Hello, fellas! (^O^)/
Long time no see, ya? Uhuhuhu... Biasa, kehidupan telah mempengaruhiku... (;_;)
Seperti yang telah saya bilang di chapter sebelumnya, sudut pandang chapter ini dari sisi Aomine. Baiklah, selamat membaca. :)
Disclaimer: I don't own Kurokocchi's kawaii-oshiri. Unfortunately.
Chapter 3
Tak pernah ku melihat seorang pria
Yang menatap dengan bermuram durja
Ke arah tenda kecil berwarna biru
Yang oleh para tahanan disebut sebagai Sang Langit,
Dan pada setiap awan yang berderak
Dengan layar terkembang berwarna perak
...
Aku berjalan, dengan sebelah jiwa dalam pesakitan,
Dalam lingkaran lain,
Dan bertanya-tanya apakah pria tersebut telah melakukan
Hal yang berat atau hal yang sepele
Ketika sebuah suara di belakangku berbisik pelan,
"Pria itu akan digantung."
...
(Wilde. Ballad of Reading Gaol I: Bait 3-4)
I: The Man Who Wonders
Apakah komponen sejati yang membentuk seorang manusia, aku bertanya-tanya.
Seorang biologis menjawab, "Komponen tubuh manusia adalah sel-sel; sel kulit, sel darah, sel organ, sel saraf, dan sel tulang merupakan contohnya!" dan aku pun menertawainya. Tidak, pernyataan tersebut tidak salah, tetapi tidak juga benar sepenuhnya. Siapa yang tidak mengetahui hal itu? Maka, dengan tidak puas, kutinggalkan ia dengan sel-selnya.
Esoknya, kutemui seorang kimiawan. Ia menjawab, "Komponen tubuh manusia tak lain hanyalah oksigen, karbon, hidrogen, nitrogen, fosfor, kalsium, dan beberapa komponen lain yang mendukung!" Dan sama seperti kemarin, aku menertawainya. Akhirnya kutinggalkan ia sendiri bersama gelas-gelas kacanya.
Pagi berikutnya, kutemui seorang spiritualis. Ia menjawab, dengan suaranya yang lemah lembut, "Hanya ada tiga komponen manusia; hatinya, akalnya, dan fisiknya." Aku mengangguk, namun ketidakpuasan masih menggerogoti pikiranku. Aku bisa merasakannya; mengintai di pinggir alam bawah sadarku, bersiap kembali menyelinap ke dalam pikiranku saat aku sedang lengah.
Dua puluh tahun setelah itu, kudapati diriku masih sering memikirkannya, pertanyaan sederhana itu: apakah penyusunku, pembentuk diriku? Apakah aku? Aku tahu aku adalah sekumpulan sel-sel yang bekerja bersama, namun mengetahui hal itu tidak membuatku puas. Aku tahu bahwa sebagian besar unsur di tubuhku adalah oksigen, hidrogen, dan karbon, tetapi mengetahuinya bukan berarti lantas membuatku mengerti. Aku juga tahu bahwa diriku ada jika memiliki jiwa, pikiran, dan fisik, tetapi itu tak membantuku menyingkirkan kekosongan yang kurasakan di dadaku.
Kunikmati kekosongan itu sembari bersandar pada satu-satunya hal yang kutahu takkan mengkhianati: diriku sendiri.
Aku hanya tak menyangka kutemukan setengah jawabannya dua tahun setelah itu, di sebuah lapangan basket dekat rumah, tempatku dulu menghabiskan masa kanak-kanak dan remajaku. Pada hari itu, langit telah merona dengan semburat keemasan, sang senja mengintip malu-malu dari balik pepohonan yang telah berwarna kecokelatan. Kumainkan bola basket di tanganku sejenak sebelum melakukan dribble dan dengan tangkas menggiring benda tersebut ke ring di sisi lain lapangan.
Ding! Suara bola yang bersinggungan dengan ring beresonansi dengan udara yang perlahan mendingin, menciptakan bunyi gema di seluruh lapangan. Sebuah three-shot yang terlalu mudah, tanpa lawan bertanding, tanpa tekanan apapun. Nyaris membosankan.
Ya, sore itu hanyalah sore yang indah dan normal, di akhir bulan September, kala alam perlahan berganti menyambut musim gugur.
"Ah! Bukankah kau Dai-chan!" sebuah suara wanita menyapaku dari belakang.
Aku mengalihkan pandang dari ring basket ke arah sumber suara.
