~DISCLAIMER~

Naruto by Masashi Kishimoto

Story by Arleinz Kyousuke

Romance, Friendship, AU, OOC

Rated T

Happy Reading...

.

.

.

.

.

Naruto sedang berjalan pulang ketika ia melihat Hinata. Gadis itu sedang membaca buku dengan earphone yang terpasang di telinganya, hingga ia tidak melihat sebuah mobil tengah melaju ke arahnya yang sudah hampir mendekati jalan raya.

"Hinata! Awasss!", Naruto berlari sambil berteriak memperingatkan Hinata.

Untuk seperrsekian detik, Hinata seharusnya bersyukur pada Tuhan, karena tepat sebelum kakinya menyentuh jalan raya, Naruto sudah menarik tangannya. Singkatnya, Naruto berhasil menyelamatkannya. Hinata yang terkejut, menjatuhkan bukunya dan earphonenya terlepas dari telinganya.

"Kau tidak apa-apa, Hinata?", tanya Naruto.

"Akhh... Ti-tidak apa-", perkataan Hinata terhenti melihat pemuda yang menyelamatkannya adalah Naruto.

"Naruto?"

"Hahh... Kau ini, bagaimana bisa kau membaca sambil berjalan. Itu berbahaya-ttebayo! Belum lagi kau memakai earphone", seru Naruto.

"Kau mengkhawatirkanku?"

"Hahh..Tentu saja-ttebayo Kalau kau kenapa-kenapa aku juga nanti yang repot, karena tadi aku ada di dekatmu. Lagipula, kalau kau tertabrak tadi, Sakura bakalan marah padaku. Dan bahkan aku juga bisa mati dibuatnya-ttebayo!", seru Naruto.

Hinata yang mendengar Naruto menyebut nama Sakura mendadak cemberut. Ia lalu melepaskan tangan Naruto.

"Huh, aku tidak perlu kau tolong. Itu terserahku kalau aku mau berjalan sambil membaca, dasar baaka...", serunya sinis.

"Grr...Kau ini sudah ditolong malah marah. Kalau kau tidak kutolong tadi, kau pasti sudah tertabrak-ttebayo!", seru Naruto yang mulai kesal dengan perkataan Hinata.

"Huh, itu urusanku. Lagipula, untuk apa kau menolongku?", tanya Hinata sinis.

"Grrr... Dasar kau ini. Tidak mungkin aku membiarkan seorang gadis ditabrak mobil begitu saja di depan mataku. Lagipula nanti temanmu Sakura akan menyalahkanku-ttebayo!", seru Naruto.

"Hhh... Naruto no baka!", teriaknya sambil menampar pipi Naruto.

"Ahh..Ittai. Kau ini kenapa suka sekali memarahiku-ttebayo! Apa salahku padamu?", tanya Naruto sambil meringis.

"Hhh...bukan urusanmu!", teriak Hinata.

"Tunggu, kenapa wajahmu memerah Hinata? Hehehe...jangan-jangan, kau menyukaiku..", ujar Naruto sembari tertawa yang sukses membuat rona merah di pipi Hinata mencapai batas maksimumnya.

"Hhhh...Naru-kun no bakaaaa!", teriak Hinata sambil menampar Naruto lagi. Setelah iti, Hinata berlari meninggalkan Naruto yang pipinya sudah mulai memerah karena dua tamparan Hinata tadi.

"Hoi, Hinata! Tunggu! Hahh...gadis itu benar-benar menakutkan-ttebayo!", ujar Naruto sambil memegang pipinya.

"Naru-kun? Tunggu, tadi dia memanggilku Naru-kun. Apa maksudnya itu? Hahh... sudahlah, yang aku tahu dia itu benar-benar Tsundere-ttebayo! Hari ini aku benar-benar sial-ttebayo!", seru Naruto. Naruto pun segera beranjak dari tempat itu menuju rumahnya. Tapi, belum selangkah Naruto berjalan, matanya menangkap sesuatu yang tergeletak di depannya. Ia pun mengambilnya.

"Tunggu, ini kan buku Hinata. Hahh...nampaknya dia lupa mengambil bukunya yang terjatuh tadi", kata Naruto sambil memperhatikan benda yang diketahui adalah buku tersebut.

