Semua Tentang Kita
Chapter 3
Byun Baekhyun. Park Chanyeol
Other Member EXO
T
Romance
.
.
.
Ada cerita tentang aku dan dia
Dan kita bersama
Saat dulu kala
Seoul, 04 Februari 2012
"yak! Byun Baekhyun! Kemari kau" Chanyeol semakin gencar mengejar Baekhyun yang terus menghindar dari tangan panjangnya.
Mereka terus bermain kejar-kejaran seperti anak SD sejak setengah jam lalu. Akan berhenti sebentar, lalu saling mengejar lagi saat jari Baekhyun mencubit pinggang Chanyeol. Yang lebih pendek menyerah lebih dulu, memilih berhenti sambil menekuk badannya dengan nafas terengah. Chanyeol menangkapnya, memeluk tubuh mungil itu dari belakang, nafasnya terdengar saling mengejar di telinga Baekhyun.
"aku lelah" keluh Chanyeol, menumpukan dagunya di bahu Baekhyun.
"badanmu saja yang besar, giant. Tapi tenagamu lebih kecil dari serangga" Baekhyun tertawa mengejek di akhir kalimatnya.
"ya ya terserahmu saja" Chanyeol merapatkan tubuhnya pada Baekhyun, menyamankan kepalanya di ceruk leher pria manis itu. Sedangkan Baekhyun terkikik di depannya.
Mereka terdiam beberapa saat, dengan Chanyeol yang terus memeluk tubuh Baekhyun dari belakang. Baekhyun tersenyum merasakan hangatnya tangan besar itu medekapnya, memberikan kehangatan di sela angin musim dingin yang dapat membuatnya masuk angin.
Ini sudah delapan tahun tahun kebersaman mereka. Tinggal dalam satu flat sederhana dan makan di meja makan yang sama. Namun kehangatan itu tak pernah berubah. Selalu sama seperti sejak pertama mereka bertemu. Chanyeol yang menyayanginya dan Baekhyun yang akan selalu membalas perasaan itu.
Seoul, 07 April 2006
Baekhyun tak pernah menyangka akan menghabiskan sebagian besar waktunya di Seoul bersama Chanyeol. Pria yang terjatuh dari sepeda di depan Baekhyun saat hari pertamanya masuk sekolah. Pria yang tersenyum lebar kearahnya saat mereka berada di kelas yang sama. Dan itu selama tiga tahun berturut-turut.
Chanyeol memperkenalkan diri layaknya teman sekelas nya lain. Namun Baekhyun menyukai senyum pria itu, yang tak di tunjukkan oleh temannya yang lain. Chanyeol selalu mengajak nya makan di bersama di kantin saat jam istirahat tiba. Atau mengerjakan tugas bersama di perpustakaan. Selalu seperti itu sampai tak mereka sadari bahwa Chanyeol akan selalu berada dimana Baekhyun berada.
Persahabatan itu baru terjalin selama satu tahun, sampai seseorang menemukan surat cinta Baekhyun dan membacakannya di radio sekolah. Chanyeol yang saat itu berada di kantin tersenyum saat mendengar setiap kalimat yang dibacakan oleh seorang perempuan di balik pengeras suara itu. Sedangkan si pemilik surat entah berada dimana sekarang.
"idiot" sebuah suara membuat Chanyeol mendongak. Minseok menatapnya dengan pandangan aneh. Chanyeol sama sekali tak menghilangkan senyuman itu dari wajahnya saat Minseok duduk di hadapannya.
"jangan menakuti ku Park" ucap Minseok setelah menenggak cola nya.
"apa yang menakutimu? Aku hanya tersenyum"
"justru itu, kau terlihat seperti psikopat"
Chanyeol melemparinya dengan tisu saat pria tembem itu menertawakannya. Suara di pengeras suara belum berhenti memebacakan surat Baekhyun, membuat beberapa gadis di kantin menjadikanya bahan obrolan. Menebak-nebak siapa kiranya yang berhasil membuat pria manis itu jatuh cinta. Chanyeol semakin mengembangkan senyumnya saat membayangkan bahwa Baekhyun menulis surat itu dengan rona merah muda di wajahnya.
"berapa halaman sebenarnya surat itu? Dia ingin menyatakan cinta atau berpidato?" Chanyeol mencibir saat Minseok menyerukan protesnya.
"ada apa denganmu?" tanya Chanyeol dengan wajah tak sukanya.
