Disc:
Naruto © Masashi Kishimoto
High School DxD © Ichiei Ishibumi
Date A Live © Koshi Tachibana
.
.
.
A NINJA AND THE GUARDIAN ANGEL
By Bayu
.
.
.
Chapter 3. Rubah kecil, nama, dan keluarga
.
.
.
Naruto hanya memasang wajah yang seperti mengatakan 'Apa maksudmu? Aku tidak mengerti?'
Gadis aneh itu hanya menghela nafas. Dengan bibir manyun, dia berkata,"Pikirkan nama untukku bodoh! aku sudah tidak tahan lagi disebut cerewet atau aneh itu..."
Dia menundukkan kepalanya lalu menggeleng beberapa kali. Tampak jelas dia kebingungan mengenai apa yang ingin dia katakan dan setelah itu...
"Itu... itu... sangat menjengkelkan. Kau tahu bahkan benda-benda di sekitar sini juga punya nama, kan? batu itu, pohon itu, sungai, bahkan apa yang kumakan ini disebut ikan bakar, kan? Jadi... tolong berikanlah aku hal seperti itu..."
Gadis aneh itu terus mengatakan semua yang ada di pikirannya dan apapun yang ia rasakan dengan suara lirih di kalimat terakhirnya. Tanpa bisa ditahan, air mata jatuh membawa serta gejolak hatinya.
Naruto hanya diam. Tertegun dengan apa yang dikatakan lawan bicaranya. Sorot matanya kental akan penyesalan.
'Sepertinya aku sudah keterlaluan padanya.'
Dengan semua perasaan dan keinginan di hatinya, satu kata terucapkan.
"Maaf."
Gadis aneh itu mengangkat wajahnya dan menatap Naruto. Sungai kecil tampak terlihat di kedua pipinya.
Naruto grogi. Tangan kirinya menggaruk-garuk belakang kepalanya. Pandangannya dialihkannya ke arah lain. Namun akhirnya dia menyerah dan menatap gadis itu serius.
"Maaf. Aku tidak bermaksud melukai perasaanmu. Aku hanya merasa lelah. Jadi, maaf."
Gadis itu masih terdiam. Masih memandang Naruto. Naruto menoleh ke samping.
"Sudahlah! Memberi nama itu bukan hal mudah, tebayoo. Jadi, besok saja! Sekarang aku mengantuk, tebayoo. Aoi."
"Benarkah?" ekspresi gadis aneh berubah ceria namun balasan yang didengarnya hanyalah dengkuran dari lawan bicaranya.
Naruto tertidur seketika dengan posisi terbaring terlentang di atas rerumputan. Dia benar-benar kelelahan setelah menjalani semua kejadian yang menguras tenaganya. Ditambah mengurus dua gadis aneh itu, menambah rasa kesulitannya menanjak naik sampai dua kali lipat.
Seperti itulah keadaannya.
Suasana menjadi hening ketika Naruto tidur. Origami juga sepertinya sudah tertidur dan duduk menyandar di batang pohon. Angin berdesir pelan untuk mendukung para makhluk itu agar cepat beristirahat.
Merasakan hawa dingin, gadis aneh itu beranjak ke samping Naruto tidur. Dia memposisikan kepalanya di atas pundak pemuda itu. Tangan kanannya memeluk pinggang pemuda kuning yang sudah pulas ke alam mimpi. Tak lama kemudian, gadis aneh itu tertidur dengan rasa damai.
TAP! TAP! TAP!
Saat semua orang tertidur, tiba-tiba terlihatlah sosok gadis kecil mendatangi mereka. Hidungnya mengendus bau yang terbawa udara. Mata emasnya langsung berbinar-binar karenanya.
la melihat sepotong ikan bakar. Lalu mengambil ikan bakar itu dan melahapnya dengan rakus. Setelah gadis itu memakan habis ikan bakar itu, entah disengaja atau memang karena mengantuk. Gadis itu berjalan ke atas Naruto dan tidur di atas perutnya. Sembilan ekor berbulu keemasan miliknya melingkar menyelimuti tubuh ketiganya.
.
.
.
CRIK! CRIK! CRIK!
Matahari mulai menunjukkan sinarnya. Perlahan-lahan mulai merangkak naik dari ufuk timur. Memberikan kehangatan dan sinarnya kepada semua makhluk hidup. Juga sebagai pertanda bahwa hari mulai pagi.
Lukisan pemandangan alam pagi yang cerah memberikan kesan tersendiri bagi siapa saja yang memandangnya. Burung-burung juga berkicau untuk menyemarakkan suasana pagi. Memberikan senandung yang begitu indah seirama angin pagi yang begitu menyejukkan hati. Saatnya menemani insan di dunia untuk melakukan aktifitas sehariannya.
