Chapter 3

I Want to Stop the Time

"Pengagum rahasia?" Junsu mengerutkan keningnya.

Sulit bagi Changmin untuk mengartikan ekspresi wajah Junsu. "Ya, pengagum rahasia. Diam-diam Jaejoong mengagumi ayahmu."

"Mengapa harus dirahasiakan?" Junsu bertanya-tanya.

"Tentu saja karena ia tidak ingin orang lain mengetahui bahwa ia mengagumi ayahmu." Changmin menjelaskan.

"Memangnya kenapa jika orang lain mengetahuinya? Mengagumi seseorang bukanlah hal yang salah atau memalukan," balas Junsu.

"Apakah kau benar-benar tidak mengerti makna dari kata 'kagum' yang kumaksud?" tanya Changmin.

Junsu mulai mengerti maksud Changmin. "Jangan bicara sembarangan! Jaejoong tidak mungkin mengagumi ayahku seperti yang kau pikirkan. Kami adalah sahabat dekat. Ia sudah menganggap ayahku seperti ayahnya sendiri." Ia marah dan meninggalkan Changmin.

Changmin hanya menatap kepergian Junsu. Ia merasa heran. Mengapa Junsu selalu marah kepadanya? Apa pun yang ia lakukan atau katakan, Junsu akan marah kepadanya.

.

.

.

Junsu duduk di bawah pohon rindang yang berada di kampus. Ia kembali melihat-lihat foto ayahnya di dalam ponsel Jaejoong. "Untuk apa Jaejoong mengoleksi foto ayahku sebanyak ini?" Ia mulai memikirkan kata-kata Changmin. "Ah, tidak, tidak mungkin! Ayahku terlalu tua untuk Jaejoong, lagipula tipe pria idealnya…" Ia tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Ia baru menyadari bahwa tipe pria ideal Jaejoong mengarah kepada sosok ayahnya.

Junsu berpikir. Ia setengah percaya pada kata-kata Changmin sekarang. Sudah banyak hal yang mendukung pernyataan tersebut. Namun, ia bersikeras menyangkalnya. Tidak mungkin sahabatnya itu menyukai pria yang jauh lebih tua, terlebih lagi pria itu adalah ayahnya.

.

.

.

Keluarga Jung mengadakan makan malam istimewa untuk merayakan diterimanya Junsu di jurusan sains. Perayaan tersebut khusus untuk keluarga, tetapi Yunho mengundang Jaejoong karena ia sudah menganggap Jaejoong sebagai bagian dari keluarganya.

"Ayah merasa sangat bahagia dan bangga karena putri ayah diterima di jurusan pilihannya." Yunho membuka acara. "Ayah meminta maaf karena kita baru bisa merayakannya pada hari ini karena beberapa hari yang lalu ayah masih sibuk dengan pekerjaan ayah. Maukah kau memaafkan ayah, Nak?"

Junsu sebenarnya masih merasa kesal kepada ayahnya dan ia juga mengetahui bahwa ayahnya mengadakan acara makan malam istimewa ini untuk mengambil kembali hatinya. Sang ayah sangat sibuk akhir-akhir ini, tetapi masih berusaha untuk meluangkan waktu demi merayakan kelulusannya di jurusan sains. Ia merasa bahwa ia harus menghargai usaha ayahnya itu. "Tidak apa-apa, Ayah. Aku sangat memahami kesibukan ayah. Aku sudah merasa senang karena ayah mengadakan acara makan malam untuk merayakan diterimanya diriku di jurusan sains."

Yunho merasa lebih lega sekarang. Sebelumnya ia merasa sangat khawatir Junsu tidak akan memaafkannya. "Terima kasih, Sayang!"

Memaafkan ayahnya bukan berarti menerima hubungan sang ayah dengan sang kekasih. Itulah yang ada di dalam benak Junsu.

"Baiklah, kalau begitu, ayo kita segera nikmati hidangan yang sudah dibuat oleh nenekmu!" Yunho mengajak semuanya untuk mulai makan.

