Title : Touch me, Doctor! Chapter 3
Cast :
Byun Baekhyun
Park Chanyeol
Kang Soyou ( Baek's mom )
Byun Soojung ( Baek's little sister a.k.a annoying girl a.k.a Baek's enemy )
Kim Jongdae ( Baek's best "fucking" friend )
Do Kyungsoo ( Baek's best "fucking" friend (2))
Xi Luhan
Kim Jongin
PERHATIAN!
Ff ini mengandung unsur dewasa berbau seks, hubungan sesama jenis yang menyebabkan beberapa orang mungkin mual, Bahasa yang berantakan, dan typo yang walau sudah berusaha dihilangkan tapi tetap muncul. Tidak untuk area bermain anak-anak, anak polos, antigay/ homophobic, AntiChanbaek dan segala yang tidak ada sangkut pautnya dengan dunia yaoi.
NO CO-PAST
NO-REPOST
NO-PLAGIAT
Okay?
There always be a place for the good person. So, don't steal people's effort , be honest dear.
Mulailah dengan sebuah kata, susunlah menjadi kalimat dan kembangkan dalam sebuah paragraph.
Cerita yang hebat bukan tentang siapa, tapi tentang apa dan bagaimana.
Park Shita
Present
…
..
.
Previous Chapter
Mata Baekhyun berkaca-kaca menyadari betapa hina dirinya. Bertingkah murahan hanya demi mendapatkan hati pria yang ia sukai. Tubuh Baekhyun merosot walau masih dengan posisi menungging, wajahnya tertunduk dan bibirnya bergetar.
"Aku mengenal seseorang sepertimu. Usia kalian aku rasa sama, terkadang dia suka berubah-ubah tanpa sebab, mungkin karena kalian masih remaja." Baekhyun menoleh kearah Chanyeol yang masih memunggunginya sambil mencuci tangan.
"Itu wajar Baekhyun, tapi hari ini kau terlihat sedikit…"
"Maaf." Ucap Baekhyun lirih. Chanyeol berbalik cepat dan mendapati Baekhyun sudah duduk di sisi ranjang dengan pakaian lengkap dan wajah yang tertunduk lesu.
"Tidak perlu meminta maaf, kau tidak salah. Hal itu wajar Baek." Chanyeol mengelap tangannya dengan kain kering yang tergantung di dinding.
"A..aku..a..aku..aku harus pulang Dokter ." ucap Baekhyun sambil mengeluarkan selembar uang dari dalam tas kecilnya dan meletakkanya diatas meja Chanyeol. Baekhyun berjalan dengan wajah tertunduk melewati Chanyeol.
"Terima kasih karena telah meluangkan waktu anda." Ucap Baekhyun dengan Bahasa formal. Chanyeol mengerutkan keningnya dan ketika jemari Baekhyun meraih gagang pintu, ia menarik tubuh mungil itu kuat dan menabrakannya kedinding lalu menguncinya.
Baekhyun mendongakkan wajahnya menatap wajah Chanyeol yang begitu dekat, tapi kemudian ia menundukan kepalanya. Ia tidak ingin terlalu banyak berharap, Chanyeol, Dokter tampan yang ia sukai tidak akan pernah melihat kearahnya , tidak akan pernah menyukainya sebagai seorang lelaki, Baekhyun hanya seorang partner seks semalam bagi Chanyeol.
"Sejak awal melihatmu aku sangat menyukai keimutanmu." Ucap Chanyeol, Baekhyun masih menunduk merasa tidak terlalu berminat, ia tahu dirinya hanya diberikan harapan palsu.
"Itu kenapa aku mau meniduri anak kecil sepertimu, kau berbeda. Tidak seperti para penggoda yang aku temui diluaran sana, yang menghabiskan malam denganku."
"Tapi, melihatmu hari ini … kau terlihat begitu seksi dan menggairahkan." Chanyeol menatap Baekhyun lekat, Baekyun mengangkat wajahnya dan mata mereka bertemu.
"Apa yang sedang coba kau lakukan? Kau ingin dilecehkan orang-orang diluaran sana?" Baekhyun menggeleng, tujuannya bukan itu, bahkan ia tidak sedang berusaha untuk dilecehkan Chanyeol, dia hanya berusaha untuk membuat Chanyeol tertarik padanya, dan berhenti menganggapnya anak kecil.
"Baekhyun, aku…" Chanyeol tidak melanjutkan ucapannya, ia meraup bibir Baekhyun membuat lelaki mungil itu tersentak. Lumatan Chanyeol begitu kuat, bahkan Baekhyun merasakan lidahnya tersedot dengan kuat. Baekhyun melenguh ketika tubuhnya semakin dirapatkan dan jemari Chanyeol menelusup ke dalam baju ketatnya.
"Eummmhh.." Baekhyun mendesah ketika putingnya dipermainkan oleh Chanyeol, entah Baekhyun harus senang atau kecewa sekarang. Senang karena Chanyeol akhirnya terangsang, atau sebaliknya , kecewa karena ucapan Chanyeol tadi berarti bahwa pria itu hanya menginginkan tubuh Baekhyun.
Ciuman mereka semakin dalam, kepala Chanyeol bergerak ke kiri dan ke kanan untuk memperdalam ciuman mereka, bahkan kaos Baekhyun telah tersingkap keatas memperlihatkan putingnya yang mencuat.
Chanyeol bergerak cepat untuk berpindah tempat, mengangkat tubuh Baekhyun dan mendudukkannya di atas westafle , Baekhyun mengalungkan tangannya di leher sang Dokter, menikmati setiap sedotan yang diberikan Dokter tampan itu.
Permainan Chanyeol terlihat agak kasar saat ini, tidak lembut seperti kemarin tapi Baekhyun menyukai bagaimana tangan kokoh itu merengkuh tubuhnya. Kaki Baekhyun melingkar di pinggang Chanyeol dengan erat, seolah tidak ingin terpisah dari tubuh kekar itu.
"Eummhh.." Baekhyun mendesah ketika putingnya dikulum dan disedot kuat oleh Chanyeol, lalu beberapa bagian tubuhnya di hisap hingga meninggalkan noda.
"Mau melakukannya lagi denganku?" tanya Chanyeol sambil menatap wajah terengaha Baekhyun, Baekhyun terdiam ia harus memikirkan ini matang-matang. Baekhyun tersadar sesuatu beberapa detik sebelum dirinya diserang, jika Chanyeol hanya memanfaatkan kepolosannya untuk memuaskan hasrat miliknya.
Baekhyun menatap mata bernafsu Chanyeol, bibir pria itu terbuka membuatnya terlihat semakin tampan, belum lagi rambut sedikit berantakannya akibat remasan dan jambakan Baekhyun.
"Ya." Dan Baekhyun merutuki kembali kebodohannya karena ia jatuh ke dalam lubang yang sama, karena ia mengikuti hasratnya ketimbang perasaannya, walau ia tahu setelah ini Chanyeol tetap tidak akan mau menerimanya yang masih berada di bawah umur.
Chanyeol kembali mencium bibir Baekhyun dengan brutal dan menuntut, membuat Baekhyun kewalahan dan bibirnya pun robek karena gigitan kuat dari Chanyeol. Rasa asin yang ia kecap, tidak membuat hasrat sialannya mengalah dan memilih mundur, malah semakin membuat keduanya hilang tertelan nafsu.
Ketika mereka asyik berciuman, pintu ruangan terbuka. Langkah kaki yang menapak di lantai tidak mereka dengar, hingga langkah itu terhenti dan tubuh sosok mungil itu menegang.
"Ka..kalian?" suara itu membuat keduanya menoleh. Baekhyun membulatkan matanya melihat sosok yang kini berdiri di depan mereka dengan wajah terkejut, dan Baekhyun menyadari sesuatu saat melihat wajah terkejut Chanyeol yang langsung melepaskan kontak fisik antara mereka, bahkan pria itu segera memperbaiki bajunya dengan mata menatap takut sosok di hadapannya.
Baekhyun tahu sesuatu sekarang dirinya bukan sekedar seorang pasien yang jatuh cinta pada Dokternya, bukan remaja yang menemukan cinta pertamanya, tapi seorang remaja haus belaian yang terlihat murahan dengan menjadi penganggu hubungan seseorang.
…
..
.
Touch Me, Doctor
Chapter 3
…
..
.
Soyou menghela nafas untuk kesekian kalinya, wajahnya cemberut dan terlihat begitu kelelahan. Ia menjauhi pintu kamar putranya dan berjalan dengan wajah lesu.
"Bagaimana?" suara Minho membuatnya mendongak. Suaminya berdiri di anak tangga terbawah dengan wajah was-was. Wanita cantik itu menggeleng pelan dan kaki jenjangnya menuruni anak tangga dengan lesu.
"Aku menyerah. Dia bahkan tidak menjawab panggilanku, dan aku mendengar isakannya. Sebenarnya ada apa dengannya?" gumam Soyou yang kini mengambil duduk diatas sofa diikuti oleh Minho yang juga menghela nafas.
Sejak kepulangan mereka dari acara beberapa jam lalu, mereka sudah mendapati pintu kamar Baekhyun dikunci dari dalam. Ketika mereka bertanya pada Soojung gadis itu nampak tak peduli, ia sibuk memainkan ponselnya sambil berbaring diatas ranjangnya.
Tapi ucapan Soojung setelahnya membuat Soyou dan Minho sedikit khawatir, "Anak cengeng kalian pulang dalam keadaan menangis tadi. Wajahnya terlihat berantakan, bahkan make up nya sangat tidak karuan. Aku sampai memekik saat melihatnya, karena aku pikir dia hantu."
Dan gadis itu kembali melanjutkan acara bermalas-malasannya, seolah hal yang terjadi pada kakaknya bukan hal yang besar. Soyou dan Minho merasa tidak enak hati, mereka belakangan ini selalu disibukkan dengan berbagai acara membuat mereka tidak bisa mengontrol kegiatan anak mereka.
"Aku akan mendobrak pintunya." Tiba-tiba Soyou bangkit dengan wajah antusias, Minho menahan tangan istrinya dan menggeleng pelan.
"Jangan! Dia mungkin butuh sendiri." Ucap Minho.
"Oppa! Apa kau lupa? Yang mengunci diri di dalam sana adalah putra cengeng , manja dan kekanakan kita, bagaimana jika dia melakukan hal yang aneh-aneh? Bagaimana bila ia dengan bodohnya memilih untuk mengakhiri hidupnya? Mungkin jika itu Soojungie, aku akan mengabaikannya, tapi demi Tuhan ini adalah Baekhyun, putra manja kita." Bentak Soyou. Jujur, ia sungguh sangat mencemaskan keadaan putranya.
"Mungkin Kyungsoo atau Jongdae mengetahui sesuatu." Ucap Minho. Soyou menoleh kearah suaminya, menatapnya dalam diam lalu ia melangkah menjauh membuat Minho dengan penuh tanda tanya mengikuti istrinya.
"Kau akan kemana?" tanya Minho ketika melihat Soyou mengambil jaket di dalam lemari, dan berjalan untuk mengambil kunci mobilnya.
"Menemui sahabat-sahabat dari anakku. Aku tidak bisa tinggal diam." Ucap Soyou dengan wajah serius.
"Tunggu! Aku ikut bersamamu."
"Tidak. Kau jaga mereka saja, dan selalu awasi kamar Baekhyun! Dobrak pintu itu jika ada sesuatu yang mencurigakan!" ucap Soyou lalu segera menuju pintu apartemennya.