"Promise, The Never Ending Story. Judul yang bagus. Aku belum pernah mendengar judul ini. Sebaiknya aku kembalikan saja padanya besok", ujar Naruto sambil memasukkan buku itu ke dalam tasnya. Naruto pun segera beranjak menuju rumahnya.

.

.

.

.

"Tadaima..."

"Okaeri. Kau sudah pulang Naruto?", tanya Kushina sembari menyambut Naruto

"Ya, seperti yang Kaa-chan lihat sendiri...", ujar Naruto.

"Tunggu dulu, kenapa pipimu merah begitu Naruto?", tanya Kushina heran.

"Eehhh...ini bukan apa-apa kaa-chan, hehe", jawab Naruto sambil tertawa pelan.

"Ya, sudah. Lebih baik sekarang kau mandi sana..."

"Siap Komandan!", jawab Naruto sambil mengangkat tangannya membentuk posisi hormat lalu melenggang ke kamar mandi. Kushina hanya bisa menggeleng melihat kelakuan anak semata wayangnya tersebut.

Setelah beberapa menit, Naruto pun keluar dari kamar mandi dan mengenakan pakaiannya. Ia langsung menuju ruang makan untuk makan malam. Setelah selesai, ia langsung menuju kamarnya dan berbaring di tempat tidurnya sambil mengingat kejadian yang telah dialaminya hari ini.

"Hahh...Hari ini aku benar-benar sial-ttebayo. Dihukum saat upacara dan yang paling penting bertemu dengan gadis itu. Haahh, aku benar-benar tidak mengerti isi pikirannya. Padahal kalau aku tidak menyelamatkannya, ia bisa tertabrak tadi.

Naruto terus mengingat gadis yang menurutnya tsundere itu. Tiba-tiba ia teringat sesuatu dan beranjak dari tempat tidurnya. Ia mengambil sesuatu dari tas sekolahnya dan kembali ke tempat tidurnya.

"Promise, The Never Ending Story. Hmmm, aku belum pernah melihat buku seperti ini. Ternyata Hinata menyukai buku seperti ini. Hahh, nampaknya besok aku harus mengembalikannya"

Naruto membuka buku tersebut dan membolak-balik halamannya. Ia pun mulai membacanya. Ia terus membaca setiap baris kata yang tercetak di buku milik Hinata tersebut.

.

.

.

.

"Jadi, kau benar-benar pergi?"

"Ya. Besok aku akan pindah."

"Kenapa kau harus pindah? Kau tinggal di sini saja..."

"Tidak bisa. Kalau aku disini, dengan siapa aku tinggal, sementara orangtuaku pindah ke Suna?"

"Tinggal saja denganku"

"Hahaha...Itu tidak mungkin..."

"Hrrr...kau jahat..."

"Haha...tenang saja. Kita pasti bertemu lagi..."

"Janji ya, kita akan bertemu lagi disini suatu hari nanti.

"Ya, tenang saja, hahaha."

"Baaka..Jangan tertawa disaat seperti ini, tahu!"

"Hahaha, gomen... Tenang saja aku tidak akan lupa"

"Janji?"

"Janji!".

.

.

.

.

Suara alarm membangunkan Naruto dari tidurnya. Dilihatnya sekilas jam itu. Terlihat sudah jam 6.00 pagi. Tak terasa ia tertidur setelahh membaca buku milik Hinata semalam. Naruto bangun dari tempat tidurnya. Matanya masih agak mengantuk. Namun hal yang membuatnya heran adalah mimpi yang dialaminya semalam.

"Hahh.. mimpi itu lagi. Sebenarnya apa maksud dari mimpi itu? Siapa anak perempuan yang ada di mimpiku itu? Hahh, aku benar-benar bingung-ttebayo!", gumamnya.

Naruto bangun dari tempat tidurnya dan mengambil buku milik Hinata dan memasukkannya ke dalam tas sekolahnya. Lalu, ia langsung mengambil handuk yang tergantung di kamarnya. Ia pun bergegas mandi sebelum ibunya memarahinya lagi seperti kemarin.

