Warn of typo(s) dan ini GS!. DLDR*

.

.

Just enjoy this story!

.

.

"Hei!" seseorang berteriak sambil menunjukku. Beberapa teman lainnya tertawa mengejekku. "Coba lihat gadis yang hidup di atas sumbangan itu!"

Sontak setelah Xiao atau lelaki asal China itu selesai dengan kalimatnya, semua anak dan beberapa yang awalnya tidak menghiraukannya menyemburkan tawaan yang sungguh, membuatku sesak. Aku sudah biasa mendapat cercaan dan hinaan semacam itu. Asal mereka tahu, sumbangan yang diberikan oleh keluarga Wu itu juga tidak gratis. Selama ini aku mati-matian belajar keras supaya beasiswa yang diberikan oleh keluarga Wu itu tak dicabut. Tuan Yifan bersedia menyekolahkanku di sini tetapi dengan satu syarat, aku harus bisa mendapat peringkat di tiga besar di sekolah. Saat ini aku beruntung karena aku selalu mendapat peringkat kedua. Meskipun hanya kedua tapi aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini.

"Sudah," seseorang menepuk bahuku pelan dan menyunggingkan senyum teduh padaku. "Jangan dengarkan mereka."

Xi Luhan. Perempuan itu menggamit lenganku untuk segera pergi menjauh dari kerumunan yang menertawaiku. Aku hanya pasrah saja saat dia menarikku dan mengajakku untuk masuk ke ruangan yang disebut dengan perpustakaan. Aku menghela nafas lega ketika telingaku tak lagi menangkap tawaan yang sungguh menyeramkan aku dengar.

BRUK.

Suara debuman buku dengan meja perpustakaan membuatku tersadar akan lamunanku dan segera mendelik menatap perempuan berambut pirang pendek di depanku.

"Apa kau tahu," dia menaikkan alisnya dan mulai membuka buku ditumpukan teratas di mejanya. "Semalam aku sudah melakukan hal yang sama seperti ini."

Aku semakin membulatkan mataku dan menatapnya tak percaya. Xi Luhan adalah perempuan yang diagungkan di sekolah ini karena jasa kedua orang tuanya yang menurut cerita, adalah pemberi dana terbesar ketika sekolah ini dulunya roboh karena gempa enam tahun lalu. Seluruh staf dan guru-guru begitu menghormatinya dan menjaganya dari segala macam tangan jahil yang berniat melecehkannya. Bahkan dulu kemanapun Xi Luhan pergi ia selalu dikawal oleh pesuruh ayahnya. Tetapi akhir-akhir ini, tak tahu kenapa para penjaganya sudah tidak mengikutinya lagi. aku juga tidak pernah berniat untuk bertanya.

"Dan," dia memejamkan matanya seperti mencoba untuk mengingat kejadian semalam yang telah dilakukannya. "Rasanya benar-benar aneh. Maksudku seperti ada sesuatu yang aku juga tidak tahu dalam diriku yang bergerak dan membuatku berkeringat hingga aku.." dia bergeleng-geleng sendiri dan mendudukkan dirinya di sampingku. "Aku sangat senang! Begitu senang dan aku kecanduan."

Aku spontan mengguncang kedua pundaknya dan berseru "Kau ini apa-apaan?!" dia hanya memberiku cengiran menyebalkan. "Aku tidak akan membiarkanmu melakukan hal seperti itu. kau ini belum tahu apa-apa tentang masalah cinta. Kau tidak boleh melakukannya!"

"Tapi sayangnya, aku takkan menuruti keinginanmu." Luhan menjulurkan lidahnya dan mengetuk kepalaku pelan. Aku cepat-cepat menariknya duduk saat dia akan kabur dariku.

"Ini bukan keinginan! Tapi larangan." Tegasku dengan serius.

Setelah itu aku pergi meninggalkannya. Entah kenapa, membahas soal ciuman membuatku harus mengingat tentang kejadian beberapa hari lalu. Aku merasa bodoh sekali dan sangat malu ketika bertemu pandang dengan Sehun. Kecanggunganku semakin besar hanya karena ciuman ceroboh yang diciptakan Sehun. Dan mendengar Luhan membahas soal ciuman, aku jadi terbawa perasaan, yang tidak lain dan tidak bukan adalah perasaan malu dan marah. Tapi ada juga perasaan senang saat mengetahui ciuman pertamaku adalah bersama dengan lelaki tampan bernama Sehun.

Aku juga tidak tahu apa yang terjadi padaku tapi aku rasa ini bukan cinta. Siapa saja yang bertemu dengan Sehun tentunya akan terpesona oleh wajahnya. Jadi kalau jantungku berdebar ketika melihatnya, aku rasa itu hal yang wajar-wajar saja.

