Lily berdiri dan berjalan pelan di sekitar meja tempat mereka membaca kemudian berkata pelan "Jadi...?"
Mereka semua mendongak memandang Lily. Bingung.
"Jadi apa, Lils?" James bertanya memandang gelisah gadis itu.
"Jadi.. Voldemort sudah mati.. musnah.. hilang... whatever."
Mereka semua mengangguk penuh semangat. Alice sendiri sangat senang, dia teringat koran yang dia baca tadi pagi. Teror dimana-mana, tanda kegelapan, kematian. Rasanya Voldemort benar-benar sudah tak bisa dihentikan. Alice menatap Lily teringat tentang apa yang menyebabkan Voldemort musnah. Rasanya sakit.
"Dan kita.." Lily menunjuk dirinya dan James. "Kita sudah..."
"Mati" James menjawab datar, dia merasakan denyutan kecil di dalam dirinya. Rasa takutkah ini?
"Yeah, mati" ulang Lily. Lily merasa dirinya mencelos. Setiap orang akan mati, dia tahu itu. Akan tetapi, mengetahui bahwa dia akan mati 4 tahun lagi.. itu berbeda. Dia merasa begitu tak berdaya. 4 tahun lagi segalanya berakhir.
Sirius berkaca-kaca memandang mereka berdua wajahnya memucat. James.. sahabatnya.. 4 tahun lagi.. Dia merasa matanya makin memanas. Tidak boleh! Aku laki-laki! Jangan menangis Sirius Orion Black! KAU LAKI-LAKI BUKAN? Dia berkata keras kepada dirinya sendiri berusaha tegar.
Remus menatap mereka berdua seperti serigala terluka. Rasanya lebih menyakitkan dari pada transformasi-transformasi yang harus dia jalani setiap purnama. Dia merasa kehilangan sebagian dirinya, temannya.. sahabatnya. Voldemort Brengsek!
Ruangan kembali diliputi kesedihan, mata-mata yang memandang tak berdaya. Mereka tak tahu harus mengatakan apa untuk Lily dan James. Alice memandang Sirius, wajahnya agak pucat dan matanya berkaca-kaca. Aneh sekali melihatnya. Sirius orang yang agak pongah dan lelaki sejati tulen. Alice tak pernah bermimpi bisa melihatnya berkaca-kaca sebelumnya.
Kemudian Alice menoleh dilihatnya Remus. Remus terlihat begitu sedih. Semua karena sahabatnya James, rasanya dia bisa merasakan betapa eratnya persahabatan mereka. Mungkin lebih erat dari dirinya dan Lily.
Frank dari tadi terus menerus memegangi Alice. Alice berterimakasih karenanya. Dia merasa akan jatuh ke lantai kalau Frank tidak memeganginya. Frank adalah orang yang paling dia cintai. Dia memandang Frank, cowok itu tersenyum mendamaikan. Alice sungguh mencintainya.
Lily menarik nafas dalam-dalam kembali melanjutkan, "Dan Harry, dia akan tinggal bersama kakakku dan suaminya yang idiot itu" Lily berusaha menekan kegetirannya. "Manis sekali aku tidak sabar untuk membaca kelanjutannya," suaranya terdengar sangat getir.
"Semua akan baik-baik saja" James berdiri dan memeluk gadis itu "semua akan baik-baik saja Lils, Harry anak kita, dia anak yang hebat."
"Sebaiknya kita baca lanjutannya." Frank menyarankan. "Tidak baik terus menduga-duga."
Mereka semua mengangguk. Setuju.
"Baiklah biar aku selanjutnya." Frank mulai membaca.
Kaca yang lenyap
"Kaca yang lenyap?" Remus bertanya memandang Sirius.
"Mungkin kecelakaan sihir yang dilakukan Harry," Sirius mengangkat bahu.
Sudah hampir sepuluh tahun berlalu
"Sepuluh tahun, Lils!" James terdengar bersemangat.
Lily tersenyum dan mengangguk.
"Waw.. waktu berlalu begitu cepat.. setidaknya kau tidak perlu melihat masa kecil Harry di tendang bokongnya oleh Duddy."
"Sirius!" Lily dan James mendelik kepada Sirius.
"Hanya bercanda," ujar Sirius sambil nyengir.
sejak suami istri Dursley terbangun dan menemukan keponakan mereka di depan pintu, tetapi Privet Drive hampir tak berubah.
Sirius mengeleng-gelengkan kepalanya "Mereka benar-benar membosankan."
James nyegir ke para Marauders, "Yeah kapan-kapan kita harus mengajari mereka arti hidup."
Matahari terbit menyinari halaman-halaman depan yang rapi dan membuat berkilau angka empat dari kuningan di pintu depan rumah keluarga Dursley. Sinar matahari merayap ke dalam ruang keluarga mereka, yang masih nyaris sama dengan pada malam Mr Dursley menonton berita penting tentang burung-burung hantu dulu. Hanya foto-foto di rak di atas perapian yang betul-betul menunjukan berapa lama waktu yang telah berlalu. Sepuluh tahun yang lalu, ada banyak foto anak yang tampak seperti bola pantai besar merah jambu memakai topi yang warnanya berbeda-beda. Tetapi sekarang Dudley Dursley sudah bukan bayi lagi, dan sekarang foto-foto itu menunjukan anak gemuk berambut pirang menaiki sepeda roda tiga pertamanya, naik komedi putar, bermain komputer dengan ayahnya, dipeluk dan dicium ibunya. Dalam ruang itu sama sekali tak ada tanda-tanda bahwa ada anak lain yang tinggal di rumah itu.
"Mungkin Harry melarikan diri." James berkata penuh harap.
"Atau mungkin kami sudah mengambilnya." Sirius berkata dengan antusias.
Padahal Harry Potter masih di situ,
Sirius dan James terenyak di kursi dan mengeluh keras-keras.
saat ini sedang tidur, tapi tak akan lama lagi.
"Kenapa?" tanya Remus bingung.
Bibinya, Petunia, sudah bangun, dan suara nyaringnyalah yang pertama memecah kesunyian pagi itu.
"Yeah, seharusnya aku tahu itu" Remus menghela nafas keras.
"Bangun! Bangun! Cepat!"
Harry terbangun dengan kaget. Bibinya menggedor pintu lagi.
"Apa dia tidak bisa sedikit lebih... nice?" Alice bertanya sambil mengernyit.
"Banguuuuun!" lengkingnya.
"Sepertinya tidak," ujar Lily agak muram.
Harry mendengarnya melangkah menuju dapur, lalu bunyi wajan yang diletakkan di atas kompor. Harry berguling telentang lagi dan berusaha mengingat-ingat mimpinya yang terputus tadi. Mimpinya menyenangkan. Ada motor terbang. Dia merasa dia pernah mimpi yang sama sebelumnya.