Jaejoong tidak banyak berbicara kali ini. Ia masih bingung memikirkan bagaimana ia harus bersikap kepada Yunho. Ia merasa sangat senang karena ia bisa berjumpa dengan Yunho dan makan satu meja dengan pria itu, tetapi ia juga tidak mau melakukan hal yang sia-sia. Mencintai pria itu hanya menyebabkan rasa sakit bagi dirinya.

"Jaejoongie, apakah ayahmu sudah mengajakmu pergi ke planetarium?" Yunho tiba-tiba bertanya. Ia teringat bahwa ia pernah meminta Tn. Kim untuk mengajak Jaejoong ke planetarium jika Jaejoong lulus ujian masuk universitas.

"Eh?" Jaejoong terhenyak. Jantungnya mulai berdetak lebih cepat. "Sepertinya ayahku lupa." Ia tersenyum kaku.

"Kalau begitu, kita pergi ke sana saja besok," ujar Yunho. "Anggap saja itu adalah hadiah dariku atas kelulusanmu dan ungkapan terima kasihku karena kau sudah banyak membantu Junsu untuk mempersiapkan ujian."

Sebenarnya Junsu tidak tertarik untuk pergi ke planetarium. Akan tetapi, ia merasa tidak enak untuk menolak ajakan ayahnya.

.

.

.

Sejak beberapa jam yang lalu Jaejoong sibuk mempersiapkan dirinya untuk pergi ke planetarium. Sebentar lagi Yunho dan Junsu akan menjemputnya. Ia memeriksa penampilannya di depan cermin. Ia mengenakan sweater berwarna hijau toska, rok pendek selutut dan legging berwarna hitam, dan sepatu boots abu-abu. Udara malam ini terasa cukup dingin. Ia mengalungkan syal abu-abu yang senada dengan warna sepatu pada lehernya.

Jaejoong merasa bahwa bibirnya terlihat terlalu pucat karena udara dingin. Ia pun mengoleskan sedikit pewarna bibir pada bibirnya. "Mengapa aku harus mengoleskan pewarna bibir? Cahaya di dalam planetarium dibuat redup, tidak akan ada yang menyadari warna bibirku yang pucat. Mengapa aku terkesan seperti berharap bahwa ia akan menciumku? Ini bukanlah kencan. Kami pergi bersama Junsu." Tetap saja hatinya terasa berdebar-debar, seakan-akan ia akan pergi berkencan dengan Yunho.

.

.

.

Junsu merasa sangat tidak bersemangat. Sepanjang perjalanan menuju planetarium di pinggir kota ia lebih banyak memainkan ponselnya. Biasanya ia sangat cerewet dan menghidupkan suasana. Akan tetapi, saat ini ia sama sekali tidak bersuara.

Jaejoong merasa tidak nyaman dengan keheningan ini. Ia takut debaran jantungnya akan terdengar oleh Yunho dan Junsu. "Apakah paman baru saja memotong rambut? Malam ini rambut paman terlihat lebih pendek dari kemarin." Ia mencoba untuk berbasa-basi.

"Wow, ternyata kau menyadarinya!" Yunho terdengar takjub. "Kupikir tidak akan ada yang menyadarinya. Aku hanya memotongnya sedikit. Junsu dan ibuku saja tidak menyadarinya."

Jaejoong tersenyum kaku. Jangan-jangan ucapannya tersebut akan menjadi bumerang baginya. JIka Junsu dan Ny. Jung saja tidak menyadarinya, mengapa ia bisa menyadarinya? Semoga saja tidak ada yang mencurigai dirinya yang selama ini selalu memerhatikan Yunho dengan seksama. Perubahan sekecil apa pun pada diri Yunho akan disadari olehnya.

"Akhirnya kita sampai." Yunho memarkirkan mobilnya di area parkir planetarium.

Dengan malas Junsu keluar dari mobil. Mengapa kami harus datang ke sini? Yang bisa dilihat di sini hanyalah benda-benda langit.

