Author : crazyseesaw
Length : 3/?
Cast : 2min, slight!onjjongkey, and others
Foreword : Club 6to6 mempunyai sebuah peraturan bodoh, "Tidak boleh menjalin hubungan khusus dengan sesama pekerja". Siapakah yang akan bertahan atau justru mematahkan peraturan bodoh itu?
Enjoy reading :)
*HAIIII I'M BACK! MASIH ADA KAH YANG NUNGGU CERITA INI GA? :/ Psst i'm sorry for late update, bakal diusahain update cepet^^
"… Aku akan mengatakan ini pada Minho, agar dia memecatmu!"
"Me-mecatku?!"
Taemin Point of View
"Taemin, apa pipimu masih sakit?" ucapnya mendekati wajahku dan meneliti wajahku dengan kedua mata bulatnya. "Sedikit, tapi aku baik-baik saja" ucapku sambil menggenggam tangannya yang sedang merengkuh wajahku.
Tapi wajahnya makin mendekat dan aku hanya bisa memejamkan mataku sampai bibir kami bertemu.
Chup
Hanya sebatas menempel, tapi aku bisa merasakan rasa manis di bibirnya yang tebal. Ia menatapku disela-sela ciuman kami. Sampai aku harus mendorongnya karena kehabisan nafas.
"A-apa yang kau lakukan, Boss?"
"Saranghae. Aku sangat mencintaimu"
Drrrtt… drrrrtt..
"APA?! Astaga.. apa yang aku pikirkan? Kenapa.. kenapa aku harus memimpikan laki-laki itu?" ucapku syok saat terbangun dari tidurku. Aku kaget, kenapa aku bisa memimpikan dia? Aku laki-laki! Tapi.. tapi kenapa?
No. : Tidak dikenal
Kurus! Cepatlah mandi dan bersiap-siap, kita akan pergi belanja 15 menit lagi. Jika nanti saat aku datang kau belum mandi, aku yang akan memandikanmu!
"B-Boss Choi?" pekikku kaget saat melihat siapa yang mengirimiku pesan. Siapa lagi yang memanggilku 'kurus' dan mengatakan hal-hal mesum kalau bukan dia? Tapi apa maksudnya akan pergi belanja denganku? Dan.. dan DIA AKAN DATANG KESINI?
WHAT THE HELL TAEMIN, CEPAT MANDI DAN BERDANDAN LAH! JANGAN SAMPAI DIA TAHU BENTUKMU YANG SEBENARNYA!
Aku segera melompat dari tempat tidurku dan bergegas menuju kamar mandi. Berusaha mandi secepat yang aku bisa, tanpa keramas dan bernyanyi-nyanyi seperti kebiasaanku saat mandi.
Tok.. tok.. tok..
"Tae, ada yang mencarimu.. uhmm.. maksudku… Boss Choi.. di luar" Jonghyun mengetuk pintu kamar mandiku. Astaga! Laki-laki itu sudah datang?
Aku segera menyelesaikan acara mandiku dan bergegas mengobrak-abrik lemariku. Mencoba menemukan pakaian wanita yang pas untukku.
"Cepatlah Tae, dia sudah menunggumu dari tadi! Dia curiga kenapa aku bisa ada di apartementmu!" kata Jonghyun. "Bagaimana dia bisa tahu letak apartement kita?"
"Jelas dia tahu, dia punya seluruh data pribadi para pegawai!" kata Jonghyun ikut panik. Karena bingung, akhirnya aku memilih memakai dress putih selutut ditutupi oleh jaket kulit hitam. Antara manis dan tegas.
"A-annyeong!" ucapku gugup. Ku lihat dia sedang meneliti apartement ku dan Jonghyun. "Lama sekali, aku hampir berniat untuk memandikanmu" katanya mesum.
"Eh? Pakaian kita…" ucapnya menggantung. Aku baru menyadari dia juga memakai baju putih polos dilapisi jaket kulit hitam sepertiku.
"Mungkin kita ber-chemistry"
Bugh
"Jangan berbicara yang tidak-tidak, Boss" kataku sambil menendang kakinya sampai dia meringis kesakitan. "Sudah siap kan? Kajja, kita berangkat!" ia menekuk tangannya seolah-olah menyuruhku untuk menggandengnya. Dengan kikuk aku menggandeng lengannya.
"Jonghyun, aku pergi dulu ya! Annyeong!" ucapku melambaikan tangan pada Jonghyun yang masih mengantuk. Lalu kami berdua turun menuju tempat parkir masih dalam keadaan bergandengan.
"Kenapa kau bisa se-apartement dengan Jonghyun?" tanyanya tanpa melihatku, fokus mengeluarkan mobilnya dari tempat parkir. "Aku? Sudah ku bilang aku berteman dengannya. Lebih tepatnya bersahabat dengannya sejak kami masih di panti asuhan" ujarku seraya merapikan letak bando putihku. Dilihat-lihat aku ini memang cantik ya?
