"Shinryuuji akan memulai perang dengan kerajaan Timur, Deimon."

.

"Dengar, kita akan memperluas kekuasaan bila berhasil menghancurkan Deimon."

.

"I'll pass."

.


Remember Me

© Sapphire

-2-

Devil Beside You


Ruangan itu tidak besar, lokasinya pun terpencil, hanya menyisakan sebuah jendela kecil sebagai satu-satunya sumber pasokan udara. Tak banyak orang merasa perlu untuk mendatangi tempat ini, ruangan ini bisa dibilang hanya sebagai pelengkap dari kemegahan Witte Paleis—Istana Putih. Istana utama kerajaan Deimon. Walau terlihat jarang dijamah oleh manusia, tapi tempat ini senantiasa selalu terlihat bersih dan rapi tanpa ada noda dan debu sedikitpun. Empty Room, tempat ini biasa disebut begitu.

Tidak ada yang istimewa, hm?

Tapi tentu tidak ada yang mengetahui fungsi asli dari ruangan ini. ER—Empty Room—memiliki fungsi sebagai ruangan rapat rahasia antar para petinggi Kerajaan. Berbagai masalah pelik, baik internal maupun eksternal yang memiliki kaitan penting dengan kelangsungan Deimon, dibahas di sini. Tentu bukan tanpa alasan ER lah yang dipilih sebagai ruang pertemuan rahasia, sang Ratu, Mami Anezaki—penggendali penuh Deimon saat ini—tidak menginginkan ada satupun penguping. Rahasia Kerajaan bukan untuk diumbar-umbar, asal tahu saja.

Sejak kematian Raja Tateo 5 tahun lalu, Mami harus menanggung segala hal mengenai Deimon seorang diri. Keadaan memaksanya untuk beralih dari seorang Permaisuri anggun yang lembut, menjadi pemimpin Kerajaan yang keras dan tak kenal ampun. Jabatan yang ia emban saat ini bukan main-main, lengah sedikit rezimnya bisa dijungkirbalikkan oleh berbagai pihak pemberontak. Dan jelas bukan hal mudah menjadi sosok tangguh itu di saat ia juga harus membesarkan putri tunggalnya, Mamori.

Mamori Anezaki XVII, putri tunggalnya yang kini sudah beranjak dewasa. Dibanding saat 5 tahun yang lalu, Putri Timur itu sudah menunjukkan kematangan fisik dan emosi yang terlihat nyata. Mami tahu benar usaha Mamori untuk menjadi calon penerus dirinya. Gadis itu sangat tekun mempelajari sejarah Negeri ini, bahkan diam-diam ia kadang ikut berlatih bersama Ksatria Templar di lapangan Istana.

Selama 5 tahun terakhir ini, Kerajaan Deimon memang sedang goyah. Dimulai dari terbunuhnya sang Raja secara misterius, hingga pergantian kepemimpinan yang sempat mendapat pertentangan dari beberapa kalangan yang meragukan Mami. Tapi walau diragukan sekalipun, Mami terbilang sukses dalam menjalankan pemerintahan. Ia berhasil membuktikan pada para petinggi kerajaan bahwa ia pun mampu berperan ganda menjadi Ratu Deimon sekaligus ibu dari Putri Timur.

Dan pada pagi hari ini, Mami mengumpulkan para petinggi Deimon di ER untuk merapatkan sesuatu yang penting. Tanpa ada seorangpun dari anggota rapat yang menyadari, Putri Timur—Mamori—kini tengah menguping pembicaraan mereka.

Butuh waktu cukup lama bagi gadis berambut auburn itu untuk menyadari bahwa ER bukan sekedar tempat kosong biasa. Perlu riset beberapa bulan sampai akhirnya ia sadar bahwa ruangan kosong yang dulu sering ia pakai untuk bermain kini telah disulap ibunya menjadi ruang rapat dengan para petinggi kerajaan.