"Ayo kita masuk!" Yunho terlihat sangat bersemangat. Ia berjalan di depan.

"Jae, mengapa kau ingin datang kemari?" Junsu berbisik kepada sahabatnya. "Di sini hanya ada bintang-bintang."

Jaejoong sama sekali tidak keberatan untuk datang ke planetarium. Ia merasa senang karena Yunholah yang mengajaknya untuk datang kemari. "Nikmati saja! Tidak ada salahnya sekali-sekali kita melihat bintang."

Junsu memutar bola matanya. "Semakin lama kau semakin menjadi seperti ayahku. Mungkin sebentar lagi kau akan mempunyai kebiasaan memandangi langit pada malam hari."

Jaejoong tidak tahu bahwa Yunho memiliki kebiasaan memandangi langit. Junsu telah memberikan informasi yang sangat berharga kepadanya. "Bahkan jika tidak ada bintang sekali pun?"

Junsu mengangguk. "Saat langit cerah, hujan, dalam keadaan apa pun ia suka memandangi langit. Sebelum tidur ayahku akan duduk di balkon kamarnya atau teras belakang rumah dan memandangi langit."

"Mengapa ia sangat suka memandangi langit?" tanya Jaejoong penasaran.

"Entahlah." Junsu mengangkat bahunya. "Saat aku bertanya kepadanya, ia hanya mengatakan bahwa ia sedang memeriksa cuaca."

"Anak-anak, mengapa kalian berjalan lambat sekali?" Yunho menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang.

"Kami datang, Paman!" Dengan antusias Jaejoong menarik lengan Junsu.

.

.

.

Yunho memandu kedua anak yang bersamanya. Ia terlihat sangat antusias. Ia menjelaskan benda-benda langit yang tampak pada langit-langit ruangan.

Sama seperti Yunho, Jaejoong juga terlihat sangat antusias. Ia menyimak penuturan Yunho dengan seksama. Kadang-kadang ia juga mengajukan pertanyaan kepada Yunho jika penuturan Yunho kurang jelas.

Para pengunjung planetarium harus mengantre jika ingin melihat bintang dengan menggunakan teropong bintang. Teropong bintang tersebut berukuran sangat besar.

Junsu sudah merasa sangat bosan berada di dalam planetarium. Saat mereka bertiga sedang mengantre untuk melihat bintang dengan teropong, diam-diam ia meninggalkan antrean dan keluar dari dalam planetarium.

Jaejoong terlalu fokus melihat Yunho yang berdiri tegap di depannya. Ia sama sekali tidak menyadari kepergian Junsu. "Paman, Jun-chan ke mana?" Ia bertanya kepada Yunho.

Yunho menoleh ke belakang. "Bukankah sejak tadi kalian selalu menempel berdua?"

Jaejoong mulai khawatir. "Ia tidak ada bersamaku, Paman."

"Coba hubungi dia!" ujar Yunho.

"TIdak ada sinyal di dalam sini." Jaejoong menunjukkan layar ponselnya.

Yunho keluar dari antrean. "Ayo kita cari dia!" ia menarik tangan Jaejoong. Ia tidak ingin Jaejoong ikut hilang seperti Junsu. "Jangan lepaskan tanganku!"

Jaejoong sedikit kesulitan untuk mengikuti langkah Yunho yang panjang. Ia memang mengkhawatirkan sahabatnya, tetapi hatinya berbunga-bunga karena Yunho menggenggam tangannya. Tangan Yunho terasa sangat besar.

Yunho mengitari planetarium untuk mencari Junsu. Ia bertanya kepada beberapa orang yang ditemuinya, tetapi mereka tidak melihat gadis yang dideskripsikan olehnya karena cahaya di planetarium sangat redup.

"Mungkin Jun-chan pergi ke luar. Bukankah ia tidak suka mengunjungi planetarium? Sejak tadi ia terlihat bosan." Jaejoong merasa bersalah. Karena dirinyalah Junsu terpaksa harus mengunjungi planetarium.