"aku yang seharusnya bertanya, ada apa denganmu?"
"aku kenapa?" Chanyeol menyuap kentang goreng yang sempat di abaikannya.
Minseok terdiam beberapa saat, meneliti wajah Chanyeol yang sesekali tersenyum di sela kunyahannya. Jauh dari itu, Minseok sebenarnya tau apa yang ada di dalam hati Chanyeol.
"Chan" lirihnya
Chanyeol mendongak, menatap tepat di mata Minseok. Chanyeol terdiam, paham betul apa yang tersirat dari tatapan mata sahabatnya. Mereka saling mengerti, bahkan tanpa harus mengeluarkan sepatah kata. Di antara sahabat-sahabat nya yang lain, Minseok memang yang paling dewasa dan mengerti dengan sahabatnya. Pria itu berada di tingkat tiga bersama Junmyeon dan Yifan.
"Chan, kau ingin mengatakan kalau surat itu—"
"ya, aku berharap begitu hyung" potong Chanyeol tak lupa dengan senyum idiotnya.
"itu akan menyakitimu" Minseok tetap menatapnya, kini cukup serius.
"kenapa? Aku yakin surat cinta itu untuk—"
"…..untukmu, Zhang Yixing"
Kata terakhir dari pengeras suara itu menjadi awal kegelisahan Baekhyun. Selama sebulan Chanyeol terus menghindarinya. Mengabaikan pesan dan telpon dari Baekhyun. Meski nyatanya mereka sekelas, Baekhyun masih belum berani berbicara langsung dengan Chanyeol. Dia sudah mendengar semua penjelasan dari Minseok, tentang bagaimana perasaan sahabat tingginya itu padanya. Dan mendapat tolakan halus dari Yixing yang mengatakan bahwa dia hanya ingin focus pada sekolahnya, padahal Baekhyun tau bahwa lelaki berdimple itu tak punya ketertarikan pada hubungan sesama. Diam-diam Baekhyun mensyukuri hal itu.
Baekhyun menyukai Yixing, itu benar. Namun semenjak mendengar penjelasan Minseok, dia mulai ragu. Menganggap bahwa selama ini dia hanya menyukai pria itu karena dimple manisnya. Alasan konyol, tapi Baekhyun tak ingin berfikir lebih dari itu. Yang penting sekarang adalah sahabat tingginya. Jadi Baekhyun memutuskan untuk mengajak Chanyeol bicara empat mata di atap sekolah.
"Baek?" Suara barithone Chanyeol mengejutkan Baekhyun, tersadar dari lamunannya.
"iya Yeol?" Baekhyun memegang tangan Chanyeol yang masih setia melingkar di perutnya.
"kau melamun?"
Baekhyun menggeleng, "aku tidak"
"kau iya" sergah Chanyeol
Baekhyun memutar bola matanya, malas berdebat dengan jerapah idiot itu. "lalu?"
"melamun kan masa depan kita?"
Baekhyun merasa geli mendengar 'masa depan kita'. Chanyeol sudah berkali-kali mengajaknya mengobrol masalah itu. Namun hanya ditanggapi dengan enggan oleh Baekhyun. Entahlah, Baekhyun hanya merasa belum saat nya membicarakan hal itu. Masih terlalu jauh.
"maaf membuatmu kecewa, tapi itu masa lalu"
Chanyeol terkekeh. Dia sangat tau bahwa Baekhyun paling anti membicarakan hal itu. Tapi dia suka menggoda pria manisnya. Wajah merengutnya terlihat lucu di mata Chanyeol. Membuatnya gemas dan mencintai pria itu semakin dalam. Badan Baekhyun tersentak saat Chanyeol memutar badan itu menghadapnya. Menarik yang lebih tua ke dalam rengkuhan nya.
Hening beberapa saat. Baekhyun menyamankan dirinya dalam pelukan Chanyeol, menghirup aroma favoritnya dari pria itu. Sedangkan Chanyeol tak henti-henti nya bersyukur dapat melakukan hal ini setiap saat. Bersyukur karena waktu itu Yixing menolak Baekhyun. Bersyukur karena Baekhyun mengajaknya bicara di atap sekolah waktu itu. Dan semua rasa syukurnya yang tak bisa dijelaskan satu-satu jika itu tentang Baekhyun.
Baekhyun mengeratkan pelukannya di tubuh Chanyeol saat pria tinggi itu mengucapkan satu kata yang membuatnya tak akan pernah bisa membayangkan bagaimana hidupnya jika tidak bersama pria ini. Membuatnya bersumpah pada dirinya sendiri bahwa akan selalu menguatkan perasaannya, apapun yang terjadi.