"Dia ingat tentang motorku!" Sirius tertawa dan melonjak, "Kalian lihat, dia ingat tentang motorku!"
"Ya Padfoot, kami tahu," James berkata dengan nada bosan.
Sirius meninju bahu James, "Kau iri." Dia menyeringai.
"Tentu saja tidak!"
"Iya."
"Tidak."
"Iya."
"Tidak."
"Iya."
"Ti—"
"Apa dia ingat tentang kita James?" Lily bertanya tiba-tiba, penuh harap dia memandang wajah James.
"E..e..e" James panik tiba-tiba Lily bertanya seperti itu, dia tahu bahwa jawaban yang sesungguhnya adalah tidak. Tidak mungkin Harry mengingat orang tuanya, dia masih satu tahun ketika Lily dan dia meninggal, tapi dia tidak tega mengatakan sebenarnya kepada gadis yang begitu di cintainya itu.
Lily menafsirkan yang terburuk dari ekspresi James. Yeah tentu saja dia tahu kalau Harry tidak akan ingat, tapi dia hanya... sedikit berharap. Dia tersenyum kepada James kemudian memandang Frank "Lanjutkan Frank" dia belum mau memikirkan bahwa anaknya tidak akan pernah mengingatnya, bahkan mungkin dia tidak tahu wajahnya. Dia ragu Petunia memiliki fotonya, mungkin dia sudah membakar semua yang berhubungan denganya waktu Lily sudah mati.
Bibinya sudah kembali berada di depan pintu kamarnya.
"Kau sudah bangun belum?" tuntutnya.
"Hampir," jawab Harry.
"Tinggalkan dia sendirian Tuney! Dia masih anak-anak." Lily berkata sambil memelotot pada buku yang dibaca Frank seakaan-akan buku itu adalah Petunia.
"Ayo cepat. Aku mau kau yang menggoreng daging asap. Jangan sampai gosong.
Remus membelalak. "Apa! Dia menyuruh anak sepuluh tahun memasak?"
"Aku tidak heran," kata Lily getir.
Aku ingin segalanya sempurna pada hari ulang tahun Dudley."
Harry mengeluh.
"Apa katamu?"
"Tidak, tidak apa-apa..."
Ulang tahun Dudley- bagaimana mungkin dia bisa lupa?
"Kamu tidak perlu mengingat ulang tahun si bola pantai itu Harry!" James berteriak kepada buku itu seolah berteriak kepada Harry.
Dengan enggan Harry turun dari tempat tidur dan mencari-cari kaus kaki. Ditemukannya sepasang di bawah tempat tidur, dan setelah menarik labah-labah dari salah satu di antaranya, dipakainya kaus kaki itu.
"Laba-laba?" Lily memandang mereka semua bergantian. "Kenapa laba-laba ada di kamar Harry?"
"Tenang Lils, laba-laba ada dimana-mana, di dapur, kamar mandi, kamar tidur, kaus kaki." kata James menenangkan.
"Dan di mangkuk sup Snevilus." Sirius menyeringai.
James tertawa terbahak-bahak memegangi perutnya "Aku sudah hampir lupa hal itu."
"Jadi itu kalian?" Lily melotot kepada mereka berdua. "Kapan kalian akan bersikap sedikit lebih dewasa?" Dia menunjuk mereka berdua dengan tongkatnya.
"Kami hanya bercanda," James dan Sirius berkata cepat-cepat melihat tongkat Lily.
"Kalian tahu, sup itu yang membuat aku!"
"Kenapa kau membuatkan sup untuk si ular itu?" James bertanya suaranya penuh kecemburuan.
"Aku ingin membuat kejutan untuk Mum, dan Sev membantuku." Kata Lily sambil masih memelotot kepada James dan Sirius.
"Aku bersedia membantumu," James berkata cepat dia tidak ingin Liy dekat-dekat Snape.
Mau tak mau Lily tersenyum. Wajahnya sedikit memerah dan dia mengangguk singkat.
Mereka langsung melirik James. Ekspresinya membuat mereka semua tertawa, sepertinya dia akan pingsan saking senangnya.
Harry sudah terbiasa dengan labah-labah, karena lemari di bawah tangga penuh labah-labah, dan di situlah dia tidur.
"APA?" mereka semua serempak melotot kepada buku itu. Bila Madam Pomfrey melihatnya mungkin dia akan berpikir mereka terkena suatu penyakit mata gila.
Sirius mendesis desiskan kutukan kepada pasangan Dursley.
Alice tidak heran, dia sendiri berpikir keluarga Dursley benar-benar gila.
Remus tampak pucat dan matanya memerah. Buas. Rasanya agak mengerikan, aneh sekali melihatnya seperti itu. Remus adalah orang yang paling ramah yang dia kenal. Hal ini membuat Alice agak takut.
Seketika Lily berdiri dan berteriak-teriak "Apa! Dia.. dia.. DIA TIDUR DI DALAM LEMARI BAWAH TANGGA! TEGANYA KAU PETUNIA... KAU... KAU... AKU TAK MENYANGKA SETEGA ITU KAU KEPADAKU! HANYA KARENA AKU PENYIHIR!" Lalu dia terhenyak di kursi. "Bukan salahku kalau akau penyihir dan bukan salah Harry kalau kami tidak bisa mengasuhnya! Bagaimana bagaimana mungkin dia setega itu!" Dia menangis.
"Aku tidak menyangka saudaramu benar-benar..." Alice benar-benar kehilangan kata-kata. Dia tidak akan melakukan hal seperti ini apalagi terhadap anak-anak, yeah mungkin pengecualian untuk Voldemort.
"Dia iri.. iri karena aku penyihir sedangkan dia tidak, sejak saat itu dia terus memeperlakukan aku seperti aku ini aneh." Lily berkata dengan Histeris.
Alice memeluknya. Kasihan Lily. Saudaranya benar-benar mengerikan. Dia teringat sewaktu di peron dulu, ketika melihat keluarga Evans pertama kalinya. Ayah dan ibu Lily begitu hangat, berbeda sekali dengan kakaknya. Sesaat dia mengira kalau kakak Lily saat itu sedang sakit gigi. Dia mendengus.
"Aku akan membunuh mereka sekarang juga." James berdiri wajahnya keras, tongkat sihirnya memercik bunga-bunga api merah.
"Aku ikut!" Sirius dan Remus ikut berdiri berdiri.
Wajah mereka menakutkan.
"Guys tenang, ini belum terjadi kita tidak bisa membunuh orang karena sesuatu yang belum dia lakukan," Frank berkata dengan bijak.
Frank selalu bijak. Itulah mengapa Alice sangat mencintainya. Dia mengangguk setuju atas usul Frank.