"Hmmmm...tumben kau bangun cepat, Naruto", seru Kushina sambil menyiapkan sarapan.

"Tentu saja. Kaa-chan pikir aku itu tidak bisa bangun cepat? Aku tidak mau berakhir seperti kemarin-ttebayo!", seru Naruto yang telah siap dengan seragam sekolahnya sambil duduk di meja makan.

"Hahaha, untung saja kali ini kau bangun cepat, Naruto. Kalau tidak, ibumu akan memarahimu lagi. Kau tahu kan bagaimana ibumu jika sudah marah", sahut Minato sambil menyeruput kopinya.

"Haha, Tou-chan bisa saja...", seru Naruto.

"Ya, baiklah... Kalau begitu ayo sarapan...", ajak Kushina.

"Yosh, Itadakimasu!", seru Naruto lalu memakan sarapannya. Tak beberapa lama, Tamagoyaki buatan ibunya pun sudah berpindah ke perutnya. Setelah sarapan, Naruto pun bersiap pergi ke sekolah.

"Tou-chan, Kaa-chan, aku pergi duluttebayo!", seru Naruto.

"Ya, hati-hati", seru Minato dan Kushina hampir bersamaan.

Dan begitulah, Naruto pun berangkat ke sekolahnya. Sama seperti kemarin, ia hanya perlu berjalan kaki ke sekolahnya. Bedanya, kali ini ia tidak usah mengeluarkan tenaga ekstra karena ia tidak perlu berlari.

.

.

.

.

"Ohayo...", seru Naruto sambil meletakkan tasnya di atas mejanya.

"Ohayo. Wah, ternyata kau datang cepat, Naruto. Hei Sasuke, ini artinya kau harus mentraktirku katsudon saat istirahat nanti...", seru Kiba dengan muka senang.

"Hahh...baiklah", ujar Sasuke.

"Eh, Apa maksudnya itu?", tanya Naruto bingung.

"Haha, tadi kami bertaruh, kalau kau tidak terlambat, Sasuke akan mentraktirku Katsudon nanti dan sebaliknya, jika kau terlambat aku akan memtraktirnya salad tomat. Tapi pada akhirnya aku yang menang...", ujar Kiba

"Hahh...kalian ini ada-ada saja...", ujar Naruto sambil duduk di kursinya.

Dan pada akhirnya pagi yang tenang di SMA Konoha pun dimulai

.

.

.

.

.

Tak terasa bel pulang pun menggema di seluruh penjuru SMA Konoha, tak terkecuali kelas 1-A. Seluruh murid pun bersiap pulang ke rumah masing-masing.

"Astaga, aku lupa mengembalikan buku Hinata. Dia juga sudah pergi-ttebayo! Bagaimana aku bisa pelupa seperti ini...", ujar Naruto.

"Kau kenapa Naruto? Kau lupa sesuatu? Jangan-jangan kau tidak membawa sepatu sepakbola, ya?", tanya Kiba.

"Tentu saja. Ada di lokerku-ttebayo! Yang tadi itu...sudahlah bukan apa-apa", jawab Naruto.

"Kalian mau kemana?", tanya Sasuke.

"Kau tidak lihat pengumuman di mading kelas? Tentu saja kami ingin ikut seleksi klub sepakbola...", jawab Kiba sambil menggendong tas sekolahnya.

"Ya, seleksinya hari ini-ttebayo! Kau tidak ikut Sasuke?", tanya Naruto.

"Mungkin tidak, aku capek. Lagipula aku tidak bawa sepatu sepakbola", jawab Sasuke.

"Hahh, ayolah kau bisa ikut dengan kami. Kau bisa meminjam sepatuku nanti, kebetulan aku bawa dua, untuk jaga-jaga", ujar Kiba.

"Hahh, nampaknya aku tidak bisa menolak. Baiklah, aku ikut", ujar Sasuke.

"Nah, begitulah yang namanya teman, Ayo!", seru Naruto sambil merangkul kedua temannya.