"Panti asuhan?" tanyanya. Aku mengangguk, "Orang tuaku meninggal sejak umurku 2 tahun, lalu aku dan Taesun oppa pindah ke panti asuhan. Disanalah aku bertemu Jonghyun" ujarku sambil tersenyum.
"Tapi aku tidak suka melihat Jonghyun ada di apartement-mu. Kau kan perempuan, bagaimana bisa seorang laki-laki dan perempuan tinggal bersama tanpa menikah?" dia itu bicara apa sih?
"Apa?! Dia tidak mungkin berbuat yang macam-macam padaku! Dia itu menyukai Kibum eonni!" kataku galak.
"Hmm by the way, kenapa Boss mengajakku berbelanja kebutuhan club? Bukankah ini tugas Jonghyun dan Kibum eonni?" tanyaku heran.
"Aku hanya ingin mencoba lebih memperhatikan club-ku, aku ingin turun tangan langsung dalam mengurus clubku. Apa perasaanmu sudah membaik?" aku memiringkan kepalaku menatapnya. Eh? Kenapa dia menanyakan hal itu?
"Aku sudah baikan, Boss. Tidak perlu mengkhawatirkanku"
"Siapa yang mengkhawatirkanmu? Aku bertanya seperti itu untuk memastikan kau bisa fokus bekerja lagi atau tidak. Aku tidak ingin membuang-buang uang hanya untuk pegawai malas sepertimu"
ERHHH.. kenapa sih dia tidak pernah berkata yang sedikit manis padaku? Kenapa selalu menjatuhkanku terus?
"Nappeun!" aku lebih memilih memalingkan wajahku ke luar jendela dari pada harus meladeni ucapan-ucapannya."Hahahahaha kau marah? Memang ya, perempuan itu gampang sekali marah"
"Aku bukan perempuan!"
.
.
.
Minho Point of View
"Aku bukan perempuan!" pekiknya membuat kupingku pengang. Kenapa sih dia suka sekali berteriak-teriak? Membuat kupingku sakit saja.
"Ups.. ma-maksud.. aku.."
"Tidak jelas, lebih baik kau diam. Mengganggu konsentrasiku menyetir saja!" ujarku datar dan dia sontak terdiam. Dia mengerucutkan bibirnya kesal sesekali menggembungkan pipinya kesal.
Aku melirik dari ekor mataku. Dia cantik, padahal rambutnya sedikit berantakan, mungkin karena kedatanganku yang mendadak. Yang membuatku senang, hari ini ia memakai pakaian dengan warna sama dengan pakaianku. Dengan mini dress putihnya dan jaket kulit hitamnya, menambah manis wajahnya.
"Sudah sampai, turunlah!"
"Apa begitu caranya memperlakukan perempuan?!" pekiknya kesal. Aku hanya menahan tawaku melihat wajah kesalnya. Entah kenapa aku lebih suka melihat wajah merengut kesalnya dibanding senyumannya.
Lalu kami turun dan memasuki sebuah mall dimana di dalamnya terdapat sebuah hypermart serba ada. Ia mengambil troli dan menarik ke tanganku masuk ke dalam hypermart.
"Kita mau membeli apa?" tanyanya sambil mengedarkan pandangannya kagum ke sekeliling hypermart ini. Berdiri di sampingnya membuat jantungku melompat kegirangan. "Aku baru pertama kali datang ke tempat sebesar ini!" ujarnya excited.
"Berterima kasihlah padaku" kataku jail tapi dia hanya menjulurkan lidahnya.
"Kita harus membeli 3 botol soda tanpa rasa, 3 sirup anggur, 4 botol wine Prancis, 4 kilogram coklat masak, 2 kilogram daging segar, 4 bungkus terigu 2 kilogram" kataku.
"Banyak sekali, pasti melelahkan!"
"Kalau kau tidak mau, pulanglah! Dasar lembek!" kataku kesal sambil menarik troli yang sedang ia dorong. "Enak saja, aku ini kuat! Sini biar aku yang bawa!" dia menarik trolinya dengan kasar dan berjalan mendahuluiku. Lucu sekali melihat cara berjalannya yang terseok-seok karena menggunakan high-heels.
Kami berpencar mencari barang yang kami cari agar bisa menghemat waktu. Mungkin disini aku bisa bercerita sedikit pada kalian pandanganku tentang Taemin. Pertama kali aku melihatnya saat aku dan Jinki hyung sedang berbincang-bincang di club. Saat ia mengantarkan minuman kami, aku merasa asing dengan wajahnya. Aku sadar dia adalah pegawai baru. Tapi yang membuatku tertarik adalah wajah polosnya dan keberaniannya melawanku yang sedang mencoba menggodanya.
Dia berbeda dari pegawai-pegawaiku yang lain, di saat perempuan-perempuan lain mencoba mengumbar tubuh mereka dan memasang tampang sensual untuk bisa disewa oleh para pria, dia mencoba bersikap galak agar tidak ada orang yang bisa menggodanya. Dia cantik, tapi kenapa dia selalu kasar padaku. Ya mungkin karena aku selalu menggodanya. Itu karena aku suka wajah kesal nya, sudah ku bilang wajahnya lebih cantik apabila ia sedang marah.
