| REBEL | CHAP 2 |

Author : Larasafrilia1771

Genre : Tragedy, Drama, Romance, Yaoi.

Cast : HunHan

ChanBaek

Binhwan

KaiDo

Rated : T-M+

.

.

.

A/N : FF ini gak terinspirasi dari apa – apa, Cuma khayalan sematan yang dituang dalam bentuk cerita. Cerita milik saya alamiah, buka remake apalagi jiplak punya orang. Tanpa ada unsur menjelek - jelekkan tokoh saya ciptakan ff ini (?) Juga Luhan punya keluarganya semua member juga kecuali sehun yang mutlak punya saya bhaqq ^o^

.

.

..

.

_Sebelumnya_

Berkali – kali ponselnya bergetar, entah itu panggilan maupun pesan masuk. Baekhyun tetap mengacuhkannya dan fokus saat tangan lihainya memoleskan eye-liner tepat di kelopak mata.

"Ohh lihatlah para hidung belang itu, menjijikan tapi punya banyak uang" Baekhyun mengutaran apa yang ia ingin katakan tepat dihadapan cermin. Berbicara mengenai sesuatu pada dirinya sendiri. Sungguh lucu dan Baekhyun nampak seperti orang yang sedang terganggu mentalnya.

"Ingalah jika aku bukanlah Baekhyun yang dulu"

.

.

.

_REBEL_

Dunia malam yang hingar bingar membuat seseorang yang kini sedang tertunduk di meja bar itu merasakan pening. Banyak sekali masalah yang menimpanya belakangan ini. Pertama mungkin karena pekerjaannya yang menumpuk karena jabatan yang dipikulnya memang tinggi. Kedua adalah soal adiknya, Chanyeol merasa bosan harus setiap hari meladeni anak nakal itu setiap kali ada masalah.

Ya, tak dapat dipungkiri jika banyaknya masalah membuat pikirannya bingung harus bagaimana. Beberapa saat lalu saat sebelum ia tiba di bar ini, ia telah berbincang melalui telepon dengan Sehun selaku guru di sekolah adiknya. Ada banyak faktor yang membuat Luhan seperti ini. Kekurangan kasih sayang, perhatian juga segala tetek bengeknya. Jika Chanyeol melakukan apa yang disebutkan tadi untuk lebih mengawasi Luhan, mungkin saja perusahaan dan segala aset yang dimilki keluarganya akan terbengkalai.

Sungguh pusing memang dan untuk waktu senggang setelah membawa pulang adiknya, ia segera melesat tanpa babibu menuju tempat ini. Dimana ia bisa sejenak bebas dari kehidupannya yang kata orang terorganisir dan tanpa celah. Ya tanpa celah karena ia kurang bisa beristirahat selain tidur kurang dari lima jam, mungkin.

.

Beberapa saat kemudian Chanyeol bisa merasakan jika kursi disebelahnya kini sudah diduduki oleh seseorang. Chanyeol awalnya tak peduli, namun saat ia menuangkan minuman pada gelas kesepulunya, sosok disebelahnya membuat seorang Park Chanyeol tak berkedip beberapa detik.

Sosok yang lebih mungil dari dirinya, duduk dengan anggun sebari menyesap minumannya perlahan. Jelas angat menggoda siapapun yang menatapnya. Wajahnya memang manis, tapi karena sentuhan beberapa makeup malah terkesan agak agresif.

Entah otak bodoh siapa yang Chanyeol pakai. Namja tinggi itu menompang kepalanya menggunakan satu tangan dengan santai. Kesadarannya masih penuh hanya saja kepalanya agak pening ditambah suara hingar – bingar yang tak karuan.

Menatap lekat sosok disebelahnya yang nampak belum terusik sedikitpun untuk mengalihkan pandangan ke arahnya. Hingga mata mereka akhirnya bertemu pandang. Membuat Chanyeol tersenyum saat mata itu sudah melihat ciptaan tuhan yang sangat indah.

Baekhyun namja itu mencoba menatap balik sosok disebelah. Entah kenapa jantung Baekhyun berdetak aneh saat ini. Namun ya namanya Baekhyun ia dapat dengan mudah menyembunyikan kegugupannya.

"Aku baru melihatmu di tempat ini" Ujar Chanyeol masih dengan posisi semula.

Baekhyun hanya menatap namja tampan itu tanpa minta untuk membalas.

"-Jika kau mau tidur denganku malam ini, aku akan membayarmu lebih"

Tawaran yang menggiurkan bagi seorang Baekhyun, namun maaf saja ia sudah ada janji dengan seseorang.

"Tapi aku sudah ada janji dengan seseorang"

Chanyeol mengangguk paham, namun ia belum mau menyerah begitu saja.

"Seseorang? Boleh aku tahu siapa?" Tanyanya.

