Desclaimer : J.K Rowling

Ahaha..saiia msh kacau banget...maaf para readers ku tersayang *dijitak*..yah semoga di chapter ini, kesalahan bisa saiia perbaiki. Dan, di fict ini NO VOLDY...Oke, Let's Cekidud..

THE WAR

Pagi itu setelah sarapan di Aula Besar, Harry menuju ke ruang kepala sekolah setelah berpamitan dengan Ron dan Hermione. Harry menggenggam dua botol ramuan yang ada di balik jubahnya. Dua ramuan lainnya Harry berikan pada dua sahabatnya yang akan ikut berperang untuk berjaga, sungguh tak ia kira kalau Draco sangat pandai meramu dan menemukan terobosan baru bersama Professor Snape – Ramuan Pelambat Kematian –

Langkahnya terhenti setibanya ia didepan pintu kepala sekolah, gerbang itu bergerak perlahan hingga terbuka sepenuhnya menampakkan tangga menuju ke ruangan Dumbledore. Harry melangkah melewati setiap tangga, jantungnya berdetak tak beraturan. Setibanya di ruangan itu ia melihat Snape dan Draco duduk di sofa dengan jubah Death Eaternya, Harry menahan nafas tercekat memandang Draco yang juga tengah memandangnya. Wajah pucat Draco semakin pucat, matanya sangat dingin dan ada kantung dibawah matanya.

Harry mendekat kearah Draco, Draco pun berdiri dan akhirnya mereka berpelukan disaksikan oleh Dumbledore dan Snape. Harry menangis dan Draco hanya membelai rambut berantakan Harry dengan lembut. Tak peduli tanggapan kedua orang yang mereka hormati itu. Akhirnya Draco pun melepas Harry.

"Strategi kita sudah sempurna, aku akan meminum racun yang diberikan oleh Death Eater. Kemudian Harry membawaku kembali dan Snape serta Draco menunggu diruang astronomi bersama Bellatrix. Kalian siap?" jelas Dumbledore.

Harry, Snape, dan Draco mengangguk mantap. Dumbledore melambai pada Harry, menyuruhnya untuk mendekatinya. Harry menurut kemudian mereka berapparate.

Draco dan Snape langsung bersiaga, mereka menyuruh para murid keluar Hogwarts dan mengungsi sementara di Hogsmade dibantu oleh Ron dan Hermione. Para anggota orde pun sudah berdatangan, Fred dan George membawa barang-barang dari toko mereka yang sekiranya dapat membantu dalam perang nanti.

Mereka menunggu waktu dalam diam. Suasana di Hogwarts mencekam dan menegang. Matahari pun turun dari singgasananya dan digantikan bulan, beruntung malam ini bukan bulan purnama. Waktu demi waktu mengalir deras, menggapai kesenyapan tak berujung. Hingga tiba saatnya Snape berdiri dan menepuk pundak Draco.

Draco terlonjak dan menatap mata dingin Snape, "Saatnya sudah tiba" kata Snape kemudian. Sebelum mereka berpisah dengan anggota lainnya, mereka berpamitan terlebih dahulu.

"Good luck mate." Ujar Ron singkat sambil menepuk pundak Draco, begitu pula Fred dan George. Hermione tak sanggup menahan sedihnya, hingga ia memeluk tubuh Draco dan menangis pelan.

"Hati-hati, kami menunggu kalian" kata Hermione ditengah sesenggukannya. Draco mengangguk dan berbalik, pergi meninggalkan teman-teman seperjuangannya bersama Snape.

-0-

Mereka berhenti ditangga bawah ruang astronomi, menunggu seorang death eater yang ditugaskan bersama mereka.

Draco dan Snape terkejut dalam diam ketika seorang pelarian azkaban sekaligus Death Eater tiba disamping mereka dengan ber-apparate yang sistem keamanannya sudah dimanipulasi oleh Dumbledore.

Bellatrix, salah satu anggota keluarga Black yang gila dan pengikut setia Dark Lord meski ia sudah tiada.

