Kanzaki's Law Firm. Lunch break.

"Selamat, istri Anda positif hamil."

Kabar menggembirakan itu membuat hari-hariku agak sedikit berubah. Sebenarnya bukan aku yang mengalami perubahan, tetapi semua ini terjadi karena mendadak Tachibana menjadi sangat perhatian padaku. Berangkat kerja, dia mengantarku dengan mobil, begitupula saat pulang kerja. Tachibana juga banyak memberikan buku atau lembaran artikel yang berkaitan dengan masa kehamilan. Tugasku sebagai istri juga sedikit dikerjakan olehnya. Contohnya mencuci pakaian. Setiap pagi sebelum berangkat kerja, kira-kira 2 jam sebelumnya, aku sudah mendengar dia berkutat dengan cucian kotor dan mesin cuci.

(suami yang baik…^^)

Usia kehamilanku memang belum matang, maka itu aku tidak ragu untuk memutuskan selalu masuk kerja seperti biasa. Aku mengabari hal ini kepada teman-temanku, dan mereka pun senang sekali mendengarnya. Termasuk bosku, Kanzaki Shuiko. Dia yang paling senang karena selama ini aku banyak bercerita padanya.

"Kau berharap dia menjadi anak perempuan atau laki-laki, Kunimitsu?"

Saat ini kami sedang menikmati makan siang di sebuah restoran sushi yang tidak jauh dari kantor. Dia bilang ingin merayakan rasa senangnya mendengar kabar ini.

"Wah, saya belum bisa memastikannya, Kanzaki-sachou. Mungkin nanti dia akan menjadi anak laki-laki yang hebat seperti ayahnya."

"Bersyukurlah kau punya suami siaga seperti dia, Kunimitsu. Nah, sekarang kita bicarakan dirimu. Kehamilanmu sekarang sudah masuk 4 bulan. Aku berencana untuk agak mengurangi jam kerjamu."

"…"

"Aku sangat berharap kau tidak keberatan dengan keputusanku. Kau tetap akan menjadi staffku, tetapi kau akan bekerja secara freelance. Jadi kau tidak perlu masuk kantor setiap hari."

"Anda yakin? Bukan berarti Anda memecat saya khan?" *agak gelisah*

"Tenang saja, Kunimitsu. Kau itu sekretarisku yang paling handal. Hanya saja aku tidak ingin membebanimu dengan harus datang ke kantor setiap hari. Kau bisa mengerjakan tugas-tugas secara online di rumah. Aku punya Fuji dan staff lain yang masih bisa diajak bekerja sama."

"Sachou…"

"Kau khawatir penghasilanmu berkurang, Kunimitsu?"

"B-bukan itu…"

"Kau tidak akan kehilangan pekerjaan. Pokoknya kau tidak boleh terlalu banyak bekerja. Aku khawatir akan kondisi kehamilanmu."

Apartment. Night, 8.00 p.m

Keputusan bosku tadi langsung aku konsultasikan kepada Tachibana. Sebelum aku bercerita, aku mendengar kabar baik dari kantor Tachibana. Suamiku ini ternyata sudah naik jabatan. Posisinya sekarang bisa dikatakan dekat dengan atasannya, tidak lain dan tidak bukan adalah Mentri Luar Negeri itu sendiri. Selama 3 tahun bekerja, dia memang sudah menunjukkan prestasi yang gemilang.

Dan sekarang, saatnya membicarakan tentangku…

"Keputusan yang diambil bosmu itu sangat tepat, Mit-chan. Apalagi kalau kau sudah hamil tua nanti. Ini akan sangat membebanimu kalau kau tetap bekerja setiap hari."

"Kau yakin tidak apa-apa jika aku menurutinya, Kippei?"

"Dengar, Mit-chan. Jabatanku naik tidak hanya di kantor, tetapi juga di rumah ini. Tadinya aku hanya seorang suami, tetapi sekarang aku sudah menjadi ayah dan bersiap menjadi kepala rumah tangga. Tugasku selanjutnya adalah menafkahi keluarga secara keseluruhan. Aku bisa meyakinkanmu bahwa aku mampu menghidupi keluarga ini. Kita, dan anak kita nantinya."

