Six Reason for Love you
.
Shingeki no Kyojin © Isayama Hajime
Six Reason for Love You © Shigeyuki Zero
.
Holaaa author kembalii
Terimakasih banyak yang udah menunggu fict ini setiap minggu
Terimakasih juga semua review yang tersuguh untuk author
Author sangat semangat setelah membaca review kalian guys :')))
Sekali lagi banyak banyak terimakasih untuk kalian semuaa #bungkuuk
Chapter kali ini akan flasback dulu sebentar yaa
Lagu yang bakal nyempil hari ini : Here I Am – Yesung
Dan sedikit lirik Wolf by CHiCO
Warning: typo, OOC
But RnR please
Enjoy
.
.
...
Chapter 3
Flashback on
16 Februari 2016
Levi mematung. Ucapan Mikasa yang begitu singkat membuatnya seolah melupakan cara berpikir jernih. Sampai mulutnya pun tak mampu untuk mengatakan apapun dalam posisinya. Langit senja masih menyelimuti langit di sore itu. Ini adalah hari pertama mereka kembali bertemu setelah 2 minggu lamanya terpisahkan oleh jarak. Mikasa yang baru pulang dari Yokohama itu langsung meminta Levi menemuinya di tempat ini, untuk mengatakan hal yang sama sekali tak terbayangkan.
"Tunggu.. aku kurang bisa mendengarmu." Levi menghibur diri agar apa yang ia dengar tadi merupakan kesalahannya dalam menafsirkan kata-kata.
"Kita berpisah saja."
Namun ternyata kalimat itu masih sama. Levi tak salah mendengarnya. Tubuhnya seakan linglung. Kenyataan pahit apa ini. Padahal kini di dalam saku jasnya ada sebuah kotak yang sudah Levi siapkan beberapa hari lalu. Rencananya untuk melamar wanita ini sekarang sudah sirna begitu saja.
"Kenapa?"
"Ku rasa ini yang terbaik."
Tanpa mengatakan apapun lagi Mikasa berbalik setelah sebelumnya memberikan kalung yang dulu pernah Levi berikan padanya. Ia mulai berjalan menjauh, tidak lagi menengok ke belakang. Tidak lagi memandang Levi yang masih berdiri tegap memandang setiap langkahnya.
Alis Levi berkerut. Nampak emosi bermain di wajahnya. Tangannya yang menggenggam kalung itu ia longgarkan, membuat benda berkilau itu terlepas dengan sadarnya. Namun meski menyadari hal itu, Levi tak kunjung mengambilnya kembali. Ia bahkan tak berbalik juga saat dirinya mulai berjalan gontai dari tempat itu. Ia perlu berpikir jernih untuk masalah ini. Beberapa gelas bir mungkin akan menemaninya.
Perasaannya kacau, tentu. Dapat dilihat dari bagaimana cara Levi melajukan mobilnya dengan cepat. Pikirannya mengawang, namun tubuhnya masih bisa fokus menatap jalanan. Tak seperti satu mobil yang sudah terjungkir tak jauh dari mobilnya yang masih melaju. Awalnya Levi ingin turun dari mobilnya dan ikut membantu orang-orang disana, namun tampaknya petugas kesehatan sudah sampai disana. Dan Levi rasa salah satu dokter rumah sakit juga turun tangan menolong korban kecelakaan itu. Dokter wanita berambut karamel yang hanya sebentar dipandang Levi. Untuk kali ini saja, ia ingin bersikap egois untuk perasaannya yang tengah hancur.
Tak membutuhkan banyak waktu untuk berada di bar tempat Levi biasa menghilangkan stresnya. Kedatangannya bahkan langsung disambut oleh seorang bartener kenalannya, Erwin.
"Aku berharap bisa mabuk hari ini." Levi langsung bersuara.
Erwin tersenyum menyindir saat mendengarnya, perkataan itu sangat lucu jika seorang Levi yang mengatakannya –pria yang tidak akan pernah mabuk meski minum berbotol-botol alkohol.
"Seperti kau bisa mabuk saja."
"Makanya aku berharap kan."
Kali ini Erwin tertawa. Terkadang Levi memang terlihat bersahabat saat diajak berbincang, namun terkadang juga dia bisa menjadi sangat garang dan tak mempedulikan orang lan. Dan hari ini sepertinya kedua kemungkinan itu disatukan, dilihat dari ekspresi wajahnya yag kusut.
