I'm Not For Sale

.

Rated :

Semi M (*Mature*)

.

.

Main Pair :

HaeHyuk
(Donghae & Hyukjae)

.

Another Pair :

YunJae
(Yunho & Jaejoong)

Se7Min
(Se7en & Changmin)

.

.

Warning. !

.

Typo.

Bad Grammar

.

Man x Man

.

.

...-...Let's Begin...-...

.

.

Ruangan bernuansa maroon itu nampak senyap. Hanya ada seorang pemilik ruangan yang tengah berkutat dengan komputer lipat di hadapannya. Manik tajamnya menilik teliti untaian bait yang terhampar di pandangannya. Sebelum pintu dari kayu mahoni itu diketuk dari luar.

"Masuk,"

Seorang lelaki dengan tampang playful memasuki ruangan itu dengan cengiran khas miliknya.

"Kau tampak sedang santai, hyung.?"

Kalimat pernyataan bernada pertanyaan itu membuat sosok bermata musang di ruangan itu memutar bola matanya - jengah.

"Ada kabar apa?"

Yoochun duduk di kursi di depan Yunho dengan kaki bersilang angkuh. Rautnya berubah serius kala ia meraih beberapa lembar kertas dari balik jasnya.

"Youngmin,"

Yunho melirik serakan foto yang di letakkan Yoochun di atas mejanya. Foto - foto lelaki tua bajingan - menurut Yunho - yang tengah masuk ke sebuah gedung yang ia tahu adalah gedung milik rival abadinya di dunia bawah - Geunsuk.

"Ada kemungkinan dia bekerja sama dengan Geunsuk untuk membakar gudang amunisi kita di Jepang," Yunho menatap Yoochun tajam,

"-salah seorang anak buah ku mengikutinya sehari setelah gudang kita terbakar. Youngmin terlihat menemui seseorang yang disinyalir adalah Geunsuk di salah satu bar tertutup di Hokaido. Seminggu sebelum gudang kita terbakar aku juga mendapat info jika mereka terlihat bertemu di mansion milik Geunsuk di Yokohama,"

Ekspresi Yunho nampak dingin dan datar. Lelaki berusia matang itu tampak tengah berpikir dalam diamnya.

"Lalu apa langkah yang akan kita lakukan, hyung?"

Yoochun mencoba membuka kembali percakapan keduanya yang sempat terjeda senyap. Yunho menatap datar orang kepercayaannya itu.

"Tetap ikuti lelaki tua itu. Dan selidiki si keparat Geunsuk," Yoochun mengangkat sebelah alisnya,

"-jika memang ia terlibat, aku sendiri yang akan turun tangan,"

Desisan Yunho terdengar berbahaya di telinga Yoochun. Ia tahu jika sampai lelaki bermata musang itu ikut turun tangan, maka akan ada darah yang tumpah pada akhirnya. Yunho memang tak segan membunuh siapapun yang berani mengusik dirinya. Bahkan pada seseorang yang dulu hampir merebut 'properti' berharga miliknya - Jaejoong.

"Chun,"

"Ya?"

Yoochun berjengit dari angannya. Lelaki flamboyant itu menatap Yunho yang kini terlihat tengah menatap serakan foto di mejanya dengan pandangan menerawang. Sejenak berbagai praduga berhamburan di pikiran Yoochun. Mengingat perubahan ekspresi yang sangat jarang Yunho lakukan.

"Apa kau punya kabar lain?"

"Huh? Maksud hyung?" timpal Yoochun dengan alis berkerut.

Hembusan nafas Yunho menjadi penjeda pembicaraan mereka.

"Spencer,"

Tatapan sendu dari obsidian yang selalu berbinar dingin itu membuat hati Yoochun mencelos. Yunho tak pernah menunjukkan sisi kelemahannya pada siapapun. Namun ia mendapat kehormatan karena menjadi tangan kanan sekaligus sahabat yang secara tak langsung bisa mengetahui sisi yang lebih manusiawi dari lelaki bermata musang itu. Yoochun adalah teman Yunho dari saat mereka masih kecil. Ayahnya dan ayah Yunho adalah sahabat yang sama – sama merintis dunia mafia senjata di Korea.

Lelaki bertubuh kekar nan tegap itu begitu menyayangi ibu dan adik lelakinya. Jadi tak heran jika luka yang tertoreh akibat tragedi tragis di masa kecilnya itu benar – benar membekas di hatinya hingga kini. Keyakinannya jika sang adik masih hidup tak pernah padam di hati Yunho. Ia telah mengemban tugas dari Yunho untuk mencari jejak sang adik yang di culik 20 tahun yang lalu. Tentu itu bukan hal yang mudah, karena hingga kini Yunho masihlah belum tahu siapa dalang dari pembunuh ibunya dan penculik adiknya.

Yunho memang telah membunuh HyunSoo – orang yang saat itu membunuh ibu Yunho. Namun belakangan ia tahu jika HyunSoo hanya orang suruhan yang bertugas membunuh ibunya kala itu. Semua menjadi runyam saat Jung Kangho – ayah Yunho – masih tenggelam dalam lautan duka hingga Yunho terpaksa menggantikannya dan sejenak melupakan hilangnya sang adik.

"Mianhe hyung," Yoochun menatap Yunho dengan tatapan bersalah,

"-info terakhir yang ku tahu, adikmu sengaja di buang di Jepang. Dan aku masih belum mendapatkan info apapun hingga detik ini,"

Obsidian itu kembali berbinar dingin. Yunho memang orang yang pandai menyembunyikan emosinya. Ia tak pernah mengijinkan orang lain melihat apa yang tengah ia rasakan.

"Lalu, dimana Donghae sekarang?"

Yoochun berjengit untuk beberapa saat ketika Yunho mengganti topik pembicaraan mereka. Ia tahu jika lelaki kekar itu sudah tak ingin membahas masalah pribadinya. Ia berdeham sejenak sebelum mulai berbicara dan meringankan suasana.

"Kurasa dia akan pulang hari ini. Ah ya, hyung," Yunho menatap Yoochun dengan sebelah alis terangkat

"-apa Jaejoong hyung sedang memasak? Aku mencium aroma lezat saat masuk tadi. Boleh aku menumpang sarapan disini?" ujar Yoochun sembari menaik turunkan alisnya.

