Heart Paralyzed
Chapter 3
.
.
.
Hari sudah beranjak sore. Len masih memilah-milih, bunga mana yang akan dia pilih. Namun, beberapa kali Len melamun dan melamun. Si pemilik toko bunga itu heran akan sikap pemuda itu yang sudah hampir dua jam memilah-milih bunga.
"Tuan, ingin bunga apa?" Tanya si pemilik toko itu dengan nada sedikit cemas.
Len tersadar dari lamunannya, "Um… aku ingin membeli…" Len terdiam lagi dia menatap lirih pada buket bunga lily. Tanpa sadar, dia menyentuh baket bunga ini. Tersenyum pedih. Bunga itu memaksanya untuk mengingat sesuatu…
"Hei! Bocah pirang! Coba liat, ini!" panggil seorang gadis yang sebaya dengan Len.
"Oi! Jangan panggil aku, bocah pirang lagi!" kata Len sambil memajukan mulutnya beberapa senti.
"Hihihi! Eh, coba lihat ini!" gadis itu memperlihatkan sekuntum bunga.
"Bunga lily? Dari siapa?" ujar Len.
Gadis itu tersenyum lebar, "Katanya dari kedua orang tuaku. Apa nanti, mereka akan pulang ke sini? Hmm… aku senang sekali! Mulai sekarang, bunga kesukaanku adalah bunga lily!"
"Pak, saya ingin membeli buket bunga ini," ujar Len masih menatap buket itu.
Setelah Len membeli buket bunga itu, Len menuju motornya yang terpakir di depan toko itu. Kebetulan, Miku baru datang ke toko bunga itu.
Agak lama kemudian dia baru menyadari ada Len, "Hei! Kau!" panggilnya. Tapi Len tak mendengar dan langsung tancap gas membawa motornya pergi ke suatu tempat. Miku hanya menghela nafas.
"Nona, ingin bunga apa?" Tanya si penjaga toko.
"Mmm…" mata Miku menjelajahi satu per satu sudut toko itu, mencari bunga yang dia mau. "Ah! Itu dia! Aku ingin bunga yang itu!" serunya menunjuk salah buket bunga yang tertonggok di atas meja.
"Bunga matahari?" ucap penjaga toko memastikan. Kemudian mengambilnya, setelah Miku mengangguk dengan semangat dan mantap.
.
.
.
Len sampai di suatu tempat. Tempat itu sepi dan tak banyak kendaraan yang lalu lalang di situ. Ini adalah sebuah pemakaman. Tempat di mana seseorang yang dia kenal beristirahat selama-lamanya. Tepat hari ini, adalah peringatan empat puluh hari kematiannya.
Langkah kaki pemuda berambut pirang itu terasa berat. Setiap langkahnya mengingatkan akan kenangan yang pernah dia lalui bersama dia. Rasanya terlalu cepat gadis itu pergi. Rasanya seperti mimpi. Mimpi buruk Len.
Dia menghentikan langkahnya. Dia sudah sampai. Ya, dia memang sudah sampai. Hati Len terasa ngilu, melihat batu nisan bertuliskan, 'Reap in Paradise, Najima Gumi.'
Len membersihkan batu nisan dari dedaunan kering yang berada di atasnya. Dia mengusap pelan pada nisan itu. Dia menggigit bibir bawahnya menahan suatu perasaan. Kemudian dia letakkan lily putih di depan nisan itu. Lalu, berdoa sebentar. Tanpa sadar, air matanya sedikit membasahi pelupuk matanya.
"Hai! Gadis, bodoh!" sapanya, seakan seorang Najima Gumi ada di hadapannya.
"Apa kabar?" Tanya memulai monolog yang dia buatnya sendiri.
"Ini bunga kesukaanmu 'kan?" Len menyentuh kelopak lily itu, "Ku harap kau mau menerimanya dengan senang hati…"
Len menghela nafas dengan keras, "… Ternyata berat…" gumamnya pelan.
"Kukira aku akan senang kalau kau mati…" ucapnya. "… Aku salah…"
Perasaan sedihnya meluap dengan deras. Dia memeluk batu nisan itu. Kemudian menempatkan dagunya di atas batu nisan itu, "Kau baik-baik saja 'kan? Apa kau makan dengan teratur? Kedua orang tuamu bagaimana, apa mereka mengunjungimu? Siapa saja yang mengunjungimu? Akh! Aku mulai gila!
