Cerita sebelumnya :

"Aku juga mau pegang bayinya"

Hinata membeku. Bagaimana ia bisa mengenal suara ini? enam bulan sudah berlalu sejak peristiwa itu, namun ia langsung tahu siapa yang saat ini berada di belakangnya dan membuatnya terkejut. Saat Hinata mencoba menyakinkan diri dengan membalikkan tubuhnya, ia dapat melihat jelas sosok itu, pria itu menyeringai, lalu melangkah mendekati Hinata. Tak lupa dengan gayanya yang arogan, setelah berada tepat di hadapan Hinata ia berbisik

"Kau tampak cantik, Hyuuga" lalu menangkup wajah Hinata dengan telapak tangannya yang lebar, dan menciumnya.

Decklaimer : Masashi Kishimoto

Warning : AU, OC dan OOC banget, terutama Sasuke hahahaha

Rate : M di bawah 18 tahun, pergi! Jangan kemari...

Pairing : selalu Sasuke dan Hinata

Experience of Love

Selamat membaca Minna-san

Ciuman itu terasa hangat, spontan, dan agak kasar. Saat pria itu menjauhkan diri, matanya berbinar nakal bercampur senang melihat keterkejutan Hinata. Sedangkan bocah-bocah yang tadinya akan digiring Hinata ke kelas masing-masing, kini telah diambil alih oleh Matsuri. Iya, gadis berambut coklat itu adalah rekan mengajar Hinata, di kelas Kindergarten 2. Selain Kurenai, Matsuri juga mengetahui perihal kehamilan Hinata di luar nikah, namun karena gadis itu memiliki rasa setia kawan yang tidak perlu diragukan maka ia lebih memilih menutup mulut dan selalu membantu serta mendukung Hinata.

Kembali lagi pada cerita Hinata dan pria arogan yang tiba-tiba datang dan menciumnya, pria itu pun akhirnya menurunkan tangan dari pipi Hinata. Baru saja Hinata akan memprotes, tiba-tiba seseorang datang menghampiri mereka

"Sepertinya anda berhasil menemukannya," ucap seorang dengan wajah tertutup masker dan berambut silver. Pria itu adalah Kakashi, kepala personalia tempat Hinata bekerja, tadi Sasuke menemuinya ketika ia tidak bisa bertemu dengan kepala sekolah untuk meminta ijin menemui Hinata.

"Dia tepat berada di tempat yang saya katakan tadi kan Uchiha-san?" ucap pria itu sambil tersenyum lega, tadi ia bertemu dengan Hinata ketika sedang berkeliling melihat aktivitas sekolah dan mengistirahatkan tubuhnya, ia melihat Hinata menjaga anak-anak yang sedang bermain di playground.

"Ya, betul" jawab Sasuke datar dan singkat seperti biasa, tak ada ekspresi apapun yang dapat terbaca dari wajah rupawannya.

"A... ano... me... mengapa Uchiha-san mencari saya?" tanya Hinata kepada Sasuke dengan sangat formal, dan memberanikan diri menatap Sasuke. Ia baru saja mengetahui marga pria itu, saat Kakashi menanyainya tadi. Kakashi yang mendengar nada bertanya Hinata agak mengerutkan alisnya.

'Apakah aku bisa berlagak seakan tidak mengenal atau mengingat pria ini? Ah... Tidak ada salahnya di coba.' Batin Hinata.

Sasuke memandang Hinata dengan tatapan tajam dan mengintimidasi,

'Kau mau bersandiwara denganku Hyuuga? Baik aku ladeni' batin Uchiha bungsu itu.

"Tenang, Hinata" gumam Sasuke pelan dan lembut, lalu menyeringai licik, tentu saja itu tak terlihat oleh Kakashi yang sibuk memandangi Hinata dengan tingkah malunya.

"Tentu saja dia mencarimu Hinata-chan," ucap Kakashi senang

"Suamimu tadi ke kantorku, saat tidak bisa bertemu dengan Kurenai, ia menceritakan kepadaku bahwa kalian sudah rujuk kembali" tambah Kakashi lagi sambil tersenyum lebar

"Su...su...suami?" tanya Hinata tergagap, rona merah menjalari wajahnya yang putih, ia kaget mengapa bisa-bisanya pria ini mengaku suaminya?.

Kakashi tertawa melihat tingkah Hinata yang terlihat lucu di matanya, dia sangat mengagumi gadis itu, dia lembut, baik dan bertanggungjawab.

"Hufh..." keluh Kakashi

"Tidak perlu malu begitu Hinata, aku mengerti kau sepertinya belum terbiasa dengan keberadaannya di sampingmu" ucap Kakashi lagi sambil mengacak rambut indigo Hinata, Kakashi sudah menganggap Hinata seperti anaknya sendiri sama halnya dengan Kurenai, ia tahu wanita itu sendiri di kota ini. Tidak sulit memang untuk menyayangi Hinata, mengingat sifatnya yang baik.

"Dia pasti akan terbiasa lagi," ucap Sasuke santai, sambil menatap Kakashi dengan pandangan tajam, melihat pria itu lancang menyentuh miliknya, ia marah. Oh miliknya? Iya setelah malam itu, Sasuke menganggap Hinata adalah miliknya, hanya miliknya.

Merasa tidak nyaman, Kakashi meminta ijin untuk kembali kekantornya, ia memilih untuk memberikan privasi kepada dua sejoli yang sedang saling merindukan, setidaknya itulah yang ada di fikiran Kakashi.

"Ayo kita masuk, di luar berangin" kata Sasuke lalu menggandeng wanita di sampingnya untuk memasuki gedung, mengingat mereka tadi mengobrol di areal bermain anak yang terbuka, Hinata terkejut diperlakukan seperti itu oleh Sasuke, andai saja pikirannya tidak sedang kacau, mungkin ia akan tertawa menanggapi sandiwara ini. Ingat ini hanya sandiwara Sasuke dan Hinata.

