Chapter 3 updateee! Gomen, lama sekaliiii… ^_^
Pake acara amnesia! Sempet kehilangan inspirasi. Tapi don't worry! Kejedot tembok inget lagi... . GUBRAK! hahah
Ya sudahlah nikmati saja cerita gaje punya Mel ini, Readers terhormat, tercinta.. *ahh, rewel*
.
.
Title : SMA Shinigami vs SMA Arrancar
Desclaimer : Bleach Tite Kubo
Genre : Friendship,Humor
Cast : Khusus chapter 3, spesies Shinigami dan manusia aja yang ada... ^^
Warning : OOC, GaJe, and DLDR…! Maaf juga kalo ada typo. Jarang dilirik lagi sih kalo habis nulis
.
.
Chapter 3
"BLEACH CUP!" seru siswa-siswi kedua SMA terfavorit—alias SMA Shinigami dan SMA Arrancar disana—maksud disekolahnya masing-masing.
'Ya… hari yang aneh sekali kemarin,' komentar para siswa di benak mereka yang masih kesal. Tentu aja, acara yang datang gak diundang pulang gak diongkosin itu dikatain gak asyik sama mereka. Karena apa, jelas-jelas kalo bakalan ada lomba untuk mengikuti acara bergengsi—terkenal gitu loh mereka bakal ngadain persiapan oke. Tapi… baru juga masuk sekolah, otaknya masih pada kosong, kering kerontang, gak ada massa sedikitpun, polos, yaa—kayak gimana sih murid baru tuh… Oh My God! Langsung ditantang tanpa ampun. Bener-bener ngeselin para guru yang cocok dikasih predikat 'GILA' di sekolah itu!
Apalagi, yang lebih ngeselin tuh… udah seneng-seneng para siswa dapet kelas yang nyaman, khususnya yang udah gembira karena sekelas sama cowok-cowok keren yang sekarang udah kepilih jadi atlet. Tapi para atlet malah dipindahin kelasnya ke tempat yang lebih jauh dari kelas mereka. Dan tempatnya… enak, adem, luas, banyak tempat latihan olah raga, fasilitas lengkap langsung CLING ada, tapi—sepi, sunyi, sendiri, sehingga memungkinkan mereka akan kurang beradaptasi dengan murid-murid dari kelas lain.
Nah, bagaimana kondisi para siswa yang terpilih jadi atlet di setiap SMA itu…
Di SMA Shinigami…
"SIALAAAN! SIALAAN! SIALAAN!" amuk cowok berambut jeruk campur duren yang sejak pagi menggebrak meja dan pintu karena rasa kesal campur sakit hati nan kecewa yang luar biasa sudah menyesakkan dadanya.
"Tenang dikit dong, Ichigo!" seru pemuda berkacamata bernama Ishida disana.
"Apa katamu? Tenang? Hey! Aku udah seneng masuk ke sekolah ini dan jadi murid biasa. Tapi malah kepilih jadi atlet yang jelas-jelas gak penting banget!" amuk Ichigo dan pasang muka horror yang gak kalah ancur n berantakannya kayak zombie.
"Kamu itu bodoh atau tolol atau dua-duanya sih? Ngaca dong! BLEACH CUP! Itu tuh piala yang diidamkan oleh sekolah-sekolah terkenal. Kalo kamu menang dalam kompetisi itu…nanti kamu bakalan terkenal, tenar, dapat beasiswa, gratis ke luar negeri, dan keliling dunia!" balas Ishida gak kalah ngamuknya kayak Ichigo.
Tiba-tiba…
"WOY LO BERDUA BERISIK AMAT DARI TADI! BISA DIEM GAK SIH! KITA PENGEN TENANG!" seru cowok botak yang nampak geram mendengar keributan Ichigo dan Ishida.
"Emangnya kenapa? Gak usah ikut campur! Aku punya hak asasi buat ribut," sergah Ichigo yang kepalanya mulai panas mengalahkan suhu air mendidih dan mungkin telur ayam kampung plus telur dinosaurus bisa dimasak dikepalanya nyampe mateng plus nutrisi proteinnya ilang semua.
"APA LU BILANG? GUE JUGA PUNYA HAK ASASI BUAT DAMAI!" seru sang botak mengguntur.
"GAK USAH IKUT CAMPUR!"