Dan pada saat aku melihat perempuan itu menampar Taemin hingga membuatnya menangis, aku ingin merengkuhnya ke dalam pelukanku. Dia tampak begitu lemah, rasanya ingin ikut menangis mendengar suaranya yang meraung-raung.
"BOSS CHOI! AKU SUDAH SELESAI!" tiba-tiba dia berlari-lari ke arahku yang sedang memandangi rak botol wine sambil berteriak-teriak memalukan. Ku lihat trolinya sudah dipenuhi barang-barang yang kami cari.
Brukk
"TAE!" pekikku saat melihat tubuhnya mendarat bebas di atas lantai. Dasar perempuan aneh, mengapa masih memakai high-heels jika dia tipe orang yang serampangan?
"Heh bodoh! Kau mempermalukanku, tahu? Bangunlah!" aku mengulurkan tanganku mencoba menolongnya. Saat dia mencoba berdiri, dia terjatuh lagi. Sepertinya kakinya terkilir. "Makanya kalau tidak bisa pakai high-heels jangan berlari-lari seperti itu, kau merepotkanku!"
"KALAU TAK IKHLAS MEMBANTUKU, YA SUDAH! Aku bisa berdiri sendiri! Argh.. sakit!" dia menangkis tanganku yang mencoba membantunya, kemudian dia mencoba berdiri lagi tapi tetap tidak bisa.
"Keras kepala!" aku menarik kaki kirinya dan melepaskan high-heels putihnya dan mencoba memijitnya pelan. "Boss… sakit.. aww!" pekiknya hingga mengeluarkan airmata. Ini tidak bisa dibiarkan, kalau tidak segera dipijit akan membengkak.
Krekkk
"SAKIT! PELAN-PELAN, BOSS!" pekiknya tanpa mempedulikan beberapa pasang mata yang menatap heran. Jelas mereka heran melihat kami berdua sedang terduduk di lantai di samping deretan botol sirup dengan lengkingan-lengkingan kesakitan Taemin. Setelah aku memijitnya pelan, dia nampak terbiasa dan kakinya sudah melemas.
"Sudah cukup, aku sudah tidak apa-apa, gomawo, Boss!" katanya sambil memakai high-heel snya lagi dan mencoba mendorong trolinya lagi meskipun harus berjalan dengan kaki pincang.
"B-boss?" ujarnya kikuk saat aku meraih pinggang rampingnya dan merangkul tubuhnya agar tidak terjatuh lagi. "Biarkan seperti ini, dari pada kau jatuh lagi" kataku datar dan kami berjalan menuju kasir.
Setelah berbelanja, aku menariknya menuju toko sepatu wanita. Tanganku sangat gatal ingin mengganti sepatunya dengan sepatu yang lebih nyaman.
"Untuk apa kita kesini? Aku sedang tidak ingin berbelanja, aku tidak punya uang!" katanya berisik. Aku menarik tangannya dan mendudukkan tubuhnya di kursi.
"Apa yang kau lakukan, Boss?"
Aku mengabaikannya dan meneruskan kegiatanku mencari sepatu yang cocok untuknya. Tidak harus mahal, asal nyaman dan bukan high-heels. Akhirnya pandanganku tertuju pada sepasang flat shoes putih dengan pita manis di depannya.
"Cobalah yang ini, ku pikir ini cocok untukmu" ucapku sambil melemparkan sepatu tadi di depan wajahnya. Aku ingin tertawa melihat wajah kagetnya.
"A-aku? Entahlah apa ini cocok untukku?" katanya lalu mencoba sepatu yang ku berikan dan berjalan menuju cermin yang terdapat di dalam toko. Dia berputar-putar girang karena sepertinya sepatu itu nyaman dipakai olehnya.
"Aku ambil yang itu, tolong bungkus high-heels ini"
"B-boss? Kau? Ini tidak perlu, aku punya uang sendiri. Aku bisa membayarnya" dia merogoh-rogoh tas hitamnya mencari dompetnya. Aku menahan tangannya dan tersenyum. "Aku yang bayar, anggap saja ini bonus karena kau telah rajin bekerja" dia tersenyum manis padaku.
Lalu kami berjalan menuju tempat parkir dengan senyum terplester di wajah kami. Aku senang karena bisa menghabiskan waktuku hari ini dengannya. Entah kenapa aku merasa sangat nyaman berjalan berdampingan dengannya.
Perjalanan pulang menuju club terasa sepi. Taemin menyuruhku mengantarnya lansung ke club. Baru aku sadari kalau ia tengah tertidur pulas bersandar pada jendela mobil. Dia bergumam lucu sambil mengerucutkan bibirnya sedikit.