Yunho mendecih pelan dengan seutas senyum tipis di bibirnya. Moodnya sedikit membaik saat mengingat topik pembicaaan yang Yoochun bahas. Lelaki cassanova itu memang paling bisa membuat moodnya membaik. Tak salah bila ia lebih percaya pada lelaki yang gemar memasang ekspresi aneh di wajahnya itu ketimbang tangan kanannya yang lain.

"Dia akan pergi ke tempat Changmin beberapa hari,"

Yunho berujar sembari berdiri dari kursinya. Melangkah keluar ruangan diikuti Yoochun di belakangnya.

"Ke tempat si Se7en?"

"Hn,"

"Tanpa pengawalan?" tanya Yoochun sanksi.

"Kau kira aku akan melakukannya?"

"Kurasa tak mungkin," ujar Yoochun sembari tersenyum playful.

Yunho membuka pintu yang menghubungkan lorong kerjanya ke sebuah tempat dimana Jaejoong sering menghabiskan waktu disana - dapur.

"Yunnie?"

Jaejoong berjengit kaget kala seseorang merengkuh pinggangnya dari belakang. Ia sedang membuat adonan cake untuk ia bawa nanti ke tempat Changmin.

"Kau sedang membuat apa?" Yunho mengecup pelan pelipis lelaki cantik di rengkuhannya.

"Membuat cake untuk Changmin dan Hyukkie," ucap Jaejoong riang.

"Cake untuk Changmin dan Hyukkie? Lalu untuk ku? "

Raut cantik itu mencebilkan bibir nya manis. Sebelum gerutuan keluar dari bibir indahnya.

"Kau sudah terlalu sering memakan cake buatanku, Yun. Bahkan sampai kau gembul seperti sekarang,"

Suara kekehan Yoochun membuat Jaejoong segera berbalik dan menatap eksistensi lelaki tampan yang tengah berdiri menyandar di ujung wastafel sembari terkekeh.

"Chunnie?"

"Annyeong hyung," Yoochun tersenyum lima jari sembari melambaikan tangan.

"Chunnie? Berhenti memanggilnya begitu, Boo. Aku tak suka," ucap Yunho sembari kembali meraih pinggang Jaejoong dan memeluknya erat.

"Berhenti kekanakan, Yun. Pada Yoochun pun kau cemburu? Ish, dasar," gerutu Jaejoong sembari mencubit pelan perut Yunho.

"Tapi kan aku tak suka, Boo," Yunho menggesekan hidungnya pada pundak Jaejoong. Persis seperti seorang anak yang tengah merajuk pada ibunya.

"Ehem,"

Yoochun berdeham keras - dengan sengaja - hingga membuat pasangan yang tengah ber lovey dovey itu menatapnya dengan dua tatapan berbeda. Jaejoong dengan tatapan bulatnya yang berbinar bingung. Sedang Yunho dengan tatapan tajam membunuh. Yoochun sampai begidik ngeri melihatnya.

"Apa kau memasak sesuatu selain cake, hyung? Perutku lapar," tutur Yoochun dengan cengirannya.

"Kau lapar? Aigoo, apa Junsu terlalu sibuk hingga tak sempat memberimu makan?" ucap Jaejoong dengan raut tak percaya.

"Tentu saja ia memberiku makan, hyung," alis Jaejoong bertaut bingung

"-memberi makan diatas 'ranjang' maksudku," senyum mesum itu menutup penuturan frontal Yoochun.

Wajah cantik itupun bersemu merah akibat kalimat frontal yang baru menembus pendengarannya. Ia lebih memilih menundukkan wajahnya - menghindari kontak mata.

"Yah, jaga ucapanmu, Chun. Kau itu masih saja sama. Mesum seperti biasa,"

Yunho menatap garang lelaki yang terpaut 2 tahun lebih muda darinya itu.

"Ck, seperti kau tak sama dengan ku saja, hyung. Ku yakin kau bahkan lebih 'ganas' dariku," Yunho semakin tajam menatap Yoochun

"-benarkan apa yang ku katakan, Mrs. Jung?"

Jaejoong semakin menunduk dalam dengan wajah merah padam. Oh ayolah, ia tak seberapa suka urusan ranjang - ah maksudnya urusan privasinya terlalu terekspose.

"Ck, kalau kau terus mengoceh lebih baik kau pulang,"

"Eh tidak bisa begitu hyung, aku lapar dan mau makan disini. Bolehkan Mrs. Jung?" ucap Yoochun menggoda. Dan sebuah strawberry melayang membentur pelipisnya - ulah sang Mr. Jung.

Senda gurau itu terdengar renyah mewarnai suasana makan bersama pagi itu. Jaejoong memasak bermacam makanan. Dan Yunho tak pernah memarahinya. Justru sangat mendukung. Walau sebagai efeknya ia harus rutin berjam - jam di ruang gym untuk tetap mempertahankan otot dan massa tubuhnya.

Di sisi lain ada hangat yang Yoochun rasakan. Yunho dulu tak pernah seramah dan seterbuka sekarang - setidaknya pada orang - orang terdekatnya. Yunho yang ia kenal dulu hanya sosok pria dengan wajah datar dan seringai dingin yang tak pernah pandang bulu untuk menghabisi setiap orang yang mengganggu jalannya. Luka masa lalunya begitu membekas di hati bahkan jiwa lelaki bermata musang itu.

Yoochun tahu masa lalu kelam yang Yunho alami. Bukan hal mudah saat kau harus kehilangan ibu dan adikmu namun justru di tuntut untuk tetap tegar dan mengangkat angkuh dagu mu. Tanggung jawab yang di bebankan ayah Yunho waktu itu bukan hal yang main - main.

Jung Kangho - ayah Yunho - adalah sosok tegas dan bertangan dingin. Tak ada satupun orang berani bermain - main dengannya. Namun sejak sang istri terbunuh dan adik Yunho di culik, ia menjadi sosok yang rapuh hingga hampir membuat bisnisnya hancur. Hingga pada akhirnya Yunho menjadi satu - satunya Jung yang harus menopang beban besar di bahunya di usia yang saat itu masih 14 tahun.

"Chun?"

"Ah ya, hyung?" Yoochun kembali menabrak kesadarannya saat Yunho memanggilnya cukup keras.

"Kau melamun. Apa kau sedang ada masalah, Chunnie?" tanya Jarjoong khawatir.