Aku menggelengkan kepala dengan panik dan fikiran campur aduk. Tanpa kusadari aku sudah berjalan jauh meninggalkan perpustakaan. Aku berbalik, berniat untuk kembali. Luhan pasti salah sangka dengan sikapku dan perkataanku yang sedikit kasar tadi. Tapi, aku hanya tidak ingin dia menyesal nantinya. Aku juga tidak tahu siapa laki-laki itu. Bisa jadi lelaki itu memiliki maksud jahat dengannya.

Setelah berlari kecil menuju perpustakaan aku berhenti tepat di depannya untuk mengatur nafas. Baru saja aku mau membuka pintu perpustakaan tetapi sebuah tangan menahan pintunya. Aku mendongak dan mendapati Chanyeol berdiri sambil menatapku. Kali ini jantungku kembali berdebar.

"Hei, apa kau lihat Luhan?"

Aku mendongak tetapi kemudian kembali menunduk karena Chanyeol menatapku tajam. Aku langsung berfikir kalau Chanyeol adalah laki-laki yang telah mencium Luhan dan membuat perempuan polos itu berubah menjadi seperti sekarang. Ada rasa benci dan marah dalam hatiku tapi aku tak pernah berani memperlihatkannya, apalagi di depan Chanyeol.

"Tadi dia ada di perpustakaan." Sahutku pelan.

Aku masih diam dan dirinya pun sama. Aku mendongak ketika aku merasa semakin canggung. Dia mengangkat tangan kirinya dan mengatakan "Ya sudah, pergi sana. Aku ada urusan dengan Luhan."

Aku segera membawa kaki-kakiku berjalan cepat menyusuri koridor sekolah yang saat itu tampak begitu sepi. Tentu saja, jam begini memang sudah waktunya pulang. Tetapi untuk beberapa anak pintar dan pandai lainnya akan mengikuti kelas tambahan selama dua jam atau terkadang lebih. Aku juga termasuk di sana.

Kelas tambahan untuk kelas tiga hanya terbagi tiga kelas saja dengan isi setiap kelas adalah empat belas siswa saja. Kelas tambahan ini sifatnya tidak memaksa jadi barang siapa yang sudah ikut tetapi besoknya tidak, maka dia boleh tidak menghadiri kelas. Aku tidak pernah tidak ikut kelas tambahan. Aku biasanya selalu menghindari berada sekelas dengan Sehun ataupun Chanyeol. entah kenapa, besama dengan mereka berdua seperti aku berada di kandang macan. Aku takkan bisa bebas bernafas dan berkutik. Maka biasanya aku akan mengambil kelas lain. Seperti saat ini.

Aku sedang berjalan terburu-buru menuju ruang kelas yang ada di lantai tiga. Terkadang aku menyayangkan sekali kenapa sekolah dengan biaya bulanan yang begitu mahal tidak memiliki eskalator. Tapi ya sudah, anggap saja sedang berolah raga.

Klek.

Aku menoleh seketika saat mendengar suara pintu yang dikunci. Lorong di lantai dua begitu sepi tanpa penghuni. Aku menoleh ke kanan dan kiri, namun tetap saja, aku tidak menemukan siapapun atau apapun. Aku bergeleng cepat mencoba mengusir rasa takutku yang saat ini sudah menjalar kemana-mana. Rambut-rambut halus di sekujur tubuhku juga meremang dan angin dingin yang baru saja menerpa tengkukku membuatku sangat-sangat merinding. Aku berbalik untuk kembali melanjutkan menaiki tangga supaya dapat sampai di kelasku cepat. Baru saja aku akan naik tetapi suara cekikikan seorang perempuan membuatku bertambah frustasi. 'Daripada aku dimakan hantu sialan, lebih baik aku menunggu anak lain saja.'

Aku turun dan mendapati ternyata tersangka pembuatku frustasi adalah Luhan dan "JONGIN?!".

Laki-laki dengan muka basah entah karena apa—aku benar-benar tak ingin tahu apa yang membuatnya basah dan penyebabnya. Dia berdiri dan melepaskan rangkulannya pada pundak Luhan seketika saat aku memergoki mereka. Aku masih berdiri dengan muka terkejut. Dua orang itu pun juga sama.

"Kalian ini sedang apa, hah?!" sentakku tapi masih dengan suara yang pelan (aku juga tak ingin mereka kepergok dan berakhir dengan hukuman bagi mereka. Bagaimanapun mereka adalah teman-temanku)."Seharusnya kalian ini di sini untuk mengikuti kelas tambahan. Bukan malah pacaran seperti sekarang."