"Yah, ireona! Tae, sudah sampai" aku menyentuh lengannya pelan, tetapi dia tidak membuka matanya. "Taemin-ah, bangun" aku sedikit menggoncang-goncangkan tubuhnya dan dia belum juga bangun.
Aku mendekatkan wajahku untuk menatapnya. Sepertinya dia sangat lelah karena menemaniku berbelanja hari ini. Tanpa sadar aku menyibakkan poninya yang menutupi dahinya. Aku mengernyit heran ketika melihat sebuah goresan luka bekas jahitan yang terdapat di wajahnya. Apa dia pernah mengalami kecelakaan?
Chup
"BANGUUUUN!" aku mengecup pipinya sekilas dan berteriak di telinganya. Dia pun membuka matanya pelan dan menguap. "Uhmm.. Sudah sampai ya?"
"Kau seperti babi mati" ucapku polos dan langsung disambut pukulan darinya.
"Terima kasih, Boss untuk hari ini dan sepatunya." Dia tersenyum sambil membuka seat-beltnya. Aku tertawa dan mengacak-acak rambutnya. "Ne, harusnya aku yang berterima kasih padamu"
Chup
Dia mencium pipiku kemudian dia membuka pintu mobil dan mengetuk kacanya, membuatku tersadar dari lamunanku karena ciumannya. Aku membuka kaca jendela mobil dari dalam dengan kikuk. Dia berkata, "Terima kasih sekali lagi, Boss"
"Ne.. ne, lain kali jangan panggil aku 'Boss'. Cukup 'Minho' saja sudah cukup. Aku pulang, annyeong!"
.
.
.
Jonghyun side
"Kibum, gomawo untuk hari ini. Annyeong!"
"Gomawo untuk hari ini, Jonghyun. Hati-hati di jalan! Sampai bertemu di club!"
Aku menyalakan mesin motorku dan melambai padanya yang masih menungguku pergi dari apartementnya. Dia tersenyum manis sekali dan masuk ke dalam apartementnya. Aku sangat berterima kasih pada Boss Choi karena berkat dia, aku dan Kibum tidak perlu berbelanja untuk kebutuhan Club dan bisa mengajaknya menonton film di bioskop. Tapi itu adalah kejadian paling langka dalam sejarahku bekerja di 6to6 club. Tidak pernah sekalipun ku melihat Boss Choi mengurusi clubnya.
Apa mungkin ini karena Taemin? Apa dia menyukai Taemin?
Aku menggeleng-geleng kan kepalaku berusaha untuk tidak ikut campur dalam masalah percintaan Bossku itu. Urusan percintaanku saja belum becus, untuk apa aku harus memikirkannya? Ya… percintaanku dengan Kibum. Selalu jalan di tempat, tidak pernah mengalami kemajuan, tidak pernah terikat dalam suatu hubungan khusus. Dan itu membuatku selalu gelisah.
Aku tahu dia juga menyukaiku dan aku tahu dia mengetahui perasaanku padanya. Tapi aku tidak pernah berani mengungkapkan maksudku yang sebenarnya. Sebut saja aku pengecut. Karena bagiku, dia adalah sosok perempuan sempurna. Aku tahu siapa dia sebenarnya. Kaya, berasal dari keluarga terpandang, cantik, pintar, mandiri, ke-ibuan, tapi sayangnya mungkin waktu itu otaknya agak bergeser saat mendaftar di 6to6 club. Hello, dia terlalu sempurna untuk bekerja di night club seperti itu.
Dan dia terlalu sempurna untuk diriku. Seorang Kim Jonghyun yang miskin, sebatang kara, hanya tinggal di sebuah apartement kecil bersama sahabatnya. Bagaikan langit dan bumi, tetapi aku punya segudang cinta untuknya.
Pertama kali aku menyukainya saat ia masuk ke 6to6 club. Bagaikan seorang malaikat yang berada di antara setan penggoda laki-laki, dia menyilaukan mataku dengan senyum malaikatnya. Dia baik, dia juga mempunyai harga diri yang tinggi. Aku tahu dia masih virgin. Dan itu yang membuatku makin mencintainya. Dia juga bukan tipe perempuan yang agresif, dia tidak pernah menanyakan tentang hubungan kami, dia tidak pernah menuntut harus meresmikan hubungan kami. Dia menikmati semua waktu kebersamaan kami.
Taemin sering berkata padaku, 'Jika kau tidak ingin Kibum eonni pergi meninggalkanmu, kau harus meresmikan hubungan kalian. Sebagai perempuan, dia pasti menginginkan itu, tapi dia tidak bisa memintanya karena dia bukan perempuan murahan, Jonghyun'. Aku pikir dia ada benarnya juga. Perempuan mana yang ingin statusnya selalu digantung?
Saat aku sampai di apartement, aku melihat lampu apartement belum menyala. Itu berarti Taemin belum pulang. Kemana dia? Ini sudah jam 5, dia harus bekerja! Tapi tidak masalah, selama dia pergi bersama Boss Choi.
