'Bahkan walau aku mencintaimu dan ingin bersamamu itu tidak mungkin kan? Maaf… Aku memilih untuk benar-benar melepasmu dan menyerah pada takdir…'
.
.
.
AFFAIRS
Rate: M
Genre: Romance, Drama, Angst, Family
.
.
Disclaimer: Kuroko no Basuke (黒子のバスケ) – Fujimaki Tadatoshi
Pairing: Akashi Seijuurou X OC, Slight Mayuzumi Chihiro X OC
Warning: Little OOC
.
.
.
Chapter 3
Shizuka terdiam didalam kamar apartemennya sambil menatap kosong gambar ditangannya. Pikirannya kacau, pemberitahuan pernikahan kakaknya, pernyataan cinta Chihiro kemarin membuat otaknya tidak dapat berpikir jernih.
'Kami-sama…' Batinnya sambil menghela nafas lelah, lalu dia memasukkan gambar tersebut ke tasnya dan kembali menatap kosong pada langit malam didepannya, sampai lamunannya buyar saat sepasang tangan merengkuhnya erat dari belakang.
"Se-Seijuurou?"
"Iya, ini aku…" Bisik Akashi ditelinga Shizuka, lalu ia melepaskan pelukannya dan menatapnya.
"Kenapa kau tidak bilang kalau kau sudah pulang, hm? Dan lagi, kau tidak membuka pintumu, dan pintunya tidak terkunci, bagaimana jika yang masuk tadi bukan aku tapi orang lain yang berniat buruk?" Omel Akashi, Shizuka hanya tersenyum kecil melihat 'kekasih'nya yang biasanya sangat tenang dan dingin itu berubah menjadi cerewet dan mudah panik jika menyangkut dirinya.
"Maaf… Aku lupa…" Kata Shizuka sambil menyentuh pipi Akashi sementara Akashi hanya menghela nafasnya. "Kau kurang istirahat…" Kata Shizuka lagi saat melihat wajah Akashi yang terlihat lelah.
"Begitulah…" Jawab Akashi singkat, lalu ia menatap wajah Shizuka lekat-lekat.
"Kau sendiri juga terlihat kurang istirahat dan banyak pikiran." Shizukapun terdiam dan membuang pandangannya. Akashi memicingkan matanya curiga melihat kelakuannya.
"… Apa jangan-jangan kau… Sudah tahu?" Tanya Akashi. Shizuka tersentak mendengar pertanyaan Akashi, dia mengepalkan tangannya erat berusaha untuk tetap tegar.
"Iya, aku sudah tahu." Dan Akashi hanya menundukkan pandangannya, mengutuk dirinya sendiri atas ketidakberdayaannya. Shizuka tersenyum kecut melihat Akashi yang seperti itu, dia lalu mengangkat wajah Akashi dan mengecup bibirnya lembut.
"Nee, Seijuurou…" Bisik Shizuka lemah. "Sentuh aku." Perintahnya kemudian.
.
.
.
Cahaya matahari pagi yang menyusup dari jendela membangunkan kedua insan yang sedang tertidur pulas setelah apa yang mereka lakukan semalam
."Shizuka…" Bisik Akashi pada perempuan disampingnya sambil memeluknya erat.
"Seijuurou…" Kata Shizuka, lalu ia menarik nafasnya berat. "Ayo kita akhiri hubungan ini. Semuanya." Lanjutnya, Akashipun membelalakan matanya kaget dan bangkit dari posisi tidurnya, Shizuka ikut bangkit dari tidurnya dan menatap pria didepannya.
"Kenapa kau bicara begitu?! Setelah semua ini, kau menyerah?!" Kata Akashi marah. Shizuka hanya menatap Akashi dengan senyum pahitnya.
"Kurasa ini sudah cukup, kau akan menikah dengan kakakku, pasti."
"Tapi aku mencintaimu!" Kata Akashi sambil meremas pundak Shizuka.
"Aku juga! Aku juga mencintaimu! Sangat! Tapi…" Shizuka mulai meneteskan air matanya. "Bahkan walau aku mencintaimu dan ingin bersamamu itu tidak mungkin kan? Maaf… Aku memilih untuk benar-benar melepasmu dan menyerah pada takdir…" Lanjut Shizuka. Akashipun menatap Shizuka dengan pandangan yang sulit di artikan.
