Hope and Faith
Fanfic SNK
Disclaimer : Shingeki no Kyojin milik Isayama Hajime. Cover image juga bukan punya saya.
Chapter 3 : Hope Part 3
Rasanya ringan sekali. Ini... di mana?
"Hiks... hiks... Mama..."
Suara tangisan?
Eren mengangkat kedua kelopak matanya, menampakkan sepasang bola samudera besar yang bersinar bingung. Badannya terasa lebih kecil. Ia melirik ke kanan dan ke kiri. Gelap. Kemudian ia mendengar tangisan itu lagi. Kini lebih keras. Asalnya dari belakang. Tiba-tiba tanpa sadar tubuhnya berputar ke belakang.
Mendadak, tempat gelap yang kosong itu berubah menjadi pemandangan jalan di kota kecil. Ia berada di tengah orang-orang yang berlalu-lalang. Kedua maniknya mencari-cari asal suara tangisan sambil berjalan agak tergesa-gesa. Sesekali ia menabrak orang dan meminta maaf. Tapi, anehnya mereka terlihat seperti tak menyadari keberadaannya.
Sampailah ia di depan sebuah toko bunga yang sepi. Di dekat bangunan mungil itu seorang gadis kecil tengah berjongkok dan memeluk erat kedua lututnya. Suara tangis itu berasal darinya.
Aneh. Padahal banyak sekali orang yang melewati tempat itu. Tapi kenapa tidak ada yang berhenti dan menolongnya? Kenapa tidak ada yang peduli? Apa mereka tidak mendengar tangisannya? Eren menautkan kedua alisnya. Orang dewasa nggak peka! Batinnya. Eren memberanikan diri untuk mendekati gadis itu dengan perlahan.
"Umm... kamu kenapa me-menangis?" tanyanya tergagap, tak biasa berbicara dengan orang lain. Terlebih lagi orang asing.
Suara tangis gadis itu berhenti. Ia mengangkat wajahnya dan menatap Eren lurus. Tapi wajahnya tak tampak jelas, entah kenapa. Seperti ada topeng bayangan yang menutupinya dari pandangan Eren. Eren mengedipkan mata beberapa kali.
Gadis itu nampak menimbang-nimbang apakah ia akan membagi masalahnya dengan anak laki-laki asing yang entah kenapa menghampirinya ini atau tidak. Setelah beberapa menit terdiam, gadis itu kembali menatap Eren.
"Aku... terpisah dari... Mama. Aku ke-kedinginan." Gadis kecil itu kembali sesenggukan.
Eren bingung harus ngapain. Dia tidak pernah punya teman, jadi tidak tahu bagaimana caranya menghibur seseorang yang sedang sedih. Oh! Tunggu dulu! Dia bilang dia kedinginan! Cepat-cepat Eren melepaskan syal merah di lehernya dan melilitkannya di leher gadis itu. Berantakan memang, maklumlah anak kecil.
Gadis itu tertegun. Ia memegang syal merah pemberian Eren erat-erat. Hangat. Bingung dengan apa yang harus ia lakukan, ia hanya terdiam sambil meresapi wangi cokelat hangat yang menguar dari syal Eren. Eren tersenyum lebar melihat gadis itu berhenti menggigil. Kedua matanya bersinar cerah mengalahkan mendungnya cuaca yang kurang bersahabat.
"Makasih," gadis itu berbisik lirih. Separuh wajahnya ditenggelamkan ke dalam kehangatan syal.
Eren mengangguk sambil terus tersenyum. Ia sangat senang bisa membantu orang lain. Tiba-tiba pemandangan di sekelilingnya kembali gelap. Eren kembali menutup matanya, membiarkan kegelapan kembali menelan raganya.
"Eren?"
Eren balik memandang wajah datar di atasnya. Pandangannya lalu bergeser ke sekeliling. Ia sudah kembali ke dalam penjara ini lagi.