Ketiga pemuda itupun akhirnya pergi menuju loker mereka untuk mengambil peralatan lalu mennuju lapangan khusus sepakbola SMA Konoha. Letaknya di bagian belakan sekolah, dekat gedung olahraga. SMA Konoha memang mempunyai fasilitas yang memadai untuk mendukung kegiatan klub dan ekstrakurikuler para sisswanya. Tak berapa lama ketiga pemuda ini pun tiba di lapangan yang telah dipenuhi banyak orang.

"Baiklah, tolong semuanya segera berbaris dengan rapi!", seru seorang pemuda berambut coklat panjang dengan lantang.

"Baiklah, semuanya sudah rapi. Biar kami mrmperkenalkan diri terlebih dahulu, Namaku Neji, kapten dari tim srpakbola SMA Konoha...", serunya lantang, dilanjutkan perkenalan semua anggota klub sepakbola lainnya.

"Wah ternyata dia kaptennya-ttebayo!", seru Naruto.

'Ya, Neji-senpai adalah kapten klub sepakbola SMA Konoha. Dia itu sangat berbakat kau tahu...", ujar Kiba.

"Baiklah, kami sudah memperkenalkan diri. Sebelum mengikuti seleksi kali ini, apa ada diantara kalian yang memiliki riwayat penyakit jantung atau pernapasan, atau penyakit lain?" tanya Neji lantang. Tidak ada satupun yang mengangkat tangan atau menjawabnya.

Neji melanjutkan dengan menjelaskan agenda seleksi dan persyaratan yang diperlukan serta bebrapa penjelasan mengenai klub sepakbola SMA Konoha.

"Baiklah, jika kalian sudah mengerti, kalian boleh berganti pakaian atau mempersiapkan peralatan kalian masing-masing. Oh, ya kami juga akan memperkenalkan manager baru kami...", seru Neji.

"Hajimemashite. Aku Hyuuga Hinata. Salam kenal. Jika kalian perlu sesuatu akan ingin menanyakan sesuatu, kalian bisa menemuiku. Yoroshiku Onegaishimasu...", seru Hinata sambil melangkah kedepan.

"Baiklah, dengan ini seleksi dimulai!", seru Hinata.

"Aku tak menyangka ternyata Hinata menjadi manager. Oh, ya kalau begitu aku bisa mengembalikan bukunya nanti...", ujar Naruto dalam hati.

"Hah..ternyata Hinata yang jadi managernya. Tapi, aku tidak heran sih, soalnya dia juga jadi manager di klub SMPku...", ujar Kiba sambil mengrncangkan ikatan sepatunya.

"Ternyata, SMA Konoha menetapkan standar yang tinggi di klub sepakbolanya. Bahkan mereka hanya akan mengambil 11 orang dari kelas 1", ujar Sasuke.

"Tentu saja, tim SMA Konoha, sudah terkenal reputasinya dalam hal sepakbola. Pastinya, mereka tidak akan sembarangan menyeleksi pemain...", ujar Kiba lagi.

"Kau kenapa diam saja, Naruto?", sahut Sasuke.

"Ahh, ti- tidak apa-apa-ttebayo! Baiklah, ayo kita ke lapangan!", seru Naruto mengajak kedua akhirnya mereka bergegas menuju lapangan.

.

.

.

.

"Baiklah, dengan ini seleksi dianggap selesai. Hasilnya akan diumumkan besok melalui selebaran yang akan kami tempel di mading setiap kelas. Kalau begitu kalian boleh pulang...", sahut Neji.

"Kau hebat Neji-senpai. Teknikmu tadi benar-benar membuat pemain belakang kewalahan-ttebayo!", seru Naruto.

"Tentu saja. Ngomong-ngomong, namamu Naruto kan? Kau juga sangat berbakat...", ujar Neji.

"Hahaha, itu bukan apa-apa-ttebayo!", ujar Naruto.

"Wah, nampaknya kau sudah akrab dengan anak ini, Neji...", ujar seorang pemuda sambil mendekati mereka berdua.

"Hei Lee, kau harus memanggilu Senpai disini, walaupun kita sudah kenal lama, tapi tetap saja kau satu tahun lebih muda dariku...", seru Neji.

"Hahhh, baiklah Neji sen-paii", ujar pemuda yang diketahui bernama Rock Lee itu.

