Disc:

Naruto © Masashi Kishimoto

High School DxD © Ichiei Ishibumi

.

.

.

Senin, 12 Desember 2016

.

.

.

PELINDUNG DUNIA BARU

By Hikasya

.

.

.

Chapter 3. Menemui dua gadis iblis

.

.

.

Di rumah sakit Konoha saat ini, orang-orang menyemut untuk berusaha masuk ke salah satu bangsal yang ditempati dua gadis asing. Dua gadis asing itu ditemukan di hutan. Entah siapa mereka. Namun, yang jelas mereka mengenakan pakaian yang aneh dan sangat berbeda dengan pakaian yang dikenakan orang-orang di desa.

Untuk itu, Tsunade selaku Hokage kelima yang bertugas untuk menyelidiki siapa sebenarnya dua gadis misterius itu. Dia sudah hadir bersama Shizune. Bersama-sama merawat dua gadis itu sampai sadar dari pingsannya. Hingga tidak membutuhkan waktu yang lama, dua gadis itu sadar juga.

"Hmmm... Di mana aku?"

Seorang gadis berambut hitam panjang diikat twintail yang pertama kali sadar. Disusul oleh gadis berambut hitam panjang diikat ponytail. Mereka membuka kedua mata mereka secara perlahan-lahan. Dikedip-kedipnya beberapa kali lalu mendapati dua sosok yang memperhatikan mereka.

"Eh?" gadis berambut hitam panjang diikat ponytail yang bernama Akeno, tercengang."Siapa kalian?"

Dia bertanya pada Tsunade dan Shizune, yang berdiri di antara dua tempat tidur yang ditempati dua gadis itu. Tsunade yang menjawab pertanyaan Akeno.

"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu pada kalian. Kalian siapa?"

Akeno kebingungan dan mengedarkan pandangannya ke segala arah. Pandangannya pun tertancap pada Serafall yang juga melihat ke arahnya. Mereka sama-sama terkejut.

"Akeno!"

"Serafall!"

Tsunade memperhatikan keduanya secara bergantian.

"Oh, kalian saling kenal rupanya."

Kembali Akeno menatap ke arah Tsunade dan menyahut.

"Ya, kami berdua adalah teman."

"Oh, asal kalian darimana?"

"Hmmm... Asal kami dari kota Kuoh."

"Kota Kuoh? Aku tidak pernah mendengar ada nama tempat seperti itu. Di mana itu?"

"Sulit untuk dijelaskan. Karena sesuatu hal membuat kami terdampar di tempat asing yang tidak kami ketahui. Memangnya kami berada di mana sekarang?"

"Desa Konoha."

"Desa Konoha?"

"Benar. Lalu siapa kalian sebenarnya?"

Sang Hokage kelima memasang wajah yang penuh curiga pada dua gadis itu. Dua gadis itu segera memperkenalkan diri mereka.

"Maaf...," Serafall tersenyum dan ikut andil dalam percakapan ini."Kami akan memperkenalkan diri kami dulu. Namaku Sitri Serafall. Di sampingku ini..."

"Himejima Akeno," sambung Akeno yang juga tersenyum.

"Aku adalah Hokage kelima yang memimpin desa Konoha ini. Namaku Senju Tsunade."

"Hokage? Apa itu?" tanya Serafall dan Akeno bersamaan.

"Hokage adalah istilah bagi pemimpin ninja yang paling hebat di desa ini."

"Ninja?"

"Ya, sebagian besar penduduk desa ini adalah ninja. Kalian tahu tentang ninja, kan?"

"Iya, kami tahu itu."

Dua gadis itu mengangguk kompak. Tsunade berkacak pinggang.

"Baiklah, karena kalian sudah sadar sekarang, aku akan mengizinkan kalian beristirahat dulu di sini sampai kalian benar-benar pulih. Shizune..."

Tersentak, Shizune sedikit mendekat ke arah Tsunade.

"Ya, Tsunade-nee."

"Bawa makanan dan minuman buat mereka sekarang."

"Baiklah."

Shizune mengangguk dan segera pergi keluar dari bangsal. Tsunade menatap kepergiannya sampai hilang dari pandangannya.