"Beritahu namamu dan aku akan jawab pertanyaannya"

Benar juga, percakapan mereka yang berlanjut hingga sekarang belum juga untuk saling memperkenalkan diri. Chanyeol tertawa renyah, menaruh gelas kecil di meja bar lalu segera merogoh saku celananya. Menyerahkan sebuah kartu nama kepada namja manis itu.

"Ok, Park Chanyeol. Usiamu sudah duapuluh lima tahun, pekerjaanmu sepertinya menjanjikan. Dan yahh namaku Baekhyun" Uluran tangan itu segera di sambut baik oleh Chanyeol. Ini akan menarik sepertinya, entahlah Chanyeol menyukai Baekhyun pada pandangan pertamanya namun dalam artian lain.

"Lalu usiamu?"

Sebelum Baekhyun menjawab ia sudah melayangkan satu ciuman tepat di bibir namja tinggi itu. Chanyeol sontak kaget, ingin mendorong tubuh yang lebih kecil itu sebelum Baekhyun melepaskannya sepihak.

"Emm..Sepertinya aku harus pergi, tadi adalah ciuman perkenalanku. Ok Tuan Park aku pergi dulu sampai jumpa"

Dan kepergian Baekhyunlah yang membuatnya seperti orang gila. Mengeringai lalu mengacak rambutnya asal – asalan dan itu semua gerakan refleks. Perkenalan yang cukup berani sekali. Padahal Chanyeol ingin lebih dari sekedar ciuman.

"Menarik sekali"

.

.

_REBEL_

Jinhwan menatap tak minat apa yang kini tersaji dihadapannya. Bukan sebuah benda ataupun tumpukan buku yang akan mengisi harinya dengan seorang guru pribadi yang disewa dengan harga mahal oleh kakeknya. Melainkan seorang yang memang menyewakan guru pribadi untuknya, siapa lagi jika bukan kakeknya.

"Kau ingin bicara apa?" Tukas Jinhwan segera, merasa jeda waktu sontak membuatnya malas.

"Kau memang sangat tak sopan dan juga pembangkang, haruskan aku mengurungmu di sel tahanan bawah tanah?"

"Memangnya aku tawanan yang mulia. Cepatlah ucapkan apa yang kau mau dan aku tak akan menurutinya"

Pria parubaya itu tertawa renyah dengan apa yang baru disampaikan cucu bungsunya itu. Ya ia tahu segala bentuk apapun yang diinginkannya pasti Jinhwan tak akan mau, malah ia akan menolak mentah – mentah dan memberontak dengan cara mogok makan. Benar – benar bocah labil yang masih menentukan jati diri yang sebenarnya. Tapi tawaran ini dipastikan tak akan ditolak.

Jinhwan mengernyit saat melihat ada beberapa lembar kertas yang ia tak tahu apa isinya dan sepasang baju seragam sekolah. Jinhwan lagi – lagi menatap aneh pria parubaya itu, apa maksud semua ini.

"Aku sudah daftarkan dirimu ke sekolah umum. Semuanya sudah diurus, mau atau tidaknya itu terserahmu"

Jinhwan merasa tak percaya dengan apa yang baru saja terlontar dari mulut sang kakek. Oh apakah sekarang ia akan memanggilnya dengan sebutan kakek setelah sekian lama selalu memanggilnya pria tua. Ia tak tahu harus mengekspresikan ini bagaimana. Dengan cepat Jinhwan mengambil semuanya, kertas - kertas aneh itu juga seragamnya itu sebelum ia pergi dengan perasaan bahagia menuju kamarnya.

"-Tapi tetap akan ada dua bodyguard yang akan menemanimu ke sekolah"

Sebelum Jinhwan benar- benar melangkah pasti dengan kegirangan, suara seseorang membuat langkahnya berhenti sejenak.

"-Jangan macam – macam disekolah, aku telah berbaik hati melakukan ini"

Rasanya ia tak bisa untuk mengelak lagi. Sudah diizinkan ke luar meski hanya untuk sekolah saja. Ya ia masih senang karena selama hidup rasanya kaki ini terus saja memijak bangunan bak neraka ini.

"Ya, ya terserahmu saja"

.

.

Dengan girangnya setelah sampai didalam kamar, Jinhwan segera melucuti semua pakaian yang tengah ia kenakan sekarang. Tujuannya haya satu, yaitu mencoba seragam baru yang yahh ia pikir cukup keren juga.

"Aku tak tahu sekolahnya seperti apa, tapi yasudahlah tidak masalah juga. Lagipula tujuanku hanya ingin menghirup udara bebas" Jinhwan mencoba memakai satu persatu seragam itu. Mulai dari celana hingga kemeja beserta jas almamater berwarna hitam itu.

Dengan cepat ia berlari menuju cermin besar di kamarnya. Tertawa girang melihat bagaimana penampilannya sekarang. Sungguh ini keren sekali, dan rasanya tidurpun ia akan memakai seragam ini.

"Ukh tapi aku tak punya teman selama ini. Sialan"

Tubuh itu merosot saat tiba – tiba rasa lunglai merayap pada tubunya. Ia rebahkan tubuh itu pada kasur besar disana, berguling beberapa kali sebelum ia pusing sendiri.

