Phobia : Yuri

.

.

.

.

[Sasuke Uchiha, Sakura Haruno] Ino Yamanaka

.

.

.

.

Masashi Kishimoto

.

.

.

©Aomine Sakura

.

.

.

DLDR! (Jika tidak suka dengan adegan di dalamnya atau cerita yang dibuat Author, silahkan klik tombol back! Dilarang COPAS atau PLAGIAT dalam bentuk apapun! M for Save!)

Selamat Membaca!

oOo Phobia : Yuri oOo

"Hn."

Sakura mendenguskan wajahnya. Mau apa bajingan brengsek itu datang ke ruangannya?

"Aku sedang tidak menerima tamu," ucap Sakura.

"Aku tidak peduli kamu menerima tamu atau tidak." Sasuke meletakan bungkusan di meja Sakura.

Sakura sedikit melirik bungkusan itu sebelum kembali fokus pada berkas milik pasiennya. Dia tidak tertarik dengan Uchiha Sasuke atau apapun yang dibawa pemuda itu. Tanpa di beritahu, dia tahu apa tujuan bungsu Uchiha itu datang kemari.

Sasuke duduk di salah satu sofa dengan acuh tak acuh sebelum mengeluarkan sesuatu dari balik saku jasnya. Di mulutnya kini sudah tersumpal sebatang rokok dan sudah siap dia nyalakan. Ketika rokok sudah mulai menyala, rasanya seluruh saraf milik Sasuke terasa begitu rileks. Nikotin memang membuatnya selalu rileks dikala penat mulai menghampirinya.

"Uhuk.. Uhuhk.." Sakura memandang tajam Sasuke yang sedang mengepulkan asap rokok di ruangannya. Memangnya pemuda bodoh itu tidak tahu apa?! Di rumah Sakit dilarang untuk merokok! Bahkan anak TK saja tahu tentang peraturan itu. Sepertinya ada yang salah dengan otak bungsu Uchiha itu.

"Uhuk.. hentikan rokokmu itu, bodoh! Apa kamu tidak tahu ada larangan untuk tidak merokok di rumah Sakit?" Sakura mengibaskan tangannya.

Sasuke memicing menatap gadis yang sedang duduk di hadapannya sebelum mematikan rokoknya. Dia bisa melihat gadis itu mengeluarkan sesuatu dan meminumnya.

"Kamu membuatku harus meminum obat menyebalkan itu lagi," keluh Sakura sebelum memandang Sasuke. "Apakah hanya tampilanmu saja yang seperti orang berpendidikan, tetapi nyatanya sikapmu tidak upahnya seperti orang rendahan."

Sasuke mendenguskan wajahnya mendengar kata demi kata yang keluar dari mulut Sakura. Biasanya dia akan langsung menggampar siapapun yang berani mengatakan itu di hadapannya. Entah mengapa, dia tidak bisa berkutik ketika di hadapkan oleh Sakura.

Membuang rokoknya ke tempat sampah, Sasuke memandang Sakura yang masih berkutat dengan dokumennya dan mengacuhkannya. Memandangi wajah Sakura membuat sesuatu dalam hatinya berdebar. Gadis itu memang tak cantik seperti gadis-gadis yang biasa dia temui, namun garis kemisteriusan di wajahnya membuatnya menjadi tertarik. Gadis itu, gadis tercuek yang pernah dia temui.

Selama ini, tidak ada gadis manapun yang pernah menolak pesonanya. Baru kali ini ada seorang gadis yang menolak pesonanya dan itu adalah Haruno Sakura.

"Hn, makanlah makan siangmu." Itu adalah sebuah perintah.

Sakura sedikit memandang Sasuke sebelum kembali fokus pada dokumennya.

"Aku sedang diet."

"Hn. Tidak baik seorang gadis diet terlalu ketat." Sasuke bangkit dari duduknya. "Itu merupakan perintah. Aku akan pergi, tetapi kamu harus menghabiskan makan siangmu."

Sakura tetap diam dan hanya melirik Sasuke dari ekor matanya. Memandang bungkusan yang dibawa Sasuke, kemudian tangannya terulur untuk membuang makan siang yang diberikan Sasuke ke tempat sampah.

Siapa juga yang mau memakan makan siang dari pemuda itu?

.

.

.

Sakura menarik nafas panjang ketika memarkir mobilnya di halaman rumahnya. Hari ini begitu melelahkan, dia ingin makan yang lezat dan tidur dengan nyenyak. Kedatangan Uchiha Sasuke ke tempatnya bekerja membuat moodnya berubah total.