Bermodal jendela kecil ER yang menghadap ke halaman belakang Istana, Mamori berjudi dengan mencoba mencuri dengar pembicaraan sang ibu dengan petinggi yang lain. Ia tahu sedang dilakukan rapat kecil pagi ini karena melihat pintu ER yang tertutup rapat dan dilihatnya ada pengawal yang hilir mudik mondar-mandir di depan pintu.

Mamori jelas sangat penasaran dengan topik apa yang dibahas sampai-sampai Mami mengorbankan waktu sarapannya. Ia kelak akan menjadi Ratu kerajaan ini—pemimpin rakyat-rakyatnya. Maka wajar Mamori merasa berhak untuk tahu masalah apa yang tengah dibahas. Ada ancaman dari luar kah?

Ia tidak buta. Sejak kematian ayahnya, Mamori belajar banyak tentang makna hidup. Bahwa menjadi Putri adalah beban berat dan bukan hanya sekedar hiasan kerajaan semata. Semua gadis di kerajaan ini mungkin bermimpi bisa berada di posisinya—mendapat berbagai kenyamanan dan memiliki ratusan dayang-dayang yang siap diperintah. Tapi jelas tidak semudah itu.

"Jadi, ini pernyataan perang?"

Sayup-sayup sebuah suara berat terdengar dari jendela kecil itu. Mamori memicingkan matanya begitu mendengar kata 'perang'? Perang? Yang benar saja! Kerajaan mana yang berani mengajak perang Deimon? Selama 5 tahun terakhir, walau kondisinya masih labil, ksatria Templar yang dipimpin oleh Jenderal Doburoku cukup disegani. Dan sekarang masih ada yang berani menyatakan perang? Mamori tidak habis pikir.

"...ya...kita harus bertindak cepat...mereka tak bisa anggap remeh...,"

Suara yang terdengar makin tidak jelas. Mungkin menyadari bahwa topik yang dibicarakan cukup berat, hingga para anggota rapat merasa harus menurunkan frekuensi suara mereka.

Membuat Mamori makin frustasi saja jadinya.

Hingga kemudian, ia mendengar suara yang asing—belum pernah ia dengar sebelumnya. Suara berat milik seorang pemuda. Nada bicaranya terdengar sangat mengancam, seakan bisa memanipulasi semua orang hanya dengan mendengar ucapannya. Suaranya menakutkan, bahkan Mamori bisa membayangkan betapa seramnya rupa pemilik suara ini.

Dingin. Kejam. Mengancam.

"Kalian bisa meminta bantuan pada iblis."

Dan Mamori langsung membeku di tempat.

.

.


Iblis?

Iblis?

Iblis? Yang benar saja—IBLIS?

Mamori terus melangkah dengan cepat di sepanjang koridor Istana untuk memulihkan rasa kejutnya. Ia masih tak bisa mempercayai pendengarannya barusan. Putri Timur itu tahu sejarah kerajaannya yang memang pernah bersekutu dengan makhluk Neraka itu dua ratus tahun yang lalu kala perang besar yang dilakukan dengan Shinryuuji. Ia hanya tak menyangka saja sejarah yang selama ini sudah ia anggap bagai dongeng kini terasa sangat nyata.

Ada sebuah kerajaan yang menyatakan perang dengan Deimon. Dan Deimon harus kembali meminta bantuan pihak Neraka. Sejarah terulang. Yang jadi masalah, kerajaan mana yang ingin berperang dengan Deimon? Apa Shinryuuji?

Informasi yang ia dapat terlalu banyak, membuat Mamori ingin berbaring di ranjangnya dan berpikir jernih. Memikirkan apa yang harus ia lakukan setelah mengetahui kenyataan yang tengah dihadapi Deimon. Ia seorang Putri, calon Ratu, jelas ia tak bisa hanya berdiam diri dan melihat Mami sendirian yang berjuang.

Ia harus melakukan sesuatu!

"Kak Mamo!"

