The Lion and The Flea

26th February

Minggu pagi yang cerah. Burung-burung berkicau di ranting-ranting pohon dan udara sejuk berkeluaran. Cahaya matahari menembus masuk lewat jendela yang tirainya lupa ditutupi dan menyinari langsung ke wajah Izaya.

Izaya menggerutu dan mencoba melepaskan sesuatu yang melingkar di tubuhnya. Dia ingin menoleh kearah lain dan menghindari sinar matahari. Tubuhnya terasa hangat, dan Izaya tidak ingin terbangun sekarang. Akhirnya dia berhasil menghindar dari sinar matahari karena ada bayangan yang menghalanginya.

Izaya menghela nafas bahagia dan menggosokan pipinya ke dada bidang didepannya. Dia bisa merasakan kulit keras dipipinya itu bergetar seakan menahan tawa. Izaya menghela nafas lagi dan menekankan—sebentar, dada bidang?

Perlahan pemuda itu membuka matanya dan mendongak keatas sambil berkedip lambat-lambat, masih mengantuk. Wajahnya bertemu langsung dengan wajah Shizuo yang menyeringai senang.

Satu detik, dua detik, tiga detik, empat detik, lima detik—dan Izaya langsung berteriak dan mendorong diri dari Shizuo seakan-akan dia baru sadar setelah menjadi korban pencabulan.

"Kau! Kau! Aku—Apa yang kau lakukan dikamarku!?"

Shizuo sedang berbaring menyamping dengan lengan yang menyentuh matras karena Izaya tiba-tiba saja keluar dari pelukan pria itu. Senyuman lebar di wajah Shizuo tidak bisa diabaikan. Lebih lebar lagi maka pipi pria itu pasti sobek. "Kamarmu? Lihat sekelilingmu, Izaya-kun. Apakah ini kamarmu?"

Izaya menatap sekeliling ruangan dan menemukan gaya kamar yang berbeda dari kamar yang ia tumpangi. Dia lalu melihat kearah pakaiannya, dan untunglah dia masih berbusana.

"Jangan melihati seperti itu—kita tidak melakukan apapun." ucap Shizuo santai dan turun dari ranjang. Shizuo tidak memakai baju, hanya celana yang semalam ia pakai. "Lagipula kau yang tengah malam tiba-tiba berteriak dan menjerit."

"H-huh?"

Shizuo berlutut didepannya agar tinggi mereka sana—karena Izaya terduduk di karpet. "Kau tidak ingat? Kau bermimpi buruk dan berteriak agar dihentikan. Aku terbangun dan ke kamarmu dan menemukan kalau kamar itu hampir menyerupai kapal pecah karena lampu tidur sudah kau banting ke lantai, bantal terlempar sana-sini dan bahkan selimut tergeletak disamping tempat tidur. Untung lampu tidur itu bukan kaca. Lalu aku mencoba membangunkanmu, tapi karena kau menamparku, aku membawamu ke kamarku dan hasilnya kita tidur bareng."

"Wait what? Kenapa aku dibawa ke kamarmu?"

"Mungkin karena Author ingin kita anuan~"

"Shizu-chan tolong jangan OOC sekarang." balas Izaya tajam. "Dan itu untuk chapter yang nanti-nanti. Beralih ke topik—kenapa aku ada di tempat tidurmu?"

Shizuo menghela nafas dan bangkit berdiri. "Kau merengek padaku 'kumohon jangan tinggalkan aku sendirian' dan karena kamar tamu itu mengerikan, aku yang membawamu ke kamarku. Lagipula, kau belum present jadinya aman-aman saja."

Izaya menghela nafas lega dan bangkit berdiri. Dia lalu keluar setelah mengucapkan 'terimakasih'. Dia mimpi buruk lagi? Merepotkan sekaligus memalukan. Izaya berlari di koridor dan memasuki kamar tamu yang sudah rapi.