Emeraldnya menangkap sebuah lamborghini yang terparkir di halaman rumahnya juga. Bukankah itu mobil milik Itachi? Mau apa sulung Uchiha itu dirumahnya?

Dan ketika Sakura membuka pintu rumahnya, betapa terkejutnya ia ketika melihat siapa yang duduk di kursi meja makan. Hatinya menghangat ketika melihat senyuman itu.

"Okaeri, Sakura."

Senyumnya langsung terkembang dan air mata mengambang di pelupuk matanya. Sakura langsung berlari memeluk pemuda yang duduk di kursi meja makan miliknya.

"Tadaima, Onii-chan!"

Sasori tersenyum sebelum mengelus punggung Sakura dengan lembut. Meski hanya satu bulan berpisah dari adiknya, tetapi rasanya sudah seperti bertahun-tahun. Bersama sejak kecil, membuatnya tidak bisa berpisah dari adiknya itu.

"Nee, Onii-chan! Nii-chan bilang akan pulang besok!" Sakura melepaskan pelukannya.

"Hmm.. Kejutan!" Sasori tersenyum dan mencium pipi adiknya dengan lembut.

"Mou! Onii-chan!"

Sasori tidak bisa menahan tawanya. Dia begitu suka memperlakukan adiknya seperti anak kecil. Meski kini adiknya itu sudah menginjak kepala dua, dia tetap menganggap adiknya seperti anak berumur empat tahun.

"Sudah pulang, Sakura?" Itachi muncul dengan sepiring Yakiniku di tangannya.

Sakura memandang Itachi dan merengut kesal.

"Nii-chan menyebalkan!"

Itachi tidak bisa menahan tawanya ketika melihat bagaimana Sakura merengut kesal. Dia sudah mengenal Sakura sedari kecil, dan sudah tahu bagaimana watak gadis itu. Dia menganggap Sakura seperti adiknya sendiri, dia menyayangi Sakura seperti adiknya sendiri.

"Sudah-sudah, ayo kita makan Yakinikunya."

.

.

.

Sakura menarik nafas panjang dan meletakan bingkai foto di meja riasnya. Dia begitu membenci orang itu, membencinya sampai ke tulang-tulangnya. Bagaimana orang itu membuatnya menjadi seperti ini, bagaimana orang itu menanamkan rasa sakit yang membuatnya menjadi trauma. Dan ketika itu terjadi, kakaknya dan Ino yang ada disisinya. Bagaimana mereka membantunya berdiri dan memeluk punggungnya dengan erat.

Ino adalah satu-satunya sahabat yang dia punya. Hanya Inolah yang mau menerimanya, selalu berada disisinya dan selalu mendukungnya. Kemudian rasa di hatinya kepada Ino berubah, dan ternyata gadis itu juga memiliki rasa yang sama.

Tetapi akal sehat membuat mereka tidak bisa bersatu, meski di beberapa negara sudah melegalkan pernikahan sejenis. Ino kemudian memintanya untuk melupakan perasaan mereka. Dan dia tidak bisa melupakan begitu saja perasaannya terhadap Ino.

"Kenapa memandangi foto itu terus menerus?"

Sakura mengangkat kepalanya dan memandang kakaknya yang berdiri diambang pintu kamarnya. Melihat senyum kakaknya, membuat sesuatu dalam dadanya menghangat.

"Tidak. Aku hanya sedang memikirkan Ino."

Sasori menarik nafas panjang dan berjalan mendekati adiknya itu. Dibelainya dengan lembut surai merah muda milik adiknya. Sebagai kakak, tentu dia mengetahui apa yang menjadi perasaan Sakura, apa yang terjadi pada adiknya dan apa yang dilakukan adiknya. Tentu saja dia mengetahui apa yang menjadi kelainan adiknya. Dan dia juga merasa ikut bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada adiknya itu.

"Apa yang nii-chan lakukan disini?" tanya Sakura pada akhirnya.

Sasori tersenyum.

"Hmm... biarkan nii-chan tidur bersamamu."

Malam itu, Sakura merasa seperti kembali ke umur empat tahun. Dimana kakaknya memeluknya saat tertidur di malam hari.

oOo Phobia : Yuri oOo

Itachi sedang memeriksa beberapa dokumen yang diantarkan sekretarisnya ketika pintu ruangannya dibuka. Melirik dari ekor matanya, Itachi kembali meneliti dokumen di tangannya.

"Kenapa ada disini, Sasuke?" tanya Itachi.