"Naruto, apa kau tidak keberatan jika aku meminta tolong sesuatu?", tanya Neji.

"Tentu saj, ttebayo!. Memangnya minta tolong apa?", tanya Naruto.

"Tolong kau bantu kumpulkan bola dan cone latihan, lalu taruh di ruang peralatan", seru Neji.

"Ehhh...Tapi aku.."

"Kau kan sudah bilang tidak keberatan. Lagipula ada Hinata disana yang akan membantumu. Apa kau tidak kasihan jika dia membersekan semuanya sendirian...", seru Neji.

Naruto tersentak mendengar nama Hinata. Nampaknya ini saat yang tepat bagi Naruto mengembalikan buku Hinata.

"Hahh...baiklah. Kalau begitu aku duluan", sahut Naruto.

"Baiklah, mohon bantuannya...", sahut Neji. Naruto pun bergegas menuju ke ruang peralatan, namun sebelum itu ia terlebih dahulu pergi ke tempat kedua temannya yang sedang beristirahat.

"Hei Naruto, Kau tidak pulang?", sahut Kiba sambil memasukkan handuknya kedalam tas.

"Tidak, aku masih harus membereskan peralatan...", ujar naruto.

"Hahh, baiklah. Kalau begitu kami duluan. Sampai jumpa besok", sahut Sasuke sambil berjalan.

Naruto pun bergegas menuju ruang peralatan. Setelah berjalan sedikit, ia pun sampai ke ruang peralatan. Ruang ini agak sedikit gelap dan penuh dengan peralatan olahraga. Naruto mendengar suara dari dalam ruangan itu..

"Uhuk...Uhukkk..."

"Hei kau tidak apa-apa Hinata?", sahut Naruto sambil menghampiri Hinata.

"Naruto?", sahut Hinata terkejut mendengar suara Naruto.

"Hahh...tidak usah memaksakan diri. Sini kubantu", sahut Naruto sambil menaruh keranjang berisi peralatan latihan ke atas lemari.

"Kenapa kau ada disini?", tanya Hinata heran.

"Hahh...tadi Neji-senpai menyuruhku membantumu-ttebayo", sahut Naruto.

"Begitu. Baiklah, sekarang bantu aku mengumpulkan bola dann cone latihan di lapangan...", perintah Hinata.

"Yosh, Ayo...", ajak Naruto.

Dan mereka pun bergegas ke lapangan untuk membereskan perlatan. Tak berapa lama mereka pun sudah kembali sambil membawa keranjang berisi bola dan cone latihan ke ruang peralatan olahraga.

"Hei, jangan memaksakan diri. Biar aku saja, yang meletakkannya. Lemari itu cukup tinggi, tahu...", seru Naruto.

"Huh, kau meremehkanku. Tenang saja, ini bukan apa-", belum sempat Hinata menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba keranjanng berisi bat baseball yang notabene terbuat dari besi, jatuh tepat mengenai Hinata.

"Hinataa... Kan sudah kubilang, aku saja. Kau malah memaksakan diri. Lihat kau jadi terluka, kan...", seru Naruto sambil membantu Hinata.

"Erghhh...I-ini bukan apa-apa, awww...", erang Hinata.

"Bukan apa-apa bagaimana, kakimu terluka Hinata...", seru Naruto khawatir.

"Tenang saja aku ma-masih bisa ber-diri..aarghh...", seru Hinata yang mencoba berdiri tapi, kakinya tidak mengizinkan.

"Kan, sudah kubilang. Sini biar kuperiksa kakimu...", seru Naruto sambil memegang dan memeriksa kaki Hinata.

"Aawww...sakit...", erang Hinata.

"Hahhh, kakimu memar. Sepertinya, kakimu terkilir-ttebayo! Kita harus segera ke UKS untuk mengobati kakimu...", seru Naruto.

"Ta-tapi bagaimana? Kakiku sakit, sepertinya aku tidak bisa berjalan...", seru Hinata dambil meringis.

"Hmmmm...Bagaimana ya? Hahh, sepertinya tidak ada jalan lain...", Naruto segera membantu Hinta berdiri dan mengangkat tubuh Hinata di punggungnya.