"Sa... saya tidak tahu tipu muslihat apa yang sedang anda rencanakan Uchiha-san, ta... tapi..." lirih Hinata, namun saat ia akan melanjutkan ucapannya Sasuke menginterupsi

"Sebaiknya kau ikuti saja sandiwara ini Hyuuga, karena Kakashi-san tampaknya senang melihat kita bersama kembali" seringaiannya yang memesona tampak tidak selaras dengan ketegangan yang mewarnai suaranya. Hinata hanya bisa menatap Sasuke, ingin rasanya ia menampakkan emosinya, menjambaki rambut indigonya, meneriakkan kekesalannya pada pemuda yang membuat kekacauan kehidupannya. Namun Hinata telah belajar tentang pengendalian diri dan tata krama sejak kecil, orang tuanya selalu menegaskan tentang hal itu, bahwa seorang perempuan tidak hanya pintar dan cantik secara fisik namun juga dari perilaku. Jadi sekarang Hinata hanya mampu memandang nanar Uchiha Sasuke.

"Kau tidak bisa lolos dariku, Hyuuga Hinata" desis Sasuke, lalu mengaitkan jari-jari mereka, melangkah menuju kelas Hinata, ia membiarkan Hinata masuk kelas dan memilih menunggu Hinata di lobi. Seorang Uchiha bersedia menunggu? Wah itu kemajuan atau kemunduran?

.

.

Bel pulang berdentang, Hinata merasa lelah luar biasa baik secara fisik, mental dan emosional.

'Mengapa pria itu berada di sini? Untuk apa dia mencariku?' batin Hinata, tak habis pikir dengan lamunannya, pria raven itu kini malah berdiri di depan kelasnya.

"Sudah siap, sayang?" tiba-tiba suara maskulin itu mengejutkan Hinata, sontak Hinata memberikan pandangan tajam kepada pria yang kini berdiri di pintu dan akan melangkah masuk. (ingat ini bagian dari sandiwara mereka).

"A... aku bukan sayangmu!" ucap Hinata sambil menata beberapa kertas gambar hasil karya anak-anak yang telah diwarnai. Ia memilih menyibukkan diri dari pada meladeni pria tidak jelas yang menerobos masuk dalam kehidupannya.

"Keh, kau sok jual mahal, Hyuuga" ucap sasuke sinis ketika jaraknya dan Hinata hanya beberapa langkah.

Sekarang Hinata memutar tubuh dan menghadap pria itu untuk melampiaskan kekesalannya

"Ja...jangan bicara begitu, lagi pula untuk apa kau di sini? Ba... bagaimana kau bisa menemukan aku? Apa maumu? A... aku minta penjelasan!" ucap Hinata sedikit berteriak, memberondong Sasuke dengan pertanyaan yang ada di kepalanya. Dia masih berusaha mengontrol suaranya agar tidak menimbulkan kecurigaan bagi rekan-rekannya yang lain.

"AKU JUGA HYUUGA!" balas Sasuke galak, iya membentak Hinata

Temperamen Sasuke yang mendadak berubah membuat Hinata kaget dan terdiam. Iya, kini wanita bersurai indigo itu memilih untuk diam dan menundukkan kepalanya, hampir saja ia meneteskan air mata karena bentakan itu, namun ia bukanlah wanita lemah, maka ditahannya mutiara itu agar tidak merosot melewati pipinya yang chabi.

Sasuke memandang wanita di hadapannya dengan tajam, menunggu wanita itu mengangkat wajah dan melontarkan emosinya kembali, namun tak juga ia dapati Hinata melakukannya. Lalu Sasuke menyentuh dagu Hinata, saat wajah mereka berhadapan, Sasuke dapat melihat setitik tumpahan air mata yang sempat lolos dari pelupuk mata Hinata. Sasuke terkejut, ia tidak bermaksud membuat wanita itu merasa jengah. Sadar ia hanya akan membuat Hinata tertekan, Sasuke memilih menggenggam tangan Hinata dan mengajak wanita itu menyusuri lorong-lorong sekolah yang telah sepi menuju parkiran.

Begitu sampai di parkiran, Hinata langsung beranjak ke pelataran parkir. Di sebelah mobil mungil rongsokannya tampak mobil sport hitam yang mulus. Tidak perlu di ragukan lagi siapa pemiliknya.

"Saya tidak punya utang apa-apa kepada anda Uchiha-san, juga tidak hutang penjelasan. Anda buang-buang waktu kemari, dan saya sangat berterima kasih kalau anda tidak mengganggu saya lagi" ucap Hinata sambil membuka pintu mobil, kesan gagap dan pemalu sirna sudah dari dirinya. Sekarang hanya ada tatapan dengan sorot mata dingin.

"Aku akan menemuimu di rumah" ucap Sasuke santai sambil menyeringai, ia masih menatap Hinata dengan pandangan yang sulit di artikan. Kini ia melangkah menuju mobil mewahnya, membuka pintu mobil, namun sebelum memasukkan tubuh kekarnya ke dalam ia berkata

"Jangan coba-coba kabur dariku Hyuuga, aku tahu tempat tinggalmu" ujar Sasuke dengan nada dingin dan mengintimidasi, setelah itu ia memasuki mobil dan menyalakannya. Melaju meninggalkan Hinata yang masih terpaku pada pintu mobil miliknya.

Hinata hanya bisa menggerutu dalam hati, bagaimana bisa pria itu menemukannya? Pria asing yang akan memporak porandakan hidupnya, lelah! ia benar-benar lelah, dengan langkah berat Hinata memutuskan untuk masuk mobil dan segera meninggalkan bangunan sekolah yang megah itu, membayangkan berada di rumah sangat menyenangkan. Namun kembali ingatan Hinata tertuju pada pria yang baru saja pergi meninggalkannya

'Kami-sama, apa lagi ini?' tanya Hinata, bukan, ia bukan mengeluh, hanya saja mengapa masalah seolah tak pernah berhenti dari hidupnya.

'Mulai saat ini aku harus bersikap tegas, membuang semua ketakutan itu, demi aku dan bayiku.' gumam Hinata, ia tidak memungkiri kehadiran pria itu yang tiba-tiba, bisa saja hanya untuk mengambil bayinya. Siapa yang bisa menjamin bahwa pria arogan itu akan bersikap baik padanya? Tadi saja ia sudah dibentak.