Di sekitar sungai yang berair jernih, tampak empat sosok sedang berkumpul. Di mana tiga di antaranya sedang duduk di dekat sosok laki-laki yang masih bermimpi. Lengkap dengan dengkuran dan gigauannya.
"Ramen Chan... tolong jangan pergi..."
Ya, begitulah kira-kira.
Sementara itu, gadis berambut ungu gelap memasang ekspresi kesal. Lantaran semua usahanya membangunkan si laki-laki yaitu Naruto, hanya menghasilkan kegagalan.
"HOI, NARUTO! CEPAT BANGUN! KAU JANJI MEMBERIKU NAMA SEKARANG BUKAN!?" rupanya dia kesal karena mengingat janjinya.
Sementara itu...
"Hihihihi. Guratan ini seperti kumis kucing ya."
Gadis kecil berambut pirang panjang, mencolek-colek pipi Naruto sambil mengungkapkan pendapatnya tentang penampilan wajah Naruto yang menurutnya mirip kumis kucing itu. Telinga rubah yang menyembul dari helaian rambutnya bergerak-gerak. Sembilan ekornya melambai-lambai dengan irama tertentu seolah melambangkan suasana hati pemiliknya yang penuh rasa penasaran.
Salah satu dari sembilan ekor itu bergerak menggosok hidung Naruto. Berharap bisa membangunkannya dan hasilnya...
"HACHI..."
Sebuah suara nyanyian yang membawa serta zat lengket yaitu ingus, keluar lewat hidungnya.
"Emmnhh... Hoaaaamm... Ohayou...!"
Masih dalam keadaan setengah sadar, Naruto berkata.
"Ohayo mo."
Gadis berambut putih yang diketahui bernama Origami membalas sambil menyodorkan cabe merah. Salah satu tanaman yang dibawa bunsin Naruto sebagai bumbu ikan bakarnya.
"Ah. Sankyuu.. Dattebayoo!"
Masih dengan kesadaran yang belum sepenuhnya pulih, Naruto menerimanya dan dengan bodohnya langsung menggigitnya.
"Hmm... buah ini sedikit kecut."
"Cabe lagi."
Origami memerintah.
Naruto memakannya lagi. Setelah itu...
Pffrrt.
"PEDAS!"
Kritical blese for Origami...
Tiba-tiba, terdengarlah suara seseorang yang terjun ke dalam air sungai.
JEBYUR!
"Haaaa... haaaa... haaaa... kau mencoba membuat racun jenis baru ya?"
Naruto berkata demikian setelah minum atau dengan kata lain menyebur ke dalam air sungai. Tangannya komat-kamit guna menghilangkan rasa panas di dalam rongga mulutnya. Masih dalam keadaan yang bernama kepedasan, dia melanjutkan.
"Dan kau menjadikanku kelinci percobaannya! itu kejam tebayoo... hiks... hiks..." Naruto berkata seperti itu dengan wajah sedih dan tangis yang dibuat-buat.
Niatnya, supaya pelakunya merasa iba. Lalu minta maaf dengan penuh penyesalan. Tapi, karena aktingnya buruk. Wajah yang seharusnya membuat orang iba. Malah menjadi wajah konyol dan aneh bin menggelitik yang terlihat. Alhasil, hampir semuanya tertawa. Origami, meski tidak bersuara, tapi wajahnya menunduk dengan bahu yang gemetar, jelas sekali kalau dia mati-matian meredam suara tawanya. Mungkin jika kau di bawahnya, kau bisa melihat ekspresi tawanya. Gadis pirang itu, jangan ditanya lagi.
Gadis kecil dengan telinga dan ekor rubah itu, saat ini sedang memegang perutnya yang sakit akibat tawanya.
Menunjukkan wajahnya yang sewot karena semua orang menertawakannya kecuali si gadis berambut ungu gelap, Naruto keluar dari dalam sungai dengan keadaan yang sudah basah kuyup. Rambut pirangnya lusuh dan berantakan. Memandang semua orang dengan pandangan yang sulit untuk diartikan.
Oke, berhubung orang terakhir sedang kesal, jadi, mari balik ke topik.
Sang gadis berambut ungu gelap pun bertanya pada Naruto.
"Hei, Naruto sudah ketemu belum?"
"Ehmm... memang apanya?"
Drap! Kratak! Bwwoooss!
Suara hentakan kaki diikuti retakan tanah dan kemunculan singgasana emas dengan pedang yang tertancap di sana.
SSRRIIIKKK!
Kedua tangan gadis aneh itu menarik pedang dari singgasana itu. Kemudian...
Blaaaarrr!
Tercipta garis lurus memanjang di tanah tempat Naruto tadi. Naruto kaget setengah mati. Kedua matanya membulat sempurna.
