Min Söta Alskling [My Sweet Love]
Disclaimer: Hidekaz Himaruya untuk semua karakter APH. Anne Gracie untuk plotnya, FF ini diambil plot dari novel romance yang berjudul An Honourable Thief
Warning: OOC, AU. Sweden x fem!Finland pairing, lime. Perbedaan usia juga demi plot cerita. DLDR
"Tiina—wajahmu memerah," kata Mathias. "Apa kamu demam, min kæreste?"
Tiina menggelengkan kepalanya dengan lemah. Ia benar-benar limbung akibat dari kejadian dua hari lalu. Dimana identitasnya sebagai pencuri misterius ketahuan oleh Berwald. Alih-alih dibawa ke hadapan massa untuk dihukum mati, ia malah mendapati dirinya larut dalam pelukan dan ciuman hangat Berwald. Ciuman pertamanya—yang sangat berarti untuk Tiina. Seumur-umur, ia belum pernah merasakan cinta terlarang semacam ini. Cinta terhadap seseorang yang lebih cocok untuk menjadi ayahnya. Berusaha mengenyahkan rasa cinta itu, cinta yang tumbuh semakin kuat di hatinya tanpa terkendali.
Terngiang-ngiang juga di kepala Tiina, lamaran yang diberikan Berwald untuknya. Hampir saja ia menerimanya, karena cintanya terbalas. Tetapi ada sesuatu yang menghalangi Tiina untuk menerima lamarannya. Tiina tahu usianya masih sangat muda, enam belas tahun. Dan Berwald sendiri melamarnya hanya berdasarkan rasa kasihan—mengira dirinya sedang membutuhkan uang sehingga Tiina harus mencuri.
Hati Tiina seolah dipukul oleh palu godam dengan keras. Ia sama sekali gagal melaksanakan amanat ayahnya dan kehidupan cintanya. Sekarang ia berada di rumah keluarga Rybak dan ia belum memikirkan bagaimana cara mencuri lukisan mitologi Norsk yang dicuri keluarga Rybak dari ayahnya.
"Kalau kamu sakit, beristirahatlah di kamar," hibur Mathias dan memegangi bahu Tiina lembut. "Mrs. Rybak sudah menyiapkan kamar untuk kita."
"Kiitos, paman Mathias," ucap Tiina lemah dan beranjak dari sofanya. "Kurasa aku memang sedikit demam kali ini."
Tiina diantar Elizaveta menuju ke kamar terdekat yang sudah disediakan Mrs. Rybak untuknya. Sejak Tiina pulang dari gedung opera itu, tingkah Tiina sedikit aneh—lebih tepatnya menjadi aneh—sejak Berwald memaksanya untuk menemui Tiina. Mathias tidak tahu apa yang terjadi pada Tiina maupun Berwald karena setelah kejadian itu, tingkah mereka menjadi berbeda ketika berhadapan satu sama lainnya. Untuk Berwald, ekspresi itu tidak begitu kelihatan tetapi untuk Tiina—terlihat dengan jelas dan Mathias menyadari bahwa Tiina jatuh cinta pada Berwald. Ia bisa mengenali tatapan jatuh cinta seorang gadis untuk pria.
Mathias menggaruk-garuk kepalanya—ia teringat cinta lamanya terhadap wanita Norwegia tersebut enam belas tahun yang lalu. Usia gadis itu hampir sama dengan usia Tiina saat itu, hanya saja lebih muda sedikit dari Tiina. Cinta yang terpisah karena gadis itu ditipu oleh kakaknya sendiri sehingga gadis itu kabur ke luar negeri untuk mengumpulkan semua miliknya padahal seminggu lagi ia akan melangsungkan pernikahan. Harapan satu-satunya adalah undangan dari keluarga Rybak yang menyatakan akan menyambut kedatangan putri semata wayang mereka. Semoga saja dia masih ingat, batin Mathias.
"Elizaveta—aku sama sekali pusing," ucapnya lirih. "Aku tidak tahu—rasanya sakit sekaligus senang."
Elizaveta memeluk Tiina erat. "Aku tidak tahu apa yang terjadi kepadamu, Sayang. Tetapi aku tahu siapa yang ada di kepalamu."
"Ya, dia melamarku di gedung opera itu."
Elizaveta tersenyum lebar mendengarnya. "Wah, ternyata dia mencintaimu. Bagaimana, kamu terima atau kamu tolak?" tanyanya penasaran.
"Kutolak—itu jawaban yang bisa kuberikan kepadanya," kata Tiina lemah. Ia benci pertanyaan ini, tetapi Elizaveta berhak tahu karena ia adalah orang yang paling berjasa dalam hidupnya. Tanpa dia, ia tidak bisa menjadi seperti sebagaimana yang seharusnya. "Mr. Oxenstierna hanya kasihan kepadaku dan dia juga sudah tahu aku adalah pencuri misterius itu."