"Rencana kali ini tak boleh gagal keponakan, kau harus membunuh Dumbledore!" gertak Bellatrix pada Draco yang merupakan keponakannya sambil terkekeh.

Draco kembali berakting, ia dengan gugup mengangguk dan menatap cemas wajah Snape yang dingin.

Suara ribut dari lantai atas ruangan astronomi mengejutkan mereka, dengan sigap mereka menuju ruang atas Astronomi dan menemukan Dumbledore didepan jendela dengan payahnya berusaha berdiri. Harry mengenakan jubah gaibnya mengawasi tiap gerakan yang ditunjukkan ketiga death eater itu.

"Ayo, Draco. Bunuh dia" desis Bellatrix.

Draco hanya mengacungkan tongkatnya dengan gemetar, berusaha terlihat panik. Keringatnya turun dari pelipisnya, mata dinginnya cemas memandang Dumbledore.

"Apa yang kau tunggu keponakan?" gertak Bellatrix sambil mengacungkan tongkat sihirnya kearah Dumbledore dan tertawa mencibir.

"Avada Kedavra" tiba-tiba Snape merapalkan mantra pada Dumbledore dan menarik tubuh Draco kebelakang.

Harry tercekat melihat adegan tersebut, hatinya tersayat tak percaya bahwa Dumbledore mati, tanpa sengaja ia menyenggol kantung jubahnya dan merasakan ganjalan dikantungnya, ia teringat ramuan yang diberikan Draco padanya. Harry menggenggam botol itu dengan erat dan menunggu para Death Eater didepannya pergi.

Ketiga Death Eater itu berbalik dan pergi, Draco di tarik oleh Snape dan Bellatrix berada didepan mereka tertawa penuh kemenangan. Seketika itu, Harry melepaskan jubah gaibnya dan mengambil botol ramuan itu. Ia berlari mendekati Dumbledore dan mengangkat pelan kepala Dumbledore dalam pangkuannya dan meminumkan ramuan pelambat kematian pada Dumbledore.

Dumbledore tak bergeming, wajahnya semakin pucat. Membuat Harry bingung dan panik. Namun, Dumbledore mulai bereaksi, air mukanya kini mulai terlihat. Matanya berusaha terbuka dan badannya bergetar pelan.

"Professor" kata Harry pelan. Hatinya melonjak senang karena Dumbledore kembali bernyawa. Harry berlari menuju Aula Besar mencari jalan yang aman. Menggunakan jubah gaib milik mendiang ayahnya dan meninggalkan Dumbledore diruang Astronomi setelah menamenginya dengan mantra-mantra yang telah ia kuasai.

Ia tercekat melihat ruangan yang kacau. Harry menelan ludahnya dan melihat peperangan antar keluarga Black.

"Protego" teriak Sirius ketika Bellatrix menyerang Sirius, serangan demi serangan diluncurkan Bellatrix.

"Kau sepupu yang sangat menyebalkan Bella, Petrificius Totalus!" kata Sirius, seketika Bellatrix jatuh berdebam membatu, tongkat sihirnya terlepas dari tangannya. "Kau akan ku kembalikkan ke Azkaban" lanjut Sirius dengan senyuman khasnya. Bellatrix memandang Sirius dengan panik dan kalut, ia sungguh takut jika harus kembali ke Azkaban.

Sirius meraih tongkat Bellatrix dan mematahkannya hingga jadi dua.

"Sirius!" kata Harry pelan dibalik jubah gaibnya, Sirius menoleh dan mendapati kepala Harry melayang-layang.

"Son" Sirius langsung memeluk tubuh tak kelihatan Harry.

"Professor Dumbledore diruang Astronomi sekarang" kata Harry panik dan gugup dalam pelukan ayah baptisnya.

"Ayo, keruang Aula Besar dulu, kita panggil Healer dari kementrian untuk menyembuhkan Dumbledore." Kata Sirius menarik tubuh Harry.

-0-

Dua kubu saling berhadapan di halaman belakang Hogwarts, Draco dan kedua orang tuanya beserta Snape berada disisi Death Eater. Menghadapi pasukan Orde yang dipimpin oleh Kingsley dan mad-moody.

