Hahh... ternyata aku memang bukan author yang bisa update kilat! Gomen ne, kalau updatenya terlalu lama. Oiya, sekadar info, mulai sekarang, aku update seminggu sekali. (readers: gak nanya!)
Okedeh, dari pada author kebanyakan ngomong yang ga penting, silahkan langsung nikmati fic ini! ^_^
.
.
.
Special thanks to
.
dikdik717, MizuMiu-chan, Ikhwan Namikaze, Viva La Vida, NS, namikaze naruto, Seiko 'Rye' Heiiran, pemuja sedan, firmanGulo19, Natsuyakiko32, dhananjaya, Namikaze Haruno, Deidei Rinnepero13, .indohackz, more, Para Anonim Reviewers, dan Para Silent Readers terhormat yang telah mau membaca fic abal ini :)
.
.
.
Disclaimer: Hingga saat ini Naruto masih milik Masashi Kishimoto. Mungkin suatu saat akan jadi milik saya B) *mengkhayal ketinggian*
Summary: Hati Sakura begitu mendung, pasca Sasuke, kekasih yang sungguh dicintainya pergi jauh dan dengan terpaksa memutuskannya. Siapa sangka, yang akan membuat hatinya cerah kembali ada Naruto? Pemuda yang sejak SMP sering dibully olehnya dan sahabat-sahabatnya itu! [CHAP 3 UP!]
Warning:OOC, Romance abal, Gaje, Typo(s), dll.
Pairing: NaruSaku, slight SaiIno & NejiTen
.
.
Enjoy it! RnR, please!
Chapter 3
Di kelas Sakura, jam istirahat…
"Sakuraaa!"
Gadis berambut pink yang sendari tadi melamun itu tersentak kaget. Kedua iris emerladnya tampak mendelik kesal pada gadis pirang yang tadi mengagetkannya itu.
"Huh, kau ini! sepertinya mengagetkan orang sudah masuk ke dalam daftar hobimu, ya?," dengus Sakura –gadis berambut pink itu– kesal.
Ino –si gadis pirang itu– terbahak mendengarnya. Ia mencubit pipi si pinky –sahabatnya itu– dengan gemas. Sementara yang dicubit makin cemberut.
"Hahaha, kau ini! selalu saja melamun! Apa sih, yang selalu mengganggu otakmu itu? Hm…biar kutebak! Apa… si duren jabrik itu?," tebak Ino.
"Dia punya nama! Namanya 'Naruto'!," seru Sakura. Ia tak menyadari, bahwa wajahnya mulai memerah.
"Aaa, tebakanku benar! Kau pasti menyukainya!," tukas Ino. Ia Nampak senang menggoda sahabatnya.
"Hei, aku tak pernah bilang begitu!," bantah Sakura.
"Sudahlah… Buktinya, kau membelanya barusan! Dan… oh iya! Wajahmu memerah!," seru Ino seraya menunjuk ke arah pipi Sakura. Rona merah tipis memang Nampak terukir di sana.
"Aku tak menyukainya Ino-pig!," bantah Sakura lagi. Namun rona merah yang tadinya tipi situ kian jelas.
"Terserah kau lah, forehead!," Ino membalas ejekan Sakura. "Oh iya, apa kau mau ikut aku dan Tenten ke kantin?," tanya Ino yang telah mulai beranjak dari bangku Sakura.
Sakura menggeleng. "Sepertinya tidak untuk hari ini," jawabnya.
"Hah… sudah kuduga! Si jabrik pirang itu pasti lebih menarik perhatianmu!," seru Ino seraya melangkah pergi.
"Uuh, Inooo!," pekik Sakura.
"Hahaha, kau tak dapat mengelak kali ini! Sudahlah! Aku yakin dia ada di atap seperti biasanya. Cepat ke sana, sebelum waktu istirahat berakhir!" Dan setelah puas mendengar pekikan kedua dari sahabat pinkynya itu, Ino pun segera beranjak pergi.
