Koganei terbangun dari tidurnya saat langit di luar masih terlihat gelap, cahaya rembulan menyusup masuk kedalam kamarnya yang tidak ada pencahayaan. Menggosok matanya untuk mengusir rasa kantuk, Koganei mengambil gelas yang tersimpan di meja nakas di samping tempat tidurnya berniat untuk minum sebelum tersadar kalau air di dalam gelasnya sudah habis.

Dengan setengah hati Koganei beringsut turun dari ranjangnya, keluar kamar untuk mengambil air di dapur. Setelah urusannya selesai, ia berniat kembali ke kamarnya sebelum kemudian berhenti separuh jalan ketika ia melihat seorang wanita sedang terduduk sambil menangis di atas tangga yang menuju lantai dua.

Wanita itu memakai kimono putih tipis dengan rambut pink panjangnya yang terurai menutupi wajah yang tertakup tangannya. Dengan hati yang was-was Koganei mencoba memberanikan diri untuk mendekati wanita itu untuk menanyakan kenapa ia menangis.

Mengulurkan tangan hendak meraih bahu wanita itu, Koganei berucap hati-hati, "Ano, nona kamu kenapa?"

Yang tidak Koganei duga adalah ketika wanita itu menoleh kearahnya ia dapat melihat wajah wanita itu yang pucat pasih hampir membiru dengan urat-urat yang terlihat jelas, di pipinya ada aliran air mata darah yang menetes menodai kimono putihnya, lingkaran hitam melingkari matanya yang terbelalak lebar seakan orb baby pink itu hampir keluar dari rongga matanya.

Bibir yang membiru dan terkelupas milik Wanita itu terbuka menggumamkan sebuah nama dengan lirih "…Tetsu…kun…?" dan setelahnya Koganei melihat bintang dan semuanya menggelap.


Disclaimer : Fujimaki Tadatoshi

Warning : OOC, typos, kalimat tidak baku, dll.


Seperti hari sebelumnya pagi-pagi sekali Riko mengumpulkan anak-anak Seirin untuk lari pagi.

"Nee minna, untuk lari pagi hari ini bagaimana kalau kita mengadakan game?" usul Riko sambil tersenyum penuh arti.

"Game?" beo yang lain bingung.

"Entah kenapa aku mendapat firasat buruk tentang ini," bisik Hyuga pada Izuki yang berdiri di sampingnya.

"Darou na," sahut Izuki sambil menghela nafas pasrah.

"yep! Kita akan membagi dua kelompok menjadi 4 orang dan bermain polisi dan perampok di gunung satu jam, tim yang kalah latihannya akan di naikkan dua kali lipat," jelas Riko antusias.

"APAAA?!" sentak anak-anak Seirin syok, membayangkan bagaimana lelahnya setelah lari-lari di gunung mereka harus latihan 2 kali lipat dari yang lain membuat kaki mereka keburu lemas duluan.

"Saa minna, kita mulai sekarang," ujar Riko sembari meniup peluitnya.

"Huuf, minna ayo istirahat dulu, lagi pula kelihatannya senpai-tachi tidak mengejar kita sampai sini," Ujar Fukuda yang berdiri bertumpu pada lututnya, berusaha mengatur nafas.

"A'h, aku juga sudah lelah. Latihan traning camp benar-benar brutal," keluh Kawahara seraya mendudukkan diri di sebuah batu besar.

"Tapi kita juga tidak bisa lama-lama berada di sini, kapten sudah tertangkap, kalau kita juga tertangkap latihan kita bisa di naikkan 2 kali lipat," ujar Furihata seraya ikut mendudukkan diri di batu besar bersama Kawahara.

"A'h, tahu kok. Ngomong-ngomong kalian dengar tidak? Pagi tadi Tsuchida-senpai menemukan Koganei-senpai pingsan di bawah tangga loh."

"Dengar, kalau tidak salah saat bangun pun ia tidak mau bicara saking terguncangnya bukan?"

"Kira-kira apa yang sudah terjadi sama Koganei-senpai sampai segitunya, ya?"

"Entah— loh?" merasa menyentuh sesuatu Fukuda menolehkan kepalanya kearah samping batu yang ia duduki.

"Ada apa Fukuda?" penasaran Furihata ikut turun dari batu yang ia duduki mengikuti temannya yang sekarang sudah berjongkok di samping batu.