Yunho segera membawa Jaejoong keluar dari dalam planetarium. Di luar sangat gelap dan sepi. Planetarium tersebut dikelilingi oleh pepohonan. Ia kemudian berjalan menuju area parkir. Ia berharap bahwa ia akan menemukan putrinya di sana. Namun, Junsu tidak juga ditemukan. Petugas parkir juga tidak melihat Junsu.

"Mungkin sebaiknya kita berpencar untuk mencari Jun-chan." Jaejoong mengemukakan pendapatnya.

"Tidak, kau harus tetap bersamaku!" tegas Yunho. "Kita mencarinya bersama-sama."

Yunho membawa Jaejoong untuk mencari Junsu di antara pepohonan tinggi. Di sana sangat gelap. Rasanya seperti berada di dalam hutan.

Jaejoong hanya bisa melihat bayangan Yunho. Sangat sulit baginya untuk berjalan di dalam kegelapan. Ia merasa sangat takut. Ia membayangkan ada hewan buas yang berada di antara pepohonan.

"Jun-chan!" Yunho memanggil-manggil nama putrinya. Ia merasakan dinginnya tangan Jaejoong. "Apakah kau merasa kedinginan?" Ia menoleh ke arah Jaejoong.

"Tidak, Paman." Jaejoong memang merasa kedinginan, tetapi wajahnya terasa menghangat. Untung saja saat ini mereka sedang diliputi kegelapan, sehingga Yunho tidak akan bisa melihat rona di wajahnya.

Tiba-tiba saja ponsel Yunho berbunyi karena baru saja mendapatkan kembali sinyal. Ia menerima pesan dari Junsu.

From: Jun-chan

Aku merasa lapar. Aku pergi ke kafetaria. Apakah kalian ingin dibelikan sesuatu? Nanti kita langsung bertemu di tempat parkir saja. Aku tidak akan kembali ke dalam.

Yunho tertawa seketika setelah membaca pesan dari Junsu.

Jaejoong tidak mengerti mengapa Yunho tertawa, padahal anaknya sedang hilang. "Mengapa paman tertawa saat Junsu sedang hilang? Apakah paman tidak merasa khawatir?"

Yunho berhenti tertawa. Ia menunjukkan pesan yang dikirimkan oleh Junsu kepada Jaejoong. "Dasar anak itu! Kita berdua sangat mengkhawatirkannya, tetapi ia justru sedang enak-enakan makan di kafetaria."

Jaejoong merasa sangat lega karena Junsu baik-baik saja. Junsu adalah orang yang sangat berarti baginya.

"Gara-gara dia kita tidak jadi melihat bintang dengan teropong." Yunho berpura-pura merasa kesal. Di lubuk hatinya yang paking dalam ia merasa sangat lega.

"Sudah bisa datang ke sini saja aku sudah merasa senang." Tentu saja Jaejoong merasa senang karena ia bisa pergi bersama Yunho.

"Aku akan merasa bersalah jika kau datang kemari tanpa melihat bintang." Yunho membawa Jaejoong ke tempat yang lebih terbuka dan terkena sinar bulan. "Kita melihat bintang di sini saja." Ia mendongakkan kepalanya dan memandang ke arah langit yang dipenuhi bintang-bintang. Ia selalu merasakan kedamaian saat melihat bintang. Senyuman terkembang di wajahnya.

Jaejoong menoleh ke arah Yunho. Ia memandang wajah Yunho yang diterpa sinar rembulan. Ia terpaku pada senyuman di wajah Yunho. Pria tersebut terlihat sangat bahagia saat memandangi bintang-bintang. Lagi-lagi ia jatuh cinta kepada pria itu. Paman, aku jatuh cinta kepadamu. Maafkan aku yang tak bisa berhenti untuk mencintaimu, meskipun aku tahu bahwa kau tidak akan pernah menjadi milikku.

