Anime Zetsuen No Tempest (THE CIVILIZATION BLASTER) ditulis oleh Kyo Shirodaira dan diilustrasikan oleh Arihide Sano dan Ren Saizaki.
Zetsuen No Tempest (BTS version)
By : Fuji Han
Genre : Drama, Fantasy
Warning : Shounen-ai, BoyXBoy, Typo(s).
Note : - Cerita ini sesuai dengan anime aslinya, hanya sedikit penyesuaan latar dan tokoh.
- Cetak miring berarti pemikiran tokoh
Don't like don't read
-Flashback-
Cuaca hari itu begitu cerah ketika tiga orang siswa SMA berjalan menuju sekolah dengan seorang pria manis yang berjalan sedikit lebih lambat dari dua orang lainnya yang berada didepannya, sambil memainkan ponselnya yang menjadi alasan ia melangkah dengan lambat.
"Jimin." Panggilnya menghentikan langkah dua orang didepannya hingga berbalik menatapnya.
"Ciuman itu rasanya gimana?" lanjutnya bertanya.
"Kenapa kau menanyakannya?" Tanya Jimin sambil menatap lekat Yoongi yang bertanya.
"Karena aku belum pernah melakukannya." Jawabnya santai sambil meneruskan langkahnya dan berhenti di depan dua orang yang masih menatapnya.
"Dan aku ingin segera merasakan ciuman pertamaku." Lanjutnya dengan begitu santainya.
"Aku juga belum pernah melakukannya..." ucap Taehyung yang sedari tadi diam sambil menggaruk pipinya yang tidak gatal.
"Sulit dipercaya jika kau belum pernah melakukannya, Kim Taehyung." Tanggap Yoongi.
"Jadi bagaimana rasanya? Sekali-kali kan kau bisa memberiku saran." Yoongi bertanya lagi sambil memajukan tubuhnya menatap Jimin antusias. Jimin membalikkan badannya dan meneruskan langkahnya yang sempat terhenti sambil berkata..
"Kau masih terlalu muda. Kalau kau sudah cukup dewasa, bertanyalah lagi padaku."
"Dia tidak berguna." Ucap Yoongi pelan dengan ekspresi malas khasnya.
.
.
"Kenapa dia bertanya seperti itu, padahal dia tidak punya pacar?" ucap atau Tanya Jimin sambil memperhatikan Yoongi yang berjalan menuju kelasnya.
"Aku tidak akan mengijinkannya." Lanjutnya.
"Kau harus mengijinkannya dong." Tanggap Taehyung yang berdiri disampingnya.
"Tidak akan. Dia adikku." Kesal Jimin.
"Apa memang itu alasannya?" Tanya Taehyung dengan ekspresi sedikit curiga.
"Itu alasannya." Balasnya cuek sambil berjalan pergi.
Drrrtt drrrtt
Taehyung mengambil ponselnya dan membaca pesan yang baru saja masuk.
From: Pacar
Taehyung, karena ini yang pertama untuk kita berdua, ayo kita lakukan itu lain kali.
Dengan wajah yang sedikit memerah, Taehyung menatap Yoongi yang semakin menjauh. Dari jauh Yoongi berbalik sambil menunjukan ponselnya dan tersenyum manis.
-Flashback End-
Ddukk ddukk
Jimin menendang mesin minuman otomatis dipinggir jalan. Mengambil dua kaleng dan menyodorkan satu pada Taehyung.
"Aku tidak mau. Aku tidak punya uang." Tolak Taehyung.
"Kau ini terlalu polos ya. Jangan terlalu mengkhawatirkannya. Sudah kubilangkan, aku akan menyelamatkan dunia." Taehyung menghela nafas dan tersenyum mendengar ucapan Jimin.
"Ini semua masih terlihat aneh buatku, aku masih sulit mempercayainya. Jadi buah itu adalah bagian yang ingin dibangkitkan oleh klan Jeon, iya kan?" tanyanya sambil mengingat sebuah bola raksasa yang muncul dari dasar laut yang disebut Jimin sebagai buah.
"Ya. Mereka muncul diseluruh tempat dan berusaha berkumpul menjadi satu. Jika mereka berhasil, mereka akan mendapatkan wujud sempurna. Jika itu terjadi, kita sudah tamat. Kita tidak akan lagi mengenali dunia ini."
"Kalau begitu, apa sekarang kita sudah tamat? Ketika benda itu muncul, bukankah orang-orang terkena sindrom besi hitam?" tanya Taehyung belum sepenuhnya mengerti.
"Ini masih belum begitu gawat karena baru ada 10 sampai 20 korban diseluruh kota." Jawab Jimin.