Suzuna secara mengagetkan muncul di hadapan Mamori yang pikirannya masih terfokus pada pembicaraan yang ia dengar tadi. Bangsawan Taki ini tidak mengenakan sepatu berodanya lagi kala berada di Witte Paleis, mungkin kapok juga karena sang Ratu sudah berulang kali mengingatkannya agar berpenampilan selayaknya Lady yang anggun jika menginjakkan kaki di Istana.

"Suzuna...," lirih Mamori, masih setengah terkejut menyadari kemunculan mendadak gadis yang sudah ia anggap seperti saudara sendiri ini.

"Ada apa, Kak Mamo? Kau terlihat bingung." Suzuna menatap lekat-lekat sang Putri Timur yang memang tak tampak baik-baik saja saat ini.

Mamori menggeleng, hendak mengatakan dusta bahwa tak terjadi apa-apa. Tapi ia tak bisa, ini masalah pelik. Terus berdiam diri lama-lama menyiksa Mamori juga, hingga akhirnya ia menjawab. "Suzuna, kita akan berperang." Ujarnya hati-hati.

"A-apa?" Suzuna memandangnya heran.

Mamori menarik pergelangan tangan gadis itu, lalu berjalan cepat menuju ujung ruangan. "Kau harus menemaniku, ada hal yang ingin kupastikan."

"Dan bisakah Kak Mamo jelaskan dulu padaku apa maksud dari semua ini?" Desak Suzuna. Ia pasrah saja Mamori menyeret-nyeretnya pergi ke suatu tempat, tapi setidaknya berilah ia kejelasan.

Mamori memandang tajam pada Suzuna, masih tetap melangkah cepat. "Kurang jelaskah ucapanku tadi? Kita akan berperang! Ada kerajaan yang menyatakan perang pada Deimon, dan kita harus bersiap!"

.

.


ER masih dijaga dengan ketat begitu Mamori dan Suzuna sampai di tempat itu. Tapi yang berbeda adalah pengawal yang menjaganya. Kini terdapat tiga pengawal yang berdiri tegap mengamankan ER dari orang-orang yang tidak berkepentingan. Dan bukan sembarang pengawal, mereka bertiga adalah ksatria Templar!

"Juumonji, Kuroki, Togano!" tegur Mamori kaget mendapati ketiga orang mantan teman sekelasnya dulu kala di sekolah.

Sebagai putri, Mamori wajib mengikuti pendidikan dasar guna memperluas wawasannya. Hanya saja ketimbang diajar oleh guru privat yang akan mengajarnya langsung di Istana, Mamori memilih masuk sekolah rakyat biasa agar bisa berbaur dengan anak-anak seusianya yang lain.

"Yang mulia!" Mereka bertiga menjawab serempak sambil memasang gerakan hormat.

Mamori berjalan mendekati tiga kstaria Templar itu—Suzuna sendiri hanya mengekor dibelakang, masih shock. "Menyingkirlah, aku ingin masuk."

Kuroki yang pertama bereaksi. Ia dengan gerakan cepat merentangkan tangannya, menghadang langkah sang Putri. "Maaf, Yang mulia—tapi titah baginda Ratu sudah jelas; tidak boleh ada yang memasuki ruangan ini selama rapat berlangsung."

Juumonji dan Togano semakin memperjelas pernyataan Kuroki dengan ikut menghadang pintu ER. Memang pada dasarnya tubuh mereka bertiga tergolong besar, hingga seluruh akses menuju pintu kini tertutup.

Mamori menyipitkan matanya, merasa tak terima perintahnya tidak diacuhkan begitu saja. walau alasannya bisa dimengerti; bahwa perintah ratu jauh lebih didengarkan dibanding putri mahkota seperti dirinya.

Tapi kalau begitu sampai kapanpun ia tidak akan bisa memasuki ER dan mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Terkadang, tindakan nekat itu diperlukan.

"Kalau begitu, maaf." Desis Mamori.

Ketiga kstaria Templar itu mengangkat alis. Merasa bingung dengan ucapan Mamori.