Minho menghela nafas sambil melirik bergantian antara kepergian istrinya dan lantai atas kamar putranya.
…
Soyou menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah , tidak besar namun terlihat nyaman dan rapi. Sebuah rumah dengan pintu berwarna hijau muda dengan dinding pembatas yang rendah. Wanita itu turun dan segera memencet bel pintu rumah tersebut. Itu rumah Kyungsoo, Soyou memilih mendatangi Kyungsoo karena jaraknya lebih dekat, dan biasanya Kyungsoo lebih suka dirumah ketimbang Jongdae. Soyou mengetahui semuanya, karena ia sangat dekat dengan kedua sahabat anaknya.
Soyou mengerutkan kening ketika melihat seorang pria tinggi berjalan keluar dari pintu rumah menuju ke gerbang tempat Soyou berdiri. Wanita itu memundurkan langkahnya dan kembali memeriksa nomer di dinding rumah Kyungsoo, sebelum lelaki tinggi dan terlihat dewasa itu tersenyum ramah.
"Selamat malam." Ucap pria berkemeja putih itu dengan sebuah senyum ramah, Soyou sempat terhipnotis namun ia segera menggeleng dan balas tersenyum dengan kikuk.
"Malam. Ehhm, aku mencari Do Kyungsoo, apa dia ada disini? Aku ibunya Baekhyun." Pria itu menaikkan dua alisnya, lalu mengangguk.
"Ah, sebentar Kyungsoo ada di dalam biar aku_"
"Sayang, ini jas putihmu sudah aku bersihkan dan siapa yang da_tang?" Suara Kyungsoo merendah diakhir ketika ia melihat sosok Soyou berdiri di depan rumahnya. Lelaki yang baru saja muncul dari balik pintu rumah sambil membawa sebuah jas dokter berwarna putih dengan sedikit noda-yang kemungkinan- saos yang tidak kentara di bagian dadanya menatap Soyou terkejut.
"Kyungsoo?" ucap Soyou dengan wajah kebingungan sambil menatap pria di hadapannya dan Kyungsoo bergantian.
…
..
.
Baekhyun mengubur kepalanya di bawah bantal, ia masih terisak sejak kepulangannya tadi dari tempat praktek Dokter Park. Baekhyun merasa hatinya sungguh sakit, ia seperti seorang pengantin yang dicampakan di hari pernikahannya.
Ketukan pintu kembali terdengar dan kali ini suara ayahnya yang terdengar sangat sedih. Baekhyun melirik kearah pintunya yang dihalangi oleh sebuah meja dan lemari kecil. Walau kunci kamarnya masih di tahan, Baekhyun dengan nekat menggunakan lemari dan meja untuk menghalangi siapapun masuk ke dalam kamarnya, ia hanya ingin sendiri, ia hanya tidak ingin diganggu, ia merasa terpuruk dan hancur. Bahkan ia sempat berpikir untuk melompat dari jendela kamarnya, namun Baekhyun takut jika nanti tulangnya patah, dan saat pemakaman ia akan terlihat buruk.
Baekhyun juga berpikir untuk melukai dirinya dengan pisau, tapi ia tidak memilikinya di dalam kamar, selain sebuah gunting yang hanya bisa memotong kertas-Ibunya tidak mengizinkan kedua anaknya menyimpan benda tajam di dalam kamar-.
Baekhyun ingin menggantung dirinya, namun langit-langit kamarnya tidak memiliki sesuatu yang bisa dikaitkan, lagipula itu terlalu tinggi dan tubuh pendeknya tidak akan bisa mencapai langit-langit sekalipun ia melompat diatas dua kursi yang ditumpuk, dan untuk alasan lain Baekhyun takut ketinggian.
Jadi yang ia lakukan sejak tadi, hanya menangis sambil mengubur kepalanya di bawah bantal berharap nafasnya habis dan ia bisa mati dengan tenang. Tapi mati tidak semudah itu, bahkan Baekhyun berulang kali menarik nafas panjang ketika ingusnya menghalangi pernafasannya.
"Baekhyun buka pintunya sayang, ayah akan membelikan apapun untukmu , jangan seperti ini Baek!" suara Minho terdengar letih dan lirih. Baekhyun kembali menatap pintu merasa tidak tega dengan ayahnya, tapi Baekhyun ingin egois untuk tidak mengasihani siapapun saat ini, karena tidak ada pula yang merasa kasihan dengan dirinya yang seolah dicampakan. Padahal apa yang terjadi padanya sekarang bukan sebuah peristiwa campak-mencampakan karena bagaimana pun dia dan Dokter Park tidak terikat hubungan apapun.
…
..
.
Soyou melirik kearah Kyungsoo yang menundukan wajahnya sejak tadi, ia hanya tidak berani mengangkat wajah dan menatap mata mengintimidasi Soyou.
Seseorang datang membawa dua gelas minuman yang membuat Soyou beralih sebentar dan tersenyum.
"Jadi apa yang kau katakan benar? Dan kau merahasiakan ini dari Bibi?" tanya Soyou lagi pada Kyungsoo sambil sesekali menatap pria yang duduk disamping Kyungsoo yang berwajah santai dan berusaha menenangkan Kyungsoo sambil menggenggam tangannya.
"Ma-maafkan aku Bi, Aku hanya tidak ingin dicap sebagai pengkhianat oleh Baekhyun. Aku harap Bibi, mengerti! " ucap Kyungsoo lagi. Soyou tidak menjawab, ia menghela nafas sebentar. Lalu melihat sekitar sambil menarik nafas untuk mengurangi perasaan emosi di dalam dirinya.
"Hm , ngomong-ngomong kemana orangtuamu?" tanya Soyou mengalihkan pembicaraan karena ia merasa sudah membuat Kyungsoo ketakutan.
"Mereka sedang mengunjungi nenek di desa, mungkin Minggu depan mereka pulang." Sahut Kyungsoo. Soyou mengangguk lalu beralih menatap pria yang sejak tadi mengalungkan tangannya dileher Kyungsoo.
"Lalu, siapa anda?" tanya Soyou pada pria yang kini beralih menatap Soyou.
"Aku?" lelaki itu tersenyum ramah, lalu mengeratkan pelukannya pada pinggang Kyungsoo.
"Aku adalah calon tunangan Kyungsoo , Nyonya." Mata Soyou melebar, dan ia melirik Kyungsoo yang juga mencuri pandang kearahnya dengan takut-takut.
"Kyungsoo? Kenapa bibi tidak tahu?" tanya Soyou lembut. Kyungsoo menelan ludahnya pelan.
"Hm, ibu yang mengenalkanku padanya Bi. Dia adalah Dokter yang pernah merawat ayah dulu, dan ternyata orangtua kami berteman. Jadi, yah kami merasa cocok dan orangtua kami setuju." Ucap Kyungsoo lagi. Soyou tersenyum lalu mengangguk sekali lagi.
"Tapi, kalian kan sesama…hhmm.. jenis?" tanya Soyou tidak enak, tapi kemudian ia teringat sesuatu tentang ucapan Kyungsoo barusan, jika putranya sama. Jika putranya, Byun Baekhyun adalah seorang gay.
"Ah, maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk_"
"Tidak apa-apa Nyonya. Aku tahu ini terdengar aneh dan tidak wajar, tapi anda tidak bisa memaksakan kehendak. Seperti yang Kyungsoo katakan mengenai putra anda Baekhyun, anda tidak bisa memaksanya untuk menjadi normal. Biarkan dia memilih hidupnya sendiri, karena bagaimana pun yang menjalaninya adalah putra anda sendiri. Mungkin alasan dia menangis sambil mengurung diri, karena dia takut jika anda tidak menerima keadaannya." Soyou menatap sosok itu lalu merendahkan arah pandangnya.
"A…aku tidak akan memaksakan kehendakku, aku tidak akan melarang putraku untuk menyukai pria. Tapi aku hanya sedikit terkejut mengetahui fakta itu berasal dari mulut sahabat putraku, bukan dari putraku sendiri. Aku, aku hanya merasa gagal menjadi seorang ibu."
"Tidak,Bibi tidak gagal Bi. Bibi adalah ibu terbaik untuk Baekhyun." Ucap Kyungsoo yang telah berani mengangkat wajahnya. Ia sungguh merasa dilema, ia ingin menjadi sahabat yang bisa dipercaya, tapi ia tidak ingin membuat Ibu dari sahabatnya terlihat cemas, lagipula Kyungsoo hanya membantu Baekhyun terlepas dari ketakutan dimarahi akan orientasi seksnya yang menyimpang.
"Dan, aku tidak tahu ini berhubungan atau tidak, tapi kemarin Baekhyun sempat bertanya tentang hubungan yang memiliki perbedaan usia yang terlampau jauh, aku tidak menanyakan lebih lanjut karena aku tidak ingin memaksa Baekhyun bercerita sebelum ia yang menceritakannya padaku. Mungkin_"
"Tunggu! Baekhyun juga sempat bertanya perihal itu. Apa mungkin dia jatuh cinta pada pria yang lebih tua? Apa mungkin anakku dicampakan oleh kekasihnya yang lebih tua? Kyungsoo apa akhir-akhir ini Baekhyun sering pergi dengan seseorang ?" Kyungsoo mengedikan bahu sambil menggeleng.
"Setahuku tidak Bi, dia jarang bercerita akhir-akhir ini. Hm, mungkin Soojung tahu sesuatu. Baekhyun pernah berkata bahwa adiknya memerasnya karena sebuah rahasia." Soyou mengerutkan keningnya sebentar lalu mengangguk.
"Terima kasih Kyungsoo, dan tenang saja! Bibi tidak akan memberitahu Baekhyun bahwa kau telah menceritakan semuanya pada Bibi. Bibi berhutang budi padamu, dan anda, aku harap anda bisa menjaga Kyungsoo dengan baik, dia sudah seperti putraku. Jangan buat Kyungsoo menangis!" Pria itu mengangguk santai sambil tersenyum.
"Tenang Nyonya, aku tidak akan melakukannya."
"Baiklah, Hmm…"
"Kim Jongin, namaku Kim Jongin."
"Ah, baiklah Kim Jongin-sshi, Kyungsoo-ah, aku pamit." Ucap Soyou sambil mengambil minuman diatas meja dan meminumnya sedikit lalu bangkit dan menjabat tangan pria bernama Kim Jongin-kekasih yang akan menjadi tunangan Kyungsoo- itu.
…
..
.
Dua orang lelaki berbeda usia dan tinggi badan sedang duduk di sebuah restaurant . Pria yang lebih tua menatap sosok pendek di depannya dengan wajah gugup, sementara yang lebih muda menyilangkan kedua tangannya dengan wajah cemberut.
" Sampai kapan kau akan mendiamiku? Kita sudah duduk disini lebih dari 2 jam, dan kau sudah menghabiskan seluruh makanan yang kau pesan." Pria yang lebih tua bertanya, dia Park Chanyeol.
Yang lebih kecil tidak menjawab, ia masih menatap kearah meja dengan wajah kesal.
"Kenapa masalah selalu datang dalam hidupku?" gerutunya kesal.
"Asal kau tahu, semua orang memiliki masalah, karena dengan menghadapi masalah tersebut, seseorang akan mengalami proses untuk menjadi dewasa."
"Ya, ya, ya, Park. Aku sudah bosan mendengar itu."