"Gara – gara pria tua itu, aku jadi seperti ini. Hidup remaja yang tak memiliki seorang teman satupun. Dasar orang gila, bisa – bisa aku gugup nanti"

Benar, selama ini memang ia tak memiliki satu pun teman. Jangankan teman rasanya kedekatan bersama keluarga tak ia dapatkan. Hanya sosok kakaknya saja yang dapat ia andalkan, meski pemikirannya memang sama percis seperti mendiam appa juga kakek tua itu.

CKLEK

Suara pintu yang dibuka membuatnya seketika berjengit. Mengubah posisi hingga kini ia terduduk di kasur dengan pandangan yang tertuju pada kakaknya yang mulai melangkah mendekat.

"Aku dengar kau akan bersekolah di sekolah umum, benarkah?" Anggukan antusias itu membuat Junhoe tersenyum melihat bagaima kegembiraan sang adik sekarang.

Namja yang lebih tua beberapa tahun itu mengelus puncuk kepala Jinhwan. Sudah seharusnya Jinhwan dibebaskan dengan lingkungan luar, itu untuk kebaikannya juga terutama sifat pemberontaknya mungkin karena faktor ini. Sang kakek memang terlalu menjaga mereka.

"Tak terasa kau sudah besar Jinan" Mereka berpelukan, dan dalam dekapan itu lah yang Jinhwan suka. Kakaknya memang sangat berbeda dengannya, pantas saja kakek tua itu menyayanginya. Wajahnya memang dingin namun jauh didalamnya dia adalah sosok penurut juga penyayang.

"Coba lihat, seragamu bagus. Aku jadi iri"

"Aku tahu, tapi aku rasa aku lebih beruntung daripada hyung. Kau tak perlu iri karena kau sempurna" Jinhwan menunjuk tepat ke arah dada kakaknya. Menatap lekat sosok itu agar meyakinkan apa yang ia katakan barusan.

"Sempurna? Sempurna dalam hal?"

"Semuanya, kau itu sempurna karena memilki adik sepertiku"

Dan tawa renyah Junhoe tak bisa dielakkan. Melihat bagaimana adiknya sebahagia ini, ia menjadi ikut merasakannya.

"Ya aku memang sempurna memilki adik sepertimu, maka dari itu belajarlah dengan baik"

"Siap Kapten"

.

.

.

_REBEL_

Luhan berjalan malas menuju ke arah kamar mandi. Pagi ini seperti biasa ia akan pergi ke sekolah. Menyebalkan memang, tapi apa boleh buat ini adalah tuntutan kehidupan. Ia mengambil handuknya asal, berjalan gontai dengan mata yang masih terpejam meski ia berjalan menuju arah kamar mandi. Sudah sangat lama tinggal disini dan ia parti tahu dimana letak kamar mandi meski ia berjalan dengan terpejam.

.

Beberapa menit kemudia setelah rapi dengan seragam dan segala keperluan sekolah, ia mulai menuruni tangga dengan permen lollypop yang sudah ia emut dengan rakus, padahal ia belum makan apa – apa pagi ini.

"Tuan muda,anda belum sarapan sama sekali pagi ini. Saya harap tuan muda tidak memakan permen terlebih dahulu sebelum memakan sarapannya"

Luhan mendelik menatap pelayan yang nampak menyuruhnya untuk melakukan hal yang diinginkan. Hey, tubuh ini milikku mau rusak atau apapun itu, semua urusanku.

"Berhentilah berbicara, kau merusak hariku. Pergi sana" Decak malas Luhan memang membuat pelayan itu memutuskan untuk menurut. Pelayan tersebut segera pergi dari hadapannya tergantikan oleh sosok tinggi menjulang yang sudah lengkap dengan setelan jas berwarna merah tua.

"Makan sarapanmu dulu, kau sakit aku juga yang repot" Ujar sang kakak sambil membenarkan letak jam tangannya.

"Cihh..sok perhatian sekali"

Selalu seperti ini, dan sudah biasa sekali untuk Chanyeol menerima perlakuan tak sopan adiknya. Biarkan saja ia melakukan apapun itu asal tak merugikannya.

"Nanti kau harus langsung pulang, ada sesuatu yang harus aku bicarakan"

"Pulang sekolah aku ingin pergi mengerjakan tugas kelopok" Bohongnya.

"Tak ada tugas kelompok dikelasmu untuk minggu ini. Tidak menjadi berandalan lagi dan kau harus pulang tepat waktu. Aku bosan mendengar teman – temanmu telah memberi julukan bocah berandal di sekolah"

"Siapa yang bicara?" Tegas Luhan dengan emosinya. Jika ada yang berani macam – macam ia tak akan diam.

"Diam dan ikuti kemauanku"

Luhan menatap tak suka ke arah sang kakak yang sudah mulai melenggang dari hadapannya. Memang ya orang dewasa itu tak akan mengerti kemauan remaja sepertinya.