Ternyata yang tadi itu mimpi? Umm... mimpi apa memangnya?
"Eren? Kamu kenapa? Lapar? Atau ada yang sakit? Butuh sesuatu?" tiba-tiba Armin muncul di zona penglihatannya. Mata langitnya menyiratkan kecemasan. Eren tersenyum kaku lalu menggeleng pelan. Bagian belakang kepalanya bergesekan dengan sesuatu yang lembut. Barulah ia sadar, kepalanya tidak sedang berada di atas ubin keras penjaranya. Kepalanya sedang berada di pangkuan Mikasa. Pipinya memanas. Terburu-buru ia bangkit dari posisi tidurnya.
"Ma-maaf!" serunya sambil menatap lubang kecil di ubin. Mikasa mengangkat sebelah alis.
"Ahahaha... Eren... kau bersemangat seperti biasa. Syukurlah," Armin tersenyum hangat kepada Eren yang masih memaku pandangan ke arah lubang kecil di bawahnya. Wajah manisnya makin merah. Wajahnya tidak mungkin bisa lebih merah dari ini.
Gruukk~ Terdengar suara merdu dari perut Eren. Oke, sepertinya wajahnya bisa lebih merah lagi. Armin tertawa, Mikasa terkekeh.
"Eren... Eren... kau benar-benar lucu!" ujar Armin di sela-sela tawanya. Yaelah, Min. Lo mah apa-apa lucu.
Gruuuk~ Suara itu kembali terdengar. Eren mengangkat wajahnya yang memerah dengan tatapan bingung. Itu bukan suara perutnya. Dari ekor matanya ia menangkap basah Armin sedang memegangi perutnya dengan senyum salting.
"Oke. sepertinya aku juga lapar," ucapnya malu. Ngetawain orang lagi!
Mereka terdiam agak lama. Canggung. Akhirnya Armin berdehem, mencairkan suasana.
"Baiklah, Eren. Kita sama-sama membutuhkan pasokan makanan saat ini. Jadi, ada saran?"
Eren terdiam. Apa yang harus ia katakan? Waktu makannya benar-benar tidak jelas. Kadang diberi makan, kadang dibiarkan saja dia kelaparan selama berhari-hari. Terkadang ia berpikir orang-orang gila pemilik tempat ini lupa kalau pernah mengurung seorang anak kecil di sini. Kalau beruntung, dia bisa mendapat roti yang sedikit lembut lengkap dengan segelas air bersih. Tapi dia lebih sering mendapat roti yang sudah kering. Memakannya saja butuh tenaga ekstra. Apalagi tanpa air minum, menelan roti kering benar-benar susah ketika kerongkonganmu juga tak kalah kering.
Melihat Eren yang masih memandang lubang kecil di ubin dengan ekspresi bingung, Armin mengelus-elus dagu. Berpikir. "Kalau nggak salah, beberapa hari yang lalu aku melihat ruangan makanan. Penuh sekali dengan makanan. Apa hanya imajinasiku saja? Kebetulan waktu itu aku melewatkan sarapan."
Eren memberikan si pirang perhatian penuhnya. Ia penasaran, apakah benar ada tempat penyimpanan makanan yang sangat banyak di gedung tua ini? Kalau ada, kenapa bagian tawanan hanya sepotong roti kering atau roti lembab yang sudah mulai berjamur? Eren menggeram rendah ketika wajah seorang pria tua muncul di dalam benaknya. Ia masih mengerutkan keningnya saat sebuah pikiran melintas. Tunggu! Beberapa hari yang lalu? Bukankah mereka berdua baru muncul hari ini? Batin Eren bingung.
Mikasa mengangguk. "Aku juga sekilas melihat ruangan itu." Ia mengambil buku kecil yang sempat terbengkalai. Ia membuka sebuah halaman, jarinya menelusuri coretan peta di atasnya dan berhenti di satu titik. "Kalau tidak salah... di sini ya?"