.

.

Uchiha Sasuke telah memarkir mobilnya di halaman rumah Hinata, ia berdiri di depan pintu dengan aksen kuno tersebut, Hinata mengamati dengan kaget saat ia turun dari mobil. Keterkejutan si gadis indigo bertambah ketika pria itu merogoh kantong mantel dan mengeluarkan kunci lalu membuka pintu.

"Da...dari mana kau mendapatkan...?" pertanyaan Hinata terpotong oleh jawaban Sasuke

"Masuklah!" ucap pria itu, datar namun terkesan tidak mau di bantah

"Jawab aku Uchiha, dari mana kau mendapatkannya?" ucap Hinata, ia kesal, lelah, bahkan ia melupakan aksen gagap serta sopan santunnya, bisakah pria ini pergi dan tidak mengganggunya?.

"Tck" Sasuke mendecih kesal, ia melangkahkan kaki panjangnya untuk menjemput Hinata yang hanya beberapa langkah dari dirinya.

"Aku sudah menduga pasti akan ada keributan" ucap Sasuke sambil menarik tangan Hinata, lebih tepatnya menyeret, namun Hinata masih tetap kukuh dengan pendiriannya, ia tidak akan masuk jika pria tidak jelas itu juga ikut masuk.

Kini Sasuke memandang tajam Hinata, seolah hanya dengan pandangannya saja sudah bisa membunuh wanita itu.

"Masuk dengan kepala dingin dan melewati pintu sialan itu, atau aku akan memanggulmu dengan cara paksa Hyuuga?" pertanyaan yang dilontarkan Sasuke layakya buah simalakama bagi Hinata, tidak ada yang bisa dipilih.

Setelah mempertimbangkan baik buruknya, Hinata memilih masuk, melangkah melewati pintu, tanpa harus di panggul. Hinata membelalakkan mata, saat melihat kejutan yang diberikan pria itu padanya. Tampak dua koper besar di tengah-tengah ruang tamunya, sepotong jas segala musim tergantung di gantungan mantel, dan sebuah tas kerja tergeletak di atas meja. Dengan tubuh bergetar menahan emosi Hinata membalikkan tubuhnya

"A... angkat barang-barangmu dan pergi dari rumahku." Usir Hinata pada pria itu

"Rumahku" ralat Sasuke, ia lalu merogoh saku dan mengeluarkan selembar kwitansi, melambai-lambaikannya di depan wajah Hinata. Saat melihatnya sontak wajah Hinata memerah dan pucat.

"Kontrak sewamu hanya berlaku setahun Hyuuga, lagi pula masa sewamu akan habis bulan depan. Aku sudah membayar sewa bulan ini, menandatangani sewa baru, dan membayar lunas di muka. " Ujar Sasuke sambil memandang Hinata yang mencoba mengontrol emosinya.

"Sekarang kau punya hak mengusirku sampai bulan depan, tapi waktu aku mengecek, kau sudah menunggak dua bulan, jadi aku melunasinya. Termasuk telepon, air dan listrik, menurutku semua itu menjadikan aku berhak berada di sini selama sebulan,jadi aku tidak akan pergi" sambung Sasuke lagi tidak lupa dengan seringaian kemenangan.

Hinata kesal, benar-benar kesal mendengar penjelasan pria angkuh itu,

"A...aku akan menelepon polisi" ucap Hinata dan berbalik menuju telepon.

"Kau mau bilang apa, hm? Mengatakan bahwa suamimu tinggal serumah denganmu?" ucapan Sasuke terkesan menggoda Hinata, namun wanita beriris lavender itu mengabaikannya

"Ka... kau bukan suamiku, Uchiha-san"

Sasuke hanya tersenyum melihat kepanikan Hinata, kekacauan nampak jelas di wajahnya

"Semua orang mengira aku suamimu, kau sendiri yang berbohong tentang perpisahanmu dengan suamimu, dan aku hanya mengikuti aturan mainmu, Hyuuga." Jenius, itulah sebutan yang pantas untuk si raven, ia selalu bisa memanfaatkan keadaan.

"Da...dari mana kau tahu itu?" tanya Hinata terkejut, matanya terbelalak, hampir saja ia limbung, lalu ia mencengkeram sandaran kursi demi membuat dirinya tidak tersungkur.

"Aku mencarimu selama enam bulan" jawab Sasuke dingin.

"U...untuk apa kau mencariku?" cicit Hinata, kini keberaniannya patut di pertanyakan, sepertinya pria ini akan selalu mengejarnya. Bayangan buruk menghampirinya, bagaimana jika pria ini mengambil anaknya?.

Alis pria raven itu bertaut "Kau punya sesuatu yang juga menjadi hakku, Hyuuga" ucap Sasuke tegas dan kini pandangannya beralih ke perut Hinata.

Secara spontan Hinata melindungi perutnya dengan tangan, seolah hanya dengan pandangan saja pria itu bisa merobek perutnya.

"Ti... tidak" bisiknya, ia takut pria itu akan mencelakai dirinya dan si jabang bayi.

Sasuke maju selangkah, hal itu justru membuat Hinata ketakutan, ia memilih bersembunyi di balik kursi yang tadi sandarannya ia cengkeram, sontak hal itu membuat amarah Sasuke meledak

"Keluar dari balik kursi sialan itu, atau akau akan menyeretmu Hyuuga?" ucap Sasuke, ia benar-benar frustasi menghadapi kekonyolan wanita indigo ini.

Hinata masih tetap diam, tak bergeming, air mata kini berhasil lolos dari mata lavendernya, tubuhnya bergetar, entah mengapa Uchiha arogan itu kini melembut, sisi terdalam hatinya tersentuh saat mendengar isakan lembut Hinata. Lalu ia melangkahkan kakinya mendekati Hinata, mengulurkan tangannya dan menyentuh pundak wanita itu, menarik si wanita dengan lembut, dan mendudukkan wanita itu di kursi.