"Shizuka…" Lirih Akashi.
"Aku mencintaimu, dan kau mencintaiku, itu sudah cukup… Walaupun mungkin kita tidak bisa bersama sekarang, tapi ingatlah, perasaan kita tetap tidak akan berubah…" Kata Shizuka dengan senyumannya, diapun memeluk Akashi lembut. Akashi hanya membalas pelukan Shizuka erat, air matanya menetes. Shizuka membelai surai merah Akashi, untuk kali ini, dia harus tegar, dia tahu rasa sakit Akashi melebihi rasa sakit dirinya.
"Seijuurou, jika kita memang berjodoh, kita pasti akan bersatu… Tapi jika tidak, aku yakin Kami-sama sudah menyiapkan yang terbaik untuk kita…" Akashi hanya terdiam mendengar perkataan Shizuka. Dia benar-benar mencintai perempuan ini dan hanya perempuan ini selamanya.
'Aku benci takdir ini…' Batin Akashi.
.
.
.
"Nee-san…" Panggil Shizuka pada kakaknya, dia sengaja mengajaknya bertemu disebuah kafe.
"Hm? Ada apa Shizuka? Tumben sekali kau mengajakku bertemu…" Kata Haruka, Shizuka hanya membalasnya dengan senyum kecil, diapun duduk di hadapan kakaknya, lalu mengeluarkan sebuah gambar dari tasnya dan menyodorkannya ke kakaknya.
"Desain wedding dressmu." Kata Shizuka singkat. Harukapun menatapnya terkejut, lalu tersenyum.
"Kau benar-benar membuatkannya,huh? Padahal waktu itu aku hanya berniat mengerjaimu… " Kata Haruka, dia mengharapkan adiknya ini menatapnya kecewa atau menangis dihadapannya, namun dugaannya salah, Shizuka hanya menatapnya kosong dan tersenyum kecil.
"Begitukah? Tapi aku tidak peduli. Tugasku selesai." Jawab Shizuka tenang lalu ia bangkit dari kursinya. Haruka melihat itu dengan pandangan tidak suka.
"Hei, kau yakin? Kekasih yang sangat kau cintai itu akan menikah denganku loh…" Kata Haruka berusaha memanas-manasi Shizuka, namun lagi-lagi reaksi Shizuka tidak seperti yang ia harapkan.
"Lalu kenapa? Aku memang melepasnya. Tapi siapa bilang aku akan melepaskan perasaanku?" Kata Shizuka dengan senyumnya.
"Apa maksudmu?" Kata Haruka dingin.
"Kau harus tahu nee-san, perasaanku ataupun dia tidak akan berubah sekalipun kalian menikah." Jawab Shizuka, Haruka hanya tersenyum mengejek ke arahnya.
"Bagaimana kau bisa begitu yakin, hm?"
"Karena aku percaya padanya." Tegas Shizuka, setelah itu dia pergi dari hadapan kakaknya. Haruka hanya menggeram kesal mendengar itu, tanpa sadar dia menggebrak meja dihadapannya, sehingga membuat para pengunjung kafe yang lain melihat ke arahnya.
"Jadi kau mengibarkan bendera perang padaku? Baiklah… Aku tidak akan kalah darimu, Shizuka!" Geram kakaknya pelan.
.
.
.
"Chihiro…" Kata Shizuka menghampiri pria berambut abu-abu didepannya, mereka memang sudah janji bertemu di taman hari ini. "Ada apa memanggilku?" Tanyanya kemudian, lalu duduk disampingnya.
"Aku ingin bicara denganmu, soal yang waktu itu…" Kata Chihiro ragu. Mendengar itu Shizukapun terdiam.
"Shizuka, aku serius! Aku-"
"Chihiro." Potong Shizuka, dia menatap mata Chihiro lurus, dan berusaha mengumpulkan keberaniannya. "Aku sudah tidak bersih." Lanjutnya. Chihiro menatap Shizuka tidak percaya. Sementara Shizuka hanya tersenyum kecil sambil menggenggam tangan Chihiro.