"Aku tidak akan membiarkan dia melakukan hal itu pada anakku!" Seru James panas.
"Duduklah James, Frank benar," Lily menyeka matanya. Dia berdiri dan memeluk James. James terperangah sesaat, kemudian balas memeluk Lily.
Frank menunggu mereka duduk kembali, kemudian melanjutkan membaca.
Setelah berpakaian, dia pergi ke dapur. Meja dapur, nyaris tersembunyi di bawah tumpukan hadiah untuk Dudley.
"Berapa banyak hadiah yang dia dapatkan?" tanya Remus.
Tampaknya Dudley mendapatkan komputer baru yang di inginkannya, belum lagi televisi baru, dan sepeda balap. Kenapa persisinya Dudley ingin sepeda balap. Sungguh suatu misteri bagi Harry, karena Dudley gemuk dan benci olahraga- kecuali, tentu saja, bentuk olahraganya adalah meninju orang lain.
"Sebaiknya itu bukan kau, Harry." Kata Sirius tajam.
Kantong tinju favorit Dudley adalah Harry,
Kepala mereka semua langsung berasap. Mungkin jika seseorang memasak telur di atas kepala mereka, telur tersebut langsung gosong.
Tubuh James gemetar. Gemetar karena sangat marah, dia meninju meja berusaha meredakan kekesalannya.
Lily kaget. Dia memegang tangan James. Menggeleng.
James mengangguk, berusaha menenagkan diri.
tetapi Dudley jarang berhasil mengenainya. Harry memang tidak kelihatan gesit, tetapi dia gesit sekali.
"Mungkin dia akan menjadi Seeker." James menggumam pelan.
Alice melirik James, mengangkat alis. Sepertinya dia kurang begitu suka. Kenapa?
Mungkin ada hubungannya dengan tinggal di dalam lemari yang gelap, tetapi Harry termasuk kecil dan kurus untuk umurnya.
"Tidak Harry, jangan khawatir. Prongs dulu juga..." Sirius menyeringai kepada James "imut-imut."
Mereka semua tertawa tergelak-gelak.
James meninju lengan sirius.
"Aww."
"Aku tidak pernah tahu kalau James pernah mengalami masa imut-imut." Alice dan Lily berkata bersamaan sambil nyengir lebar.
Mereka semua tertawa sampai berair.
Dia bahkan kelihatan lebih kecil dan lebih kurus dari yang sesungguhnya karena semua pakaiannya lungsuran Dudley, dan Dudley empat kali lebih besar daripadanya.
"Bahkan dia tidak mau membelikan Harry baju?" Remus menggertakan gigi. Kesal. Orang-orang macam apa keluarga Dursley itu.
Harry berwajah kurus, lututnya menonjol, rambutnya hitam dan matanya hijau cemerlang.
James melonjak girang, "Dia memiliki matamu, Lis!" kata James bersemangat.
Alice tersenyum. James begitu terpesona kepada Lily. Yeah, Lily memang mempunyai mata yang sangat indah. Hijau cemerlang seperti zambrud.
Dia memakai kacamata bulat.
"Yeah, tapi dia memiliki penglihatanmu," Lily mendengus.
Alice terkikik.
yang bingkainya dilekat dengan banyak selotip karena seringnya Dudley memukul hidungnya.
James dan Sirius meninju meja saking kesalnya.
James menggertakkan gigi "Berani sekali dia melakukan itu pada anakku."
Alice menghela nafas, meredakan kekesalannya. Betapa mengerikannya keluarga Dursley ini. Bukan hanya Pasangan suami istri itu saja. Bahkan anaknya juga sangat 'mengerikan'.
Satu-satunya yang disukai Harry pada penampilannya adalah bekas luka tipis pada dahinya yang berbentuk sambaran kilat.
Sejauh yang dia ingat, dari dulu bekas luka itu sudah ada dan pertanyaan pertama yang seingatnya dia tanyakan kepada Bibi Petunia adalah bagaimana dia mendapatkan bekas luka itu.
"Dalam kecelakaan waktu orangtuamu meninggal," katanya.
Wajah Frank mengeras.
"APA! TAPI KITA TIDAK MATI DALAM KECELAKAAN MOBIL! BAGAIMANA MUNGKIN KAU BISA BERKATA SEPERTI ITU! BERANINYA KAU BERBOHONG!" Lily berteriak-teriak sambil menunjuk-nunjuk buku yang di bawa Frank. Kepalanya berasap.
The marauders terlihat bersiap untuk membunuh.
Alice melotot, dia merasa bola matanya akan jatuh saking shock nya. Kasihan Harry, bahkan dia tidak tahu bagaimana orang tuanya meninggal. Mereka benar-benar keterlaluan! Harry pantas tahu apa yang sebenarnya terjadi!
Alice memandang teman-temannya. Mereka marah, kesal dan sangat pucat. Dia tak bisa membayangkan seandainya anaknya nanti tidak tahu apa-apa tentang dia. Alice pasti tak akan sanggup. Alice menghela nafas beberapa kali mencoba menenangkan diri. Dilihatnya Frank, Lily dan para Marauders juga melakukannya. Sepertinya butuh kesabaran ekstra untuk membaca buku itu. Alice melirik buku yang dibawa Frank. Rasanya buku itu seperti buku takdir. Apakah malaikat telah membawa buku itu kemari agar mereka bisa melihatnya? Untuk merubah masa depan. Dia tak tahu.
"Dan jangan tanya-tanya lagi."
Jangan tanya-tanya, itu peraturan pertama jika mau hidup tenang dengan kuarga Dursley.
Frank mengernyit, "Bagaimana mungkin dia bisa belajar kalau dia tidak boleh bertanya? Anak kecil belajar dengan bertanya."
Paman Vernon masuk dapur ketika Harry sedang membalik daging.
"Sisir rambutmu!" perintahnya, sebagai ucapan selamat paginya.
"Manis sekali." Lily berkata dengan sinis matanya masih menyipit memandang buku itu. Dia marah.
Sekali seminggu, Paman Vernon memandang dari atas korannya dan berteriak bahwa Harry harus potong rambut. Harry pastilah sudah potong rambut lebih sering dibanding seluruh teman sekelasnya sekaligus. Tetapi sama saja, rambutnya tetap saja tumbuh begitu - berantakan.
"Oh tidaaak!" Sirius memandang mereka, dia menutup mulutnya matanya melebar memandang mereka semua. Kemudian dia meneruskan parau "Ha-Harry mewarisi kutukan keluarga Potter." Sirius berkata dengan dramatis.
Remus dan James mengernyit.
"Apa?" Alice dan Frank bertanya bersamaan mengangkat alis. Bingung.
"Apa maksudnya kutukan keluaraga Potter?" Lily bertanya memandang bergantian Sirius dan James.