Yoochun hanya tersenyum dan menggeleng pelan. Ia menatap Yunho yang menatapnya datar. Namun ada sirat khawatir disana. Bagaimanapun Yoochun adalah tangan kananya. Orang kepercayaannya yang telah ia anggap seperti saudaranya sendiri.

"Nope. I'm fine. Mungkin sedikit lelah karena 'permainanku' dengan Su-ie semalam,"

Ucapan Yoochun hanya di balas dengusan kesal dari Jaejoong dan tatapan jengah dari Yunho. Yoochun hanya bisa terkekeh dan kembali berkutat dengan makanannya.

"Suruh adikmu menemuiku malam ini,"

"Huh? Adik? Si ikan? Donghae?"

Yoochun menatap Yunho dengan alis bertaut sembari tetap mengunyah makanan di mulutnya. Yunho menatap jengah lelaki yang terkadang menjadi idiot itu.

"Siapa lagi memang adik ikan mu, huh?"

Jaejoong terkikik geli melihat raut manyun wajah Yoochun. Canda tawa itu kembali mengisi ruang makan itu. Chun face memang tak pernah gagal membuat Jaejoong tertawa renyah karenanya. Lain halnya dengan Yunho yang hanya tersenyum dengan banyak hal menggelayuti pikirannya.

'Apa maumu sebenarnya, pak tua?'

.

.

_I'm Not For Sale_

.

.

"Yah Shim Changmin, berhenti memakan kue pisang ku.!"

Teriakan Hyukjae membuat suasana pagi menjelang siang itu mendadak riuh. Apartment mewah milik Se7en itu mendadak ramai dengan aksi kejar mengejar antara Changmin yang sedang menghindari Hyukjae yang tengah bersiap menimpuk kepala lelaki dengan tinggi menjulang itu menggunakan majalah di tangannya.

"Kau pelit sekali sih, hyung? Aku kan lapar. Hanya mencicipi sedikit,"

Changmin berlari mengitari meja makan menghidar dari Hyukjae yang masih mengejarnya.

"Lapar katamu? Aku bahkan sudah membuatkan mu sepiring omelet dua jam yang lalu. Dan kau bilang masih lapar? Dasar perut karet..!"

Changmin berkedumel tak terima dan mulai berlari menuju kamarnya dengan Se7en. Meraih gagang pintu yang tiba - tiba terbuka dari dalam, dan. . .

Pukk.

Hyukjae memukul kepala Se7en yang baru keluar dari kamarnya menggunakan majalah yang sedari tadi ia genggam untuk memukul Changmin. Se7en menggerang sakit. Sedang si pelaku utama masih terbelalak tak bergerak. Hingga pada akhirnya mereka berdua berakhir di ruang tamu karena Se7en menyeret mereka - Hyukjae dan Changmin - menuju ruangan bernuansa broken white itu.

Hyukjae dan Changmin memang sering bertengkar dan berdebat untuk hal - hal yang tak penting. Terkadang kepala Se7en menjadi pening dengan tingkah dua orang yang mengaku sudah seperti kakak adik namun tak pernah akur itu.

"Bukankah sudah ku bilang untuk tidak berlarian di dalam rumah?"

Suara dingin Se7en membuat atmosfer di ruangan itu mendadak mencekam. Hyukjae hanya mendengus dan bersendekap tangan sembari memunggungi Changmin yang duduk satu sofa dengannya.

"Hyukkie hyung yang terlalu pelit padaku, Wookie," Changmin merajuk dengan muka merengut yang tak biasa ia gunakan.

"Apa kau bilang? Pelit?" Hyukjae berdiri dari duduknya dan menatap nyalang pada Changmin,

"-kau pikir siapa yang menyiapkan sarapan untukmu tadi pagi, huh? Kue itu aku buat untuk 'seseorang'. Dan seenak jidatmu kau habiskan. Asal kau tahu, aku sudah muak,"

Hyukjae melangkah pergi meninggalkan Changmin yang masih terperangah dan Se7en yang memijit pelipisnya yang mendadak pening.

"Apa aku sudah keterlaluan?" ucap Changmin pelan.

Se7en hanya melirik sekilas lelaki jangkung yang tak lain 'properti' nya itu. Tak berselang lama, pintu kamar Hyukjae terbuka dan lelaki manis itu keluar dengan pakaian rapi berbungkus mantel tebal dan tas selempang di bahunya.

"Kau mau kemana, Hyuk?" tanya Se7en.

"Keluar. Aku muak berada di sini,"

Hyukjae melenggang pergi tanpa memperdulikan Changmin yang memanggilnya. Hyukjae memang kadang keras kepala dan suka mengomel. Namun lelaki kurus itu tak pernah sekalipun sampai membentak Changmin seperti tadi. Dan rasa bersalah itupun perlahan menyergap hati lelaki jangkung itu.

"Aku harus pergi menyusulnya,"

Grep. .

Changmin berdiri dari duduknya dan sudah hendak melangkah namun terhenti oleh cengkeraman tangan Se7en pada lengannya. Changmin menatap lelaki yang menjadi masternya itu dengan raut bingung.

"Kau pikir kau bisa lolos begitu saja setelah membuat ku pening karena keributan kalian?" seringai itu terpatri di wajah tampan Se7en.

"Tapi akhhhmm,"

Ucapan Changmin tertelan bibir Se7en yang sudah menginvasi bibirnya. Teriakan sakit akibat tangan masternya yang menjambak rambutnya tertelan dalam ciuman panas mereka. Se7en memang suka bermain kasar jika ketenangannya diusik. Tangan kekar itu mulai merabai lekuk tubuh Changmin yang terhimpit di antara dinding dan tubuh sang master.

"Aakhh,"

Changmin memekik keras saat Se7en mencubit dan memelintir kasar nipple di balik kaos yang masih ia kenakan. Lutut sang master sudah berada di antara kedua kaki jenjangnya. Menggesek kejantanannya yang masih terlapisi soft jeans.

"Kau menikmatinya, Chami?"

Nada menggoda dari suara Se7en benar - benar membangunkan hasratnya yang sesaat lalu tertutup kabut rasa bersalah akan tingkahnya terhadap Hyukjae. Semua sentuhan dari sang master sudah sangat di hafal oleh tubuhnya. Seakan semua sensor peraba di seluruh kulitnya langsung aktif saat Se7en yang menyentuhnya.