Elizaveta menyayangkan tindakan Tiina. Berwald mungkin memliki riwayat mengerikan sepanjang hidupnya tetapi itu sama sekali tidak penting bukan pada saat ini—toh pria itu pasti melamar seorang gadis bukan karena kasihan semata tetapi karena pria itu benar-benar mencintai sang gadis. Tidak mungkin pria semacam Berwald melakukan hal seperti itu berdasarkan rasa kasihan. "Mengapa tidak kamu kaji ulang dulu pernyataannya, Sayang?"
"Untuk apalagi, Elizaveta?" isaknya. "Dia tidak pernah mengatakan cinta padaku sedikitpun. Aku sama sekali tidak bisa hidup bersamanya. Akan banyak pertengkaran dan perselisihan bila sudah berumah tangga nanti karena masa laluku."
"Tapi—Mr. Oxenstierna benar-benar mencintaimu. Aku bisa tahu dari cara dia memandangmu ketika di pesta-pesta. Aku mendengar bahwa ia jarang sekali berbicara dengan wanita selain dirimu."
Sayangnya, perkataan Elizaveta sama sekali tidak bisa dicerna di kepalanya. Ia masih anak-anak, tahu apa soal cinta dan kehidupan yang sesungguhnya. Lebih baik ia tidur dan memikirkan bagaimana caranya ia mengambil lukisan mitologi Norsk tersebut.
Tenang saja, Papa. Aku akan mengambil itu semua untuk Papa.
—00—
Pagi hari, Tiina terbangun dengan wajah yang sembab karena semalaman menangis terus-terusan. Ia susah mengenyahkan bayangan Berwald yang ada di kepalanya. Menyesali semua tindakan bodohnya sendiri dan hidupnya. Ingin rasanya ia mati saja daripada tersiksa seperti ini.
"Selamat pagi, Tiina," sapa Mrs. Rybak kaku. "Pamanmu sudah menunggumu di ruang tamu."
Tiina tersadar dari alam mimpinya dan terkejut mendapati dirinya dengan wajah berantakan. "Kiitos, Mrs. Rybak. Aku akan bersiap-siap dengan segera agar tidak membuat yang lain menunggu," ujarnya sambil membetulkan rambutnya yang agak berantakan karena sehabis bangun tidur.
Mrs. Rybak tersenyum tipis penuh arti—lebih tepatnya sebagai senyum kecurigaan. "Cepatlah—jika tidak, ia akan marah besar."
Pintu ditutup. Tiina masih duduk di tempat tidurnya. Mrs. Rybak dingin sekali terhadapku, batin Tiina. Apakah ia berbuat jahat terhadapku dan semua ini berkaitan dengan masa lalu ayahku yang kelam? Seharusnya ia tidak menimpakan kesalahan ini padaku.
Satu jam kemudian, Tiina keluar kamar dengan gaun merah muda panjang tanpa lengan. Rambutnya yang bergelombang diberikan pita berwarna merah menyala. Ia merasa hari itu harus berdandan secantik mungkin—sebagai balasan karena ia sibuk menangisi Berwald. Pria itu sudah membuat hatinya nelangsa.
Tetapi alih-alih ia bisa merasa tenang, ia malah mendapati seseorang di ruang tamu yang paling tidak ingin dilihatnya untuk seumur hidupnya. Berwald yang sedang menggendong dua anak kecil—salah satunya perempuan—sambil mendengarkan Mathias.
Ia baru saja mau kabur dari hadapan mereka. Sayangnya, Mathias sudah keburu menyadari kehadirannya.
"Ja, Tiina!" seru Mathias lantang. "Cantik sekali dengan balutan busana itu. Beary pasti mendapatkan pemandangan indah," ujarnya sambil menyikut perut Berwald.
Berwald menatap Mathias dengan tatapan 'Jangan-bicara-seperti-itu-padaku' dan matanya beradu pandang dengan mata Tiina. Tiina sangat cantik sekali dalam penampilan seperti itu—apapun penampilan dan baju yang dikenakannya, Tiina selalu terlihat cantik dan menarik.
Tiina menegang ketika Berwald memandanginya dengan tatapan tajam seolah-olah Berwald akan memakannya dan mengulitinya. Ia merasa seperti ditelanjangi olehnya. "Se—senang b—be—bertemu denganmu, Mr. Oxenstierna," ucapnya gugup. "Mengapa Anda berada di sini?"
Berwald baru saja mau membuka mulutnya untuk menjawab tetapi sudah disela oleh seorang anak perempuan,"Namaku Wy dan anak di sebelahku adalah Peter. Kami berdua adalah anak asuh Papa Berwald—dan kami diundang oleh keluarga Rybak di sini. Untuk menyambut kedatangan putri mereka, kami datang kemari."
"Hai, nona manis," sapa Peter sambil memeluk Tiina. "Aku Peter Kirkland, maukah nona manis ini menjadi mamaku?"
"E—EH?" tanya Tiina bingung. "Apa maksudnya ini?"
Mathias terkekeh dan meninggalkan ruang tamu. "Kurasa kamu cocok jadi seorang ibu. Bukankah begitu, Beary?"