"A-apa yang kau lakukan?", tanya Hinata yang terkejut.

"Tentu saja menggendongmu, kau kan tidak bisa berjalan, dan tidak mungkin kan aku membawa UKS nya ke sini...", ujar Naruto.

"Ta-tapi..."

" Sudah, jangan banya bicara. Pegangan yang erat-ttebayo!", seru Naruto sambil mengencangkan gendongannya. Ia pun berjalan membawa hinata menuju UKS.

"Arrggh..Kakiku sakit", seru Hinata sambil menahan sakit di kakinya.

"Bertahanlah, Hinata. Sedikit lagi kita sampai...", seru Naruto.

"Na-Naruto aku..."

"Haha, sudah tenang saja. Aku akan membawamu dengan aman...", seru Naruto.

Tak lama, mereka pun sampai di UKS. Naruto segera membawa Hinata masuk. Beruntung, masih ada seorang guru yang berjaga di sana

"Baiklah, sudah selesai. Apa kakimu sudah agak baikan, Hinata?"

"Ya, sakitnya sudah berkurang", jawab Hinata.

"Kakimu terkilir Hinata, waktu penyembuhannya kira-kira 5 - 7 hari. Selama itu, kau jangan banyak bergerak. Lain kali, kalian harus hati-hati ya..."

"Ya, terima kasih Shizune-sensei...", seru Naruto.

"Sama-sama..Baiklah, kalau begitu Sensei keluar dulu. Naruto, jaga Hinata...", ujar wanita bernama Shizune itu.

"Baik Shizune-sensei...", jawab Naruto sambil melihat Shizune yang keluar dari Unit Kesehatan SMA Konoha.

"Kau sudah agak baikan, Hinata?", tanya Naruto, sambil duduk disamping Hinata.

"Ya, sakitnya sudah berkurang...", jawab Hinata.

"Hahh...Syukurlah...", ujar Naruto lega.

"Um...Naruto..."

"Hmm, ya?

"Aku...minta maaf gara-gara aku, kau jadi repot seperti ini...", ujar Hinata.

"Hahhh, tenang saja, lagipula ini juga salahku tidak membantumu tadi...", jawab Naruto sambil tersenyum

"Tapi...Aku tadi yang bersikeras tidak mau dibantu..."

"Sudahlah, yang terjadi, biarlah terjadi. Aku juga tidak bisa memaafkan diriku sendiri kalau terjadi apa-apa padamu. Ingat, kita kan teman sekelas...", ujar Naruto.

"Aku, aku juga minta maaf soal kejadian kemarin. Aku sudah memarahimu, bahkan aku juga sudah menamparmu. Padahal, kau sudah menolongku...", ujar Hinata.

"Aku juga minta maaf, karena sudah membuatmu marah kemarin...", ujar naruto.

"Kau, tidak marah padaku?", tanya Hinata.

"Tentu saja tidak-ttebayo! Tapi, aku memang agak kesal sih, hehehe. Oh, ya aku lupa. Ini...", seru Naruto sambil mengambil sesuatu dalam tasnya dan memberikannya pada Hinata.

"Buku ini..."

"Ya, ini bukumu. Kemarin kau menjatuhkannya, jadi kubawa pulang saja. Aku sebenarnya ingin mengembalikannya tadi, tapi aku benar-benar lupa. Saat pulang, baru aku ingat, tapi kau sudah pergi. Tapi, ternyata kita bertemu lagi di sini", ujar Naruto.

"Terima Kasih...", ujar Hinata.

"Ya, itu bukan apa-apa. Ngomong-ngoming, darimana kau dapat buku itu?", tanya Naruto.

"Ini, pemberian kakakku...", jawab Hinata.

"Begitu. Tapi, judulnya benar-benar bagus. Aku juga sudah membacanya beberapa halaman, tapi belum sempat aku menyelesaikannya, aku malah tertidur, hahahaha...", ujar Naruto.

"Pfftt, kau benar-benar lucu Naruto. Jadi, apa kau mau membacanya lagi?", tanya hinata.