"Apa ada masalah?" Erwin bertanya seraya menuangkan bir pada gelas di hadapan Levi. Dan dengan malas pria kelam dihadapannya mengangguk asal.
"Biar aku tebak, kau berpisah dengan Mikasa?"
Satu tatapan sinis Erwin dapatkan, menandakan kebenaran akan hal itu.
"Baiklah, berarti ini saatnya aku mendekatinya." Canda Erwin.
Levi ingin tidak peduli, meski kerutan di alisnya bertambah setelah mendengar perkataan Erwin yang jelas-jelas menantangnya berduel. Ia ingin marah, meski dirinya dan Mikasa sudah tidak ada hubungan apapun lagi.
Satu gelas bir ia habiskan dalam sekali teguk. Semakin dipikirkan memang terasa semakin sakit. Perpisahan yang tidak jelas akar permasalahannya ini membuat Levi sangat muak. Ia ingin menanyakan banyak hal pada Mikasa, jika tidak langsung maka cara terakhir yang bisa ia gunakan adalah dengan poselnya. Dengan cepat ia mengeluarkan benda persegi tipis itu dari sakunya, mengetik beberapa kata untuk dikirimkan pada Mikasa.
'Jelaskan kenapa aku harus menerima perpisahan ini.'
'Setidaknya aku harus tahu alasanmu agar aku bisa mengerti.'
'Jika kau melakukan ini karena aku pernah menyakitimu, katakanlah. Untuk apa kau diam seperti ini.'
'Ayolah, bicara padaku dan katakan semuanya.'
Levi menunggu, dengan bergelas-gelas bir yang berhasil diminumnya. Dengan waktu yang terus berjalan, dengan kesadaran yang seharusnya sudah menghilang berkat bir-bir yang ia minum. Sampai sebuah logika sampai dalam benaknya, mengakhiri kegundahan yang ia alami dengan paksa. Memilih untuk mengeraskan hatinya untuk masalah kali ini.
'Baiklah jika ini yang benar-benar kau inginkan. Aku tidak akan mengganggumu lagi. Dan aku harap kau juga begitu.'
Dan Levi kembali meminum birnya yang entah ke berapa gelas.
"Nee, Levi. Bukankah besok kau masih mengajar?" tiba-tiba Erwin bertanya.
"Ya, kenapa?"
"Kau akan baik-baik saja besok? Setelah minum begitu banyak?"
Levi hanya memiringkan senyumannya. Ia tak peduli tentang hal itu sekarang. Ia akan berpikir untuk esok hari setelah sampai di rumah saja nanti. Untuk saat ini tak ada yang ingin ia pikirkan, termasuk tentang Mikasa. Persetan dengan semua itu.
oOo
.
Pagi sudah terlewati. Nyatanya Levi tidak bisa mengajar hari ini karena kepalanya yang begitu berat berkat alkohoh kemarin. Di pagi yang menuju siang ini, Levi hanya duduk di ruang makannya –menikmati kopi pagi yang terlambat. Aromanya menenangkan, apalagi ditambah dengan sedikit lantunan lagu dari ponsel pintarnya. Lagu yang terputar dari radio di ponsel itu tidak begitu Levi kenal. Ia hanya mencerna setiap lirik yang terlantun dengan merdu itu, merasakan kenyataannya.
Pinggyega piryo haesseossna bwa
(I think I needed an excuse)
Pyeonuijeom apeseo sureul jogeum masyeosseo
(I drank a little in front of the market)
Jeongmal jogeum indedo sesangi heuryeojineun ge
(It was really little but the world has gotten blurry)
Jom chwihan geot gata na
(I think I'm a little drunk)
Sigyereul ilheo beryeossna bwa
(I think I lost my watch)
Hanjjok pari heojeonhae baraboda arasseo
(I realized only after looking at my arm because it felt empty)
Sigye tasdo anigo nae pal wie issdeon
(It's not the watch's fault)
Ne son hana nekkil su eopsdan geol
(I couldn't even feel your touch on my arm)
Maeil gadeongirinde
(I walked this way every day)
Eotteohge ireohge nega johahaneun ge manhassneunji
(But I didn't know there were so many things you liked here)
Sone japhineun dero sulgiune sagin sassneunde
(Out of drunkenness, I bought what I could)
Neon ajik geu gose saneunji
(I wonder if you still live there)
.