Yunho merasa bahwa dirinya sedang diperhatikan oleh Jaejoong. Ia pun menoleh ke arah Jaejoong yang berdiri di sebelah kirinya. Pandangan mereka bertemu. Ia bisa dengan jelas melihat wajah Jaejoong yang diterpa sinar bulan. Ia baru menyadari bahwa Jaejoong memiliki mata yang sangat indah.

Perlahan pandangan Yunho turun dari mata bulat Jaejoong ke bibir Jaejoong. Bibir Jaejoong yang terlihat mengkilat menarik perhatiannya. Entah mengapa hatinya berdesir saat ia memandang bibir Jaejoong, apalagi saat tiba-tiba Jaejoong menggigit bibir bawahnya. Jika ia tidak ingat bahwa Jaejoong adalah sahabat anaknya, mungkin ia akan mencium Jaejoong saat itu juga.

Yunho menggelengkan kepalanya. Ia berusaha untuk menyadarkan dirinya sendiri. Ada apa denganku? Mengapa tiba-tiba aku ingin menciumnya?

"Ada apa, Paman? Apakah paman merasa pusing?" Jaejoong bertanya karena Yunho menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Ah, tidak. Aku baik-baik saja. Sebaiknya kita segera kembali. Mungkin Jun-chan sudah menunggu kita. Ayo!" Yunho kembali menggenggam tangan Jaejoong.

Jaejoong berjalan mengikuti Yunho. Ia tidak ingin kebersamaan mereka berakhir. Seandainya waktu dapat dihentikan, ia ingin menghentikan waktu saat ini juga.

Aku ingin menghentikan waktu dan berada di sisimu selamanya

Aku ingin menggenggam tanganmu lebih lama lagi

Sambil mengingat setiap hal mengenai dirimu

Aku yakin akan cintaku kepadamu selamanya

Aku ingin menghentikan waktu dan berada di sisimu selamanya

Aku menatap ke atas langit dan berharap dengan sepenuh hatiku

Satu-persatu aku terhubung dengan bintang-bintang yang bersinar

Dan pada akhirnya aku mencari dirimu di atas sana bersama ribuan bintang

Jaejoong terlarut dalam lamunannya. Ia juga tidak melihat ada batu yang cukup besar di hadapannya. "Aduh!" Kakinya tersandung batu. Ia pun terjatuh dengan bertumpu pada kedua lututnya.

Yunho menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke belakang. "Jaejoongie, apakah kau baik-baik saja?" Ia berjongkok untuk memeriksa keadaan Jaejoong.

Jaejoong meringis kesakitan. Legging yang dikenakannya robek dan lutut kanannya berdarah.

"Kau berdarah. Kita harus segera meninggalkan tempat ini dan mengobati lukamu." Ia berusaha untuk membantu Jaejoong berdiri.

Pergelangan kaki Jaejoong juga terkilir. Ia tidak sanggup untuk berdiri. "Aaah!"

Yunho menahan tubuh Jaejoong yang kembali ambruk. "Apakah kau bisa berdiri?"

Jaejoong menggeleng. Ia masih meringis kesakitan.

Yunho dengan sigap mengangkat tubuh Jaejoong. Ia menggendong Jaejoong.

Jaejoong terkejut karena Yunho tiba-tiba mengangkat tubuhnya. Jantungnya berdegup semakin kencang. Darah dipompa dengan cepat menuju wajahnya. Dengan spontan ia mengalungkan lengannya pada leher Yunho.

"Tubuhmu terasa sangat ringan." Yunho tidak melihat wajah Jaejoong yang memerah. Ia terus berjalan sambil membopong Jaejoong untuk meninggalkan kerumunan pepohonan.

Jaejoong terus menatap wajah Yunho. Andaikan saja aku dapat menghentikan waktu. Aku tidak ingin ini berakhir.

.

.

.

Junsu menunggu di dekat mobil ayahnya sambil menggerutu. "Ayah dan Jaejoong ke mana? Sinyal di tempat ini sangat buruk. Aku tidak bisa menghubungi mereka." Ia memegang dua gelas kopi yang ia beli untuk dua orang yang sangat ia sayangi. Sekarang kopi tersebut sudah dingin.