Kemudian Tsunade fokus lagi untuk menginterogasi dua gadis itu.

"Aku ingin bertanya, kenapa kalian bisa pingsan di hutan itu. Apa yang terjadi pada kalian sebelumnya?"

Dua gadis iblis itu saling pandang lagi sembari masih terbaring di tempat tidur. Mereka saling mengisyaratkan apa yang harus mereka katakan pada Tsunade. Kelihatan bingung harus menjelaskannya mulai darimana, hingga Akeno yang menjawabnya.

"Ceritanya sangat panjang, Hokage-sama. Aku tidak tahu apa anda percaya atau tidak setelah aku menceritakannya. Tapi, karena anda kelihatan curiga pada kami, apa boleh buat. Aku akan menceritakan semua yang terjadi pada anda sekarang..."

Segera diceritakannya pada Tsunade tentang awal dia dan Serafall bisa sampai di dunia baru ini. Hingga ujung-ujungnya dia memberitahukan siapa sebenarnya dirinya. Tsunade terkejut saat mendengarnya.

.

.

.

Di rumah Naruko, ada Sasuke yang bertamu untuk sekedar mendengarkan cerita Naruko tentang bagaimana Naruto bisa sampai di dunia ninja ini. Mereka bertiga duduk dalam satu meja yang sama, sambil ditemani tiga cangkir teh hangat yang dibuat Naruko, sejak satu setengah jam yang lalu.

Wajah datar sang Uchiha tidak pernah berubah sampai Naruko menyelesaikan ceritanya. Dia menopang dagunya dengan tangan yang bertumpu di atas meja. Memandang lurus Naruko yang duduk berhadapan dengannya. Mulutnya selalu terkunci rapat selama Naruko yang terus berbicara.

"Begitulah ceritanya, Teme...," Naruko melipat tangan di atas meja."Sekarang kau mengerti, kan?"

Mendengus pelan, Sasuke tersenyum simpul.

"Ya, aku mengerti."

"Tolong jaga rahasia ini baik-baik. Jangan beritahu siapapun tentang keberadaan Naruto-nii di sini. Bisa tidak?"

"Bisa. Tidak akan kuberitahukan."

"Bagus. Terima kasih, Teme."

Naruko tertawa lebar dengan wajah berseri-seri. Sasuke menancapkan pandangannya yang datar pada Naruto.

"Terus apa kau akan tetap tinggal di sini, Naruto?"

Ditanya begitu, Naruto menjawab dengan nada bosan.

"Ya. Begitulah."

"Aku tidak mengizinkanmu tinggal di sini."

"Memangnya kenapa?"

Pandangan Naruto menjadi tajam dan berkilat. Sasuke juga begitu.

"Aku khawatir kau akan berbuat macam-macam pada Naruko selagi aku tidak ada di sini."

"Apa urusanmu, hah? Tidak mungkin aku berpikiran begitu pada Naruko."

"Bisa saja, kan? Kau itu iblis. Siapapun tidak akan tahu apa yang kau pikirkan. Bisa saja kau akan berbuat macam-macam saat Naruko tertidur. Naruko mempunyai da..."

Belum sempat Sasuke meneruskan perkataannya, Naruko melemparkan shuriken padanya. Untung saja, Sasuke bisa menangkapnya dengan satu tangannya. Aksi spontan Sasuke terbilang sangat keren.

Meledaklah bom atom di rumah itu. Naruko berteriak keras sangat menggelegar.

"DASAR, TEME BAKA! JANGAN PRASANGKA BURUK BEGITU PADA KAKAKKU! JUSTRU KAU SENDIRI YANG BERPIKIRAN BURUK, KAN!? PASTI KAU INGIN MENGATAKAN SESUATU YANG KAU BAYANGKAN TENTANGKU! HUH... KAU BENAR-BENAR MESUM, TAHU!"

"Maaf."

"AKU TIDAK AKAN MEMAAFKANMU!"

Naruko bertolak dari kursi dan berjalan cepat ke arah Sasuke. Lalu kerah baju Sasuke dicengkeramnya dengan kasar, melototi wajah Sasuke.