Wanita itu, dengan rambut yang nyaris sewarna dengan langit senja di belakangnya, tersenyum padaku dari balik pagar lapangan basket. Wajahnya yang pucat dan bibirnya yang merah mengingatkanku pada warisan kecantikan alamiah wanita Jepang zaman dulu, namun matanya ー ya, matanya yang besar dan cemerlang itu, begitu penuh dengan kehidupan dan kebahagiaan, membuat sinar batu rubi tampak malu-malu.
Kurasakan darah naik ke pipi dan telingaku, yang setengah mati kutahan.
"Halo Momoi-san, lama tak jumpa," ujarku dengan suara serak, diam-diam mengalihkan pandang ke sepatu ketsku.
Tawanya yang nyaring membuat jantungku berdegup kencang, dan saat itulah aku tahu, bahwa aku jatuh cinta.
Setengah jawabannya lagi, baru kutemui setahun setelah peristiwa di taman tersebut.
Kejadian kali ini tidaklah sedramatis dulu. Hari itu adalah suatu hari di musim semi yang normal. Langit telah menggelap, udara perlahan mendingin sementara aku dan Momoi berjalan dengan santai; tawa di antara kami.
Hari itu adalah akhir minggu yang normal bagi kami, setidaknya selama setahun terakhir. Kami seringkali menghabiskan waktu bersama, biasanya menonton bioskop atau sekedar bermain basket (siapa yang menyangka wanita secantik dia jago bermain basket!), tetapi hanya sebatas itu. Aku belum bilang padanya bahwa aku mencintainya, mengaguminya, dan menginginkan lebih dari hubungan ini ー aku terlalu takut.
Aku takut akan kekuatan perasaan ini. Aku bisa merasakan bahwa mencintainya membuatku berubah, dan aku tak senang karena itu ー seolah-olah, perasaan ini dapat mengendalikanku sepenuhnya, menundukkanku, mengikatku. Aku tak siap dikendalikan siapapun atau apapun; selama ini, aku selalu percaya bahwa hanya diriku lah yang bisa mengendalikan takdirku dan hidupku. Aku terlalu keras kepala, terlalu arogan, untuk mengakui bahwa perasaan ini bisa saja melemahkanku ー namun aku juga membutuhkannya; bagaikan candu yang tak dapat kutolak.
Tetapi, menyerah bukanlah pilihan bagiku. Aku tak ingin terpedaya oleh perasaan ini, yang diam-diam menjalar bagai racun di paru-paruku. Ya, aku takut pada kehadirannya, namun di sisi lain, aku tak dapat menolaknya. Sebuah kontradiksi, yang membungkam mulutku dan menahanku untuk maju dan menyatakan cinta pada sosok wanita luar biasa di hadapanku.
Kami sedang berjalan melewati sebuah taman bermain, ketika kulihat dua anak kecil, mungkin baru berusia tiga atau empat tahun, sedang bermain seluncuran di bawah pengawasan seorang pria yang kelihatannya ayah mereka.
"Ah, imutnya," Momoi menyeletuk, matanya mengikuti arah pandanganku.
Aku memutar bola mata. Setiap wanita pasti bakal bilang begitu, aku yakin. Melihatnya, Momoi tertawa.
"Dasar nggak romantis," guraunya. "Begini-begini, aku juga punya naluri keibuan, tahu!"
Aku mendengus, tak ingin membantah (karena diam-diam aku menyetujuinya), namun juga tak ingin menunjukkan bahwa aku menyukainya.
"Kau masih ingat tidak, dulu kita sering main bareng di sana?" Momoi kembali memancingku untuk berbicara.
Aku mengangkat bahu, "Itu dua puluh lima tahun yang lalu, Momoi. Waktu itu taman ini masih berupa lapangan kosong."
Momoi mengikik, "Benar! Dan kau ingat pohon-pohonan yang dulu pernah tumbuh rindang di sebelah sana? Kita biasa menangkap kumbang kayu di sana, bukan? Masih ingat tidak?"
Aku menyembunyikan senyumku dengan dengusan, berpura-pura tak tertarik. "Yeah, yeah, dan kau selalu memintaku untuk menggendongmu agar bisa mendapatkan kumbang di tempat yang tinggi, dasar begundal cilik," gumamku dengan nada ringan, tak bermaksud menyinggung.
"Yep! Hahaha, kau masih ingat!" Ia mengeluarkan desahan, dan kerinduan sekilas tersirat di matanya yang indah.
Kami berdiam sejenak di pinggir taman tersebut, bersandar pada pagar kayu sembari menatap kedua bocah dan ayahnya yang sedang bersenang-senang di taman, ketika Momoi tiba-tiba mengeluarkan tawa tertahan.