Sirius memandang mereka semua, dia mengehela nafas beberapa kali kemudian berkata pelan suaranya terdengar sangat mistis. "Setiap anak laki-laki keluarga Potter akan mewarisi kutukan..." Dia menghela nafas sekali lagi kemudian melanjutkan, "kutukan... kutukan rambut berantakan." Dia mengakhiri dramatis.
Sunyi.
Sirius tertawa berguling-guling.
Yang lain melongo kemudian tertawa terbahak-bahak.
"Yeah, James tidak pernah bisa merapikan rambutnya." Remus tertawa sampai berair. "Aku ingat James pernah mencoba krim Muggle untuk membentuk rambut, demi mengesankan kau Lil" Remus tersenyum kepada Lily.
Sirius tertawa terbahak-bahak. "Mana mungkin kau bisa mengalahkan rambutku, Prongs." Sirius berkata sambil menyisir rambutnya kebelakang.
James mencekik mereka berdua.
Alice terkikik melihat Sirius yang sekarang sedang berusaha bertahan hidup dari cekikan maut James. Dia nyengir, ulu dia pernah setengah mati jatuh cinta pada Sirius dan menjadi salah satu dari sejuta penggemarnya. Bagaimana ya kalau Frank tahu? Mungkin sekarang dia sudah membunuh Sirius. Alice terkikik. Dia nyengir melihat Frank yang sedang tertawa melihat tingkah Sirius dan James. Kekanakan sekali.
"Frank" Alice memanggilnya.
Frank menoleh.
Kemudian Alice nyengir dan menciumnya. "Aku mencintaimu."
Harry sedang menggoreng telur ketika Dudley muncul di dapur dengan ibunya. Dudley mirip sekali dengan Paman Vernon. Wajahnya lebar dan merah jambu, lehernya pendek, matanya kecil, biru, berair. Rambutnya yang tebal pirang menempel rapi pada kepalanya yang gemuk. Bibi Petunia sering mengatakan bahwa Dudley kelihatan seperti bayi malaikat. Sedangkan Harry sering mengatakan Dudley seperti babi pakai wig.
Mereka tertawa.
"Harry pandai sekali mendiskripsikan orang." Sirius nyengir.
Harry menaruh piring berisi daging dan telur ke atas meja. Ini susah, karena nyaris tak ada tempat. Dudley sementara itu, menghitung hadiahnya. Wajahnya langsung cemberut.
"Tiga puluh enam," katanya sambil memandang ayah dan ibunya. "Kurang dua dibanding tahun lalu."
"Tiga puluh enam? Dan dia masih cemberut? Itu banyak sekali." Remus berkata dengan takjub.
"Biasa saja, kemarin aku menerima seratus hadiah pada ulang tahunku" Sirius berkata dengan malas.
Lily membelalak. "Seratus?"
"Yeah, kau tahu." Sirius mengangkat bahu "Aku punya banyak penggemar." Dia nyengir kemudian wajahnya berubah agak masam. "99 sebenarnya, 100 kalau di hitung dengan hadiah yang di kirim ibundaku tercinta. Howler." Dia berkata suram.
"Astaga! Howler pada saat ulang tahun. Itu mengerikan." Frank bergidik ngeri. Dia benci howler.
"Kau menerima Howler pada saat ulang tahun?" Lily mengernyit.
"Dia masih kesal aku lari dari rumah." Sirius mengengkat bahu.
"Lari dari rumah?" Alice dan Lily membelalak.
"Yeah."
"Lalu kau tinggal di mana?" tanya Lily.
Sirius tersenyum, "Mr dan Mrs Potter selalu bersedia menerimaku. Mereka baik sekali kepadaku." Dia nyengir kepada James yang dibalas nyengir juga.
"Sayang, kau belum menghitung hadiah Bibi Marge, lihat, ini dia di bawah hadiah dari Mummy dan Daddy."
"Baik, tiga puluh tujuh kalau begitu." Kata Dudley yang wajahnya sudah merah. Harry yang sudah bisa menduga kemarahan Dudley akan meledak, cepat-cepat mengunyah dagingnya. Siapa tahu Dudley akan menjungkirkan meja.
"Harry anak yang pintar." Sirius berkata dengan sungguh-sungguh.
Bibi Petunia rupanya menyadari datangnya bahaya juga, karena cepat-cepat dia berkata, "Dan kami akan membelikan untukmu dua hadiah lagi kalau kita jalan-jalan nanti. Bagaimana, manis? Dua hadiah tambahan. Oke, kan?
Sejenak Dudley berpikir. Kelihatannya susah baginya. Akhirnya dia berkata pelan-pelan, "Jadi aku akan punya tiga puluh... tiga puluh..."
"Bahkan dia tidak bisa berhitung?" Alice memandang Lily. Heran sekali dengan anak 'saudaranya' itu. "Bagaimana dia bisa lulus sekolah?"
"Mungkin Tuney yang mengerjakan semua ujiannya" kata Lily mendengus.
Tiga puluh sembilan, anak pintar," kata Bibi Petunia.
"Oh." Dudley duduk dengan keras dan menjangkau bungkusan terdekat. "Baiklah."
Paman Vernon tertawa.
"Si kecil ini tak mau rugi, persis ayahnya. Pintar kau, Dudley! Ia mengacak rambut Dudley.
James mendengus."Aku sanksi dia akan berkata seperti itu jika itu Harry."
Sirius menyandar malas di kursi, "Mungkin dia akan membunuh Harry jika Harry berani meminta hadiah."
Lily membelalak.
Sirius mengangkat bahu. "Aku hanya mengatakan yang sejujurnya."
Saat itu telepon berdering dan Bibi Petunia menjawabnya sementara Harry dan Paman Vernon menonton Dudley membuka sepeda balap, kamera, pesawat terbang mainan yang di kendalikan remote control, enam belas permainan komputer, dan perekam video.
"Kira-kira apa yang Harry dapatkan waktu ulang tahunnya?" tanya Lily.
"Sepasang kaus kaki bekas mungkin." Remus menjawab getir.
"Setidaknya dia dapat hadiah," kata Frank. "Aku bahkan ragu mereka ingat Harry pernah dilahirkan."
Dia sedang merobek kertas pembungkus arloji emas ketika Bibi Petunia muncul kembali dengan wajah marah dan cemas.
"Kabar buruk, Vernon," katanya. "Mrs Figg kakinya patah. Jadi tak bisa dititipi dia." Dia mengendikkan kepalanya ke arah Harry.
Mulut Dudley melongo ngeri, tetapi Harry senang. Setiap tahun, pada Harry ulang tahun Dudley, orang tuanya mengajak Dudley dan seorang temannya jalan-jalan, ke taman hiburan, kios hamburger, atau nonton bioskop. Harry ditinggal, dititipkan pada Mrs Figg, wanita tua aneh yan tinggal dua jalan dari Privet Drive. Harry benci tinggal disana. Seluruh rumahnya bau kol dan Mrs Figg memaksanya melihat foto-foto semua kucing yang pernah dimiliknya.