Levi meletakkan kembali cangkir di tangannya. Kali ini perasaannya tergerak untuk memikirkan hal riskan. Ia ingat bahwa semalam ia pulang melalui jalan yang lebih jauh dari biasanya, entah kenapa kemudinya seolah membawanya untuk sedikit merefleksikan banyak hal yang sudah Levi lalui, dengan wanita yang meninggalkannya itu.
Matanya langsung menyusuri sebuah pot kecil yang menampakkan bunga anggrek layu. Bunga itu Levi beli 2 hari lalu, karena merindukan Mikasa –yang biasanya bertanggung jawab untuk keberadaan bunga itu di rumah ini. Kini bunga layu itu hanya bisa menyaksikan kebodohannya terbelenggu oleh banyak kenangan yang masih berputar.
Mun yeoreobwa naega yeogi wassjanha
(Open the door, here I am)
Wae molla nega johahadeon hwabune kkoccdo jogeum sassneunde
(Why don't you know? I bought the plant and flowers that you like)
Igeot bwa, nega sajun syeocheue
(Look, I'm wearing the shirt you bought me)
Ne hyanggi ppaego modeun ge dorawassneunde
(Everything has come back except for your scent)
.
Lagu memasuki reff. Dan hal itu yang membuat Levi berdiri dari duduknya dan segera meraih pot dengan bunga layu itu. Dengan sadar ia pun langsung membuangnya ke dalam tong sampah di dapur. Ia harus membuang ini, untuk melupakannya. Hening sesaat. Musik melantun, dan Levi masih berdiri di depan tong sampah itu.
Geuri swiun marinde geu ttaen wae
(They are such easy words)
Geureohge saranghandan mari eoryeowossneunji
(But why was it so hard to say I love you back then?)
Uri heeojin hue ne moseup boiji anhado
(Even though I couldn't see you after we broke up)
Neon ajik nae mame saneun ji
(You still live in my heart)
.
Jika dikatakan lemah, mungkin fase ini yang bisa membuat Levi terlihat lemah. Saat kehilangan sebuah cengkraman kuat yang berusaha ia pertahankan eksistensinya selama ini. Saat kehilangan tujuan untuk esok hari karena alasan menjalaninya sudah tak ada. Saat dirinya hanya bisa meratap mempertanyakan ketidakpastian yang terjadi ini. Saat dirinya tak bisa melakukan apapun melihat langkah wanita itu menjauh dari hadapannya, tak pernah lagi berbalik.
Mun yeoreobwa naega yeogi wassjanha
(Open the door, here I am)
Wae molla nega johahadeon hwabune kkoccdo jogeum sassneunde
(Why don't you know? I bought the plant and flowers that you like)
Igeot bwa, nega sajun syeocheue
(Look, I'm wearing the shirt you bought me)
Ne hyanggi ppaego modeun ge dorawassneunde
(Everything has come back except for your scent)
Neoman eopsne mun yeoreobwa
(Only you're not here, so open the door)
Bul kyeojin ne bang changgae heurishage boyeo
(The light is on in your room, I can see you faintly)
Ireumeul bulleobojiman nae moksori dareul geosman gata
(I tried calling out ypur name. It feels like m voise could reach you)
Nae maeumdo daheul geosman gata
(It feels like my heart could reach you)
Jebal dathin i mun jom yeoreobwa naege dorawa
(Please open this closed door, come back to me)
.
Suara penyanyi yang sarat akan emosi itu menggerakan tubuh Levi menuju sebuah meja yang ada di samping sofa santainya. Seiring dengan musik yang terus melantun, Levi menatap keberadaan sebuah foto dengan bingkai rapi disana. Foto dimana dirinya dan Mikasa masih saling tersenyum menjaga. Perlahan ia menggapai bingkai itu, menelungkupkannya agar tak lagi menampilkan foto penuh dusta itu.
Levi bukanlah pria yang akan memohon untuk kembali pada gadisnya, sebeum ia tahu alasan perpisahan ini apa. Levi bukanah pria yang akan mengejar setiap keinginannya untuk pribadi. Tentu ia akan memikirkan perasaan Mikasa. Jika wanita itu memilih untuk pergi, bukankah sudah jelas bahwa selama ini dirinya tak cukup untuk membuatnya bahagia. Tak pernahcukup untuk selalu ada untuk wanita itu.
