Warning: gaje, sangat OOC, typos, AU, All humans de el el
Disclaimer:
InuYasha and all characters officially belong to Rumiko Takahashi-sensei.
Author's note: Ini fanfic pertama saya yang saya usahain bakal jadi multichapter :'D semoga aja nyambung dan ga ngebosenin yak. Makasih buat yang mau baca, pengisian kotak review betul-betul direkomendasikan lho ^^
Summary: Kikyo tak sudahnya memperhatikan Sesshomaru. Permata emas itu, rambut perak itu. Betul-betul mirip... tidak, seharusnya ia sudah membuang jauh segala hal tentang orang itu.
"Day by Day"
.
"Kau sudah terlambat tiga menit empat puluh delapan detik dari jam normal makan siangku!"
"Cerewet ah!" Tukas Kagome seraya membuka sekotak bento yang barusan ia beli di kantin sekolah. "Ini, makan siangmu. Cepat makan mumpung masih hangat—"
"Kenapa bukan ramen?"
"Kau ini... apapun yang kukerjakan selalu kau komentari. Mie ramen atau bento, ya sama saja! Sama-sama makanan! Haaah—sudah, aku capek main-main denganmu!" geram Kagome seraya mengacak-acak rambutnya sendiri, kemudian segera bangkit. Hendak melangkah pergi.
"E-eh! Tunggu dulu..."
DEG.
Mendadak detak jantung Kagome terhenti untuk sepersekian detiknya. Sepasang manik coklatnya sekejap membulat. Ia membeku sebentar, merasakan sebuah tangan kekar tengah menggapai miliknya. Beruntung angin sepoi segera mendesir ke seluruh bukit ini—seolah berusaha menyembunyikan pacu jantung Kagome yang dapat didengar oleh siapapun.
"Eh, maaf!" buru-buru Inuyasha melepaskan cengkeramannya dan seketika jadi salah tingkah. Begitu juga dengan Kagome. Cepat-cepat ia tarik kedua tangannya ke depan dada.
"Jangan pergi—"
"A-apa...?" Kagome memalingkan kepalanya ke arah Inuyasha. Tampak sebuah aliran hangat terus menjalar ke seluruh permukaan wajah sang gadis.
"Ja-jangan salah paham! Maksudku, temani aku makan siang di sini. Kau ini budakku, jadi kau harus menurut! Cepat duduk kembali!" Inuyasha segera mempertegas ucapannya—meski sudah terlihat jelas semu merah sedikit membubuh di kedua pipinya.
Gadis bersurai pekat itu mendecih seraya melirik pemuda tersebut. Kemudian duduk tepat di sebelahnya. Tak hentinya Kagome mengamati wajah Inuyasha yang begitu lahap menyantap setumpuk telur gulung dan makanan lainnya. Hingga ia sendiripun tak sadar bahwa Inuyasha kini tengah mengamati wajahnya juga.
"Ada apa?" tanya Inuyasha dengan mulut penuh. Matanya menatap bingung.
"Eh tidak..." Kagome tersentak sedikit, "tidak ada—ng, bagaimana dengan lukamu?"
Inuyasha berhenti mengunyah, lantas memperhatikan jarinya yang masih terbalut perban. "Masih bengkak dan sangat sakit sekali! Kau itu sama saja seperti sapi gila, Kagome—"
"Maaf." Potong Kagome sembari menekuk kedua lutut lalu mendekapnya.
"Maaf?"
Gadis itu mengangguk. Ia menghela nafas begitu dalam. "Waktu itu aku benar-benar jengkel padamu. Jadi, begitulah..." ucapnya setengah menyesal.
Pemuda dengan sepasang mata amber itu terdiam untuk beberapa saat. Ia turunkan kedua sumpit yang sedari tadi ia pegang, lantas merogoh saku celana seragamnya. "Tegakkan kepalamu."
"Hah?"