"Dengar ya. Apapun yang terjadi, Naruto-nii tetap tinggal di sini. Kau tidak punya hak untuk melarangnya. Rumah inikan rumahku. Akulah yang berhak memutuskan dia tinggal di sini atau tidak. Kau... Tidak perlu ikut campur dalam masalah ini. Mengerti, tidak?"

Dengan wajah datar, Sasuke memegang tangan Naruko yang mencengkeram kerah bajunya. Naruko tersentak.

"Aku tetap saja khawatir padamu. Kamu itu gadis, sedangkan dia itu laki-laki. Tidak baik jika kalian tinggal serumah. Lebih baik Naruto tinggal saja di tempatku. Bagaimana?"

Wajah Naruko sedikit memerah. Dia pun menepis tangan Sasuke dan melepaskan cengkeramannya dari leher baju Sasuke. Mundur dan sedikit menjauh.

"Tapi, tanyakan saja dulu pada Naruto-nii."

Mereka berdua menatap ke arah Naruto. Naruto hanya bertampang bosan.

"Terserah kalian saja. Aku hanya menuruti apa yang menurut kalian baik. Tapi, jika Sasuke khawatir begitu, apa boleh buat, aku akan memilih tinggal di tempat Sasuke saja."

"Apa!?"

Naruko ternganga. Sasuke tersenyum penuh kemenangan.

"Keputusan yang bagus. Itu... Aku baru setuju."

"Tapi, aku belum yakin kalau Teme ini bakal menepati janjinya. Aku takut Naruto-nii tidak akan nyaman tinggal di tempat Teme. Kalau Naruto-nii tinggal di sana, siapa yang akan memasakkan makanan buat Naruto-nii? Teme,'kan tidak bisa memasak. Dia pasti menyuruh Naruto-nii bekerja di rumahnya. Sebaiknya Naruto-nii tinggal di tempatku saja ya."

"Hei, Dobe. Kenapa kau bilang seperti itu, hah?"

"Itu memang benar, kan?"

Kelihatan kesal, Naruko berwajah sewot. Sasuke juga ikut berwajah sewot. Mereka berdua saling menatap dengan aura kebencian yang sangat dalam.

Melihat itu, Naruto menghelakan napasnya. Dia meneguk cairan teh sampai tandas dari cangkirnya lalu diletakkan cangkir itu di atas meja lagi.

"Hentikan! Jangan bertengkar lagi! Mungkin lebih baiknya aku harus tinggal di rumah Sasuke. Naruko, kamu jangan protes lagi ya."

"Tapi, Naruto-nii..."

"Tidak apa-apa. Lagipula aku rasa aku bisa mengenal Sasuke lebih jauh lagi. Mungkin kita bisa menjadi teman nantinya. Benarkan, Sasuke?"

Sasuke mengangguk dengan senyuman simpul.

"Hn. Aku harap kita bisa berteman sekarang."

"Ya, mulai hari ini, kita berteman."

Senyuman terukir di wajah Naruto. Hatinya merasa senang karena mempunyai teman baru di sini.

Naruko memasang wajah kusutnya dan menghembuskan napasnya secara perlahan-lahan.

"Kalau itu sudah menjadi keputusan Naruto-nii, aku pasrah saja. Tapi, aku janji akan mengantarkan makanan setiap hari untukmu."

"Terima kasih, Naruko."

"Lalu kau juga akan mengantarkan makanan untukku juga, Dobe?"

"Tidak akan pernah. Kau buat saja makananmu sendiri."

"Apa? Kau tidak adil."

"Biarkan saja."

Naruko berbalik dan berjalan cepat untuk meninggalkan Sasuke yang tercengang. Naruto tersenyum geli melihat interaksi mereka.

Tiba-tiba...

TOK! TOK! TOK!

Pintu rumah Naruko diketuk keras oleh seseorang. Naruko segera berjalan menuju ke ruang depan.

"Siapa ya?"

"Naruko! Apa kamu ada di dalam?"

"Eh? Itu... Itu suara Sakura!?"

DRAP! DRAP! DRAP!