Sasuke mendudukan dirinya di sofa milik kakaknya. Itachi mengacuhkan adiknya dan kembali fokus pada pekerjaannya. Dia sudah biasa bekerja dengan gangguan dari adiknya itu. Jika Sasuke datang ke kantornya, maka sedang ada masalah dengan perusahaan yang dikelola adiknya itu dan ingin dia membenahinya.

"Apa ada masalah?" Itachi sedikit melirik adiknya.

"Hn. Tidak ada, aku hanya ingin mengunjungimu."

Itachi memandang arlojinya.

"Jika kamu ingin aku membenahi perusahaanmu, mungkin aku tidak bisa. Aku ada rapat dengan Haruno corp sebentar lagi."

Haruno Corp? Haruno Sakura?

"Apa yang aniki maksud adalah Haruno Sakura?"

Itachi sedikit mengangkat alisnya ketika Sasuke menyebutkan nama Sakura. Namun, otak jeniusnya segera mencerna apa yang terjadi pada adiknya itu.

"Bukan, pemegang Haruno corp adalah kakaknya Sakura. Haruno Sasori namanya."

"Hn. Aku yang akan menggantikanmu."

Itachi tersenyum dan memberikan seberkas dokumen kepada Sasuke. Mungkin dengan begini, akan ada perubahan pada adiknya.

"Hn. Aku akan memberikanmu waktu untuk mempelajari berkas ini."

Sasuke menerima berkas yang dipelajari Itachi dan membacanya sekilas. Itachi tersenyum tipis melihat perubahan pada Sasuke. Dia bisa pulang lebih cepat untuk bertemu dengan Hana, adiknya benar-benar membantunya di saat-saat seperti ini.

Sepertinya dia dan Sasori akan menjadi saudara.

.

.

.

Sasuke keluar dari mobilnya dan memperhatikan dandanannya. Tidak ada yang salah, jasnya masih rapi, dasinya juga terpasang rapi. Memandang rumah di hadapannya, Sasuke mengetuk pintu.

Sasori memandang pemuda di hadapannya dengan pandangan memicing. Dia seperti mengenali pemuda itu, tetapi dia lupa.

"Selamat malam, Sasori-san." Sasuke membungkukan badannya dengan sopan.

"Aa." Sasori menanggapi dengan sedikit canggung.

"Saya Sasuke Uchiha, mewakili kakak saya."

Sasori sekarang ingat dimana dia mengenali pemuda itu. Tentu saja, pemuda di hadapannya adalah adik sahabatnya.

"Silahkan masuk."

Sasuke masuk dengan sopan. Sasori mengajak Sasuke untuk duduk di salah satu kursi di ruang makan. Sakura muncul tak berapa lama dan terkejut melihat siapa yang datang.

"Kau?!" Sakura menunjuk Sasuke dengan pandangan terkejut.

"Hn."

Sasori memandang keduanya dengan pandangan keheranan.

"Kalian sudah saling mengenal?"

Sakura terdiam, tidak menjawab pertanyaan kakaknya. Sedangkan Sasuke hanya tersenyum tipis.

"Apa yang dia lakukan disini, nii-chan?" tanya Sakura.

"Dia menggantikan Itachi untuk membahas proyek yang sedang aku kerjakan. Buatkan minuman untuknya, Sakura," perintah Sasori.

Sakura merengut kesal dan berjalan menuju dapur. Sasuke tidak bisa menahan seringai penuh kemenangannya. Ini pasti akan menjadi kunjungan yang menyenangkan.

"Apakah kamu sudah makan malam?" tanya Sasori memandang Sasori.

"Hn. Belum."

"Kalau begitu kebetulan, Sakura akan menyiapkan makan malam."

Sakura yang berada di dapur semakin memasang wajah masam. Dia bisa dengan jelas mendengar semua perkataan kakaknya. Kakaknya tidak akan bersikap baik seperti itu, jika mengetahui apa yang si brengsek itu lakukan padanya.

Sasuke mengeluarkan sebungkus rokok dari saku jasnya. Mereka baru saja memulai membahas proyek kerja sama yang akan Uchiha dan Haruno lakukan. Onyxnya bisa menangkap sosok Sakura yang keluar sembari membawa dua cangkir ocha hangat dan buru-buru kembali menuju dapur.

"Hn. Anda tidak merokok?" tanya Sasuke menawarkan rokoknya.

"Aku tidak merokok jika di rumah. Sakura alergi asap rokok, asmanya bisa kumat jika dia menghirup asap rokok."