Luhan menghampiriku dan merangkulku. Wajahnya memerah dengan mata berkaca-kaca. Oh sekarang aku benar-benar kejam. "Jangan mencoba merayuku, Luhan." perempuan itu terkesiap sementara, tetapi dia kembali memasang wajah anak anjingnya. Kali ini, aku benar-benar ingin minta maaf. Aku menunggu Luhan lelah dengan kegiatannya merayuku. Tetapi dia masih memasang wajah ingin menangisnya hingga akhirnya aku benar-benar mengatakan "Maafkan aku."

Perempuan itu langsung tersenyum bahagia dan memelukku begitu erat. "Ah, terima kasih Baekhyun. Kau memang sahabat yang sangat-sangat baik dan aku benar-benar menyayangimu."

"sudah. Hentikan." Kataku sambil melepas rangkulannya yang asli, membuatku tak bisa bernafas. "Aku memaafkan kalian kali ini. tapi kalau sampai kalian seperti ini lagi, aku tidak segan-segan memberitahukan guru piket perihal kasus ini. mengerti?!"

Keduanya kompak mengangguk dan Jongin menghampiriku sambil memasang wajah penuh muslihatnya. Sebenarnya aku sudah kebal dengan apa saja yang coba Jongin tunjukkan padaku tapi bagaimana ya, Jongin ini adalah anggota keluarga Wu yang sangat baik padaku setelah Nyonya dan Tuan Wu. Jadi selalu saja aku harus berbalas budi dengan membantunya menyimpan rahasia-rahasia kotornya. "Iya." Anggukku. "Aku juga tidak akan memberitahukan ini pada Nyonya dan Tuan. Tapi kau juga harus janji kalau tidak akan mengulanginya lagi dan kalau nilaimu semakin turun gara-gara pacaran ini aku juga tidak akan segan-segan untuk mengadu pada mereka."

Jongin mengacungkan jari kelingkingnya begitu pula dengan Luhan. Akhirnya kami bertiga melakukan perjanjian. Setelah itu Jongin tidak mengucapkan apa-apa. Lebih tepatnya kami bertiga tidak mengucapkan apapun. Meskipun Luhan sempat beberapa kali bersorak-sorai tanpa suara, tetapi setelah itu tak ada yang berbicara lagi. hingga sosok Chanyeol turun dari tangga tempatku turun beberapa menit lalu dengan wajah penuh keringat dan rambut berantakan. Kami bertiga menatapnya heran, tidak. Bukan kami bertiga melainkan hanya Luhan dan Jongin. Aku hanya melihatnya sebentar lalu kembali menunduk.

Melihat Chanyeol membuatku teringat tentang dia yang bertanya keberadaan Luhan tadi. Aku juga sempat menduga kalau Chanyeol adalah laki-laki yang sudah bercumbu dengan Luhan, tetapi setelah mengetahui kenyataannya, aku jadi merasa sangat bersalah padanya.

"Hei, Bung!" Chanyeol menepuk Jongin dan menariknya. "Ayo pulang. Aku malas menyetir mobil. Aku numpang saja padamu."

Kedua laki-laki itu berlalu begitu saja tanpa mengucapkan salam perpisahan atau apapun padaku atau Luhan. tersenyum saja tidak. sebenarnya aku tidak tahu sih, soalnya aku hanya menunduk saja. tapi meskipun dia tersenyum atau apalah, pastinya juga hanya pada Luhan. mustahil dia juga berpamitan padaku.

"Chanyeol itu mengganggu sekali!" gerutu Luhan sebelum pergi. "Gara-gara Chanyeol, Jongin jadi tidak ikut kelas tambahan. Aku tidak tahu bagaimana rasanya sedetik tanpa Jongin." Luhan menghela nafas pasrah dan lelah. Ia menghentakkan kakinya sekali lalu berjalan.

Aku sudah kembali menatap depan dan mengikuti Luhan menaiki tangga. Tidak tahu kenapa, aku jadi kepikiran lagi soal suara pintu terkunci itu. aku memikirkan tepat setelah kami berdua menginjakkan kaki kami di lantai dua. "Ada apa Baek?"

Aku tersadar. "Tidak. Tidak apa-apa."

"Baekhyun, sepertinya aku tidak terlalu bersemangat hari ini." katanya. "Apa boleh aku meninggalkanmu? Aku tidak mau mengganggu ruang belajar nanti. Sepertinya aku akan tertidur jika saja aku duduk walau sebentar. Kau tentunya tidak mau aku dimarahi guru, bukan?"

