yoongi tersenyum senang mendengar itu, dia akan bertemu dengan orang tuanya besok.
"Tapi apa tidak masalah?" Tanya Yoongi meyakinkan untuk terakhir kalinya. Dirinya takut pekerjaan Namjoon nantinya terganggu. Namjoon menganggu pasti, memuat senyum Yoongi semakin manis dan Yoongi tiba-tiba menerjang Namjoon dengan sebuah pelukan erat.
Namjoon tersenyum kecil, membiarkan Yoongi memeluknya erat. Tangannya tanpa sadar naik keatas kepala Yoongi, mengelus surai blonde milik Yoongi. Yoongi membayangkan hari-hari menyenangkan di Daegu nanti, bersama Namjoon.
TBC
Hola kembali lagi dengan Kim Family ch3 wahh lama ya update kali ini.
Ya karena saya sibuk dan juga sering stuck jadinya lama, jadi ya kai panjangkan sedikit dari biasanya :'D
Terima kasih kepada kak author disini (nama disamarkan/?) yang sudah membantu pas lagi stuck dan terima kasih kepada reader yang sudah meluangkan waktunya untuk membaca karya kami, terima kasih juga kepada reader yang sudah review dan favorit karya-karya kami.
Untuk Kikaka tercinta maaf dear FF nya masih kami kerjakan dan belum siap, tetapi kami akan berusaha agar cepat selesai dan tidak mengecewakan nantinya :'3
Jika ingin request FF boleh saja melalui PM, review atau DM dari IG sugamon9394 (sekalian promosi)
Sekian, sampai bertemu lagi di FF berikutnya :3
Last, mind to review?