Tapi… "KALO GITU NGACUNG YANG PUNYA HAK ASASI BUAT DAMAI!" seru lelaki pendek *Author dibekuin Hyorinmaru* yang sejak tadi berdiri di belakang si cowok botak. Otomatis semua murid-murid di kelas khusus para atlet mengacungkan telunjuknya tinggi-tinggi nyampe bikin Ichigo terasingkan—tapi tidak bagi Ishida, toh karena dia gak peduli. "Kalo gitu, diem lo! Gak usah bawel."
"E-eh," Ichigo kaget mendengar ucapan si cowok pendek itu *dibekuin lagi deh*.
"Hitsugaya bener. Lo diem aja!" kata si botak mendukung sepenuh hati cowok pendek bernama Hitsugaya itu. Ichigo mengernyit dan mencoba membalasnya, tapi perasaan sesak luar biasa di dadanya itu membuat ia pasrah en' nyerah.
"Ano, Kurosaki-kun. Sebaiknya jangan bertengkar. Kita kan sekarang pindah ke kelas baru yang lebih nyaman, juga dapet teman-teman baru. Seharusnya kita berteman akrab dengan mereka," kata gadis berambut senja, Orihime dengan nada halus nan ayu.
"Bener juga kamu," dukung Renji, cowok yang gaya rambutnya mirip nanas yang sejak tadi menatap keluar jendela dan melihat-lihat pemandangan taman SMA Shinigami yang indah dipenuhi oleh bunga-bunga dan rumput ilalang.
"Semuanya, kenalkan… aku Orihime Inoue. Salam kenaal!" kata gadis bernama Orihime itu memperkenalkan dirinya dengan wajah penuh keceriaan layak matahari yang memancarkan sinar hangatnya kepada teman-teman kelas barunya.
"Aku Renji Abarai… Salam kenal!" kata Renji nyengir lebar.
"Ikkaku Madarame," kata sang botak sembari menyeringai dan mengayunkan pedang kayunya.
"Yumichika Ayasegawa," cowok cantik yang satu ini mulai menunjukkan ekspresi feminimnya.
"Hitsugaya Toushirou," kata Hitsugaya cuek.
"Uryu Ishida," kata Uryu sambil membetulkan posisi kacamatanya.
"Ichigo Kurosaki. Salam kenal," kata Ichigo dengan muka masam.
Sesi perkenalan beberapa murid yang berkumpul disana *yang lainnya pada sibuk sendiri* berjalan dengan penuh keributan. Habis cowok-cowok tampang liar, brutal, ganas dan menyebalkan berkumpul disana. Ya, walau begitu sih—mereka punya bakat sampai kepilih jadi atlet. Sampai-sampai...
"LATIHAN DIMULAAII!" seru bapak Kenpachi Zaraki yang tiba-tiba datang dari arah pintu sambil pasang muka horror. Eh—ternyata bukan bapak bertampang mengerikan itu saja yang datang. Pak Shunsui dan Pak Mayuri juga datang.
"Ayo cepat, Nemu, Uryu! Kita latihan di lab sekarang!" perintah pak Mayuri dengan muka horror.
"Momo dan Orihime ku sayaaang! Ayo kita latihan nyanyiii!" kata pak Kyoraku genit.
'Ah lagi-lagi kiamat sugro datang,' batin para siswa.
"CEPAAAT! JANGAN LELEET!" seru pak Kenpachi mengguntur dan hampir membuat angin ribut lokal yang bisa menerbangkan apapun di depannya dengan kecepatan 1 km/s.
Dengan langkah tidak niat dan tidak ikhlas, para murid nurut saja. Tapi ada yang pasang muka ceria kayak Orihime dan Momo, ada yang datar kayak Hitsugaya dan Uryu, dan semuanya didominasi oleh tampang kusut lantaran emang gak niat tuh.
.
Di labolatorium sekolah...
Uryu merinding pas masuk ke dalam labolatorium. Ya iya, siapa yang gak merinding sih kalo liat sederetan penemuan aneh kayak—kadal kulitnya lembek gak ada tulangnya di dalam toples, terus ular Anaconda yang bisa gonta ganti warna kayak bunglon, dll. Keliatan sadis banget tuh guru nyampe tega bikin hewan-hewan itu sengsara. Dengan ini Uryu sepakat kalo pak Mayuri emang pantas dijuluki 'ilmuwan gila'.
"Nah inilah surga kita..." kata pak Mayuri setelah membuka sebuah pintu disamping lemari yang penuh dengan berbagai macam larutan kimia.