Kini, Sakura hanya seorang diri di dalam kelas. Ia memang bukan seorang yang pendiam atau pemalu seperti Hinata. Namun belakangan ini, ia memang suka menyendiri.
Saat ini, contohnya. Telah sekitar 5 menit ia melamun di bangkunya, semenjak Ino meninggalkannya ke kantin. Rupanya, pemuda blonde itu memang telah benar-benar menyita perhatiannya. Ya, telah sekitar seminggu ia akrab dengan pemuda tersebut. Dan selama seminggu itu pula, satu nama telah bertambah di daftar penting di otaknya. Siapa lagi, kalau bukan Naruto.
Sakura melirik jam tangannya. Ia sadar, waktu istirahat telah hampir habis. Dan sebelum itu, ia ingin menghabiskan waktunya –yang walau hanya sebentar– untuk berduaan dengan si pirang jabrik yang kian menguisik pikirannya itu. Maka dilangkahkanlah kakinya menuju tangga yang menghubungkannya ke atap sekolah.
.
.
.
Di sekolah, jam istirahat…
Sakura menapakan kakinya perlahan. Tak ingin membangunkan sosok yang tengah terlelap beberapa meter di hadapannya ini.
Sakura tersenyum. Senyum yang sangat lembut. 'Sudah kuduga' batinnya. Melihat Naruto –sosok yang tengah terlelap tersebut– di sini, ia jadi teringat akan masa-masa SMP.
Sebenarnya ia punya kebiasaan yang sama dengan Naruto. Sering kabur ke atas atap ketika butuh waktu sendiri. Dan itu yang membuatnya sering mendapati pemuda ini sering berbaring di atap sekolah. Terutama ketika setelah dibully, Naruto sering kabur ke tempat itu.
Meski kebiasaan mereka memang sama, nyatanya atap sekolah tak pernah mejadi saksi pertemuan mereka kala masih duduk di bangku SMP. Mengapa? Karena mereka tak pernah berada di atas atap gedung yang sama, tentunya. Konoha Junior High School mempunyai 3 gedung. Sakura sering menyendiri di atap gedung 3 yang terletak di belakang gedung 2, –yang merupakan tempat Naruto sering menyendiri– sehingga Naruto tak pernah melihatnya, dan Sakura pun selalu enggan untuk menegurnya.
Namun kini? Berbeda! Berkebalikan dengan atap gedung Konoha Junior High School, atap gedung Konoha High School justru menjadi saksi bisu kebersamaan mereka. Terutama pada 2 pekan terakhir ini, tentunya.
"Humpft, Naruto… Rupanya dalam jangka waktu satu tahun, kau telah banyak berubah, ya..," gumam Sakura tanpa melepaskan pandangannya dari pemuda berkulit tan itu.
Satu tahun? Ya, telah satu tahun mereka tak bertemu. Itu dikarenakan, setelah lulus SMP, Naruto segera pindah ke kota lain. Entah karena alasan apa. Ia pun tak tahu, alasan Naruto kembali lagi ke konoha. Namun tak dapat dipungkiri, kini ia begitu senang, mendapati fakta bahwa ia dapat satu sekolah lagi dengan sosok mantan 'bahan' ejekannya ketika di SMP itu.
"Memangnya apa yang berubah dariku, Sakura?"
"Kyaa!," Sakura yang tengah melamun, tersentak kaget. "Na-naruto..? Kau sudah bangun?"
Yang ditanya malah terkekeh geli. "Hehehe, aku tidak tidur, Sakura…"
"E-eh?" Wajah Sakura memerah. Ia tak mengira, Naruto mendengar gumamannya tadi. 'A-apa ia juga menyadari ekspresiku dari tadi, ya?' batinnya.
"Hahaha"
Entah apa yang lucu, namun tawa Naruto malah membuatnya makin salah tingkah.
Naruto bangkit dari posisi tidurnya. Ia menepuk tempat yang ada di sebelahnya. Sakura mengangguk mengerti dan segera mengambil tempat duduk di samping Naruto.