"Tegakkan kepalamu. Membungkuk seperti itu tidak bagus untuk kesehatan tulangmu, bodoh!" tukas Inuyasha seraya merangkak mendekat ke arah Kagome.
"He-hey, kau mau ap..."
"Kau ini berisik sekali. Lakukan saja apa yang kuperintahkan!" ujar Inuyasha yang kini sudah berjongkok di belakang tubuh Kagome. Kedua tangannya terulur kedepan—hendak melingkarkan sesuatu ke leher gadis tersebut.
Kalung.
Kalung?
"Mulai sekarang kalung itu milikmu."
Kagome terkesiap. Entah apa yang tengah terjadi di dalam batinnya sekarang. Jantungnya seolah tak ingin berhenti menggedor-gedor dadanya. A-ada apa ini?
"Dengan kalung itu, kau tidak akan bisa menghindar dari segala tugas-tugasmu. Anggap saja kalung itu sebagai tanda bahwa kau adalah kepunyaanku..."
Kepunyaan Inuyasha.
Aku? Kepunyaan Inuyasha?
Tu-tunggu! Itu maksudnya apa?!
"Hey, brengsek. Maksudmu aku ini peliharaanmu?" cetus Kagome yang kembali menarik kata-katanya bahwa Inuyasha itu adalah cowok termanis menurutnya.
"Err... aku tidak bilang begitu, kan?"
-oOo-
.
Tidak biasanya cafe Diamond begitu lengang. Hanya ada beberapa orang yang masih sibuk bercengkerama di mejanya. Ditambah iringan musik blues retro yang terdengar mengisi setiap penjuru ruangan.
"Kau tak apa, Kikyo?"
Kikyo tersentak, kemudian kembali menyeruput coffee latte miliknya dengan tenang. "Aku baik-baik saja."
Sesshomaru memandangi gadis dihadapannya dengan curiga. Seolah sepasang permata emasnya mampu menembus tuntas ke dasar hati Kikyo.
"Sudah—jangan menatapku seperti itu." Kikyo semakin gusar mendapati sepasang manik tajam itu memandangnya begitu lurus. Sungguh, tak bisa dipungkiri pria ini tampak begitu mirip dengan pemuda lainnya.
Inuyasha.
Ya... sepasang iris emas yang serupa. Dan juga helaian rambut perak yang menudungi kepala mereka. Hanya saja—Sesshomaru jauh terkesan memiliki karisma yang sulit diabaikan. Segala hal yang ia lakukan seolah sama sekali tak memberi ruang bagi setiap orang untuk berkomentar.
"Kalian ini kakak beradik, ya?" refleks Kikyo melontarkan pertanyaan itu. Membuatnya sedikit terkesiap, tak mampu lagi menarik ucapannya.
"Kakak beradik? Dengan siapa?" Sulit dipercaya, Sesshomaru malah balas bertanya.
"...dengan Inuyasha—" Kikyo segera tertawa. "Tidak, tidak ada. Oh ya, bagaimana dengan kelas kendo-mu tadi?"
Sesshomaru membuang nafas. Ia sandarkan tubuh tegapnya di sandaran bangku cafe. "Siswa-siswa baru yang tak mengenal apa itu sejatinya kendo memang terlihat agak menyusahkan."
Kikyo mengulum senyum seraya mengaduk-aduk minumannya yang masih bersisa setengah. "Kau juga jangan terlalu keras terhadap mereka, Sesshomaru. Jiwa mereka masih begitu halus, belum saatnya untuk dibentak dan dimarahi—"
"Hey, aku tidak membentak. Sungguh! Aku hanya mengajarkan mereka apa itu arti 'ketegasan' dan 'keberanian'. Juga kedisiplinan yang harus ditanam mulai sekarang." Tutur Sesshomaru yang baru kali ini terlihat bicara panjang lebar. "Kau tahu, anak-anak jaman sekarang kebanyakan berjiwa lembek dan pemalas."
Lagi-lagi Kikyo tertawa. "Kau memang guru yang hebat... sekaligus menakutkan."