"Aku juga bosan mendengar kau yang terus mengeluh. Ada apa cantik, kenapa kau tiba-tiba datang ke tempat praktekku dan_"
"Dan mendapatimu sedang berbuat mesum dengan pasienmu. Astaga, jika ibu tahu_""
"Jangan coba-coba untuk menceritakannya pada ibumu atau ibuku!Adik sepupuku yang cantik."
"Akan aku pikirkan!" jawab yang lebih muda sambil melipat kedua tangannya di depan dada, menatap kakak sepupunya dengan satu alis terangkat.
"Tidak! Kau harus berjanji padaku!" Chanyeol menunjuk wajah lelaki di depannya.
"Demi Tuhan Park Chanyeol, kau baru saja melecehkan anak dibawah umur. Dan kau membiarkannya berlari sambil menangis. Jika orang-orang melihatnya , kau bisa dicurigai dan dijebloskan kepenjara. Kau bisa dianggap sebagai Dokter yang melecehkan anak dibawah umur."
"Kau mulai berlebihan Luhan!" Chanyeol memutar bola matanya sambil menggeleng pelan. Memiliki sepupu seperti Luhan tidak ada bedanya dengan memiliki dua orang ibu sekaligus. Suka mengatur, cerewet dan terkadang menyebalkan.
"Oh, benarkah? Aku berlebihan? Aku hanya mencoba mengingatkan kakak sepupuku yang bajingan."
"Perhatikan ucapanmu sayang!" Chanyeol menatap lelaki dihadapannya dengan tajam. Manik hitamnya mengunci manik kecoklatan milik Luhan, namun hal itu tidak membuat yang lebih muda ketakutan, atau menjerit histeris. Ia malah mencibir dan melempar arah pandangnya.
"Sekarang katakan, apa yang membuatmu datang ke tempat kerjaku?"
"Aku bosan berada di rumah, dan aku malas harus mendengar ceramah ayah. Jadi aku mengunjungi tempatmu, karena kau tahu sendiri selain ketempatmu mereka tidak akan memperbolehkan aku kemana pun, bahkan aku diantar oleh supir tadi. Untung dia menurut dan meninggalkanku di tempatmu, karena jika tidak aku akan terlihat seperti bocah yang selalu diikuti oleh baby sitter." Ucap Luhan kesal, lelaki cantik itu mengomel tanpa henti, namun tidak membuat Chanyeol merasa risih dan kesal.
"Lalu apa yang membuat Paman menceramahimu?"
"Banyak. Terutama tentang aku yang menari. Ayah tidak ingin aku melakukan hal yang katanya 'kotor' itu. Demi Tuhan, menari itu sungguh menyenangkan kenapa ucapan ayah terdengar seperti aku sedang bermain lumpur yang berisi banyak cacing dihalaman rumah."
"Paman hanya tidak suka kau mengikuti Street dance Luhan."
"Ayolah Park, sekarang itu sedang menjadi trend. Lalu apa yang ayah inginkan dariku, apa ia ingin aku mengikuti balet? Tari perut? Astaga aku bukan wanita!" bentak Luhan frustasi sambil memutar bola matanya malas.
"Tapi kau seperti wanita!"
"Hentikan! Atau aku akan menelpon bibi dan berkata bahwa anaknya yang sekarang berwajah dan berperilaku seperti malaikat kembali menjadi iblis."
"Hei, itu hanya masa laluku Luhan. Kau tahu sendiri sejak lulus kuliah aku tidak pernah menyentuh dunia gelap itu lagi."
"Ya, mungkin kau tidak mendatangi arena balap lagi, atau menari bersama para jalang di lantai diskotik, atau berpesta minuman keras dan meniduri wanita panggilan, tapi kau baru saja meniduri seorang anak dibawah umur, dan dia laki-laki." Ucap Luhan kesal.
"Hei, kecilkan suaramu! Orang-orang bisa mendengarnya nanti."
"Biar saja, biar orang-orang tahu jika Dokter Park yang dikagumi semua orang memiliki masa lalu yang gelap."
"Hei Luhan! jangan membuatku kesal padamu!"
"Jika saja kau bisa kesal padaku Fuck Chanyeol." Chanyeol menghela nafas, lalu menatap Luhan sengit. Sebelum wajah meledek Luhan membuat Chanyeol meraih kepala adiknya dan mengusaknya kasar, membuat Luhan menepis tangan itu dan merenggut kesal.
"Aku tahu dia masih kecil, akupun sudah berusaha menahan diriku ketika sisi liarku muncul. Tapi , dia sungguh indah dan menggemaskan. Wajahnya membuatku ingin selalu membuatnya mendesah dibawahku."
"Iiyach! Menjijikan. Kau baru saja menceritakan hal mesum pada sepupu dibawah umurmu ini." Ucap Luhan sambil mencibir.
Chanyeol menatap Luhan lalu tersenyum. Mereka memang terpaut usia cukup jauh-sekitar 8 tahun- tapi hal itu tidak membuat keduanya tidak nyaman untuk saling berbagi. Luhan adalah adik sepupu Chanyeol yang berasal dari keluarga ibunya.
Ibu mereka adalah saudara kandung, dan juga karena mereka sama-sama anak tunggal membuat keduanya selalu bersama , Chanyeol adalah kakak yang sangat baik pada adik kecilnya Luhan, dan sangat memanjakannya, membuat Luhan sangat bergantung pada kakak sepupunya.
Namun ayah Luhan yang berkebangsaan Cina harus kembali ke negaranya membawa istri dan Luhan. Membuat Chanyeol kembali menjadi anak tunggal, kesepian, tertekan dan merasa tidak memiliki tanggung jawab.
Hal itu membuat Chanyeol tumbuh menjadi remaja yang salah pergaulan dan bertindak sesukanya. Kekayaan orangtuanya membuatnya buta akan kesenangan duniawi. Ia menjadi salah pergaulan, ia sangat suka menghambur-hamburkan uang orangtuanya , wajahnya yang sangat tampan juga membuatnya digilai oleh para wanita dan lelaki yang rela membuka paha untuknya.
Tentu saja Chanyeol memanfaatkan itu, hingga suatu hari ia menghamili seorang gadis remaja yang menangis dan meminta pertanggung jawaban padanya. Chanyeol yang tidak mengingat apapun tentang malam panasnya bersama gadis cengeng itu-karena dia mabuk- membuatnya mengelak dan menolak untuk bertanggung jawab.
Orangtua Chanyeol yang bekerja diluar negeri segera pulang saat mendengar kabar itu dan Tuan Park tidak segan-segan menghajar putranya. Sementara Nyonya Park mengeluarkan sejumlah besar uang untuk membuat keluarga gadis itu tutup mulut dan membantu mencarikan lelaki yang mau menikahinya. Beruntung keluarga gadis itu bukan orang kaya sehingga mereka menyetujui hal itu bahkan dengan senang menerima tawaran Nyonya Park yang akan membiayai biaya pernikahan dan persalinan putri mereka.
Chanyeol terpuruk karena seluruh fasilitasnya dicabut secara paksa, bahkan ia harus mengambil cuti kuliah, dan seluruh interaksinya dengan dunia luar diblokir. Hal itu membuat ia sering marah dan membanting barang di dalam rumah mewahnya karena dikurung dan dijaga oleh para pengawal dengan sangat ketat. Dia tertekan, dia frustasi, dan dia kesepian.
Tiga bulan kemudian , adik sepupunya datang. Luhan yang mendengar perihal kakak sepupu kesayangannya segera terbang Korea dan memutuskan untuk menetap di Korea bersama ayah dan ibunya yang telah berhasil mengembangkan usaha mereka di Seoul.
Kepulangan Luhan membuat Chanyeol merasa senang, ia rindu dengan sikap manja adiknya, ia rindu dengan rengekan Luhan, ia rindu bagaimana menjadi kakak yang baik untuk adik sepupunya. Semenjak itu Chanyeol kembali menjadi sosok kakak yang penyayang dan sangat mencintai Luhan, adik sepupunya yang lemah dan cengeng. Bahkan meminta kedua orangtua Luhan untuk membiarkan lelaki bermata rusa itu tinggal di kediaman Park. Pribadi Chanyeol lambat laun membaik dan melupakan dunia gelapnya.
"Aku ingin hyung menjadi Dokter kelak." Ucap Luhan kala mereka sedang duduk diruang tamu , Chanyeol sedang menemani adik kecilnya menggambar.
"Kenapa?"
"Tubuh tinggi hyung sangat cocok dengan jas putih Dokter. Hyung akan terlihat tampan dan aku akan dengan bangga mengenalkan pada dunia jika hyung adalah kakakku." Ucap Luhan kala itu.
Chanyeol tersenyum dan mengusak rambut Luhan dengan sayang. Ia bersyukur memiliki Luhan sebagai adiknya, karena sejak kecil Chanyeol selalu mendambakan kehadiran seorang adik yang bisa ia jaga dan ia sayangi, namun kedua orangtuanya yang sibuk tidak menginginkan kehadiran anak lain dalam keluarga mereka, bagi mereka Chanyeol saja sudah cukup. Karena itu Chanyeol sangat menyayangi Luhan sebagai adik kecilnya dan melakukan apapun untuk adik kesayangannya.
Chanyeol berhenti kuliah di jurusan Bisnis & Ekonomi, dan ia belajar mati-matian untuk bisa lulus tes Fakultas Kedokteran. Chanyeol yang pada dasarnya adalah lelaki yang cerdas-terbukti dari banyak piala penghargaan yang ia terima saat masih disekolah dasar dan sekolah menengah pertama- membuatnya lulus dan diterima di Universitas yang terkenal disana.
Kedua orangtuanya bangga dan mulai memberikan kepercayaan pada Chanyeol. Ketika resmi menjadi mahasiswa Kedokteran dan mengenakan jas prakteknya untuk pertama kali, Chanyeol pulang kerumah dengan senyuman merekah membuat Luhan memekik dan melompat senang kearah kakaknya. Dan tanpa ia sadari ia telah menjelma menjadi sosok yang ingin dikagumi , terutama oleh orangtua dan adiknya.
"Aku benar bukan? Hyung terlihat tampan." Ucap Luhan kala itu. Permintaan Luhan tidak berhenti disana, ia bahkan menuntut Chanyeol untuk menjadi salah satu dari 5 mahasiswa teladan di fakultasnya dan dengan mati-matian Chanyeol belajar keras untuk mengabulkannya. Ia hanya menginginkan sebuah pengakuan, dan itu terjadi.
Kepopuleran Chanyeol karena prestasi dan wajahnya membuat ia dikagumi banyak orang dan mulai banyak wanita yang mengincarnya. Membuat Luhan harus berteriak setiap hari karena menemukan berbagai macam hadiah di depan kediaman mereka. Hal itu membuatnya gila karena berulang kali tersandung ketika akan berangkat sekolah.
Luhan yang tidak ingin kakaknya kembali terlena dengan para pengagumnya yang rela melakukan apapun akhirnya mulai bertindak keras, ia sangat protektif pada Chanyeol dan tidak membiarkan orang sembarangan untuk menyentuh dan tidur dengan kakaknya. Luhan bahkan menjadi sangat manja dan selalu menempel pada Chanyeol agar para wanita itu tidak bisa mendekati kakaknya, bahkan dibeberapa waktu Luhan selalu berpura-pura dan mengatakan bahwa Chanyeol adalah kekasihnya.