'Surga apanya? Yang ada aku merinding'
Eng ing eng... ternyata dugaan Uryu meleset. Tempat itu rupanya—nyaman bangeeet! Ruang belajar kelas eksekutif! Ada AC, kulkas, TV, dll semuanya ada. Di pojok kanan ada 3 rak buku yang semuanya tentang Sains. Haduh, ternyata bener surganya anak-anak pinter.
"Ayo kita mulai latihan soal," kata pak Mayuri.
"Baik, Mayuri-sensei..." ujar Nemu datar.
'Sial.'
.
"Ini dia surga kita... tadaaa!" seru pak Shunsui setelah membuka pintu besar bermotif bunga.
"Waaah..." Orihime dan Momo terkesima melihat seisi ruangan yang amat indah itu. Ya, ruang musik berjuta pesona. Ada grand piano, biola, bla bla macam-macam alat musik dari tradisional *nyampe dari Indonesia juga ada tuh* tersedia disana. Tempat rekaman, ruang karaoke, aduh kayak jadi artis mendadak aja pas masuk ruangan itu. "Keren!"
"Adik adik manis, kalian boleh berbuat apa saja sesuka kalian disini," kata pak guru tersenyum genit. Hmm, senyum itu sudah jadi ciri khasnya kalo deket sama anak cewek.
"Ya." Orihime dan Momo tersenyum manis bagai bidadari. Dan hal itu bikin sang bapak kelepek-kelepek—ujungnya jatuh pingsan saking terpesonanya.
"Shunsui-sensei!"
.
"Anak-anak, kita disini punya misi. Punya tujuan. Kita bermain untuk meraih kemenangan. Karena itu, kita harus bermain dengan semangat!" kata pak Kenpachi menggema di aula lapangan basket.
Hening.
"Hey! Kalian ini apa-apaan sih? Mana dong ekspresinyaaaa?" guru bermata satu itu protes lantaran tidak ada ekspresi semangat dari murid-murid kesayangannya.
"Semangat!" kata para atlet basket dengan tidak ikhlas.
"KURAAANG!"
"SEMANGAAAAT!" spontan para atlet teriak dengan volume super duper dashyat ngebass nyampe tanah bergetar kayak kebanjiran reiatsu.
"Bagus. Nah, sekarang—kita mulai latihan ces pass."
.
Istirahat telah tiba. Di dalam gedung kelas para atlet, dua orang gadis berjalan menyusuri koridor. Mereka berdua murid kelas reguler.
"Kita mau ke kelas para atlet. Aduuuh... aku gak siap. Itu kan kelas elit," keluh seorang gadis bernama Rukia.
"Mau elit kek, mau terpandang kek, gak peduli. Toh aku ada urusan sama para atlet, khususnya si botak dan nanas itu," ujar teman baru sekelas Rukia bertampang China itu dengan ketus.
"Emang ada urusan apa sama Ikkaku dan Renji?"
"Nagih hutang!"
"Emang mereka ngutang apaan?"
"Hampir semua tim basket ngutang pulsa, ditambah si botak dan nanas nganjuk nasi kotak 20ribu, sama buku paket Matematika seratus ribu,"
"Ya ampun! Sejak kapan kamu jadi rentenir?"
"Sejak mereka diepet pas malam jum'at kliwon."
Kedua gadis itu melewati pintu besar yang menghubungkan koridor dengan aula lapangan basket. Untung saja dekat. Mereka bisa mendengar suara para atlet basket yang lagi asyik latihan. Tapi mendadak mereka jadi merinding pas denger suara guru ganas jejeritan penuh semangat membara.
Baru saja kedua gadis itu melangkah 2 meter dari pintu masuk, tiba-tiba...
"TUKANG NAGIH PULSA DATANG!" seru Yumichika.
DOONG! Semuanya kaget denger suara gagah si Yumi yang merupakan cowok cantik satu-satunya di kelas eksekutif. Bahkan Ichigo yang sudah melompat untuk memasukkan bola ke ring jadi kaget setengah mati. Dia mendadak jatuh, dan bolanya—kelempar gak sengaja. Nyamber siapa tuh bola?
Bola melesat secepat kilat dan, JDUAGH! Berhasil meninggalkan memar parah di wajah Rukia. Tuing~~Gubrak! Rukia langsung jatuh pingsan.