Aku mengganti pakaianku dan mengambil seragam kerjaku yang baru saja selesai ku jemur dan melesat pergi ke club. Disana aku melihat Taemin sudah bercengkrama dengan Ji-Hye noona.
"Tae, kau dari mana saja? Kenapa tidak menghubungiku kalau kau langsung kesini?" aku menatap heran wajahnya yang sedikit bahagia?
"Seperti yang kau tahu aku menemani Boss Choi berbelanja, dan dia bilang lebih baik aku langsung diantarkan saja kesini. Bagaimana kencanmu dengan Kibum eon-hmphh" aku langsung membekap mulut Taemin agar Ji-Hye noona tidak mendengar apa yang dikatakan Taemin. Bisa mati aku jika dia tahu aku dan Kibum 'hampir' mempunyai hubungan khusus.
"Kau… apa-apaan sih?" aku segera menarik kepalanya dan membisikkannya sesuatu. "Kalau Ji-Hye mendengarnya, dan dia melapor ke Boss Choi, tamatlah riwayatku!" aku menjitak kepalanya kesal.
"Itu urusanmu! Siapa suruh pacaran di tempat kerja!"
"MULUTMU TIDAK BISA DIJAGA YA?!"
"Aku hanya berbicara tentang fakta, Kim Jonghyun! Kau memang berpacaran dengannya kan?"
"YAK ADA APA INI RIBUT-RIBUT?!"
Tiba-tiba sebuah suara bass yang sangat mengintimidasiku mengintrupsi pertengkaranku dengan Taemin. Uh.. dia, si perfect Choi Minho yang tak lain dan tak bukan adalah Bossku. Akhir-akhir ini aku sering memperhatikannya selalu datang ke Club ini sejak Taemin mulai bekerja disini. Apa dia mulai menyukai Taemin? Apa dia akan mematahkan peraturan bodoh yang dia buat sendiri?
"Dan siapa yang berpacaran disini? Apakah kau dan Kibum?" dia menatapku tajam sambil meneliti. Sial, kalau aku terus berada disini hubunganku bisa terkuak dan bisa-bisa salah satu diantara aku dan Kibum akan dipecat.
"Ah.. bu-bukan siapa-siapa, kalau begitu aku permisi dulu, Boss. Pengunjung pasti akan berdatangan dan aku harus membantu Donghwa. Permisi" aku segera berlari ke dapur meninggalkan Taemin dengan Boss Choi dan menemukan Kibum sedang melamun di antara rak-rak gelas.
"Ki, ada apa? Kenapa kau melamun?" aku menyentuh bahunya dan membuatnya terkejut. Aku melihatnya dengan cepat mengusap matanya. "Ani, tidak ada apa-apa"
"Kau menangis, ada apa?" aku membelai rambut panjangnya. Dia menghela nafasnya dengan berat. "Ummaku, dia tadi menelponku. Dia bilang aku harus pulang ke Daegu sekarang."
"Lalu? Apa Appamu sakit?" tanyaku heran. Airmatanya mengalir lagi dari kedua mata indahnya.
"Ani, aku… aku akan dijodohkan dengan pria yang tidak ku ketahui. Eottohke Jonghyun? Aku tidak mau.. hiks.. aku ingin disini.. hiks bersamamu" dia menangis dengan keras. Aku syok setengah mati mendengarnya. Kibumku akan dijodohkan? Jelas tidak boleh!
"Jangan pergi Kibum" hanya itu yang bisa aku katakan karena memang aku masih terlalu kaget. Dia menyandarkan kepalanya di dadaku dan memelukku erat. "Aku tidak mau Jonghyun.. hiks.."
Aku tahu latar belakang keluarga Kibum. Keluarganya termasuk keluarga yang keras, apa yang dikatakan kedua orang tuanya harus dilakukan Kibum. Kibum sendiri tipe perempuan yang menghargai kebebasan, maka dari itu saat ia dipaksa mengambil jurusan yang tidak ia inginkan dia lebih memilih kabur dari rumah untuk menjadi pekerja seni. Dan aku juga tidak heran jika orang tua nya akan meminta hal-hal yang aneh seperti itu.
"Sudahlah jangan menangis seperti itu itu. Kau tahukan aku tidak pernah suka melihatmu menangis? Nanti cantikmu luntur!" aku menggodanya dan membuatnya tertawa. "Gomawo Jonghyun sudah mau mendengarkan ceritaku" dia masih bersikap sedikit formal padaku.
"Kau memang sahabat terbaikku"
Ya, aku masih sebatas sahabat dimatamu, Ki..
.
.
.
.
Author Point of View
Malam ini Minho dan Jinki kembali bertemu dan menghabiskan waktu mereka di club. Tanpa Jinki tahu, alasan Minho bertemu dengannya di club hanya untuk bisa memandangi Taemin lebih lama lagi. Entah kenapa Minho suka memandangi Taemin ketika ia sedang bekerja. Ada kepuasan tersendiri baginya melihat wajah kelelahan namun penuh semangat Taemin.