Kelabakan, Naruko berlari cepat untuk kembali ke ruang keluarga. Sasuke dan Naruto terheran-heran melihatnya.

"Ada apa?" tanya Sasuke.

"Sebaiknya kalian berdua sembunyi dulu. Ada Sakura di luar."

"Terus kenapa Sasuke juga harus sembunyi? Seharusnya aku, kan?" Naruto ikut bertanya juga.

"Jangan banyak bertanya! Pokoknya kalian berdua sembunyi dulu! CEPAT!"

"Baiklah..."

Dua laki-laki itu mengangguk dan segera bertolak dari kursi. Naruko segera berlari cepat untuk membukakan pintu di mana Sakura tetap setia menunggunya.

KLAK!

Pintu terbuka separuh saja. Naruko melongokkan kepalanya dari balik pintu.

"Ah, Sakura rupanya."

Sakura memasang wajah sewotnya dan berkacak pinggang.

"Kenapa kamu lama sekali membuka pintunya?"

"Maaf, aku tadi di toilet. Makanya lama."

"Oh begitu...," wajah Sakura berubah menjadi seperti biasa."Oh iya, aku mau memberitahukanmu sesuatu hal."

"Apa itu?"

"Apa kamu sudah dengar kalau ada dua gadis asing yang ditemukan ANBU di hutan?"

"Tidak."

"Dua gadis asing itu sudah dibawa ke rumah sakit. Mereka sudah sadar dan sekarang diinterogasi oleh Tsunade-sama. Entah siapa mereka. Aku khawatir mereka adalah mata-mata dari desa lain."

"Oh... Terus?"

"Ya, terus... Apa kamu mau ikut denganku untuk menengok mereka ke rumah sakit?"

"Mau saja sih... Tapi..."

"Tapi... Apa?"

"Tidak."

Ragu-ragu. Itulah yang tercermin di wajah Naruko. Dia pun tersenyum agar Sakura tidak curiga padanya.

"Bagaimana? Jadi tidak?"

"Jadi."

"Ayo, kita pergi sekarang!"

"Eh? Sekarang?"

"Iya. Sekarang."

"Ya, baik."

Gadis berambut pirang itu keluar dan menutup pintu dengan pelan. Dia kelihatan ragu-ragu untuk mempertimbangkan pergi atau tidak. Sakura memperhatikannya sebentar.

"Ada apa? Kenapa kamu aneh begitu?"

Menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, Naruko tertawa cengengesan.

"Hehehe... Tidak ada apa-apa."

"Ya sudah, ayo kita jalan!"

"Ya."

Sakura yang berjalan duluan. Naruko mengikutinya dari belakang dan membiarkan pintu rumahnya tidak dikunci supaya dua laki-laki itu bisa keluar selama dia pergi. Tanpa merasa curiga lagi, Sakura berjalan dengan tenang dan mengajak Naruko berbicara tentang apa saja selama dalam perjalanan ke rumah sakit.

Beberapa menit kemudian, Sasuke dan Naruto keluar dari pintu rumah yang terbuka. Mereka melongokkan kepala mereka di balik pintu dan memastikan keadaan aman-aman saja di luar. Tanpa ada seorangpun yang terlihat lagi.

"Sepertinya Sakura sudah pergi bersama Naruko. Kira-kira mereka kemana ya?"

Sasuke berdiri di samping Naruto sambil memegang gagang pintu.

"Aku mendengar kalau mereka akan pergi ke rumah sakit."

"Ke rumah sakit?" Sasuke tersentak."Oh iya, mereka pasti mau menengok dua gadis asing yang ditemukan pingsan di hutan."

"Dua gadis asing?"

"Iya. Kata Sakura, dua gadis itu berpakaian aneh. Entah mereka mata-mata dari desa lain atau bukan. Hm... Aku jadi penasaran juga mau melihatnya langsung ke rumah sakit sana."

"..."

Naruto terdiam. Ekspresinya menjadi sangat datar. Lalu dia spontan menarik kerah baju Sasuke.

GYUT!

"Ayo, kita pergi ke sana! Tunjukkan jalannya padaku!"