"Jangan mengarah padaku, kambing," dengus Berwald kasar. Jujur ia benar-benar tidak habis pikir dengan ucapan Mathias—setiap ada Tiina di dekatnya pasti Mathias akan bersikap menggoda terhadapnya. Apa mungkin Mathias tahu apa yang sebenarnya terjadi? Ia merasa hal itu tidak mungkin sama sekali. Perkataan Peter ada benarnya juga—Tiina memang cocok menjadi ibu dan istri. Dalam hati ia berpikir bagaimana jika seandainya ia bisa bercinta dengan Tiina dan menghasilkan banyak anak darinya. Idenya cukup konyol, tetapi gara-gara ucapan Peter yang ceplas-ceplos membuat gairah yang sempat padam bangkit kembali.
"Siapa namamu, nona manis?" tanya Wy, ikut-ikutan Peter. "Bolehkah aku memanggilmu dengan sebutan mama juga?"
Wajah Tiina merah padam, matanya melirik ke arah Berwald sekilas. "Bagaimana ini? Aku bingung apa yang harus kulakukan?"
Ekspresi Tiina terlihat sangat lucu di mata Berwald, harus ia akui. Melihat Tiina dikerumuni anak-anak merupakan pemandangan menarik baginya. Tiina sangat cocok dalam suasana semacam ini. Jika seandainya tidak ada Mathias atau anak-anak asuhnya, ia pasti akan menyergap Tiina di sofa dan mencumbunya.
"Sesukamu saja," jawab Berwald sambil menutup mulutnya karena menahan malu. "Kau bisa menanganinya dibandingkan aku."
Tiina menghela nafas panjang dan matanya memandangi Wy dan Peter dengan tatapan seorang ibu. "Wy dan Peter—aku bukan mama kalian, tetapi kalian bisa memanggilku dengan sebutan mama Tiina. Namaku Tiina Vainamoinen dan aku senang berkenalan dengan anak-anak manis seperti kalian."
Peter dan Wy melonjak girang dan berebutan untuk memeluk Tiina. "Mau kan jadi istri papa Berwald?"
Tiina terkejut—bingung apa yang harus dikatakan kepada mereka berdua.
—00—
Tidak membutuhkan waktu lama, Tiina dan kedua anak asuh Berwald menjadi akrab. Berwald tetap duduk di sofa sambil membaca koran. Mata tajamnya masih melirik-lirik Tiina secara diam-diam, mengamati senyuman indah yang dimiliki Tiina. Wajah Tiina yang sedang berhadapan dengan anak-anak sangat polos dan tidak dibuat-buat. Bersinar cerah dan memancarkan kebahagiaan. Fleksibel.
"Ah, mereka tertidur," gumam Tiina ketika mendapati Wy dan Peter tertidur tak berapa lama kemudian. "Bagaimana ini?" tanyanya dan mata Tiina mengarah ke arah Berwald.
Berwald menghampiri Wy yang tertidur pulas terlebih dahulu dan menggendongnya. Wy tertidur pulas sambil tersenyum. Lalu Berwald menaruh Wy di sofa dan menyelimutinya. Tidak hanya itu, ia mengelus Wy dengan lembut seolah-olah Wy adalah anaknya sendiri. Sementara itu, Tiina memeluk Peter yang tertidur lelap dan Tiina mendapatkan sesuatu yang baru mengenai Berwald. Berwald adalah tipe pria yang tidak akan peduli apakah anaknya perempuan atau laki-laki—ia akan menyayangi anaknya dengan sepenuh hati. Dari caranya saja membelai Wy, Tiina bisa tahu bagaimana kebaikan pria itu terlepas dengan anggapan miring mengenai Berwald.
Tiina sedikit sedih jika mengingat ayahnya kecewa karena dia adalah anak perempuan, tetapi ia tahu bahwa setidaknya ada orang yang menerima dirinya apa adanya.
"Kau lihat apa?" tanya Berwald dingin. "Biarkan dia berbaring di sofa."
Tiina mengangguk pelan, dan menaruh Peter di sofa terdekat yang jaraknya tidak jauh dari sofa dimana Wy tertidur. Ia pun melakukan cara yang sama seperti Berwald lakukan terhadap Wy. Memperlakukannya dengan lembut—lebih baik dari Berwald sehingga Berwald terkesima melihat cara Tiina memperlakukan Peter.
"Istirahat yang banyak, anak manis," ucap Tiina manis dan mengecup dahi Peter lembut. "Nanti kita main sama-sama lagi."
"Kurasa kita perlu menghabiskan waktu—berdua," bisik Berwald serak di telinga Tiina. Tiina menegadah dan mendapatkan Berwald berada di dekat tubuhnya. Hasrat pria itu terhadapnya tidak bisa ditutupi dengan gamblang, terasa sangat jelas. Ia merasakan Berwald seolah-olah menginginkannya. Kedua tangan Berwald yang besar tiba-tiba memeluk Tiina dengan erat.