Chanyeol tidak keberatan, karena ia menyukai itu, ia menyukai bagaimana seseorang bergantung padanya, bagaimana seseorang bersikap manja padanya.
Ya, Chanyeol memang memiliki obsesi berlebih tentang ketergantungan. Ia baru menyadarinya setelah merasa kesal karena semakin beranjak dewasa Luhan mulai tidak bergantung lagi padanya. Luhan mulai suka melakukan segalanya sendiri, walau siapapun yang melihat masih merasa Luhan sangat manja pada Chanyeol.
Tapi Chanyeol tidak mendapati Luhan yang bergantung manja di lengannya, Luhan yang minta digendong olehnya, Luhan yang menangis karena ingin bertemu dengannya, Luhan yang selalu tidur sambil memeluk dirinya, Luhan telah berubah walau terkadang masih merengek, tapi adik sepupunya tidak bermanja-manja lagi padanya dan Chanyeol membenci itu.
Tapi ia tidak bisa membenci Luhan dan memutuskan untuk mulai mengontrol dirinya. Kelainan yang ia derita, obsesi berlebih yang ia miliki terhadap seseorang yang bergantung padanya mulai ia coba untuk hindari, ia menahan itu bertahun-tahun, bahkan setelah menjadi Dokter tetap disebuah rumah sakit ternama dan memilih tinggal sendiri.
Ia berusaha berfokus diri pada pekerjaannya, ia berusaha menghilangkan kelainan aneh yang di deritanya , dan pada akhirnya Chanyeol mencoba menutup hatinya, tapi pertemuaannya dengan Byun Baekhyun membuat sisi itu kembali.
Bagaimana lelaki mungil itu bersemu merah, bagaimana lelaki mungil itu salah tingkah di depannya, bagaimana lelaki mungil itu gugup oleh sentuhannya, bagaimana lelaki mungil itu mendesah dan memanggil namanya, bagaimana lelaki mungil itu menggeliat karena elusannya, membuat sisi liar dalam dirinya yang telah terkunci dalam kotak Pandora di dalam hatinya memberontak keluar .
Byun Baekhyun telah membangunkan singa yang tertidur, dan menolak Baekhyun adalah satu-satunya cara untuk membuat dirinya tidak lagi masuk ke dalam masa lalunya. Karena Chanyeol pikir perasaan tertarik yang timbul pada seorang anak kecil-dibawah umur- adalah kesalahan, karena Chanyeol pikir antara dua orang dengan perbedaan usia yang mencolok bukanlah cinta, melainkan penyakit.
Chanyeol sempat mengira dirinya mengidap Pedofilia , namun Psikiater yang ia temui berkata bahwa Pedofilia hanya terjadi bila yang bersangkutan berusia kurang dari 13 tahun dengan jarak usia diatas 15 tahun. Dan untuk kasus Chanyeol, ia hanya memiliki sebuah obsesi untuk digantungi, dan yang bisa melakukannya kebanyakan anak-anak dibawah umur. Tapi ia tidak ingin mengambil resiko untuk membiarkan Baekhyun masuk ke dalam kehidupannya, ia hanya tidak ingin anak polos seperti Baekhyun akan mendapat banyak kebencian.
Kesadaran Chanyeol kembali ketika Luhan menatapnya dengan mata berkedip, pria itu tersenyum lalu mengelus pipi adiknya.
"Makanlah dengan benar! Setelah ini kita pulang!" ucap Chanyeol. Luhan menepis tangan kakaknya dan menggosok pipinya yang telah disentuh Chanyeol.
"Yak! Hentikan! Jangan memperlakukan aku seperti anak kecil Park! Aku sudah besar." Ucap Luhan. Walau Chanyeol merasa sedikit tidak suka, tapi ia memilih tersenyum dan menyesap minumannya.
"Oh iya, kau ingat lelaki menyebalkan yang menantangku itu?" tanya Luhan sambil mengunyah makanan penutupnya.
"Hm, Oh Sehun?" tanya Chanyeol ragu dan Luhan mengangguk mantap.
"Benar, lelaki jelek dengan wajah datar itu bersikap aneh. Kemarin aku mendapatinya sedang melihat kearahku, aku yakin dia sedang menyusun rencana jahat untukku." Ucap Luhan dengan wajah kesal.
Chanyeol menghela nafas, sebenarnya ia sudah bosan mendengar cerita Luhan mengenai lelaki bernama Oh Sehun yang dari cerita Luhan sejak pertama kali bersekolah selalu mencari perkara dengan dirinya.
Walau Luhan tidak sadar, tapi Chanyeol tahu adik kesayangannya menyukai sosok yang ia benci itu karena setiap bercerita tentang Oh Sehun wajahnya akan bersemu merah, dan Chanyeol sendiri pun tahu siapa Oh Sehun, lelaki berwajah datar itu adalah tetangga dekat dari sahabat satu profesi dengannya-Tapi yang satunya adalah Dokter umum-, Kim Jongin. Mereka cukup dekat, bahkan untuk berbagi masalah percintaan, dan dari mulut sialan Jongin, Chanyeol tahu bahwa Sehun pun menaruh perhatian lebih pada adik sepupunya.
Chanyeol bukan tidak ingin memberitahu Luhan, ia bahkan sudah mencoba beberapa kali hingga bibirnya terasa pegal, tapi adik sepupunya itu akan selalu berkata "Apa kau gila? Bagaimana mungkin orang seperti dia menyukaiku, dia itu licik, dia pasti sedang mencari kelemahanku , lagipula aku tidak menyukainya."
Dan Chanyeol pun sudah bosan mendengar elakkan itu, jadi ia memilih menjadi pendengar yang baik daripada melihat adiknya harus bertransformasi menjadi Professor Sung –Pengajar tercerewet yang pernah Chanyeol kenal, yang membuat hari-hari dikampusnya seperti mimpi buruk-.
"Sebaiknya kita pulang, kau terlihat tidak baik-baik saja. Wajahmu memerah seperti kepiting rebus." Ucap Chanyeol dan Luhan membanting sendok dan garpunya pelan lalu bangkit dengan malas. Chanyeol hanya tersenyum melihat tingkah kekanakan adiknya.
"Malam ini aku menginap di tempatmu." Ucap Luhan tanpa melihat kebelakang dan berjalan bagaikan seorang putri yang dikawal oleh pengawalnya.
…
..
.
Minho menatap Soyou dan menghela nafas. Mereka telah duduk di ruang tengah sambil memikirkan cara untuk bicara dengan putranya. Soyou telah menceritakan semuanya pada Minho dan kepala keluarga itu juga sama, tidak bisa melakukan apapun.
Berita perihal anaknya yang ternyata seorang gay, membuat harapannya untuk memiliki menantu yang cantik kandas, walau selama ini ia memang meragukan harapannya itu mengingat putranya adalah lelaki yang feminim.
"Ah, aku tidak bisa diam! Jangan larang aku!" bentak Soyou lalu bangkit dan menaikki tangga dengan emosi.
"Byun Soojung!" teriak Soyou sambil membuka pintu kamar putrinya kasar, gadis yang sedang berbaring itu tersentak kaget.
"Ibu apa-apaan? kenapa menganggetkanku?" bentak Soojung tidak terima, Soyou tidak peduli dan ia berjalan kearah ranjang putrinya.
"Berapa imbalan yang Baekhyun berikan atas ancamanmu? Dan apa rahasia yang ia milikki?" tanya Soyou, Soojung sempat membeku mendengar pertanyaan ibunya, namun dia mulai bersikap biasa, terlihat santai dan tidak peduli. Itu adalah bakat alami Soojung selain mengancam. Berpura-pura.
"Ancaman apa? Aku tidak tahu."
"Jangan bohong! Cepat katakan!"
"Aku tidak mungkin mengancam kakakku sendiri ibu." Bohong Soojung dengan wajah tidak bersalah, Minho tiba dan memegang pundak istrinya. Mengelusnya pelan mencoba menenangkan istrinya yang sedang emosi dan tertekan. Ia pun sebenarnya sama, namun itulah mereka. Jika Minho bisa mengendalikannya, maka Soyou lebih suka mengaudiofisasikannya.
"Ayah.." rengek Soojung dan ayahnya memberikan tatapan iba.
"Cepat katakan Byun Soojung! Atau aku akan menahan uang jajanmu selama dua bulan."
"APA!" Soojung memekik dan berdiri diatas ranjangnya tidak terima, kedua tangannya menekuk diatas pinggang. Alisnya saling bertautan dan hidungnya mengembang dan mengempis, jika Baekhyun Baboon Byun , maka ia Buffalo Byun .
"Kenapa uang jajanku yang dipotong? Aku tidak ada sangkut pautnya dengan si cengeng itu. Dia yang berciuman di mobil dengan seorang pria , kenapa aku yang harus dihukum?" ucap Soojung , dan seketika ketiga orang disana membeku. Soojung mengatupkan mulutnya dan menutup matanya erat-erat, merutuki kebodohannya. Dengan cepat ia berbaring dan menarik selimutnya , membungkuk seluruh tubuhnya.
"Selamat malam." Ucapnya cepat, Soyou yang geram segera menarik selimut putrinya kasar yang ditahan oleh Soojung.
"Yak! Bangun! Siapa yang berciuman dimobil? Katakan Soojung!" Soyou menarik-narik selimut yang ditahan oleh Soojung , mereka saling tarik-menarik seperti para ibu-ibu yang memperebutkan baju obral di pusat perbelajaan.
"Ayah, jauhkan wanita mengerikan ini! Aku takut." Rengek Soojung.
"Sayang hentikan! Tenanglah! Kau bisa menyakitinya." Ucap Minho lembut, Soyou menghentikan tarikannya dan menatap tidak percaya pada suaminya.
" Bagaimana mungkin aku bisa tenang jika putraku adalah seorang gay dan adiknya baru saja mengatakan jika ia berciuman dengan seorang pria di mobil. Dan sekarang putraku mengurung dirinya dikamar sambil menangis tanpa henti. Aku harus bicara pada Baekhyun." Ucap Soyou dan berlalu meninggalkan kamar diikuti oleh Minho yang kelelahan.
Soojung mengintip dari balik selimut dan ia bernafas lega, lalu segera mengambil ponselnya dan mengetik pesan dengan cepat.
"Jika memungkinkan melompatlah dari jendela! Ibu akan membunuhmu karena ia tahu kau seorang gay!"
Soojung membanting ponselnya dan menggeram frustasi, ia baru saja membuat kakaknya dalam bahaya.
Baekhyun yang mendengar getar ponselnya, menyembulkan kepalanya dari balik bantal tidak memperdulikan ketukan-ketukan di pintunya.
Ia membuka pesan dan matanya membulat tidak percaya, ia menatap pintu kamarnya dan terdengar suara dobrakan keras walau tidak berhasil membuat pintu itu terbuka, atau mungkin hanya belum.
Baekhyun kalut, otaknya tidak berpikir dengan jernih. Ia ingin segera menghilang, tapi ia sadar bahwa ia hanya manusia biasa, bukan hantu atau makhluk tembus pandang.
Ia melirik kearah jendela dengan matanya yang sembab, ia bangkit dan membuka jendela , ia menatap kebawah dan bergidik ngeri. Tapi kemudian ia dengan perlahan meluncur turun, berdiri di sebuah pijakan yang berhubungan dengan pijakan lain yang menuju ke ruang tengahnya.