"Hei, tunggu dulu! Jangan seenaknya pergi! Ingat apa yang Naruko bilang padamu!"

"Aku tidak peduli. Yang penting kita pergi ke rumah sakit itu."

"Tapi, kenapa?"

"Kau diam saja dan tunjukkan jalannya padaku."

"Huh... Baik. Aku akan menunjukkannya. Tapi, kita harus pergi secara sembunyi-sembunyi."

"Aku mengerti."

Dua laki-laki itu mengangguk kompak. Sasuke menutup pintu rumah Naruko dan bergegas melangkah duluan. Naruto mengikutinya dari belakang.

Mereka akan melewati jalan pintas tanpa diketahui siapapun.

.

.

.

"Jadi, siapa sebenarnya mereka berdua, Tsunade-sama?"

Sakura bertanya pada Tsunade saat sudah tiba di rumah sakit. Dia berdiri bersama Naruko di dekat pintu bangsal yang tertutup, di mana Serafall dan Akeno yang sedang beristirahat. Dua gadis iblis itu tidak boleh diganggu dulu oleh siapapun.

"Mungkin kamu tidak akan percaya dengan apa yang kukatakan, Sakura. Aku saja hampir tidak mempercayai semua kebenaran yang diceritakan dua gadis itu. Ini benar-benar tidak masuk akal."

"Memangnya apa yang dikatakan dua gadis itu?"

Tsunade yang berhadapan dengan Naruko dan Sakura, bersikap sangat serius. Tidak ada Shizune yang menemaninya. Hanya ada dia dan dua gadis ninja itu di lorong rumah sakit ini.

"Dua gadis itu bernama Sitri Serafall dan Himejima Akeno. Mereka bukan manusia biasa dan asal mereka bukan dari dunia ini."

"..."

"..."

Naruko dan Sakura tampak terkejut. Mereka saling pandang sebentar. Naruko yang bertanya lagi.

"Apa maksudnya mereka bukan manusia biasa dan asal mereka bukan dari dunia ini?"

Kedua mata Tsunade menyipit tajam.

"Mereka adalah iblis. Asal mereka dari dunia yang berbeda dari kita. Mungkin bisa dikatakan mereka berasal dari dimensi yang berbeda dari kita."

"...!"

Kali ini, kedua mata Naruko membulat sempurna. Dia benar-benar kaget setengah mati. Hal ini mengingatkannya pada Naruto.

'Dua gadis itu adalah iblis. Asal mereka dari dimensi yang berbeda. Apa itu berarti mereka ada hubungannya dengan Naruto-nii? Aku harus menanyakannya pada Naruto-nii. Mana tahu dia mengenal dua gadis itu,' batin Naruko yang merasa gelisah di dalam hatinya.

"Lalu mereka masih ada di dalam, kan?"

Sakura yang bertanya lagi. Disambut dengan anggukan Tsunade.

"Ya, mereka ada di dalam. Tapi, sekarang mereka sedang beristirahat dan tidak boleh diganggu dulu. Kalau kalian berdua ingin bertemu dengan mereka, kusarankan kalian bertemu mereka besok."

"Ah, begitu ya? Kami mengerti."

"Hm... Apa ada yang ingin kalian tanyakan lagi?"

"Sepertinya tidak ada."

"Baiklah, aku pergi dulu. Ada urusan penting yang harus kuurus sekarang. Sampai jumpa lagi!"

Sang Hokage cantik melangkahkan kakinya untuk meninggalkan Naruko dan Sakura. Langkah sepatu hak tinggi sang Hokage terdengar halus dan menggema di lorong itu. Kepergiannya disaksikan dengan kebisuan di antara Naruko dan Sakura. Hingga terciptalah kesunyian yang berlangsung beberapa menit di sana.

Kesunyian terpecahkan oleh suara helaan napas Sakura.

"Aaaaaah... Sayang sekali ya kita tidak bisa berjumpa dengan dua gadis itu."

"Benar...," Naruko tertawa lebar."Aku sampai kaget saat tahu kalau dua gadis itu adalah iblis. Aneh sekali, mana ada sih bangsa iblis di dunia ini? Pasti mereka berbohong untuk mempermainkan kita."