"Aku benci kucing," Sirius berkata suaranya seperti gonggongan.
Lily menimpali, "Aku benci kol."
"Jadi bagaimana?" kata Bibi Petunia, memandang Harry dengan berang, seakan Harry yang merencanakan sakitnya Mrs Figg. Harry tahu dia seharusnya kasihan Mrs Figg kakinya patah, tetapi dia mengingatkan dirinya bahwa baru setahun lagi dia harus melihat foto Tibbles, Snowy, Mr Paws, dan Tufty.
"Harry kau tidak boleh seperti itu," Lily berkata dengan sedikit mencela.
James membela Harry, "Kau tidak bisa menyalahkannya Lils, dia tak suka disana."
"Kita bisa menelepon Marge," Pama Vernon menyarankan.
"Jangan ngaco Vernon, dia kan benci anak itu."
"Suprise suprise." seru Frank dan Alice serempak.
"Sepertinya semua keluarga Dursley membenci Harry." kata Lily suram.
Keluarga Dursley sering membicarakan Harry seperti ini, seakan anak ini tidak ada, atau lebih tepat lagi, seakan dia sesuatu yang sangat menjijikan, seperti bekicot.
"Ugh"
"Bagaimana kalau siapa namanya tuh, temanmu—Yvone?"
"Sedang berlibur di Majorca," tukas Bibi Petunia.
"Kalian bisa meninggalkan aku disini," Harry mengusulkan penuh harap (dia bisa menonton acara yang disukainya di televisi dan mungkin bahkan mencoba komputer Dudley).
Bibi Petunia kelihatan seperti tersedak telur.
"Dan kalau kami pulang nanti rumah sudah hancur?" geramnya.
"Harry tidak akan meledakkan rumah," Lily berkata sengit memandang buku tersebut.
"Aku tak akan meledakkan rumah," kata Harry, tetapi mereka tidak memedulikannya.
"Kalian memang ibu dan anak." James tersenyum kepada Lily.
Wajah Lily memerah. Dia nyengir.
"Kurasa kita bisa membawanya ke kebun binatang," kata Bibi Petunia pelan, "... dan meninggalkannya di mobil..."
Mata Lily melebar. "Kau tidak boleh meninggalkan Harry di mobil! Dia masih anak-anak!"
"Mobil kita baru, dia tak boleh duduk sendirian..."
"Yeah dia setuju denganmu, Lils. Tenang saja, mereka tak akan meninggalkan Harry di dalam mobil sendirian. Itu mobil baru!" James berkata sinis.
Dudley mulai menangis meraung-raung. Sebetulnya sih dia tidak betul-betul menangis. Sudah bertahun-tahun dia tidak menangis. Tetapi dia tahu bahwa kalau dia mengerutkan mukanya dan meraung, ibunya akan mengabulkan semua yang diinginkannya.
"Anak itu benar-benar menyebalkan." Sirius berkata sebal.
"Dunky Duddydums, jangan menangis, Mummy tak akan membiarkannya merusak hari istimewamu!" Bibi Petunia berseru sambil memeluk Dudley.
"Aku... tak... mau... dia... i-i-ikut!" Dudley menjerit diantara isak pura-puranya. "Dia se-selalu merusak acara!" Dia menyeringai jahat ke arah Harry dari celah lengan ibunya.
Lily memelototi buku. "Dasar kau! anak gendut jahat!"
Saat itu bel pintu berbunyi. "Ya ampun mereka sudah datang!" kata Bibi Petunia panik- dan sekejap kemudian sahabat Dudley, Piers Polkidd, masuk bersama ibunya. Piers anak kurus berwajah seperti tikus. Dan biasanya dia memegangi lengan anak-anak dibelakang punggung, sementara Dudley memukulii mereka. Dudley langsung berhenti berpura-pura menagis.
Setengah jam kemudian, Harry yang tak mempercayai keberuntungannya, duduk di jok belakang mobil bersama Piers dan Dudley, menuju kebun binatang untuk pertama kali dalam hidupnya.
"Sepertinya Harry senang sekali." Alice tersenyum kepada Lily.
James menghela nafas. "Sepertinya mereka tidak meberikan cukup kesenangan untuk Harry."
"Mereka tidak mau susah-susah melakukan hal tersebut James." Remus menimpali.
"Hary tak akan sesengsara kalau kita ada, dia akan pergi kemana-mana melihat apa saja dan memakai pakaian baru dan bagus." Sahut Lily agak putus asa.
Paman dan bibinya tak tahu lagi apa yang harus dilakukan, tetapi sebelum mereka berangkat, Paman Vernon mengajaknya bicara.
"Kuperingatkan kau," katanya, wajahnya yang lebar keunguan dekat sekali dengan wajah Harry. "Kuperingatkan kau sekarang—kalau kau melakukan yang aneh-aneh sedikit saja—kau akan dikurung di lemari itu sampai natal."
"Mereka benar-benar sudah gila memperlakukan anak kecil seperti itu? Kau yakin Lil mereka tak perlu di bawa ke St mungo? Mungkin mereka mengalami gangguan kejiwaan atau otak rusak," Frank menyarankan melihat begitu sintingnya perlakuan keluarga Dursley kepada keponakan mereka.
Lily tersenyum.
"Aku tidak akan melakukan apa-apa," kata Harry, "sungguh..."
Tetapi Paman Vernon tidak percaya. Yang lain pun tidak.
Susahnya, hal-hal aneh sering terjadi di sekitar Hary,
"Harry itu karena kau penyihir." James berkata dengan bangga.
dan tak ada gunanya memberitahu keluarga Dursley bahwa bukan dia yang menyebabkan hal itu terjadi.
Pernah, Bibi Petunia yang sudah sebal melihat Harry pulang dari tukang cukur tetapi rambutnya kelihatan sama saja, mengambil gunting dapur dan memotong rambut harry sampai pendek sekali, nyaris gundul kecuali poninya yang sengaja tidak dipotong untuk "menyembunyikan bekas luka yang mengerikan".
Sirius tertawa terbahak-bahak
"Sirius!" Lily mendelik pada Sirius.
"Kenapa? Itu lucu" Sirius mengangkat bahu.
Dudley terbahak-bahak menertawakan Harry,
Sirius langsung berhenti tertawa.
sedangkan Harry sendiri semalaman tak bisa tidur, membayangkan bagaimana di sekolah ke esokan harinya. Dia sudah selalu ditertawakan gara-gara kacamatanya yang dilekat dengan selotip.