Armin melongok dari belakang Mikasa, kemudian menautkan kedua alis. "Nggak terlalu jauh dari sini ternyata." Eren ikut-ikutan melongok.
Ruangan yang ditunjuk Mikasa terletak dua pintu dari sebelah kiri ruangan penjara yang mereka tempati saat ini. Tidak terlalu jauh tapi juga tidak terlalu dekat, mengingat jarak antar pintu di bangunan ini adalah 10 meter. Itu berarti mereka harus menempuh sekitar 20 meter untuk mencapai ruangan itu. Selain itu, mereka juga harus melewati jalan masuk menuju lorong yang selalu dijaga ketat. Sekali menginjakkan kaki di depan jalan itu, mereka pasti akan langsung tertangkap tanpa sempat meneriakkan 'sial'. Bergerak 30 cm dari ruangannya saja dia pernah nyaris ditembak mati.
Ditembak.
Kedua matanya membulat ngeri. Kedua temannya bisa ditembak! Setelah akhirnya dia bisa mendapatkan teman yang nyata, bukan sekedar fragmen dari imajinasinya. Dia tidak mau kehilangan teman yang bahkan belum ia kenal selama sehari penuh!
"Hmmm... agak sulit kayaknya," Armin bergumam. Eren mengangguk-angguk dalam hati. Benar! Ini terlalu berbahaya!
"Menurutku ini tidak terlalu sulit. Bukankah kita sudah pernah menjelajahi bangunan ini tanpa pernah ketahuan?" Mikasa berujar. Eren terkejut bukan main. Menjelajahi bangunan tanpa ketahuan? Bagaimana bisa?
Armin mengangkat wajah. "Baiklah! Kita akan mengambil sedikit makanan dari sana. Kita tak akan bisa kabur kalau belum diisi energi." Eren memucat. Dengan panik, ia menarik-narik ujung jaket biru Armin. Si pirang mengangkat alis.
"Ada apa, Eren?" suaranya melembut. Eren menatapnya dengan pandangan bergetar lalu menggelengkan kepala keras-keras. Menunjukkan bahwa si rambut cokelat sangat menentang ide mereka yang ia anggap gila itu.
"Ja-jangan... kalian bi-bisa d-ditem-b-bak," Eren kembali menunduk. Suaranya bergetar lebih kencang di bagian kata 'ditembak'. Armin tampaknya lebih terkejut mendengar Eren yang akhirnya kembali berbicara. Ia tersenyum.
"Tenang saja, Eren. Kami tidak akan mati semudah itu." Armin menatap Mikasa dan dibalas dengan anggukan. "Kami akan melindungimu."
Eren terpaku. Sekilas ada kilauan aneh di mata biru itu. Lalu, lebih terang... lebih terang... huh? Apa ini perasaannya saja atau mata Armin jadi bersinar seperti lampion berwarna biru? Armin menyodorkan tangannya ke arah Eren. Eren hanya menatapnya tak percaya.
"K-kau... ma-matamu..."
"Percayalah, Eren, kau bisa pingsan lagi kalau kami ceritakan sekarang juga. Jadi, untuk sekarang, pegang tanganku dan kita akan baik-baik saja." Mata biru Armin berkilau terang. Ia kembali menawarkan tangannya. Mikasa sudah memegang tangan kiri si pirang, syal merahnya kembali melilit di leher pucatnya. Mata kelabunya menatap Eren. Walaupun sekilas tampak dingin, ada kehangatan yang meyakinkan memancar dari iris gelapnya. Dengan sedikit ragu, Eren menggenggam tangan kanan Armin. Hangat, pikirnya.