Menoleh, Izaya melihat rambut hitam selain dirinya turun di tangga. Ah, Mikado pasti yang membereskannya. Izaya lalu langsung memasuki kamar dan mencari-cari handuk serta peralatan mandinya, lalu beralih ke kamar mandi yang ada didalam kamar.

Izaya memasuki itu dan menaruh peralatan miliknya diatas wastafel, lalu memulai ritual mandi yang biasa ia lakukan.

Shizuo turun kebawah dan disambut dengan menu ayam bakar, sup daging hangat, lalu udang tepung goreng dan teh, lalu ada pancake, kue black forest—intinya ramai lah. Shizuo sih terbiasa dengan masakan sebanyak ini sehari-hari. Masaomi memang pintar memasak. "Masakan yang hebat, Masaomi." pujinya kearah pembantu yang sedang menyuci peralatan kotor di wastafel. Masaomi hanya menjawab dengan cengiran.

Izaya turun kebawah dengan rambut yang masih basah. Dia mengenakan pakaian santai. Sepertinya Izaya berniat bermalas-malasan dirumah tanpa mengerjakan apapun.

Shizuo membaca koran sambil sesekali menyendokkan sup kedalam mulutnya. "Masaomi, apa barang-barangnya sudah dibeli?" tanya Shizuo tiba-tiba.

Masaomi berjengit dan menoleh dengan ekspresi horror yang sukses membuat Izaya tertawa. "...belum."

Shizuo tidak mengamuk—hanya mengangguk singkat saja. Masaomi menghela nafas lega.

"Izaya, temani aku pergi ke mall nanti."

Tawa Izaya berhenti. Masaomi menenguk ludah dan menyelesaikan kerjaaannya cepat-cepat, lalu meninggalkan mereka berdua di meja makan. "Hah?" ucap Izaya beberapa detik setelah Masaomi keluar.

Shizuo tidak perlu mendongak. Pria pirang itu dengan santai menyesap teh yang ia minum. "Kau dengar aku dengan jelas. Temani aku ke mall nanti, jam 1 siang. PR-mu sudah selesai kan?"

"Belum." ucap Izaya sambil mengunyah nasi dan goreng udang, "Ako hyarii inhi khe rhuma Chinra." (Aku hari ini ke rumah Shinra.)

"Jam?"

"1 Siang."

"Bohong. Aku tau kau berbohong." Shizuo menaruh koran yang sudah selesai ia baca ke kursi disampingnya. "Tidak ada penolakan, kau akan pergi denganku nanti."

Izaya tampak akan memprotes. Shizuo sudah memprediksi ini, jadinya dia dengan cepat berdiri dan berjalan ke kursi Izaya, lalu berbisik dengan suara rendah, "Sebagai hukumanmu yang kedua, I~za~ya..."

Shizuo meninggalkan Izaya yang wajahnya memerah seperti tomat.


Izaya berkutat dengan sabuk pengaman sementara Shizuo masuk kedalam kursi pengemudi. Izaya tidak terlalu mempedulikan itu. Dia lebih mempedulikan bagaimana cara memasukan sabuk ini ke pengamannya. Dia sering naik mobil, memang. Tapi ini bukan jenis mobil yang biasa ia tumpangi! Ini camaro!

Shizuo menghela nafas. "Tidak bisa?"

"Bisa!" jawab Izaya mantap tanpa melihat kearahnya dan berkutat lagi, kali ini lebih intens. Shizuo memperhatikan sambil menahan tawa dan mengigit pipi dalamnya, agar senyumannya tidak melebar. Izaya benar-benar tidak bisa memasang sabuk.

"Sini kubantu." ucap Shizuo sambil mencodongkan tubuhnya kearah Izaya.

Tangan Shizuo mengambil kedua tangan Izaya yang mungil. Ia lalu menuntun tangan Izaya dengan lembut dan memasukan ujung tancapan sabuk kedalam pengamannya. "Kayak gitu loh. Susah amat."