James dan Lily terlihat murka
Tapi paginya, ternyata rambutnya sudah persis lagi dengan sebelum Bibi Petunia mencukurnya.
"Bravo Harry." Sirius nyengir kepada buku yang dibawa Frank.
"Aku rasa dia akan jadi penyihir yang hebat, " Remus tersenyum.
Alice mengangguk.
James membusungkan dada, merasa bangga.
Dia dikurung selama seminggu dalam lemarinya gara-gara ini, walaupun dia sudah mencoba menerangkan bahwa dia tidak bisa menjelaskan bagaimana rambutnya bisa tumbuh kembali secepat itu.
Lily berasap, "Dia mengurungnya! Dia mengurungnya karena hal yang tidak di maksudkannya? Harry tidak sengaja melakukan hal seperti itu!"
Pada kesempatan lain Bibi Petunia memaksanya memakai sweter tua Dudley yang menjijikkan (coklat dengan bulatan-bulatan hitam).
"Eww."
Semakin Bibi Petunia memaksa menariknya melewati kepala Harry, sweter itu semakin mengecil, sampai akhirnya Cuma seukuran baju boneka tangan, dan jelas tak akan cukup dipakai Harry. Bibi Petunia memutuskan pastilah sweter itu mengerut ketika dicuci. Dan betapa leganya Harry, dia tidak dihukum karena ini.
"Akhirnya ada juga saat di mana Harry tidak dihukum." Remus menghela nafas.
Tetapi sebaliknya, dia mendapat kesulitan besar gara-gara ditemukan di atap dapur sekolah. Seperti biasa geng Dudley mengejar-ngejarnya, dan Harry sama kagetnya dengan yang lain ketika tiba-tiba saja dia sudah duduk di atas cerobong asap.
"Terbang?" Sirius berkata dengan takjub.
"Mungkin be-Apparate?" seru Frank
"Atau mungkin dia melompat dan terbawa angin?" James mengusulkan.
"Melompat dan terbawa angin?" Lily mengernyit dan mendengus. "Memangnya Harry kertas."
Mr dan Mrs Dursley menerima surat dari Ibu Kepala Sekolah yang sangat marah, karena Harry telah memanjat-manjat bangunan sekolah. Tetapi sebetulnya yang dilakukannya hanyalah (seperti yang diteriakkannya kepada Paman Vernon dari dalam lemarinya yang terkunci) melompat ke belakang tempat sampah besar di luar pintu dapur. Harry menduga pastilah saat melompat itu dia terbawa angin ke atas.
"Kau sangat mirip dengan James," Lily menghela nafas dan menggeleng-gelangkan kepalanya.
Mereka terbahak.
"Cheers Harry." James nyengir.
Tetapi hari ini semua akan berjalan mulus. Bahkan duduk bersama Dudley dan Piers pun diterimanya, asal dia bisa melewatkan hari bukan di sekolah, di dalam lemarinya, atau diruang tamu Mrs Figg yang bau kol.
"Kasihan Harry aku rasa hidupnya selalu tidak menyenangkan." Remus berkata muram.
Sementara mengemudi, Paman Vernon mengeluh kepada Bibi Petunia. Hobinya memang mengeluh: orang-oarang dikantornya, Harry, para wakil rakyat, Harry, bank, dan Harry hanya beberapa saja dari topik favoritnya. Hari ini sepeda motor.
"... ngebut seperti orang gila, preman-preman kurang kerjaan," komentarnya ketika ada motor yang menyalip mereka.
"Aku pernah mimpi tentang motor" kata Harry yang tiba-tiba ingat mimpinya. "Motornya terbang."
"Aku rasa itu tidak bijaksana Harry, mereka pasti tidak meyukainya." Kata Lily.
Paman Vernon nyaris menabrak mobil di depannya. Dia berbalik di tempat duduknya dan berteriak kepada Harry, wajahnya seperti bit raksasa yang berkumis. "MOTOR TIDAK TERBANG!"
"Itu kan cuma mimpi!" seru Remus.
Dudley dan Piers cekikikan.
"Aku tahu motor tidak terbang," kata Harry. "Itu kan Cuma mimpi."
Tetapi Harry menyesal sudah ngomong. Kalau ada hal lain yang dibenci keluarga Dursley, itu adalah jika Harry menyebut-nyebut sesuatu yang tidak semestinya terjadi, tak peduli peristiwa itu Cuma dalam mimpi atau bahkan film kartun. Rupanya mereka berpendapat ide-ide Harry berbahaya.
"Tidak heran hidup mereka membosankan." kata Sirius sambil pura-pura menguap.
Hari Sabtu itu cerah sekali dan kebun binatang penuh dikunjungi keluarga-keluarga. Mr dan Mrs Dursley membelikan Dudley dan Pers es krim coklat besar di pintu masuk, dan karena si gadis penuh-senyum di mobil es krim itu sudah terlanjur menanyai Harry dia ingin es krim apa sebelum mereka sempat mengajak Harry pergi, mereka membelikannya es krim loli lemon yang murah.
"Itu lebih baik daripada tdak sama sekali" Alice tersenyum kepada Lily. "Setidaknya Harry senang."
Lily tersenyum, mengangguk.
Cukup enak juga, pikir Harry yang menjilati es lolinya sembari menonton gorila yang menggaruk-garuk kepalanya dan bertampang mirip Dudley, hanya saja rambutnya tidak pirang.
Mereka tertawa.
Belum pernah Harry segembira ini. Dia berhati-hati, berjalan agak jauh dari keluarga Dursley, agar Dudley dan Piers, yang menjelang makan siang sudah mulai bosan dengan binatang-binatang, tidak kembali melakukan hobi favorit mereka, yaitu memukulinya.
"Benar sekali Harry, jangan dekat-dekat." Seru James.
"Sejauh mungkin Harry." Ujar Sirius.
Mereka makan di restoran kebun binatang dan ketika Dudley marah-marah karena es krimnya kurang besar, Paman Vernon membelikannya porsi yang lebih besar dan Harry diizinkan menghabiskan pesanan belakangan merasa, bahwa seharusnya dia tahu, hal menyenangkan seperti ini tak mengkin berlangsung terus.
"Oh tidak, apa yang akan terjadi," Lily bertanya ngeri.
Setelah makan siang mereka mengunjungi rumah reptil. Di dalam rumah reptil sejuk dan gelap, dengan jendela-jendela berlampu di sepanjang dindingnya. Di balik kaca, berjenis-jenis kadal dan ular merayap dan melata di atas potongan-potongan kayu dan batu.
"Aku benci ular." Alice berkata sambil bergidik ngeri. Dia selalu paranoid terhadap ular.
"Ssstttttt," Sirius dan James mendesis menirukan suara ular.
Frank mendelik terhadap mereka berdua.
"Tidak apa-apa Alice sayang," Frank memegang tangan Alice.