Armin tersenyum senang ketika dirasakannya tangan si mata samudera mulai rileks dalam genggamannya. Ia menuntun kedua temannya hingga di depan pintu baja yang selalu berdecit menyebalkan ketika dibuka. Eren baru sadar, bagaimana caranya mereka membuka pintu itu? Hanya ada tiga pasang tangan kecil dan kurus di sini! Ia menoleh menghadap si rambut pirang untuk meyakinkannya kalau ini ide buruk, tapi orangnya sedang menatap teman rambut arangnya.
"Oke. Mikasa? Aku yakin kau bisa."
"Jangan pernah meragukanku."
Mikasa maju selangkah, tangan kirinya yang tidak memegang tangan Armin menyentuh permukaan pintu baja itu. Eren menatapnya tak percaya. Apa gadis itu sudah gila? Tangannya bisa remuk kalau dia mencoba membuka pintu seberat entah berapa kilogram itu. Bola mata Eren menatap wajah Mikasa yang sekarang sedang meraba permukaan pintu baja itu dengan tampang datar. Saat Eren mencoba mencari keraguan di mata baja gadis tersebut, matanya perlahan-lahan berganti warna.
Merah. Berkobar terang dalam gelap.
Eren tersentak kaget ketika melihat mata gadis di sebelah kiri Armin itu berubah sewarna dengan darah. Warna yang sudah berkali-kali ia lihat di tubuhnya... juga ketika malam itu. Ia mengangkat tangan kanannya, menutupi bibirnya rapat-rapat. Ia tak mau membuat teman-teman barunya khawatir lagi ketika ia terkena panic attack. Walau saat ini ia sangat ingin berteriak histeris untuk melepaskan ketakutannya yang kembali timbul, tapi ia harus berusaha menahannya. Hanya untuk saat ini. Ya, hanya untuk saat ini.
Eren memejamkan mata erat-erat ketika tangan kiri Mikasa tanpa susah payah mendorong pintu baja hingga terbuka. Suara decitan itu kembali terdengar, membuat si rambut cokelat tersentak pelan. Ia harap tak ada penjaga yang menyadari suara ini. Ia heran, kenapa dua orang yang bersamanya saat ini tidak khawatir ketahuan. Dengan suara decitan sekeras itu, harusnya para penjaga di dekat sini akan langsung datang.
Tapi, ketika mereka sudah menyelip keluar ke lorong, tak ada satu pun penjaga yang menyergap mereka. Aneh. Ini terlalu aneh. Mereka berdua terlalu aneh.
"Eren?"
Eren membuka matanya secara mendadak. Cahaya lampu di lorong nyaris membutakannya yang sudah terbiasa dengan kegelapan. Cahaya berwarna emas. Ia menyipitkan matanya, berusaha membiasakan diri dengan cahaya di sekitarnya. Kalau dipikir-pikir, kenapa Armin dan Mikasa bisa melihat dengan jelas di dalam sel? Kalau dia memang sudah terbiasa karena sudah berada di sana selama... entahlah. Tapi mereka berdua? Padahal ketika ia pertama kali memasuki ruangan itu, hanya kegelapan absolut yang menyambutnya.
"Eren? Kau dengar aku? Kau tidak apa-apa 'kan?" suara cemas Armin kembali merasuki indera pendengaran Eren. Hm? Cahaya lampunya berwarna putih? Secara perlahan, Eren melebarkan matanya lalu menoleh ke arah teman pirangnya. Matanya sudah tak bersinar seperti tadi. Tapi samar-samar masih tampak kilauan biru dari matanya. Mata Mikasa juga sudah kembali berwarna kelabu kelam seperti sebelumnya.
"Eren?" kali ini Mikasa yang bersuara.
Eren tersentak lalu menunduk. "Ah... uhm... a-aku ng-gak apa-apa."
Saat tidak ada yang menyahut, Eren mengangkat kepalanya. Mikasa dan Armin tampak sedang membicarakan sesuatu dengan suara rendah, seakan tak ingin ia ikut mendengarkan. Eren menganggap maklum. Mereka baru saja bertemu, mana mungkin bisa mempercayainya semudah itu untuk berbagi pikiran. Tapi, tetap saja, hal ini membuat hati kecilnya sedih. Apa mungkin ia memang tak akan pernah bisa punya teman?