"Me...mengapa kau lakukan ini?" cicit Hinata, ia masih terisak, Sasuke menatap wajahnya, menghapus air mata sang wanita.

"Itu sudah jelas Hinata, aku menginginkan bayiku" ucap Sasuke, mendengar jawaban itu, wajah Hinata langsung memucat.

"Ba...bagaimana kau bisa menemukan aku?" tanya Hinata penasaran. Ketegangan masih tampak di wajah bak bidadari miliknya.

Flashback On

"Tck, sial ia kabur" gumam seorang pria saat ia memasuki kamar yang semalam ia gunakan untuk melewati malam panjang bersama gadis itu. Saat tak mendapati yang dicari, dengan segera ia meraih gagang telpon dan menelpon ke lobi apartemen, meminta mereka berjaga-jaga jika ada wanita beriris lavender dan berambut indigo sepunggung melewati pintu.

"Tahan dia hingga aku turun!" ucap Sasuke. Namun nihil, saat ia mendengar jawaban dari sang receptionis yang mengatakan bahwa sekitar setengah jam lalu wanita itu pergi keluar dengan terburu-buru. Sasuke menutup telepon tanpa mengucapkan sepatah katapun.

"Kau tak akan bisa lepas dariku" ucapnya, gemelutuk giginya terdengar samar, akibat menahan amarah.

"Jangan sebut aku Uchiha jika tak berhasil menemukanmu" sambungnya lagi.

Kini Sasuke meraih Handphonenya, mencari nomor tujuan yang akan di hubungi, memanggil ketika nomor itu berhasil ia temukan, menunggu jeda sesaat hingga seseorang di seberang sana menjawabnya.

"Moshi-mo..." ucapan orang di seberang telepon terpotong oleh Sasuke.

"Juugo, cari tahu tentang wanita bernama Hinata di seluruh hotel, penginapan atau losmen yang ada di Tokyo" perintahnya

"Hinata siapa? Banyak Hinata di kota ini, bahkan di Jepang" ucap orang di seberang sana yang diajak bicara oleh Sasuke, pria itu teman sekaligus bawahannya.

"Hn, itu tugasmu"

"Kau gila, kau kira mudah mencari orang hanya dengan nama panggilannya saja? Setidaknya beri aku nama marganya, ciri fisiknya atau kotanya berasal!" protes orang di seberang telepon

"Lavender, matanya beriris lavender, rambut indigo sepunggung" ucap Sasuke, lalu menutup sambungan telpon itu. Ia terduduk dikasur yang menyimpan kenangan itu, yukata mandi masih di kenakannya, titik-titik air masih menetes dari rambut raven si pemuda.

Onix itu tersembunyi di balik kelopak matanya, ohhh baru kali ini ada wanita yang menolak pesona si bungsu Uchiha. Wanita itu pergi meninggalkannya setelah permainan panas semalam, bukankah Uchiha yang biasanya meninggalkan wanitanya? Dan lagi wanita-wanita itu akan selalu berebut menghampirinya. Kali ini berbeda, ia wanita yang berbeda. Darah dalam tubuh Sasuke berdesir mengingat malam panas semalam, bahkan di ranjangpun wanita itu sangat berbeda.

Desah nafas, rintihan dan pujian-pujian itu terngiang kembali di telinganya, dari sekian wanita yang sempat ditiduri, hanya semalam Sasuke merasakan kepuasan tiada tara, ia tahu itu pengalaman pertama Hinata, gadis itu tidak sejago wanitanya yang lain, namun kepolosan, keluguan dan kejujuran wanita itu saat mengungkapkan apa yang diinginkan dan dirasakannya membuat Sasuke selalu ingin melakukan lebih dengan Hinata. Sasuke merindukan kehangatan tubuh wanita mungil itu. Merindukan aroma yang menguar dari tubuhnya, merindukan wanita itu mendesahkan namanya.

"Damn, kau membuatku kacau." Seru Sasuke, sambil mengacak rambut ravennya.

Tiba-tiba suara handphone menyadarkan Sasuke dari lamunan panasnya, segera menerima panggilan itu, dia berharap si penelpon adalah Juugo yang ditugaskan mencari tahu tentang Hinata. Benar saja, feeling Uchiha tak pernah meleset, setidaknya delapan puluh persen tepat.

"Kau menemukannya?" tanya Sasuke to the poin

"Aku menemukan hotel tempatnya menginap, mereka mengatakan gadis itu telah pergi."

"Kau tahu marganya?" tanya Sasuke antusias, setidaknya dengan mengetahui marga gadis itu, akan sedikit mempermudah pencarian.

"Dia check in hanya menggunakan nama Hinata"

"Dari mana kau tahu itu dia?"

"Mereka bilang ciri-ciri gadis itu seperti yang kau sebutkan tadi"

"Gunakan otak dan kerahkan anak buahmu, cari dia dan aku tak mau kau gagal!" perintah Sasuke tak mau di bantah. Lalu dengan segera ia menutup telepon.

Pening menyerang kepalanya, entah mengapa dia menginginkan wanita itu saat ini juga. Sembari memijat pangkal hidung demi mengurangi rasa pusing, tiba-tiba ia teringat sesuatu, bukankah semalam ketika di lift si gadis mengatakan ia berada di apartemen ini untuk menemui salah seorang temannya, mengapa tidak menghubungi mereka saja?.

Mengetahui ada titik terang, Sasuke hampir saja menghancurkan gedung apartemen itu demi mencari kawan si gadis, namun nihil tak ada diantara mereka (penghuni apartemen) yang mengaku kedatangan tamu bernama Hinata dengan ciri-ciri yang disebutkan Sasuke.

Pria itu kembali ke apartemennya dengan frustasi, tak pernah dia segila ini oleh wanita. Melangkah menuju telpon sekali lagi ia memutar nomor telpon lobi.

"Moshi-moshi"

"Bisa kau memberiku siapa saja orang yang sedang tidak berada di apartemen saat ini?" tanya Sasuke to the poin

"Gomen ne Uchiha-san, tapi kami tidak bisa sem..." perkataan receptionis itu terpotong oleh Sasuke

"Aku menemukan kartu kredit seorang gadis, aku harus mengembalikanya, ku rasa salah satu diantara mereka ada pemiliknya!" ucap Sasuke sekenanya, itu kebohongan paling mudah dan logis yang dapat di buat oleh otak jeniusnya yang sedang kacau saat ini.