Baekhyun tidak berani melihat ke bawah, itu sungguh mengerikan karena demi apapun dia sedang berdiri pijakan kecil di dinding dilantai sepuluh gedung apartemennya sekarang. Baekhyun berjalan dengan sangat hati-hati dan membuka sebuah jendela lalu memanjat dengan perlahan, ia segera mengendap dan berlari kecil menuju pintu dan menabrak sebuah pot bunga hingga pecah.
"Baekhyun?" suara itu terdengar dari atas dan Baekhyun segera berlari keluar dengan cepat lalu berlari disepanjang koridor dengan kaki telanjangnya, ia lupa untuk mengambil alas kaki miliknya, bahkan secara acak.
Ia mengatur nafas ketika tiba diluar gedung dan saat mendongak ia melihat ibunya menengok dari jendela kamarnya yang sepertinya telah berhasil terbuka, mata mereka bertemu tapi Baekhyun berlari dengan cepat menjauhi gedung apartemennya tanpa tujuan. Dan disana, di jendela kamar putranya Soyou menatap kepergiaan Baekhyun dengan mata berkaca-kaca.
Soyou mendudukan dirinya diatas ranjang Baekhyun, wanita itu menutup wajahnya dan mulai terisak.
"Di..dia kabur! A..aku tidak pantas menjadi seorang ibu." Soyou terisak dengan nada yang terdengar sangat frustasi. Minho mengelus pundak istrinya sayang dan membawanya ke dalam sebuah pelukan hangat.
"Dia akan kembali, kau hanya perlu mempercayainya." Bisik Minho dan Soyou terisak semakin keras. Soojung berdiri di ambang pintu kamarnya dan melihat kedua orangtuanya bersedih, ia melihat kearah jendela dan menghela nafas menyesal.
Baekhyun berlari sambil sesekali terisak, kakinya terasa perih dan tubuhnya terasa lelah harus berlari ditengah malam. Tubuhnya terasa dingin karena hanya mengenakan baju kaos tipis dan celana pendeknya, ia merasa menyesal karena tidak menerima tawaran makan malam dari ibunya, karena kini ia merasa sangat kelaparan.
Baekhyun melihat sekitar dan ia tidak tahu dirinya berada dimana, ia seorang diri ditengah malam, dan ia takut sesuatu yang buruk akan terjadi padanya.
…
..
.
Luhan tertidur di dalam mobil dan Chanyeol hanya menghela nafas. Ia menekan klakson dan pintu utama kediaman Luhan terbuka, seorang pelayan menghampiri dan memberi hormat.
Chanyeol keluar perlahan dari mobil dan membawa tubuh Luhan dalam gendongannya, ia disambut oleh ibu Luhan yang sedang duduk diruang tamu sambil membaca sebuah majalah.
"Kau akan menginap?" tanya ibu Luhan dan Chanyeol tersenyum sambil membawa tubuh adiknya menuju kamar.
"Tergantung tuan putri ini Bi." Ucap Chanyeol dan wanita itu hanya menggeleng, ia sudah terbiasa melihat Luhan yang pulang dalam keadaan tidur, selama itu Chanyeol Nyonya Xi tidak keberatan.
Chanyeol membaringkan Luhan diatas ranjang dan Luhan menggeliat. Chanyeol memperhatikan Luhan dan melepaskan sepatunya pelan, lalu menyelimuti tubuh adiknya.
Lampu dimatikan dan Chanyeol hendak berjalan keluar sebelum suara Luhan membuatnya menoleh.
"Kau akan pulang?" tanya Luhan dengan suara seraknya, Chanyeol mengangguk.
"Tidak ingin berbaring disini bersamaku? Hyung?" Chanyeol terkejut mendengar Luhan menyebutnya hyung setelah sekian lama. Chanyeol melangkah kearah Luhan dan berbaring diatas ranjang Luhan saat Luhan memberikan tempat untuknya.
"Mungkin hanya malam ini." Ucap Chanyeol lalu merebahkan tubuhnya, Luhan tersenyum lalu memeluk tubuh kakaknya dan kemudian berbalik memunggungi Chanyeol. Mungkin dulu ia akan tertidur sambil memeluk tubuh Chanyeol, namun sekarang ia sudah cukup dewasa dan ia rasa ia tidak pantas melakukan itu.
"Selamat tidur adik kecilku." Bisik Chanyeol dan lelaki itu tersenyum dalam tidurnya.
…
..
.
Baekhyun melangkah tanpa tujuan dan ia merasakan perih pada kakinya yang lecet. Ia ingin kerumah Kyungsoo tapi rumah lelaki itu berada cukup jauh dari tempatnya sekarang, dan untuk rumah Jongdae , itu lebih jauh lagi apalagi bila ditempuh dengan kaki telanjang.
Untuk itu Baekhyun terus melanjutkan langkahnya, berharap bisa menemukan tempat setidaknya untuk bermalam. Ibunya memang humoris dan penyayang, namun ibunya yang sedang marah adalah bagian terburuk dalam hidupnya.
Baekhyun memang manja dan cengeng membuat kedua orangtuanya sangat berhati-hati dalam menjaga perasaannya, namun bila sedang marah ibunya sangat mengerikan. Pertama kali melihat ibunya marah besar ketika adik perempuannya ketahuan bolos selama dua hari tapi selalu pamit ketika berangkat.
Gadis itu membohongi ibunya karena ajakan dari teman-teman yang berbeda sekolah dengannya, yang merupakan siswi-siswi berandal yang nyaris putus sekolah. Soyou mengamuk , mengemasi seluruh barang Soojung dan melemparnya di depan gedung apartemen, hingga gadis itu menangis histeris dan bersujud padanya.
Baekhyun ada disana, ia menangis dan ikut memohon pada ibunya namun ia malah ditarik dan dikunci di dalam kamar seharian dengan ancaman tanpa makan malam karena dianggap bersekongkol dengan adiknya, jika saja ayahnya tidak segera pulang mungkin Soojung sudah menjadi gelandangan diluaran sana, dan Baekhyun bersumpah itu adalah terakhir kalinya ia akan membuat ibunya marah.
Namun sekarang, karena pertemuannya dengan Park Chanyeol membuat ia harus mengalami hal terburuk dalam hidupnya, meski belum diusir tapi Baekhyun lebih memilih kabur ketimbang dipermalukan di depan orang banyak, karena Baekhyun tidak setegar Soojung.
Baekhyun masih terisak dengan langkah kakinya yang terseok-seok. Rasanya sangat perih ketika permukaan kulit lembutnya menginjak kerikil-kerikil tajam yang tersebar diatas tanah. Ia bahkan tidak kuat dengan hawa dingin, ia bahkan masih meringis ketika ibunya menyeduhkan susu dengan temperatur air yang sedikit lebih tinggi dari biasanya, ia bahkan menangis histeris ketika tangannya teriris pisau dan berkata bahwa ia kemungkinan akan mati karena kehabisan darah.
Baekhyun sangat lemah, semua orang tahu itu. Ia satu-satunya orang yang pingsan karena tersengat matahari beberapa menit saat upacara berlangsung, ia orang yang sama yang demam tiga hari karena terjatuh dari sepeda, dan kini sosok itu harus berjalan dengan kaki telanjang di tengah dinginnya malam.
Jalanan mulai nampak sepi dan Baekhyun masih tidak memiliki tujuan. Ia duduk disebuah halte, mengistirahatkan kakinya yang terasa sangat sakit lalu terisak semakin keras. Nafasnya terasa putus-putus dan Baekhyun membenci dirinya yang lemah. Seorang pria tua yang ikut duduk hanya memperhatikan dengan alis bertautan, tidak berusaha untuk menghiburnya sama sekali, lagipula itu tidak perlu karena Baekhyun hanya ingin sendiri saat ini.
Ia merenungi semua yang terjadi, merenungi kebodohannya karena jatuh cinta pada pria yang salah. Pria yang hanya ingin menikmati tubuhnya, yang membuangnya seperti sampah. Park Chanyeol, sosok yang memenuhi pikirannya akan Baekhyun coba hapus dari ingatannya. Sosok yang membuatnya merasakan kepahitan dunia, sosok yang merenggut kesucianya dan membuatnya terlihat hina.
Semua telah terlanjur, Baekhyun tidak bisa menyalahkan siapapun, tapi dalam hati Baekhyun sesekali menyalahkan kepolosannya dan kebodohannya karena nyatanya hingga saat ini ia masih berharap jika sosok Chanyeol datang dan membawanya dalam sebuah pelukan.
"Apa sakit?" suara itu membuat Baekhyun menghentikan isakannya, ia mengenal suara ini, ini adalah suara Dokter yang ia sukai, tapi Baekhyun bergeming, ia tidak ingin mengkhayal yang tidak-tidak, karena sangat mustahil bila sosok itu muncul dihadapannya.
Pikiran Baekhyun terlalu dipenuhi oleh sosok Chanyeol, bahkan kini ia merasakan sebuah sentuhan dikakinya dan ketika ia mendongak sosok Chanyeol-lah yang sedang berjongkok di depannya sambil mengelus kakinya yang terluka.
Baekhyun membiarkan imajinasinya meliar, ia terlalu lelah untuk menangis dan berjalan diatas kerikil , jadi untuk saat ini ia akan membiarkan euphoria –nya. Sosok Chanyeol dihadapannya mengelus kakinya menyingkirkan noda-noda lumpur yang menempel, dan saat sosok itu menyematkan kedua tangannya di balik lutut dan punggung Baekhyun, Baekhyun merasakan tubuhnya terangkat.
Ia berada dalam dekapan sosok imajinasi Chanyeol, Baekhyun masih terisak dan ia menyembunyikan wajahnya dalam kehangatan itu, perlahan mata Baekhyun mulai tertutup, ia hanya terlalu lelah.
…
..
.
Soyou masih terisak diatas ranjangnya sementara Minho baru memasuki kamar sambil membawa segelas teh hangat untuk menenangkan istrinya. Soyou mendekap tubuhnya dan memandang ujung kakinya, ia merasa terpuruk dengan kaburnya Baekhyun.
"Minumlah dulu!"
"Bagaimana aku bisa minum dengan tenang sementara putraku diluar sana sendirian." Isaknya. Minho menghela nafas lalu duduk disamping Soyou , dia mengelus punggung istrinya pelan.
"Baekhyun pasti akan pulang, memangnya kau pikir kemana lagi dia akan pergi? Dia sudah dewasa, dia pasti bisa mempertanggung jawabkan dirinya." Soyou menatap tajam suaminya dengan mata yang sembab dan hidung yang memerah.
"Hiks.. kau tahu sendiri Baekhyun begitu lemah dan manja, aku bahkan masih menyiapkan air panas untuk dirinya mandi, aku bahkan masih menyiapkan seragam sekolahnya, dia tidak seperti lelaki pada umumnya, dia sangat rentan, bahkan ketika masih di dalam kandungan." Soyou terisak lagi dan Minho membawanya dalam sebuah pelukan.
"Aku…hiks..aku nyaris kehilangannya dulu, aku nyaris kehilangan bayiku yang masih di dalam kandungan karena Baekhyun sangat lemah, dan aku tidak akan memaafkan diriku jika sesuatu terjadi pada Baekhyun, dia bukan Soojung yang kuat, dia bukan Soojung yang tidak tahu arti sakit, dia Baekhyun, putra kita yang bahkan demam ketika musim panas, aku hiks…"
"Soyou-ah, Baekhyun kita memang lemah, dia memang cengeng dan manja, tapi dia sudah beranjak dewasa, kita tidak bisa lagi mengatur semuanya, biarkan dia menjadi dirinya. Jika memang dia…." Minho menghela nafas.