"Er—jangan di sini. Ada anak-anak," Tiina mendesah pelan. "Aku tidak bilang bahwa aku setuju untuk—."
Perkataan Tiina terputus, Berwald melumat bibirnya dengan tiba-tiba. Lagi-lagi ia tidak berdaya di hadapannya. Sama seperti kejadian ketika di gedung opera tersebut. Tetapi kali ini, ciuman mereka semakin panas, mulutnya terbuka pelan-pelan dan memberikan ruang untuk membiarkan lidah Berwald memasukinya.
Demi apapun, ia merasa seperti wanita murahan—menolak lamarannya tetapi bercumbu dengan orang yang ditolaknya. Tiina tidak kuasa melawan pesona Berwald yang ditujukan kepadanya. Pesona itu terlalu kuat untuk ia tolak—ia menginginkan Berwald untuk dirinya sendiri. Mengakui bahwa ia berhasrat pada Berwald, di usia semuda dirinya.
"A—ah, h—hentikan. K—kumohon," erang Tiina terbata-bata di sela ciuman panas mereka dan mendorong Berwald yang menahan tubuh Tiina agar saling bersentuhan. Tangan Berwald yang tadinya akan menarik tali pembuka gaun tersebut langsung dihentikannya.
Berwald tersadar apa yang ia lakukan terhadap Tiina dan memundurkan tubuhnya dengan jarak yang agak jauh. Benar-benar bodoh, apa yang ia lakukan terhadap gadis semuda Tiina yang usia delapan belas tahun saja belum. Bisa-bisa ia dituduh mencabuli anak di bawah umur jika sampai ketahuan. Dalam hati ia merutuki dirinya sendiri mengapa tidak bisa mengontrol nafsunya. Ia mencintai Tiina dan seharusnya ia bisa menunggu Tiina hingga cukup dewasa.
"Ledsen."
—00—
Beberapa hari kemudian, Tiina agak menjauh dari hadapan Berwald sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Ia tetap bermain dengan Wy dan Peter seperti biasa dengan Berwald yang selalu mengawasi mereka tetapi Tiina membatasi interaksinya dengan Berwald. Berdekatan dengan Berwald adalah jurang baginya—kenikmatan yang sulit ditolaknya dan kecanduan yang teramat parah.
"Semoga aku tidak salah menaruh lukisan mitologi Norsk di kamar anakku. Tidak akan ada yang tahu," gumam Mrs. Rybak dengan nada cemas dari kejauhan.
Lukisan mitologi Norsk—aku harus segera mengambilnya sebelum semuanya terlambat. Ini amanat papa yang terakhir. Jika berhasil, ia akan sangat senang di alam sana.
Berwald tersadar dan menatap Tiina tajam ketika Tiina beranjak dari Peter maupun Wy. "Kau mau apa?"
"Maaf ya, Peter dan Wy. Mama ada urusan sebentar di luar," kata Tiina lembut pada mereka berdua dan matanya berganti ke arah Berwald. "Bukan urusanmu apa yang akan kulakukan," tukasnya dan bergerak ke luar.
Berwald mengikuti Tiina yang akan berjalan ke arah ruangan dekat kamar anak dari Mrs. Rybak,"Jangan melakukan apapun."
Tiina mendengus. "Akan lebih baik kau diam saja—aku memang susah diatur sejak dulu. Ini semua karena ayahku."
Berwald diam, ia tidak menduga bahwa gadis semuda Tiina bisa mendebatnya hingga terdiam. Langkah Tiina terhenti memandangi sebuah lukisan. Lukisan tersebut menampilkan kedua sosok pria yang pernah dikenalnya.
"Mrs. Rybak, itu siapa?" Tiina bertanya dengan nada sesopan mungkin. Ia merasa penasaran dengan lukisan itu—sepertinya Tiina tahu siapa salah satunya.
Mrs. Rybak tersenyum miris. "Kau tidak mengenalnya? Menyedihkan sekali—itu adalah ayahmu dan pria yang disamping ayahmu itu adalah Mathias, adik ayahmu."
Adik ayahnya—apa Mrs. Rybak sudah benar-benar gila. Ini sama sekali tidak mungkin. Ayahnya bilang kepadanya bahwa Mathias adalah seorang teman yang mengkhianatinya—jadi selama ini ayahnya tidak memperlakukan Mathias seperti saudara, kejam sekali.
"Tiina?" Berwald menahan tubuh Tiina, wajah Tiina memucat dan tampaknya Tiina akan segera muntah-muntah di tempat itu segera. "Ledsen, akan kubawa dia."
"Cepat," Tiina berucap dengan terbata-bata. "Jauhkan aku dari sini—cepat—aku sama sekali tidak kuat berada di sini terus menerus."
Akhirnya Berwald membawa Tiina ke sebuah taman terdekat dan mendudukkan Tiina di salah satu bangku taman. Tangan Berwald terus memegangi tangan Tiina dengan lembut, berharap agar tidak ada sesuatu yang terjadi padanya. "Apa yang terjadi, min alskling?"