Luhan memang berbohong tapi ekspresinya tidak dibuat-buat. Sejak pagi dia sudah sering menguap dan tertunduk lesu di mejanya. Dengan berat hati aku mengangguk. Dia memberiku pelukan singkat sebelum melesat pergi dari pandanganku.

Aku sedikit sedih dan kecewa Luhan harus meninggalkanku. Aku benar-benar menyayangkan tapi mau bagaimana lagi, aku juga tidak mungkin memaksanya. Dengan langkah berat aku naik ke lantai tiga dengan menghiraukan rasa penasaranku. Aku masuk ke ruang dengan dua pendingin ruangan terpasang berseberangan.

Ketika pintu aku dorong, seseorang berjingkat dan menjatuhkan spidol. Sama seperti dirinya, aku juga ikut berjingkat kaget sambil reflex mengatakan "Jangan makan aku!"

Kebodohan jelas melingkupi ruang gerakku. Seseorang yang menjatuhkan spidol itu ternyata Sehun. dia menyunggingkan senyum samar dan aku begitu terpesona dengan itu. jantungku kembali berdebar-debar tak karuan. Aku bingung kenapa dia bisa di kelas ini. setahuku dia selalu mengambil kelas A.

"Kau terkejut?" tanyanya tanpa menoleh ke arahku.

Aku masih berdiri dengan kaki sedikit gemetar. Aku mengepalkan tanganku erat dan mencoba menstabilkan detak jantungku. "Tidak."

Dia akhirnya menoleh dan melihatku. Aku gelagapan.

"Iya, maksudku. Aku memang terkejut. Tidak. Maksudku hanya sedikit. Sedikit terkejut." Apa aku terlihat benar-benar bodoh?

Sehun hanya menatapku tanpa mengatakan apapun. Dia kemudian kembali menuliskan sesuatu di papan dengan spidol yang tadi sempat jatuh. Bajunya terlihat kusut dan tidak rapi sama sekali. Jelas itu bukan gaya Sehun sama sekali. Mungkin itu lebih ke Jongin.

"Kau mengambil kelas di sini? Bukannya kau selalu mengambil kelas A?" aku bertanya masih di depan pintu kelas. Dia menghentikan pergerakan tangannya di atas papan tulis.

"Kau memerhatikan aku?" Aku terperangah dan tak bisa menjawab apa-apa karena memang ya, aku selalu memerhatikannya. "Tapi sayangnya kau salah dalam memerhatikan. Aku selalu mengambil kelas A karena kelasnya selalu di sini. Aku tidak pernah peduli dengan kelas A atau B ataukah lainnya. Seharusnya kau lebih bisa memerhatikan itu."

Aku menelan ludah mendengar ucapannya. Setiap apa yang dikatakannya akan membuatku selalu memutar ingatan ketika dia melakukan pembunuhan. "Umh, benarkah? Ya, aku memang bukan pemerhati yang baik."

"Tapi kau gadis yang baik." katanya. Aku tidak tahu apakah itu sebuah pujian atau terdapat maksud lain dibaliknya, tapi aku hanya bisa tersipu saja mendengarnya. "Aku tahu kalau kau tidak akan memberitahukan masalah itu kepada siapapun."

"Maksudmu?" aku berjalan mendekat dan debaran dalam dadaku semakin berpacu tak terkendali. "Masalah pembunuhan itu?" Sehun mengangguk. Semenjak kejadian di mobil itu Sehun jadi sering berkomunikasi denganku. Aku juga tidak tahu apa artinya tapi menurutku dia sudah banyak berubah. Meskipun Chanyeol dan dirinya tak bertegur sapa setiap makan bersama, tapi aku selalu yakin kalau mereka akan menjadi tim yang sempurna, hanya jika saja keduanya ada yang mengalah dan bersedia mengorbankan egoisme mereka. Tapi aku juga tahu, hal itu terlalu sulit tapi bukannya tidak bisa.

"Iya, aku pastinya sangat berdosa karena menyembunyikan masalah ini dari siapapun. Tapi aku tahu kau tidak sengaja dan aku juga bisa melihat kau berubah. Maksudku, kau lebih baik sekarang. Kau lebih sering berkomunikasi dengan orang lain. Aku—"

"Siapa bilang aku tidak sengaja? Siapa bilang aku lebih baik? dan siapa bilang aku lebih sering berkomunikasi?" Sehun menodongku dengan tiga pertanyaan sekaligus. Aku membuka mulutku dan tidak percaya dengan pertanyaannya.

