Unlike Other Fairytales
.
.
.
.
I do not own any of these characters, and only the story. Kesamaan dalam cerita ini hanya kebetulan belaka
.
.
.
.
Any form of plagiarism would not be tolerated. Please report to me immediately if you ever found a post plagiarizing this story
.
.
.
.
Enjoy!
Sepertinya Jeno tidak sepenuhnya tanpa harapan.
Ia kembali ke ruangannya dengan senyum lebar menghiasi wajahnya. Sekali lagi Mark dipanggil menghadap, dan dengan erangan kelas Mark membuka pintu kamar sang putra mahkota. "Kenapa lagi? Maaf kalau aku terkesan kasar, tapi bisakah kau beri aku kesempatan menghabiskan waktuku dengan…,"
"Mark," Jeno memotong omongan Mark. "Aku masih punya kesempatan!"
"Oh," balas Mark pelan. "Selamat, I guess."
"Jangan begitu," Si rambut putih cemberut. "Bantu aku membuat Jaemin juga jatuh cinta padaku!"
"Kenapa aku?"
"Karena aku percaya dengan kemampuanmu dalam hal ini, Mark," Jeno meremas pundak sahabatnya itu. "Kudengar banyak gadis-gadis yang ingin menjadi kekasihmu. Itu bukti kalau kau itu tahu bagaimana caranya membuat seseorang jatuh hati!"
"Berhenti melantur," gumam Mark. "Banyak orang yang menyukaiku bukan berarti aku tahu bagaimana cara merayu seseorang. Itu adalah dua hal yang berbeda."
"Bilang saja kau ingin mengatakan mereka yang datang kepadamu," Ia memukul pelan Mark yang tersenyum usil. "Tapi serius, aku butuh bantuan agar bisa mendapatkan Jaemin."
"Hmm, sepertinya aku tahu siapa yang harus kau tanya."
Sebut saja Yuta. Nama keluarganya Nakamoto, dan ia datang merantau dari kerajaan sebelah untuk mencari pekerjaan. Tidak lama kemudian, ia jatuh cinta dengan makanan dan orang-orang negeri yang akan dipimpin Jeno, sehingga akhirnya ia memutuskan berganti berbakti jiwa raga di sana. Karena keahliannya berbicara, ia diberi tugas oleh raja menjadi pengantar pesan.
"Jadi, kalian memintaku mengajari kalian cara membuat gadis-gadis jatuh cinta pada kalian?"
"Um, sebenarnya Je― maksudku, Yang Mulia saja…,"
Awalnya, Yuta datang ke taman istana sembari tersenyum canggung. Jangan-jangan ia akan dipecat karena ia dianggap tidak becus? Atau karena ia belum membayar utang makan malamnya kemarin? Atau karena ia tidak sengaja mendengar gosip ibu-ibu tetangga tentang mengapa sang pangeran belum menentukan pilihannya bahkan setelah pesta? Tetapi untungnya, ia hanya dipanggil oleh dua bocah yang termakan cinta monyet.
"Yah," Yuta menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "sebenarnya tidak sesusah itu kok. Hanya butuh konsentrasi dan usaha saja."
Jeno membaca dengan cermat tips dari Yuta yang ditulis pada selembar kertas.
Langkah #1: terlihat keren
Oke, itu terlalu general untuk direalisasikan. "Memangnya aku kurang keren?"
Yuta mendengus. "Kalau melihat kondisi asmaramu yang menyedihkan sih kau tahu jawabannya." Tetapi saat ditanya apa yang kurang, ia juga tidak bisa menjawab.
Akhirnya, dengan menelan rasa malu, Jeno menyuap Renjun (ia kapok meminta tolong Chenle) untuk bertanya pada Jaemin seperti apa tipe idealnya. Renjun, sebagai seorang anak baik yang bermoral, sempat menolak bayaran Jeno dengan alasan "Kita, kan, teman," Jeno langsung berdoa semoga Tuhan selalu memberkati Huang Renjun dan hati emasnya. Maka, Jeno dan Mark bersembunyi di balik pintu dapur untuk menguping percakapan si rambut merah dan Jaemin.
"Aku tidak punya tipe ideal," Jeno mencelos sedikit. "Tetapi aku ingin ia punya tata krama yang baik dan memperlakukanku dengan pantas," Oh, pasti, Jaemin. Pasti Jeno akan menjagamu dengan sepenuh hati dan memberikan seisi dunia untukmu.
"Kalau begitu, orang seperti apa yang menurutmu keren?" Desak Renjun.
"Hmm," Ada jeda sejenak. "Aku tidak tahu, tetapi sepertinya orang yang humoris itu keren."
Deng.
Mungkin memang benar Jeno lahir di keluarga kaya lebih dari tujuh turunan. Ia memiliki segalanya; berkat di kemampuan kinetik dan penampilan (kata orang-orang sih), harta emas dan perak menghiasi perabot kamarnya.
Sayangnya, entah kenapa, di keluarga Lee ada satu kutukan yang tidak bisa hilang.
Selera humor keluarga Lee itu payah. Sudah beratus-ratus kali ia mendengar sang raja melontarkan lelucon yang dianggapnya lucu, yang sebenarnya lebih garing dari kerupuk. Ia yakin kakek dan kakek buyutnya tidak jauh berbeda.
"Menurutmu, Yang Mulia itu bagaimana?"
"Yang Mulia?"
"Pangeran mahkota?"
"Oh."
Ada jeda lama.
"Um— aku pikir aku harus pergi sekarang."
Itu suara Jaemin. Jeno dan Mark melesat kabur, berpura-pura mengobrol di dekat jendela dengan canggung. "Oh, hai, Jaemin!" sapa Mark kikuk.