"Kau tahu, Dai-chan? Dulu waktu aku masih seumur mereka, aku pernah memiliki cita-cita," matanya tetap terpaku pada kedua bocah itu dan ayahnya, bibirnya membentuk senyum tipis, "...untuk menikahimu dan melahirkan anak-anakmu kelak jika sudah dewasa."
Aku menatapnya, kaget. Jantungku berdegup kencang, dan dadaku terasa sesak.
Momoi akhirnya menatapku, ekspresinya melembut, sebelum bergumam pelan, "Dan sampai sekarang pun, tetap begitu. Kau adalah cinta pertamaku, dan anehnya, satu-satunya. Konyol, eh?" Ia mengalihkan pandang dariku, lalu mulai berjalan menjauh. Rona merah muda muncul di kedua sisi pipinya.
Dan aku pun melakukan satu-satunya hal yang kutahu tak akan kusesali, sekalipun pikiran rasional dan egoku berteriak sebaliknya: mengejarnya, dan menciumnya.
Malam itu, ketika aku berbaring sendirian di kamarku yang gelap sambil tersenyum mengingat ciuman kami, akhirnya kutemukan jawaban atas pertanyaan yang kuajukan dua puluh tiga tahun yang lalu.
Komponen apakah yang membentuk seorang manusia?
Bagi beberapa orang, jawabannya bisa bermacam-macam; sel tulang-sel darah-sel syaraf-sel kulit-dan-sel-sel lain, atau oksigen-hidrogen-arang-fosfor-dan-unsur-lain, atau pikiran-fisik-ruh-dan-beberapa-hal-yang-aku-tak-pe duli. Tetapi bagiku, jawabannya ternyata sederhana saja.
Mencintai dan dicintai. Hanya dua hal tersebut, pada akhirnya, yang membuatku merasa sangat 'manusia'.
Tetapi daku tak menyesal telah mencintaimu -ah! apalagi yang harus dilakukan seorang lelaki?-
Demi gigi-gigi kelaparan sang pengganyang waktu, dan pengejaran dalam hening selama bertahun-tahun.
...
Tanpa kemudi, kita melayang melintangi prahara, dan setelah badai remaja berlalu,
Tanpa alunan kecapi maupun paduan suara, 'Kematian' sang pilot bisu datang pada akhirnya.
...
(Wilde. Flower of Love: Bait 11-12)
II: The Man Who Falls
Hancur sudah segala yang ada pada diriku. Menguap bagai asap, hilang meninggalkanku tanpa jejak. Kucoba untuk menggapai kembali sisa-sisa esensi diriku tersebut dengan tangan kosong, tetapi tak bisa. Aku tahu tidak akan pernah bisa, sudah terlambat; sudah hancur semuanya. Aku hanya bisa menyaksikan tanpa daya dari balik kaca, sementara setengah diriku sedang berubah menjadi abu. Tangisan-tangisan dari orang-orang yang hadir, memekik dan memanggil-manggil nama Satsuki bagaikan melodi bisu bagi telingaku.
Mendadak seluruh dunia hanya tampak dalam film hitam dan putih; tak tampak nyata, bagaikan memandang dari pantulan air dalam tempayan. Jika ada satu hal yang membuatku bertahan sementara kulihat api perlahan melahap habis sisa tubuh wanita yang paling kucintai di dunia ini dengan hampa, dan bukannya ikut terjun ke dalam api bersamanya, adalah tubuh kecil yang kugendong.
Ryouta meronta dalam pelukanku, merengek. "Ayah! Aku mau Ibu! Ibu mana sih? Ayah!"
Aku memeluk anakku lebih erat, menutupi wajahnya yang mungil dengan telapak tanganku sembari berbisik, "Sssh, sssh," menenangkannya. Ryouta tidak suka. Ia memberontak dan mulai menangis.
Kubiarkan dia menangis, mewakili tangisanku sendiri yang tertahan. Kubiarkan ia meronta, mewakili hatiku sendiri yang meronta sementara menyaksikan belahan jiwaku menjadi debu. Kubiarkan ia memanggil-manggil ibunya; satu hal lain yang jika dapat kulakukan, akan kulakukan dengan senang hati.
Tetapi tidak, aku tidak bisa. Aku adalah seorang ayah, dan jika aku pergi, siapa yang akan melindungi anak-anak kami? Siapa yang akan mencintai mereka? Seluruh perjuangan Satsuki, kepergian Satsuki, akan sia-sia.
Jadi, kulakukan satu-satunya hal yang bisa kulakukan saat itu: menyaksikan istriku pergi dalam lautan api dalam diam sementara tubuhku untuk melindungi anakku, sekali lagi menikmati melodi tanpa nada yang menggumamkan nama wanita yang paling kucintai dari orang-orang yang memekik dan meraung. Kusimpan air mataku dalam diam, di malam-malam panjang dan gelap yang kulewatkan hari-hari setelahnya.