.

.

Luhan memasuki kelasnya dengan langkah terburu – buru. Sempoyongan karena baru saja ia mendapat teguran dari guru sekaligus petugas kedisiplinan karena tak memakai jas almamater, malah memakai jaket kutit berwarna hitam.

"SIALAN" Luhan mengumpat, membersihkan bahunya dengan sebelah tangan. Hampir saja jaket mahalnya ternodai oleh tangan kotor para guru – guru idiot itu.

"LUHANNN, come in" Seseorang berteriak dari arah bangku di ujung dekat jendela. Luhan menatapnya tak percaya. Kai dan Dio ternyata baik – baik saja.

"Oh Tuhan, aku pikir kalian tertangkap kemarin. Kalian baik – baik saja kan?"

"Tentu, lihatlah. Dan kita berdua tak diintrogasi seperti apa yang kau dan Hanbin lakukan" Ujar Kai dan Dio mengangguk setuju, sedangkan Hanbin menatap jengah kearah keduanya.

Decihan keluar dari mulut sang namja cantik. Merogoh sesuatu dalam jaket kulit hitamnya. Satu bungkus rokok yang membuat Luhan tertawa garing saat melihat ekspresi ketiga temannya itu.

"Oh My God, Lu simpan kembali benda itu. Jika ada yang lihat kita bisa gawat" Dio berusaha untuk mengambil benda berbentuk persegi itu dari tangan Luhan. Namun naas Luhan mempermainkannya.

"Tak akan dapat hehe. Lihat aku, dari arah gerbang sekolah aku lolos dari incaran si petugas kedisiplinan itu" Ujar Luhan dengan lantang. Sedangkan ketiga namja itu sudah menatap was – was ke arah belakang Luhan.

"-Hey kalian kenapa diam saja, dasar pecundang"

Yang lainnya tak bergeming, merasa takut untuk sekedar berkata. Pasalnya tepat diarah belakang Luhan seseorang berdiri, dimana itu adalah orang yang sangat berbahaya.

GREP

Benda yang sedari tadi berada di tangannya seketika hilang begitu saja. Luhan menengok ke arah belakang hingga matanya melebar saat melihat siapa yang kini tengah berada di hadapannya. Sang petugas kedisiplinan sekaligus wali kelasnya.

"Milikmu"

Mati aku

.

.

"Jelaskan semua ini?" Ujar Sehun dingin.

"Ini adalah rokok, puas"

"Bisakah kau lebih sopan sedikit"

"Dan bisakah kau membawaku keluar ruangan bodoh ini"

Atas penuturan yang lancang dari bibirnya, sontak seluruh orang yang berada di ruang kantor tersebut menoleh ke arah asal suara. Luhan menatapnya acuh malah seperti menantang untuk bertarung bersamanya sekarang.

Sehun memijit pelipisnya sebentar sebelum ia benar – benar untuk menghadapi murid yang parahnya dititipkan kepadanya.

"Nilaimu tak terlalu buruk, tapi sikapmu itu yang membuat banyak orang kualahan. Jika ada masalah atau apapun itu kau bisa bicarakan padaku!"

"Masalahku banyak dan kau tak mungkin bisa memecahkannya, karena kau bukanlah orang tuaku" Luhan mengucapkan hal itu kelewat tegas. Sehun menatap manik mata Luhan yang berwarna coklat muda itu. Sehun sangat paham bagaimana kondisi Luhan karena sebelumnya ia dan Chanyeol sudah berbincang banyak.

"OK, sekarang benda ini aku tahan. Kau bisa keluar dari ruangan sekarang"

"Tanpa kau suruh pun aku akan pergi"

Sehun mengangguk paham. Biarkan saja dia seperti itu dulu, hanya hari ini dimana nanti ia akan berusaha membuat Luhan jengah dengan semua sikapnya. Setidaknya hanya untuk hari ini ia bersikap masabodo dengan Luhan. Makadariitu ia harus mempersiapkan mental untuk menghadapi Luhan nanti. Lihat saja.

.

.

"LUHANN" Suara seseorang membuatnya menoleh saat tangan itu baru saja menutup keras pintu kantor. Disana ketiga sahabatnya sedang berlari menuju kearahnya. Melihat waktu yang masih dalam pembelajaran, ia pikir ketiga sahabatnya itu mengajaknya membolos sekarang.

"Hey kalian membolos pelajaran?" Ujar Luhan.

"Yap, habisnya aku bosan harus terus duduk di kursi kesakitan itu. Bokongku sakit" Kai mengeluh dengan raut wajah bodohnya itu. Luhan tak ambil pusing dengan apa yang dilakukan ketiga sahabatnya. Ini sudah biasa membolos di tengah jam pelajaran. Jadi ia akan ikut saja bersama mereka.