Sebenarnya Levi ingin membuang foto itu, agar ia dapat melangkah tanpa ketergantungan pada Mikasa. Ia ingin menyelesaikan badai dalam hatinya sendiri. Melupakan apa yang sudah dijaga.
Mun yeoreobwa naega yeogi wassjanha
(Open the door, here I am)
Wae molla nega johahadeon hwabune kkoccdo jogeum sassneunde
(Why don't you know? I bought the plant and flowers that you like)
Igeot bwa, nega sajun syeocheue
(Look, I'm wearing the shirt you bought me)
Ne hyanggi ppaego modeun ge dorawassneunde
(Everything has come back except for your scent)
Neoman eopsne mun yeoreobwa
(Only you're not here, so open the door)
.
Dan keputusan akhirnya dibuat. Levi turut membuang foto itu, sama seperti bunga yang akan mengingatkannya pada Mikasa. Tepat saat foto itu jatuh kesana, setitik air jatuh dari manik kelamnya. Beriringan dengan lirik terakhir yang ia dengar.
Mun yeoreobwa
(Open the door)
Ini bukan akhir. Ini akan menjadi awal hari esoknya. Tanpa Mikasa dalam benaknya. Tanpa angannya untuk meminang wanita itu lagi. Ia akan berjalan sendiri, menapak masa depan yang sudah tertulis dalam garis takdirnya. Melupakan apa yang akan menghancurkanmu.
Flashback off
oOo
.
18 Juni 2016
Levi tiba-tiba mengingat lagi hari itu, hari dimana dirinya menjadi seorang pria cengeng yang kehilangan harapannya. Padahal masa depannya sudah sejauh ini. Sungguh, Levi tidak ingin memikirkan tentang Mikasa lagi untuk saat ini.
Kini dirinya yang senggang di ruang guru tengah mencari informasi mengenai kecelakaan mobil 2 bulan lalu. Tak lain karena ia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Petra sampai dirinya bisa kehilangan penglihatan seperti sekarang. Yang ia dapat dari wanita itu hanya sedikit cerita bahwa kondisinya saat ini dikarenakan kecelakaan yang ia alami 2 bulan lalu. Maka dari itu selebihnya Levi ingin mencarinya sendiri.
Beberapa berita bermunculan saat Levi memasukan kata kunci pencariannya. Mataya dengan cepat memilih berita yang dicarinya. Dan bingo, satu berita semakin jelas terhubung karena nama korban kini dicantumkan pula.
Kecelakaan yang cukup besar, melibatkan 2 mobil dan 1 truk. Sopir truk meninggal, 1 pengendara mobil hanya mendapat luka ringan di kepalanya. Dan 2 korban lagi –yang berasal dari mobil Petra berada-, mengalami cedera akut. Seperti kondisi yang terlihat sekarang, Petra mengalami trauma yang menyebabkan kedua matanya buta. Sedangkan pengemudi mobilnya, mengalami patah tulang kaki.
"Farlan.." Levi mengingat nama itu pernah terlontar di mulut Petra.
Ia tidak tahu ada hubungan apa antara Petra dan Farlan. Namun ia yakin hubungan itu sudah berakhir saat kecelakaan terjadi. Menurut yang ia baca, Farlan adalah seorang chef yang sudah cukup terkenal meski masih muda. Tapi sudahlah, ia akan menanyakan hal ini nanti.
Kali ini yang Levi cari adalah cara agar seseorang dengan kebutaan bisa sembuh. Terlihat tabu memang, tapi tetap ia cari. Ia rasa Petra akan sangat bersyukur jika penglihatannya kembali. Terlebih pekerjaannya bisa dilanjutkan.
Saat matanya sedang mencerna setiap kata yang ia baca, tangannya meraih ponsel yang tersimpan tak jauh dari keyboard komputernya. Tak lama ia menekan nomor untuk dihubungi. Mungkin dia menjadi pria gila yang tergerak hatinya oleh seorang gadis buta, sampai dirinya merasa merindukan suara manis wanita itu dalam harinya ini.
"Halo?" sebuah suara yang ingin ia dengar terlontar di ujung sana.
Tanpa sadar bibir Levi membentuk sebuah senyuman simpul saat mendengar suara itu. Sangat manis.
"Petra, ini aku."
"Ah Levi? Ada apa? Aku sedang diluar hari ini."
Sembari menelpon, tangannya yang senggang masih memainkan mouse.
"Sendiri?"