"…menyukai sesama jenis kita tak bisa memaksanya."
"Aku tidak mempermasalahkan itu, aku hanya ingin bertanya langsung padanya, aku hanya ingin tahu apa yang sedang ia rasakan, aku hanya ingin dia percaya padaku tentang semua masalahnya, tapi aku telah gagal menjadi seorang ibu. Aku ingin putraku kembali, bawa dia kembali sayang!" Minho mengangguk tapi tetap bergeming.
"Jika kau tidak mau, biar aku saja_" ucapan Soyou terhenti karena Minho menarik tangannya, memaksanya untuk duduk.
"Kita tidak tahu dia dimana, tapi aku yakin dia akan kembali. Aku sangat mengenal Baekhyun, dia tidak akan meninggalkan kita. Hanya biarkan dia sendiri dan merenungi dirinya." Ucap Minho lagi. Soyou menatap suaminya dengan mata sembabnya dan ia menundukan , kembali terisak.
Soojung mengendap keluar dari kamarnya, dengan sebuah ransel di tasnya. Gadis itu melangkah turun dan ketika sampai dibawah ia melirik kearah kamar orangtuanya. Ia sudah bertekad akan membawa kakaknya pulang demi membayar kesalahannya.
…
..
.
Baekhyun mengerjapkan matanya dan cahaya dari lampu menyapa penglihatannya. Ia menggosok matanya, mencoba memperjelas pandangan kaburnya. Hingga ia menyadari bahwa ia tidak sedang berada di kamarnya, ia berada di tempat yang asing namun cukup familiar.
"Tidurlah lagi!" suara itu membuat Baekhyun menoleh dan betapa terkejut dirinya saat melihat sosok Dokter Park di bagian bawah ranjang sedang menunduk sambil mengobati kakinya.
"A-apa aku sudah mati?" tanya Baekhyun. Ia tidak mengingat apapun kecuali dirinya yang berlari menjauhi gedung apartemennya, berlari tanpa arah dan berhenti disebuah halte karena kelelahan. Ia hanya ingat itu, tidak mengingat bagian ia bertemu dengan Chanyeol, kecuali
"Tunggu! Apa kau nyata Dokter?" tanya Baekhyun sambil mengerjap dan menggosok matanya berulang kali. Chanyeol tersenyum lalu menahan tangan Baekhyun dan menyimpannya di samping tubuh mungil itu.
"Tentu saja. Apa kau pikir aku hantu? Dan apa yang terjadi padamu ?" tanya Chanyeol sambil mengelus pipi Baekhyun. Baekhyun membuang wajahnya, ia tidak menginginkan sentuhan itu, ia tidak menginginkan Chanyeol lagi, karena ia tahu dirinya tidak pernah berarti untuk pria tampan itu.
"A-aku harus pergi." Ucap Baekhyun hendak bangkit namun Chanyeol menahannya.
"Luka dikakimu cukup banyak, bagaimana bisa kau tidak mengenakan alas kaki di tengah malam seperti ini ? dan juga tanpa pakaian hangat?" tanya Chanyeol, Baekhyun menundukan wajahnya, kepingan tentang hal buruk yang terjadi dalam dirinya kembali berputar.
Ia gemetar, meremas kedua tangannya dengan wajah menunduk. Chanyeol yang masih mengobati kakinya, beralih dan menatap wajah Baekhyun.
"A-aku..hiks..a-aku kabur." Ucap Baekhyun dengan isakan yang lolos. Chanyeol sedikit terkejut, ia meletakkan pinset dan kapas yang ia gunakan untuk mengobati Baekhyun. Pria itu bangkit dan pindah dihadapan Baekhyun.
"Ada apa sayang? Kau bisa menceritakannya padaku" ucap Chanyeol. Perasaan itu kembali lagi, sebuah obsesi untuk melindungi dan ingin digantungi. Baekhyun masih terisak, bibirnya bergetar dan ia merasa takut.
"I-ibu..i-ibu marah padaku..hiks..hiks.." kembali suara Baekhyun terdengar lirih. Chanyeol yang merasa iba membawa Baekhyun ke dalam pelukannya, mengelus pundak bergetar itu dengan sayang. Baekhyun pun merasa nyaman, ia merasa sangat aman, hingga ia tersadar sesuatu lalu mendorong tubuh Chanyeol, membuat yang lebih dewasa mengerutkan keningnya.
"Ja-jangan menyentuhku lagi Dokter!" ucap Baekhyun dengan tatapan yang berusaha menghindar dari Chanyeol. Chanyeol semakin mengerutkan keningnya, ia tidak suka dengan penolakkan itu.
"Kenapa?" Baekhyun mengangkat wajahnya tidak percaya, mengingat pria dihadapannya telah memiliki kekasih, lelaki cantik yang memergoki mereka sedang berciuman.
"Kita tidak bisa, kekasih Dokter akan tersakiti. Aku tidak ingin menjadi perusak hubungan orang." Ucap Baekhyun lantang, Chanyeol tersenyum lalu mengelus pipi Baekhyun lembut.
"Dia Xi Luhan, lelaki cantik yang berusia 18 tahun." Baekhyun kembali menatap Chanyeol tidak percaya, pria itu menolaknya karena alasan usia dan nyatanya ia malah mengencani lelaki yang hanya lebih tua satu tahun darinya. Dimana keadilan sekarang? Teriak Baekhyun dalam hati.
Mata Baekhyun berkaca-kaca dan ia kembali membuang arah pandangnya, Chanyeol menangkup wajah Baekhyun dan membuat mata mereka bertemu.
"Dan Xi Luhan adalah adik sepupuku." Mata Baekhyun membesar, ia menatap Chanyeol gusar mencoba mencari kebohongan dimanik hitam kelam lelaki itu. Entah mengapa ada sebersit perasaan lega dalam dirinya, walau bukan berarti ia menjadi kekasih Park Chanyeol sekarang.
"Kami berdua sangat dekat dan memiliki sebuah sifat posesif satu sama lain, itu mengapa aku berkata bahwa aku sudah terikat secara tidak langsung. Luhan tidak akan membiarkan orang lain dekat denganku." Tutur Chanyeol. Baekhyun menatap mata Chanyeol dengan tatapan yang mulai melunak.
"Ja..jadi kau tidak sedang berkencan?" tanya Baekhyun bergetar. Chanyeol menggeleng lalu tersenyum, ia kemudian mengecup bibir memerah Baekhyun. Baekhyun sempat terkejut namun ketika bibir seksi itu mengajak bibirnya bertemu, Baekhyun menutup matanya perlahan. Sisi remaja polosnya kembali, dan Baekhyun tidak bisa mengelak.
Ia bukan orang bodoh, tolol, idiot atau apapun yang mereka katakan atas sikap Baekhyun yang mau menerima sentuhan Chanyeol setelah dirinya dicampakkan. Baekhyun hanya seorang remaja lugu dan naif yang sangat menyukai kasih sayang dari orang yang lebih dewasa darinya, dari orang yang menurutnya bisa menjaganya dan membuatnya aman.
Ia tidak mendapatkan itu dari kedua orangtuanya, atau adiknya, atau kedua sahabatnya, tapi ia mendapatkan perasaan aman dan nyaman itu dari seorang Park Chanyeol, Dokter tampan yang telah merebut hati dan kesuciannya.
Baekhyun tidak pernah bisa memposisikan dirinya menjadi seorang pelindung, karena dirinya lebih suka dilindungi dan bergantung pada orang lain. Ia sangat menyukai bagaimana orang-orang memanjakannya, bagaimana orang-orang memperlakukannya seperti sebuah kaca yang mudah retak, bagaimana orang-orang mencurahkan seluruh perhatian mereka hanya padanya, Baekhyun menyukai itu dan ia menginginkan sesuatu itu berasal dari Park Chanyeol.
Tubuh keduanya sudah terbaring diatas ranjang, ciuman mereka begitu menuntut. Baekhyun mengalungkan tangannya di leher Chanyeol, membuat ciuman mereka semakin dalam.
Kaos tipis Baekhyun diangkat oleh Chanyeol, memperlihatkan kulit putih dan mulus Baekhyun, juga dua puting yang mulai menegang. Chanyeol beralih menyesap leher Baekhyun, meninggalkan beberapa noda kemerahan disana. Baekhyun menggerakan tangan Chanyeol yang semula mengelus perut datarnya menuju dadanya, dan Chanyeol menurutinya, ia memainkan salah satu tonjolan Baekhyun membuat Baekhyun menggeliat.
Bibir Chanyeol turun untuk menghisap puting Baekhyun yang lain , membuat lelaki cantik itu melenguh dan membusungkan dadanya. Chanyeol berhenti, ia mengangkat wajahnya untuk melihat wajah kemerahan Baekhyun.
Baekhyun membuka matanya saat merasakan hampa, mata mereka bertemu dan Baekhyun mencoba menerka apa yang sedang dipikirkan Chanyeol.
"Chan-Chanyeol?" tanya Baekhyun takut, Chanyeol tersenyum dan mengecup bibir Baekhyun dengan cepat dan berulang, lalu mereka kembali saling memandang.
"Aku menyukai bagaimana kau mendesah dibawahku Baekhyun. Aku suka bagaimana wajahmu menahan semua hasrat dan nafsu menggebu itu, aku juga suka bagaimana kau memanggil namaku dan merengek untuk kumasuki. Bayangan tentang hari itu tak pernah terhapus dari ingatanku."
Baekhyun terdiam tidak tahu harus bersikap seperti apa, tidak tahu harus memberikan komentar apa, jadi ia hanya menatap Chanyeol seolah itu menjadi jalan keluar satu-satunya untuk terlepas dari situasi rumit ini.
"Jadi, apa boleh aku mengulanginya?" tanya Chanyeol. Baekhyun terdiam, ia kembali berpikir haruskah ia menghentikan ini, atau melanjutkannya. Ia sudah dicampakkan, tapi ia tidak bisa memungkiri bahwa ia menginginkan Chanyeol untuk menjadi pelindungnya, untuk menjadi satu-satunya orang yang bisa memanjakannya.
"Baekhyun?" tanya Chanyeol lagi. Baekhyun membuka mulutnya sedikit dan itu membuat Chanyeol sangat terangsang.
"Hmmm..hmm.." Ia sedang berpikir, namun suara Baekhyun terdengar serak dan itu semakin membakar nafsu pria dewasa itu.
"Bolehkah?" tanya Chanyeol lagi memastikan. Baekhyun melirik kearah kiri menghindari tatapan Chanyeol, ia sungguh dilema, otaknya tidak bekerja dengan baik.
"Ta-tapi setelah itu bisakah kau biarkan aku bermalam disini? Sampai ibuku tidak marah lagi?" tanya Baekhyun, Chanyeol membulatkan matanya, Baekhyun sungguh lugu dan polos.
"Bahkan jika itu seratus tahun, aku akan membiarkan kau tinggal disisiku Baek." Ucap Chanyeol, Baekhyun mengangguk lemah.
"Terima kasih Chanyeol. Ak_hhmmmppt" Chanyeol sungguh dibuat gila oleh kepolosan Baekhyun, ia menyukai semua tentang Baekhyun dan karena itu Chanyeol menyerang bibir manis Baekhyun lagi.
