Story by: insa123

Don't dare to copy paste my work!


Ketika mereka masuk ke dalam ruang tunggu, Jungkook dengan lembut mendudukkan Jimin di sofa panjang. Ia menggeser tubuh Jimin sedikit sebelum kemudian duduk di sampingnya.

"Jungkook, agak sempit di sini. Pergi duduk ke sebelah sana. Aku tahu kau masih mengantuk." Jungkook segera menggelengkan kepala tapi tetap menyandarkannya di atas bahu Jimin, satu tangan yang lain menggenggam tangan Jimin, untuk meyakinkan hyungnya bahwa ia akan ada di sana. Sejujurnya, Jimin suka perhatian Jungkook, suka bagaimana Jungkook menjaganya, dan ia memuja Jungkook dengan rasa sederhana ketika bocah itu mau mendengarkan protesan Jimin sepanjang ia mencoba untuk membantu dengan alasan, hyung kau sakit, jadi diam saja dan biarkan aku menolongmu.

Jungkook memang menggendongnya sepanjang jalan menuju ruang tunggu begitu hendak keluar dari van. Kursi roda yang dijanjikan tak datang- rupanya banyak orang sakit di hari itu karena kursi roda yang tersedia sudah diambil semua, padahal ada 70 lebih jumlahnya. Jimin tahu ia masih dapat berjalan namun mungkin sangat lambat, tapi Jungkook berinisiatif untuk menggendongnya, berkata bahwa mereka akan ketinggalan pesawat jika kecepatan jalannya setara dengan merangkak seperti kura-kura sementara orang lain seperti kelinci yang melompat-lompat. Komentarnya itu bisa jadi kelewat kurang ajar dan sedikit kasar tapi sebenarnya tidak begitu jika Jungkook nyatanya sangatlah ingin menggendong Jimin, bukan apa-apa, tapi karena aku lebih kuat dari Yoongi hyung dan Taehyung hyung, dan Hoseok hyung belum sampai sini, dan Namjoon hyung serta Seokjin hyung sibuk mengumpulkan passport semua anggota jadi biarkan aku membawa Jimin hyung ke ruang tunggu. Jungkook terdengar sangat keras kepala ketika menyatakan hal itu keras-keras.

Dan tidak ada seorangpun yang menyangkalnya.

Jungkook kemudian mengangkat lengan Jimin supaya melingkar di lehernya, siap untuk menggendong namun cepat-cepat berhenti ketika Jimin mengeluarkan rengekan beralasan, kau terlalu dekat Jungkook-ah, bagaimana jika tertular sakit?

Dan well, hyung kau sedang sakit, jadi tutup mulutmu dan biarkan aku menolong-

yang mana membuat semua orang terkejut karena sungguh itu bukan karakteristik tingkah laku Jungkook kepada Jimin. Tapi, ini Jiminie hyung, Jiminie hyung miliknya.


Jungkook bertingkah terlihat mengantuk hanya untuk menutupi kecanggungan diri. Ia tidak tahu bagaimana mempertahankan topik pembicaraan yang baik dengan Jimin tanpa meninggalkan kata-kata pedas di sana sini, dia hampir selalu menggoda dan Jimin tahu itu, dan Jungkook tahu jika Jimin tahu. Tapi sekarang, sekarang, ia merasa tidak ada keinginan untuk menjahili Jimin, karena walau ia mengunci tangan Jimin, itu terasa menggigil, bergetar, dan terasa hangat, terlalu hangat jika digolongkan sebagai penyaman Jungkook.

"Hyung, kau baik-baik saja?" Jungkook memandang Jimin intens. Ia bisa melihat jika Jimin mencoba keras untuk menahan rasa sakit.

"Yeah, aku baik… Hanya sedikit pusing."

Jungkook berputar untuk duduk di sofa seberang melewati Jimin, pelan dan hati-hati Jungkook membawa tangannya menuju dahi Jimin, menyentuhnya sedikit. Terasa panas.

"Kau terlalu panas, hyung." Jungkook membisik lembut, dan Jimin tertawa.

"Aku tahu sayang, ini bukan berita baru." Cengirannya melebar.

Jungkook mendengus, tangannya masih betah menyentuh dahi Jimin, mengusapnya hati-hati seolah Jimin adalah benda berharga, sebuah porselen yang bisa pecah suatu waktu jika Jungkook menyentuhnya sedikit lebih kasar, sedikit lebih terburu-buru- tidak, Jimin hyung itu berharga, terlalu berharga untuk Jungkook menyadarinya.

Jungkook berhenti menggoda seiring dengan senyum yang hilang dan alis mengerut.

Jungkook menurunkan jemari dari dahi Jimin sebelum mengusap lembut pipinya. Sangat halus dan hangat.

Jungkook tahu jika Jimin tengah berjuang dengan rasa tidak nyamannya akibat pergelangan kaki yang terkilir dan demam yang mungkin atau tidak mungkin dideritanya sekarang tapi ketika Jimin menikmati tangan yang menyentuhnya, mata Jungkook melebar sedikit kemudian hampir tersenyum begitu ia lanjut mengusap-usap Jimin lagi, sekarang dengan dua tangan yang menangkup sepasang pipi itu. Ibu jarinya menyentuh tulang pipi, merembet hingga ujung hidung dan merasakan dengusan kecil dari empunya. Mata Jimin tertutup sekarang bersama dengan hela nafas yang teratur, bahkan hampir tak terasa. Jungkook menghela nafas lega dan membawa dahi Jimin mendekat, bersentuhan dengan dahinya. Kelembutan itu membuat mata Jimin terbuka kaget hingga keduanya saling berpandangan sesaat hingga-

"Hyung, kurasa kau sangat panas."


-TBC-


Sampai jumpa besok jumat XD