"Ayo ke atap" Ajakan Kai lansung diangguki oleh semuanya. Mereka jalan beriringan, dimana Kai dan Dio didepan juga Luhan dan Hanbin yang belekang. Formasi yang selalu mereka pertahankan. Meski sejatinya Luhan adalah ketua dari geng ini, namun Kai yang selalu didepan. Namja tan itu adalah mood maker geng ini meski terkadang tingkahnya seperti orang idiot yang mesum.

.

Setelah sampai mereka segera duduk dipelataran itu. Tempat dimana mereka sering menghabiskan waktu di sekolahan ini. Habisnya ruang musik yang berada di lantai satu sudah jarang dipakai, malah tidak boleh karena dulu mereka hampir saja memporak – porandakan ruangan tersebut. Jadi seperti inilah, mereka tak bisa berlatih band lagi.

"Drum sudah mulai rusak sepertinya" Ujar Dio sambil kepalnya bersandar pada bahu Kai.

"Drum selalu saja menjadi masalah" Celetuk Kai.

Luhan berpikir, lagipula sudah agak lama juga drum itu dipakai. Pantas saja cepat rusak.

"Aku bisa membelinya lagi, jadi jangan khawatir" Hanbin angkat bicara, menatap ketiga sahabatnya tersebut. Kai dan Dio mengangguk setuju namun lain halnya dengan Luhan yang nampak tidak setuju dengan usul hanbin.

"Aku pikir tidak perlu, uang hasil kemarin pasti cukup untuk membeli satu set drum yang rusak"

"Benarkah?"

"Mungkin, Dio apa kau yang pegang uangnya?"

"Ya, aku yang pegang ada di dalam tas. Kemarin aku sudah membagikannya dengan Xiumin. Apa aku harus membawa uangnya sekarang?"

"Tidak perlu, nanti saja. Kau lihat guru Park pasti masih berada di dalam kelas"

Dio mengangguk paham, merasa angin yang menerpanya membuat ia menjadi ngantuk. Bukan hanya dia saja namun semuanya. Jika seperti ini mereka jadi enggan untuk kembali kekelas. Ya mereka memang seperti itu, bertindak semaunya dan apapun yang mereka inginkan haruslah terlaksanakan. Apalagi Luhan, namja cantik itu melakukan apa yang ia kehendaki meski tak menyangkut pautkan keinginannya dengan kekayaan keluarganya.

.

.

.

_REBEL_

Sepulang sekolah Luhan menepati keinginan kakaknya untuk segera pulang ke rumah. Meskipun hatinya ingin sekali pergi bersenang – senang dengan sahabatnya.

Saat kakinya sudah menginjak di depan pintu utama. Ia segera disambut oleh beberapa pelayan yang sudah lama sekali bekerja pada keluarganya. Pemandangan yang sangat tidak asing baginya. Setiap hari jika ia pulang tepat waktu, dipastikan ia akan disambut deretan pelayan disana. Membungkuk hormat bak dirinya adalah seorang raja yang harus disegani. Hidup Luhan memang sempurna kan, namun sayangnya ia tak menginginkan itu semua.

Dengan acuh ia melenggang pergi, berjalan menuju tempat dimana sang kakak yang sudah berada disana. Duduk dengan kaki yang bertumpu dengan sebuah ponsel ditangannya.

"Tumben kau tak menghabiskan waktumu di kantor hingga pagi menjelang" Chanyeol yang sedari tadi sibuk dengan ponsel seketika menoleh, menadapati orang yang ia tunggu – tunggu sudah berada disana.

"Kau juga tumben pulang tepat waktu, biasanya kau habiskan waktumu dengan berandalan – berandalan tengik itu"

"Jaga ucapanmu, mereka bukan berandalan. Lagipula kau sendiri kan yang menyuruhku pulang tepat waktu. DASAR KEPARAT" Murka Luhan, berterik seperti orang yang sakit mental. Chanyeol yang mendapat cacian itu hanya acuh. Untuk apa meladeni adiknya yang memang memiliki emosional tinggi.

"Ganti pakaianmu, kau bau"

"Cih, sejak kapan kau peduli dengan bau badanku"

"Cepatlah ganti pakaianmu"

.

.

.

Sehun memarkirkan mobilnya di pekarangan rumah megah tersebut. Berjalan menuju pintu utama karena ia telah disambut oleh beberapa orang pelayan disana. Ya ia tak memungkiri jika rumah sahabatnya ini sangatlah luas. Tak bisa disebut bangunan biasa mungkin, lebih tepatnya istana. Berlebihan memang tapi yasudahlah.

"Tuan Chanyeol ada di ruang utama, beliau sudah menunggu anda" Dan salah satu pelayan pria berucap padanya sebari membungkuk hormat menyambut dirinya. Setelah berucap terimakasih Sehun segera melenggang untuk pergi menuju tempat yang dimaksud. Dan disana Chanyeol sudah menunggunya, berdiri dan mulai melangkah kearahnya.