Mendengar itu Sesshomaru malah mendelik, namun di saat yang bersamaan pula ia tampaknya tengah teringat sesuatu. Buru-buru ia menatap arlojinya. "Sial." Decaknya, "Maaf Kikyo, aku lupa bahwa lima menit mendatang ada pertemuan antar pelatih kendo untuk kejuaraan tahun depan. Bisa aku tinggal?"
Gadis dengan kulit putih susu itu kembali mengulum senyum. Ia anggukkan kepalanya. Tanpa membuang waktu, Sesshomaru menggeser kursinya dan segera bangkit. Ia usap rambut Kikyo. Bibir munglinya mengulas senyum tipis lalu mengecup ubun-ubun sang gadis. "Dah, sampai jumpa." Ucapnya hendak berlalu pergi.
"Tunggu—Sesshomaru..."
Pria itu kembali menghentikan langkahnya lantas membalikkan badannya sedikit.
"Aku punya dua botol wine di rumah. Kalau tidak keberatan, nanti malam..."
Sesshomaru kembali tersenyum. "Baiklah. Pukul tujuh malam aku sudah berada di rumahmu." Pungkasnya kemudian benar-benar melangkah keluar cafe.
Kikyo kembali menghela nafas. Ia tatap pria yang sudah menghilang di antara kerumunan orang-orang di luar sana. Wajahnya yang terukir sendu terlihat sedikit pucat ditimpa sinar matahari yang menembus dari balik jendela cafe. "Rasanya aku ingin terus bersamamu, Sesshomaru." Gumamnya pada diri sendiri.
-oOo-
.
"Oi, aku mau pulang!"
"Pulang saja sendiri." Bunyi sepatu yang berdecit benar-benar membuat gatal bagi setiap pasang telinga yang mendengarnya.
"Dasar tidak tahu terima kasih! Aku sudah mengerjakan semua tugasmu di perpustakaan, sampai-sampai aku tak mampu lagi merasakan lenganku!" Teriak Kagome dari tribun penonton.
"Lalu?" Acuh tak acuh, Inuyasha malah tetap sibuk dengan bola basketnya. Berlari ke sana ke sini. Mendribble, lalu melakukan shoot, slam dunk atau apalah itu. Oke, dia memang terlihat benar-benar keren kali ini.
"Lalu? Kau antar aku pulang sekarang!"
"Kau bisa pulang sendiri kan?" Inuyasha balas teriak dari lapangan basket bawah sana.
"Ini sudah malam. Aku tidak berani pulang sendiri—"
"Tenang saja, tak akan ada yang mau mengganggu perempuan sepertimu." Sahut pemuda itu kembali asik dengan benda karet berwarna jingga tersebut.
"..."
Inuyasha terus bermain, namun seketika pula ia menghela nafas dan membanting bolanya hingga terpental entah kemana. "Baiklah! Kau tunggu aku ganti baju dan aku akan—eh? Kagome? Kau... sudah pergi?" Lelaki itu baru sadar bahwa sudah dari beberapa menit yang lalu ia hanya seorang diri di sini.
.
.
"Menyebalkan!" umpat Kagome seraya melangkah menyusuri trotoar jalan raya. Ia dekap tubuhnya, berlindung dari serangan angin malam yang begitu menusuk. Suara lalu lalang kendaraan terdengar begitu bising. "Haaah—apa yang harus kukatakan pada ibu dan kakek nanti kalau aku baru pulang malam seperti ini?" ringis Kagome pada diri sendiri. "Haruskah aku bilang: 'maaf ibu, kakek, aku sedang dihukum menjadi budak seseorang oleh karena itu aku harus mengerjakan tugas-tugasnya dan baru selesai sore tadi.'...? Tidak! Aku yakin itu tidak akan berhasil—"
TIIN... TIIIN
Jeritan klakson mobil terus berderit-derit melengking tepat di belakang Kagome. Gadis itu terlonjak sedikit mendapati siapa yang sedang berada di dalam mobil tersebut.