"Kim Taehyung, ya?" sebuah suara keluar dari patung kayu yang dikalungkan di leher Jimin. Taehyung sedikit tersentak mendengar namanya disebut.
Dilain tempat, di pulau terpencil. Jungkook yang berbicara melalui patung kayu sebagai alat komunikasi kembali berbicara sambil memakan apel ditangannya.
"Jangan takut, aku orang baik. Aku, Jeon Jungkook, penyihir terkuat yang pernah ada tidak akan membiarkan mereka melakukannya." Taehyung mengangkat tangan, membuat gestur orang yang meminta ijin sambil menatap patung kayu dileher Jimin.
"Boleh aku bertanya sekali lagi? Ada klan penyihir bernama Jeon, dan ada pendapat jika klan dapat membangkitkan kekuatan."
"Tepat sekali."
"Karena itu kau, Jungkook, pangeran dari klan Jeon yang jatuh dalam perangkap Wonshik dan sekarang terdampar di pulau terpencil dan kesulitan menggunakan sihir."
"Jangan main-main. Hanya aku yang bisa menghentikan rencana Wonshik." Ucap Jungkook kesal.
"Tapi satu-satunya sihir yang bisa kau gunakan sekarang adalah berbicara lewat patung...iya kan?"
"Tepat sekali." Jawab Jungkook santai akan pertanyaan Taehyung seolah-olah keadaan dimana keterbatasan sihir yang bisa digunakannya bukanlah hal besar.
"Kalau begitu ayo jalan." Ajak Jimin.
"Kemana?" Taehyung bertanya sambil menatap bingung Jimin.
"Ketempat dimana ini semua berawal."
Taehyung mengikuti Jimin yang berjalan menuju sebuah rumah besar dan terlihat megah.
"Jungkook, kau sebaiknya menepati janjimu."
"Huh? Oh, kau kembali ke rumahmu. Ya, kalau begitu, pergilah ketempat kejadian. Aku bisa melacaknya dari sana."
"Bukalah." Ucap Jimin sambil menyerahkan kunci pada Taehyung yang masih menatap plakat bertuliskan 'Park' disamping pagar.
Inilah tempat dimana semua berawal.
Mereka berdua masuk kedalam rumah. Jimin menyalakan lampu dan terlihatlah bagian dalam rumah keluarga Park yang terlihat sederhana tapi elegan.
Disinilah dimana Yoongi...
"Kita sudah sampai Jungkook." Ucap Jimin.
"Jimat-jimat. Disana ada pisau stainless (anti karat) kan? Melacak pembunuh membutuhkan sihir yang khusus. Pisau itu bisa digunakan." Jelas Jungkook.
"Jimat?" bingung Taehyung.
"Benda dengan kekuatan sihir tersegel didalamnya." Jelas Jimin.
"Sihir?"
"Ketika dia tidak bisa menggunakan sihir, Jungkook menyembunyikan banyak jimat di berbagai tempat, dimana tidak ada satupun dari klannya yang bisa menemukannya. Pakailah hingga menyentuh kulitmu, jadi kau bisa menggunakan sihir yang sederhana jika Jungkook sudah mengucapkan beberapa mantra. Tetapi..." Jelas Jimin sambil menunjukan gelang yang ia pakai. Kemudian memukul-mukul pisau diatangannya pada gelang yang ia gunakan, hingga gelang itu hancur.
"Ada batas penggunaannya." Lanjut Jimin.
"Apa kita bisa menghentikan penyihir sungguhan dengan benda kecil ini?"
"Jika tidak, maka tidak ada yang bisa menghentikan Wonshik. Sihir hanya bisa dilawan dengan sihir." Jungkook menjawab pertanyaan Taehyung.
Jimin berjalan ketengah ruangan. Menancapkan pisau yang ia pegang ke lantai.
"Jungkook, aku minta ijin untuk sihir."
"Baiklah. Jangan lepaskan jimat itu." Ucap Jungkook sebelum mulai membaca mantra. "Dengarlah suaraku, dan kabulkan permohonanku. Pohon diantara pohon, pohon besar diantara pohon besar, pohon yang ada sejak dulu, pohon kehidupan. Temukan orang yang tersesat karena sihir, temukan ia yang menginginkan darah." Patung dileher Jimin dan pisau yang ditancapkan kelantai mulai bersinar kemudian keluar bayangan seperti tali dari lantai dan menyebar keseluruh ruangan.
"Jika kejadian ini berlangsung setahun yang lalu, butuh waktu buatku untuk bisa mendapatkan informasi tentang pembunuh itu." Ucap Jungkook.