Mengikuti garis kanji yang terpahat di batu itu dengan tangannya, Fukuda lalu menggaruk pipinya dengan alis berkerut, "'ka'? kira-kira untuk apa seseorang mengukirkan kanji api di batu ini, ya?"

"Palingan dari pasangan kurang kerjaan yang menulis inisial mereka, bukankah hal ini sudah biasa?" ujar Kawahara sembari melipat tangannya ke belakang kepala.

"Tapi kalau ada pasangan yang menulis bukannya harusnya mereka menulis inisial mereka berdua? Masa hanya menuliskan satu inisial saja." Bantah Furihata, sembari mendongak ke arah Kawahara.

Menggaruk pipinya sambil mendongak keatas dengan alis berkerut, Kawahara bergumam ragu, "Benar juga sih."

Menggosok lehernya yang entah kenapa terasa dingin Fukuda bangkit berdiri, kerutan di dahinya makin dalam, "Ini aneh. Kita balik saja yuk! Perasaanku jadi tidak enak, lagi pula tinggal 15 menit lagi, 'kan? Kita sembunyi di dekat mansion saja."

"Uh… ya sudah, yuk!" ujar Furihata sembari menganggukan kepalanya menyetujui, lalu beranjak meninggalkan tempat itu.


satu jam sebelum sarapan anak-anak Seirin kembali berkumpul di halaman mansion untuk melakukan persiapan latih tanding.

"Kau yakin mau ikut latihan Koganei-kun? kalau kau masih kurang baikan, kau boleh saja istirahat untuk hari ini," ujar Riko khawatir.

"Daijoubu, lagi pula aku lebih memilih bermain dengan kalian ketimbang mengurung diri di kamar seharian," ujar Koganei sembari memainkan bola basket. Yah, sebenarnya tawaran istirahat dari latihan nerakanya Riko selama sehari itu bagi koganei memang menggiurkan sih, tapi setelah kejadian semalam, membayangkan berada sendirian di kamar sepertinya agak menakutkan.

"Hm… tapi kita kekurangan jumlah, sepertinya kita harus meninggalkan satu pemain buat diganti di 20 menit terakhir," gumamnya sembari menumpu dagu. Memang berginilah nasib club basket yang baru dibentuk kurang lebih satu tahun, dengan belum banyaknya prestasi yang di dapat pastilah kalah populer dari club lain yang sudah berpengalaman di Seirin akibatnya tidak ada yang terlalu berminat untuk masuk dan sang kantoku harus memikirkan cara pelatihan yang tepat dengan jumlah pemain yang seadanya.

"Ano kantoku, soal itu sebenarnya ada seseorang yang ingin ikut latihan bersama kita," sela Furihata sembari mengancungkan tangan ke udara, meminta perhatian.

"Eh, benarkah? Kalau begitu mana orangnya?"

"Eh? Ettoh… dia sudah berada di sampingku," sahut Furihata sembari menunjuk arah sampingnya.

"…Samping?" mengikuti arah yang di tunjukkan Furihata, betapa terkejutnya sang pelatih ketika mendapati seorang pemuda bersurai baby blue, dengan tinggi yang hampir sama dengan Furihata tengah menatapnya balik dengan mata aquamarine besarnya, sedetik kemudian gadis itu berteriak kaget, "KYAAAH!"

"Doumo" sapa Kuroko sembari membungkukan punggungnya sedikit.

"Woah! Oi, sudah berapa lama kau ada disana?!" seru Hyuga yang tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.

"Aku sudah berada di sini dari tadi" jawab Kuroko datar.

"Eh! Beneran?!" seru Koganei tidak percaya.

"J—ja.. kau pasti cucu dari Kuroko-san, 'kan? Namamu?" ujar Tsuchida sembari maju ke depan menghadap Kuroko.

"…Kuroko Tetsuya, dessu."

Terkesiap mendengar nama yang disebutkan tadi, tanpa sadar Koganei bergidik sembari menyebutkan nama itu agak keras, "Tetsuya?!" bersamaan dengan itu ingatan kejadian kemarin malam berkelebat di benaknya.

"Em? Ada apa Koganei?" Tanya Tsuchida bingung dengan reaksi yang di tunjukan sahabatnya.