Dan saat mata Shizuo beralih kearah Izaya, insting Alfa-nya berteriak untuk 'menyerang'nya saat itu juga.

Izaya benar-benar cantik. Alis mata yang tebal, mata yang tajam, rambut hitam yang indah dan tampak mulus, mata coklat-kemerahan yang tampak seperti merah menyala ketika cahaya matahari menyinarinya di sisi yang tepat. Kulit putih mulus bagaikan sutra...

Oh, jangan lupakan rona merah di pipi Izaya.

Mata Shizuo berpindah ke bibir didepannya ini. Tipis dan berwarna merah muda. Matanya lalu turun kebawah, ke leher Izaya yang jenjang dan juga tempat scent gland-nya...

Izaya bergidik saat Shizuo mendekatkan wajah ke lehernya. Geli, apalagi ditambah dengan nafas Shizuo yang membara di kulitnya. Izaya mencengkram bahu Shizuo. "Shi-shizu...chan..."

Izaya menggeliat dan mendesah ketika Shizuo menggosok scent gland mereka bersama. Marking. Tubuh Izaya mengejang dan tangannya menarik-narik kaos Shizuo—entah untuk menariknya mendekat atau mendorongnya menjauh.

Setelah wangi vanilla Izaya sepenuhnya tertutup dengan wangi maskulin khas Alfa milik Shizuo, pria pirang itu memundurkan tubuhnya. Tangan Izaya yang bergetar dilepas, dan seringai di wajah Shizuo benar-benar membuat wajah pemuda itu memanas.

Shizuo lalu memundurkan tubuh sepenuhnya, sehingga dia kembali ke kursi pengemudi. Mengabaikan Izaya yang masih terengah dikursi sampingnya. "Maaf. Aku harus me-marking mu. Siapa tau ada seseorang yang berniat melakukan hal aneh-aneh kepadamu, mengingat kau belum present."

Shizuo tau kalau perbuatannya tadi cukup... intim. Tapi dia juga tidak bisa apa-apa. Kalau Izaya tersakiti atau parahnya lagi diculik, Shizuo yang akan terkena imbalannya. Jadi, dia menaruh aroma Alfa miliknya ke Izaya. Marking bisa dilakukan juga bagi yang belum present. Tapi biasanya marking dilakukan oleh orang tua atau pasangan yang sudah ditakdirkan.

Shizuo menjalankan mobil mereka meninggalkan parkiran dan juga rumah Heiwajima.

Izaya melepas sepatunya, lalu menekuk kedua kakinya dan memeluknya. Perlahan-lahan nafasnya kembali normal dan dia melirik kearah Shizuo yang menghadap kedepan, berkendara dengan fokus. Dia lalu menunduk, wajahnya semakin memerah mengingat kejadian tak lebih dari 4 menit yang lalu.

"Shizu-chan," panggil Izaya lirih. "Kita mau kemana?"

Shizuo melirik kearahnya sebentar lalu kembali ke jalan. "Belanja. Sudah kubilang kan kita akan ke mall?"

Izaya menoleh kearah Shizuo kali ini. "Dengan baumu diseluruh tubuhku!? Semua orang akan mengira kita sudah mating!"

Shizuo memutar bola matanya dan menyalip sebuah mobil yang berjalan lambat. "Biarin." ucap Shizuo santai. "Aku juga tidak terlalu peduli."

"Ugh!" dan setelahnya, Izaya berdiam diri selama perjalanan. Pemuda itu menoleh kearah luar jendela, menatap kendaraan yang lain dan juga gedung-gedung tinggi dan rendah yang ada disekitar. "Ke kota ya...?" gumam Izaya pelan.

"Yap, ke kota."

"Aku tidak berbicara padamu." jawab Izaya ketus. Pemuda itu lalu memeluk kedua kakinya lebih erat, mencoba mengecilkan dirinya.