"Pesananmu Boss, 2 gelas advoka dan 1 smoke fillet chicken"
"Kibum? Dimana Taemin? Kenapa bukan dia yang mengantarkan pesananku?" Tanya Minho bingung melihat perempuan yang datang mengantarkan pesanannya bukanlah seperti yang ia harapkan.
"Dia sedang ke toilet jadi aku yang mengantarkannya" ucap Kibum jengah karena ada sepasang mata yang mengawasinya. Rasanya ia ingin pergi dari tempat itu sekarang juga dan bertemu dengan Jonghyun. Karena sepasang mata itu milik Jinki, mantan pacar Kibum 2 tahun yang lalu. Ia tidak pernah menyangka bahwa ia akan bertemu lagi dengan Jinki.
"Aku permisi dulu, Boss"
Dengan tergesa-gesa Kibum berlari menuju dapur agar ia bisa bersembunyi dari Jinki. Jinki yang dulu menjadi separuh jiwanya, Jinki yang pernah ia cintai, Jinki yang telah melukainya baik secara fisik maupun mental. Hubungan mereka harus putus di tengah jalan karena Kibum tidak tahan dengan sifat Jinki yang egois, posesif, dan suka main tangan. Berbeda 180 derajat dengan Jonghyun.
"Kibum-ah!" teriak Jinki sambil berlari menyusul Kibum yang tengah menutupi wajahnya dengan nampan alumunium. 'Bagaimana bisa ia masih mengenaliku?' batin Kibum takut.
Karena high-heels nya yang terlalu tinggi, Kibum tidak bisa berlari lebih cepat sehingga Jinki dapat menyusulnya. "Tunggu, kita perlu bicara!" Jinki merentangkan tangannya menutup jalan agar Kibum tidak bisa lari lagi. Sudah hampir gila Jinki mencari keberadaan Kibum yang ternyata pindah bekerja di Ibu Kota Seoul.
"Apa maumu?" Tanya Kibum sengit. Jinki menatap tajam mata Kibum dan mencengkram bahu Kibum dengan erat hingga kuku-kukunya menancap di kulit Kibum yang terbuka.
"Kenapa kau pergi tanpa memberi tahuku? Kenapa kau meninggalkanku sendiri?!" Kibum memutar bola matanya kesal mendengar pertanyaan bodoh yang diajukan Jinki, padahal sudah beribu kali Kibum katakan pada Jinki bahwa ia sudah tidak tahan dengan sifat Jinki yang keterlaluan.
"Apa perlu aku katakan lagi bahwa aku sudah tidak sudi melihat wajahmu?" mendengar kata-kata Kibum, amarah Jinki meluap. Dengan kasar ia mencium paksa bibir mungil Kibum dan meremas kedua bokong Kibum dengan kurang ajar.
"Hmmpphh.. Jin.. ki.. lepas! Tolong! Ahh… Jonghyun!" jerit Kibum saat Jinki mulai mengerayangi tubuh Kibum dengan tangannya hingga Kibum menangis histeris. Mungkin Tuhan masih berpihak pada Kibum karena pada saat yang sama Taemin sedang berjalan melewati mereka dan tidak sengaja mendengar teriakan Kibum.
Refleks Taemin berlari menolong Kibum. "EONNI! LEPASKAN TANGANMU DARI EONNIKU, BRENGSEK!" sebisa mungkin Taemin mendorong tubuh Jinki yang lebih besar darinya. Menjambak, memukul, menampar, ia lakukan semua itu untuk memisahkan Kibum dari laki-laki kurang ajar yang merupakan mantan pacarnya tersebut. Dan usahanya berhasil, Jinki berhenti dan beranjak pergi meninggalkan kedua perempuan di hadapannya.
"Kau tidak akan bisa lari lagi dariku, Kim Kibum" bisik Jinki di telinga Kibum sebelum ia meninggalkan tempat itu.
.
.
.
"SIAPA LAKI-LAKI BRENGSEK ITU, KIBUM? SIAPA YANG TELAH MENODAI TUBUHMU ITU? KATAKAN PADAKU!" ujar Jonghyun kalut saat menemui Kibum dan Taemin yang sedang menenangkan diri di rooftop café. Rahang Jonghyun mengeras dan tangannya terkepal hingga urat-urat di tangannya timbul. Ia tidak bisa tinggal diam saat mendengar berita dari Taemin tentang laki-laki brengsek yang telah mencium paksa Kibum.
"Hiks.. hiks.." hanya isakan yang terdengar dari bibir Kibum. Ia terlihat begitu shock dan takut hingga badannya gemetar. Taemin hanya mencoba memeluknya dan mencoba menenangkan perempuan yang sudah ia anggap seperti kakak perempuannya sendiri. Ia sendiripun hanya membisu melihat Kibum yang sedang menangis ketakutan dan juga Jonghyun yang mondar-mandir di hadapannya. Sesekali Jonghyun mengerang sambil menjambak rambutnya frustasi karena tak kunjung mendapat jawaban dari Kibum.