"Aku tidak peduli, asal itu tidak memakan waktu yang lama. Aku sudah menunggu satu tahun untuk membunuh pembunuh Yoongi dengan tanganku sendiri." Jimin berbicara dengan senyum yang mengerikan dan mata yang berselimutkan dendam.
Itu benar, Jimin sudah melakukan perjanjian dengan Jungkook. Dia akan membantunya jika Jungkook juga bisa membantunya dengan sihir untuk menemukan pembunuh Yoongi satu tahun yang lalu.
"Aku yakin semangatmu akan membuat Yoongi bahagia disurga." Ucap Taehyung sambil tersenyum sedih.
"Jangan bodoh. Orang mati tidak merasakan kebahagiaan ataupun kesedihan. Aku hanya tidak terima jika pembunuh Yoongi tidak mendapat balasan yang setimpal. Itulah mengapa aku menggunakan sihir. Itulah kenapa aku akan membantu Jungkook." Taehyung sedikit terkekeh mendengar ucapan Jimin.
"Jeon Jungkook, apa kau yakin bisa percaya pada orang ini?" Jimin menatap Taehyung heran.
"Kepentingan kita sama, jadi dia tidak akan berkhianat. Memanfaatkan sibodoh ini yang sangat sayang pada adiknya adalah pilihan yang tepat." Jawab Jungkook.
Kepribadiannya yang perlu diragukan.
"Taehyung. Kota ini cepat atau lambat akan di karantina, kau harus bergegas untuk lari dari sini."
"Eh? Kau tidak butuh bantuanku?"
"Apa orang tuamu tidak akan khawatir padamu? Dan juga, saat seperti ini seharusnya kau bersama dengan pacarmu." Degg. Dapat Taehyung rasakan jantungnya yang berdenyut sakit.
"Lagipula, kau tidak pernah akur dengan Yoongi. Kau tidak punya kewajiban untuk membantuku."
"memang benar sih.." lirih Taehyung. Jimin memberikan beberapa jimat pada Taehyung.
"Dengan membawa ini, kau tidak akan terkena dampak sindrom besi hitam, dan Jungkook akan membuka segelnya sehingga kau bisa menggunakannya untuk bertahan dan bergerak dengan cepat. Jika kau bisa membayangkan kekuatan yang kau inginkan, sihir itu akan bekerja." Taehyung menerima jimat yang diberikan Jimin. "Juga, jika kau melihat banyak kupu-kupu secara tiba-tiba, berhati-hatilah. Itu adalah tanda bahwa buah akan muncul. Telur-telur dan kepompong merespon bau buah dan tumbuh secara kilat. Ya sudah sampai jumpa. Aku akan kembali setelah aku membunuh pembunuh Yoongi. Setelah itu kenalkan aku pada pacarmu ya."
"Ya. Ketika itu sudah terjadi aku akan memperkenalkannya padamu." Ucap Taehyung kemudian pergi.
Menyelamatkan dunia, huh? Dia tidak peduli dengan dunia ini. Jika itu bisa membuatnya menemukan pembunuh Yoongi dia tidak akan ragu-ragu menghancurkan dunia ini.
.
.
"Kim Taehyung. Apa kau percaya padanya?" Tanya Jungkook pada Jimin yang sedang memainkan patung kayu, alat komunikasinya dengan Jungkook.
"Aku sudah lama mengenal Taehyung."
"Aku juga sudah lama mengenal Wonshik. Tapi sekarang..."
"Jangan menyamakanku dengan pria sombong sepertimu." Potong Jimin dengan santainya.
"Sombong malah pantas menggambarkan sikapmu." Balas Jungkook.
"Diamlah. Ohh.." Jimin berseru dan tersenyum senang begitu melihat bayangan yang menyerupai tali dan menyebar dalam ruangan mulai menghilang.
"Sepertinya kita sudah mendapatkan hasilnya."
"Bagaimana Jimin?"
"Aku menunggu. Waktu ini, setiap menitnya, aku akan mendapatkan petunjuk tentang pembunuh itu." Ucap Jimin dengan semangat yang membara.
.
.
.
Dilain tempat Taehyung menyusuri kota dengan sebuah ransel dipunggungnya.
Waktu sudah lama berlalu, tapi tidak ada satupun ambulan lewat. Apa pemerintah sudah menyerah?
Didepannya, ia melihat lima orang senior yang sebelumnya memukulnya, kini kelima orang itu sudah terbujur kaku seperti patung besi. Tidak jauh dari mereka, ia melihat dompetnya yang sebelumnya diambil lima orang itu.
"Maaf. Aku merasa, aku akan membutuhkan ini, jadi aku ambil lagi ya." Ucap Taehyung sambil mengambil dompet miliknya sendiri itu.