"Eengghh, , aaahhnn, , aaakhh,"

Desahan dan pekikan itu mengalun saat Se7en semakin kasar menggesekkan lututnya pada kejantanan lelaki jangkung itu. Mulutnya sudah bermain di leher jenjang Changmin. Menghisap bahkan menggigit leher putih kecokelatan itu hingga memerah bahkan mengeluarkan sedikit darah akibat tancapan giginya yang terlampau tajam.

Srett

Bugh

Se7en membawa tubuh jangkung itu di bawah kungkungan di atas sofa ruang tamu. Changmin menggeliat resah, saat masternya mulai bermain di dua titik sensitif di dadanya. Erangannya tak tertahan saat tangan besar sang master mulai memainkan kejantannya di bawah sana.

"Eeeunggh, , h-hyung, , aaahhnn,"

"Call me master," bisik Se7en seduktif.

"Aaakkhh, , y-yess ma-master, , ngghh,"

Changmin menggeliat tak karuan saat tangan Se7en sudah masuk ke dalam celananya. Mengurut dan mengocok kejantanannya pelan menggoda. Jemari lentiknya meremas surai sang master yang masih memanja kedua nipplenya secara bergantian.

Ziiipp

Srett

Dengan cekatan Se7en melucuti celana selutut milik Changmin. Tubuhnya merosot kebawah hingga wajahnya tepat berada di selangkangan lelaki bersuara melengking itu. Tanpa membuang waktu, lelaki bemarga asli Choi itu langsung meraup kejantanan panjang yang sudah mengacung angkuh itu ke dalam mulutnya. Ia memang master Changmin. Namun bukan berarti ia tak sudi memberi blow job pada lelaki yang sudah mengisi hari - harinya dengan kehangatan dalam hatinya itu.

"Ngghh, , m-master, , aahnn, , aakhh,"

Jemari Changmin kembali meremas rambut Se7en yang masih memaju mundurkan kepalanya di tengah selangkangan lelaki berbibir tebal itu. Satu jari yang telah ia basahi sebelumnya mulai menerobos lubang anal milik Changmin yang menggoda.

"Aaakhhh, , nggghh, , aahhn,"

Tubuh yang mulai penuh peluh itu tersentak ke atas saat Se7en kembali memasukkan dua jarinya sekaligus kedalam lubang hangat itu. Hingga kini tiga jarinya sedang menginvasi lubang surga milik lelaki yang tak suka disebut manis itu.

Desahan Changmin semakin tak karuan, saat Se7en mengenai titik kenikmatannya. Tubuhnya melengkung menahan nikmat yang seakan memporak - porandakan akal kewarasannya. Ini baru jari Se7en. Pemikiran itu membuat tubuh Changmin semakin memanas.

Plop.

Se7en melepas kulumannya dan menatap Changmin yang memejam matanya erat. Changmin membuka matanya dan menemukan sang master tengah berseringai di hadapannya. Entah mengapa ia merasa hal buruk akan melanda dirinya.

"Jangan pikir aku akan bermain lembut padamu, Chami,"

Seringai itu makin melebar saat lelaki yang lebih tua 4 tahun dari Changmin itu memasang sebuah benda lingkaran di ujung kepala kejantanan Changmin. Tubuh penuh peluh itu bergetar saat benda dingin itu seakan menjepit ujung kejantanannya. Ia sudah terlalu akrab dengan benda yang sering kali menyiksanya itu. Cock ring.

Sreet

Se7en mngubah posisinya hingga kini Changmin berada di atas tubuhnya. Lelaki berbibir unik itu bernafas terengah diatas tubuh sang master. Se7en meraih dagu Changmin. Membelai lembut sisi wajah lelaki yang memiliki sifat tsundere itu.

"Such a beauty,"

Dengan lembut Se7en membawa bibir tak simetris itu dalam sebuah pagutan. Begitu manis hingga membuat keduanya terlena. Ada getar aneh dalam hati Changmin saat lelaki yang ia juluki sebagai maniak itu mulai memperlakukannya dengan lembut. Seakab memuja Changmin sebagai hal paling berharga dalam hidup pria yang sudah 'membelinya' itu.

"Aaakhh,"

Desah itu kembali, saat tangan Se7en kembali aktif merangsang setiap titik lelaki diatas tubuhnya itu. Changmin sendiri hanya mampu menurut saat sang master mendorong tubuhnya hingga ia duduk tegap diatas pinggul lelaki tampan itu.

"Ride me, babe," bisik Se7en sembari mengulum sensual telinga Changmin yang memerah.

Tubuh jangkung nan ramping itu terangkat memposisikan angle yang tepat untuknya memulai permainan panas mereka. Keningnya berkerut saat benda besar nan panjang yang terlalu sering menginvasinya itu mulai menyapu lembut lingkar analnya. Ia menarik nafas dalam dan menghentak keras tubuhnya ke bawah.

"Aaakkkhh, , !"

Kedua tubuh itu sudah menyatu sempurna. Bulir kristal itu mengalir di kedua pipi Changmin. Rasa sakit dan perih itu membakar tubuh bagian bawahnya. Seakan tubuhnya dirobek paksa membelah jadi dua. Se7en sendiri sempat terkejut dengan aksi nekat lelaki berkulit white eksotis itu. Ia tak menyangka jika Changmin akan melakukan penetrasi dalam sekali hentak dengan kejantananya.

"Hey kau tak perlu terlalu kasar, baby. Aku tak mau kau terluka," ucap Se7en sembari menangkup lembut wajah Changmin.

"It's okay. I like it," Changmin menyeringai tipis di tengah derai air mata kesakitannya.

"Ck, dasar masochist,"

Dan pergumulan itupun dimulai. Tubuh ramping itu naik turun dengan ritme yang sedikit brutal. Se7en kadang menggeleng bingung dengan sifat lelaki - yang baginya - manis itu. Changmin memang suka dengan permainan ranjang yang keras dan kasar. Memang tak bisa Se7en pungkiri jika ia memang suka itu.

Ia suka membuat Changmin menjerit keras dan memohon padanya. Seperti yang lelaki pemilik mismatch eyes itu tunjukan sekarang. Mendesah keras dengan tubuh naik turun dengan cepat bahkan menggerang frustasi ketika Se7en menghisap dan menggigit keras nipple nya.