"Maaf ya? Kurasa lebih baik kau cari perempuan lain saja… Diluar sana masih banyak perempuan yang jauh lebih baik dariku…" Kata Shizuka dengan senyuman di wajahnya, lalu ia melepaskan genggaman tangannya dari Chihiro lalu pergi dari hadapannya. Sekilas dia melirik ke arah pria itu.
'Maaf ya, Chihiro…' Batin Shizuka. Dia tahu, dia pasti sudah menghancurkan perasaanya, tapi ini juga demi Chihiro. Shizuka tidak ingin pria baik seperti Chihiro bersamanya, dia layak mendapatkan perempuan yang lebih baik, dan lagi, Shizuka tahu tidak akan ada yang bisa merubah perasaannya pada Akashi.
.
.
.
"Seijuurou-kun." Panggil Haruka pada pria bersurai merah yang sedang duduk sambil menatap kosong langit dari jendela ruang kerjanya.
"Mau apa lagi?" Tanya Akashi datar, dia ingin sendirian sekarang dan tidak berminat untuk meladeni Haruka.
Haruka menghampirinya dan memeluknya dari belakang. "Aku bawa rancangan gaun pernikahan kita." Katanya, lalu ia memberikan gambar yang diterimanya dari Shizuka. Mata Akashi membelalak saat melihat gambar gaun itu. Gambar gaun pernikahan yang dirancangnya bersama Shizuka saat SMA dulu…
Flashback
Seorang gadis berambut soft brown sedang mencorat-coret kertas gambar dengan asiknya sehingga pemuda berambut merah didepannya penasaran.
"Sebetulnya apa yang sedang kau gambar?" Tanya pemuda itu sambil melihat ke kertas yang menjadi fokus sang gadis, sang gadis tidak menjawab tapi hanya menyunggingkan senyuman kecil. "Wedding dress?" Kata sang pemuda heran saat melihat apa yang digambar oleh sang gadis.
"Un." Jawab sang gadis singkat. Sang pemudapun turut tersenyum melihatnya.
"Menurutku dibagian pinggang tidak perlu memakai renda, terlalu ramai…" Komentar si pemuda. Sang gadis pun mengerutkan alisnya bingung.
"Begitukah? Menurutku akan lebih manis jika menggunakan renda." Balas sang gadis, namun ia tetap mengikuti kata si pemuda dan menghapus renda dibagian pinggang.
"Kurasa renda lebih baik ditaruh dibagian dada saja, tapi yang kecil, bila perlu diberi hiasan bunga dibagian kirinya. Dan lagi, apa-apaan rok yang mengembang itu? Nanti pengantin wanitanya akan terlihat gemuk. Lebih baik roknya menggunakan bahan jatuh, sehingga lebih terlihat elegan." Komentar si pemuda lagi.
"Hei! Hei! Kenapa kau jadi mengomentari gambarku terus sih Seijuurou!"
"Aku hanya ingin yang terbaik untuk pernikahan kita nanti." Jawab Akashi singkat, yang membuat pipi sang gadis memerah.
"Si-siapa bilang ini untuk pernikahan kita?"
"Kalau begitu jadikan saja ini untuk pernikahan kita nanti." Kata Akashi.
"Dasar seenaknya sendiri…" Gumam Shizuka, diapun memperbaiki rancangannya tadi sesuai kata-kata Akashi.
"Hmm… Warnanya…"
"Merah." Kata Akashi singkat.
"Haaah?! Seijuurou, ini gaun pernikahan! Sudah pasti berwarna putih kan!"
"Memangnya ada aturan kalau wedding dress itu harus berwarna putih?"
"Memang tidak ada, tapi itu hal yang pasti kan? Putih itu melambangkan hal yang suci! Dan pernikahan adalah acara sakral dimana pasangan pengantin yang saling mencintai mengucapkan janji suci untuk bersama hingga akhir hayat!" Jelas Shizuka panjang, Akashipun terdiam.