"Oh begitu, baiklah" si receptionis diam sejenak mengecek daftar pada komputernya,

"Namikaze Naruto beserta istrinya Sakura Haruno-san, dan seorang lagi yang menempati lantai 21 yaitu Sabaku No Gaara-san, untuk saat ini hanya mereka yang sedang tidak di tempat dan melakukan perjalanan jauh, yang lainnya..." baru saja si receptionis akan melanjutkan ucapannya

"Kau tahu siapa di antara mereka yang kedatangan tamu dengan nama Hinata kemarin malam?"

Sekali lagi si receptionis itu mengecek komputernya, sebenanrnya Sasuke sudah benar-benar tidak sabar, namun ketika ia akan melontarkan ucapan pedasnya, orang di seberang telepon menjawabnya

"Haruno Sakura-san, kamar nomor 322 lantai 22, tapi saat ini mereka sedang keluar kota."

"Ada nomor mereka yang bisa aku hubungi?"

"Gomen ne, Uchiha-san, tapi mereka tidak meninggalkan nomor telpon, mungkin sedang tidak ingin di ganggu" jelas si receptionis

"Jika mereka kembali, tolong hubungi aku, Arigatou" jawab Sasuke lalu menutup telponnya.

END FLASHBACK

.

.

"Bu...bukankah Uchiha-san tak berhasil menemui mereka, bagaimana Uchiha-san bisa menemukanku?" tanya si indigo penasaran, sejenak ia melupakan ketakutanya tentang keberadaan pria itu saat ini.

"Ku akui, mencarimu sangat sulit, setelah beberapa minggu aku baru bisa menemui mereka" jawab Sasuke masih menerawang.

"Iya, setelah kepulanganku, mereka bilang akan pergi ke Konoha, Naruto-kun punya bisnis disana, dan untuk beberapa saat mereka akan tinggal dalam waktu yang lama, tergantung seberapa lama pekerjaan itu bisa diselesaikan" jelas Hinata, sambil mengingat cerita sahabat cherrinya tentang karir si suami.

"Iya, itu juga yang mereka katakan, saat aku menemuinya dan menanyakan alamatmu"

"A... apa Uchiha-san menceritakan kejadian ma..."

"Aku mengatakan bahwa aku menemukan kartu kredit atas namamu dan aku ingin mengembalikannya" jelas Sasuke paham akan maksud pertanyaan Hinata.

Hinata memiringkan kepalanya, melihat kearah Sasuke, pertengahan alisnya sedikit mengkerut,

"Kenapa? Alasanku aneh?" tanya si Uchiha ketika menyadari ekspresi Hinata.

"Hanya itu satu-satunya alasan yang terpikir olehku saat itu" jawab Sasuke lagi tetap dengan wajah datarnya.

Hinata hanya tersenyum, sedikit rona merah ampak di pipinya yang tembam, Sasuke sekilas mengamatinya, ingin rasanya ia menerkam wanita itu saat ini juga, namun otak sehatnya memberi alarm supaya hal itu tak dilakukannya, Hinata mau mengobrol seperti ini saja sudah cukup baginya untuk saat ini.

"Sayangnya, mereka memberiku alamatmu yang lama" jawab Sasuke, ada nada penyesalan dari ucapannya itu, namun tak terlalu kentara.

"La... lalu?" tanya Hinata penasaran dengan kelanjutan cerita Sasuke.

"Aku punya akses untuk memperoleh data, dokumen, dan para penegak hukum ditempatmu berada sebelumnya, aku meminta bantuan mereka dan keberadaanmu berhasil di lacak" jelas Sasuke dengan seringaian entah apa itu.

"Da...dan, setelah itu, kau langsung menemuiku?" tanya Hinata penasaran

"Tidak, aku menemukanmu beberapa bulan lalu" jawab Sasuke,

"Karena aku sedang sibuk menangani permasalahan salah satu perusahaan kami dan ini perintah langsung dari Otau-sanku, maka aku tak bisa meninggalkannya, tapi aku punya orang-orang..."

"Ja...jadi ka...kau memata-mataiku?" tanya Hinata dengan nada suara sedikit meninggi, ada nada kemarahan dalam suaranya.

"Hanya itu cara yang bisa aku lakukan sebelum aku datang menemuimu" jelas Sasuke angkuh

"A... apa melecehkaku secara fisik masih belum cukup? Sehingga kau juga melecehkan privasiku?" tanya Hinata bangkit dari duduknya, entah mengapa ia merasa marah di mata-matai seperti ini, layaknya seperti teroris yang menjadi tersangka kasus pengeboman.

"Duduklah Hyuuga, kau tahu darah tinggi tak baik pengaruhnya untuk si bayi" ucap Sasuke dingin,

"Bayi ini tanggungjawabku" ucap Hinata, ia bayi itu miliknya, hanya miliknya

"Aku juga berhak atas dirinya, setelah malam panas itu" jawab Sasuke tak mau kalah.

"I... itu hanya kecelakaan, insident yang tidak menyenangkan" jelas Hinata, ia menjadi semakin marah ketika Sasuke mengatakan bahwa dia berhak atas bayinya, rasa takut jika pria itu akan mengambil bayinya kembali menyelimuti Hinata.

"Benarkah?" tanya Sasuke dengan seringaian iblis, onix itu nyalang menatap Hinata, entah menyapa ia muak ketika mendengar Hinata mengatakan itu hanya kecelakaan dan insident kecil yang tak berarti apa-apa.

"A... aku merasa jijik" lirih Hinata, sambil mendekap dirinya.

"Kepadaku?" tanya Sasuke, onix pekatnya masih setia menatap Hinata.

"Ke... kepada diriku sendiri, A... aku tidak mau bicara i... itu lagi" jawab Hinata.