"Ya, itu kasar sekali." Taehyung tersentak mendengar suara seseorang kemudian terjatuh begitu orang tersebut memukunya dengan sebuah tas.
"Mencuri dompet dari mayat, tidak heran kau ini temannya Park Jimin." Lanjut orang itu yang ternyata adalah Jin sambil mengunci pergerakan Taehyung.
"katakan padaku semua yang kau tahu. Apa kalian berdua tahu dimana Jeon Jungkook sekarang berada?" paksa Jin pada Taehyung yang masih mencoba melepaskan diri,
Sentuh jimat dan bayangkan, pertahanan dan gerakan super cepat.
Bruukkk. Seketika tubuh Jin dan Taehyung dengan cepat berpindah kesisi lain jalan dengan tubuh Jin yang menabrak dinding gedung dibelakangnya. Taehyung dengan cepat berpindah ketempat pistol Jin yang terlempar, mengambilnya kemudian berlari pergi menuju gedung sekolah dan bersembunyi.
"sepertinya sekarang sudah aman." Taehyung duduk dilantai sambil mengatur deru nafasnya yang tidak beraturan.
Pranggg prangg. Kaca jendela disekitar Taehyung berhamburan hancur akibat tembakan bertubi-tubi. Sambil merangkak melindungi diri Taehyung mengeluarkan ponselnya, menjadikannya cermin untuk melihat siapa yang melakukan ini.
"Yang benar saja." Seru Taehyung tidak habis pikir saat melihat wajah Jin terpantul dalam ponselnya.
.
.
.
"Aku tidak menyangka jika menemukan pembunuh harus seperti ini. Ini diluar rencana." Ujar Jungkook dari patung kayu.
"Jangan salahkan aku. Aku tidak menyalahkanmu. Aku membutuhkanmu untuk menangkap pembunuh itu."
"Kejadiannya setahun yang lalu ya? Itu sebelum aku terdampar. Aku tidak percaya ini." Ucap Jungkook sambil melipat tangannya didada dan duduk diatas pasir putih menatap laut.
"Ya, karena kau inikan pangerah bodoh yang terjebak dalam barel, mau gimana lagi." Jungkook yang kesal dengan ucapan Jimin menjawab dengan marah.
"Dan kau juga dalam masalah jika tidak ada pangeran bodoh ini."
"Bukannya kamu yang dalam masalah." Tanyanya mengejek. "Oh? Ada orang?" Jimin menghentikan langkahnya yang sedang menyusuri kota begitu melihat seorang pria yang menggunakan long coat berwarna coklat dengan topi yang berwarna senada menutupi rambut blondenya, berdiri di seberang jalan sambil memegang tombak. Orang itu berpindah dengan cepat ke sisi jalan yang sama dengan Jimin.
"Lebih cepat dari yang kuduga." Ucap Jimin menyeringai sambil mengeluarkan jimat dari sakunya.
"Ada apa?" Tanya Jungkook.
"Penyihir sungguhan." Jawaban Jimin membuat Jungkook tersentak.
"Anak buah Wonshik?"
"Bocah, apa yang kau lakukan disini?" Tanya pria itu.
"Bagaimana denganmu? Menyelidiki wilayah ini karena perintah Wonshik?"
"Begitu. Jawaban yang singkat." Ujarnya datar kemudian melesat menyerang Jimin. Dengan cepat Jimin menghindar, menghilang kemudian mencul berdiri diatas sebuah lampu jalan.
"Dimana kau belajar sihir itu?" Tanya pria itu lagi. Jimin hanya tersenyum meremehkan melihat pria itu bersiap dengan tombaknya.
"Kau sudah persiapan ya, pemakai tombak?"
"Tombak? Jimin jangan melawannya. Sepertinya dia adalah Jeon Namjoon. Dia lawan yang sangat kuat." Jungkook memberikan peringatan.
"Kalau begitu. Aku akan mengalahkannya disini." Ucap Jimin kemudian melesat menuju pria bernama Namjoon itu.
.
.
.
"Taehyung~~ Kim Taehyung~~~ jangan meremehkan aku ya." Ucap Jin sambil mencari Taehyung di gedung sekolah.
"Hanya seorang pria, tapi aku punya banyak mainan." Lirih Jin sambil membuka ranselnya. Taehyung bersembunyi dibalik meja guru salah satu ruang kelas sambil mengatur nafasnya yang tersenggal. Tiba-tiba ruangan tempat Taehyung berada diselimuti asap. Dengan segera Taehyung menutup mulut dan hidungnya kemudian berlari keluar sambil sesekali terbatuk karena asap. Berlari menaiki tangga menuju atap sekolah.