"… Baiklah kali ini aku menurutimu, Shizuka-hime…" Kata Akashi sambil mengecup pipi Shizuka diiringi senyum kecil, wajah Shizuka pun kembali memerah.
"Se-Seijuurou baka!"
Flashback end
Akashi terdiam mengingat kenangan masa lalunya bersama Shizuka, dia ingin kembali ke masa itu, dimana mereka masih naïve dan menganggap hubungan mereka akan berjalan mulus tanpa hambatan.
'Shizuka…' Lirih Akashi dalam hati. Tanpa Akashi sadari, dia meremas kertas tersebut.
"Seijuurou-kun?" Kata Haruka heran.
"… Haruka, tinggalkan aku sendirian. Sekarang."
"Tap-"
"SEKARANG!" Perintah Akashi dengan nada tinggi. Haruka pun tersentak mendengar nada bicara Akashi yang meninggi itu dan langsung beranjak pergi meninggalkannya. Setelah Haruka meninggalkan ruang kerjanya, Akashi melempar gambar tersebut ke meja kerjanya dan menjatuhkan dirinya di kursi kerjanya sambil memijat keningnya. Lalu ia melirik sekilas pada gambar di mejanya.
Hanya Shizuka yang ada dipikirannya. Baginya Shizuka itu seperti candu, dia perempuan pertama yang ia cintai selain ibunya, perempuan yang membuat hidupnya lebih berwarna, selama ini dia selalu dituntut untuk menjadi sempurna, dan hanya didepan Shizukalah dia bisa menunjukkan sisi lemahnya, dan apa yang ia rasakan sebenarnya. Akashi meremas dadanya yang terasa sangat sakit sekarang.
'Kenapa? Bukankah cinta itu indah? Tapi kenapa yang kurasakan akhir-akhir ini hanyalah rasa sakit? '
.
.
.
Malam ini saatnya pesta pengumuman pernikahan antara Akashi dan Haruka. Semua orang relasi bisnis, keluarga, teman dan kerabat dari keluarga Akashi dan Matsumoto berkumpul dan menikmati kemeriahan pesta tersebut, namun Shizuka memilih untuk menyendiri di balkon dibanding ikut merayakan pesta tersebut.
"Shizuka…" Panggil sebuah suara, Shizukapun menoleh kearahnya.
"Chihiro?" Pria itu menghampirinya dan berdiri disampingnya. Hening sesaat diantara mereka.
"Apa kau rela?" Tanya Chihiro tiba-tiba sehingga membuat Shizuka tersentak dari lamunannya.
"Soal?"
"Akashi dan Haruka."
"Ya."
'Tidak…'
"Apa kau benar-benar ingin melepaskan orang yang kau cintai?"
"Ya."
'Tidak.'
"… Apa kau yakin?"
Shizuka terdiam sejenak dan akhirnya menjawab,
"Ya."
'TIDAK!' Raung Shizuka dalam hati. Chihiro tentu saja tahu jawaban yang sebenarnya, diapun menarik Shizuka kedalam pelukannya.
"Kalau begitu, izinkan aku menggantikan Akashi dihatimu!"
"Chihiro… Bukankah kita sudah membahas ini? Aku tidak pantas untukmu, aku sudah-"
"Aku tidak peduli! Aku mencintaimu, apapun keadaanmu, aku akan menerimanya!" Tegas Chihiro, Shizuka pun meneteskan air matanya. Kenapa? Kenapa pria ini begitu mencintainya? Perlahan Shizuka membalas pelukannya. Dan ternyata Akashi sedang melihat kearah mereka berdua dengan pandangan yang sulit diartikan. Shizuka yang mengetahui Akashi menatap kearahnya semakin mengeratkan pelukannya ke Chihiro.
"… Apa kau yakin berkata seperti itu?" Bisik Shizuka.
"Iya." Jawab Chihiro tegas.
"Kalau begitu…" Shizuka menatap wajah Chihiro dengan senyuman sedihnya. "Bantu aku… Bantu aku melupakan Seijuurou…" Lanjutnya lemah.
'Lebih baik seperti ini…' Batin Shizuka. Lalu Shizuka melihat Akashi berjalan kearah mereka.