"Apa," jawab Jaemin ketus. Ya Tuhan. Manis-manis galaknya minta ampun. "Kau tidak berlatih dengan Taeyong-ssi, Mark? Dan kau, bukannya kau punya banyak tugas negara untuk diselesaikan, Yang Mulia?"
"Ah, benar juga," pemuda berambut pirang itu tertawa gugup. "Sepertinya Taeyong-hyung memanggilku. Dadah!"
Kurang ajar. Teman macam apa dia itu, pikir Jeno nelangsa.
"Tidakkah kau punya sesuatu untuk dikerjakan, Yang Mulia?"
"Tidak," Jeno menggaruk tengkuknya. "Um, aku hari ini tidak ada tugas apapun, jadi…,"
"Maaf bila saya terkesan kurang ajar, Yang Mulia," Jaemin melipat lengannya di depan dada. "Saya tidak tahu apakah ini benar atau tidak, tapi kenapa Chenle dan Renjun menanyakan soal tipe ideal saya? Saya tidak ingin berprasangka buruk, tetapi apakah Anda…,"
"Aha, sepertinya aku mendengar Dongyoung memanggilku untuk pelajaran berikutnya. Dadah Jaemin, sampai bertemu lagi!"
Jeno kabur.
Menurut narasumber bernama Donghyuk, yang notabene sahabat Jaemin, ia lebih suka lelaki berambut gelap. Oleh karena itu, ketika ia datang sarapan keesokan harinya dengan rambut hitam, sang ratu hampir terkena serangan jantung.
"Apa yang terjadi dengan rambutmu?"
"Um, aku ingin berganti suasana? Aku penasaran bagaimana penampilanku kalau aku mengecatnya, jadi…,"
Sang raja menenangkan istrinya dengan tawa yang bergemuruh. "Biarkan ia mencoba-coba selagi muda."
Percaya atau tidak, Jeno benar-benar berinvestasi dalam memenangkan Jaemin. Ia meminta Donghyuk yang terkenal sebagai pembuat masalah mengajarinya cara bercanda yang menarik. Mark sampai geleng-geleng kepala dengan antusiasme irasionalnya.
Langkah #2: Tarik perhatiannya dan ajaklah kencan
"He-Hei, Jaemin," Jeno bersandar di ambang pintu dapur, mencoba berpose sekeren mungkin. Ia menyisir rambut hitam arangnya dengan jemari. "Apa yang sedang kau lakukan?" Oke, itu terkesan tidak keren sekali.
Jaemin berbalik dan menegakkan badan dari posisi berjongkok di depan tungku. Ia mengernyit melihat sang pangeran. Uh-oh. Jangan-jangan Jaemin tidak suka rambut barunya? Atau ia langsung auto-coret Jeno dari daftar orang-orang berpotensi untuk dikencani karena kecanggungannya?
"Anda terlihat…," Bola matanya bergulir dari atas ke bawah, lalu ke atas lagi. "berbeda."
"Apakah kau suka?" Jeno sekali lagi ingin menonjok dirinya sendiri karena menanyakan hal yang bodoh. "Maksudku, apakah kau pikir rambut hitam lebih cocok denganku?"
"Kau," Jaemin terlihat seperti menahan nafas. "terlihat luar biasa."
Jeno bisa merasakan jantungnya berdegup lebih kencang dan senyum terbentuk di ujung-ujung bibirnya. Jaemin memuji penampilan barunya! Kali ini Donghyuk tidak berbohong. "Trims. Kau sedang memasak apa?"
"Uhh," Jaemin menoleh ke arah tungku. "Roti putih biasa saja."
"Aku yakin rasanya tidak biasa saja," Jeno menelan ludahnya, "Maksudku, tidak biasa dalam konteks yang bagus."
Jaemin terlihat seperti pura-pura tidak mendengar Jeno, menatap ke api yang menjulurkan lidah-lidah merahnya. Mereka duduk dalam keheningan untuk dua menit, Jeno di dekat meja pantry dan Jaemin di seberang tungku.
"Aku ingin jadi koki karena ibuku."
Jeno memandang Jaemin. Wajahnya merefleksikan api, dengan cahaya yang menunjukkan tinggi tulang pipinya dan panjang bulu matanya. "Ia selalu ingin memiliki restorannya sendiri dan memasak untuk orang-orang."
"Ia terdengar seperti wanita yang luar biasa," Jeno bisa melihat senyum pahit Jaemin yang tersembunyi dalam bayangan yang terbentuk oleh api
"Ibuku bilang aku bisa jadi apapun yang aku inginkan, dan aku bilang aku ingin menjadi sepertinya," Ia menghela nafas. "Kau ingat wabah dua tahun lalu?" Jeno mengangguk kecil. "Ia…, Mama tidak cukup kuat untuk melewatinya."
Jeno mencelos. Oh, seandainya ia bisa melingkarkan lengannya di tubuh Jaemin dan mengatakan semuanya akan baik-baik saja. Tetapi yang bisa keluar dari bibirnya hanyalah gumaman, "Aku turut berduka cita, Jaemin."
"Jangan," Suara Jaemin pecah. "Jangan mengasihaniku."
"Jaemin…,"
"Sepertinya Anda harus pergi, Yang Mulia."
"Jae—,"
"Sekarang."
Jeno mengangguk, sempat menoleh untuk melihat pundak Jaemin yang bergetar— mungkin karena tangis— sebelum menutup pintu dapur. Ia tahu ia mengacaukan semuanya dan sekarang ia harus meminta jalan keluar pada Yuta.
TBC(?)
.
.
.
.
.
.
omaga i know ini kesannya meksa banget omagaa aku janji minggu depan bakal kembali ke jalan yang lurus(?) okeei
mungkin ini fic bakal selesai in like 2 more chapters i hope wkwkkw
review juseyo ehehe