"Eh? Ah, tidak apa, mungkin cuma kebetulan, iya! Cuma kebetulan," ucapnya yang lebih terdengar seperti sebuah mantra untuk dirinya sendiri membuat Tsuchida yang berada di sampingnya semakin mengerutkan dahinya bingung dengan sikap sahabatnya yang kembali aneh.

"Tubuhku sejak dari dulu memang sudah lemah dan mungkin aku tidak terlalu banyak membantu, tapi aku akan berusaha sebisaku."

"Jangan bicara begitu Kuroko-kun, dengan adanya keberadaanmu pun sudah sangat membantu, dengan begini semua pemain bisa lengkap. Lakukan saja sebisamu dan jangan memaksakan diri, oke?"

"Ha'i, mohon kerja samanya," ujar Kuroko sembari kembali membungkukkan badannya.


"PRIIIT! Ha'i, kerja bagus minna, kita akan istirahat dulu selama 35 menit, setelahnya kita akan berkumpul kembali di sini untuk melatih shooting dan handling kalian. Kalian boleh bubar sekarang," terang Riko.

"Ha'i!" sahut anak-anak Seirin kompak.

"Daijoubu ka, Kuroko?" Tanya Furihata sembari berjongkok di depan Kuroko yang terbaring telentang di tanah.

"Ha'i, daijoubu dessu…" jawab Kuroko datar walau pun sebenarnya ia sudah terlihat mau pingsan.

"Tidak. Kau tidak baik-baik saja, ini minumlah" menyodorkan air, Riko ikut berjongkok di depan Kuroko.

Mendudukkan diri, Kuroko mengambil botol air yang di sodorkan ke padanya, "Terima kasih."

"Kerja bagus. Kami benar-benar tertolong terima kasih, ya?"

"Tidak perlu berterima kasih, aku pun menikmati permainannya. Terima kasih sudah mengizinkan aku ikut bermain,"

"Neh, bisakah nanti kau ikut bermain lagi bersama kami? Kau tidak perlu melakukan hal berat, cukup lakukan passing seperti tadi saja sudah cukup kok,"

"Tentu,"

"Hontou ni, terima kasih. Ja, besok pagi kami akan membutuhkan tenagamu lagi untuk bermain bersama kami, aku mengandalkanmu Kuroko-kun," melambaikan tangan Riko berlari memasuki mansion.

Sepeninggal Riko, Furihata kembali melemparkan pandangannya pada Kuroko yang sedang menegak air dari botol yang di berikan Riko tadi.

"Sebaiknya kita juga masuk kedalam, sebentar lagi 'kan sarapan," ajak Furihata seraya bangkit berdiri.

"…Maaf, sepertinya aku akan mengambil roti isi saja di dapur dan langsung menuju kamarku."

"…Oh ya, sepertinya kau memang perlu istirahat yang banyak, maaf kalau kami jadi membebanimu."

"Jangan bicara begitu. Sudah kubilang, aku pun menikmati bermain bersama Furihata-kun dan yang lainnya, terima kasih," ujar Kuroko sembari melemparkan senyuman tulus kepada Furihata.

Melihat senyuman tulus dari Kuroko, Furihata pun ikut tersenyum seraya berucap, "Tentu."


20 menit sesudah sarapan, Riko kembali menghimbau agar anak-anak Seirin segera ke halaman dan melakukan pemanasan untuk latihan handling dan shooting sementara menunggu ia selesai mandi.

Sembari memantulkan bola beberapa kali lalu mengambil posisi shooting, Hyuga mengajukan pertanyaan ke pada Koganei, "Ngomong-ngomong pagi tadi kau kenapa Koga? Apa yang terjadi tadi malam hingga kau kami temukan pingsan di bawah tangga?" tanyanya sambil melepaskan bola yang ia pegang dan melihat bola itu masuk kedalam ring dengan sempurna.

"…Tidak apa-apa…" gumam Koganei singkat tangannya sibuk memantulkan bola namun wajahnya terlihat sedang melamun.

"Jangan membohongi kaptenmu! Apanya yang tidak apa-apa sedangkan sekarang saja kau kembali bersikap aneh. Kalau kau ada keluhan sampaikan saja, kau sadarkan sikapmu yang begini bisa mempengaruhi pemain lain," ujar Hyuga yang kembali melemparkan bola yang ia pegang kedalam ring.