"Eh...!"
BETS!
Untung refleknya bagus, kalau tidak, dia sudah pasti terbelah dua.
Pandangan gadis aneh itu menajam.
"Hei... hei... hei... memangnya ada apa ini?"
Mengangkat pedangnya ke atas.
"Tu-Tunggu tunggu... tunggu dulu!"
Naruto panik. Kedua tangannya komat-kamit guna meredakan rasa panik. Wajahnya pucat pasi bak orang menerima hukuman mati.
Teringat dengan percakapannya semalam dengan gadis itu, dia berusaha mencari tahu apa yang membuat gadis berambut ungu gelap itu mengamuk. Dia berusaha keras untuk mencari akar permasalahannya. Setelah menggali ingatannya dengan susah payah, akhirnya dia mengerti. Satu kata terucap olehnya.
"Tome."
Selanjutnya...
BLAAAARRRR!
Beberapa helai rambut kuningnya jatuh ke tanah. Bersamaan dengan terpotongnya pohon besar di belakangnya secara diagonal.
Origami, hanya memperhatikan semua kejadian di depannya bukan karena tak ingin membantu atau tak peduli dengan keadaan orang lain. Oke, katakanlah dia memang sangat membenci makhluk yang telah menewaskan kedua orang tuanya itu. Tapi, dia masih waras. Ia mengerti jika menyerang langsung saat ini sama saja bohong. Belum lagi keberadaan gadis rubah kecil di hadapannya. Dari sini Origami bisa berasumsi bahwa keributan hanya akan memperpanjang masalahnya sekarang. Lagipula, Origami menilai menaruh kepercayaan pada pemuda yang memperkenalkan diri sebagai Naruto itu. Karena meski terus diabaikan olehnya, Naruto tetap saja mengoceh dan menanyakan keadaannya dengan tulus dan tanpa beban.
Lain Origami lain pula si rubah kecil. Matanya berbinar-binar melihat efek ayunan pedang di depannya. Satu kata yang ada di dalam pikirannya hanyalah 'Wow' yang kental dengan rasa takjub.
Kembali ke cerita.
Tubuh Naruto gemetar. Keringat dingin membanjiri wajahnya. Gadis di depannya ini bahkan lebih menakutkan dari rekan setimnya, Sakura, jika sedang marah. Sungguh, untuk pahlawan perang sepertinya, ini lebih memalukan daripada menakutkan.
"Ayolah! pikirkan sesuatu. Kau yang lahir 10 oktober, jincuriki Kyuubi dan arrggh bukan saatnya membanggakan diri, tebayoo! oh, tunggu..."
"To-Tohka?"
"Huh."
"Namamu, Tohka."
"Ya. Itu lebih baik dari tome tadi."
'Arigatou. Kaasan telah melahirkanku tanggal 10. Dan apa apaan itu? Jadi dia salah dengar tentang tome tadi, huh?'
Kemarahan gadis berambut ungu gelap yang kini bernama Tohka itu, mereda. Dia menurunkan pedang besarnya dan menancapkan pedang besarnya ke tanah. Wajahnya berbinar-binar seperti matahari yang bersinar. Senyuman kecil terukir di wajahnya.
Menyaksikan itu, Naruto menghembuskan napasnya. Untung sekali, masalah kecil ini terselesaikan dengan cepat berkat kecerdasan otaknya yang begitu tiba-tiba.
Lalu semua orang saling memandang dalam diam. Baru menyadari bahwa ada satu makhluk asing yang berada di antara mereka.
"Ne-Nee chan."
Si rubah kecil menarik-narik ujung pakaian Tohka dan membuatnya menoleh.
"Apa?"
"Itu..." tangan mungilnya menunjuk pedang yang digenggam Tohka."Pedang apa?"
"Ini sandhalpon. Malaikat pelindungku."
Tohka menjawab dengan santai.
"Hei, boleh aku tahu siapa namamu?" merasa familier dengan wujud gadis kecil bertelinga rubah di depannya, Naruto mengajukan pertanyaan.
Yang ditanya hanya menoleh dan memasang muka imutnya. Melihat hal itu, Naruto akhirnya kembali berucap.
"Nama onisan Naruto. Kau bisa panggil Naruto Nisan. Kalau yang membawa pedang itu, Tohka neechan. Dan yang berambut putih itu Origami neechan."
"Namaku Kumou. Salam kenal Nichan, Neechan..."
Dari awal perkenalan itu, membawa mereka dalam satu keluarga yang akrab.
.
.
.
Hari-hari telah berlalu dengan cepat. Kini sudah satu tahun Naruto, Tohka, dan Origami tinggal di dunia baru ini. Dan sekarang mereka tinggal bersama Kumou dan ibunya, di Kyoto.