"Aku tidak tahu harus mulai darimana," kata Tiina jujur. "Mungkin Anda tidak mau mendengar hal ini."
Berwald tersenyum tipis, "Katakanlah sesuatu."
Lalu Tiina menceritakan semuanya pada Berwald bagaimana awal ia harus datang ke Swedia yang ternyata itu adalah permintaan almarhum ayahnya ketika sebelum meninggal. Ia menceritakan betapa tersiksanya selama ini—dihantui oleh perasaan bersalah karena hal itu. Masa lalunya yang begitu kelam dan kotor.
"Begitulah ia—ia sangat aneh dan suka sekali bermabuk-mabukan. Ia juga suka membicarakan hal omong kosong dan tidak bertanggung jawab. Aku tidak mengerti apa yang harus kupercaya. Ini semua tampak ganjil—."
Tangisan Tiina meledak seperti anak kecil. Ia menyandarkan dirinya ke dada Berwald dan menangis sepuasnya. "Kumohon—jangan katakan sesuatu—demi ayahku—."
"Aku akan memanggil Antonio," ujar Berwald dan memeluk Tiina erat. "Dia tahu semuanya."
—00—
"Miss Vainamoinen, aku benar-benar minta maaf soal ini. Semuanya benar-benar di luar kendaliku," Antonio berkata dengan pelan, pandangannya mengarah ke arah lain. "Aku tidak tahu harus mulai dari mana."
"Katakan saja, Mr. Carriedo. Aku akan mendengarkan seburuk apapun hasil yang akan kuterima," kata Tiina mantap.
Antonio mendesah, "Waktu itu, kami masih terlalu muda dan yang kami tahu hanyalah berjudi, bermabuk-mabukan dan berpesta pora. Itu semua kami lakukan hampir setiap hari tanpa mengenal waktu. Ketika aku bertemu Lovina beberapa tahun yang lalu, segalanya berubah untukku."
"Maaf—kami butuh informasi," kata Berwald kesal setiap mendengar Antonio bercerita mengenai istrinya yang berbeda dua puluh lima tahun itu tanpa mengenal sikon yang tepat. "Bukan omong kosong."
Antonio langsung berubah sikap sebelum Berwald mulai menatapnya tajam. "Ya, harus kukatakan dengan berat hati bahwa ayahmu terperosok ke jurang paling dalam. Ia menjadi gemar berjudi dan pada puncaknya ia menipu Miss Rybak padahal Miss Rybak dan Mathias akan melangsungkan pernikahan—."
"Apa maksud anda—menipu? Bagaimana bisa seperti itu?"
Antonio menyunggingkan senyum—senyum miris lebih tepatnya. "Ayahmu menantang Miss Rybak kecil berjudi karena tahu Miss Rybak suka berjudi. Dalam kesempatan itu, ayahmu berusaha mengambil harta kekayaan warisan Miss Rybak. Rumah ini adalah rumah bibi Miss Rybak."
"A—ayah, kejam sekali—."
"Nej, Miss Rybak yang salah," Berwald menenangkan Tiina. "Dia bodoh—mempertaruhkan segalanya."
Otak Tiina berusaha mencerna semua kejadian yang ada. Fakta itu sangat menyakitkan Tiina. Demi Tuhan—ia baru saja mengambil lukisan mitologi Norsk yang legendaris itu secara diam-diam tadi pagi dan menyembunyikan benda tersebut di tempat tidurnya—sekarang ia merasa seperti penjahat. Ia melakukan keburukan yang seharusnya tidak dilakukan olehnya. Ayahnya berbohong hingga akhir hayatnya.
"Setelah itu, aku baru sadar bahwa terdapat kecurangan dalam permainan judi tersebut. Kami baru saja akan memberitahukan Miss Rybak waktu itu tetapi dia sudah kabur ke negeri yang jauh."
"Lalu apa yang terjadi dengan ayahku?" tanya Tiina pelan. "Apa terjadi sesuatu?"
Antonio menghela nafas panjang, tidak yakin apakah ia harus memberitahukan semuanya pada Tiina. "Ayahmu disuruh kabur ke luar negeri untuk menjaga kehormatannya sendiri—ada seseorang yang mengiriminya uang tunjangan."
Ia tahu apa yang harus dilakukannya, walau itu semua mengandung resiko yang besar. Tanpa sadar tangan kirinya menggengam salah satu tangan Berwald di sebelahnya.
—00—
"Papa benar-benar jahat—kasihan paman Mathias," gerutu Tiina seperti anak kecil, ia tidak tahu harus berkata apa pada Mathias untuk menghiburnya. "Aku berharap Miss Rybak cepat pulang ke sini agar mereka bisa bersama lagi seperti dulu."
"Miss Rybak akan datang," jawab Berwald dan menyandarkan kepala Tiina ke bahunya. "Tenang."