"Ayo," Armin berbisik halus. Tangan kanan Eren ditarik perlahan, membuat pemiliknya berjalan berdampingan dengan teman pirangnya. Dengan santai, Armin mengarahkan kedua temannya menuju ruangan yang ia maksud. Seakan-akan mereka hanya jalan-jalan di pantai sambil menikmati pemandangan sunset, bukannya sedang mengeksplorasi markas penjahat tanpa perlindungan apapun.
Eren masih menganggap kalau ini bukan ide bagus. Keringat dingin mengucur deras ketika ia melihat seorang penjaga berpakaian ala men in black muncul dari belokan beberapa meter sebelum ruangan yang mereka tuju. Eren panik. Ia menarik-narik tangannya yang digenggam Armin, tapi anak laki-laki pirang itu tetap bergeming. Mata samuderanya beralih ke arah Mikasa yang juga tak menghiraukan permohonannya untuk lari dan kembali ke penjara gelap itu lagi. Eren mengembalikan tatapannya kepada sang penjaga yang kini tengah berjalan kaku ke arah mereka.
Bola mata eksotisnya kembali mengarah kepada kedua temannya. Ia berusaha menyampaikan pikirannya tanpa suara, takut terdengar oleh sang penjaga. Tapi kedua temannya masih cuek bebek. Malah langkah mereka seperti semakin dipercepat.
Eren gemetaran. Ia berusaha menghindari tatapan sang penjaga yang makin lama makin mendekati mereka. Tapi, kenapa ia tak sadar juga kalau ada tiga anak kecil tengah berjalan ke arahnya. Walaupun penerangan di lorong bagian ini sudah mati, bukankah seharusnya tetap terlihat walau hanya siluet? Eren mengepalkan kedua tangan gugup, seakan hal itu dapat membuatnya tak terlihat oleh sang penjaga.
Armin dan Mikasa tampaknya sadar akan kegugupan si rambut cokelat karena detik berikutnya tangan mereka berdua menggamit masing-masing tangan Eren dan membuat mereka merapat serapat mungkin. Paling tidak suhu tubuh orang lain dapat menenangkan kegugupannya.
Jarak mereka semakin dekat sampai akhirnya mereka berpapasan. Eren tak sengaja bertemu pandang dengan si penjaga, namun tak ada tanda-tanda bahwa si penjaga akan menangkapnya atau bahkan menyadari keberadaannya. Kenapa?
Ketika Eren sibuk memikirkan bagaimana bisa mereka tidak ditangkap lalu diseret kembali ke tempat semula, mereka sudah sampai di depan sebuah pintu kayu lapuk dengan warna kayu yang sudah menghitam karena lembab. Armin menyentuh ukiran samar dan struktur kayu lapuk tersebut lalu mengangguk.
"Aku ingat. Pintu ini sama dengan pintu yang aku temukan waktu itu."
"Jadi?"
"Kita masuk."
"Tu-tunggu dulu!"
Armin tak jadi meraih kenop pintu dan beralih ke Eren, begitu pula Mikasa.
"Ada apa, Eren?"
"Ah." Eren menatap lantai keramik di bawahnya. "Apa kalian... nggak merasa aneh?"
Mikasa mengangkat alis tak mengerti. "Hm? Aneh apanya?"
"Maksudku... mana mungkin tangan kurus anak perempuan bisa mendorong pintu baja seberat itu dengan mudah! Lalu, yang barusan! Kenapa kita bisa melewati penjaga itu dengan mudah?! Dia seolah-olah nggak menyadari keberadaan kita, kalian tahu?! Apa yang seben− Umph!" Eren tak sempat menyelesaikan komplainnya karena tangan Mikasa sudah membungkam mulutnya duluan.