"Ini karena kau! Masuk ke dalam kehidupanku merusak segalanya! Dan pergi dengan cepat, seperti mimpi buruk bagiku! Kau… Membuatku selalu kesal!"
Len menangis tanpa suara. "Apa sekarang kau senang? Melihatku seperti orang yang menyedihkan!?"
Kemudian, hening melanda. Begitu hening, bahkan bisa mendengar suara angin yang berhembus dengan sangat pelan. Gak lama, keheningan itu dirusak oleh suara ponsel Len yang berdering.
Dengan malas, Len merogoh ponselnya yang berada dalam kantung celananya. "Halo," jawab Len, ketika dia mengangkat panggilan teleponnya.
"Kau di mana?" Tanya yang disebrang dengan suara menyelidik.
"Makam," jawab Len dengan nada datar.
Terdengar sebuah helaan nafas keras dan sedikit dengan nada kesal, "Heh! Kau ini! Aku tau, ini hari peringatan dia! Tapi, jangan jadi cengeng, bodoh! Kau tidak usah memikirkan dia lagi…!"
Telinga Len terasa panas. Tapi, dia tidak bisa mengatakan sepatah kata pun.
"Kau! Jangan mudah untuk pasrah pada keadaan! Ingat, yah! Kalau kau seperti ini terus, aku akan menjodohkanmu dengan anak temanku, Sukone…"
"HEI! Apa hakmu?! Kau tak berhak menjodohkanku dengan dia!" selak Len dengan nada yang meninggi.
"Lantas?! Kau seperti ini terus. Bertingkah seperti orang yang paling menyedihkan di dunia. Menjadi seorang laki-laki yang cengeng! Jika dalam seminggu kau tidak menemukan pasangan, ayah akan menjodohkanmu dengan Sukone Tei! Titik!"
Dan sambungan telepon terputus. Len membanting kesal pada ponselnya. Dia mengerjap pelan. Dia tahu, ayahnya tidak ingin dia terjatuh terlalu dalam. Dia juga tahu, setelah lulus SMA dia akan kuliah dan juga bekerja di perusahaan ayahnya, demi kemajuan perusahaan.
Sukone Tei, gadis yang ayahnya jodohkan dengannya itu, merupakan perjodohan secara bisnis. Ayah Tei bisa saja menjadi sponsor besar, jika mereka menikah. Bagi ayah Len, uang dan kemajuan perusahaan adalah yang paling utama.
Len menendang setiap kerikil yang dia temui di jalan dengan kesal. Sesekali dia menghela nafas keras, menjambak dan mengacak-acak rambutnya. Kemudian ada sebuah kerikil yang agak besar. Len menendang kerikil itu lebih keras dari kerikil sebelum-sebelumnya.
DUAKH!
Len terkesiap, ketika dia tahu kerikilnya mengenai seseorang. Oh, tidak! Ringisnya dalam hati. Dia melihat cewek yang terkena kerikilnya itu memegangi jidatnya yang benjol dan sedikit berdarah.
Mata gadis itu bertemu dengan mata Len. "HEI! Kau!" gadis itu segera berteriak ketika dia menemukan si 'pelaku' yang telah membuat jidatnya berdarah.
Len segera kabur. Gadis itu segera mengetahui, kalau Len hendak kabur dan dia segera mengejar Len. Jadinya, kejar-kejaran deh!
Gak nyangka, lari gadis itu lebih cepat dari Len. Dia menarik kerah belakang Len. Dan membuat Len jadi tercekik sehingga dia menghentikan larinya, tanda dia kalah dan tertangkap. Gadis itu menatap Len dengan death glare paling menyeramkan. Glek! Len menelan ludah, tanda sesuatu yang menyakitkan akan terjadi padanya!
.
.
.
"Ampun, Miku! Auw! Ampun! Yang tadi gak sengaja! Aakh! Sakit!" Len mememohon di sela-sela erangan sakitnya.
"Biar saja! Kau tau, jidatku ini berdarah! Benjol, lagi! Jidatku, yang malang…" ujar gadis yang menjadi, 'korban kerikil' Len. Ternyata, gadis tadi adalah Hatsune Miku, yang kebetulan ada di pemakaman ini.