"Aaahh, , yess m-master, , ngghh, , t-there, , aaakkhh,"

Desah itu masih mengalun seiring hentakan kuat pinggul Se7en yang menambah keerotisan geliat tubuh penuh peluh di atasnya. Changmin seakan sudah lupa caranya menelan air liurnya hinggal bulir bening itu mengalir di sudut - sudut bibir tebalnya. Teriakannya semakin menjadi, saat tangan Se7en sudah mengocok dan mempermainkan kejantanannya yang sudah menegang sedari tadi.

"Nggghh, , m-more, , hhahh, , m-more masterr, , aaakhh,"

Erangan itu terdengar begitu indah di telinga Se7en. Ia bahkan tak peduli jika suara Changmin terdengar oleh tetangga mereka. Yang ada di kepalanya adalah menyetubuhi Changmin hingga lelaki itu memohon untuk terus menghajar lubang analnya. Bahkan sampai pingsan kalau perlu.

"C-cum, , hahhh, , I c-can't, , Aaakkkhhh,"

Tubuh indah itu mengejang dan melengkung bak busur yang indah. Otot - ototnya mengejang hingga membuat Se7en mendesis nikmat akibat rematan kuat liang anal Changmin. Tubuh jangkung itu limbung ke depan. Wajah bermandi peluh itu terkulai di pundak kokoh Se7en dengan deru nafas yang bertalu. Rasa sakit di ujung kejantanannya membuatnya menggeram tak nyaman. Changmin baru saja mencapai klimaksnya tanpa setetespun benih yang keluar. Orgasme kering.

"Aakkhh,"

Teriakan Changmin menggema saat dengan kasar Se7en menarik rambutnya ke belakang. Lelaki tampan itu, bisa di bilang mempunyai sisi sadistic yang membuat Changmin terkadang merasa ngeri. Namun ada kalanya Se7en juga memperlakukannya secara lembut. Namun mungkin tidak untuk kali ini.

"Jangan berpikir kita akan selesai hanya dengan sekali ronde, sayang,"

Se7en menjilat pelan air mata yang membasahi pipi Changmin.

"-kau bahkan klimaks lebih dulu dari ku. Kau tahu kan apa itu artinya?"

Changmin menelan kasar ludahnya. Ia memang baru saja klimaks - walau tanpa setetespun sperma ia keluarkan. Namun tetap saja, itu mala petaka buat lelaki berpipi lumayan berisi itu.

'Kurasa aku tak akan bisa berjalan dengan benar setelah ini,'

.

.

_I'm Not For Sale_

.

.

Hembusan angin siang itu cukup kencang. Seoul baru akan memasuki musim hujan pekan depan. Tapi udara siang itu tak cukup ramah dengan sang awan yang terlihat mulai murung tertutup legam. Walau demikian, Hyukjae tetap melangkah membelah trotoar kota sembari sesekali merapatkan coat cokelatnya.

'11.50'

Angka itulah yang tertera di jam tangan hitam yang bertengger indah di pergelangan tangan putihnya. Raut yang cenderung ayu itu tertutup dinginnya topeng ekspresi yang selalu ia kenakan. Luka dan dendam masa lalunya yang walau terbias samar, membuatnya membenci setiap orang yang ia temui. Walau memang ia punya beberapa pengecualian.

Lelaki manis itu berhenti tepat di depan sebuah kompleks pendidikan ternama di kota itu. Gerbang besi itu masih tertutup, dan Hyukjae masih diam menatapinya dari tempatnya berdiri sekarang di seberang jalan. Hingga dering jam penanda pulang terdengar samar di telinganya.

Lengkingan riang manusia - manusia kecil itu membingkai suasana kota yang tengah di landa mendung yang mulai muram. Mereka terlihat begitu bahagia, seakan kelas - kelas di dalam sana bagai momok tersendiri untuk mereka. Manik kelam itu mulai menelinsik tiap wajah kecil di seberang sana dengan pengelihatannya yang memang tajam. Dan satu wajah mungil nan ayu berhasil ia kenali.

Sosok kecil dengan dua kepang kuda di surai dark brunette nya berpadu dengan wajah ayu dengan sepasang mata bulat bening. Gadis cilik yang tengah berjalan pelan dengan tas ransel bergambar ikan badut orange bertajuk Nemo selalu berhasil membuat binar senang di kedua orbs Hyukjae. Ada seulas senyum di bibir Hyukjae saat ia menangkap kerucutan imut dari bibir mungil gadis cilik yang mulai memasang wajah masam dan berkali - kali menatap jam tangan yang melingkar di pergelangan mungil nya.

"Haru-yah,"

Hyukjae berteriak sembari melambaikan tangan guna mendapat perhatian gadis cilik itu. Dan dalam hitungan detik, sosok mungil itu menatap Hyukjae sembari tersenyum riang kala mengenali siapa yang memanggilnya. Hyukjae membuat aba - aba agar gadis cilik itu tetap disana dan tak menyeberang jalan. Lelaki manis itu memilih menyebrang jalan dengan sesimpul senyum di paras ayunya.

"Hyukkie Samchon," Haru menghampiri Hyukjae yang sudah berada di trotoar yang sama dengannya dan segera memeluknya.

"-samchon kemana saja? Haru mencari - cari samchon karena akhir - akhir ini tak terlihat,"

Hyukjae membalas pelukan gadis cilik itu dan mengusap pelan pucuk kepalanya.

"Yah haru-yah, bukankah kita sudah sepakat untuk tidak memanggil ku samchon? Aku tak setua itu, anak manis," ujar Hyukjae sembari melepas pelukan mereka dan menyentil pelan ujung hidung bangir gadis mungil itu.

"Aniyo. Kalau harus memanggil Oppa itu terlalu muda. Jadi samchon saja," Haru tersenyum lima jari dengan tanpa dosanya.

"-samchon belum menjawab pertanyaanku. Samchon kemana saja akhir - akhir ini?"

Tatapan menyelidik gadis 7 tahun itu sempat membuat Hyukjae merasa terpojok. Tatapan asli seorang keturunan Aiden Lee.

'Like father like daughter,' batin Hyukaje - geli.

"Samchon ada keperluan keluar kota. Jadi tak bisa bertemu dengan mu kemarin, anak manis," tutur Hyukjae sembari mencubit pelan pipi Haru.