"Se... Sesshomaru-sensei?"
Pria itu membuka lebar kaca jendela mobilnya. "Bagaimana bisa seorang siswi dengan seragam SMA favorit yang terkenal disiplin itu berkeliaran malam-malam seperti ini?"
"Oh sial. Pasti dia ingin memarahiku!" batin Kagome mulai cemas. "Maaf, sensei... tadi itu—anu, ng..."
"Ayo masuk."
"Eh?"
Sesshomaru segera membuka pintu mobilnya lantas kembali berkata, "Masuklah. Aku tak ingin orang-orang menganggap sekolah kebangaan kita itu jelek hanya karena melihatmu yang keluyuran di luar jam sekolah."
Kagome sedikit ragu. Namun cepat-cepat ia segera masuk ke dalam mobil gurunya itu dengan semburat salah tingkah. Tak tahu harus bilang apa lagi. Sesaat dirinya duduk di dalam kendaraan ini, rasa nyaman mulai mengelabuinya. Harum bunga sakura terasa begitu kental, ditambah suhu AC yang tak terlalu rendah. Betul-betul menyuruh orang untuk segera terlelap...
"Rumahmu di mana?" suara bariton Sesshomaru kembali menyentakkan Kagome, membuatnya menerangkan alamat rumahnya dengan tergesa-gesa.
"Maafkan saya sudah merepotkan anda, sensei—"
"Hn?" Sesshomaru melirik ke arah Kagome melalui sudut matanya. "Tidak usah berkali-kali menundukkan kepala seperti itu." Tegur pria itu sedikit risih kemudian kembali menatap lurus ke arah depan. "Lagipula... kenapa malam-malam begini baru pulang?"
"Itu... saya harus mengerjakan tugas-tugas tambahan dulu sebelum pulang ke rumah." Dusta Kagome.
"Tugas tambahan? Kau tidak ikut ujian?"
Kagome mengangguk cepat. "Iya! Minggu kemarin saya telat makan, kemudian jatuh sakit. Tak disangka, malah melewatkan ulangan harian."
Pria dengan pupil tajam itu mengerutkan dahinya. "Kenapa tiba-tiba jadi bersemangat begini?" tanya Sesshomaru heran dengan sepasang tangan tetap fokus pada kemudi.
Kagome hanya menyahut dengan tawa kaku, lantas membuang nafas.
"Jangan sampai terulang lagi. Telat makan, itu tandanya kurang disiplin. Jika kau terus menerus begini, kau hanya akan merepotkan orangtuamu saja."
"Eh iya, maafkan saya." Jawab Kagome kembali menundukkan kepalanya. Sesaat ia mendengus gemas dengan kepalan tinju yang terangkat sedikit. "Sial. Ini semua gara-gara kau, Inuyasha! Awas saja..."
"Kau ingin memukulku?" tanya Sesshomaru.
"Ah~ bukan. Saya—saya merasa senang sekali bahwa anda mau berbaik hati mengantar saya. Yes, saya benar-benar bahagia...!" tutur Kagome seraya mengayun-ayunkan kepalan tangannya. Sementara itu Sesshomaru hanya mampu mengernyitkan sepasang alisnya. Tak pernah ia berfikir bahwa ada saja siswi dengan sikap aneh seperti ini.
-oOo-
.
"Maaf jika Kagome sudah merepotkanmu, Nak." Ujar Kakek yang nyatanya sudah dari jam empat tadi menunggu kepulangan cucunya di beranda rumah.
"Tidak apa. Lagipula, ini sudah menjadi tanggung jawab saya sebagai guru Kagome." Tutur Sesshomaru dengan begitu santunnya.
Kakek tertawa, menunjukkan deretan giginya yang sudah tak lengkap lagi. "Ayo masuk dulu, kita minum teh di dalam—"
"Oh tidak usah, saya sedang buru-buru. Terima kasih atas tawarannya." Pria itu kembali membungkukkan tubuhnya. "Kagome, ingat nasihat tadi. Disiplin. Jika lain kali aku mendapatimu pulang malam lagi, akan segera kulaporkan kepada konselor."