"Tapi aku mau" jawab Sasuke

"Bagaimana pendapatmu tentang percintaan kita, hm?" lanjut Sasuke lagi, kali ini ia mendekati gadis yang berdiri dihadapannya itu, selangkah saja sudah membuat tubuh mereka berhimpitan, saling bersentuhan.

Hinata menggigil, pria itu berada begitu dekat dengannya, hembusan nafas si pria raven mengenai poninya, aroma parfum mahal yang menguar dari tubuhnya memenuhi rongga hidung Hinata. Imajinasinya kembali pada malam panas itu. Hinata tersentak saat mendapati, hidung pria itu berada di lekukan lehernya, menggesekannya, menyesap aroma lavender dari tubuhnya. Tubuh Hinata beku, tak bergerak.

"Itu sangat indah, kau begitu cantik" bisik Sasuke di telinga Hinata,

"He...hentikan" ucap Hinata sambil mencoba mendorong tubuh si pria Uchiha yang mendekapnya.

"Payudaramu lebih besar" ujar Sasuke, saat dia berhasil menyentuhkan tangannya pada bagian tubuh Hinata yang menonjol itu.

"A... apa?" tenggorokan Hinata tercekat, sungguh pria ini benar-benar melecehkannya.

"Payudaramu lebih besar karena bayi itu, hm?" tanya Sasuke sambil tetap menyentuh payudara Hinata.

"Ba... bayi ini bukan urusanmu, ba... bayi ini bukan milikmu" bentak Hinata, kali ini ia mencengkeram pergelangan tangan Sasuke yang dilingkari arlogi emas, mencoba menjauhkan tangan yang menggoda payudara itu dari tubuhnya. Selain membesar, payudara Hinata juga menjadi lebih sensitif ketika hamil.

Tiba-tiba Sasuke melepaskan pelukan dan sentuhannya dari tubuh Hinata, ia tertawa, walau tidak terbahak, pria stoick yang jarang menampakkan ekspresinya ini, bisa tertawa di hadapan Hinata, ohhh beruntungnya dirimu gadis Hyuuga.

"A... apa yang kau tertawakan?" tanya Hinata penasaran, saat melihat Sasuke tertawa dan menatap kearahnya.

"Kau" jawab si pria dingin.

"Kau bilang itu bukan benihku, hm?" ucap Sasuke, sontak kata-kata Sasuke membuat wajah Hinata merah

"Kau bahkan masih perawan pada malam kita bercinta, Hyuuga Hinata."

"Ini bukan bayimu" ucap Hinata keras, ia benar-benar frustasi, bagaimana agar orang ini tak lagi mengusik hidupnya dan jabang bayinya.

"Kalau begitu, aku akan tinggal disini hingga bayi itu lahir, kita akan mengetahuinya dari bulan dan tanggal lahirnya" ucap Sasuke santai.

Hinata tercekat, ia tak pandai berbohong, berdebat dengan pria ini pun ia pasti kalah, bahunya naik turun menahan emosi. Apa lagi yang harus dilakukannya agar pria ini pergi?.

"Ini anakku, dan aku berniat untuk mendapatkannya" ujar Sasuke,

"Ka... kau tak mungkin mendapatkannya" jawab Hinata, ia tak akan melepaskan bayinya, walau nyawa taruhannya.

"Bisa saja" seringaian licik muncul di sudut bibir Sasuke.

"Dengan cara seperti ini" ucap Sasuke, lalu mendekatkan hidungnya keperut Hinata, menciumnya dan membelainya dengan lembut. Hinata sempat terbuai dengan perlakuan pria itu, namun dengan segera ia menyadarkan dirinya.

"Kau tak perlu sendiri Hinata, aku akan menemanimu hingga bayi ini lahir, kita bisa bekerja sama bukan?" ucap Sasuke yang saat ia sudah menegakkan tubuh kekarnya tepat di hadapan Hinata.

"A... apa maksud..." tanya Hinata,

"Ya, aku akan menemanimu hingga bayi ini lahir, aku akan disini menjagamu dan bayi itu" jelas Sasuke saat melihat raut bingung di wajah cantik Hinata. Sekali lagi ia mendekati Hinata, menyentuh perut buncit wanita itu, ingin merasakan kehidupan yang ada di rahim si wanita indigo, tepat pada saat Sasuke menyentuhnya, si jabang bayi bergerak berupa sentakan kuat dan tiba-tiba.

"Si bayi?" tanya dengan senyum Sasuke sumringah, sejenak ia melupakan kemarahan, ego dan arogansinya.

"Y... ya," jawab Hinata lirih. Ekspresi yang ditampakkan Sasuke membuat Hinata tercekat, amarah dan frustasinya sejenak terlupakan, melihat wajah itu membuat Hinata berkaca-kaca. Makhluk mungil yang ada akibat kebersamaan mereka beberapa waktu lalu telah menjadi pengikat diantara mereka.

"Aku masih belum mempercayai ini" ucap Sasuke, ia lalu mengecup perut Hinata, menangkup perut itu dengan tangannya dengan protektif. Tangan itu kini bergerak ke atas, menyentuh payudaranya, terus keatas hingga ke tulang lehernya, sekali lagi pemuda Uchiha itu menggesek lekukan leher Hinata, kali ini dengan bibirnya.

"Hinata..." bisiknya di telinga Hinata, dan Hinata hanya bisa diam dengan perlakuan itu, entah ia tak bisa memprotesnya.

Sasuke mencimnya, ciuman kali ini terasa hangat dan lembut, meskipun ada unsur-unsur lain yang tersirat, gairah-gairah yang selama ini dipendamnya. Sasuke tidak peduli ketegangan yang mulai menjalari tubuh Hinata, otot-ototnya yang mengencang dan upayanya untuk melepaskan diri dari pelukan si raven, saat itu Sasuke semakin merapatkan bibirnya.

Akhirnya Sasuke melepaskan ciuman itu, dengan lembut menyibak rambut Hinata yang menjuntai menutupi pipi yang kemerahan,

"Kau mau tidur siang atau berbelanja denganku?" tanya Sasuke.

"Be...berbelanja? Ke kota? U...untuk apa?" tanya Hinata.