"Miku! Jangan cabut semua bulu kakiku! Nanti habis!" kata Len.
Permintaan Len sama sekali tidak digubris oleh Miku. Gadis itu hanya sibuk mencabuti bulu kaki Len, sebagai hukuman Len yang telah membuat jidatnya berdarah dan benjol.
"Kalau kakimu bersih tanpa bulu, kan bagus!" ujar Miku kemudian mencabut salah satu bulu kaki Len dengan lebih keras.
"Damn! Sakit!" ringis Len sambil mengembungkan pipinya. "Kalau bulu kakiku habis, aku akan terlihat seperti cewek! Aku gak jantan, nanti!" kata Len.
Miku tertawa geli mendengar pernyataan Len, "Bagus dong! Kau 'kan pria berwajah cantik! Hihihihi…"
Len mendengus sebal, "Ish! Mmm… Tapi, setidaknya wajahku lebih cantik dari padamu!" balas Len.
"Maksudmu aku jelek gitu?" Miku tersindir.
"Eits, aku gak bilang gitu, loh! Tapi, kalau udah sadar duluan sih, malah bagus!" kata Len dengan muka dibuat sepolos-polosnya.
Miku mendengus dan menatap sebal pada len. Seperti biasa, Miku menendang kaki Len. "Kau menyebalkan! Ukh!" ujar Miku.
"Aauw! Sakit tau! Masa setiap ketemu, selalu nendang kakiku, sih! Bisa remuk! Dasar bodoh!" umpat Len. "Oh, yah! Kok kamu bisa ke sini, sih?! Lo ngikutin gue yah?" selidik Len.
"Ih! Enak aja! GR banget sih, kalau gue ngikutin lo! Siapa juga, yang ngikutin lo! Ini 'kan tempat umum!" jawab Miku dengan nada meninggi.
"Emangnya siapa yang dikubur di sini?" Tanya Len dengan alis terangkat sebelah.
"Gak ada," ucap Miku. "…. Aku hanya mencari inspirasi, Len…" terangnya.
Len melongo, "Ngapain lo nyari inspirasi di tempat kayak gini? Gak takut?"
Miku menatap kesal ke arah cowok berambut pirang gondrong itu, "Bukan urusanmu! Lagi pula siapa yang takut?!"
"Biasanya kalau cewek macam lo kan penakut," jawab Len sewot.
"Ukh!" Miku hanya mendengus. Tangannya hendak menyibak poni yang hampir menutupi matanya, namun terkena lukanya tadi. "A-akh…" erangnya.
Len langsung menoleh ke arah Miku, "Separah itu lukanya?" Tanya Len cemas. Miku mengangguk pelan. Len dengan hati-hati menyibak poni Miku. Iya, benar. Benjolnya memang kecil, tapi ini berdarah. Pasti, lebih sakit.
"Maaf…" ujar Len pelan.
Miku melongo. Apa dia tak salah dengar? "Hah?! Apa tadi? Maaf?"
"Maaf…." Len kembali menulangi permintaan maafnya. Dia terdiam dan teringat sesuatu, "Um… Iya, aku punya plester di bagasi motorku, tunggu sebentar, yah!"
Len segera beranjak menuju motor yang terpakir di dekat gerbang masuk pemakaman. Dengan cepat dia mengambil beberapa plester. Gak lama kemudian, dia sudah balik ke tempat Miku.
"Sini," ujar Len menyuruh Miku sedikit mendekat. Miku menurut.
Dengan sangat hati-hati, Len menyibak poni Miku. Miku merasakan jemari Len yang sedikit menyentuh kulit Miku. Degh! Hati Miku sedikit berdegup kencang. Semburat merah tipis menjalar di pipinya.
Dengan hati-hati, Len menempelkan plester di tempat luka Miku. Miku sedikit meringis. "Sudah selesai," ujar Len pelan. Kini, jarak mereka sangat dekat. Len menaikan salah satu alisnya dia tahu, Miku pasti sangat deg-degan. Karena Miku terlihat salah tingkah. Tiba-tiba sebuah pemikiran jahil melintas dalam pikiran Len.
Len semakin mendekatkan wajah mereka berdua. Miku tidak berani menatap mata Len. Mulut Len mendekat ke telinga Miku. Miku semakin gugup, karena dia bisa mendengar dan merasakan nafas hangat dan teratur Len.