Junsu tersenyum saat ia melihat ayahnya keluar dari pepohonan dengan menggendong Jaejoong. Senyumannya memudar saat ia melihat sahabatnya itu sangat lekat menatap wajah ayahnya. Tatapan Jaejoong kepada ayahnya terlihat sangat berbeda. Ia kini sepenuhnya yakin bahwa Jaejoong memang menyukai ayahnya.

.

.

.

Yunho langsung membawa Jaejoong ke ruang kesehatan di bagian belakang planetarium. Ia sangat mengkhawatirkan kondisi kaki Jaejoong. Jika luka pada lutut kanan Jaejoong tidak segera dibersihkan, luka tersebut akan terinfeksi kuman. Ia meminta para petugas kesehatan untuk mengobati luka pada lutut Jaejoong dan pergelangan kaki yang terkilir. Ia mengkhawatirkan Jaejoong seperti mengkhawatirkan putrinya sendiri.

Junsu menunggu di luar ruang kesehatan. Ia tampak melamun. Mengapa kau tidak memberitahuku, Jaejoongie? Pria yang kau sukai itu adalah ayahku. Bagaimana bisa? Bagaimana bisa kau menyukai ayahku yang jauh lebih tua darimu?

.

.

.

Luka pada lutut Jaejoong sudah dibersihkan, diberi cairan antiseptik, dan dibalut perban. Sekarang pergelangan kakinya yang terkilir sedang ditangani. Ia menggertakkan giginya untuk menahan rasa sakit.

"Tahan, Jaejoongie! Otot pergelangan kakimu yang keseleo harus dikembalikan ke tempat semula." Yunho menemani Jaejoong dan memberikan semangat kepada gadis itu.

"Ototnya sudah dikembalikan ke posisi semula." Petugas kesehatan tersebut mengompres pergelangan kaki Jaejoong dengan air hangat. "Pergelangannya akan membengkak selama beberapa hari dan ia tidak akan bisa berjalan."

Jaejoong merasa sedih. Jika ia tidak bisa berjalan selama beberapa hari, bagaimana ia akan pergi ke kampus? Ia tidak ingin ketinggalan materi perkuliahan.

Junsu sudah bisa menenangkan dirinya. Ia menghampiri Jaejoong dan ayahnya di dalam ruang kesehatan. "Apakah kau sudah merasa lebih baik, Jae?"

"Kakiku sudah selesai ditangani, tetapi saat ini aku tidak bisa berjalan." Jaejoong terlihat cemberut.

"Kau adalah anak yang kuat dan bertekad baja. Kau pasti tidak akan membutuhkan waktu yang lama untuk pulih kembali." Yunho tersenyum untuk menyemangati Jaejoong.

Tiba-tiba saja ponsel Yunho berbunyi. Itu adalah telepon dari Jihyun. "Ayah mau menerima telepon dahulu. Kau temani Jaejoong di sini." Ia berkata kepada Junsu. Ia pun pergi ke luar untuk menjawab telepon dari Jihyun.

"Mengapa kau sulit sekali dihubungi? Apakah kau mematikan ponselmu?" Terdengar suara Jihyun di seberang sana.

"Aku sedang berada di planetarium bersama anak-anak. Sinyal di sini sangat buruk, Sayang." Yunho menerima panggilan dari Jihyun tepat di depan pintu ruang kesehatan.

Jaejoong masih bisa mendengar suara Yunho. Hatinya kembali tercabik-cabik. Ia baru saja mendapatkan kebahagiaan karena ia mempunyai kesempatan untuk bersama Yunho selama beberapa saat. Hatinya sangat berbunga-bunga malam ini. Mengapa? Mengapa wanita itu harus menelepon Yunho pada saat yang tidak tepat? Mengapa wanita itu harus merusak kebahagiaan yang baru saja ia dapat? Tidak bisakah ia mendapatkan kebahagiaan walau hanya satu malam?