"Aku akan melakukannya. Aku akan membantumu melupakan Akashi." Mendengar jawaban itu Shizuka langsung menarik Chihiro dan menempelkan bibir mereka sengaja agar Akashi melihat dan menyerah. Chihiro yang terkejut dengan perlakuan Shizuka yang tiba-tiba itu akhirnya mengerti alasan perempuan itu melakukan hal tersebut.
'Jadi begitukah…' Batin Chihiro, namun ia memilih mengikuti permainan Shizuka dan memperdalam ciuman mereka. Sementara Akashi, dia hanya menatap pemandangan didepannya dengan pandangan marah dan kecewa, dan sesegera mungkin dia menjauh dari tempat tersebut. Melihat Akashi yang sudah menjauh, Shizuka dan Chihiro melepaskan pangutannya.
"Maaf, aku tiba-tiba…" Kata Shizuka merasa tidak enak, sementara Chihiro hanya tersenyum kecil menatapnya dan menepuk puncak kepalanya.
"Tidak apa-apa… Aku mengerti…" Shizuka hanya menundukkan pandangannya. "Bagaimana jika kita masuk? Udara malam tidak baik untuk kesehatan tubuh." Ajak Chihiro sambil mengulurkan tangannya pada Shizuka. Shizuka hanya membalas uluran tangan tersebut sambil tersenyum kecil.
'Maaf Seijuurou… Maaf Chihiro…' Batin Shizuka, dadanya terasa sakit dan perih.
Shizuka meminum cocktail ditangannya, menikmati setiap cairan yang melewati tenggorokannya. Tiba-tiba suara ayahnya yang terdengar dari sound system membuat dia dan seluruh tamu pesta mengalihkan pandangannya ke panggung.
"Ehem, maaf mengganggu kesenangan anda semua, di malam yang berbahagia ini saya berniat mengumumkan pernikahan anak pertama saya Matsumoto Haruka, dengan tunangannya, Akashi Seijuurou, akhir tahun ini." Lampu sorotpun mengarah ke arah Akashi dan Haruka, para tamu bertepuk tangan, sementara Shizuka hanya menundukkan wajahnya, namun sebuah telapak tangan besar menggenggam tangannya.
"Chihiro…" Kata Shizuka saat tahu siapa yang menggenggam tangannya, Chihiro hanya tersenyum lembut ke arahnya.
"… Dan ada satu pengumuman lagi..." Lanjut ayah Shizuka.
"Putriku yang kedua juga akan bertunangan dengan Mayuzumi Chihiro, pegawai kepercayaanku." Mendengar itu Shizuka membelalakan matanya kaget, apalagi saat lampu sorot mengarah padanya dan Chihiro.
"Eh?" Shizuka hanya menatap bingung, "Chihiro…?" Katanya pada pria disampingnya untuk meminta penjelasan.
"Maaf, pak direktur memang pernah bilang dia berencana menunangkanku denganmu, tapi aku sendiri tidak tahu kalau secepat ini." Jawab Chihiro dengan nada bersalah dalam suaranya. Pandangan Shizuka pun jatuh pada Akashi yang menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.
Akashi menggertakan giginya, aura kemarahan keluar dari tubuhnya, hatinya terasa panas dan sakit. Diapun beranjak pergi meninggalkan tempat pesta itu. Haruka pun berusaha menghentikannya.
"Seijuurou-kun! Kau mau kemana?!" Akashi memincingkan matanya dingin, sehingga membuat Haruka menjadi takut.
"Aku mau ke kamar, aku lelah." Jawab Akashi. Melihat Akashi yang keluar dari ruangan, Shizuka pun berniat mengejarnya namun sebelah tangan Chihiro menahannya, dan pria itu menggelengkan kepalanya pelan.
"Jangan sekarang, nanti yang lain akan curiga." Kata Chihiro, Shizukapun mengangguk mengerti. Setelah lampu sorot dimatikan dan keadaan kembali seperti semula, diapun melepaskan tangan Chihiro.
"Aku… Aku harus berbicara dengan Seijuurou!" Kata Shizuka cepat, setelah itu dia beranjak pergi dari hadapan Chihiro.