"Tidak, kali ini aku diantar oleh ayahku."
Levi mengangkat sebelah alisnya, sedikit heran. "Kemana itu?"
"Rumah sakit. Aku akan terapi hari ini. Dokterku bilang jika kau rutin melakukannya, penglihatanku akan kembali."
Tepat saat Levi mendengar hal itu, ia juga membaca hal yang sama. Terapi bisa memungkinkan kesembuhan. Senyuman nampak diwajahnya.
"Syukurlah.. aku akan mendoakan yang terbaik untukmu."
"Ano, Levi.. apa kau senggang hari ini?"
Dengan santai ia melihat jam yang terpampang di dinding ruang guru. Jam pelajaran terakhir sebentar lagi akan berakhir, dan ia rasa tak ada hal spesial yang akan dilakukannya sepulang dari sini.
"Ya, setelah jam 3 aku senggang."
"Aku ingin bertemu."
Deg
Satu degupan yang tak wajar dirasakannya. Mungkin ini akan menjadi awalnya.
"Baiklah, aku akan menjemputmu ke klinik." Putus Levi, karena ia sudah tahu bahwa klinik yang waktu itu ia kunjungi bersatu dengan rumahnya.
"Maaf merepotkanmu.."
"Tak usah dipikirkan. Kalau begitu, sampai jumpa jam 4 nanti."
"Ya, sampai jumpa."
Dan Levi menutup teleponnya. Dirinya boleh untuk melakukan hal ini kan? Sedikit menghibur dirinya dari kesendirian yang sudah menemaninya selama berbulan-bulan ini. Sudah saatnya menapak pada masa depan.
oOo
.
Mikasa masih terlihat cantik meski wajahnya tampak murung. Dengan balutan mantel berwarna khaki dan rambut hitamnya yang diikat asal membuat siapapun yang melihat keberadaannya akan terkesima, merasa iri dengan kecantikan yang dimilikinya. Tentu saja Mikasa tidak peduli dengan semua tatapan iri itu. Juga tidak peduli dengan tatapan para pria yang seolah mendewikannya. Ia hanya ingin sendiri saat ini, menikmati teh panas yang terhidang di hadapannya. Sedikit melupakan keinginan egoisnya untuk kembali menggenggam dinginnya salju.
Matanya nampak tak peduli, dengan semua pejalan kaki diluar sana yang berjalan santai sambil berbincang dengan orang disampingnya. Namun meski begitu ia tetap memerhatikan mereka. Melihat setiap pergantian orang yang melewati tempat itu. Hari senggangnya yang ia habiskan sendiri di sore hari seperti sekarang sungguh bukanlah gayanya. Namun dirinya begitu malas untuk sekedar menerima ajakan makan malam rekan-rekan kerjanya, apalagi ketua agensinya yang selalu gencar mendapatkan perhatian sejak dirinya berstatus single.
Bukan keinginannya memang, sebenarnya. Melepas ikatan yang begitu erat bertautan di kelingkingnya. Melepas benang merah dengan paksa. Mengatakan sesuatu yang menyakitkan untuk melindungi karirnya. Karir di luar negeri yang sudah a selesaikan 3 minggu lalu.
Ya, Mikasa memilih untuk meninggalkan Levi dengan cara seperti itu untuk mengejar tawaran karir cemerlang di Paris, sebuah project yang akan berlangsung 3 bulan disana. Dan hal lain yang membuatnya memilih pilihan riskan itu adalah interupsi dari kakak angkatnya yang mengatakan agar dirinya fokus dulu terhadap karir yang satu ini. Bukan hanya untuk memisahkan, namun karena adanya karantina sebelum project dimulai. Sehingga mau tak mau hilangnya kontak akan mudah terjadi.
Bukankah akan selesai jika Mikasa mengatakan semuanya sebelum ia terbang ke Paris? Ya, jika ia tidak terlalu bodoh untuk menurut pada ucapan kakaknya –Eren. Setelah dijalani, barulah Mikasa mengetahui seberapa bencinya Eren pada Levi sehingga selalu mencoba memisahkan mereka. Dan kali ini sepertinya Eren sedang bernapas lega karena rencananya berhasil.
Mikasa ingin melawan kekuasaan Eren, namun ia berhutang begitu banyak pada budi pria brunette itu. Ia takkan bisa dengan mudah mengatakan 'tidak' padanya. Alhasil dirinya sendiri yang terpuruk. Hasilnya hanya dirinya yang meratap pada pilihan yang sudah ia buat. Pilihan yang selalu menuruti Eren.