Harapan Tiina segera menjadi kenyataan karena beberapa jam kemudian, seorang gadis cantik berusia tiga puluh dua tetapi wajahnya masih terlihat muda turun dari sebuah kereta kuda dengan anggun bersama seorang pria yang kemungkinan ayah dari gadis cantik tersebut. Ia bisa mengamati betapa cerahnya wajah Mathias ketika gadis cantik itu datang—wajah cerah yang tidak pernah ditunjukkan Mathias terhadapnya.
"M—Mathias?" tanya gadis itu terkejut. "Se—sejak kapan?"
Tetapi Mathias tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan yang muncul di wajahnya, refleks ia memeluk gadis itu dengan erat, "S—selamat datang kembali, Halldora, min alskling."
Halldora—nama gadis itu—tersenyum kecil dalam pelukan Mathias, berusaha bersikap biasa di depan Mathias tetapi gagal. "Sama-sama, anko uzai."
Makan malam bersama keluarga Rybak terasa ramai karena kehadiran anak mereka yang lama tidak kembali. Mathias duduk di sebelah Halldora dengan wajah sumringah sehingga membuat Halldora sedikit kesal.
"Ternyata kau masih sendiri, Halldora sayang," rayu Mathias. "Rupanya kau mencintaiku."
Halldora membuang wajahnya ke arah lain, menyembunyikan perasaan senangnya. "I—iya, tapi ngomong di tempat lain saja."
Semuanya tertawa—Tiina merasa senang karena semua masalah berhasil diselesaikan dengan baik tanpa kurang satu apapun. Tinggal menjalankan misi penting yang harus diselesaikannya nanti malam.
"Kurasa mereka akan menjadi pasangan bahagia," Mr. Rybak berkata pada Tiina. "Kapan giliranmu?"
Tiina tersenyum gugup dan matanya melirik ke arah Berwald. "E—ei, aku masih enam belas tahun, belum berpikir ke sana."
Mr. Rybak tersenyum ketika melihat Tiina memandang ke arah Berwald. "Aku tahu siapa yang kamu maksud?"
Tiina tidak tahu harus berkata apa lagi pada Mr. Rybak. Hanya satu yang harus dikatakannya pada Mr, Rybak. "Maafkan ayahku," katanya tiba-tiba.
"Tidak apa-apa, nona," cetus Mr. Rybak. "Aku senang karena ternyata Mathias masih sendiri, begitu juga dengan Halldora yang menunggu Mathias."
"PAPA!" bentak Halldora dengan wajah merah padam. "Aku sama sekali tidak merindukannya."
—00—
Malam harinya, Tiina menyamar menjadi pencuri misterius ketika dulu ia menjadi pencuri demi memenuhi keinginan ayahnya. Tetapi kali ini, ia memiliki tujuan berbeda yaitu mengembalikan semua barang yang ia curi pada pemiliknya. Sebelum ia berangkat, ia sudah menulis satu surat dan surat itu dititipkan kepada Elizaveta.
Ia berhasil mengembalikan semua benda-benda tersebut dengan aman dan tempat terakhir adalah rumah keluarga Rybak. Diam-diam, ia menyusup ke kamar Halldora dan mengembalikan benda tersebut.
Sial—ia terantuk sesuatu dan akhirnya itu semua menarik perhatian Halldora yang tertidur pulas dan Halldora menunjukkan wajah ngeri yang amat sangat.
"M—miss Rybak?"
Halldora benar-benar sudah kehilangan kesabarannya. Dengan kemarahan berapi-api akhirnya ia menyeret Tiina ke ruangan tertentu dan di ruangan tersebut sudah berkumpul banyak orang. Elizaveta yang menatap Tiina ngeri, Mr. Rybak dan Berwald.
"M—maafkan aku," ujar Tiina. "Aku tidak bermaksud—."
Mr. Rybak menghela nafas panjang. "Aku tidak ingin berbicara semacam ini, tetapi buah tidak jauh dari pohonnya."
"Aku hanya mengembalikan benda itu ke tempat semula—aku tidak ada maksud apapun. Maafkan aku, Mr. Rybak."
"Kurasa kali ini Anda harus mendengarkanku—Tiina adalah anak baik yang pernah kukenal selama hidupku. Aku mengenalnya sejak Tiina berusia sebelas tahun, pada waktu itu Tiina sedang kesakitan," tandas Elizaveta. "Ayahnya memanfaatkan kasih sayang seorang anak untuk melakukan perbuatan tidak terpuji seperti itu. Aku tahu Tiina tidak ingin melakukan hal itu jauh di dalam hatinya. Ia selalu menangis setiap melakukan hal itu."
"Apa yang terjadi?" tanya Berwald penasaran. Ia ingin mengetahui lebih banyak mengenai Tiina. "Dia sakit?"
Elizaveta terdiam. "Itu siklus bulanan, ia sama sekali tidak tahu karena ayahnya memperlakukan dia seperti laki-laki. Aku tahu selama ini Anda menyimpan perasaan khusus pada Tiina, Mr. Oxenstierna."