"kau sahabat terbaikku Baek"
"ya, aku tau"
"aku tidak ingin kau dimiliki orang lain Baek"
"ya, aku tau"
"aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersama mu"
"ya, aku tau"
"aku mencintaimu Baek"
"…"
"aku mencintaimu. Sangat mencintaimu Byun Baekhyun"
"…"
"Baek—"
"aku tau Yeol. Aku sudah tau"
.
.
.
Seoul, 21 Desember 2012
"tidak ada pantai?" tanya Baekhyun setelah keluar dari mobil.
Chanyeol menggeleng dengan senyum yang seolah tak pernah hilang dari wajah tampannya. Baekhyun tertegun, namun sekejap kemudian tersenyum lebar. Pemandangan di depannya bukan lah hamparan pasir putih dengan laut luas dan suara ombak. Melainkan perbukitan dengan rumah-rumah petani dan penggembala yang sangat ia sukai. Seharusnya Baekhyun tau, Chanyeol tidak akan membiarkannya menggigil di tengah cuaca ekstrim ini dengan mengajaknya ke pantai. Mengingat itu, membuat Baekhyun berubah kesal dan menginjak kaki yang lebih tinggi dengan sekuat tenaganya.
"AKH! Apa yang kau lakukan?!" Chanyeol mengangkat satu kaki nya yang di injak Baekhyun, mengelus nya dengan ringisan pelan. Injakan pria mungil itu tidak main-main, rasanya sangat sakit.
"kau membohongiku"
Sangat jelas satu jam yang lalu Chanyeol mengatakan akan mengajaknya ke pantai yang langsung mendapat semburan protes dari Baekhyun. Bagaimana mungkin ide konyol itu terlintas di kepala Chanyeol. Ke pantai di musim dingin? Hell, itu akan membuat mereka berdua mati beku. Tapi lihatlah sekarang, mereka berada di pedesaan yang entahlah, Baekhyun juga tidak tau ada di sudut kota mana.
"sudahlah Baek. Ayo!" Chanyeol menggenggam tangan Baekhyun, tangan mungil yang selalu terasa pas di tangan besarnya. Membuat Baekhyun kembali tersenyum, melupakan kekesalannya pada pria jangkung itu.
Chanyeol mengajaknya berkeliling, melihat-lihat perkebunan paman Kwon yang di penuhi strawberry atau peternakan paman Jung yang sapi betinanya baru saja melahirkan. Baekhyun cukup terkejut saat Chanyeol memberitahunya bahwa desa ini adalah resort pribadi milik keluarganya. Sengaja tak mengubah apapun karena tuan Park yang menyukai suasana seperti ini. Baekhyun tiba-tiba merasa kecil berjalan di samping Chanyeol.
Pria itu jelas anak dari keluarga kaya, bahkan jauh dari keluarganya. Tapi selama delapan tahun, Chanyeol meninggalkan kehidupan glamor nya dan memilih tinggal bersama Baekhyun di flat kecil mereka. Baekhyun menatap tautan tangannya dengan Chanyeol. Tangan itu yang selama ini melindunginya, menjaganya dan menariknya dalam rengkuhan hangat di ribuan malam yang telah mereka lewati. Tangan itu juga yang selalu menghapus air matanya, mengingatkannya bahwa dia tidak sendiri. Bahwa ada Chanyeol yang akan terus berasamanya.
Baekhyun tersenyum, menngeratkan genggaman tangannya, merapatkan tubuh mungilnya pada yang lebih tinggi dan mendapat usakan gemas pada pucuk kepalanya. Setidaknya tidak ada yang perlu dia khawatirkan. Status social bukan alasan mengapa dia harus merasa kecil di samping Chanyeol. Karena mereka mengawalinya dengan perasaan cinta, dan harus menjalani nya dengan rasa yang sama.
Chanyeol membawa Baekhyun ke sebuah rumah yang terletak menyendiri di atas bukit kecil. Rumah yang Baekhyun yakini milik keluarga Park, terlihat dari design nya yang sedikit lebih angkuh dari bangunan-bangunan lain.