"Heeeh kamu yaa, tanggung jawab!" protes Soifon panik.
"A-anu..." Ichigo gelagapan. Ga bisa ngomong apa-apa. Ya iyalah shock.
"Rukia, are you okay?" tanya Renji, Ikkaku, dan Yumichika kompak.
Mendadak pak Kenpachi naik pitam. "TETAP SEMANGAT LATIHAN!" serunya mengguntur.
Tapi, "Eh pak, masa gitu? Teman aku jatuh pingsan gara-gara si jeruk itu. Masa dibiarin. Itu gak bertanggung jawab namanya," protes gadis berwajah China ini.
"Kamu mau ngelawan ya?"
Beruntung Soifon anak pemberani. "Ini bukan ngelawan namanya. Tapi meminta pertanggung jawaban cowok itu." Soifon menunjuk Ichigo.
DUGH. Guru ganas itu kini tepat berada di hadapan Soifon sambil memamerkan muka tersangar miliknya. OMG, sang guru hendak menghajar Soifon dengan tinju supernya. Tapi, Soifon segera menghindar dengan cepat, kemudian membalasnya dengan tendangan super.
Baru saja ia mau menendang, kakinya sudah ditahan oleh guru ganas itu. "Kamu jago bela diri ya," kata pak Kenpachi senyum iblis. "Kalo begitu, ya deh. Aku izinkan."
Soifon melong. Tim basket SMA Karakura sweatdrop.
"Ichigo, bawa dia ke UKS!" perintah pak Kenpachi.
"I-iya, pak." Ichigo terbata-bata. Tanpa berlama-lama dia langsung menggendong Rukia dan membawanya ke UKS terdekat.
Satu tim basket bisik-bisik. "Pak Kenpachi bakal lunak sama cewek yang pinter bela diri ya?"
"WOY NGAPAIN? CEPET LATIHAAN!" amuk guru ganas itu.
Tapi, "Pak minta waktunya bentar boleh?" ujar Soifon.
"Oh, silahkan." Pak Kenpachi mempersilahkan.
Segera Soifon mengumpulkan suara, kemudian berteriak, "YANG BELUM BAYAR PULSA, CEPETAN BAYAR! DAN KEPADA IKKAKU DAN RENJI, LUNASIN HUTANG LO!"
"APA! ATLET BAPAK NGANJUK! WOOY, BAYAAR!" Pak Kenpachi malah mendukung.
"I-iya, pak," kata satu tim pasrah.
.
Rukia membuka kedua matanya. Yang ia lihat bukanlah lapangan, tapi tirai putih dan rak obat. Ya, tercium bau minyak kayu putih. Tapi bukan itu saja. Entah kenapa wajahnya—khususnya hidungnya terasa sakit. Ada bau betadine dari wajahnya itu. "Dimana aku?" tanyanya.
"Kamu ada di UKS," kata sebuah suara. Suara perempuan.
"Untung gak kenapa-napa," tambah sebuah suara lagi. Suara laki-laki.
Rukia geram mendengar ucapan laki-laki itu. "Apanya yang nggak apa-apa? Muka aku sakit nih."
"Untung gak separah yang aku kira, bloon!" akhirnya Ichigo menampakkan wujudnya *emang hantu* dari balik tirai. "Kalo nyampe hidung lo potong baru parah."
"Kamu kan atlet basket? Kenapa bisa disini? Te-terus kenapa aku bisa disini? Hidung aku juga kok bisa sakit?" tanya Rukia panik.
"Tadi tanpa sengaja aku ngelempar bola dan kena muka kamu. Terus kamu langsung jatuh pingsan," jawab Ichigo dengan tenang.
"Eeeh! Jadi ini gara-gara kamu? Sakit tau!"
"Aduh, jangan berisik di UKS ya!" pinta seorang siswi yang duduk disamping Rukia sambil membereskan kapas. Tampaknya dia yang merawat Rukia selama ia pingsan.
"Kamu siapa?" tanya Rukia.
"Oh, namaku Isane Kotetsu. Senior kelas dua," kata Isane memperkenalkan diri.
"Eh, kakak tuh kakaknya Kiyone ya?"
"Iya."
"Kenapa kakak bisa ada disini?"
"Biasa, kakak kan PMR. Harus mengurusi orang yang sakit."
Tiba-tiba dari arah pintu, "RUKIAAA!" seru teman-teman sekelas Rukia.