1 menit…
2 menit…
3 menit…
Entah mengapa, tak ada di antara mereka yang mengeluarkan sepatah kata pun. Hingga tiba-tiba pemuda blonde tersebut membuka suara.
"Ehm, Sakura…"
"Apa, Naruto?"
"Boleh aku bertanya?"
Pertanyaan Naruto kali ini membuat gadis bersurai pink itu mengerenyitkan dahi. 'Aneh' batinnya. "Tanya apa? Silahkan saja! Selama aku tahu, aku akan menjawabnya…"
"Ehm, ta-tapi… Ini pertanyaan yang mungkin agak pribadi."
Sakura kembali mengerenyitkan dahi. 'Ada apa?' batinnya. Namun ia hanya mengangguk, mengisyaratkan bahwa ia telah memperbolehkan pemuda blonde tersebut untuk bertanya.
"Uhm…em…," Naruto tampak tengah memikirkan kata-kata yang cocok untuknya. "Ke-kenapa… kau membenci anak jalanan?," tanyanya hati-hati.
Sakura terbelalak. Dari tatapan matanya, dapat terbaca pertanyaan 'Bagaimana kau tahu?' Dan Naruto berhasil membaca pertanyaan tersebut.
"A-aku hanya merasa, bahwa tatapanmu terhadapku sebelum ini adalah… uhh, em.. tatapan.. jijik, benci. D-dan… aku pernah melihatmu dengan tatapan itu pula, saat kau melintas pulang sekolah, dan melihat anak-anak jalanan yang tengah mengamen di sana…," ujar Naruto sambil sedikit meringgis.
Hening. Keduanya diam. Sakura diam, tampak sepertinya enggan membicarakan hal itu. Sementara Naruto pun diam, menunggu gadis di sampingnya angkat bicara.
"Humpft….." Sakura menghela napas panjang, sebelum akhirnya memutuskan untuk bicara. "Aku… aku agak tidak menyukai anak jalanan, Naruto…," ujarnya pelan. Ekor matanya nampak bergerak. Sekadar untuk melihat, apa reaksi sosok pemuda di sampingnya ini.
Naruto tersenyum. Bukan senyum dengan cengiran khasnya. Melainkan, sebuah senyuman lembut yang khusus ia berikan pada gadis di sampingnya kini. Tangannya perlahan menggenggam salah satu telapak tangan gadis itu. "Ceritakanlah…," ucapnya pelan.
"Ta-tapi Naruto…"
"Ayolah! Kau telah menganggapku sahabat, bukan? Sahabat seharusnya saling berbagi. Aku telah membagi kisahku denganmu 2 minggu yang lalu. Kini giliranmu! Aku akan mendengarkanmu, apapun itu."
"Naruto…"
"Apapun, Sakura!"
Naruto mengeratkan genggamannnya pada Sakura. Membuat gadis itu merasa tak punya pilihan lain, selain menceritakan kisahnya. Sekalipun ia sesungguhnya ia betul-betul tak ingin menceritakannya.
"Hhh… sepertinya aku tak punya pilihan lain. Baiklah…" Sakura menyerah.
Naruto terdiam. Menunggu dengan sabar, kelanjutan kata-kata gadis pinky itu.
"Aku… Humpft… Kau tahu, sejak kecil, aku telah kehilangan ibuku…
Pagi itu, ibuku pamit untuk pergi ke kota, membeli beberapa alat untuk membuat kue. Aku memaksa ikut, meski ayahku melarang. Di perjalanan pulang, saat kami tengah mencari angkutan umum, tiba-tiba 3 orang lelaki yang kira-kira seusia kita kini, menghadang kami.
Saat itu jalanan sungguh sepi. Salah seorang diantara tiga lelaki tersebut, dengan cepat mengambil tas ibuku. Ibuku berteriak minta tolong, namun tak ada seorang pun yang lewat saat itu. Ibuku lalu mengejar lelaki tersebut sendirian. Dua orang lagi ikut lari bersama kawannya yang telah kabur.