Len berbisik, "Kau tahu," Len menyeringai sedikit, "… Ternyata… jerawatmu banyak!"
Miku segera menjauhkan diri dari Len. Dia mendengus sebal. Dan seperti biasa, dia menendang kaki Len. "Dasar! Kau menyebalkan!" seru Miku sambil mencubit lengan Len. Kemudian menggebungkan pipinya
Len tertawa mengejek. Tawanya terlihat begitu lepas. "Hahahahah… jangan pasang tampang begitu! Lucu tau! Heheheheh…"
"Sudahlah!" Miku mulai naik pitam.
Len berhenti tertawa, "Iya, maaf!"
Miku kemudian menempatkan diri untuk duduk di rumput. Len mengikuti. Mereka terdiam dan tenggelam dalam pikiran masing-masing. Hening. Beberapa kali Miku menghela nafas pelan.
"Um… Len," Miku memulai pembicaraan.
"Hm?" sahut Len.
"Pemakaman ini sepi dan tenang, kalau sore hari. Aku mudah menemukan inspirasi di sini," terang Miku sambil menatap langit sore.
"Aku setuju denganmu," ujar Len. Len menoleh ke arah Miku dan menatapnya. Angin berhembus sepoi-sepoi. Beberapa helai rambut Miku tersibak angin. Membuatnya nampak lebih cantik. Len segera menyadari, kalau dari tadi dia menatap Miku. Buru-buru dia melempar tatapan ke arah lain.
"Memangnya cerita apa yang ingin kamu buat?" tanya Len.
Miku sempat berpikir sejenak, "Hm, apa yah?" Dia terdiam dan memikirkan sesuatu. Kemudian dia menatap lurus ke arah Len, "Tapi, kamu mau bantu aku gak?" tanyanya jujur dengan sungguh-sungguh.
"Tergantung," jawab Len sambil mengangkat bahunya.
"Aku ingin menulis ceita yang membuat semua orang ikut merasakan. Sebuah cerita yang bisa menyemangatkan seseorang!" Miku mulai menerangkan.
Len mengerutkan keningnya, "Memangnya cerita tentang apa?"
Miku tersenyum kecil, "Sebuah mimpi…" Miku terdiam, kemudian menghela nafas pelan, "Heh… kayaknya terlalu ketinggian, yah?" Kemudian ia tertawa hambar.
Len jadi mengerti, betapa Miku sangat bersungguh-sungguh mengarang sebuah cerita. Mungkin, banyak tekanan dari sana-sini, yang membuatnya menjadi minder dan berpikiran kalau dia tidak akan bisa.
"Kenapa enggak?" sebuah ucapan yang terluncur dari bibir si kepala editor, yang membuat Miku sontak kaget.
"EH? Bilang apa, barusan? Gak salah, nih?" tanya Miku tak percaya. Pasalnya, Len selalu meremehkan segala ide yang Miku buat, dia juga sering mengkritik dan berkomentar pedas. Tapi, sekarang kok aneh? Jangan-jangan Len… kesambet?!
"Ceritamu pasti bagus, kalau kau mau berusaha dan menjadi diri sendiri. Itu saja sudah cukup. Menurutku, dari segi bahasa, kata-katamu sudah sesuai dengan EYD dan indah. Kamu hanya tinggal percaya diri," Len menerangkan panjang-lebar.
Miku menatap senang ke arah Len. Dia sungguh tak percaya Len mengatakan hal itu. Baginya, hal ini adalah hal yang paling… menyenangkan!
Miku tersenyum penuh arti kepada Len, "Terimakasih, aku akan berusaha!" Miku melebarkan senyum sampai matanya menypit. Senyum tulus tanda terimakasih yang membuat Len sedikit terpaku.
.
.
.
To be continued….
Author : Fiuh! Selesai, juga! Terimakasih sudah membaca ceritaku yang aneh ini. Kuharap kalian senang :3
ok, sekarang balas review
Chairin 610 Yukari : Makasih sudah review ceritaku! heheheh :3
cona chan : Makasih udah review yah! Erm, bukan rin yang meninggal... udah tau 'kan siapa yang meningal? yang meninggal Gumi...
Yah, yang review dikit banget, yah?! Padahal, aku semangat banget bikin fic ini :'(
Tapi, bersyukur ada yang masih mau review... Thx, yah!