Gerakan tangan Sasuke yang akan menghidupkan rokoknya terhenti. Jadi, gadisnya itu memiliki alergi asap rokok? Jadi, itulah alasan mengapa Sakura meminum sebuah obat saat dia merokok di ruangan gadis itu. Dia tidak mungkin meracuni gadisnya jika begitu.

"Hn." Sasuke kembali memasukan rokoknya.

Sasori mengangkat satu alisnya.

"Tidak jadi merokok?" tanyanya.

Sasuke memandang Sakura yang sedang menata meja makan. Wajah gadis itu semakin menggemaskan ketika cemberut.

"Hn."

.

.

Sasuke menarik nafas panjang ketika mereka sudah selesai. Makan malam sudah berakhir dari dua jam yang lalu dan Sakura langsung pergi entah kemana.

"Terimakasih untuk makan malamnya, Sasori-san." Sasuke membungkukan badannya.

"Ya. Hati-hati, Sasuke." Sasori mengantarkan Sasuke hingga mobil pemuda itu.

Sasuke tersenyum tipis ketika mobil yang dikemudikannya melaju meninggalkan kediaman Haruno. Meski belum membuahkan hasil, setidaknya dia sudah satu langkah lebih maju.

Di sisi lain, Sakura sedang mengomel panjang lebar tentang kedatangan Sasuke kerumahnya. Di telepon, Ino hanya bisa tertawa di seberang telepon.

"Dia benar-benar menyukaimu, Sakura."

"Tapi, aku tidak menyukainya. Dia tipe playboy. Kamu tahu sendiri bukan, jika aku hanya mencintaimu."

Menghela nafas. "Sudah aku katakan berapa kali, Sakura. Hubungan kita telah berakhir. Kita bisa menjadi sahabat Sakura, tetapi kita tidak mungkin bisa menjadi sepasang kekasih. Apa yang akan dikatakan bibi Mebuki jika mengetahui semuanya, Sakura."

"Tapi, Ino-"

"Aku akan tetap ada di sampingmu. Tapi kumohon, bisakah kita menjadi sahabat?"

Sakura tidak bisa menahan air matanya yang mengalir begitu saja. Tidak. Apa salahnya jika dia mencintai Ino? Apa karena mereka perempuan? Apakah karena kesamaan gender mereka tidak bisa bersatu? Memangnya salah, jika dia mencintai Ino?

"Ino, aku ingin tidur."

"Sakura, tunggu dulu-"

Sakura menangis sembari memeluk foto Ino. Dia begitu mencintai sahabatnya. Dan akan selalu begitu.

.

.

"Oi, Teme!"

Sasuke melangkahkan kakinya masuk ke dalam apartemen Naruto dan mendudukan dirinya di salah satu sofa. Onyxnya memandang Sai yang sedang merem melek ketika penisnya dihisap oleh seorang wanita. Dia sudah sering datang ke apartemen Naruto, apalagi saat Jum'at malam seperti ini. Sudah menjadi rutinitas bagi mereka untuk datang ke apartemen Naruto dan melepaskan hasrat mereka kepada pelacur yang akan dipesan Naruto.

"Teme, tidak ingin menelpon seorang lagi?" Naruto menyerahkan ponselnya dan ditolak Sasuke begitu saja.

"Hn. Aku sedang tidak berminat."

Naruto mengangkat bahunya tak acuh dan kembali melumat bibir wanita yang ada di pangkuannya. Sasuke memilih tenggelam dalam dunianya sendiri.

Semenjak dia merasakan bagaimana rapatnya vagina milik Sakura, dia menjadi tidak selera terhadap pelacur-pelacur yang dilihatnya. Bagai sebuah sugesti, dia tidak bisa ereksi jika tidak dengan Sakura dan itu membuatnya sedikit frustasi. Ketika dia ingin meniduri seorang pelacur, miliknya bahkan tidak bisa ereksi. Namun ketika dia membayangkan Sakura, adik kecilnya langsung terbangun dan itu membuatnya tersiksa.

"Tumben sekali?" tanya Naruto memandang sahabatnya itu.

Sasuke memandang Naruto dengan malas dan mengeluarkan rokoknya. Namun, terbayang bagaimana wajah Sakura yang terbatuk-batuk karena asap rokoknya membuatnya melemparkan rokoknya kepada Sai dan ditangkap begitu saja oleh pemuda itu.

"Tidak merokok, Sasuke?" tanya Sai disertai senyum anehnya.

"Hn. Aku berhenti merokok."

Naruto yang akan memasukan kejantanannya memandang Sasuke dengan pandangan keheranan. Dia langsung menghentikan kegiatannya dan memakai celananya. Mengeluarkan beberapa lembar uang, dia memberikannya kepada pelacurnya dan menyuruhnya cepat-cepat pergi. Tidak. Sahabatnya lebih penting dari nafsunya. Sai sendiri juga melakukan hal yang sama.