Jika ditanya seperti itu, jawabannya adalah 'ya'. Sejak pertemuan mereka, Berwald tidak bisa melepaskan pandangannya pada Tiina. Tiina adalah sosok wanita yang bisa membuatnya gila sekaligus menyenangkan hatinya di saat yang bersamaan. Ia sungguh-sungguh mengatakan ketika ia ingin menjadikan Tiina sebagai istrinya. Tidak apa-apa juga bahwa ia harus menunggu beberapa tahun untuk bisa memiliki Tiina seutuhnya.
"Ah?" tanya Mr. Rybak tiba-tiba. "Kemana gadis itu pergi?"
Elizaveta menatap sekelilingnya bingung. Bagaimana Tiina bisa kabur sementara ia sendiri diikat? Tetapi dalam hati Elizaveta bersyukur bahwa Tiina berhasil kabur.
Berwald ikut memandang ke arah kesekelilingnya. Tiina tidak ada dimanapun dan artinya ia tidak sempat menyatakan perasaan pada gadis itu.
"Kemana?" Berwald berkata. "Dia?"
Elizaveta mengeluarkan sebuah amplop dan satu pin phoenix yang dulu dicuri Tiina, ia menyerahkan benda tersebut pada Berwald. "Dia menitipkan ini untukmu sebelum ia peri untuk selamanya," ucap Elizaveta lirih. "Pesan terakhirnya."
Pesan terakhir—jangan bilang Tiina akan berpisah darinya untuk selamanya. Ia akan menyusulnya jika itu terjadi.
"Buka surat itu!" perintah Mr. Rybak. "Sekarang."
Berwald menerima surat itu dengan tangan gemetar dan membacanya perlahan.
Dear Berwald,
Maafkan aku atas semuanya, aku sungguh menikmati kebersamaan kita. Aku memutuskan untuk pergi jauh dimana tidak ada orang yang mengenaliku agar aku bisa hidup baru tanpa dibayangi masa laluku yang kelam.
Terima kasih Anda telah membuatku menjadi wanita seutuhnya. Aku tidak akan lupa dimana Anda berusaha melindungiku waktu itu.
Mina rakastan sinua.
Tiina
Berwald meremas surat itu, memejamkan matanya. Tiina boleh saja pergi jauh tetapi kemanapun Tiina pergi—ia akan mengejarnya sampai dapat dan menariknya ke dalam pelukannya.
"Sekarang apa yang akan Anda lakukan?" tanya Mr. Rybak.
Berwald menatap Mr. Rybak dengan tatapan garang. "Menculiknya—menjadikannya istriku."
"Kalau begitu, cepat kejar dia!" seru Elizaveta gembira. "Dia pasti senang sekali, percayalah padaku."
—00—
Udara malam itu sangat dingin dan menusuk, terutama angin malam di dekat laut. Tiina menunggu kapan sekiranya kapal tujuannya akan segera datang. Sebisa mungkin ia harus cepat pergi.
Mengenai Elizaveta—ia memutuskan untuk hidup mandiri tanpa gadis itu. Sudah terlalu banyak ia merepotkannya bahkan menyulitkannya. Elizaveta sudah memiliki orang yang dicintainya walau ia tidak pernah mengatakannya pada Tiina.
Sudah satu jam Tiina menunggu di dermaga tetapi tidak ada kapal yang datang sama sekali. Yang ada hanyalah lautan yang sepi tanpa kapal yang lewat.
"Kau tak akan kemana-mana," desisnya.
Tiina terkejut dan menyadari suara siapa itu. Berwald Oxenstierna—mengejarnya hingga ke sini. Apa kurang jelas apa yang tertulis di suratnya.
"Kau mau apa?" tanya Tiina. "Aku tidak menyuruhmu ke sini?"
Berwald tidak mendengarkan perkataan Tiina dan menggendong Tiina dengan paksa. Tiina meronta-ronta ketika berusaha melepaskan diri dari Berwald. Gendongan Berwald terhadap tubuhnya semakin kuat dan pada akhirnya Berwald membawa Tiina ke suatu penginapan yang berada di dekat dermaga.
"Kau pikir apa yang mau kau lakukan, bodoh!" bentak Tiina kasar. "Jauhi aku, kumohon!"
Berwald melepaskan kancing baju Tiina sedikit demi sedikit. "Panas sekali."
Tiina terkejut dan memukul tangan Berwald yang lancang menyentuh bajunya untuk menelanjanginya. "Jangan lakukan hal itu padaku."
"Aku ingin memilikimu," bisik Berwald lembut dan memeluk Tiina dengan erat. "Untuk selamanya."
Ia tidak mempercayai pendengarannya, seorang dari keluarga terhormat menginginkan Tiina seutuhnya. Tiina yang memiliki riwayat buruk dalam kehidupannya. Apakah ia sedang bermimpi?
"A—aku," isaknya. "Anda serius?"
"Ja," jawab Berwald, tangannya masih tidak ingin melepaskan Tiina. "Kommer du gifta dig med mig?"