Mamori mengangkat gaunnya sampai sebatas lutut, lalu dengan keras ia menginjak kaki Kuroki. Percayalah—walau tubuhnya ramping—tidak ada yang mau berurusan dengan sang putri jika sudah main fisik. Hampir setiap hari diam-diam berlatih dengan pasukan kerajaan jelas menjadi latihan fisik tersendiri bagi Mamori.

Kuroki terjengkang, tak menyangka reaksi tiba-tiba yang diberikan Mamori. Dan di saat itulah Mamori beraksi. Sela-sela kecil yang diciptakan akibat kelengahan sesaat Kuroki sudah lebih dari cukup untuk memberi akses Mamori masuk.

Tak mau membuang-buang waktu, dengan cepat Mamori segera menyelinap dan membuka pintu ER.

BRAK

.

.


Mami menyilangkan kedua lengannya di atas dada. Matanya tajam menusuk memandang sang putri timur. Ia menghentak-hentakkan kaki, sambil memulai ceramahnya. "Mamori, kau tahu kan bahwa ini adalah rapat tertutup petinggi Istana?" tudingnya.

Mamori membisu.

Begitu memasuki ER, hal pertama yang ia sadari adalah ada begitu banyak petinggi dan tetua yang hadir. Itu membuatnya makin yakin bahwa ada sesuatu sangat penting yang sedang mereka bahas. Hal kedua, ia mencari pemilik suara mengerikan itu. Pandangan matanya mengedar ke penjuru ruangan, tapi nihil. Ia sudah tahu jenis suara setiap orang yang ada di ER ini, dan Mamori cukup yakin bukan salah di antara mereka yang menyebut-nyebut perihal 'iblis' itu.

"Dan dengan seenaknya kau memasuki ruang rapat! Itu bisa disebut sebagai pembangkangan, mengerti?" Mami masih melanjutkan omelannya. Maniknya kali ini memandang gadis berambut biru yang sedari tadi bersembunyi di punggung Mamori, ketakutan. "Kau bahkan melibatkan Suzuna?"

"Ibu," Mamori jengah juga menjadi pihak yang teruduh. "sebagai calon ratu negeri ini, aku merasa berhak untuk tahu jika ada masalah yang mengancam."

"Tidak ada sesuatu yang mengancam—"

"Bu!" Mamori menaikkan nada suaranya, terlihat frustasi. "Aku tahu semuanya, bu. Maaf aku mencuri dengar. Tapi, jika ada masalah, aku ingin bisa membantumu."

Mami menggigit ujung bibirnya. Jauh di lubuk hatinya, ia tahu bahwa tak selamanya ia bisa menyembunyikan ini semua dari putri tunggalnya itu. Selama ini Mami selalu berusaha untuk tidak melibatkan Mamori dalam urusan Istana demi melindunginya. Semakin sedikit yang Mamori tahu, maka keselamatannya akan lebih terjamin.

Tapi sekeras apapun usahanya, Mamori tetaplah Mamori. Gadis tangguh yang tidak bisa melihat dirinya sendiri aman sementara orang lain menderita. Sungguh mirip Tateo, pikir Mami terenyuh.

"Mamori—"

"Bu..," Mamori kembali memotong, dengan suara yang lebih lembut. "aku lebih memilih menderita daripada terus dibohongi."

Mami menatap Mamori tak percaya, gadis kecilnya memang sudah tumbuh dewasa. Mau sampai kapan ia menjaga Mamori di zona aman sementara putrinya itu sendiri sudah lelah terus menerus diperlakukan seperti anak kecil?

"Yang mulia," Suara berat itu terdengar di ujung ruangan, laki-laki paruh baya bertubuh kecil yang tak lain adalah Doburoku—Jenderal perang pasukan Templar. "Saya rasa sudah saatnya putri Mamori dilibatkan dalam hal ini. Kita tak bisa selamanya menyembunyikan ini darinya,"

Setelah jeda panjang, akhirnya sang Ratu mengangguk. Ia memandang Mamori, lalu berucap. "Ya, sayang, ada sesuatu yang mengancam kerajaan ini." Mami membenarkan. "Kerjaan Shinryuuji menyatakan perang pada kita."