"Ah—maafkan saya, sensei. Maaf..." Untuk kesekian kalinya ia membungkukkan tubuhnya berulangkali. Sesshomaru berbalik arah dan kembali melesat bersama mobilnya.
Sementara itu, sosok pemuda juga terlihat sibuk dengan kendaraanya. Dari balik helmnya ia amati satu persatu pejalan kaki yang sedang melintasi trotoar jalanan kota.
"Dasar! Kemana sih perginya si kaki pendek itu?" dengus Inuyasha tetap mengendarai motor besarnya dengan kecepatan perlahan. Kalau-kalau saja ia bertemu Kagome di sekitar sini. "Kaki pendek, tapi cepat sekali dia menghilang. Benar dugaanku—jangan-jangan dia memang bukan manusia!" Omel Inuyasha seraya melepas helmnya. Tangannya mengaduk-aduk saku jaketnya kemudia meraih ponsel mengkilap miliknya. "Oi, kau di mana? Sudah pulang? Sudah sampai ke rumah?... Cerewet!... tidak mau!... besok siapkan makan pagi untukku!... Terserah atau akan kulaporkan—hah bagus!"
Inuyasha menghela nafas pelan. "Bodohnya. Aku bersusah payah mencari-carinya, ternyata dia sudah pulang."
.
-oOo-
Sebuah mobil hitam terlihat meluncur memasuki areal gerbang rumah. Sekitar terasa sepi dan senyap. Sesshomaru keluar dari mobil usai memarkirkannya di halaman depan. Lamat-lamat ia mengatur langkah. Berjalan menuju pintu utama. Ia tekan tombol bel berkali-kali. Tak ada jawaban. Sedikit rasa kuatir menyeruak dari sekat batinnya. Jemari lentiknya begitu gesit menekan tombol-tombol nomor di ponselnya. Sial. Tak ada sahutan sama sekali.
"Kikyo...!" Sesshomaru memutar kenop pintu, dan anehnya benda persegi tersebut malah membuka dengan sendirinya. "Hn? Tidak di kunci?" tanyanya pada diri sendiri membuat rasa kalut di dadanya semakin melebar.
Pria itu menjejakkan kakinya ke dalam. Ruangan depan tampak kosong tanpa siapapun. Sayup-sayup sepasang telinganya menangkap sebuah suara yang tengah terbatuk-batuk. Tungkai panjangnya dengan sigap mengikuti arah suara. Terlihat—sosok gadis sedang berjongkok menghadap wastafel toilet. Bahunya terguncang-guncang diiringi suara batuk berulangkali..
Sesshomaru segera menerobos masuk. "Kikyo!" Ia balikkan tubuh gadis itu. Pucat. Wajahnya terlihat Pucat pasi. Kali ini Sesshomaru dapat merasakan tubuh ringkih sang gadis begitu dingin. "Kikyo... kau kenapa?"
"Oh—kupikir kau tak akan datang." Ujar Kikyo tertawa lirih kemudian melepaskan tangan Sesshomaru. Ia berdiri, meski rasanya ia terlihat seperti melayang. "Aku... tidak apa-apa. Ayo kita ke depan..."
BRUUKK—
Seketika sang gadis ambruk. Tak sadarkan diri. Rasa panik benar-benar sudah menyebar hingga ke permukaan. "Kikyo! Kikyo...!" Sesshomaru menepuk-nepuk pipi perempuan itu. Tiba-tiba sebuah botol berisi kapsul terjatuh menggelinding ke bawah kakinya.
"Hepatocellular carcinoma? Ka-kanker hati?"
.
To Be Continued-
Plisss saya butuh komentar anda semua :'3 jadi mohon kritik dan sarannya, apakah fanfic ini patut dilanjutkan atau cukup ngegantung di sini aja :''D onegaaai... arigato gozaimashita~