Junsu menyadari raut wajah Jaejoong. Ia bisa merasakan luka pada hati Jaejoong dari raut wajah sahabatnya itu. Ia mengalihkan pandangannya ke luar ruangan. Ia masih bisa melihat punggung ayahnya. Sekilas ia bisa melihat senyuman di wajah ayahnya saat Yunho sedikit menoleh. Ia bisa merasakan penderitaan yang Jaejoong alami. Melihat pria yang kau cintai tersenyum untuk wanita lain rasanya sangat menyakitkan.

Jaejoong ingin menangis dan berteriak, tetapi ia tidak bisa melakukannya di hadapan Junsu. Namun, air matanya tak bisa dibendung. Air matanya telah mengkhianati dirinya. Tanpa izin darinya, butiran air tersebut lolos dari matanya. Sial! Mengapa air mataku keluar?

Junsu duduk di samping Jaejoong. Ia menggenggam tangan sahabatnya itu. Tanpa berkata-kata, ia mengusap air mata yang membasahi pipi Jaejoong.

Jaejoong menatap wajah Junsu. Ia mencoba menerka apa yang Junsu pikirkan mengenai dirinya saat ini.

Junsu tersenyum. "Menangislah sepuasnya! Lukamu pasti sangat dalam. Aku bisa membayangkan bagaimana rasa sakitnya. Pasti rasanya sakit sekali, bukan?"

Jaejoong tidak bisa menahan diri lagi. Ia mulai terisak. Ia kemudian memeluk Junsu dan menangis dalam pelukan sahabatnya itu.

TBC

Kutipan bait di atas adalah lirik "Toki wo Tomete"dari Tohoshinki dengan perubahan yang disesuaikan dengan isi cerita ini.

Rsza: cerita ini memang banyak sakit hatinya. Sekarang mungkin hanya Jaejoong dan Junsu saja yang merasakan patah hati. Nanti juga Yunho akan merasakannya. Terima kasih. Semangat!

Guest: Semangat!

Babiesyunjae: terima kasih.

Kaihun70: Jae akan banyak sedih di sini, tetapi ia tegar. Sebenarnya bukan hanya Jae, hampir semua tokoh akan merasakan sedih.

Guest: saya rasa khusus cerita ini Junsu lebih cocok untuk berperan sebagai anak Yunho. Kan lebih aneh lagi jika Changmin memerankan siswa yang kurang pintar.

My yunjaechun: Yun menganggap Jae sebagai anak. Di matanya Jae adalah anak kecil, bukan wanita dewasa.

Dell: Yun tidak akan menyadari kapan tepatnya ia jatuh cinta kepada JJ. Baguslah kalau masih blur. Hahaha! Terima kasih kembali.

Sweettaemine: banyak yang cintanya bertepuk sebelah tangan di sini. Hahaha!

Mimimi: harapannya akan dipertimbangkan.

Kimjaejoong309: Junsu tipikal gadis kaya, manja, dan haus kasih sayang. Terima kasih.

Septyana lin kudo: cintanya berantai, bukan cinta segitiga lagi.

Min: Changmin ke Junsu? Hmm…

Endah Rizkiani: tidak terlalu banyak. Intinya hanya satu, yang lain pelengkap saja.

Cassie: terima kasih. Semangat!

Max choikang: ok, lanjut!

Mimilove minwoo: biasa lah Jaesu adalah gadis remaja yang sedang masa-masanya… Salam kenal!

Kinchan: kenalan di mana dengan bahasanya?

Cassieswift: Changmin tidak peka dengan perasaan Junsu. Terima kasih.

Joongie: coba kamu daftar jadi peserta SM global audition kalau ada lagi di Indonesia.

Xia cutest85: tentu saja bisa. Kalau saya bilang bisa ya harus bisa. Hahaha!

Guest: salah Jaejoong juga kenapa ia tidak menjaga barang yang sangat berbahaya itu.

Key'va: ok.

Jj: terima kasih. Semangat!