"…Aku hanya tidak ingin membuat kalian tidak nyaman."

"Huh?" mengambil bola yang terpantul di tanah, Hyuga kemudian berbalik menghadap Koganei yang sedang menunduk menatap tanah dengan ekspresi yang tidak biasanya serius, bola yang tersimpan di dada ia peluk erat, "Maksudmu apa, Koga?" lanjut Hyuga dengan kerutan di dahi semakin dalam.

Penasaran dengan pembicaraan Hyuga dan Koganei, anak-anak Seirin yang berdiri tidak jauh dari mereka pun berkumpul mengelilingi keduanya, Koganei masih menatap tanah tanpa berniat membuka mulutnya.

"Koga, kalau kau ada masalah katakan saja, mungkin kita bisa bantu," ujar Tsuchida, di tambahi oleh Mitobe yang menepuk bahu Koganei sembari menganggukkan kepala.

Memandang wajah teman-temannya yang diliputi kekhawatiran, Koganei pun luluh dan mulai mau membuka suaranya, "…Mungkin akan ada yang tidak percaya dengan apa yang aku katakan, tapi aku benar-benar mengalaminya."

"Katakan saja, kami tidak akan menghakimi," ujar Hyuga sembari melipat tangannya.

"Sebenarnya semalam aku meli—", sebelum Koganei sempat menyelesaikan kata-katanya, dari arah pintu mansion Riko berseru, memotong percakapan mereka, "Minna! Sedang apa kalian?! Bukankah tadi aku suruh kalian melakukan pemanasan, cepat kumpul!"

Menghembuskan nafas sejenak, Hyuga meletakkan tangannya ke bahu Koganei, lalu berkata, "Nanti kita lanjutkan, Koga," sembari beranjak menemui Riko di ikuti anak-anak Seirin.

Menatap teman-temannya yang beranjak meninggalkannya, Koganei kembali menundukkan kepalanya murung, sebelum kemudian sebuah tangan merangkul bahunya, mendongakkan kepala, ia bisa melihat Mitobe yang tersenyum lembut menenangkan ke arahnya. Ikut tersenyum Koganei balas melingkarkan tangannya ke pinggang Mitobe dan mereka beranjak bersama-sama menemui yang lain.


Seusai makan malam, ketika Furihata berjalan melewati lorong menuju kamarnya, langkahnya terhenti ketika dari luar jendela, ia menangkap sosok Kuroko di antara rimbunan rumpun mawar merah darah di bawahnya.

Lebih mendekat lagi pada jendela di depannya untuk memperluas akomodasi penglihatannya, ia bisa menangkap bagaimana kulit seputih pualamnya seakan memantulkan cahaya rembulan di atasnya, bagaimana hembusan angin mempermainkan surai biru mudanya, bagaimana tubuh kecil itu berdiri tegap menentang hembusan angin yang merajam masuk melewati yukatta biru muda bergaris putih yang ia pakai hingga ke sum-sum tulang, melihat punggung berbalut haori biru malam itu begitu kokoh namun begitu rapuh secara bersamaan.

Meletakkan telapak tangannya ke kaca jendela, Furihata merenung tentang apa yang sebenarnya sedang dicari Kuroko di luar sana, apa yang membuat mata baby blue itu begitu kosong, Kuroko selalu terlihat tegar di dalam senyumnya namun di beberapa kesempatan ia bisa melihat bola mata biru muda itu yang walau pun terkesan dingin tapi ada sepercik kesedihan dan kerinduan di dalamnya, membuatnya berpikir berhakkah ia ikut menanggung deritanya, hanya untuk melihat kelereng aquamarine itu sedikit bersinar…


Author note :

Chapter 3 udah update! (W)/

Di awal chapter ini penampakkan hantunya di munculkan, kurang seram ya?

Oh ya, Ferl lupa menyebutkan kalau penampilan Kuroko waktu di taman sama di tempat lain berbeda. Waktu di taman Kuroko memakai yukatta dan haori berwarna biru, sedangkan di tempat lain ia memakai kaus putih dan celana pendek berwarna biru.

balasan review :

guest : Terima kasih sudah mereview fic ferl, guest-san. silahkan mampir lagi (^U^)/

untuk yang login akan dibalas lewat pm.

di tunggu kritik sarannya (^0^)/