"-appa mu masih belum menjemput?"

Air muka gadis cilik itu sontak berubah saat Hyukjae memention tentang ayah tampannya itu.

"Dia terlalu sibuk dengan botol infus dan alat suntiknya, samchon,"

Nada sarkas itu membuat Hyukjae tersenyum geli. Gadis cilik yang ia selamatkan dari laju mobil beberapa bulan yang lalu itu benar – benar hal yang paling tak Hyukjae duga. Hyukjae tak pernah menduga sosok anak kecil yang ia selamatkan dari laju mobil beberapa bulan yang lalu adalah putri semata wayang sosok yang telah menyelamatkan jiwanya beberapa tahun yang lalu - Lee Donghae.

"Samchon!"

"Ya?"

Hyukjae tak menyadari jika ia tengah melamun hingga teriakan gadis cilik itu membuyarkan lamunannya.

"Rumah samchon dimana sih?" Hyukjae menautkan alisnya,

"-Haru ingin main ke rumah samchon, boleh?"

Hyukjae tersenyum ramah walau isi otaknya tengah berputar mencari alasan yang tepat.

"Rumah samchon jauh dari sini," tangan putihnya terulur membelai lembut surai gadis mungil itu,

"-lagi pula itu bukan rumah samchon,"

"Bukan rumah samchon?" tanya Haru bingung.

Hyukjae hanya bergumam mengiyakan.

"Bagaimana kalau kita ke toko ice cream?" usul Hyukjae – mengalihkan pembicaraan.

"Aku tak suka ice cream, samchon," Haru tersenyum penuh arti,

"-aku lebih suka banana milk di toko seberang sana,"

Hyukjae terkekeh pelan mendengarnya. Ia sontak menggandeng tangan mungil itu dan berjalan menuju minimarket tak jauh dari tempat mereka berdiri tadinya. Ia membiarkan gadis cilik itu mengambil beberapa kotak susu dan beberapa batang permen sesaat setelah keduanya masuk ke dalam toko. Ia sendiri hanya memperhatikan gerak gerik bocah cantik itu yang menggeretnya kesana kemari. Dan Hyukjae hanya tersenyum. Ya, Hyukjae tersenyum. Senyum dalam arti sesungguhnya.

Hyukjae membayar belanjaan jajanan yang cukup banyak itu ke kasir. Mereka keluar dengan Hyukjae dan Haru yang sama – sama memegang sekotak banana milk. Sesekali ia tertawa karena Haru bercerita seberapa cintanya ia pada banana milk – yang bahkan melebihi rasa cintanya pada sang ayah.

"Haru-yah,"

Teriakan seseorang dari seberang jalan membuat keduanya mengalihkan pandang pada sumber suara. Ada dua ekspresi yang kedua nya tampilkan. Haru dengan wajah berbinar karena bertemu sang ayah. Dan Hyukjae yang berusaha memflat kan ekspresi kala bertemu sosok yang telah menjadi obsesinya – tanpa ia sadari. Haru berlari memeluk sang ayah. Hal pertama yang Hyukjae rasakan hanya desiran hati yang sekuat tenaga ia tampik saat obsidan kecokelatan itu mulai menyadari eksistensinya.

"Samchon,"

"Ya?" Hyukjae menatap gadis cilik yang tengah di gandengan lelaki tampan yang kini di hadapannya.

"Ini ayahku. Namanya Lee Donghae. Dia dokter yang sangat suka ikan nemo," tutur Haru tanpa dosa.

Donghae mengelus pelan surai kecokelatan sang putri. Seulas senyum ia lukis sebelum mengulurkan tangan. Dan dengan ragu, Hyukjae membalas tangan kekar yang terulur di hadapannya.

"Hyukjae. Lee Hyukjae,"

Donghae hanya tersenyum dan hal itu membuat alis Hyukjae bertaut namun tak sepatah kata ia ucap. Genggaman tangan itu terasa kuat dengan pancaran sendu obsidan kecokelatan yang seakan menembus sepasang orbs miliknya. Hyukjae berdeham pelan, membuat Donghae melepaskan jabat tangan mereka.

"Haru-yah," Hyukjae menundukan dirinya

"-samchon pamit pulang dulu ya. Lain kali kita bisa bertemu lagi,"

Haru mengangguk submasif dan menghambur ke pelukan Hyukjae. Sedang lelaki bergummy smile itu tersenyum sembari membelai lembut surai gadis cilik itu. Mereka tak menyadari sepasang obsidan yang menatap sendu interaksi keduanya. Emosi lelaki bermarga Lee itu tak terbaca – seperti biasa.

"Samchon janji ya kita akan bertemu lagi," ujar Haru sembari menatap Hyukjae yang beranjak berdiri.

"Tentu saja anak manis,"

Hyukjae menatap Donghae sekilas dan menundukan sedikit kepalanya sebagai tanda berpamitan sebelum berbalik meninggalkan tempatnya berpijak.

"Tunggu,"

Suara lembut itu menginterupsi langkah Hyukjae.

"Aku bisa mengantarmu Hyukjae-sshi,"

Hyukjae berbalik dan menatap lelaki brunette itu dengan tatapan bingung

"Anggap saja sebagai ucapan terima kasihku karena sudah menemani Haru," ucap Donghae dengan sebuah senyum tipis.

Detak jantung Hyukjae bergemuruh saat lengkungan tipis itu menjadi pusat perhatiannya. Donghae – lelaki yang telah lama menjadi obesisanya – kini tengah tersenyum tulus di hadapannya. Tak ada yang mampu ia lakukan selain berdiri mematung tanpa tahu apa yang akan ia lakukan selanjutnya.

"Samchon mau kan?"

Suara gadis cilik yang tak lain adalah putri semata wayang Donghae yang berhasil membuat Hyukjae meraih kembali kewarasannya.

"Huh?"

"Ih samchon lambat sekali. Appa tadi tanya, Hyukkie samchon mau kan di antar pulang?" ucap Haru dengan nada kesal.

"A-aku,"

"Ah sudah. Ayo kita masuk ke mobil Appa," poting Haru sembari menyeret tangan Hyukjae dan menggandeng tangan sang ayahnya.