Memori ini seperti busa, seperti kita yang saling salah sangka.
Luka ini apakah bisa aku hapus?
Aku benci ini
Mata Mikasa yang tampak lelah itu mulai menampakkan cahayanya saat menyadari satu sosok diantara orang-orang berjalan dengan sibuk. Sosok pria dengan balutan jas hitamnya yang biasa, masih terlihat tampan setia harinya dengan wajah minim ekspresi.
"Levi.." tanpa sadar suaranya menyeru pelan, mengharapkan sosok itu akan menoleh berkat suara pelannya.
Aku berteriak dengan percaya bahwa suara ini akan sampai pada hatimu
Namun dengan cepat tentu Mikasa mengurumkan keinginannya, saat menyadari keberadaan sosok lain yang berada di samping pria itu. Wanita berambut karamel sebahu itu tampak akrab dengan Levi, mengobrol ringan dengan senyuman yang tak pernah menurun dari wajahnya. Tampak dewasa meski sebuah tongkat membantunya berjalan.
Sungguh, Mikasa ingin sekali tidak peduli. Namun perasaannya semakin terasa sesak saat melihat mereka berdua berhenti untuk suatu hal. Levi tampak mempermasalahkan tongkat yang menemani langkah si wanita, dan dengan santai pria itu langsung mengambil alih tongkatnya. Kemudian tangan kanannya mengambil alih menggenggam hangat tangan wanita itu, menggantikan tongkat tadi. Mikasa menyadari satu hal, adanya semburat merah di kedua pipi wanita karamel tersebut mengganggunya. Kini keduanya kembali berjalan, bergandengan.
Tanpa sadar tangan Mikasa sudah mengepal menahan sesuatu. Salahnya, semua takdir mereka berdua menjadi seperti ini, tidak saling beririsan lagi.
Tenggorokannya terasa seperti tercekat menahan emosi. Ini buruk, pandangannya yang tak pernah teralihkan dari kedua sosok yang mulai berjalan menjauh itu membuat matanya memanas.
(Aku tidak bisa menggapaimu lagi kah?)
Mikasa menunduk. Kali ini ia ingin kembali menjatuhkan harga dirinya untuk membuktikan sesuatu. Dan dengan sekali hentakan ia langsung meraih tas genggamnya, meninggalkan kafe tersebut. Dengan langkah yang besar dan terburu-buru ia langsung mengikuti langkah Levi di depan sana. Bertindak nekad seperti ini merupakan kebiasaan buruknya dari dulu, namun apa boleh buat. Tubuhnya bergerak sendiri untuk melakukan hal ini. Juga ucapan pun terlontar begitu saja dari mulutnya, memanggil namanya.
"Levi!"
Yang dipanggil berhenti berjalan. Begitu pula Mikasa yang mulai terengah karena geraknya yang tergesa. Perlahan Levi membalikkan tubuhnya, tanpa melepas genggaman hangat ditangannya. Wajah pria itu masih tak menunjukkan emosi apapun, ia hanya menatapnya –menunggu maksud Mikasa memanggilnya di keramaian seperti ini.
"Ada apa, Levi?" Petra mulai penasaran dengan terhentinya langkah mereka.
Kali ini Mikasa berjalan lebih mendekat. Ikatan asal di rambut kelamnya semakin terlihat berantakan tertiup angin.
Pertemuan kita saling menyakiti, seperti itulah yang terjadi.
.
"Aku rasa kita perlu bicara sekali lagi." Mikasa memulai.
"Tentang apa lagi?"
"Tentang kita."
Petra menegang dalam genggaman Levi, dan menyadari hal itu Levi langsung mengeratkan genggamannya –seolah semuanya akan baik-baik saja.
"Kau tidak lihat saat ini aku tidak senggang?"
Tentu Mikasa tahu akan hal itu, justru karena Levi sedang tidak senggang maka ia ingin menghalanginya –menghabiskan kesenggangan dengan wanita karamel itu. Naif yang menyakitkan.
"Levi, kurasa tak apa jika dia ikut dengan kita." Petra tiba-tiba mengutarakan pendapatnya, menengahi.
"Eh?"
Kedua insan itu hanya bisa ber'eh' ria dalam keadaan aneh ini.
oOo
.
-To be Continued-