Chanyeol bangkit dan mengangkat tubuh Baekhyun dengan cepat setelah ciuman mereka terputus. Baekhyun mengalungkan tangannya di leher Chanyeol sambil bertanya-tanya kemana dirinya akan dibawa, dan saat tersadar Baekhyun mendapati dirinya terduduk diatas counter dapur.
Chanyeol kembali menciumnya sambil membuka baju kaos tipis miliknya, memberikan kecupan-kecupan singkat disana, lalu beralih membuka celana pendek Baekhyun dan melepasnya dengan cepat. Baekhyun sudah dalam keadaan telanjang bulat, dan wajah remaja itu memerah.
Chanyeol tersenyum, ia mendorong tubuh Baekhyun untuk berbaring. Menggengam penis mungil Baekhyun, lalu menghisapnya perlahan. Baekhyun memekik ia menggenggam tangannya erat, merasakan betapa hangatnya lidah Chanyeol dan betapa nikmatnya hisapan pria itu.
"Chan..aaahh…Chan..yeol.." Baekhyun mendesah dengan tubuh menggeliat, hisapan Chanyeol semakin cepat dan tak menunggu waktu lama cairan Baekhyun keluar dan menembak cukup tinggi.
Baekhyun terengah mengatur nafasnya, ketika ia mendengar suara pintu dibuka ia mengintip , disana Chanyeol sedang membuka kulkasnya. Baekhyun kembali merebahkan kepalanya, mengatur nafas dengan bibir terbuka.
"Eeummhh.." Baekhyun melenguh ketika merasakan tangan Chanyeol menekuk kedua kakinya, membuka lubangnya lalu memasukan sesuatu yang dingin, dan Baekhyun tahu tanpa perlu melihat bahwa itu adalah sebuah es batu.
"Chan..yeollhhh.." Baekhyun melenguh merasakan sensasi dingin di lubang analnya. Chanyeol mendorong benda itu semakin dalam membuat Baekhyun menggeliat tidak nyaman.
"Kau akan jadi makan malamku yang nikmat sayang." Ucap Chanyeol dan Baekhyun merasakan sebuah benda lengkat menyentuh permukaan perutnya. Dari aroma manisnya Baekhyun tahu itu adalah madu, ia mendongak dan benar-benar melihat madu itu dituang diseluruh permukaan kulitnya.
Chanyeol merendahkan tubuhnya dan menjilati seluruh permukaan tubuh Baekhyun, lidahnya menyapu setiap sisi tubuh Baekhyun membuat remaja itu kembali membusungkan dada dengan kenikmatan yang ia terima. Keduanya tidak tahu kenapa memilih dapur dan tema ini untuk bercinta, tapi ketika nafsu menguasai , logika tidak lagi berguna.
Bercinta di dapur adalah keinginan terpendam Chanyeol ketika melihat Baekhyun terengah untuk pertama kalinya, keinginan untuk menjadikan tubuh mungil itu sebagai cemilan tengah malamnya, dan kini ia mewujudkannya. Chanyeol terbiasa untuk mendapatkan apa yang ia inginkan, dan Baekhyun berada dalam urutan pertama dalam daftar keinginannya sekarang.
Jemari Chanyeol masuk ke dalam lubang Baekhyun, mendorong lebih dalam es yang mulai mencair itu. Baekhyun mendongak sambil menutup matanya, merasakan jilatan dan dorongan yang Chanyeol berikan.
Sentuhan itu kembali hilang dan Baekhyun kembali mengintip Chanyeol yang sedang membuka celananya. Kejantanan Chanyeol terbebas dan Baekhyun bersemu merah melihat itu. Chanyeol mengambil botol madu lagi dan memasukan cairan itu ke dalam lubang anal Baekhyun, membuat Baekhyun menutup matanya merasakan sensasi lengket dan dingin di dalam sana.
Setelah itu Chanyeol memasukan dua jarinya, menggerakannya secara brutal di dalam lubang Baekhyun, membuat Baekhyun melenguh.
"Aaah,, disanaahhh.." desah Baekhyun ketika Chanyeol menemukan titik kenikmatannya. Chanyeol tersenyum, ia mendekatkan kepala penisnya pada lubang berkedut Baekhyun, dan dengan perlahan mendorongnya, membuat sisa es batu disana mencair dengan cepat karena rasa hangat dari penis Chanyeol.
"Aaaah…" Baekhyun melenguh panjang ketika penis itu berhasil masuk. Chanyeol bergerak pelan, menaikkan sedikit kemejanya agar tidak menghalangi. Ia menarik tubuh Baekhyun lebih mendekat lalu menghentak-hentakknya dengan tempo yang semakin cepat.
Tubuh keduanya bergerak bersamaan, dan Baekhyun merasa gila karena menginginkan dorongan Chanyeol yang semakin keras. Ia sedikit bangkit , menekuk tubuhnya lalu mengalungkan tangannya pada leher Chanyeol, membawa mereka dalam sebuah ciuman.
"Eugh..eughh..eugh.."
"Assshh..hhhsshh."
Tubuh keduanya semakin bergerak liar, Baekhyun mencengkram rambut Chanyeol ketika ia merasa dirinya semakin dekat dengan orgasme.
"Chanyeolllhh." Baekhyun melenguh dengan dada yang naik turun, cairannya membasahi kemeja Chanyeol, sementara pria yang lebih tua hanya masih setia bergerak dengan hentakan yang kuat.
Baekhyun mengeratkan kedua kakinya pada pinggang Chanyeol, menekan tubuhnya semakin dalam dan itu membuat Chanyeol mendesis nikmat. Chanyeol meraih bokong Baekhyun membawa mereka sedikit menjauh dari meja, lalu dengan cepat memutar tubuh Baekhyun, membuat keduanya sama-sama mendesah.
Kaki Baekhyun berpijak pada lantai -dan itu terasa sedikit perih,karena lukanya-, dengan berat tubuh yang ia topangkan pada sisi counter. Gerakan Chanyeol semakin liar dan brutal membuat tubuh Baekhyun terus tersentak, Baekhyun melebarkan kedua kakinya , membiarkan Chanyeol bergerak lebih leluasa, hingga akhirnya ia merasakan lubangnya menyempit dan penuh, penis Chanyeol telah membesar dan disepuluh tusukan terakhir cairan itu memuncrat dengan sangat kuat, menyembur hingga beberapa memeleh keluar.
"Chanyeol.."
"Baekhyun ..ssshh." Keduanya mengerang bersamaan, tubuh Baekhyun terkulai lemas diatas counter, dan Chanyeol mengecupnya pelan.
"Baekhyun, boleh aku tahu kenapa kau kabur?" tanya Chanyeol.
"Kedua orangtuaku tahu jika aku seorang gay. Aku takut mereka akan mengusirku." Sahut Baekhyun .
"Jadi sebelum mereka mengusirmu kau memilih kabur?" tanya Chanyeol, Baekhyun mengangguk dan kecupan mesra kembali ia dapatkan dari Chanyeol.
"Tapi kau tidak ingkar kan tentang aku yang boleh menginap disini semalam?"
"Bukankah aku sudah berkata jika bahkan itu seratus tahun aku akan membiarkan kau berada disisiku." Baekhyun terkekeh, sebenarnya ia merasa miris terhadap dirinya yang menukar tubuhnya dengan sebuah tempat menginap.
"Tidak perlu Chanyeol, aku akan pergi besok pagi."
"Kenapa?" tanya Chanyeol. Baekhyun menoleh kebelakang dari balik pundaknya.
"Ka-karena aku tidak mungkin menukar tubuhku untuk bisa tinggal disini." Ucap Baekhyun, Chanyeol membulatkan matanya tidak percaya, ia membalik tubuh Baekhyun.
"Jika aku menukarnya dengan sebuah pernikahan apa kau mau?" mata Baekhyun membulat dengan lebar.
"Aku akan mengantarmu pulang besok, sekaligus melamarmu Baek."
"Apa?" Baekhyun memekik, itu mustahil. Ia masih sekolah dan ibunya pasti akan membunuhnya.
"Itulah hal yang harus kau terima ketika menyatakan perasaan pada pria dewasa sepertiku. Karena kami tidak suka sebuah hubungan yang main-main, karena kami tidak sekedar mencari kekasih untuk bertukar pesan, tapi kami mencari pasangan hidup yang mau bertukar cincin diatas altar, dan bertukar desahan setiap malam. Jadi sayangku, kau akan menjadi pengantinku sebentar lagi."
Mata Baekhyun membulat, pikirannya mendadak kosong, bahkan kecupan Chanyeol dibibirnya tidak membuat ia tersadar. Ia tidak pernah tahu akan secepat ini, ia tidak pernah tahu menyukai orang dewasa akan membuatnya menjadi seorang pengantin diusia yang muda.
Ia tidak pernah membayangkan sejauh ini, ia hanya ingin menjalin hubungan dengan Chanyeol, ia hanya ingin diakui oleh sosok Dokter tampan itu, bukan menjadi pengantin diusianya yang masih remaja. Baekhyun mengerti arti usia 26 dan 17 sekarang, bahwa kedua angka itu berbeda jauh, bahwa kedua angka itu tidak sejalan, bahwa kedua angka itu tidak akan bisa bersama.
Dan untuk kesekian kalinya Baekhyun merutuki kepolosannya. Ia mulai menyusun perjalanan kisah cintanya dengan Park Chanyeol. Seolah menjadi salah satu pemeran dalam drama percintaan karena adegan romantis-bertabrakan di jalan-, menahan malu karena bagian privasinya menjadi tontonan orang yang ia suka, bertransformasi menjadi seorang jalang, dicampakkan dan ditolak seperti sampah, menukar tubuh dengan sebuah tempat menginap dan kini ia akan berakhir menjadi seorang pengantin diusia muda.
Ini bukan kisah cinta yang Baekhyun harapkan, walau tidak bisa menjadi seorang putri yang bertemu pangeran berkuda, setidaknya ia bisa menjadi salah satu remaja yang memiliki kisah cinta teromantis yang pernah ada. Memamerkan seorang Dokter tampan dan popular sebagai kekasih pada teman-temannya, bukan sebagai suami yang akan membuatnya diledek habis-habisan terutama oleh kedua sahabat pengkhianatnya.
Dan ketakutan itu membuat Baekhyun memikirkan sebuah jawaban,
"A-aku tidak bisa." Dan jawaban itu membuat wajah Chanyeol berubah menjadi kecewa. Entah mengapa ia tidak suka sebuah penolakan, dan ketika dirinya merasa tidak suka, maka Chanyeol akan melakukan hal yang jauh lebih nekat.
…
..
.
Luhan menatap langit-langit kamarnya, ia tidak bisa tertidur semenjak kepulangan Chanyeol tadi. Ia tahu sudah saatnya ia melepaskan Chanyeol, sudah saatnya ia menjadi mandiri tanpa bergantung pada kakak sepupunya.
Luhan membalik tubuhnya yang memunggungi Chanyeol, sudah saatnya ia harus bicara tentang hubungan mereka. Luhan tidak bisa merahasiakan lagi dari Chanyeol, ia tidak bisa berpura-pura bahwa semua baik-baik saja setelah ia tahu jika kakaknya memiliki obsesi berlebih pada dirinya.
"Chanyeol, kau tahu kau adalah kakak terbaik yang Tuhan kirimkan padaku." Chanyeol membuka matanya dan menoleh.
"Aku pikir kau sudah tertidur." Luhan tersenyum sebagai jawaban.