Ron, Hermione, Fred dan George sudah siap dengan tongkat yang terangkat disisi wajah mereka.

"Crucio" dengan satu ramalan pertama membuka sengitnya peperangan. Semua pasukan Orde dan Death Eater saling menyerang dan merapalkan mantra.

Setibanya di tengah peperangan Draco mulai ikut berpartisipasi berbalik menyerang Death Eater diikuti kedua orang tuanya serta Snape.

"Kalian!Pengkhianat!" kata para Death Eater murka, dengan sigap Draco merapalkan mantra pelindung ketika mantra bertubi-tubi menyerang mereka.

Draco berlari kedalam Hogwarts setelah memakai mantra pelindung. Tujuh death eater menghadang jalannya dan mengepung Draco. Kembali Draco berperang mantra dengan tujuh orang death eater dihadapannya.

'Harry, kau dimana? Bagaimana aku bisa melindungi mu jika kau tak ada dalam gapaian ku' batin Draco disela peperangannya. Dua death eater telah berhasil dilumpuhkan oleh Draco, namun tenaganya semakin terkuras.

"Expelliarmus" Hermione membantu Draco tiba-tiba yang terilhat kewalahan melawan lima orang Death Eater yang tersisa seorang diri.

"Kau terlalu sombong Draco" sinis Hermione, punggung mereka beradu dikelilingi lima Death Eater. Draco tersenyum dan merapalkan lagi mantra-mantra non-verbal.

Para Death Eater terkejut mendapati salah satu kawannya tiba-tiba terbujur kaku, mereka kembali murka dan menyerang Draco dan Hermione dengan membabi buta.

-0-

"Sirius, kita harus membantu anggota Orde yang lain di bawah" kata Harry mendesak ayah baptisnya.

Sirius mengangguk pada Harry, "ya, sepertinya Dumbledore sudah aman disini bersama para Healer dan Auror" kata Sirius.

Mereka berbalik dan turun menuju halaman belakang.

"Tapi kau harus berjanji pada ku Harry, kau harus berada didekat Draco saat perang berlangsung dan jangan bertindak ceroboh" nasihat Sirius pada Harry.

"Crucio!" tiba-tiba sebuah mantra meluncur kearah dada Sirius membuat Sirius terlempar jauh, Harry menoleh keasal suara. Ia terkejut mendapati seorang Death Eater berdiri diujung koridor dengan tongkat terancung tinggi.

Harry merapalkan mantra non-verbal pada Death Eater itu yang juga merapalkan mantra pada Harry. Sihir mereka beradu di udara, bersaing kekuatan. Namun, Sirius yang sudah dapat menahan sakit didadanya ikut merapalkan mantra pada Death Eater itu.

"Avada Kedavra" desis Sirius kesal. Seketika Death Eater itu terbujur kaku di lantai koridor.

Harry dan Sirius mulai berlari menyusuri koridor-koridor.

"Protego" sebuah suara mengejutkan Harry, itu suara yang sangat ia rindukan. Harry menarik jubah Sirius dan berlari menuju asal suara.

"Draco!" jerit Harry melihat Draco dan Hermione masih dikepung empat orang Death Eater. Draco dan Hermione sudah terlihat sangat lelah, darah segar mengalir dari pelipis Draco.

Suasana kastil sangat kacau, tapi anggota Orde sudah berhasil melumpuhkan sebagian besar Death Eater.

Api menyala di langit membentuk lambang ular, lambang kegelapan para Death Eater. Pasukan Death Eater panik dan berjalan mundur seakan hendak melarikan diri.

"Para Death Eater! Menyerahlah, pasukan kalian sudah kalah" suara Dumbledore menggema diseluruh kastil.

"Petrificius Totalus" teriak Draco, Hermione, Harry dan Sirius pada keempat Death eater yang berusaha kabur. Keempat Death Eater itu membatu dan tongkat mereka terlepas dari tangan mereka.

Hermione jatuh terduduk, kakinya serasa amat lemas. Sedangkan Draco langsung berlari kearah Harry, begitu pula Harry yang berlari kearah Draco.