Awalnya mereka enggan dan sungkan lantaran ibu Kumou Yasaka hime adalah pemimpin Yokai kyoto sang Kyuubi no kitsune. Tapi, berkat usaha Kumou yang memaksa dan memberi alasannya akhirnya mereka menerimanya.
.
.
.
Naruto PoV
.
.
.
"Hah... Aku benci hari senin."
Namaku Uzumaki Naruto. Umurku 17 tahun dan bersekolah di Kyoto Gakuen. Sebenarnya aku paling malas sekolah. Aku suka berlatih dan makan ramen, yang tidak kusukai adalah sayuran. Hobi? aku tidak tahu apa hal ini termasuk hobi, tapi, aku suka menjahili orang.
"Ohayo, Naruto! Tumben kau bangun pagi?"
Seseorang menyapaku saat aku keluar dari kamarku. Aku menoleh ke arah sumber suara dan mendapati seseorang yang berjalan pelan mendekatiku.
Yatogami Tohka. Hm... Ceria. Enerjik dan bersemangat seperti biasanya. Gadis dengan rambut ungu gelap dan mata jernih bagai kristal. Wajahnya cantik. Tapi, kadang sangat menjengkelkan. Dia cekatan dalam melakukan suatu hal. Dia mempunyai rasa ingin tahu yang abnormal dengan hal baru yang ditemuinya, dan juga teman sekelasku.
"Heh... Paling-paling cuma habis dibangunkan Kumou dengan jurus andalannya."
Tiba-tiba, muncul suara datar yang menyebalkan bagiku. Aku juga menoleh ke arah asal suara dan menemukan seseorang yang baru saja keluar dari kamarnya, yang persis berhadapan denganku.
Tobiichi Origami. Dia mengingatkanku dengan Teme, temanku dengan wajah datarnya yang menjengkelkan. Meski begitu, dia sangat suka menjahiliku dan membuatku kesal. Bayangkan saja, saat kau merasa pusing karena terbentur sisi ranjang - karena kaget dengan aksi Kumou yang membangunkannya - dengan tanpa rasa bersalah memberikanku roti isi paprika dan wasabi sehingga aku berakhir berjam-jam di kamar mandi. Karena reaksi baru terasa saat rotinya habis. Ah, dasar payah.
Meski begitu dia dijuluki si super jenius dalam semua mata pelajaran karena kemampuannya.
"Ah, aku hanya merasa bersemangat hari ini."
Aku berkata sambil menggaruk-garuk belakang kepalaku. Sebuah kebiasaan yang selalu kulakukan saat sedang kikuk atau semacamnya.
"Jadi, kau sudah siap dengan mata pelajaran ujian kenaikan kelas hari ini?"
Ya ampun... Jangan merusak Mood-ku, Tohka.
"Dan jam pertama adalah matematika yang berarti..."
Jangan katakan... Jangan katakan, kumohon. Aku lebih memilih dihujani biju dama daripada mendengarnya.
"Logaritma."
DOOONG!
"Terkutuklah siapapun yang menciptakan rumus fuinjutsu yang super menyebalkan ini..."
Aku kehilangan semangatku dan semakin membenci hari senin. Ditambah aura kesuraman yang hinggap di atas kepalaku sekarang.
.
.
.
BERSAMBUNG
.
.
.
A/N:
Chapter 3 sudah up!
Kalau ingin bertanya lebih jauh lagi tentang fic ini, silakan bertanya saja pada Bayu yang menulis fic ini pada akun ffn-nya yang bernama " The Spirit of Wind". Oke?
Saya, Hikasya, di sini, hanya berperan sebagai pengedit dan mempublish fic ini di akun saya. Saat ini, saya akan jarang membuat cerita ffn karena terkendala kesibukan di dunia nyata. Terus mungkin saya hanya bisa mengupdate fic-fic karya teman-teman saya di akun saya ini. Ya, bisa dibilang saya membantu untuk mempromosikan hasil karya mereka di akun saya.
Soal request-request fic yang belum saya respon saat ini, tenang saja, cepat atau lambat, bakal saya buatkan kok. Itu menunggu waktu, ide cerita, mood, dan tempat yang nyaman buat menulisnya. Semoga saya mendapatkan pencerahan untuk bisa memenuhi semua request fic itu.
Untuk Bayu, maaf jika saya menambahkan kekurangan yang ada di dalam naskah cerita yang kamu kirim itu. Semoga kamu memakluminya ya.
Hmm, sudah kepanjangan yang saya tulis, ya... Semoga kalian semua terhibur dengan cerita Bayu ini dengan sentuhan sedikit tambahan editan dari saya.
Terima kasih banyak sudah membaca cerita ini.
Tertanda Hikasya dan Bayu.
Jumat, 24 Februari 2017