Saat itu, aku sungguh takut… Aku tak sanggup ikut berlari, namun aku merasakan firasat yang begitu buruk. Dan benar saja, beberapa menit kemudian, beberapa orang menghampiriku, dan… dan…"
Sakura mulai terisak pelan. Naruto berusaha menenangkannya dengan mengelus punggung Sakura.
Jemari lentik Sakura mulai bergerak perlahan untuk mengapus butiran-butiran cairan bening yang mengalir melalui kedua matanya. Ia pun melanjutkan kisahnya.
"Kau tahu Naruto, aku begitu histeris saat mereka memberitahuku bahwa ibuku tengah dilarikan di rumah sakit. Para lelaki yang menjambret tas ibuku itu ternyata melukai ibuku pula… Dan ibuku… ibuku… akhirnya tak dapat diselamatkan… Aku begitu terpukul. Dan sejak i-itu… aku membenci mereka… Menurutku semua anak jalanan itu sama, sebelum aku mengenal dirimu yang sebenarnya…"
Naruto tertegun. Ia memang telah menduga, pasti ada kenangan buruk di masa lalu Sakura yang menyebabkan Sakura dulu sangat membenci dirinya. Namun ia tak menyangka itu betul-betul kenangan yang menyakitkan bagi Sakura.
"Maaf, Sakura…," ujar Naruto pelan. Ia merasa beralah juga, telah membuat gadis itu sedih.
Sakura menggeleng lemah. "Tak apa, Naruto…"
Naruto membelai rambut pink Sakura perlahan. Dan menit-menit berikutnya mereka lewatkan dalam keheningan.
.
.
.
Di depan kelas, jam pulang sekolah…..
"Hei, Sakura! Tadi siang kau kenapa?," tanya seorang gadis berambut cepol dua pada Sakura.
"Kenapa apanya?," Sakura malah balik bertanya.
"Tadi siang, matamu terlihat agak sembab. Kau seperti… emm, habis menangis…," ujar gadis bercepol dua yang bernama Tenten itu.
Sakura menoleh dengan ekspresi agak terkejut. Agaknya ia malu juga, ketahuan habis menangis oleh sahabatnya. "Ahh, tidak ada apa-apa, kok. Kau mungkin salah lihat saja," jawabnya bohong.
Tenten mengerenyit. Ia yakin ia tak salah lihat. "Kau bohong, yaa?," tanyanya tak percaya.
Sebelum Sakura sempat menjawab, seorang gadis lain telah menyahut dari belakang mereka.
"Sudahlah, Tenten! Itu tak penting saat ini!," sergah gadis itu, yang ternyata adalah Ino. Ino telah lebih lama bersahabat dengan Sakura. Sepengetahuannya, Sakura tak pernah menangis, kecuali saat ia membicarakan tentang ibunya. Maka ia pun tak ingin membuat Sakura sedih lagi, dan memutuskan untuk mengalihkan pembicaraan.
"Memangnya ada hal penting apa, Ino?," tanya Sakura penasaran.
"Nanti sore, kita akan mengadakan triple date!," seru gadis berambut pirang itu girang.
"Triple?" Sakura merasa ada yang ganjil. "Kau dan Sai, Tenten dan Neji, lalu?"
"Kau dan Naruto, forehead!," seru Ino riang. Tenten mengangguk membenarkan.
"Ha? Aku dan si jabrik itu?," ulang Sakura sambil mengerenyit.
"Ayolah, Sakura… Semua juga tahu, bahwa akhir-akhir ini kalian berdua begitu dekat," kali ini Tenten yang bicara.
"Ta-tapi…" Sakura mencoba menyergah, namun kata-katanya terputus ketika tiba-tiba Ino berseru….
"Hei, itu Naruto!," tunjuk Ino. "NARUTO..!"
Pemuda blonde itu menoleh. Ia menghampiri ketiga gadis itu. "Ada apa, Ino?," tanyanya.