.
.
.
"Maaf, apakah kau melihat pria berambut merah?" Tanya Shizuka pada salah satu petugas hotel.
"Ah? Tuan yang tadi? Tadi saya melihatnya menaiki lift…" Jawab petugas hotel itu sambil menunjuk ke arah lift. Shizuka pun melihat lift tersebut, dan lift itu berhenti di lantai 11.
"Terima kasih." Kata Shizuka singkat, diapun buru-buru memasuki lift itu. Setelah sampai di lantai yang ia tuju, dia melihat Akashi sedang membuka pintu kamarnya.
"Seijuurou!" Panggil Shizuka, lalu ia berlari ke arah Akashi, dan memegang tangannya yang langsung di tepis kasar oleh Akashi.
"Mau apa kau kemari? Nikmati pestamu dengan tunanganmu itu!" Kata Akashi dingin.
"Kita harus bicara!" Tegas Shizuka, namun Akashi tidak menggubrisnya, dan memilih untuk memasuki kamarnya, namun lagi-lagi tangan Shizuka menahannya.
"Seijuurou!" Panggil Shizuka dengan nada memohon, Akashi yang sudah dipenuhi kemarahan pun menarik Shizuka untuk masuk ke kamarnya dan mengkunci pintunya.
"Apa yang ingin kau bicarakan, hah? Apa kau ingin bicara mengenai tunanganmu itu?"
"Sei-"
"Bagaimana rasanya berciuman dengan Chihiro? Aku jadi ragu, apa kau malah sudah melakukan itu dengannya saat di Okinawa?" Kata Akashi dingin, Shizuka yang mendengar itu merasa direndahkan dan langsung menampar Akashi keras.
"Seijuurou! Kau keterlaluan!" Kata Shizuka marah, matanya terasa panas, karena ini pertama kalinya Akashi berkata seperti itu padanya.
"Kenapa?! Kenapa kau melakukan ini, Shizuka?!" Bentak Akashi sambil mencengkram pundak perempuan itu, sehingga membuat Shizuka meringis kesakitan.
"Aku hanya ingin kita melupakan semuanya! Seijuurou, kumohon mengertilah!"
"Aku tidak mengerti dan tidak mau mengerti!" Kata sang surai merah tidak sabar, diapun mendorong Shizuka sehingga membuat tubuh gadis itu menubruk sofa, setelah itu dia langsung mengunci bibir Shizuka paksa, dan melumatnya. Shizuka memberontak tapi tangannya dikunci oleh Akashi.
"Seijuurou! Hentikan!" Kata Shizuka setelah Akashi melepas pangutannya, namun Akashi tidak menggubrisnya, dan kembali memangut bibir Shizuka, bahkan lebih brutal sehingga membuat perempuan itu akhirnya menyerah.
Melihat Shizuka sudah tidak memberontak lagi, Akashi melepaskan tangan Shizuka, dan mulai mencumbunya, dia membuka pakaian Shizuka paksa, dan menikmati setiap senti tubuhnya. Lain halnya dengan Shizuka, dia hanya menangis, tidak ada rasa cinta ataupun kenikmatan yang dirasakan saat Akashi menyentuhnya, melainkan hanya rasa sakit, nafsu dan amarah.
.
.
.
Pagi harinya Akashi terbangun karena ada suara isakan dan guyuran air mengganggu indra pendengarannya sehingga membuatnya terpaksa membuka matanya malas sambil menggeram kecil, saat matanya terbuka sepenuhnya dia cukup terkejut dengan keadaan kamarnya yang sangat berantakan, lampu terjatuh dan pakaiannya berserakan, dan yang lebih membuatnya tersentak, dia melihat tetesan darah kering. Dia terdiam sejenak dan berusaha mengingat apa yang terjadi semalam. Setelah mengigatnya diapun langsung menuju ke arah suara tangisan itu berasal. Dan dilihatnya sosok perempuan yang dicintainya itu sedang meringkuk di tempat shower dengan air yang terus membasahi tubuhnya, tidak menghiraukan rasa dingin yang menusuk tubuhnya.