"…"

"Percayalah padaku, sayang…"

(aaawww…romantis seka-*digaplok Tachibana*)

Dia bicara begitu sambil mencium keningku dan merangkulku dengan sayang. Aku sangat menghargai kerja kerasnya. Dia juga sudah menunjukkan tanggung jawabnya sebagai suami, dan nantinya akan menjadi seorang ayah. Jika dia sudah bicara begitu, maka dia pun akan teguh dengan kata-katanya.

"Oh ya, aku mau tanya padamu, Kippei. Kau ingin anak kita ini laki-laki atau perempuan?"

"Hm…aku mau anak laki-laki. Yang tampan sepertiku, kuat dan tegar sepertimu. Hehe…"

"Tampan sepertimu?" *ngasih pandangan curiga*

"Haha…iya donk! Kalau aku tidak tampan, mana mungkin kau mau menikah dengank-*keburu dijitak Tezuka*"

"Narsis." *cemberut*

"Kau ini bikin aku gemas! Apa semua istri yang sedang hamil itu menggemaskan ya? Ke sini kau…" *mulai godain Tezuka*

Apartment. Once in the afternoon, 5.30 p.m

Satu minggu kemudian, aku sudah resmi menjadi pekerja freelance. Aku tidak lagi mengurusi berkas-berkas yang menumpuk di meja kerja. Aku bisa mengerjakan semua tugasku sambil tiduran di ranjang atau bersantai di sofa sambil nonton TV. Atau mungkin sambil memasak di dapur. Bagaimana mungkin? Ya, karena bosku kemarin membelikanku laptop untuk memudahkanku mengerjakan pekerjaan di rumah.

Ring…ring…

Saat aku sedang mengerjakan laporan untuk dikirimkan ke bosku via e-mail, aku mendengar suara ponselku berdering. Ternyata Tachibana yang meneleponku.

"Kippei, ada apa?"

"Sedang apa di rumah?"

"Ada laporan yang harus aku kerjakan untuk dikirim ke bosku via e-mail. Ini sudah hampir selesai."

"Meski di rumah, kau tetap saja bekerja, Mit-chan"

"Kalau tidak, aku bisa jenuh nanti."

"Oh ya, ini aku sudah mau pulang lho. Mau dibawakan sesuatu?"

"Hm…sebentar. Tadi aku browsing di internet, di dekat kantormu sana ada sebuah restoran yang menjual Roasted Duck. Aku ingin itu."

"Boleh saja. Ada lagi?"

"Hm…tiba-tiba saja aku ingin ice cream cake."

"Apa? Seingatku dulu, kau pernah kubawakan ice cream cake tetapi kau tidak mau memakannya. Katanya tidak suka, dan sekarang kau minta."

"Entahlah, tapi aku mau itu. Dan ini bukan aku yang minta, melainkan anak kita."

"Mengidam nih ceritanya?"

"Aku sangat berharap ini masih normal-normal saja."

"Tentu saja. Kau memang tidak pernah minta ini-itu sebelumnya, dan baru sekarang kau minta sesuatu padaku. OK, tunggu aku ya…"

Senang sekali rasanya kalau mendengar suamiku pulang cepat dan berjanji akan membawakan sesuatu untuk malam malam. Aku jadi tidak repot memasak. Terus terang saja aku agak kehilangan ide untuk memasak malam nanti.

Sambil menunggu dia pulang, aku meneruskan kembali pekerjaanku. Laporan yang aku tulis ini berkenaan dengan kasus sengketa lahan dan bangunan sekolah yang berlanjut pada kasus pidana. Ada sekelompok pengusaha yang mengklaim lahan itu milik mereka, dan akan membangun sebuah gedung kantor di sana. Tentu saja ini mendapat kecaman dari pihak sekolah. Sang kepala sekolah memakai bosku untuk menjadi pengacara, dan sekarang berkas datanya sedang aku analisa karena aku dengar besok akan dimulai persidangannya.

Ring…ring…

30 menit kemudian, teleponku berdering lagi. Kali ini telepon dari bosku. Padahal dia sedang online, kenapa harus menelponku segala? Tidak bisa bicara lewat messenger chat saja?

"Selamat sore, Kanzaki-sachou."

"Kunimitsu. Aku harap ini tidak mengganggu pekerjaanmu. Ada satu hal yang ingin aku sampaikan padamu."

"Apa itu?"