Untuk sebuah pekuburan yang telah terbuka lebar,
Tak ada penguburan sama sekali:
Hanya sebuah goresan dari lumpur dan pasir
Oleh dinding penjara yang mengerikan,
Dan sedikit onggokan kapur yang terbakar
Sebagai kain penutup bagi pria itu.
...
Dan selama itulah kapur terus membakar
Melahap daging dan tulang-tulang,
Mengganyang tulang yang rapuh di malam hari,
Dan daging yang empuk di siang hari,
Menggasak daging-daging dan tulang-tulang silih berganti,
Tetapi memakan hatinya tanpa henti.
...
(Wilde. Ballad of Reading Gaol I: Bait 74 and 76)
Dengan Tengah-Malam dalam hati,
Dan Senja dalam setiap sel,
Kami putar engkolnya, atau cabik talinya,
Masing-masing dalam Nerakanya yang tersendiri,
Dan kesunyian jauh lebih mengerikan
Dibandingkan suara lonceng kuningan.
...
Dan tak pernah sekali pun suara manusia mendekat
Untuk berucap sepatah kata yang lembut,
Dan mata yang mengintai melalui pintu tersebut
Tidaklah berbelas kasih dan alot:
Dan ketika semuanya terlupa, kami membusuk dan membusuk,
Dengan jiwa dan tubuh yang terkeruk.
...
(Wilde. Ballad of Reading Gaol I: Bait 3-4)
.
Kini aku hanya tersenyum nyinyir sembari menatapi kedua tanganku yang penuh darah. Kunikmati rasa nyilu dan pedihnya, sambil setengah mati berharap bahwa rasa nyilu dan pedih di dadaku bisa berkurang karena itu. Tetapi tidak, tentu saja tidak, bodohnya aku!
Di sebelahku, rekan satu selku duduk dengan tenang. Kedua matanya yang berwarna hijau terang menerawang jauh dari balik bingkai kacamata perseginya, namun aku tahu ia mendengarkan. Mengalihkan pandang kembali pada kuku-kukuku yang pucat dan tak terawat, perlahan kupaksa mulutku yang kering untuk mengeluarkan suara.
Berat. Pita suara ini seakan menolak bekerja sama dengan otakku. Aku berdeham, mencoba lagi. Kurasakan pita suaraku bergetar lemah, menimbulkan resonansi yang nyaris tak pantas didengar, sebelum ia memaksakan diri untuk bekerja sama denganku. Dalam sekejap, cuplikan-cuplikan gambar dalam berbagai warna yang kusam bagaikan memorabilia sebuah album foto hitam putih lama, terlintas di benakku. Hitam dan putih, kesedihan dan tawa, di balik kelopak mataku. Setitik besar air bening tidaklah mengaburkannya, tetapi justru memperjelasnya.
...Ah. Rupanya air mata ini belum juga mengering?
Sial, pikirku.
Kubuka mulutku untuk berucap:
"Hari itu adalah hari pertama Tetsu, anak bungsuku, masuk sekolah..."
.
.
.
.to be continued.
(A/N):
Sudahkah kalian membaca puisi-puisi Oscar Wilde? Jika belum, bacalah. Beliau adalah penulis yang luar biasa ー karya-karyanya menghanyutkan, dramatis, menyentuh.
Maafkan saya jika ada penerjemahan yang tidak tepat dari puisi-puisi beliau, karena tidak semua kata dalam bahasa yang beliau gunakan bisa saya terjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia... [orz] Apalagi, jika mempertimbangkan rimanya. *nangis darah* Karena itu, bagi yang tertarik dengan Ballad of Reading Gaol dan Flower of Love, bacalah karya beliau yang asli, ya? xD
Dan ya, saya sedang berupaya menampilkan sisi puitis dari seorang Aomine(?) di sini. Selama ini kita hanya mengenal dia sebagai karakter yang 'macho' dan 'kayak tukang-tukang' kan? [#digampar] Karena itu, saya ingin menampilkan sisi lain dari seorang Aomine Daiki. Yep, mungkin dia adalah pria yang keras hati (dan mulut), tetapi di balik semua itu, siapa yang tahu kalau ternyata dia punya sisi melankolis yang dalam? [#plak]
Dan saya akan tetap menggunakan sudut pandang Aomine chapter berikutnya. Muahahahahaha… ψ(`∇´)ψ [#ngakakJahat]
Anyway! Semoga pembaca sekalian terhibur. Kritik dan saran, sudah pasti, akan sangat saya hargai! ~~~(੭*≧∇≦)੭
よろしくお願いします!