"Shizuka…" Panggil Akashi khawatir, dia langsung mematikan shower tersebut, lalu menarik perempuan itu ke pelukannya dan menyelimutinya dengan handuk, namun itu tetap tidak menghentikan tangisnya. Akashi pun semakin mengeratkan pelukannya sambil memeriksa tubuh Shizuka. Dilihatnya banyak bercak kemerahan di leher dan beberapa bagian tubuh lainnya, tentu saja dia tahu itu perbuatan siapa.
"… Maaf …" Bisik Akashi akhirnya. Dia pun membawa Shizuka keluar dari toilet, namun saat melihat Shizuka menahan sakit saat ia berjalan, Akashi langsung mengutuk dirinya sendiri lalu menggendong perempuan itu dan mendudukannya hati-hati di kasurnya. Akashi berdiri di lututnya di hadapan Shizuka. Menangkup wajah gadis itu dan menepelkan keningnya.
"Maaf… Maafkan aku… Maafkan aku… Maafkan aku…" Bisik Akashi lirih tanpa henti.
Chihiro menatap pintu kamar di depannya dengan khawatir, sejak semalam ponsel tunangannya itu tidak bisa dihubungi, dia juga sejak tadi mengetuk pintu kamar didepannya, namun tidak ada jawaban.
'Shizuka… Kau dimana?' Batin Chihiro khawatir. Namun pandangannya berubah menjadi terkejut saat melihat sosok yang sangat dikenalnya berjalan ke arahnya.
"Akashi?!" Kata Chihiro, namun ia lebih terkejut lagi saat melihat sosok yang tertidur di gendongan Akashi.
"Shizuka?!" Chihiro menarik kerah Akashi yang menatapnya kosong. "Apa yang kau lakukan padanya?!" Geram pria bersurai abu itu emosi, namun tidak ada jawaban dari Akashi. Pria itu hanya menyerahkan perempuan digendongannya pada Chihiro.
"Berjanjilah…" Kata Akashi pelan dengan suara yang kosong sehingga membuat Chihiro melihat kearahnya, "Berjanjilah kau akan menjaganya dengan baik…" Lanjutnya, Chihiro pun membelalakan matanya kaget mendengar perkataan juniornya saat SMA itu.
"Apa maksudmu?"
"Kau mengerti maksudku. Aku menyerah." Kata Akashi datar, dan diapun pergi meninggalkan sosok Chihiro yang masih menatapnya tidak percaya.
'Jika aku hanya memberikan rasa sakit untuknya, maka lebih baik dia bersama orang lain yang bisa memberikannya kebahagiaan…'
.
.
.
TBC
Author's note:
*nutup mata* Aku gak baca apa-apa… Aku gak baca apa-apa… *woy!
Huaaa~ Ampun reader-tachi! Iya, aku tau ini chap kacau! TwT *bersiap kabur*
Ya, yasudahlah… Aku bales review dulu… :'D
Aoi Yukari : Huaaa! Sabar mba! Sabar! Dx Iya, emang nyebelin banget… Hhh… "-w- (Reader: Lu yang bikin scriptnya oy!) Makasih reviewnya! xDd
ShizukiArista : OwO sabar kakaks~ Iya ya, mending sama Chihiro aja… :p *dipelototin Akashi* Yosh! Ini chap 3-nya… Makasih reviewnya~ x3
Silvia-KI Chan : Iya, mereka emang bikin greget! ="= #plokk Yosh, ini lanjutannya~ Makasih reviewnya~ :D
Kumada Chiyu : Hahaha… Iya, tu kepala merah bener-bener… "-w- *Akashi ngasah gunting buat nusuk author* Ini lanjutannya… Makasih reviewnya~ ;)
Mahanani ilmi : wahaha… nak… sabar nak! *nahan ilmi* Kalem, kalem… xDD Yosh… ini chap 3-nya, semoga jiwa psikopat mu nongol lagi xD #eh
Makasih buat semua yang udah baca! Apalagi yang review~ aah, kalian penyemangatku~ :* #digetok
Nah, seperti biasa, author ga bosen minta reviewnya ya… :D
See you next chap! xDD
Sign, Kaito Akahime.