"Beli tempat tidur ukuran king-size. Bisa-bisa aku membuatmu terluka kalau kita tidur di tempat tidur sempitmu itu" ujar Sasuke santai, namun hal itu sukses membuat Hinata merona merah dan tercekat.

TBC

Balesan Review :

Eigar Alinafiah : ini sudah di lanjut, kalau g berhenti di tengah jalan g seru hehehehe, Hikari mau bikin Eigar-san penasaran.

Azzahra : Azzahra-san akhirnya membaca fic abal karya Hikari lagi, terima kasih sudah membaca dan mereview, pertanyaan Azzahra-san sudah terjawabkah dengan pemaparan diatas? Hehehehe flashback versi Sasuke. entahlah Sasu tanggungjawab atau tidak, yang jelas Sasu ingin bayinya hehehhee, silahkan Fav jika berkenan.

123 Go Go Deigo : bagaimana dengan chap 3 nya Deigo-san? Ya kali ini Hikari tidak terlalu menonjolkan adegan *ehem*, dan untuk romencenya apakah masih perlu ditambahkan? Terima kasih untuk reviewnya.

Chibi Beary : rencananya mau di buat happy ending, dari cerita flashback versi Sasuke sudah menjelaskan bagaimana pencariannya untuk menemukan Hinata, ini sudah di update, terima kasih sudah mereview.

IndigOnix : iya yang datang itu Sasu Indi-san, disini sudah sedikit Hikari ulas tentang pencarian Sasu hingga menemukan Hinata, Sasu datang menginginkan bayinya, ini sudah di lanjut, baca lagi chap berikutnya ya. Terima kasih sudah mereview.

Hyou Hyouichiffer : Sasu selama 6 bulan nyari Hina, iya di skip waktu, maaf Hikari kurang menjelaskannya pada chap kemarin, selain itu Sasu juga punya tugas dari Tousannya makanya g bisa segera menemui Hina, iya silahkan di fav jika berkenan dan terima kasih atas reviewnya.

Sheren : ini sudah dilanjut Sheren-san.

Moku-chan : wahhhh Moku-chan bersedia baca fic abal Hikari, senangnya #melukgulinggulung-gulung. Mohon bantuannya memberi masukan untuk Hikari ya Moku-chan, Hikari menyadari kalau Typo selalu bertebaran, karena Hikari sedikit ceroboh masalah itu, jika masalah lemon kurang Hot, Hikari akan membaca lebih banyak reverensi lagi tentang FFn dengan rate M, Hikari baru belajar menulis rate M mohon bimbingannya #membungkuk setengah badan. Hikari usahakan jika kedepannya ada lemon, akan Hikari buat lebih hot.

Lilac : iya Hikari sadar lemonnya masih kurang hot, sebenarnya belum berani, tapi akan Hikari coba menampilkan yang lebih pada chap berikutnya, berapa kalipun melakukan itu Hikari fikir bisa hamil, tergantung masa subur si cewek, mungkin ketika itu Hina sedang masa subur maka sekali sembur jadi makmur #bahasatidakjelas (abaikan saja). Hikari rasa dari flashback di atas sudah jelas darimana Sasu tahu Hina hamil.

Aizy. Evilkyu : iya maaf alurnya memang terlalu cepat kemari, dan kurang jelas pemenggalan waktunya, terima kasih untuk masukan itu, di atas ada sedikit flashback dari versi Sasuke, apa itu sudah cukup menjelaskan Aizy-san?.

Hyuuchi Kin : Halloooo Chi-chan, kangen! Bagaimana untuk chap ini? Hina akhirnya hamil, dan sasu datang menemuinya, Hina takut kehadiran Sasu hanya untuk mengambil bayinya. Terima kasih reviewnya ya. Jika sempat ol kirim pesan, kita chat lagi. Hikari tunggu kabar kamu.

Winey chan : Salam kenal juga Winey-sa, terima kasih sudah bersedia baca fic abal Hikari.

Kumbangkambing : iya itu Sasu yang dateng, dari flashback Sasu di atas Hikari rasa sudah menjelaskan bagaimana Sasu bisa menemukan Hina dan tahu Hina hamil. Sejak sebelum sasu dateng sebenarnya Sasu sudah tahu Hina hamil, hanya saja karena Sasu masih ada pekerjaan dari bokapnya makanya belum bisa menemui Hina.

Nivellia Neil : iya itu Sasu yang dateng menemui Hina, Hikari rasa pemaparan di atas sudah cukup menjelaskan bagaimana Sasu bisa menemukan Hina dan datang ke sekolahnya, iya kemarin Hikari ada sedikit skip waktu, dan kecerobohan Hikari adalah lupa memberi keterangannya. Waktu Hina tahu dirinya hamil, waktu itu usia kehamilannya sedah 2 bulan 2 minggu, waktu ia melamunkan Sasu usia kehamilannya sudah 4 bulan dan saat Sasu datang itu usia kehamilannya 6 bulan. Terima kasih sudah mereview. Sepertinya akan ada, tapi bukan dari Sasuhina melainkan dari luar mereka. Di tunggu next chapnya ya.

Tsubasa Xasllita Dioz : terima kasih untuk pujiannya, iya akan Hikari coba perbaiki masalah typo dan peletakkan tanda baca, itu memang kelemahan Hikari selain kelemahan-kelemahan lain, hehehehe. Hikari sedikit ceroboh memang masalah itu, terima kasih banyak untk masukkan dan reviewnya, Hikari suka jika ada yang mengapresiasi karya Hikari, walaupun abal hehehehehe.

Triya Chan : iya Sasu memang mudah menggambarkannya, sedang Hina yang lemah lembut, baik dan penuh kasih agak sulit, tapi bagaimanamupun Hina juga manusia, punya hasrat, amarah dan keinginan, she's not angel but she's like angel jadi sifat manusia seperti marah, dan hasrat pasti juga Hina rasakan wah kok jadi gaje gini, jelasnya Hina begitu karena pengaruh sake, Sasu jahat kasih Hina sake. Hina kan cewe baik-baik. Mereka akan bersatu kok. Hikari ingin mereka bersatu.