"Kibum, katakan padaku siapa orang itu?! Apa kau mengenalnya?! Kenapa kau diam saja?! Bagaimana kalau tidak ada Taemin saat itu?! Aigoo Kim Kibum…" pekik Jonghyun frustasi dan membuat tangisan Kibum semakin kencang. "Jjong, kau harus sabar. Kibum eonni masih shock dan kaget, kau hanya memperparah keadaannya" kata Taemin sambil mengelus-elus punggung Kibum. Walaupun ia juga laki-laki, tapi Taemin tidak pernah melakukan hal separah itu dan seperti Jonghyun, Taemin pun sakit melihat keadaan Kibum sekarang.
"Mungkin aku harus pergi meninggalkan kalian berdua karena tugasku masih banyak. Jjong, jaga Kibum eonni! Jangan meneriaki eonni lagi!"
Sepeninggal Taemin dari sana, Jonghyun dan Kibum hanya saling berdiam diri. Kibum mencoba menguatkan dirinya untuk bisa mengatakan semuanya pada Jonghyun.
"Dia itu mantan pacarku di Daegu" kali ini Kibum angkat bicara. Jonghyun hanya bisa menatap Kibum tidak percaya. "Ma-mantanmu?" Kibum mengangguk.
"Lalu kenapa dia bisa melakukan hal seperti itu?" Tanya Jonghyun berusaha meredam emosinya yang sudah di ujung tanduk. Kibum meletakkan kepalanya di bahu Jonghyun. "Alasanku untuk pergi dari rumah selain bertengkar dengan orang tua ku, juga untuk menghindari Jinki, dan ternyata dia ada disini. Dia sahabat Boss Choi"
"J-jinki? Boss Choi?"
Jonghyun tidak habis pikir bagaimana Boss nya yang baik itu –meskipun lebih sering terlihat dingin, berteman dengan laki-laki brengsek seperti Jinki.
"Jonghyun, aku takut. Hiks.. aku tidak mau, lindungi aku" Kibum menangis lagi. Tidak ada hal yang lebih menyedihkan bagi Jonghyun selain melihat Kibum menangis. Jonghyun bisa merasakan ketakutan Kibum dari genggaman tangannya di seragam Kibum seolah-olah meminta pertolongan.
"Tenang, aku akan selalu melindungimu, Kibum"
.
.
.
.
Taemin Point of View
Brakk
"Minho, kita perlu bicara!"
"Yah, panggil aku 'Boss'!" hardiknya kasar. Aku memutar bola mataku kesal. "Whatever, sekarang aku ingin bertanya padamu. Siapa laki-laki yang selalu bersamamu setiap kau minum disini?" tanyaku kesal saat mengingat wajah laki-laki yang mencium paksa Kibum eonni sama dengan laki-laki sipit yang selalu bersama Minho.
"Laki-laki yang mana maksudmu?" tanyanya bodoh.
"Yang sipit itu, bodoh!" dia mengangguk dan mendudukan bokongnya di atas kursinya yang seperti singgasana raja itu. Kedua tangannya ia topang di dagunya, dan melihatku penuh rasa excited.
"Dia Lee Jinki, temanku. Memangnya ada apa? Kau menyukainya? Ah padahal aku lebih tampan darinya, kenapa kau malah menyukainya.."
"Bukan masalah itu, dia menyakiti eonni-ku! Sampaikan padanya bahwa aku dan Jonghyun tidak akan tinggal diam jika dia menyakiti Kibum eonni lagi!"
Saat aku hendak berbalik keluar ruangannya, dia menarik tanganku sehingga tubuh kami menempel dan dia menatapku tajam. "Apa maksudmu? Kenapa aku harus berkata seperti itu?"
"Tanyakan saja pada temanmu itu!" kataku galak dan menepis tangannya yang mencengkram lenganku. "Oke oke, sekarang aku yang bertanya padamu, apa maksud dari ciumanmu itu? Kau sudah mulai menyukaiku, hmm?"
"Me-menyukai siapa? Ah yang itu, aku memang suka kelepasan jika sedang senang. Aku senang kau mengajakku jalan-jalan, terlebih membelikanku sepatu mahal. Tapi aku juga sering melakukan itu dengan Jonghyun, jadi kau tidak perlu khawatir aku akan melanggar peraturanmu" kataku, tentu saja berbohong. Anehnya, saat aku berkata seperti itu, raut wajah Minho langsung berubah seperti kecewa.
Saat itu aku hanya ingin menciumnya, apa salah? Lagipula hanya di pipi saja. Tapi wait… kenapa aku menciumnya? Apa sekarang aku menyukainya? Tapi aku bukan gay!
"Ku pikir ada maksud lain. Emmm.. bagaimana dengan kakimu? Apa masih sakit? Harusnya kau tidak usah bekerja dulu, nanti kakimu tambah parah" katanya sambil berlutut di hadapanku memeriksa kakiku.