"Besok kau datanglah ke persidangan untuk mewakilkan aku."

"Apa Anda berhalangan hadir besok?"

"Aku harus pergi ke Departemen Kehakiman. Ada meeting dengan para pengacara di sana, dan bertemu dengan Jaksa Agung. Aku sudah menolak untuk datang karena ada persidangan, tapi pihak sana sangat mendesak."

"Saya mengerti."

"Kau tidak apa-apa khan, Kunimitsu? Maksudku, kau sehat-sehat saja selama seminggu di rumah?"

"Ya, saya baik-baik saja."

"Bagaimana kandunganmu?"

"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan."

"Meski begitu, besok aku akan menyertakan tim medis untuk mendampingi persidanganmu. Sekedar untuk jaga-jaga."

"Jam berapa saya harus sampai di pengadilan?"

"Pukul 10 pagi, jangan sampai terlambat. Sebentar lagi aku akan mengirim data lengkap kliennya. Kau bisa langsung menghubunginya. Oh ya, kau tidak akan sendirian juga di sana. Aku mengirim Fuji dan Natsuki untuk menemanimu bertugas."

"Hai, Sachou."

"Terima kasih, Kunimitsu. Jaga kesehatanmu."

Apartment. Dinner time 7.00 p.m

"Tadaima, Mit-chan."

"Okaeri, Kippei." *mencium pipi Tachibana*

"Ini pesananmu."

"Arigato gozaimasu! Ayo kita makan sekarang, aku sudah menunggumu dari tadi."

Kami menikmati makan malam dengan suasan berbeda. Biasanya kami banyak berbagi cerita di meja makan. Tapi sekarang, aku lebih banyak mendengarkan Tachibana yang bercerita. Dia sangat senang dengan posisi barunya. Bukan karena gajinya bertambah, tetapi pekerjaannya jauh lebih ringan dari sebelumnya. Dalam pembicaraan ini, dia juga banyak bertanya tentangku. Katanya, selama di kantor, dia selalu memikirkan aku. Katanya lagi, dia tidak tega membiarkanku sendirian di rumah.

"Andai saja aku bisa ikut menemanimu di rumah, Mit-chan."

"Kalau begitu, kau saja yang hamil. Bagaimana?"

"Hahaha…kau ini. Nah, sekarang kita nikmati ice cream cake-nya sebagai makanan penutup. Biar aku yang bereskan dapur, kau pergilah ke ruang TV."

Tak lama setelah itu, Tachibana kemudian bergabung denganku di ruang TV. Saatnya menikmati ice cream cake. Dia benar, dulu aku tidak begitu suka dengan makanan manis macam ini. Gigiku sensitif, tidak begitu bisa makan sesuatu yang dingin. Hanya saja sekarang aku merasa permintaanku itu tadi bukan berasal dari diriku sendiri, melainkan janin yang ada dalam perutku.

"Kau sudah konsultasi dengan Dr. Inui mengenai kehamilanmu, Mit-chan?"

"Tadi pagi aku sempat menelponnya. Dia bilang, selama aku tidak mengeluh apa-apa, kandunganku bisa dipastikan baik-baik saja."

"Jadi tidak sabar ingin melihatnya tumbuh besar. Hei, Nak, *ngelus perut Tezuka* cepat besar ya. Nanti Ayah akan mengajakmu bermain."

"Memangnya dia bisa mendengarmu? Khan masih 4 bulan, belum jadi apa-apa."

"Dia tidak mendengar, tapi bisa merasakan kehadiran tanganku."

"Kippei…" *megang tangan Tachibana*

"Aku sayang padamu, Mit-chan."

"Aku juga. Ah, sebentar. Aku mau ke kamar mandi."

Aku beranjak ke kamar mandi untuk menyikat gigi karena rasanya sudah sangat ngilu setelah makan ice cream tadi. Saat masuk, baru saja aku melangkahkan kaki ke kamar mandi dan akan berdiri di atas keset handuk di depan wastafel, tiba-tiba…

*gubrak*

"Aduh…ah! Kippei! Tolong aku…!"

To be continue~


Apakah yang terjadi dengan Tezuka? Dan bagaimana kondisi kehamilannya setelah itu? Chapter 4 coming up next! Comment/review masih saya tunggu dengan senang hati…