Baekhyun ragu pada awalnya, namun saat Chanyeol mengatakan bahwa tak ada siapa-siapa di rumah itu selain mereka berdua, akhirnya disinilah Baekhyun sekarang. Di dapur yang di desain seperti dapur tradisional daerah pedesaan Inggris kuno. Dengan lemari dicat putih, dibangun tempat penyimpanan di sudut, panel dekoratif dan corbels. Panel kayu kasar di pahat dan balok menghiasi langit-langit dan lantai kayu rumit menambah gaya Old World dapur ini. Sentuhan seperti taksidermi di atas kap mantel dan lampu-lampu gantung melengkapi tampilan dapur ini.
Baekhyun di buat kagum dengan seluruh interior dapur—setelah sebelumnya mengagumi interior ruangan lain—sebelum si jerapah idiot merengek minta di buatkan makanan karena perutnya yang terus mengerang kelaparan. Tanpa protes Baekhyun membuatkan sup tahu pedas untuk Chanyeol. Ruangan yang hangat seolah melecehkan cuaca ekstrim di luar sana sehingga Baekhyun tak perlu memakai mantel bulu yang berat itu lagi.
Chanyeol yang baru saja selesai mandi langsung menghampiri pria yang lebih tua beberapa bulan darinya itu. Memeluk pinggang nya dari belakang, kegiatan favoritnya. Baekhyun yang terlalu serius dengan masakannya tersentak saat tangan besar itu melingkari perutnya, namun tertawa pelan saat tau bahwa itu Chanyeolnya.
"citrus huh?" Baekhyun berucap setelah mencium aroma Chanyeol, tangannya masih sibuk memasukkan beberapa potong tahu ke dalam kuah sup nya.
"dan bergamot" timpal Chanyeol, tangannya semakin erat merengkuh pria itu, seolah tidak ada hari esok.
Baekhyun terkekeh kecil saat Chanyeol menggerakkan jari-jari panjangnya di sekitaran pinggang pria itu, dan berakhir dengan tertawa keras saat Chanyeol menggelitikinya.
"sudah yeol, hentikan" Baekhyun mengusap air mata di sudut matanya karena terlalu banyak tertawa. Sedangkan Chanyeol terkikik melihat Baekhyun yang kewalahan.
"sup mu akan gosong jika kau terus memelukku Yeol" Baekhyun mencoba melepaskan tangan Chanyeol dari pinggangnya. Rengkuhan possesif pria itu cukup mengganggu konsentrasi memasaknya.
Namun bukannya menuruti perkataan Baekhyun, Chanyeol malah mematikan kompor dan membalikkan badan Baekhyun menghadapnya, membuat pria manis dalam pelukannya tersentak kaget. Saat baekhyun akan mengeluarkan omelan mautnya, Chanyeol dengan segera mendekatkan hidungnya ke tengkuk Baekhyun, membuat Baekhyun terpaku untuk sesaat.
Chanyeol menarik Baekhyun semakin dekat, sehingga tak ada celah diantara keduanya. Baekhyun dapat merasakan nafas hangat Chanyeol di tengkuknya, memberikan sensasi aneh di dada Baekhyun. Dia merasa hangat dan aman di waktu bersamaan, dan tanpa sadar meremas kaus yang di gunakan Chanyeol dan memejamkan kelopak matanya.
"lain kali cobalah untuk mengganti parfummu" lirih Chanyeol tepat di telinga Baekhyun.
"aku menyukai aroma iris" sahut Baekhyun tanpa membuka matanya,
"sekali-sekali cobalah sisilia, maka aku akan menciumimu setiap hari, kkk~"
Baekhyun mencubit pelan perut pria di depannya dengan bibir mengerucut yang tentu saja tak bisa di lihat oleh Chanyeol karena pria itu telah menyamankan kepalanya di bahu Baekhyun. Mereka terus seperti itu untuk beberapa menit yang panjang. Merasakan detak jantung masing-masing yang berdentum tak beraturan.
Chanyeol menyukai moment ini, dimana dia bisa memiliki tubuh mungil Baekhyun sepenuhnya. Mendekapnya seolah tidak akan melepasnya lagi. Menghirup aroma iris yang di selalu di sukainya. Meneriakkan tanpa suara bahwa Baekhyun hanyalah miliknya, dan akan membunuh siapapun yang mencoba merebutnya.
Bertahun-tahun merasakan tubuh mungil ini di pelukannya, membuat Chanyeol terbiasa. Dia tidak pernah menyesali pilihannya untuk keluar dari kehidupan mewahnya, karena satu-satunya alasannya adalah Baekhyun. Pria manis yang mampu menjungkir balikkan hidupnya. Merubah si tuan Park pewaris saham milyaran dollar menjadi si Park Chanyeol yang hidup mandiri tanpa bergantung warisan.