Dudley dan Piers ingin melihat kobra besar beracun dan sanca raksasa yang bisa meremuk manusia. Dudley segera menemukan ular tebesar di tempat itu. Ular itu bisa membelitkan tubuhnya dua kali ke mobil Paman Vernon dan meremuknya seperti kaleng kerupuk- tetapi saat ini kelihatannya dia sedang malas. Sebetulnya, dia malah sedang tidur nyenyak.
"Pasti ular tersebut butuh liburan." Kata James. "Dia pasti bosan sekali disana."
Dudley berdiri dengan hidung menempel di kaca memandang gulungan coklat berkilat itu.
"Suruh dia bergerak," rengeknya pada ayahnya. Paman Vernon mengetuk kaca, tetapi si ular diam saja.
"Ketuk lagi," Dudley menyuruh. Paman Vernon mengetuk keras dengan buku-buku jarinya, tetapi si ular tetap saja tidur.
"Kasihan ular itu," Remus berkata sungguh-sungguh.
"Sungguh membosankan," keluh Dudley. Dia pergi.
Sirius mengejek, "Yeah, pergi sana dan cari Mummy,"
Harry ganti bergerak ke dekat kaca dan memandang si ular lekat-lekat. Dia tak akan heran kalau si ular mati karena bosannya. Tak ada teman selain orang-orang bodoh yang mengetuk-ngetuk kaca, mencoba mengganggunya sepanjang hari. Ini lebih parah dari pada menggunakan lemari sebagai kamar tidur, dengan satu-satunya pengunjung adalah Bibi Petunia yang menggedor-gedor pintu untuk membangunkan nya – paling tidak dia kan bisa ke bagian rumah yang lain.
"Bagus sekali setidaknya hidunya lebih baik dari pada ular di kebun binatang." Lily berkata sinis.
Ular itu tiba-tiba membuka matanya yang seperti manik-manik. Pelan, sangat pelan, ia mengangkat kepalanya samai matanya sejajar dengan mata Harry.
Mata itu mengedip.
"Apa?"
Mata itu mengedip
"Apa ular bisa mengedip?" Alice bertanya.
Lily menggeleng, "A.. aku tak tahu."
Harry terbelalak. Kemudian dia cepat-cepat memandang berkeliling untuk memastikan tak ada yang melihat. Ternyata memang tak ada. Dia kembali memandang si ular dan balas mengedip juga.
"Aneh." Sirius dan James berkata bersamaan.
Si ular mengendikkan kepala ke arah Paman Vernon dan Dudley, kemudian mendongak ke langit-langit. Pandangannya kepada Harry seakan jelas berkata, "Sepanjang waktu memang seperti itu."
"Aku tahu," gumam Harry lewat kaca, meskipun dia tak yakin si ular bisa mendengarnya. "Pastilah sangat menyebalkan."
Si ular mengangguk-angguk bersemangat.
"Kau berasal dari mana sih?" tanya Harry.
Uar itu menggerakkan ekornya ke arah papan kecil di sebelah kaca. Harry membaca tulisannya.
Boa Pembelit, Brazil.
"Enakkah disana?"
"Apakah kalian pikir Harry... Parselmouth?" James bertanya memandang mereka semua. Merasa bingung.
"Entahlah mungkin dia hanya..." Remus tidak bisa menjelaskan dan Frank kembali membaca
Si boa pembelit menunjuk dengan ekornya ke papan lagi dan Harry meneruskan membaca: Ular yang ada disini dikembangbiakkan di kebun binatang. "Oh, begitu- jadi, kau belum pernah ke Brazil?"
Saat si ular menggelengkan kepala, teriakan memekakan telinga dibelakang Harry membuat mereka berdua terlonjak. "DUDLEY! MR DURDLEY! SINI LIHAT, ULARNYA MENGGELENG-GELENG! KALIAN TAK AKA PERCAYA!"
Dudley datang tergopoh-gopoh.
"Minggir kau," katanya sambil meninju dada Harry.
"Beraninya KAU! Dia bisa terluka babi gendut jelek!" Lily berteriak.
Sirius mendengus. "Mana mungkin dia peduli."
Karena tak menyangka akan diserang, Harry terjatuh dilantai beton.
"Oh Harry.. aku harap dia baik-baik saja." Lily berkata cemas.
Apa yang terjadi berikutnya berlangsung begitu cepat sehingga tak ada yang melihat bagaimana terjadinya. Sesaat Piers dan Dudley berdiri menempel dikaca, detik berikutnya mereka melompat mundur sambil memekik ngeri.
Harry duduk ternganga: kaca bagian depan kandang si ular telah lenyap.
"Waw"
Ular raksasa itu membuka gulungan tubuhnya dangan cepat, meluncur di lantai. Para pengunjung rumah reptil menjerit-jerit panik dan berlarian ke pintu keluar.
Saat si ular meluncur cepat melewatinya, Harry bersedia bersumpah mendengar suara desis pelan berkata, "Brazil aku datang segera... Trimsss, Amigo."
"Oke.. jadi jelas kalau Harry benar-benar Parselmouth." Kata Sirius.
"Bagaimana mungkin? Keluargaku tidak ada yang parselmouth.. bagaimana Harry bisa?" James menggeleng tak percaya.
"Mungkin kakek kakek kakek kakek buyutmu?" Remus mengusulkan.
"Entahlah setahuku tidak, lagipula aku keturunan Godric Gryffindor seharusnya yag bicara dengan ular itu ada keturunan Slazar Slytherin" James berkata parau.
"Kau keturunan Godric?" Lily berkata takjub.
James mengangguk.
"Apa kau akan membenci Harry? Karena dia Parselmouth?" mata Lily menyipit memandang James.
James diam.
Lily menunggunya bicara.
"Tentu saja tidak, aku akan bangga padanya meski dia squib sekalipun." James berkata tegas.
Lily tersenyum. Dia tak menyangka. Selama ini dia selalu mengira James adalah kepala super melembung yang arogant. Sepertinya dia salah mengira selama ini.
"Hanya saja sebaiknya dia tidak menunjukkannya kepada anak lain di Hogwarts," kata James. "Kau tahu mereka bisa sangat salah paham."
"Tapi belum tentu seseorang yang bisa parseltongue itu jahat." Lily membela.
James memandang Lily "Percayalah padaku, orang-orang disini bisa benar-benar salah paham."
James tahu itu. Dia salah satunya.
Si penjaga rumah reptil shock dan bengong.
"Tapi kacanya," katanya terus menerus, "ke mana kacanya?"
Sirius tertawa "Cheers Prongs, anakmu benar-benar hebat."
James nyengir.