"Sssstttt... Nanti kita ketahuan beneran!" bisik Mikasa di telinganya. Eren bersungut-sungut ketika tangan Mikasa sudah meninggalkan bibirnya.
"Kamu senang sekali membekap orang, Mikasa," ujar Eren sambil mengerucutkan bibir.
Armin tertawa. "Ternyata kamu bisa komplain sepanjang ini! Aku bener-bener nggak nyangka lho! Soalnya selama ini kamu lebih banyak diamnya."
Eren menghindari tatapan kedua temannya. "Aku... hanya belum terbiasa."
"Hmm..." Armin bertopang dagu sambil mempelajari mimik muka Eren. "Lama-lama juga terbiasa. Ayo cepat masuk! Mumpung ada kesempatan."
Mikasa mengangguk. Eren juga mengangguk walau masih ragu. Sesekali, matanya jelalatan ke segala arah untuk memastikan keadaan di sekitar mereka aman.
Armin memutar kenop pintu hingga terdengar suara klik kemudian mendorong pintu itu perlahan. Di dalam ruangan sangat gelap. Tak ada sumber cahaya sedikit pun. mereka bertiga meraba-raba dinding mencari tombol untuk menghidupkan lampu. Entah ada atau tidak.
Srek... srek... kres... cup... gluk...
"Kau dengar itu Mikasa?" si pirang memulai.
"Hn. Palingan tikus," ujar Mikasa sambil lalu. Ia masih fokus mencari-cari tombol lampu. Armin berhenti mencari lampu untuk mendengarkan sekelilingnya lebih jelas. Tapi, suara itu tak kunjung datang kembali. Ia pun mengangkat bahu dan berdeduksi kalau itu memang cuma tikus.
"Oh! Kayaknya ini tombolnya?" Eren berseru pelan kepada kedua temannya.
"Tunggu Eren−" Armin ingin mencegah Eren menghidupkan lampu, namun terlambat, anak bermata hijau kebiruan itu sudah terlanjur menekannya. Ruangan itu tak hanya menjadi terang benderang, tapi juga dipenuhi suara tembakan dan teriakan.
"Sial!"
Mereka bertiga berusaha menghindari peluru. Mata Mikasa kembali bersinar merah. Dengan kecepatan tinggi, ia menangkis peluru-peluru tersebut. Sedangkan Armin mengeluarkan dua buah pistol perak dari tempat yang tak terduga lalu mulai menembakkannya ke arah yang ia prediksi tempat musuh berada. Sedangkan Eren berdiri kebingungan di belakang kedua temannya. Ia benar-benar tak menyangka kalau di dalam penyimpanan makanan pun akan ada penjaga. Dan, bagaimana mungkin dia tidak sadar Armin selama ini membawa senjata.
A-apa yang harus kulakukan? Kalau begini terus, aku cuma jadi beban! Mata besarnya memandang berkeliling mencari sesuatu yang setidaknya bisa ia jadikan pelindung. Lalu ia melihat moncong pistol muncul dari sela-sela tumpukan kotak berisi makanan di belakang Armin. Kedua permata berkilaunya membulat horor. Ketika peluru ditembakkan, otomatis tubuhnya bergerak menuju Armin dan menjadikan dirinya sendiri tameng.
"EREN!"
Teriakan kedua temannya terdengar semakin jauh. Bahu dan lututnya terasa perih. Sedikit demi sedikit kesadarannya menghilang. Hal terakhir yang ia lihat adalah cahaya emas itu.
Akhirnya cerita ini saya lanjutkan juga! Saya sebenarnya benar-benar semangat mengerjakan cerita ini, tapi writer block selalu menghampiri, jadi update-nya lambat.
Jadinya, setelah saya pikir-pikir, tiga anak yang kabur itu belum bisa saya munculkan di chapter ini, huehehe.
(= RnR =)