"Tentu saja. Memangnya, kau sudah selesai membacanya. Kemarin kan, kulihat kau masih membacanya...", ujar Naruto.

"Ya, sebenarnya aku sudah menyelesaikannya, tapi aku membacanya lagi kemarin untuk mengisi waktu luang...", ujar Hinata.

"Tapi, tidak sambil berjalan juga. Apalagi sambil memakai earphone, itu sangat berbahaya-ttebayo!", ujar Naruto.

"Go-gomen, gomen. Itu memang salahku. Kalau begitu, kau bisa meminjam bukuku kalau kau mau...", ujar Hinata sambil menyodorkan bukunya kepada Naruto.

"Benarkah? Tentu saja-ttebayo! Arigatou, Hinata...", seru Naruto sambil mengambil buku di tangan Hinata.

"Kalau kau sudah selesai membacanya, ceritakan isi dan pendapatmu tentang buku itu padaku...", ujar Hinata.

"Tentu saja-ttebayo! Aku bisa membacanya dalam waktu singkat. Tapi, itupun kalau aku tidak tertidur lagi, hehehe...", seru Naruto sambil tertawa.

"Pffttt..Kau benar-benar lucu, Naruto", seru Hinata sambil menahan tawanya.

"Ngomong-ngomong, kulihat kau mengikat rambutmu..." ujar naruto.

"Ehh, ya. Aku mengikatnya agar aku mudah bergerak dan agar rambutku tidak berantakan. Kenapa memangnya", tanya Hinata.

"Tidak apa-apa. Tapi, kau jadi semakin cantik dengan rambutmu yang seperti itu", ujar naruto yang sukses membuat pipi Hinata memerah.

"Hrrgghh, Naruto no baka", seru Hinata sambil memukul bahu Naruto.

"Ittai, kenapa kau memukulku? Aku serius, kau benar-benar cantik dengan rambutmu yang diikat ke belakang, Hinata", seru Naruto sambil memegang bahunya.

"Be-benarkah?", tanya hinata yang pipinya makin merah.

"Tentu saja-ttebayo!", seru Naruto sambil membentuk jarinya menjadi tanda peace dan tersenyum lebar.

"A-Arigatou...", ujar Hinata sambil menunduk malu.

Mereka pun kembali mengobrol, tak lama Shizune-sensei masuk kembali ke ruangan UKS.

"Baiklah, Naruto, sepertinya sudah sore, kau bisa pulang sekarang. Lagipula, sebentar lagi Hinata juga akan dijemput, benar kan hinata?", ujar Shizune.

"Um, y-ya...", ujar hinata.

"Hahh, baiklah kalau begitu. Aku pulang dulu, ya Hinata. Aku harus segera pulang sebelum ibuku marah. Mata Ashita, ne...", seru Naruto sambil menepuk ujung kepalah Hinata yang sukses membuat Hinata terkejut sekaligus blushing.

"Ma-Mata Ashita...", ujar Hinata.

Naruto pun segera keluar setelah pamit pada Hinata dan shizune-sensei. Tak lupa ia memasukkan buku hinata ke dalam tasnya dan bergegas menuju loker tempat ia menyimpan sepatu luarnya, namun sebelum itu, ia melangkahkan kakinya terlebih dahulu ke toilet untuk menunaikan hajatnya. Setelah beberapa lama, ia pun bergegas mengganti sepatunya.

"Hahhh, ternyata Hinata tidak begitu menakutkan seperti yang aku kira. Dia baik dan manis. Terutama saat rambutnya diikat, wajahnya semakin cantik-ttebayo!", gumam naruto sambil tersenyum.

"Tunggu dulu, kenapa aku malah senyum-senyum sendiri sambil memikirkannya. Apa janga-jangan aku...Ahhh, tidak, aku tidak mungkin-hahh...ya sudahlah...", gumam Naruto sambil mengencangkan ikatan sepatunya. Ia pun memasukkan sepatu sekolahnya ke dalam loker dan menguncinya.

"Yosh, aku harus segera pulang. Kalu tidak, bisa-bisa kaa-chan akan memarahiku habis-habisan-ttebayo!", gumam Naruto.