"Baekhyun sayang," dia berjalan menghampiriku dan memegang kedua pundakku. "Aku dengan kesadaran penuh telah membunuh orang itu. aku sengaja melakukan semuanya. bahkan kau harus tahu kalau itu bukan pertama kalinya aku membunuh orang. Sudah banyak sekali jiwa yang berpulang karenaku. Aku juga tidak berubah menjadi yang lebih baik. maksudku aku hanya ingin memancingmu untuk segera melaporkanku ke orang tuaku. Apa aku terdengar konyol?" Sehun terkekeh sendiri sambil mengusap keringat yang melintas di keningku. "Kau adalah umpanku untuk semua yang sudah kupersiapkan. Aku tidak banyak berkomunukasi dengan siapapun. Aku hanya berkomunikasi denganmu. Mungkin lebih kuperbanyak denganmu. Hanya denganmu."

Aku mendelik tidak percaya dengan ucapannya. Bahkan sekarang aku merasa bumi tidak lagi berputar. Mungkin aku harus meminta kepada Nyonya dan Tuan Wu untuk membawaku ke dokter THT setelah ini. "Aku tidak mengerti." Kataku benar-benar dari dalam hatiku.

"Baekhyun, aku bingung kau ini punya otak ataukah tidak. Semua yang kukatakan tadi adalah benar. Aku ini bukan orang dengan fikiran normal. Aku berbeda dengan yang lainnya, termasuk dengan Chanyeol. dia mungkin orang normal yang memang benar kalau dia membenci diriku karena ya, aku tidak waras."

"Ah, Sehun. aku tidak begitu paham dengan ucapanmu. Tapi yang jelas, kau memang bukan orang waras. Tidak ada orang yang mengakui dirinya adalah pembunuh atau bahkan dengan bangganya menjelaskan kekurangan yang dimilikinya. Ayolah Sehun. aku tahu kau orang baik. kenapa kau harus menutupi kebaikan dirimu dengan membuat lelocon yang bahkan tidak lucu sama sekali ini?"

"Lelucon?" Sehun melepaskan pundakku. Aku diam menatapnya dengan tatapan bodoh. Aku bingung dengan semua ini. kalau memang dia adalah seorang pembunuh berantai atau semacam psikopat, kenapa dia tidak membunuhku? Kenapa dia malah mau aku mengadukannya kepada orang tuanya? Apa Sehun punya maksud lain? Tidak mungkin dia ingin masuk ke penjara atau bahkan rumah sakit jiwa.

"Ya. Coba kau dengarkan yang telah aku simpulkan." Sehun bersedekap sambil tersenyum padaku. dia mengangguk dan aku menyampaikan apa yang bisa aku tangkap tadi "Kau ini semacam pembunuh atau seorang psikopat yang berkeliaran di jalanan. Dan beberapa menit lalu kau jujur padaku. kau juga termasuk siswa dengan IQ yang tidak bisa dianggap rendah. Aku sering membaca jika kebanyakan para psikopat memang cerdas tapi mereka juga adalah pembicara yang ulung. Lalu kau? Kau benar-benar pendiam dan tidak pernah berkata yang tidak penting. Maka kau bukan seorang psikopat atau pembunuh gila dengan otak cemerlang. Kau hanya kau. Kau adalah Wu Sehun, anak kedua dari Tuan Wu dan Nyonya Wu sekaligus adik dari seorang Wu Chanyeol. jadi sekali lagi Sehun, kalau kau ingin menjalin perteman denganku, kau tidak perlu membuat lelucon konyol semacam itu dan menakut-nakuti soal pembunuhan atau umpan atau apalah. Aku tidak pecaya."

"Para psikopat berbicara banyak karena mereka berusaha menutupi kejahatan mereka sehingga mereka dapat melimpahkan kesalahan mereka itu pada orang lain." Sehun mengangguk dan mengambil tas punggungnya. Dia menatapku sebentar sebelum dia mengecup singkat bibirku. Lagi?

Aku terperangah dan tubuhku seakan beku saat itu juga. Setelah aku merasakan hangat bibir Sehun di bibirku, fikiranku semakin kacau. Hatiku bergumam sesuatu yang aku juga tidak tahu apa itu. aku berdiri sendiri di ruang kelas yang baru saja Sehun tinggalkan. Semuanya terasa seperti mimpi.

TBC

Wokeh. Makin gaje? Ada yang kagak jelas? Saya akan menjelaskannya secepatnya.. sorry kalo updatenya ngaret banget. But thanks for all your support. Semoga kemurahan hati kalian yang udah mau foll, fav, and review dibalas oleh Yang Maha Kuasa. Cup-cup-cup. Papay! Mind to review for this chap?