Direktur kebun binatang sendiri yang membuatkan secangkir teh kental manis untuk Bibi Petunia sambil tak henti-hentinya minta maaf. Piers dan Dudley Cuma bisa merepet. Sejauh yang Harry lihat, ular itu tidak melakukan apa-apa, kecuali dengan main-main mengetup-ngatupkan mulutnya di dekat tumit Dudley dan Piers saat dia lewat.
"Uggh, aku beci ular" Alice berkata pelan.
Tetapi ketika mereka sudah kembali ke mobil Paman Venon, Dudley bercerita bagaimana si ular nyaris menggigit kakinya sampai putus, sementara Piers bersumpah si ular mencoba membelitnya sampai mati.
"Yeah, aku harap ular tersebut benar-benar melakukannya." Sirius berkata sungguh-sungguh.
"Sirius!" Lily mendelik pada Sirius.
Tetapi yang paling parah, paling tidak bagi Harry, adalah Piers sudah cukup tenang untuk berkata, "Harry tadi bicara dengan ular itu. Iya, kan, Harry?"
"Tidak!" Jerit Lily. "Sekarang Harry pasti akan dapat masalah."
"Mungkin Cuma hukuman kurungan seumur hidup." Sirius berkata sambil menggertakkan gigi.
Paman Vernon mengunggu sampai Piers meninggalkan rumah mereka, sebelum dia mulai mencecar Harry. Paman Vernon marah sekali sampai nyaris tak bisa bicara. Dia hanya bisa bilang, "Pergi- lemari- tinggal sana- tidak makan," sebelum dia terenyak di kursi dan Bibi Petunia cepat-cepat lari mengambilkannya segelas besar brandy.
"Tidak makan? Tega sekali kalian." Lily mendelik sambil menunjuk buku yang dibawa Frank.
Lama kemudian Harry masih berbaring di dalam lemarinya yang gelap, ingin sekali rasanya punya arloji.
"Aku harap aku bisa memberikannya arloji penyihir." Kata James. "Setiap penyihir laki-laki mendapatkannya pada waktu mereka umur tujuh belas."
Dia sama sekali tak tahu jam berapa sekarang dan dia juga tidak yakin keluarga Dursley sudah tidur. Sebelum mereka tidur, riskan sekali jika dia keluar dan mengendap-endap ke dapur untuk mengambil makanan.
"Ayo Harry, kau harus tetap bertahan. Tinggal satu tahun lagi dan kau akan ke Hogwarts." James meyemangati.
Dia telah tinggal besama keluarga Dursley selama sepuluh tahun, sepuluh tahun penuh penderitaan.
"Kejam sekali mereka." Kata Lily geram.
Sejauh yang dia ingat, sejak dia masih bayi dan orangtuanya meninggal dalam kecelakaan mobil. Kadang-kadang, jika dia mengingat dengan keras selama jam-jam panjang membosankan didalam lemarinya, muncul dalam ingatannya pemandangan yang aneh: kilat cahaya hijau menyilaukan dan rasa sakit yang panas di dahinya.
"Kilatan cahaya hijau? Apa itu artinya Voldemort mencoba membunuh Harry dengan kutukan Avada Kedavra?" Frank berkata takjub.
"Entahlah tapi seandainya benar, bagaimana mungkin Harry bisa selamat?" James memandang mereka semua. Bertanya.
Sirius menimpali, "Itu benar-benar luar biasa. Apalagi jika yang melakukannya Voldemort kesempatannya hanya 0,00000000000...1 sama dengan mustahil."
"Tapi Harry selamat." Lily berkata kagum.
Alice menambahkan, "Dan Voldemort menghilang."
"Itulah misterinya." sahut Remus.
Mereka semua mengangguk. Kemudian dia. Sibuk dengan pikiran mereka masing masing.
Akhrinya Frank melanjutkan membaca.
Dia menganggap ini pastilah saat tabrakan terjadi, walaupun dia tak bisa membayangkan dari mana cahaya hijau itu muncul. Dia sama sekali tidak bisa mengingat orang tuanya.
"Tak sedikitpun?" Lily bertanya dengan sedih.
James menggenggam tangan Lily, mencoba menentramkan gadis itu.
Paman dan bibinya tidak pernah bicara tentang mereka, dan tentu saja dia dilarang mengajukan pertanyaan. Tak ada foto orangtuanya di rumah keluarga Dursley.
Lily merasa semakin sedih.
Waktu dia masih lebih kecil, Harry sering mengkhayalkan ada keluarga tak dikenal yang datang untuk membawanya pergi, tetapi ini tak pernah terjadi.
"Guys, kemana kalian semua?" James bertanya setengah putus asa kenapa tidak ada yang mau menolong anaknya. Dimana para sahabatnya?
"Entahlah James, aku juga ingin tahu," Sirius menjawab.
"Mungkin... kami sudah mati." Remus berkata pelan.
Keluarga Dursley adala satu-satunya keluarganya. Meskipun demikian kadang-kadang dia mengira (atau berharap) orang-orang asing di jalan mengenalnya. Dan mereka juga orang-orang asing yang sangat aneh. Pernah seorang laki-laki kecil memakai topi ungu membungkuk kepadanya ketika dia sedang berbelanja dengan Bibi Petunia dan Dudley. Setelah dengan marah menanyai Harry apakah dia kenal oarang itu Bibi Petunia buru-buru menggiring mereka keluara dari toko itu tanpa membeli apapun. Seoarang wanita tua bertampang liar dan berdandan serba hijau melambai dengan riang kepadanya dari bus. Seorang laki-laki botak memakai mantel panjang ungu bahkan menjabat tangannya di jalan kemarin dulu dan kemudian pergi begitu saja tanpa mengatakan apa-apa. Yang paling aneh tentang orang-orang ini adalah, tampaknya mereka langsung lenyap begitu Harry ingin melihat lebih jelas.
"Jelas mereka itu penyihir." Remus berkata.
"Mungkin salah satu penggemar Harry. Dia selebritis di dunia sihir." Sirius berkata penuh ke kagumaan.
James membusungkan dada. Sangat bangga.
Di sekolah, Harry tak punya teman.
Lily menutup mata. Merasa sangat sedih akan nasib anaknya kelak.
Semua anak tahu bahwa geng Dudley membenci Harry Potter yang aneh dengan pakaian bekasnya yang kebesaran dan kecamatanya yang bingkainya patah, dan tak seorangpun berani menentang geng Dudley.
"Selesai." Frank mengehela nafas panjang kemudian menutup buku itu dan memandang mereka semua.
"Chapter yang agak.. er.. tidak menyenangkan ya." Alice berkata pelan.
Remus dan Sirius mengangguk.
James memandang langit-langit. Menerawang.
"Benar.. tidak menyenangkan." Lily mengangguk, dia menghela nafas kemudian melanjutkan. "Aku tidak mau membaca buku itu lagi."
Semua mata menoleh kepadanya.]