"Eeh, Soifon, Kiyone, Hanatarou," tersentak Rukia saat melihat ketiga temannya datang.
"Untung kamu gak kenapa-napa. Makasih ya kak! Kakak baik banget udah ngerawat temen aku," kata Kiyone.
"Sama-sama adikku tersayang! ^^ Kakak mau pergi dulu ya. Ada rapat OSIS."
"Iya, dah kakak...!"
Setelah Isane pergi dari ruang UKS itu.
"Woy, lo belum keluar juga dari sini?" tanya Soifon pada Ichigo yang dari tadi menatap Rukia.
"Aku cuma mau minta maaf sama kamu," kata Ichigo. "Maaf ya!"
"Enak aja minta maaf! Kalo hidungnya nyampe pesek, aku hajar kamu!" protes Soifon.
"Iya dimaafin. Tapi kalo keulang lagi, aku botakin kamu!" kata Rukia.
Ichigo mengernyit. 'Yang bener aja. Kalo gue botak, fans gue ilang dong.'
"Waaaahh... nama kamu Ichigo Kurosaki yaa? KEREEEN!" Kiyone menjerit dengan mata yang berbinar-binar. Oh iya, dia kan ngefans berat sama Ichigo. *ditendang, aslinya sama Ukitake-taichou*
"Eeeh!" Hanatarou kaget. "Beneran yang ini Ichigo? KEREEEN!" jadi deh ikutan ngejerit.
'Aduh, gak enak juga ya kalo diteriakin sama fans.' Ichigo jadi berubah pikiran soal fans.
Tiba-tiba dari arah pintu lagi, "WOY ICHIGO! CEPET LATIHAN! LU MAU DIBUNUH PAK KENPACHI?" suara seorang cowok—ya cowok botak ngamuk depan pintu.
"Eh, latihan lagi?" tersentak Ichigo.
"Ya iyalah. Lu bolos 2 jam gara-gara nungguin tuh midget. Emang si bapak liar itu bakal ngampunin lo?"
"GUE GAK MIDGET, BOTAK BEGOO!" geram Rukia. "Gue aduin ke kakak gue."
"Aduh, masih pake ngadu segala."
"Kalian saling kenal?" tanya Ichigo.
"Ya iyalah, dia kan teman SMP gue!" kata Rukia dan Ikkaku kompak pake nafsu lagi.
"Buset dah, jangan ngamuk gitu dong!" kata Yumichika. Ohh—rupanya gak cuma Ikkaku doang yang datang. Si cowok cantik dan rambut nanas turut hadir disana.
"Kalian baik banget ya, mau ngejemput aku," kata Ichigo percaya diri.
"Mending ngejemput pak Kenpachi daripada elu jeruk!" ledek Renji. "Eh Rukia, kamu gak napa-napa?" sambungnya bertanya pada Rukia dengan so khawatir.
"Gue gak napa-napa. Tapi hukum dia dong yang udah bikin gue babak belur gini!" kata Rukia.
"Seenaknya lo ngadu!" protes Ichigo.
"Hahaha, gampang! Ntar juga dia dikasih hukuman sama pak Kenpachi," ujar Renji dengan ringan.
"Napa lo malah ngedukung dia sih?" protes lagi Ichigo. Bener-bener merasa diinjak-injak harga dirinya.
Lagi asyik ribut, tiba-tiba suara pak Kenpachi yang mengalahkan toa udah kedengaran lagi. "LATIHAAN!" serunya, dan bukan mengguntur lagi—udah tipe ledakan bintang. Mereka gak tau itu suara datang dari mana. Gak mungkin kan, si bapak itu makhluk gaib bisa ngilang and gak keliatan?
Gak usah mikir lagi. Tim basket SMA Shinigami langsung cabut-go to lapangan basket buat latihan ekstra. Demi Bleach Cup!
"Kasian ya, tim basket. Latihan keras melulu," komentar Rukia.
"Tapi kan itu demi kemenangan SMA Shinigami!" bantah Kiyone.
"Itu derita mereka..." kata Soifon gak mau tau.
.
Tak terasa, sudah hampir lima setengah bulan berlalu. Ya, tinggal seminggu lagi *cepet bangeeet!*. Para atlet SMA Shinigami sudah latihan selama lima bulan penuh, sehingga kemampuannya terus bertambah. Ya, setara dengan yang proffesional. Gak hanya kelebihan mereka yang tambah hebat. Tapi—ada juga gosip cinta yang beredar nyampe jadi headline mading. Parah!