"K-Kau, berhenti merokok?!" Naruto menunjuk Sasuke.

"Hn."

"Ini seperti bukan dirimu, teme!"

Sai tersenyum aneh memandang kedua sahabatnya itu.

"Hn. Aku berhenti merokok, apa yang salah?" tanya Sasuke.

"Tidak ada yang salah sih, tapi-" Naruto kehilangan kata-katanya. Dia tidak mengerti, mengapa Sasuke mau berhenti merokok. Padahal pemuda itu tidak bisa hidup tanpa rokok di saku celananya.

"Sepertinya ada yang berhasil merubahmu, Sasuke," ucap Sai.

Sasuke memandang Sai dengan pandangan tidak suka, sedangkan Naruto memandang kedua sahabatnya dengan pandangan tidak percaya.

"Apa itu benar, teme?" tanya Naruto.

Sasuke bangkit dari duduknya.

"Hn. Aku mau pulang."

Naruto memandang Sai yang tersenyum aneh. Dia masih tidak mempercayai apa yang dilihatnya. Tidak mungkin Sasuke, seorang pria metroseksual itu bisa berubah begitu saja.

"Sai, kita harus mencari tahu apa yang terjadi pada teme."

oOo Phobia : Yuri oOo

Di Paris, seorang gadis berambut pirang memandangi menara eiffel yang terlihat indah di malam hari. Betapa beruntungnya ia bisa mendapatkan apartemen yang langsung menghadap menara kebanggan warga Perancis itu.

Memandang ponselnya, gadis itu sedikit tersenyum ketika melihat foto seseorang.

Foto calon suaminya.

.

.

.

.

.

TBC

Balasan Review :

De-chan : wkkwkkwkk.. nanti Ino bakal ada wujudnya kok :3 yah.. semoga aja bukan XD

Yoshimura Arai : nanti bakal di kasih tahu siapa yang bikin Sakura trauma kok :3 di tunggu aja yaa..

Uchiha Della : iya nih.. kurang panjang XD makasih yaaa..

Hanazono Yuri : sudaahhh...

Megu Saki : Sasori disini jadi kakaknya Sakura.. :3 Waahhh.. gak tau ya, Itachi apa bukan ya.. :D

Asiyah Firdausi : Kucing kali Gaarong XD ditunggu aja ya, nanti bakal ketahuan kok :3

Kiyoi-chan : Hahaha.. ditunggu aja, nanti bakal ketahuan kok.. XD

Guest (Hira Yukiko) : Salam kenal juga nee ^^

Tisha : sudah..

Ayuniejung : Gak tau juga, mungkin bisa jadi XD

Yoriko Yokochidan : Yup. Sasori emang dibikin single :D

Yoktf : Iya senpai.. :3

Zucat : pengen bikin threesome, tapi ilmu mesumnya belom ampe sana XD

Luca Marvell : nanti bakal terjawab kok.. Sai kenal kok sama Ino :)

Black Rave Strife Namikaze : Author aja bingung :3 Makasih yaa..

Desta soo : ini sudah di panjangin.. makasih :)

Dark Cherry Blossoms : Nggak.. sebenarnya, Ino gak mau ngerebut Saku.. :3

Dikapurnamasari90 : Hahaha.. iya, makasih senpai..

Btw, ada yang masih bingung ya sama cerita ini? Biar Sakura kasih penjelasannya.

Jadi, sebenernya Sakura itu punya trauma, nanti bakal dijelasin. Dan Ino yang ada di sampingnya sama Sasori, karena Sakura ngerasa nyaman sama Ino, jadi dia jatuh cinta sama Ino. Sebenernya Ino juga cinta sama Sakura, tapi Ino akhirnya menepis perasaannya dan menganggap perasaannya ke Sakura adalah cinta kepada sahabat. Tapi, Sakura udah terlanjur cinta sama Ino. Makanya, Ino kan akhirnya selalu minta ke Sakura buat melupakan perasaannya.

Terus, Sasuke masuk dalam scene pertemuan pertama di ranjang. Karena Sakura itu Yuri, jadi dia nggak nanggepin Sasuke. Dan itu malah jadi tantangan tersendiri buat Sasuke.

Masih ada yang bingung? Mungkin bisa meninggalkan pertanyaan di kotak Review mengenai cerita ini.

Hehehe.. sampai ketemu di chap selanjutnya, minna!

-Aomine Sakura-