"Aku tidak apa-apa, tenang saja. Ku rasa kau ada bakat menjadi tukang pijat, Boss"
Dia bangkit sambil tersenyum manis dan mengacak-acak rambutku. "Syukurlah kalau sudah baikan. Bagaimana kalau besok kita pergi menonton, bagaimana?"
Aku berpikir sejenak, teringat bahwa aku belum menjenguk Taesun hyung di Rumah Sakit. "Oke aku mau, tapi aku harus menjenguk Taesun oppa di Rumah Sakit, apa kau mau mengantarkanku?"
"Dengan senang hati, tuan putri Taemin"
"Yah!"
.
.
.
.
Setelah berbicara di ruangan Boss Choi, aku langsung melangkahkan kakiku ke toilet terdekat. Rasanya sudah di ujung tanduk dan ingin cepat buang air kecil saking gugupnya. Tapi kenapa aku gugup? Mengingat dia menyebutku 'Tuan putri', apa secantik itukah wajahku sampai dia menyebutku putri? Hahahaha molla… tapi tidak dipungkiri lagi jantungku berdebar-debar aneh. What the hell, aku ini laki-laki! Tapi kenapa aku senang disebut seperti itu?
"Ah… leganya" gumamku saat mencuci tangan di westafel. Well, karena terburu-buru dan keadaan sedang sepi, aku memutuskan untuk buang air di toilet pria. Biasanya toilet wanita itu ramai dan aku tidak bisa menahan lebih lama lagi.
"Apa aku secantik itu? Jangan-jangan Minho yang menyukaiku hahaha aku memang cantik" gumamku sendiri. "Erh.. menjadi wanita itu sulit ya? Duh.. wig ini gatal sekali" aku membuka wig ku dan menggaruk-garuk kepalaku yang gatal. Haih.. sepertinya banyak kutu-kutu membuat sarang di kepalaku.
"Hello… hello… nananana"
Cklek
"KAU?!" aku terkesiap dan segera memakai wigku dengan asal. Sial aku tertangkap basah. "Kau… laki-laki brengsek yang tadi itu kan?! Kau membuat Kibum eonni menangis! Mau apa kau disini?" hardikku kesal padanya. Dia si sipit Jinki yang melukai Kibum eonni!
"Mau apa aku disini? Aku ingin buang air! Dan siapa yang kau sebut 'Eonni'? ku pikir kau harus memanggilnya 'Kibum NOONA'. Karena kau itu la-hmphh"
"Bisakah kau diam?! Bagaimana kalau orang lain mendengar?" tanyaku sambil membekap mulutnya. "Lepwaass.."
"Hahh.. kau mau membunuhku? Aku akan mengatakan ini pada Minho, agar dia memecatmu!" katanya disertai seringaian licik di bibirnya. "Me-mecatku?"
"Ya, pertama karena Minho sangat membenci orang yang membohonginya. Kedua, kau bisa menghalangiku mendapatkan kembali Kibum-ku. Ketiga, jika para pelanggan tahu kau itu laki-laki, mereka tidak akan pernah sudi lagi menginjakkan kaki di club ini."
"Jinki-ssi, jebbal jangan beri tahu Boss Choi. A-aku sangat membutuhkan pekerjaan ini. Aku mohon padamu" refleks aku berlutut di hadapan Jinki untuk meminta pertolongan. Rasanya seperti di ambang kematian.
"Aku akan menuruti semua permintaanmu asalkan kau tidak memberi tahukan pada Boss Choi. Kau mau apa? Membersihkan toilet club ini? Menjilati jari-jari kakimu? Ayo katakan padaku, Jinki-ssi!"
"Untuk apa aku menyuruhmu melakukan hal bodoh seperti itu? Well, aku punya permintaan yang lebih menarik untukmu" dia mengeluarkan seringaian liciknya lagi, membuat persaanku semakin tak enak.
"Bantu aku mendapatkan Kibum kembali, maka aku akan mengunci rapat-rapat mulutku, tapi jika kau tidak mau… kau tahu sendiri akibatnya."
Apa? Mana yang harus ku pilih? Menyerahkan Kibum eonni dan memisahkannya dengan Jonghyun, atau tidak menolong Jinki jadi Minho akan tahu semuanya, dan ia akan memecatku?
NAH KONFLIKNYA UDAH MULAI.. Aku mau bikin image onyu jadi rada bad boy jahat gitu XD bcs i can't choose between onkey or jjongkey, i'll make triangle love onjjongkey^^
Thanks yang udah mau baca dan reviewnya sangat ditunggu lohhhh~ mari lestarikn SHINee pairing (terutama 2min), sedikit curcol, dulu tuh jaman 2012an di kategori yaoi pairing paling pertama no.1 itu 2min, pokoknya 2min, minho, taemin tuh menduduki/? ranking 5 besar di kategori sana... tapi yah sekarang udah banyak rookie2 gitu, miris sih, karena author ff 2min kesayanganku ada yg berpindah haluan ke rookie2 grup, ada juga yang deact :(
pokoknya hidup 2min!^^