"Hey bung"

"Oh kau sama seperti dulu"

Chanyeol mengedikkan bahunya, tertawa renyah kemudian mempersilahkan duduk sahabat lamanya tersebut.

"Sudah lama?" Tanya Sehun.

"Kau memang selalu terlambat cadel"

"Hey aku sudah tak cadel lagi, kawat gigiku sudah dilepas dan rasanya aku sudah bebas sekarang"

"Kau bilang kawat gigi itu merobek lidahmu, aishh menyeramkan sekali. Pantas saja kau jadi cadel"

"Berhentilah yeol, jangan merusak hariku"

Setelah obrolan ringan itu mereka segera melanjutkan ke topik utamanya. Chanyeol melakukan ini karena beberapa hari kedepan mungkin saja ia akan sibuk sekali dengan maslaah perusahaannya. Ya, namja tinggi itu berencana menitipkan adiknya pada Sehun. Pertama mungkin karena Sehun adalah guru dari Luhan dan kedua dia adalah sahabat dekatnya.

"Apa kau yakin untuk ini?. Maksudnya aku tidak masalah hanya saja aku takut Luhan tak ingin dititipkan padaku" Ujar Sehun dan Chanyeol tersenyum.

"Aku sangat yakin sekali, meskipun ya Luhan memang sangat labil sekali. Tapi aku percayakan semua ini padamu, kau wali kelasnya dan apa bersekolah di jurusan psikolog belum cukup untukmu?"

"Aku hanya bertanya Luhan mau atau tidak dititpkan padaku, kenapa kau membahas tentang jurusan sekolah"

Chanyeol tertawa melihat ekspresi tak suka dari Sehun.

"Ok maafkan aku. Jadi intinya mau tidak mau Luhan denganmu aku tak mau tahu. Aku hanya ingin kau menjaganya, ayolah sebagai sahabat yang berpengalaman dalam urusan murid nakal seperti itu kau pasti bisa"

Sehun menggangguk paham. Sudahlah lagipula ini juga cukup menarik baginya yang akan menghadapai segala kelakuan Luhan. Disekolah saja sudah seperti itu bagaiman jika diluar.

Dan tanpa disadari seseorang yang dibicarakan mereka telah datang. Dengan setelan baju piyama berwarna hitam Luhan melenggang tanpa peduli siapa yang kini berada di sekitarnya. Duduk tepat di kursi sebelah kakaknya dengan wajah yang kusut.

Chanyeol hanya menghembuskan napasnya berat. Sungguh adiknya ini memang tak mengerti keadaan.

"Kau yakin dengan pakaian seperti ini?" tanya Chanyeol sedangkan Sehun hanya tersenyum tipis kearahnya.

"Memangnya kenapa, ini dirumah jadi aku bebas ingin berpakaian seperti apa" Ujar namja cantik itu, sebelum matanya menatap kaget siapa yang kini berada di hadapannya. Namun ekspresi terkejutnya segera ia sembunyikan, berusaha sebiasa mungkin.

"Kenapa kau ada disini?" Tanya Luhan dengan nada yang cukup terkejut.

"Tanyakan saja pada kakakmu"

Dan Luhan mendelik, menatap kakaknya seolah bertanya apa yang terjadi. Chanyeol yang mengerti segera berbicara padanya.

"Beberapa hari kedepan, aku akan sangat sibuk sekali. Jadi selama aku tak ada kau akan bersama Sehun"

"Dan dia tinggal dirumah ini?" Sambung Luhan khawatir dan Chanyeol mengangguk membuat tubuhnya terasa lemas dan ingin sekali menenggelamkan tubuhnya di bathup.

"Aku tidak mau" Sergah Luhan ingin bangkit namun tangannya segera dicekal oleh Chanyeol.

"Tidak ada penolakan untuk kali ini"

Awalnya namja cantik itu memberontak, berusah untuk melepas cekalan pada pergelangan tangannya. Namun karena kakaknya memaksa akhirnya Luhan kembali pada posisinya. Mendengus dan melafalkan banyak sumpah serapah untuk kakak kesayangannya itu.

"Lagipula Sehun adalah guru di sekolahmu, jadi aku akan lebih gampang mengawasi setiap apa yang kau lakukan. Ingat nanti saat aku tak ada jangan sekalipun bertindak anarkis, bersikaplah sebaik mungkin" Penuturan Chanyeol sungguh membuatnya muak. Tapi ia bisa apa, tidak ada pemberontakan karena situasi ini berbeda.

Chanyeol menatap arlojinya, mengubah ekspresi seolah ia sedang ada janji dengan seseorang, karena kenyataannya memang begitu. Ada banyak pekerjaan yang harus segera diselesaikan.

"Sepertinya aku tak bisa lama – lama. OK bung aku pergi dulu, titip Luhan. Jika ia berbuat macam – macam aku tak larang kau memarahi ataupun menghukumnya. Dan kau adikku sayang jangan pergi kemana – mana OK" Sehun membalas uluran tangan Chanyeol dan Luhan hanya bisa menatapnya aneh.