Donghae hanya tersenyum lembut. Ada hangat tersendiri saat ia melihat interaksi Hyukjae dengan purti semata wayangnya itu. Haru tak pernah begitu semangat pada seseorang. Mungkin hanya pada pujaan hati sepupunya, yakni Jaejoong. Haru begitu lengket dengan lelaki cantik itu. Atau lebih tepatnya pada kue buatan seseorang yang telah menjadi hak milik Yunho.

"Appa," Donghae menatap kaca spion yang hingga dapat menatap sang anak yang tengah berkutat dengan sesuatu bersama Hyukjae di jok belakang

"-aku lapar. Kita mampir untuk makan ya?"

"Tentu, tuan putri," ujar Donghae – playful.

Haru hanya terkikik dan kembali berkutat dengan sebuah rubik bersama Hyukjae. Dengan telaten, Hyukjae membantu Haru menyusun rubik itu hingga berderet sesuai warna mereka. Saat mereka sampai di sebuah restoran keluarga, tanpa ragu Donghae memesan satu ruang vip khusus keluarga. Dia bukan orangt yang suka dengan kebisingan. Jadi dia lebih memilih ruang yang lebih privat.

Makan siang ketiganya berlangsung dengan celoteh Haru yang tak hentinya menceritakan salah seorang temannya yang bernama Oh ZiYu yang memiliki dua orang – ayah.

"Tidak bisakah aku mendapat 1 lagi ayah, appa?" tanya Haru – tanpa dosa.

"Yah, kau tak sayang pada appa mu itu, Haru-yah?" ucap Donghae dengan wajah sakit hati yang di buat – buat.

"Appa terlalu over," jawab gadis cilik itu – enteng.

"Yah,"

Haru mengabaikan sang ayah dan menatap Hyukjae yang berkutat dengan sup di hadapannya.

"Samchon mau jadi appa baru Haru, kan?"

"Uhuk . . uhhuk,"

Hyukjae tersendak sup yang baru saja masuk ke mulutnya. Ucapan gadis cilik itu berhasil membuatnya kaget hingga tersedak.

"Yah Haru, jangan berkata macam – macam," Donghae mengulurkan segelas jus jeruk pada Hyukjae yang masih terbatuk

"-lihat kau membuat Hyukkie samchon tersedak, kan,"

Hyukjae meminum jus itu perlahan lalu mengusap bibirnya dengan serbet makan. Ia menatap Haru yang masih memberinya tatapan memohon dengan pandangan kikuk. Oh ayolah, ia tak tahu jika anak yang masih sekolah dasar itu tak mempermasalahkan jika memiliki dua ayah. Diulangi, dua ayah.

"Um Haru-yah, bukankah kau sering bilang kalau kau bangga pada appa mu?" Hyukjae mengelus pelan surai kecokelatan gadis cilik itu

"-lalu untuk apa mencari appa baru?"

"Aku memang bangga pada Hae appa. Tapi," Haru menggantung kalimatnya dan menundukkan kepala.

Hati Donghae entah mengapa terasa tak enak melihat gelagat sang anak yang tiba – tiba murung.

"Waeyyo?" tanya Hyukjae pelan.

Haru menatap Hyukjae dengan mata yang berapi – api(?)

"Hae appa terlalu over, samchon. Suka berlebihan saat Haru sedang main dengan anak tetangga. Dan appa lebih sayang ikan nemo di rumah ketimbang denganku,"

Hening

Namun beberapa saat kemudian terdengar tawa renyah Hyukjae akibat penuturan gadis cilik itu. Mereka – Hyukjae dan Haru – tertawa bersama ketika mendapati Donghae yang mulai mengomel karena penuturan sang anak yang – kelewat jujur. Mereka tertawa bersama layaknya keluarga bahagia lainnya. Hati Hyukjae menghangat untuk beberapa saat. Masa lalu kelamnya membuatnya terpisah dari sebuah kata yang harusnya menjadi sumber bahagia – keluarga.

"Kau bisa menurunkanku disana, Donghae-sshi," tutur Hyukjae saat mobil yang di kemudikan Donghae sudah memasuki kawasan apartment Se7en.

Donghae turun dari kursi kemudi dan membantu membenahi posisi tidur Haru yang semula berada di pangkuan Hyukjae. Mengusap pelan surai lembut gadis cilik itu sebelum ia menutup pintu mobil mewah itu.

"Gomawo,"

"Untuk?" tanya Hyukjae bingung.

"Membuat Haru layaknya anak seusianya," ujar Donghae pelan.

"Tak perlu begitu," Hyukjae menatap ke awan yang mulai terbias warna oranye saat ia tahu waktu sudah menginjak sore.

Donghae mengikuti kegiatan mari-memandangi-awan-sore yang Hyukjae lakukan.

"Jadi, kau sudah tak tinggal di Blizt hotel?"

Hyukjae menoleh cepat ke arah Donghae yang memang berdiri di sampingnya dengan tatapan terkejut.

"Wae?" Donghae menoleh dan menatap dalam onyx kelam yang penuh keterkejutan itu,

"-kau kira aku lupa siapa dirimu?"

Hyukjae mengakhiri kontak mata keduanya. Ia lebih memilih menunduk dan menatap aspal tempat sneakers nya berpijak.

"Mianhe,"

"Untuk?" tanya Donghae balik.

"Karena bersikap seakan tak mengenali dirimu," ucap Hyukjae pelan.

"Never mind,"

Hanya hembusan angin yang menjadi latar keduanya yang terbekap kebisuan sesaat. Donghae lebih memilih menatap Hyukjae yang tertunduk dalam diam dan memain kan kedua tangannya dengan sebuah senyum tipis. Hyukjae terlihat manis jika melakukan itu – bagi Donghae.

"So, kau tinggal disini?" tanya Donghae – berusaha memecah keheningan di antara keduanya.

"Ya, aku tinggal dengan – adikku," jawab Hyukjae pelan.

"Lalu bagaimana kau bisa terjebak – ditempat itu?"

Donghae berusaha untuk tidak menyinggung hati Hyukjae perihal bagaimana lelaki manis itu menjadi salah satu property di pelelangan pelacur. Desahan nafas jengah menjadi awal kalimat Hyukjae.