Bahkan walau sudah menduganya, tetap saja Mamori terlonjak kaget. Wajahnya memucat tanpa ia sadari. "Apa itu sudah valid?" tanyanya lirih.

Mami tersenyum hambar. "Ya, mata-mata kami di sana sudah memastikannya."

Saat mendengar kata 'mata-mata', telinga Mamori langsung bereaksi. Mata-mata? Sejak kapan Deimon punya mata-mata di Shinryuuji? Astaga, sudah berapa banyak hal yang tidak Mamori ketahui tentang negerinya ini?

"Apa mata-mata yang Ibu maksud adalah seseorang dengan suara mengerikan yang sempat kudengar itu?" Mamori memastikan.

Mami tertawa kecil mendengar ucapan Mamori. "Suara mengerikan, ya? Yeah, benar sekali, sayang." Bahkan saat ia berhadapan langsung dengan orang itu, Mami tak bisa menyembunyikan rasa takutnya.

Orang itu terlalu mengerikan.

"Dan dia—memberi saran untuk...," Mamori menahan perkataannya, tidak tahu apa harus dikatakan sekarang atau tidak. "...meminta bantuan pada iblis?"

Seluruh ruangan mendadak hening ketika Mamori mengucapkan kata 'iblis'. Bagaimanapun juga, walau sempat menjadi sekutu pada perang dua ratus tahun lalu, berurusan dengan makhluk Neraka bukanlah opsi yang semua orang inginkan.

"Pilihan apalagi yang kita punya?" Kali ini yang bersuara adalah Doburoku. Jenderal Templar itu menunduk saat mengucapkannya—mungkin malu menyadari bahwa kemampuannya tak akan cukup untuk menghadang Crusader.

Mami hanya diam. Dan diamnya itu adalah mengiyakan.

"Tapi, bukankah itu berarti kita butuh tumbal?" kali ini Suzuna memberanikan diri untuk ikut dalam pembicaraan. Awalnya memang terkejut mendapati semua ini terjadi begitu cepat, tapi perlahan-lahan ia mulai bisa menerima. Ia tak bisa selamanya menjadi pengecut.

Tumbal yang dimaksud adalah bayaran jika meminta bantuan makhluk terkutuk itu. Saat perang dua ratus tahun lalu, tumbal yang diberikan adalah—

"Aku bersedia menjadi tumbal."

—putri mahkota kerajaan; Mamori Anezaki I

.

.

TBC


14/12/2010 7:10 AM - Sapphire Schweinsteiger

Maapfkan saja jika ada kesalahan atau apa, ngetiknya buru-buru mumpung lagi libur ==' typo pasti bertebaran nih ._. kalau ada yang ingin ditanyakan perihal plot atau jalan cerita yang kiranya membuat Anda bingung, silakan ditanyakan lewat ripyu atau PM :) ada yang bisa nebak siapa si mata-mata XD

Review reply:

Chian30ne ga login: Ah, gak mungkin Agon lah XDD citra 'mengerikan' emangnya cuma punya Agon doang =)) Ikkyu kekar ah o.O tapi iya sih, dia pendek #bah perang masih chap entah keberapa kali ya -,- Neraka = Hiruma gitu ya =)) sip thanks ripyunya, aku kangen dirimu T_T

RisaLoveHiru: Haha tau tuh, mungkin karena Ikkyu sama sekali ga ada imej buat jadi pangeran kali =)) hoho liat nanti yaa. Dan masalah apdet, setuju bangeet #tos makasih ripyunya yaa :)

Phi: Ikkyu bisa serem juga lho, jangan salah =)) sip makasih ripyunya :)

Rizu Auxe09: Iya dong IkkyuMamo =)) sip apdetm makasih ripyunya :))

Yang login dibales lewat PM :)

Bersedia memberi ripyu?