Ia pun segera keluar dari gedung sekolah menuju gerbang sekilah. Namun , tidak beberapa jauh ia melangkah, Naruto melihat Hinata yang sedang duduk di bangku panjang di dekat gerbang sekolah. Naruto ingin berteriak memanggil Hinata, tetapi teriakan tercekat saat sesosok pemuda mengendarai motor sport biru menghampiri Hinata. Naruto segera bersembunyi di balik pohon besar tak jauh dari situ untuk melihat apa yang terjadi.

Pemuda itu membuka helmnya dan nampaklah surai coklat kehitaman yang diikat pendek yang menutupi kepalanya. Dari penampilannya, Naruto terkejut melihat sosok pemuda itu. Pemuda itu tak lain dan tidak bukan adalaha Neji, kapten klub sepak bola, yang beberapa saat lalu bertanding melawannya.

Neji turun dari motornya dan memasang standar motornya. Ia bercakap sedikit dengan Hinata. Samar-samar naruto masih bisa mendengar percakapan mereka.

"Maaf menunggu lama, Hinata..."

"Um..Tidak apa-apa"

Kau bisa naik? Sini kubantu"

Neji membantu Hinata naik ke atas motornya. Setelah itu, sendiri segera naik dan menghidupkan mesin motornya. Mereka pun akhirnya berlalu meninggalkan sekolah dan Naruto yang sedari tadi memperhatikan mereka. Ia pun akhirnya keluar dari tempat persembunyiannya.

"Kenapa Neji-senpai membonceng Hinata pulang? Dan dari percakapan mereka, sepertinya mereka sudah sangat akrab. Apa jangan-jangan mereka pacaran..."gumam naruto dengan nada kecewa.

"Arghhh, kenapa aku harus memikirkan itu? Memangnya kenapa kalau mereka pacaran? Aku kan tidak punya hubungan apa-apa dengan Hinata..., ee..kecuali pertemanan. Argghh...sudahlah, lebih baik aku segera pulang-ttebayo!", gumam Naruto. Ia pun bergegas meninggalkan SMA Konoha menuju rumahnya.

.

.

.

.

"Tadaima!", seru Naruto sambil masuk ke dalam rumah. Namun, ia tidak melihat siapa-siapa dan tidak ada seseorangpun yang menjawabnya.

"Kaa-chan? Tou-chan?", panggil Naruto. Tapi yang dipanggil tidak menjawab panggilan Naruto. Tiba-tiba Naruto mendengar suara yang agak keras dari gudang di samping rumahnya. Penasaran, ia pun segera mendatangi gudang tersebut.

Sesampainya di gudang, Naruto mendapati Ibunya sedang menaruh kardus besar berisi barang-barang di lantai. Naruto pun bergegas masuk.

"Kaa-chan? Kaa-chan sedang apa di sini?", tanya Naruto heran.

"Oh, Naruto, kau sudah pulang. Kaa-chan sedang membersihkan gudang. Jangan berdiri di situ saja celat bantu Kaa-chan, Naruto...", seru Kushina.

"Hahh...Baiklah", seru Naruto.

Naruto pun segera bergegas membantu mengangkat dan menyusun barang-barang di dalam gudang. Setelah kira-kira setengah jam, akhirnya mereka pun menyelesaikan pekerjaan mereka. Naruto melihat sebuah kotak besar di dekatnya. Penasaran, ia mulai memeriksa kotak tersebut.

Kotak tersebut kebanyakan berisi mainan masa kecilnya. Ia tersenyum sedikit melihat mainan lamanya itu. Tiba-tiba, Naruto melihat sebuah kotak kecil di dalamnya. Kotak itu sudah sangat berdebu.

"Kotak apa ini?", gumam Naruto sambil mengambil kotak kecil itu. Ia membersihkan debu yang menempel pada kotak itu. Dan nampaklah kalau kotak tersebut berwarna biru muda dengan pinggiran hitam.

"Hmmm, sepertinya aku tidak pernah melihat kotak ini sebelumnya...", gumam Naruto. Ia pun membuka kotak tersebut. Namun, Naruto terkejut melihat isinya.

"Ini...Kalung?!"

.

.

.

.

.

~To be Continued~