"Dimana kau bersembunyi? Asapnya akan terus menyebar." Jin yang masih mencari Taehyung sekarang sudah menggunakan masker dan memegang pistol ditangan kanannya.
"Dinginnya. Seharusnya aku memakai pakaian yang lebih tebal lagi." Lirih Jin begitu tubuhnya diterpa angin saat sampai diatap gedung.
Dorr. Sebuah peluru melesat melewati sisi kanan tubuh Jin dan melubangi tangki air didepannya.
"Oh. Sejak kapan kau disitu?" Tanya Jin santai pada Taehyung yang berdiri di belakangnya sambil memegang pistol. Jin menjatuhkan pistol dan ranselnya kemudian mengangkat kedua tangannya sebelum berbalik menatap Taehyung.
"Bisa kembalikan itu padaku? Anak kecil tidak boleh menggunakannya. Kalau kau tidak berhati-hati kau bisa membunuh orang." Ujar Jin santai sambil tersenyum.
"Apa kau melihatnya saat datang kesini?" Jin hanya menatap bingung Taehyung mendengar pertanyaannya.
"Kupu-kupu yang terbang beriringan. Semua makhluk berubah menjadi besi. Dan ada buah mencurigakan yang terbang. Apa ada yang tidak mungkin terjadi disaat seperti ini?"
"Waktunya keluar? Mengutip Hamlet ya? Itu sudah sangat terkenal." Taehyung melangkah perlahan dengan tetap menodongkan pistol pada Jin.
Dia bisa menembak. Tenang dan terlihat natural. Dia bukan bocah sembarangan.
Jin dengan cepat menyerang Taehyung, menendangnya begitu jarak mereka dekat. Jin berusaha meraih pistol Taehyung, tapi dengan cepat Taehyung menghentikannya dengan memeluknya kemudian menghilang dan terjun dari atap gedung dengan Taehyung yang masih memeluk Jin. Sebelum kepala Jin menghantam tanah dengan keras, caha biru menyelimuti mereka mengurangi kecepatan jatuh mereka hingga kepala Jin hanya membentur pelan tanah dibawahnya. Meski begitu masih ada rasa sakit dan terkejut yang dirasakan Jin, sedangkan Taehyung berdiri menjaga jarak dari Jin.
"Ayo kita buat perjanjian."
"Perjanjian?" Tanya Jin dengan tubuh sedikit menggigil, gemetar karena shock tepatnya. Taehyung yang melihatnya terkekeh pelan.
"Sepertinya aku tidak bisa meninggalkan Jimin sendiri."
.
.
.
Dilain tempat, Jimin masih bertarung melawan Namjoon.
"Tuan Wonshik, aku bertemu dengan seorang anak yang tidak membatu ketika buah itu muncul. Dia juga bisa menggunakan sihir klan kita." Ucapnya pada sebuah kayu dalam genggamannya. Disisi lain Wonshik mendengarkan ucapan Namjoon dari kayu dalam genggamannya juga.
"Pangeran benar-benar melakukannya, berhasil keluar jauh dari pulau itu. Mungkin inilah perbedaan dari orang yang lahir membawa kekuatan." Ucap Wonshik.
"Apa yang harus kita lakukan?"
"Tangkap dia tapi jangan sampai dibunuh."
.
.
.
Taehyung berjalan beriringan dengan Jin menyusuri kota.
"Aku setuju, tapi kau harus benar-benar menjauh dari kasus ini. Meski dia adalah temanmu kau tidak akan pernah hidup tenang dengan orang yang terobsesi untuk balas dendam karena adiknya."
"Kau benar. Bahkan pacarku dulu sering mengatakannya padaku tidak ada untungnnya berteman dengan Jimin."
"Dulu sering? Mengapa dulu?" Jin terdiam ketika ia terpikirkan sesuatu.
"Tidak, ini tidak ada hubungannya dengan sindrom besi hitam. Setahun yang lalu aku sudah tidak bisa melihatnya lagi." Jelas Taehyung.
Hah? Setahun yang lalu? Itu adalah ketika adik Park Jimin...
"Tunggu, apa kau juga berencana untuk balas dendam?"
"Aku tidak seperti Jimin. Meski aku balas dendam, meski aku bisa membunuh pembunuh itu, menjadi gila tetap gila. Tidak ada yang berubah, tidak ada yang kembali. Apa yang bisa kulakukan? Mungkin aku bisa menemukan jawabannya di dunia ini, ketika waktunya tiba." Ucap Taehyung kemudian lanjut berjalan.
-TBC-