Hingga saat Chanyeol benar – benar pergi Luhan hanya bisa menatap Sehun dari kaki hingga kepalanya. Tak ada yang aneh, dia memang tampan. Tapi satu hal yang ia lupa, disekolah Sehun akan menjadi guru sekaligus seksi kedisiplinan, sedangkan di rumah ini ia pikir Sehun akan menjadih pengasuhnya.

Tunggu, pengasuh.

Oh tidak itu terlalu bagus, mungkin pembantu.

"Jadi kau disuruh Chanyeol untuk menjadi pengasuhku?" Tanya Luhan ragu.

"Kau ingin aku jadi pengasuhmu?"

Bukannya menjawab namja tampan itu balas bertanya padanya. Luhan mendecih, sangat tak minat sekali melanjutkan pembicaraan dengan namja kaku seperti Sehun.

"Pengasuh terdengar sangat bagus,kau lebih pantas disebut pembantu"

Sehun tak ambil pusing saat Luhan mengucapkan kalimat tak sopan itu.

"Kau menginap?"

Dan Sehun mengangguk.

"Ohh, si Chanyeol itu memang BEDEBAH"

Luhan ingin pergi dari sana, sebelum suara Sehun membuatnya berhenti sejenak.

"Kau ingin pergi kemana?" Tanya Sehun masih betah dalam posisinya.

"Apa aku harus memberitahumu?"

"Sepertinya kau tak bisa pergi ke luar rumah selain untuk sekolah. Kau dengar apa yang hyungmu katakan tadi. Jangan kemana – mana"

Luhan menatap tak suka ke arah Sehun. Ia pikir dengan begitu Sehun bisa mengaturnya, maaf saja Luhan bukan tipe orang yang ingin diatur seperti itu.

"Kau sama seperti si Chanyeol itu, kalian semua menyebalkan"

"Tapi sayangnya kau tak bisa mengelak"

Dan untuk ucapan Sehun ia merasa kehidupannya terancam. Ia tak bisa membayangkan bagaiman harus menghadapi seorang namja bak Sehun ini. Mungkin saja hari – harinya lebih dari sekedar dikekang, entahlah mungkin melebihi kakaknya dalam mengurusnya.

"Ikuti atau kau akan tahu akibatnya"

.

.

.

_REBEL_

Pagi menjelang saat matahari benar – benar membuat Jinhwan kegirangan. Untuk kasus kegirangan ini memang dari kemarin namja mungil itu sudah terlanjur senang untuk mengahadapi apa yang sudah ia inginkan. Ya benar sekolah sekaligus keluar bebas dari bangunan ini. Meskipun tetap saja dua bodyguard dengan pakaian lengkap nan rapinya sudah berdiri siaga dibelakangnya.

Jinhwan berjalan menuju kantor bersama dengan kedua bodyguard itu. Sedikit risih memang karena sepanjang jalan ia terus saja ditatap oleh banyak orang.

"Kalian memang pengganggu, kenapa mau saja disuruh seperti ini oleh kakek. Apa karena uang?"

Sang bodyguard mengangguk, membenarkan apa yang baru saja majikan itu katakan.

"Jangan masuk kedalam kantor, dan jangan ikuti aku saat ingin buang air. Kalian hanya tunggu aku di luar ruangan saja, mengerti!"

Setelah kedua bodyguard itu paham, Jinhwan tanpa perlu waktu lama segera masuk kedalam ruangan kepala sekolah tersebut. Disambut oleh beberapa guru yang sepertinya sudah menunggunya sejak tadi.

"Apakah anda Jinhwan-shii?" Tanya seorang pria parubaya yang menjabat sebagai kepala sekolah.

"Ne, itu saya"

.

.

.

Berkali – kali mungkin saat Luhan terus saja mengeluhkan sesuatu yang membuat ketiga sahabatnya bingung harus melakukan apa.

Mereka bertiga juga sedikit terkejut dengan apa yang baru saja ia lihat tadi pagi. Dimana seorang vokalis EXO yang terkenal akan keberandalannya datang bersama dengan seseorang yang sebenarnya sangat dihindari. Namun entah apa yang membuat nasib Luhan seperti itu. Dan penjelasan yang baru saja Luhan paparkan membuat ketiga orang itu menatap tak percaya.

"Kau harus lebih memberontak untuk ini. Aku yakin si namja tembok itu akan semakin menindasmu melebihi hyungmu itu" Ujar Dio dengan ekspresi kesal bermaksud untuk memberi semangat.

"Apa susahnya untuk melawan, jika si namja tembok itu terus – terusan mengatur apapun keinginanmu kau bisa pukul dia atau apapun itu yang penting kau akan bisa keluar dari rumah, terkecuali jika sekolah" Kai menanggapi dan Luhan masih saja berpikir lebih dari pada masukan sahabatnya.