Sana Uchiga : hallo Sana-san wah mereview lagi di chap ini, domo Arigatou ne... anaknya ntar kembar tiga hehehehe #bercanda, dari flashback di atas Hikari rasa sudah jelas bagaimana sasu bisa menemukan Hina, terima kasih sudah bersedia mampir di lapak Hikari dan bersedia mereview.

Zian : ini sudah di update Zian-san, bagaimana untuk chap ini?

Jolie Luv : wah Jolie-san hadir lagi dalam fic abal Hikari, terima kasih bersedia membaca dan mereviewnya, ini sudah di lanjut mohon direview kembali ya hehehehehe...

Saagara widya : iya itu Sasu Gaara-san, hehehehe ini sudah dilanjut.

Mona. Likha.7 : salam kenal juga mona-san, ini sudah Hikari panjangin ceritanya, dan terima kasih reviewnya.

Akira Fly : ini sudah diupdate, tepat seminggu baru Hikari bisa mengupdatenya, sepertinya konflik yang akan muncul masih belum bisa Hikari jelaskan, yang pasti mungkin itu bukan dari Sasuhina, melainkan dari orang lain, sementara baru itu yang terkonsep oleh Hikari. Terima kasih sudah mereview. Masalah akan sampai chap berapa, sepertinya tidak sampai 10 hehehehehe.

VilettaOnixLV : iya Hikari sempat menskip alurnya dan tidak menegaskan waktunya, gomen ne, iya itu yang datang adalah Sasu, hehehehe ini sudah di update, terima kasih reviewnya ya.

BommiePark24 : hehehehe iya maaf klo lemonnya kurang Hot, nanti Hikari akan coba buat yang lebih, mohon bimbingannya ya, hehehehe.

Azurradeva : Sasu tanggung jawab atau tidak kita lihat nanti ya hehehehe di chap berikutnya. Dari flashback Sasu di atas sudah menjelaskan bukan darimana Sasu tahu keberadaan Hina, terima kasih sudah mereview.

AyunSoraya : Hikari rencananya membuat mereka menikah, tapi entah kapan hehehehe, ini sudah di update, terima kasih reviewnya ya...

Momo : iya itu Sasuke Momo-san.

Yuemi : rencananya Hikari akan buat mereka nikah, tapi belum tahu kapan hehehehe, dan sepertinya akan happy ending.

Kirei-neko : bisa dunk, Sasuke kan Uchiha, dia bisa melakukan apa saja untuk menjapatkan apa yang diinginkanya, termasuk menemukan keberadaan Hinata. Masalah lemon, Hikari akan usahakan menampilkan yang lebih hot nantinya, semoga bisa hehehehe.

Tatsu Hashiru Katsu : salam kenal juga Tatsu-san, ini belum ending, nanti akan ada konflik diantara mereka, dan Tatsu benar yang datang adalah Sasu, wah terima kasih sudah menyukai fic abal Hikari, Dozo jika ingin follow dan fav fic ini. Domo arigatou ne untuk reviewnya.

J Vicko : wah terima kasih sudah bersedia baca fic abal Hikari ya dan untuk reviewnya juga.

Princess Aruni : ini sudah dilanjut Aruni-san. Hikari suka pennamenya, cantik.

N : terima kasih sudah membaca dan meriview fic abal Hikari, baca chap selanjutnya ya N-san, wah sepertinya antusias sekali reviewnya kemarin hingga panjang lebar seperti itu, tapi Hikari suka kok hehehehehe.

Mint Convallaris : entahlah, mungkin lagi musim Fic yang ceritanya Hina hamil, padahal g ada even ShL yang menggunakan tema pregnant atau hamil hehehehe, sudah, itu hanya hayalan Hikari saja, berdoa pada Tuhan semoga semua baik-baik saja, dan apa yang Mint-san takutkan tidak terjadi.

Ahmad Hyuuga : iya Hikari juga suka banget sama Hinata, apalagi kalau pasangannya adalah Sasuke, mereka cocok banget, ini sudah diupdate, terima kasih sudah mereview Ahmad-san.

RikaKhariana : jangan berfikir begitu, semua itu wajar saja kok, kalau masih gadis, tergantung kesibukan dan pikiran kita, Hikari juga sering seperti itu, Sasu tahu Hina hamil karena Sasu menyuruh orang memata-matai Hina.

Payung Biru : ini sudah di lanjut, bagaimana pendapatnya untuk chap ini? Mohon masukkannya.

Stacie Kaniko : maaf Stacie-san Hikari kurang paham dengan PM Stacie-san, tapi yang jelas Hikari seneng banget Stacie-san berkenan membaca, memreview dan mengapresiasi karya abal Hikari ini. Akan Hikari coba untuk lebih baik lagi pada chap berikutnya, bagaimana menurut Stacie-san untuk chap ini?.

Shusiechi Hiyonigara : sepertinya mereka akan nikah hehehehe, Sasu kan Uchiha dia punya banyak anak buah untuk mencari Hinata dan menyelidiki tentang Hinata. Hehehehehe.

Astia Morichan : ini sudah di lanjut terima kasih reviewnya.

: ini sudah di lanjut, terima kasih reviewnya, bagaimana menurut Susi-san untuk chap ini?.

Little Lily : Sasu kan Uchiha, dia punya banyak anak buah untuk mencari tahu tentang Hinata hehehehehe.

Ime : ini sudah di lanjut Ime-san, hanya seminggu kok baru bisa update, gomen ne...

Sabaku No Yuki : ini sudah di update, sasu tahu Hina hamil dari anak buahnya yang mencari tahu tentang keberadaan Hina. Pemaparan di atas semoga bisa penjelaskan.

Oryhaara Maia : ini sudah dilanjut, terima kasih sudah menyukai fic abal Hikari dan terima kasih juga untuk reviewnya.

Bagaimana menurut reader tentang chap ini? Apakah chap ini terlalu panjang dan berbelit-belit?

Mohon masukan dari reader, agar Hikari bisa memberikan yang lebih baik pada chap berikutnya.

Domoarigatou minna-san.