"Naruto, kau mau kan, nanti sore kencan dengan Sakura?," tanya Ino to the point.
"Ke-kencan?" Naruto tampak gugup.
"Iya! Bersama aku dan Ino juga! Triple date!," seru Tenten menambahkan.
"Ta-tapi…"
"Ayolah… Pokoknya kau tak boleh menolak!" Ino mulai memaksa.
"Ta-tapi… Bagaimana dengtan Neji dan Sai? A-apa mereka tak keberatan?," Naruto pun sepertinya berusaha menolak.
"Keberatan? Tentu tidak! Mereka kan, kekasih kami! Lagi pula, mereka tak pernah punya masalah denganmu. Aku tidak menerima kata 'tidak'! Kami tunggu kau di mall Konoha Town Square pukul 3 sore! Bye…!," seru Ino seenaknya.
Detik berikutnya, Naruto pun terbengong bingung, seraya melihat Ino dan Tenten yang menarik Sakura paksa.
.
.
.
Di Akamichi café, di mall Konoha Town Square, pukul 03.20 sore….
Naruto berulang kali melirik jam tangannya. Jarum panjang jam telah menumjuk ke angka 4, namun kelima orang yang ditunggunya belum datang juga. Padahal ini telah lewat 20 menit dari waktu janjian mereka.
"Lama sekali! Apa yang tengah dilakukan mereka?," keluhnya.
Sejak 20 menit yang lalu, ia hanya duduk di meja paling pojok seraya mengamati orang-orang yang berlalu lalang di kafe tersebut. Kafe? Agak sedikit aneh memang, seorang penjual koran sepertinya duduk di meja sebuah kafe yang cukup mahal seperti ini.
Sekitar satu jam lalu, saat Ino memberitahu tempat janjiannya melalui telepon, sebenarnya ia telah menolak. Ya, punya uang dari mana ia, pergi ke kafe tersebut? Minta pada paman Iruka? Ah, tidak! Membiayai sekolahnya saja telah mengeluarkan biaya cukup besar. Masa ia harus meminta uang lagi pada paman Iruka hanya untuk berkencan. Namun akhirnya, ia menerima ajakan Ino pula.
Akamichi café. Adalah sebuah kafe yang cukup terkenal di Konoha. Wajar jika Naruto minder datang ke tempat ini. Namun begitu, jika Ino telah memaksa, tak ada yang dapat menolaknya. Maka ia pun terpaksa menerimanya. Dan untungnya, kafe ini milik keluarga salah seorang temannya, Akamichi Chouji.
Chouji mengatakan, bahwa mereka dapat memesan apa saja gratis, khusus untuk triple date hari ini. Tentu saja itu karena Ino merupakan sahabat kecilnya yang sering membantunya di kafenya. Dan Naruto pun tak punya alasan lain untuk menolek ajakan Ino.
"Humpft….." Naruto kembali menghela napas. Ia baru saja akan menggerutu ketika dilihatnya tiga orang gadis dan dua orang pemuda yang ia kenal memasuki kafe tersebut. Siapa lagi jika bukan Ino, Tenten, Sakura, Neji, dan Sai.
"Hei, itu Naruto!," seru Ino yang langsung menuju meja Naruto, diikuti yang lainnya.
"Maaf membuatmu menunggu lama. Kami menghabiskan waktu yang cukup lama untuk mendandani calon kekasihmu ini," ujar Ino tanpa memedulikan Sakura dan Naruto yang langsung gugup begitu ia mengatakan 'calon kekasih'.
Mereka pun segera duduk dan memesan makanan.
Selama makan, hanya Ino, Tenten, dan Sai yang asyik mengobrol. Neji memang agak pendiam. Wajar saja, ia berasal dari keluarga Hyuuga yang terkenal akan 'irit' bicaranya. Entah apa yang membuatnya dapat berpasangan dengan Tenten yang super cerewet itu. Sementara Naruto dan Sakura? Mereka hanya duduk dengan canggung sambil menikmati roti yang mereka pesan masing-masing.