Kelas Sains, aduuh kayaknya Uryu sama Nemu makin deket deh! Tiap hari belajar bareng, praktek sains bareng, nyampe makan ke kantin bareng. Ada gosip beredar—kalo mereka berdua jadian. Tapi pas ditanya...
"Kami cuma teman," kata Uryu pas digodai oleh cowok satu kelas.
"Masaa siih? Tapi aku liat kalian berduaan terus..." goda Renji.
"Toh emang cuma aku sama Nemu doang yang bakal ikut lomba sains," bantah Uryu.
Tiba-tiba, "Kok wajah Nemu merah ya?" Orihime keceplosan ngomong.
"TUH KAN! KALIAN EMANG JADIAN!" seru Ikkaku.
"Eeh!" wajah Uryu memerah deh. "Sumpah! Kita gak jadian!"
"Berarti PDKT ya?" kata Kira.
"BERISIIK!" geram Uryu dan langsung pergi ke luar kelas.
Wah, kedekatan mereka bikin penasaran tuh. Well, kita lanjut ke kelas musik saja. Di kelas musik, hemm... ada gosip beredar lagi. Ternyata Hitsugaya yang dikenal pendiem, cuek gitu—kalo pulang latihan basket sering kepergok lagi nguping Hinamori yang lagi nyanyi di ruang musik berjam-jam.
"Heh Toushiro, kalo kamu suka Momo, tembak aja!" saran Yumichika.
"Apaan sih?" bentak Hitsugaya ketus.
"Iya tuh. Takut Momo keburu direbut orang lain. Dia kan manis. Kalo direbut kakak kelas gimana?" goda Uryu.
"Iya. Tembak aja! Mumpung dia jomblo tuh," saran Hisagi.
"KALIAN INI APA-APAAN SIH?" amuk Hitsugaya.
Tapi, "Tau gak kalo Ichigo jadian sama Momo." Renji nyamber.
"HAH? YANG BENER?" wajah Hitsugaya jadi pucat pasi, kaget setengah mati dan dijamin cemburu.
"Tuh kan. HITSUGAYA CEMBURU!" seru Ikkaku.
"KALIAN BERISIK! DIAAM!" geram Hitsugaya karena merasa dipermainkan.
Kalau di tim basket, gosip cinta nyamber kesana kesini. Padahal cuma minta foto bareng, tapi udah digosipin pacaran. Yang foto bareng banyakan. Bisa dibayangkan kalo pemain basket ini dikatain playboy. Aduuh! Persaingan untuk mendapatkan cowok atlet basket tuh ketat banget!
Jadi, gak ada satu cowok pun yang digosipin pacaran. Alasannya karena cewek yang digiringnya beda-beda tiap hari. Kecuali Hitsugaya yang udah jatuh cinta sama cewek lain dan Ichigo yang emang alergi kalo udah ketemu fans.
.
Tiga hari menjelang lomba...
"Gawat, Yamamoto-sama! Tadi kami baru saja menerima telepon dari Hirako-sama kalau memasak dan dance akan dilombakan," kata Kyoraku-sensei.
"APA! Kenapa baru bilang sekarang?" Kepsek Yamamoto protes.
"Entahlah. Tapi Hirako-sama bilang kalau kita tidak mengirim murid yang ikut lomba kedua bidang itu, kita dinyatakan gugur," jawab Kyoraku-sensei.
"Ya. Ini sudah keputusan dari Akademi Visored. Mereka juga minta maaf karena acaranya mendadak," bela Ukitake-sensei.
"Hmm... baiklah. Demi harga diri SMA Shinigami, kita akan mengirim murid untuk ikut lomba memasak dan dance," ujar Kepsek Yamamoto.
"Tapi, kita belum mengadakan kompetisi untuk memilih siswa-siswi yang terbaik," bantah Kyoraku.
"Kalian sudah mengajar selama lima setengah bulan. Aku yakin kalian tahu siapa saja murid-murid yang pantas mengikuti lomba tersebut."
Kyoraku dan Ukitake saling pandang. "Ya, baiklah, Yamamoto-sama."
.
Pulang sekolah...