Dia tetap akan membutuhkan warisan itu, tapi nanti, setelah urusannya dengan pemuda Byun ini selesai. Setelah dia bisa mengikat Baekhyun di depan Tuhan dan kedua orang tuanya. Setelah dia mendapat hak sepenuhnya atas pria mungil itu. Suatu hari nanti. Pasti.
"berjanjilah Baek. Berjanjilah seperti itu janji terakhir yang akan kau tepati" ucap Chanyeol tanpa sedikitpun menggeser tubuhnya.
Baekhyun mengangguk, "janji apa yang harus ku tepati Yeol?"
"tetaplah mencintaiku. Untuk sepuluh tahun, dua puluh tahun, tiga puluh tahun, bahkan seratus tahun kedepan. Berjanjilah kau tidak akan merubah perasaanmu. Berjanjilah untuk tidak mengingkari janjimu Baek" kesungguhan terpancar dari lontaran kalimat itu. Membuat Baekhyun menggigil dengan kenyataan bahwa mungkin saja dia akan mati sebelum menepati janji itu. Tapi tidak. Hal itu tidak akan terjadi.
Dengan semua keyakinan yang terpatri di hatinya, Baekhyun melingkarkan tangannya di leher Chanyeol, menarik pria itu dari bahunya dan mendekatkan wajahnya, sehingga kening dan hidung mereka bersentuhan. Mata mereka masih sama-sama menutup dengan detak jantung yang semakin menggila.
"ya, aku akan—"
"tapi sebelum itu, berjanjilah untuk terus behagia apapun yang terjadi. Berjanjilah untuk tetap menjadi Baekhyun-ku" potong Chanyeol cepat.
Baekhyun mengernyit. Merasa ada yang salah dengan semua ucapan Chanyeol. Tapi Baekhyun tak menemukan apapun yang salah. Chanyeol hanya meminta nya berjanji yang tentu saja akan di sanggupinya. Tapi perasaan cemas tak berdasar itu muncul tiba-tiba, membuat Baekhyun membeku beberapa saat.
Baekhyun membuka matanya, menatap onyx hitam kelam yang entah sejak kapan sudah lebih dulu menatapinya. Jemarinya tergerak mengelus pipi pria itu, tatapannya bergetar, menggambarkan betapa perasaan asing itu menakutinya.
"Yeol—"
"berjanjilah Baek"
"kau membuatku khawatir"
"seharusnya tidak ada yang bisa membuatmu khawatir selama aku disini Baek"
Seperti sihir, kalimat Chanyeol mampu membuat semua perasaan takutnya menghilang. Ya, Baekhyun tak perlu takut, karena Chanyeol akan selalu disini. Di sampingnya. Dengan senyum terbaiknya, Baekhyun menganggukan kepala, memantapkan hatinya untuk apapun yang akan terjadi besok dan seterusnya.
"aku berjanji Yeol. Aku berjanji padamu dan Tuhan"
Perasaan lega menelusup ke dalam dada Chanyeol. Dia harus selalu memastikan Baekhyunnya dalam keadaan baik-baik saja. Dan membuatnya berjanji adalah salah satu jalan. Karena dia tau, Baekhyun bukan seseorang yang akan mengingkari janjinya. Baekhyun dapat merasakan nafas hangat Chanyeol tepat di bibir tipisnya. Mereka kembali merasakan perasaan meletu-letup itu.
"aku mencintaimu Byun Baekhyun"
"dan aku lebih mencintaimu Park Chanyeol"
Ucapan cinta pertama dari Baekhyun selama delapan tahun Chanyeol menunggunya. Selama ini Baekhyun tak pernah membalas ucapan cintanya, tapi dengan senyuman dan perilaku pria itu Chanyeol tau, Baekhyun mencintainya lebih dalam dari sekedar ucapan. Chanyeol menyampaikan kebahagiaannya dengan menginvasi bibir pria manis di depannya. Mencintai pria itu lebih dalam lagi dan lagi. Sampai sebuah suara membuat Baekhyun segera melepaskan tautan bibir mereka, dan Chanyeol yang tetap diam tanpa pergerakan sedikitpun.
"Park Chanyeol!"
Tbc
Terima kasih sudah mau membaca ff abal saya ^^
Review juseyooooo~~~~