Sekitar setengah jam kemudian, mereka pun keluar dari kafe tersebut.
"Kini kita akan ke mana?," tanya Sakura.
"Hm… kurasa aku dan Sai akan mengunjungi pameran seni yang ada di lantai 3," jawab Ino.
"Kalau aku dan Neji, sepertinya lebih tertarik untuk mengunjungi pameran teknologi di lantai 2," jawab Tenten.
"Hah? Ta-tapi, kukira kita akan pergi bersama… Ini kan, triple date!," kata Sakura bingung.
"Sudahlah, pokoknya kita berjumpa lagi di depan kafe ini pukul 5 tepat! Byee, Sakura, Naruto!," seru Ino yang langsung kabur bersama Sai.
"Selamat bersenang-senang!," tambah Tenten yang juga segera kabur ke lift berama Neji.
Selama beberapa menit, suasana di antara Sakura dan Naruto pun diliputi kecanggungan. Tak ada satu pun yang angkat bicara. Karena mereka pun tak tahu harus bicara apa.
"Jadi… Ng… Sakura, kau mau ke mana?," tanya Naruto yang tampaknya telah bosan dengan kecanggungan itu.
"Mm… a-aku tidak tahu. Terserah kau sajalah," jawab Sakura.
"Kalau begitu… bagaimana jika ke bioskop?," tawar Naruto.
"Eh? Mm… aku tak terlalu suka menonton," jawab Sakura bohong. Ia sebenarnya hanya tak ingin menghabiskan uang Naruto. Ia tahu tiket bioskop di bioskop di mall termasuk mahal.
"Mm… Jika begitu, bagaimana jika ke Play Zone?," tawar Naruto lagi.
Sakura tampak menimang. Play zone cukup asyik untuk menghabiskan waktu. Dan lagi, tak terlalu menghabiskan uang. Ia pun mengangguk.
Naruto tersenyum senang. Tanpa sadar, ia menggandeng tangan Sakura menuju eskalator. Membuat gadis itu sedikit merona.
.
.
40 menit kemudian…
.
.
Sakura tampak senang memeluk boneka yang didapatkan Naruto dari permainan ufo catcher tadi.
"Hum… Jam 5 masih 15 menit lagi, Sakura. Apa kau mencoba permainan yang lain?," tawar Naruto.
"Akh, sepertinya aku telah kelelahan, Naruto…," tolak Sakura.
"Yasudah. Kita beli es krim saja, yuk!" Naruto pun segera menuju stand es krim yang tak jauh dari mereka, dan membeli sebuah es krim rasa stroberi dan sebuah es krim rasa coklat.
"Dari mana kau tahu rasa es krim kesukaanku, Naruto?," tanya Sakura saat ia dan Naruto tengah menghabiskan es krim masing-masing.
"Hanya menebak, hehe…" Naruto menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Warna pink es krim stroberi itu sesuai dengan rambutmu, jadi kupikir kau menyukainya," jelasnya.
Sakura tersenyum geli mendengar kata-kata Naruto. 'Ah, kau memang unik dan selalu tak disangka!' batinnya.
"Eh, Sakura! Ada noda es krim di pipimu," ujar Naruto seraya mengusap pipi Sakura dengan jari-jarinya. Ia telah lupa, bahwa saat SMP dulu, Sakura selalu mendorong dan membentaknya, ketika ia tak sengaja menyentuhnya.
Sakura tertegun. Seketika ia membeku. 'Naruto… menyentuh… pipiku..?' batinnya tak percaya. Entah mengapa, saat itu pula jantungnya serasa berdegup begitu cepat. Rona merah tipis terukir di pipinya.
"Emm… Sakura, ngomong-ngomong, dandananmu tampak manis sekali," puji Naruto.