Tiina meleleh dalam pelukan pria itu. Rasanya nyaman hingga ia tidak bisa lepas darinya, kelembutan Berwald terhadapnya—membuatnya mabuk kepayang. Ia masih diberikan kesempatan kedua dan ia sama sekali tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. "Ya, aku bersedia. Tapi apakah Anda mau memiliki seorang gadis yang memiliki riwayat buruk sepertiku?"
"Ja," jawabnya pelan. "För jag älskar dig."
Jawaban itu sudah cukup bagi Tiina betapa Berwald mencintai dirinya dengan sepenuh hati. Beribu-ribu kata tidak akan pernah bisa dikatakan betapa besar cintanya terhadap Berwald.
Begitu juga dengan Berwald yang akhirnya mendapatkan belahan jiwanya—yang selama ini dicari-carinya.
Malam itu, mereka menikmati kebersamaan mereka dan berbagi kehangatan tubuh mereka. Desahan-desahan liar yang tercipta dari percintaan mereka yang penuh dengan kasih sayang dan gelora satu sama lainnya. Bukti bahwa mereka saling mencintai satu sama lainnya.
"Ber—aku berpikir sesuatu," ujar Tiina tiba-tiba sambil memeluk Berwald. "Apa Mr. Rybak dan keluarganya akan menerimaku kembali."
"Tentu," kata Berwald dan mencium dahi Tiina yang berkeringat dengan perlahan. "Kau anak baik."
Tiina agak tidak percaya diri mendengar perkataan Berwald. "Umm—aku baru tahu pengalaman pertama rasanya sakit seperti ini," katanya malu-malu sambil menutupi tubuh telanjangnya dengan selimut. "Kurasa aku akan takut padamu terus menerus."
Berwald tertegun mendengar pernyataan Tiina yang sama sekali tidak nyambung dari persoalan semula. "Ja, pikirkan saja sendiri."
—00—
Sesampainya di rumah keluarga Rybak, mereka sudah disambut dengan gembira. Terutama Mathias dan Halldora—yang sepertinya sejak tadi saling berpegangan tangan. Elizaveta juga bergandengan dengan seseorang yang belum pernah Tiina lihat, yaitu pria berkacamata aristokrat. Ludwig dan Felicia yang sengaja diundang beberapa hari setelah kepergian Berwald dan Tiina yang tiba-tiba.
"Tiina!" seru Elizaveta riang dan memeluk Tiina dengan erat. "Bagaimana kabarmu? Baik-baik di sana bukan?"
Tiina membalas pelukan Elizaveta dengan lembut. "Aku punya kabar baik untukmu."
"Apa?"
Tiina menatap Berwald dengan tatapan ragu-ragu dan wajah yang bersemu merah, salah satu tangannya mengenggam tangan Berwald dengan erat. "Apa harus kukatakan sekarang?"
Semua mata tertuju pada Berwald. Berwald sedikit gugup sehingga kacamatanya tidak sengaja menempel pada hidung sedikit. "Tanya dia."
"Apa ? Bagaimana lamarannya?" timpal Mr. Rybak jahil. "Diterima?"
"Kami akan punya mama!" seru Peter dan Wy kompak. "Kami akan punya adik baru juga!"
Berwald mengangguk perlahan dan memeluk Tiina dengan erat, serta memberikan tatapan menakutkan pada Mr. Rybak maupun Mathias. Mathias tersenyum jahil pada mereka sambil bersiul-siul hingga membuat keduanya merasa malu. Sementara Elizaveta berbinar-binar bahagia, tidak percaya dengan pemandangan yang terjadi di depannya dan fakta yang ada.
"Paman Mathias!" seru Tiina malu. "Jangan usil seperti itu."
"Aku tidak usil, ngomong-ngomong kapan pernikahan kalian dilangsungkan?"
Berwald mendengus, "Lebih cepat lebih baik—minggu depan kurasa."
"Wew, sama denganku dan Halldora," Mathias tertawa. "Bagaimana kalau kita melangsungkan pernikahan dengan waktu bersamaan?"
"Tidak mau," jawab Berwald ketus, jijik membayangkan dirinya seperti pasangan foursome di altar nanti. "Ganti tanggal kalau begitu."
"Kalau begitu aku akan mengganti tanggal yang sama denganmu. Bukankah begitu, Tiina?"
Tiina memandangi dua orang tinggi besar tersebut berada mulut sambil menahan tawanya. Ia benar-benar merasa bahagia dan dicintai. Tak pernah terpikirkan olehnya bahwa ia akan menerima kehidupan semanis ini.
Kau pencuri hatiku, Berwald Oxenstierna.
FIN
Ja (Swedish)=Ya
Nej(Swedish)=Tidak
Kiitos (Finnish)=Thanks
Min kæreste/alskling (Danish)= sayangku
Ledsen (swedish)=sorry
For jag alskar dig (Swedish)=Because I Love You
Kommer du gifta dig med mig? (Swedish)=Will you marry me?