"Pengumuman. Kepada Rukia Kuchiki, Tatsuki Arisawa, Soifon, Kiyone Kotetsu, dan Sentaro Kotsubaki, harap segera kumpul di aula gedung utama kelas eksekutif sekarang. Terima kasih." Sebuah pengumuman terdengar dari speaker yang dipasang di seluruh kelas. Serentak kelima murid yang dipanggil tadi bergegas melangkah ke gedung kelas eksekutif yang terlihat mewah.
"Ada apa sih kita dipanggil segala?" tanya Rukia.
"Mana aku tahu," jawab Soifon ketus. "Aku pengen pulang."
"Apalagi nyampe ke gedung kelas eksekutif," tambah Tatsuki.
Sesampainya di aula...
"Selamat datang, Kuchiki, Arisawa, Soifon, Kotetsu dan Kotsubaki," sambut Pak Ukitake tersenyum ramah.
Ah, ternyata tidak hanya ada Pak Ukitake. Disana juga ada Pak Kyoraku, Pak Kenpachi, Bu Unohana, Pak Mayuri, seluruh peserta ajang Bleach Cup dan Kepsek Yamamoto. Ada apa ini ya?
"A-anu, kenapa kami dipanggil kemari?" tanya Kiyone.
"Nanti kalian akan tahu," jawab Ukitake-sensei. "Silahkan kalian ikut berbaris disana."
"Ah, itu Tatsuki-chan!" Orihime kaget melihat sahabatnya datang.
"Sebenarnya disini ada apa, Orihime?" tanya Tatsuki.
"Kita lagi diberi pengarahan oleh Kepsek Yamamoto untuk menghadapi Bleach Cup nanti."
"Te-terus kita dipanggil..." belum Rukia menyelesaikan kalimatnya, bapak kepala sekolah sudah memotongnya.
"Kalian berlima yang baru datang, harap berdiri di depan!" perintah sang kepsek. Kelima murid kelas reguler itu menurut. "Nah, mereka adalah teman baru kalian di kelas eksekutif ini."
"EEH!" kelima murid kelas reguler itu kaget. 'Teman baru kelas eksekutif' Itu berarti mereka masuk kelas eksekutif kan? Tapi kalau masuk kelas itu, bukannya hanya peserta Bleach Cup? Mereka kan bukan peserta Bleach Cup.
"Tu-tunggu pak. Kenapa kami jadi masuk ke kelas eksekutif?" tanya Rukia.
"Atas kesepakatan para guru, Rukia Kuchiki, Soifon, dan Tatsuki Arisawa, kalian terpilih untuk mengikuti lomba dance. Kami sudah lihat kemampuan kalian saat di tes senam, menari dan olah raga. Kalian benar-benar berbakat. Lalu Kiyone Kotetsu dan Sentaro Kotsubaki, kalian terpilih untuk mengikuti lomba memasak. Kalian berbakat," jawab Kepsek Yamamoto.
"Ka-kami terpilih?" tersentak kelima murid itu.
"Ya. Tiga hari lagi kita akan bertanding melawan SMA Arrancar. Oleh karena itu, persiapkan diri kalian! Jangan biarkan sekolah kita kalah oleh mereka! Kita harus menjadi pemenang! Nyalakan api pertempuran dalam diri kalian!"
"Baik!" seru para peserta. Bahkan kelima murid kelas reguler terbawa suasana semangat itu.
.
To Be Continued
.
Itulah kegiatan di SMA Shinigami. Nah, bagaimana dengan SMA Arrancar? Kita tunggu di episode berikutnya ^^
.
Huuft, akhirnya selesai chapter 3 *kipas-kipas*
Maaf ya Readers, tidak sesuai dengan keinginan, juga tidak sesuai dengan kilasan yang tertera dibawah Chapter 2. Well, kepanjangan nantinya. Jadi Mel buat yang pendek sajjoo :D
Pairing juga baru dikit niihh... well mau balas review dulu
Hotaru Jeagerjaquez : Duh, maaf baru bales sekarang ^^ Habis dulu mel baru-baru di FFn, dan gak tau bales review-nya harus gimana. Tenang kok, Ichigo udah dimunculin! *telaaat* hehe
Chacha d'PeachyxSuika Lovers : Makasih udah ngunjungi fic aku ini ^^ Pairingnya—tutup mulut! Takut bocor! Hehe, wah makasih banget udah di fave. Maaf juga nih pairingnya baru dikit. Abis udah keburu lupa, maklumi Mel yang amnesia ya ^^!
All right, lady and gentleman... jangan lupa review yaa! Repiuu repiuu XD