Rona merah di pipi Sakura pun kian jelas. "Ehm… te-terimakasih," ucapnya gugup. Sakura memang sering dipuji. Namun entah mengapa, dipuji oleh Naruto rasanya begitu berbeda. Dalam hati, ia begitu berterimakasih pada Ino yang memaksa untuk mendandaninya sebelum berangkat tadi.
Sementara Naruto, ia hanya terdiam. Tak tahu harus bicara apa lagi. Diam-diam ia kembali memperhatikan Sakura. Dandanan Sakura memang sederhana. Hanya sebuah kaus putih berlengan panjang dengan gambar love berwarna soft pink di tengahnya. Dipadu dengan sebuah rok jeans dan sepatu putih. Lips gloss yang berwarna senada dengan rambutnya membuatnya tambah manis. Dan rambutnya yang panjang itu pun digerai dengan hiasan sebuah bandana berwarna pink cerah.
"Ah! Di sini kalian rupanya!," seru seorang gadis pirang yang tak lain adalah Ino. "Kami mencari kalian ke mana-mana, tahu! Ini sudah lewat jam 5! Ayo cepat kita pulang, sebelum jalanan mulai macet!," serunya lagi.
.
.
.
Di depan kediaman Hyuuga pukul 7 malam…
"Kyaa, menyenangkannya hari ini!," seru Tenten.
Mereka berlima –Tenten, Ino, Sakura, Sai, dan Naruto– baru saja keluar dari kediaman Hyuuga. Ya, mereka pulang menggunakan mobil Neji. Sebab menurut penuturan Ino, mobil Sai tengah diservis. Sedangkan Naruto, tentunya tak bawa mobil. Dan untungnya, kediaman mereka pun tak jauh dari kediaman Neji. Maka mereka memutuskan untuk turun di rumah Neji dan pulang jalan kaki.
Hari semakin gelap. Tentu saja! Jam telah menunjukan pukul 7 malam. Sai, Ino, dan Tenten pun segera berpisah dengan Sakura dan Naruto begitu tiba di perempatan jalan. Sai, sebagai pacarnya Ino, tentunya akan mengantar gadis itu dulu. Sementara Tenten, tadi menolak untuk diantar Neji, karena ia telah berencana untuk menignap di rumah Ino malam ini. Jadilah sekarang Naruto dan Sakura berjalan beriringan di jalan ini.
Sakura mulai kedinginan. Dan untungnya, rumahnya telah tak jauh dari sini. Lalu bagaimana dengan Naruto? Sebenarnya, Neji telah menawarkan untuk mengantarnya sampai rumah. Namun Naruto –yang pada dasarnya selalu tak mau merepotkan orang lain– tentu saja menolak. Ia lebih memilih untuk naik angkutan umum selepas mengantar gadis di sampingnya ini pulang.
Jalanan begitu sepi. Nyaris tak ada kendaraan yang berlalu lalang.
"Naruto, aku baru ingat kalau aku harus membeli sesuatu. Aku mampir sebentar, ya?"
Naruto pun mengangguk. Tanpa menunggu jawaban dari Naruto, ia segera menyeberang ke arah sebuah minimarket yang ada di seberang jalan yang tengah dilaluinya. Tanpa disangka, tiba-tiba sebuah mobil berkecepatan tinggi saat itu pula muncul dari tikungan.
DEG!
Sakura membeku. Kakinya begitu kaku. Ia tak sanggup bergerak. Hanya ketakutan yang menyelimutinya kini. Tiba-tiba….
BUK!
Sakura merasakan tubuhnya terlempar. Namun bukan karena mobil itu. Seseorang mendorong tubuhnya. Ia membuka mata perlahan dan takut-takut. Hal pertama yang dilihatnya adalah… Tubuh Naruto yang penuh darah
"NARUTOOO…!"
.
.
To Be Continued
.
.
Sekali lagi, gomennasai kalau ada (atau mungkin banyak) typo(s) yang bertebaran di mana-mana. Tapi meski fic ini abal, kepada readers yang baik hati dan tidak sombong, tolong jangan pelit-pelit reviewnya. Kritik dan saran apapun juga aku terima :)