"Memangnya kau sudah diapakan oleh si guru tembok itu?" Tanya Hanbin

"Dia yang mengurusi semua keperluanku. Semuanya, semua tetek bengek dan itu sangat menyebalkan. Kalian tahu dia menyuruhku mengerjakan pekerjaan rumah dan tidak boleh tidur melebihi jam duabelas malam. Apa dia pikir aku anak balita" Luhan frustasi, mengacak rambutnya asal hingga tatanan rambut itu sudah berantakan. "-Aku bisa mati jika seperti ini"

"Dan kita akan jarang untuk latihan band" Kai menimpali dan itu diangguki oleh semuanya.

"Ukh melenceng dari masalah Luhan, ada berita jika kelas kita akan kedatangan murid baru" Hanbin mencoba untuk mengalihkan topik, untuk masalah Luhan mungkin bisa mereka pikirkan lain waktu.

"Siapa?"

"Seseorang dari keturunan kerajaan, bukan seorang pangeran namun dia masih keturunan darah biru. Aku tak tahu pasti, tapi dia itu anak bungsu dari Kim Seunghwan"

"Kim Seunghwan adalah seorang pangeran bukan, ukh aku pernah mencarinya diinternet. Kurang lebih wajahnya seperti ini" Dio menyodorkan ponselnya, menampilkan foto keluarga kerajaan itu. Ya memang Korea Selatan yang sekarang bukan lagi negara kerajaan, namun keturunan – keturunannya memang masih ada.

"Perawakannya kecil, mata sipit dan kulit putih. Melihat potonya saja sudah membuatku terpesona, bagaimana jika ada dihadapanku nanti. Sungguh dia sempurna" Luhan melirik Kai yang nampak sangat berlebihan. Jujur ia juga sependapat, tapi Kai memang sangat berlebihan.

"Ajak dia masuk ke grup kita" Usulan Kai membuat semuanya terkikik geli. Mana mungkin Kim Jinhwan mau berteman bersama mereka.

"Memangnya dia mau?"

"Entahlah"

Hingga beberapa saat kemudian bel masuk pun berbunyi. Tidak biasanya mereka langsung bergegas masuk kedalam sekolah. Habisnya mereka sudah tak sabar ingin melihat siswa baru yang dimaksud.

.

.

Suasana kelas nampak riuh. Bisik – birik para murid tukang gosip serta celotehan yang keluar begitu saja dari mulut beberapa orang dikelasnya. Guru belum ada yang masuk, dan mereka hanya bisa duduk di bangku masing – masing menunggu sesuatu yang membuat sekolahnya heboh.

"Kenapa belum datang juga" Eluh Kai tak sabaran.

"-Kalian tahu, Kim Jinhwan adalah seorang yang sangat elegant. Cara berpakaiannya kau bisa lihat di foto itu, apik dan sexy meski dia tak sering dipublikasikan. Uhh aku sudah tak sabar untuk melihatnya" Lagi Kai berujar membuat Dio yang berada disebelahnya jengah, selalu saja membicarakan Jinhwan memangnya tak ada topik lain.

"Mungkin nanti dia bisa dijadikan inspirasi lagu kita. Dia nyaris sempurna dan sulit digapai, keluarga terpandang dengan seorang namja biasa yang saling mencintai. Mereka tak direstui dan memutuskan untuk kabur bersama. Sepertinya pasaran, tapi itu hanya perumpamaan saja" Luhan mengutarakan isi hatinya, ia memang membuat bait – bait kalimat yang akan dijadikan sebuah lagu. Dibalik keurakannya tersimpan suatu kelebihan.

"Oh sepertinya dia datang"

Tiba – tiba ruangan menjadi hening saat guru Oh selaku wali kelas datang. Luhan hanya bisa menatapnya jengah, lebih tepatnya tak ingin sekali menatap siapa orang yang kini berada dihadapannya. Satu rumah dengannya dan selalu mengatur apa yang ia lakukan. Intinya Sehun itu menyebalkan.

"Hari ini kelas kita akan kedatangan murid baru. Jadi dimohon untuk kerja samanya"

"Ne" Ujar seluruh murid.

"Baiklah silahkan masuk"

Sang wali kelas mempersilahkan masuk sosok yang sudah ditunggu – tunggu itu. Sontak suara riuh dari bibir murid – murid membuat Jinhwan sedikit malu melihatnya. Ini sungguh berlebihan, dan tak sesuai dengan perkiraanya.

"Perkenalkan dirimu" Ujar Sehun dan Jinhwan mengangguk.

"Hallo, aku Kim Jinhwan. Mohon bantuannya"

Dan kembali suara riuh tepuk tangan maupun yang lainnya membuat Jinhwan menggaruk tengkuknya malu. Ini sangat diluar dugaannya, ia pikir akan seperti di drama yang ia tonton waktu itu namun kali ini melebihi itu semua.

"Sepertinya, memang dia inspirasi untuk lagu kita"

.

.

T

B

C

.

.

.

REVIEW