"Iya sih. Aku masih tidak percaya kalau mereka iblis. Atau jangan-jangan ini adalah perangkap musuh, misalnya Akatsuki."

"Tidak mungkin. Tsunade-sama tidak menyebutkan mereka berpakaian jubah hitam dengan lambang awan merah, kan? Tidak mungkin kalau mereka adalah anggota Akatsuki."

"Benar juga. Tapi,'kan aku hanya menduganya saja. Hehehe..."

Sakura tertawa kecil. Begitu juga dengan Naruko.

"Setelah ini, kita kemana lagi, Sakura?"

"Pulang saja yuk. Lagian kita tidak ada kerjaan lagi. Ah, aku lupa kalau ibu menyuruhku menyetrika pakaian sekarang."

"Kalau begitu, kita pulang saja."

"Ya, secepat mungkin. Aku takut ibu memarahiku karena aku tidak mematuhi perintahnya."

"Hahaha... Salahmu sendiri. Tanggung sendiri akibatnya."

"Naruko! Jangan ledek aku seperti itu!"

"Maaf."

"Huh, kamu ini."

Keduanya berjalan beriringan seraya berbicara dengan akrab. Sesekali mereka tertawa bersama. Meninggalkan lorong rumah sakit yang mulai sepi. Tanpa ada seorangpun yang lewat lagi.

.

.

.

BERSAMBUNG

.

.

.

BALASAN REVIEW:

Rikudou Pein 007: iya, lanjut nih.

adam muhammad 980: ok, lanjut.

kurama zula: yup, lanjut.

katanya201: oke, lanjut.

naksekolah: terima kasih atas review-nya. Iya, ini dilanjut.

asd: oke, lanjut.

ggg: oke, terima kasih atas review-mu ya.

nina: maaf, baru balas. Iya, maaf juga jika upnya lama.

saputraluc000: terima kasih ya. Maaf, baru bisa balas.

Kim Ami282: oke, lanjut.

DeniTria: maaf, baru bisa balas. Maaf juga lama upnya.

Levia-san: maaf, baru bisa balas. Akeno dan Serafall ada di rumah sakit. Mereka udah diceritain pas chapter 3 ini.

DAMARWULAN: maaf, baru bisa balas. Maaf ya kalau upnya terlalu lama karena kendala nggak ada ide.

Neko Twins Kagamine: terima kasih ya atas reviewnya.

Rini: maaf, baru balas sekarang. Iya, saya terusin nih ceritanya.

Guest: oke, udah lanjut bray.

Seijuuro Koshiro: terima kasih, maaf, baru balas sekarang.

DeniTria: oh, Naruto belum pacaran sama Serafall dan Akeno. Maaf, baru balas.

mrheza26: oke lanjut. Terima kasih atas reviewmu ya. Maaf, baru balas.

adam muhammad 980: oke, lanjut. Maaf, baru balas.

narurinne: oke, lanjut. Maaf, baru balas.

Yudha Bagus Satan Lucifer: terima kasih. Maaf, baru balas.

kurama zula: oke, lanjut. Maaf, baru balas.

yellow flash115: oke, lanjut. Maaf, baru balas.

The World Arcana: alurnya sesudah Naruto udah pergi latihan sama Jiraiya. Nanti agak beda alurnya dari canon aslinya.

nina: benar juga. Nggak jadi kok Naruto dijadikan banci. Kesannya aneh ya. Maaf.

Gyuki-koi: Nanti Naruto ketemu Akeno dan Serafall di chapter 4.

Guest2: benar juga. Terima kasih udah ngingatin.

Rushifa lucifer: terima kasih. Maaf, baru balas.

DevaOotsutsuki: terima kasih. Ini udah lanjut Deva. Maaf, baru balas.

.

.

.

A/N:

Maaf, lama update. Saya lanjutkan nih ceritanya. Untung ada teman yang memberi bantuan ide buat kelanjutan fic ini. Saya berterima kasih sekali sama dia.

Cukup sampai di sini saja ceritanya. Terima kasih dan silakan review jika mau.

Rabu, 14 Desember 2016