"Terima kasih karena telah menjagaku untuk waktu yang lama,hyung. Terima kasih karena selalu ada disisiku, tapi_" Luhan menundukan arah pandangnya sejenak lalu menatap Chanyeol lagi.
"Mari kita hentikan!" Chanyeol mengernyit tidak mengerti dengan ucapan adiknya.
"Maksudmu?"
"Maafkan aku yang sempat melarangmu dekat dengan wanita atau lelaki manapun, yang membuatmu hingga saat ini tidak pernah menjalin hubungan serius selain untuk seks." Chanyeol menatap adiknya tidak suka.
"Aku tidak keberatan , karena aku memang tidak menemukan yang pas."
"Bukan tidak, tapi belum . Dan karena keegoisanku kau belum menemukan pasangan hidup sampai sekarang. Chanyeol hyung, kau telah menjadi kakak yang hebat, kau bisa membuatku bergantung padamu, kau bisa membuatku merengek manja padamu, tapi kita sama-sama tahu jika suatu hari aku akan berdiri sendiri, aku akan menjadi dewasa dan bergantung pada pasanganku kelak." Chanyeol membalik tubuhnya, merasa tidak tertarik dengan topik pembicaraan mereka.
Chanyeol telah mengubur obsesi itu jauh-jauh hari, ia sadar bahwa memiliki obsesi berlebih untuk menjadi seorang kakak sangat tidak baik untuk dirinya dan juga Luhan, tapi kini adiknya kembali mengingatkan akan hal itu, dan ia tidak suka.
Luhan memeluk Chanyeol dari belakang membuat pria itu menegakkan tubuhnya.
"Selamanya kau adalah kakak terbaik untukku, aku akan tetap menjadi adik kecilmu tapi aku tidak bisa berada disisimu seperti kau yang selalu ada disisiku. Aku masih ingat bagaimana kau meninggalkan ujianmu ketika mendengar aku yang terjatuh dari sepeda. Aku juga ingat bagaimana kau memarahi ayah karena tidak membiarkan aku ikut kelas menari." Luhan terisak, ia benar-benar menyayangi Chanyeol, tapi ia tidak ingin membuat Chanyeol hanya mencemaskan tentang dirinya, ia ingin Chanyeol memikirkan tentang masa depannya juga.
"Aku ingat bagaimana hyung terjaga selama dua malam karena aku mengalami demam tinggi sehabis bermain hujan, aku ingat semuanya hyung dan aku berterima kasih atas itu. Tapi sekarang saatnya kita saling melepas, sekarang saatnya hyung memikirkan tentang masa depanmu. Aku tahu hyung memiliki perasaan pada lelaki mungil itu kan? Aku melihat tatapan hyung berbeda ketika melihatnya berlari sambil menangis, hanya saja hyung terpaku karena keberadaanku. Aku merasa egois akan itu, dan_"
"Luhan." Suara berat Chanyeol menghentikan ucapannya.
"Kau tahu betapa senangnya ketika orang-orang bergantung padaku? Ketika aku dianggap berguna dan dianggap ada? Dan kau orang pertama yang membuatku merasa bahwa aku diperlukan. Orangtuaku tidak pernah melakukan itu padaku, aku hanya dianggap tidak mampu dalam melakukan segala hal. Dan kau datang dengan rengekkanmu membuatku merasa diriku dianggap, aku merasa bahwa aku berguna, karena itu aku menjadi terobsesi untuk menjadi seseorang yang digantungi. Kita, kita akhiri percakapan ini. Aku harus kembali ." Chanyeol bangkit , mengakhiri secara sepihak percakapan mereka.
"Adik kecilku yang cantik?" Chanyeol tersenyum , menghilangkan sisa-sisa percakapan mereka. Luhan tersenyum merasakan usapan dirambutnya.
"Selamat tidur dan mimpi indah, sayang." Chanyeol meninggalkan Luhan dan menutup pintu kamar tersebut. Luhan tersenyum sambil memandang langit-langit kamarnya.
"Hyung, kau adalah kakak terbaik yang pernah ada dan kau berhak hidup bahagia." Ucap Luhan sambil terisak pelan.
…
..
.
Soojung menundukan wajahnya bersedih, sesekali isakannya terdengar. Ia sudah mencari kakaknya keseluruh pelosok kota dengan sepeda gayungnya, mengesampingkan rasa lelah dan rasa kantuknya.
Ia memang selalu membuat kakaknya kesal, tapi jauh di dalam lubuk hatinya ia sangat menyayangi lelaki manja itu. Soojung ingat bagaimana kakaknya menenangkannya ketika ia menangis karena dimarahi oleh ibu. Bagaimana kakaknya yang membawakan makan malam secara diam-diam saat dirinya dihukum ketika masih kecil karena kenakalannya.
Walau sekarang mereka terlihat seperti musuh, tapi Soojung tahu bahwa kakaknya masih menyayanginya, dan ia pun sama. Soojung menyesal telah kelepasan mengucapkan perihal orientasi seks menyimpang kakaknya, dan Soojung lebih menyesal saat tidak bisa melakukan apapun ketika seorang pria membawa kakaknya masuk ke dalam mobil dalam keadaan terkulai lemas saat dari kejauhan ia melihat mereka di halte.
Pintu apartemen terbuka dan menampilkan kedua orangtuanya dengan wajah cemas.
"Soojung? Darimana saja kau ?" bentak Soyou. Soojung masih menundukan wajahnya dan ia terisak.
"Ada apa sayang?" tanya Minho tidak kalah cemasnya.
"Baekhyun oppa... Baekhyun oppa hiks.."
"Kenapa dengan Baekhyun sayang?" Soyou memekik.
"Baekhyun oppa diculik ."
"APA?" seketika Soyou langsung tak sadarkan diri, sementar Minho membantu menopang tubuh istrinya dan Soojung menangis terisak.
( Tolong baca dibagian bawah, terima kasih)
…
..
.
TBC
…
..
.
Selamat untuk kalian yang sudah berhasil menebak dengan benar dan itu bisa dihitung jari teman-teman, wkwkwkwkwk…
Yang nebak itu Kyungsoo mana suaranya? Yang nebak itu Luhan mana suaranya? Hahahaha.. kalian daebbak dengan semua opini kalian. Dan dari semua review yang masuk 98,5 % bilang itu Kyungsoo dan sisanya Luhan. Perbandingan yang luar biasa wkwkwkwkw...
Disini lebih tentang sebuah obsesi, atau kelainan yang banyak diderita orang-orang disekitar kita. Ada yang suka digantungi, dan ada yang suka dimanja. Ini bukan sebuah penyakit langka, tapi beberapa cuma gak sadar ajah. Hehehehe… jadi mungkin untuk beberapa pembaca nganggep ini gak masuk akal, tapi gak papa hehehe, kesimpulan punya kalian sendiri.
Terima kasih untuk yang udah menyempatkan review, tapi aku mohon sekali lagi tolong perhatikan kata-kata kalian guys *mewek* karena gak setiap orang bisa mencerna sebuah ucapan dengan maksud yang sama dari si penyampainya, apalagi yang baper-an kayak aku contohnya, wkwkwkw.
Dan ada review yang buat aku ngerasa entah gimana, aku yang terlalu baper, atau mungkin karena aku lagi PMS. *entahlah*, aku bukan mau apa, tapi ini cukup mengganjal jadi aku pingin kalian juga tau isi hatiku *eaaa*
Iya, aku ngebiasin Kyungsoo, dia memang bias kedua aku di Exo setelah Chanbaek ( karena Chanyeol dan Baekhyun sepaket) . Tapi aku bukan tipe yang suka ngeship crack pairing, walau aku akui akhir-akhir ini aku rada ngelirik Hunsoo *plaaak*, tapi tetep Kaisoo dan Hunhan adalah OTP fav setelah Chanbaek. Aku ngefans sama Kyungsoo bukan berarti aku suka ngopelin dia sama Chanyeol, absolutely not.
Mereka murni temenan, beda sama Chanbaek yang udah keliatan real-nya. Kyungsoo cuma jadi bumbu-bumbu dalam cerita aku, tapi aku sebisa mungkin gak jadiin dia orang ketiga. Karena sumpah demi apa, setelah 10080 aku ngerasa kasihan ama Kyungsoo karena banyak yang benci, walo kalo boleh jujur Kyungsoo adalah sosok yang paling pas untuk menjadi orang ketiga, bikin kita terbawa emosi - kalian bakal ngerasain sendiri kalau sewaktu-waktu buat FF Chanbaek- Tapi dari awal aku nulis FF ini , aku memang gak pernah berniat masukin Kyungsoo jadi orang ketiga, ciyusan.
Masalah Baekhyun, dia bukan kehilangan karakternya, tapi disini aku menggambarkan Baekhyun sebagai seorang remaja labil. As we know, kalo remaja itu masih dalam tahap pencarian jati diri. Kadang mereka bisa ketawa, dan setelahnya nangis kayak anak kecil, kadang mereka tegar tapi kadang bisa juga lemah. Kepribadian remaja sulit ditebak, dan disini Baekhyun adalah remaja yang masih labil , ditambah dia manja dan cengeng.
Dan dia yang berubah jadi ganjen karena murni rasa ingin memiliki nya yang besar yang bikin siapapun berubah jadi apapun, yah intinya Baekhyun adalah remaja pada umumnya, tapi kalo kalian menganggap Baekhyun kehilangan karakternya yah silahkan ajah, setidaknya aku sudah menjelaskan disini , dan aku sudah mencoba ...wkwkwkwkw.
Dan satu lagi, ini adalah FF dengan tema dewasa, aku sudah peringatin di awal, bahkan aku tulis di summary. Aku tahu FF rated M bukan berarti harus ada adegan ranjang, tapi aku masukin FF ini ke rated M karena ini ada adegan ranjang yang tidak senonohnya hehehehe... aku harap kalian bisa mengerti dears. Please! Please! Please! Aku mohon kita saling ngerti. Okay?
Aku menulis apa tipe FF yang aku suka baca. Chanbaek Yaoi, Rated M, ada adegan tidak senonohnya, Mature contents dan yap! Karena itu aku nulis ini. Kalau ada yang merasa FF ini aneh gak papa kok, kalau gak suka aku gak bakal maksa buat baca, hehehehe…
Aku juga publish FF ini sebagai cemilan buat kalian yang udah sabar menanti DBM yang ngaretnya minta ampun. Karena itu aku bakal selang-seling update-nya sama DBM.
Aku harap kalian gak tersinggung, aku juga menyampaikan apa yang ingin aku sampaikan. Kadang kita gak bisa mendem sesuatu terlalu lama, kadang ada saatnya dimana hal yang kita berusaha pendem harus dimuntahin, wkwkwkw. Tolong ngerti ya, dan aku sayang kalian, bener-bener sayang kalian yang rela nunggu cerita abal-abal dari seseorang yang "suka umbar janji" kayak aku.
Udah sekian ya teman-teman, chapter depan udah end kok jadi gak usah khawatir kalau FF ini bikin sakit mata, wkwkwkwkw..
dan kalau setelah ini ada yang mau ngecap aku Chanlu shipper silahkan, wkwkwkw.. yang jelas Chanbaek always be my priority.
Jaga kesehatan kalian( aku gak bakal berhenti buat ngewanti-wanti ini , karena kesehatan itu penting banget :) ) dan salam Chanbaek is real, bye..
(Silahkan review kalau kalian berkenan, terima kasih )