"Ceritanya panjang," Hyukjae menatap Donghae dengan binar ketulusan yang sempat membuat hati lelaki brunette itu berdebar tak beraturan

"-tapi terima kasih telah menyelamatkan ku. Aku berhutang padamu, Donghae-sshi,"

Senyum tulus itu semakin membuat hati Donghae berdebar tak menentu. Sosok Hyukjae terlihat begitu manis. Dengan surai tertiup angin sore dan biasan cahaya senja yang seakan melukis semua kesempurnaan yang di miliki lelaki bergummy smile itu. Donghae berdeham pelan. Berusaha mengembalikan kewarasannya yang sempat terbuai bersama hembusan angin. Ia mengangkat tangannya dan mengusap lembut surai dark brown milik lelaki di hadapannya.

"Aku hanya melakukan – apa yang seharusnya aku lakukan,"

Percayalah, Donghae melihat ada semburat merah yang terbias tipis di kedua pipi putih Hyukjae. Manis. Sangat manis. Ingin rasanya ia membawa Hyukjae pulang dan menyekapnya di rumah. Mengklaimnya selayaknya Yunho yang mengklaim Jaejoong sebagai propertinya. Tapi Donghae tidak seperti sepupu garangnya itu. Ia tak ingin memaksa. Ia tak memungkiri jika ia menginginkan Hyukjae. Tapi bukan dengan paksaan. Ia ingin secara alami. Secara natural dengan goresan tinta takdir yang menentukan semuanya. Anggap dia terlalu naif. Tapi itulah Donghae.

"Sekali lagi terima kasih, Donghae-sshi," ucap Hyukjae lembut dan di balasan anggukan kecil dari sang patner bicara.

Sosok indah itu menjauh. Punggung kecil itu terlihat indah dengan pantulan cahaya sore yang berbinar dari sudut ia melangkah. Donghae tak akan melupakan hari ini. Hari dimana ada sosok yang berhasil membuat putri semata wayangnya tertawa penuh keceriaan layaknya anak seusianya. Hari dimana ia merasakan seakan memiliki sebuah keluarga yang begitu ia idamkan. Dan semua itu bersumber pada satu sosok indah. Lee Hyukjae.

'Aku akan memilikimu, Hyukkie. Kupastikan itu,'

.

.

...-...To Be Continue...-...

.

.

Hello reader yg budiman.

Merindukan FF ini.?

Maafkan sy karena terlalu lambat mengUpdate FF ini. Salahkan pada tumpukan kertas yg tak pernah menghilang dr meja kerja sy. #abaikan.

.

Oke, chapter ini tidak terlalu panjang bukan? Apakah alurnya membosankan?

Please, share your comment. Sy akan menampung semua saran kalian. Asal itu bukan bashing dan kawan – kawannya.

.

Bicara tentang bashing, ada seseorang dgn berbagai hinaan di kolom komen FF remake sy.

Hujatannya mungkin bisa di pertimbangkan. Namun sayang, dia tidak login. Mungkin jika dia memberi tahu siapa dia, maka kami bisa berdiskusi secara baik – baik. :v

.

Sy tidak bermaksud kasar. Mengancam atau apapun itu. Sy hanya bersikap seperti diri sy sendiri. Sedikit egois? Ya, sy memang egois. Namun setidaknya sy bukan seorang pengecut yg hanya berani menghina tanpa login. Sy memang bukan satu – satunya author pairing HaeHyuk di FFn. Dan sy tak mengatakan sy minta di hormati. Kalian membaca cerita, dan sy ingin kalian meninggalkan review. Sy yakin bukan hanya sy yg berpikir demikian. Tapi bukankah itu hal yg relevan? Ibarat sebuah simbiosis. Mutualisme.

.

Sy sombong? Sy belagu? Apakah dia mengenal sy? Pernahkah dia chatting dgn sy – in person?

Yg jelas satu hal. Dia tidak mengenal sy.
.

Sy marah? Tidak. Hanya sedikit kecewa.

Ternyata masih ada org yg menilai sesuatu sedangkal itu. Mungkin sy menulis note di FF itu karena sy sedang lelah. Dia hanya tidak tahu apa yg terjadi dgn PM yg masuk di inbox sy.

Ya sekali lagi. Dia tidak mengenal sy.

.

Hal itu sempat membuat mood sy down. Ya walaupun sy mengklaim sy sudah kebal dgn hal seperti itu. Tp tetap saja, cukup berpengaruh. :v

Tapi jangan khawatir. Seperti yg di katakan anak – anak sy(?) Lily dan Riri. Yg menyayangi sy lebih banyak ketimbang mereka yg hanya berani berkoar dan menghujat.

Apapun itu. Mungkin ini pelajaran. Agar sy berpikir dua kali saat mengetik note di setiap FF sy. :v

.

Anyway, sy ingin berterima kasih pada kalian yg sudah berpartisipasi di chapter sebelumnya.

Nanaxzz | NicKyunnurul. | aiyu kie | Polarise437 | ChanBaekLineYenie Cho94 | ahahyuk | Ciqueoelum96AprilianyArdetadekdesbabyhyukeekakimulusheenimdekdes

HHSHelviJjangLee HaerieunAlways HaeHyuk | mankhey | naehyuk6 | Guest | Choi Dande | jongindo | faridaanggracho. .794haeveunkaHAEHYUK IS REAL | egaeunsuk1yeojazzi

Haehyuk546 | mizukhy yank eny | ShinJiWoo920202eunhyukuke | Lee Eun Jae | DeepHannie88 | Jay-Shin | UtaLala | HanHannie | | Agriester Jewel |

Terima kasih sudah berkenan meninggalkan jejak kalian(?)

.

So, sekian sj note ini sy kali ini. Maaf jika terlalu banyak curahan hati sy di note kali ini.

Sedikit kekanakan? Mungkin efek kekesalan sy. Bayangkan kalian sedang giat mengetik cerita. Dan ketika senggang, kalian membaca review yang ternyata berisi hujatan. Menyakitkan?

Ya, sedikit berpengaruh pd tingkat kelabilan sy. :v

But thank you for everything. Ini akan menjadi pengalaman yg kesekian kalinya agar sy lebih dewasa dan tidak mudah terbawa perasaan. Setidaknya itu kata seorang kakak author sy disini. #Ms.N

.

Terima kasih untuk segalanya. Dan jangan memaksa sy untuk apdet cepat oke?

Kalian tahu bagaimana sy mengUpdate bukan? ;)

See U next time.

.

August 16, 2015

Meyla Rahma