Shizuo menghela nafas, lalu sambil memegang setir dengan satu tangan, pria pirang itu meninggalkan pandangannya dari jalanan dan beralih mengambil ponselnya. Baru saja mengeluarkan ponsel, Izaya tiba-tiba mengambil ponsel itu. "Fokus ke jalan, Shizu-chan."

Shizuo mendecih, "Kembalikan. Aku ingin menelpon sekretarisku."

"Nanti. Fokus ke jalan."

"Iiiizaaayaa..."

Izaya tidak menghiraukannya dan mengenggam ponsel itu dengan erat, sementara Shizuo masih sesekali menoleh kearah Izaya dan jalan, tangan si pirang mencoba menggapai ponsel.

"Shizu-chan! Nanti kita bisa kecelakaan! Aku tidak mau itu!"

"Tidak akan, kutu! Kembalikan!"

Izaya lalu memikirkan cara yang tepat untuk menyembunyikan ponsel Shizuo. Ia menyeringai dan langsung memasukan ponsel pintar itu kedalam bajunya. "Ambil kalau bisa." ucap Izaya menantang.

Shizuo menganga.


Akhirnya setelah adengan grepe-grepe yang tidak mau author tulis karena itu dilakukan ditengah jalan, mereka sampai di pakiran mall. Izaya sedang membereskan pakaiannya yang kusut sementara Shizuo membetulkan dasi. Apa yang mereka lakukan di mobil? Ntahlah, author gamau nulisnya.

"Shizu-chan, kita ngapain sih? Cuman belanja kan? Minta Ryuugamine-san dan Kida-san dong."

"Aku inginnya pergi bersamamu."

"Lah? Shizu-chan nggak punya mate apa?"

Shizuo menoleh kearah Izaya. "Kalau aku bilang tidak?"

"Nggak mungkin," Izaya masih mengelus-elus pakaiannya yang kusut. "Shizu-chan kan tampan, kaya, berkharisma, pintar, seksi... siapa sih yang nggak mau? Shizu-chan palingan tinggal pilih doang kan."

Shizuo memutar bola mata. "Orang yang belum present sepertimu tidak mengerti."

"Oh? Jadi aku harus present dulu baru mengerti?"

"Bisa jadi," ucap Shizuo dan keluar dari mobil, diikuti oleh Izaya. "Aku tidak ingin berdebat tentang hal ini jadi diamlah."

Shizuo bertingkah aneh.

"Ah, Shizu-chan! Belikan aku buku tulis dan soal ya!"

"Hm? Oke. Cari yang mana yang kau mau."

Izaya menyeringai dan beranjak kabur ke Gramedia. Tapi sebelum dia pergi satu langkah menjauh dari Shizuo, si pirang langsung memegang tangannya dan berbisik di telinganya, "Jangan harap kau bisa kabur dariku, Izaya-kun."

Dan menjilatnya!

"Shizu-chan jorok!" Izaya berteriak dan meronta, sementara Shizuo tertawa. Para pengunjung yang melihat hanya tersenyum saja. "Ini di publik! Ugh!"

"Jawab ponselmu saat aku menelpon ya."

"Iya iya. Geez."

Shizuo memperhatikan punggung Izaya yang menjauh darinya. Sesuatu terasa tidak benar. Insting Alfa Shizuo menyuruhnya agar tidak membiarkan Izaya pergi, tapi kan itu cuman buku pelajaran. Lagipula Gramedia tidak terlalu jauh. Tidak akan ada hal-hal aneh yang terjadi... kan?


A/N: More to come, thanks for reading! Saya cinta banget dengan reviewnya! *peluk cium* Maaf ya chappy yang ini pendek, saya memang berniat end-nya disini dulu ntar chapter 4 suuuuper panjang XD /spoiler lu. Update-annya nggak lama kok, tenang aja! *tapi ga janji loh ya*.

RnR please! Oh, nanti ada smut. /eii