Draco menarik Harry dalam dekapannya, membelai lembut rambut hitam berantakan Harry. Menghanyutkan Harry kedalam kenyamanan yang tak ia rasakan sejak tadi. Sirius membereskan tongkat para Death Eater tersebut.

"Harry...My Harry..." isak Draco memeluk erat tubuh Harry. Hermione ikut terisak merasa lega perang telah berakhir.

Sorak sorai kemenangan diluar kastil menggema, mengejutkan mereka. Mereka berlari menuju halaman. Banyak anggota orde yang terharu atas kemenangan mereka, isak tangis beradu dengan sorak gembira.

"Moony..moony..kau dimana?" teriak Sirius kalut mencari-cari kekasih hatinya.

"Pads!" jerit Remus dikejauhan, tubuh dan wajahnya bersimbah darah. Ia terduduk dan wajahnya pucat.

Sirius, Hermione, Harry dan Draco berlari kearah Remus. Sirius langsung menubruk tubuh Remus dan menenggelamkan Remus dalam pelukannya.

"Maafkan..maafkan aku tak bisa berada disisimu Moony.." isak Sirius, Remus mengangguk lemas, dan pingsan. Sirius kalang kabut dan menggendong tubuh Remus.

"Aku akan membawanya ke Aula Besar! Kalian tunggu disini" perintah Sirius.

"Remus.." desis Harry jatuh terisak, Draco duduk disebelah Harry dan memeluk Harry erat.

"Dia baik-baik saja, kerja bagus love. Kau melakukannya sesuai rencana" bisik Draco ditelinga Harry dalam dekapannya dan mengecup singkat dahi Harry.

"'Mione! Mate!" teriak Ron dari kejauhan sambil melambaikan tangan, wajahnya tampak sumringah walau juga bersimbah darah.

Hermione berlari kearah Ron dan langsung memeluk Ron sambil terisak. Ron bingung, kemudian membelai lembut punggung Hermione.

"Sebaiknya kita ke pergi dari sini, love." Kata Draco memapah Harry berdiri. Ia tahu, pemandangan di halaman juga tak baik untuk dilihat mengingat banyaknya korban yang berjatuhan dalam perang. Draco merangkul pundak Harry yang tengah tenggelam dalam pelukan hangat Draco.

-0-

Mereka berjalan menyusuri lorong-lorong koridor yang amat sepi.

"Draco, i love you" kata Harry didada Draco, Draco mengeratkan rangkulannya. Mereka berhenti diujung koridor.

Draco bersandar didinding dan meraih Harry dalam pelukannya. Harry berusaha melihat wajah Draco yang berdarah, ia mengusap pelan darah itu dan menjilat darah yang berada dipipi Draco.

Draco mengerang pelan, dan meraih sisi wajah Harry dengan tangan kanannya. Ia memagut Harry dalam kecupan yang lembut dan panas. Draco membelai lembut bibir ranum Harry dengan lidahnya, membuat Harry mengerang dan kesempatan itu digunakan Draco untuk menjelajahi rongga mulut Harry.

Perlahan Draco mulai turun mengecup leher Harry dan menjelajahi tiap incinya dengan lidahnya. Harry mengerang dan tenggelam dalam pusaran kenikmatan yang disuguhkan Draco padanya.

Dengan sekali jentikkan tongkatnya, Harry membuat tubuh mereka terekspos polos. Draco mendorong tubuh Harry pelan dan menuntunnya berbaring dilantai dengan jubah mereka sebagai alasnya.

"Draco...you make me crazy" kata Harry terengah di tengah gelora panasnya asmara mereka.

"Harry, i love you too My Harry" desis Draco di dada Harry, menjelajah keindahan raga kekasih yang amat ia cintai.

Keindahan yang selama ini ia dambakan, keindahan yang selama ia jaga dan ia lindungi dengan pertaruhan nyawanya.

"kau milikku Harry...milikku"

Kiasan melodi cinta menjadi saksi bisu ikatan kasih mereka. Terpatri gemerlap kebahagiaan yang membuncah dalam gejolak taman dewa yang mereka singgahi bersama. Kesunyian berangan dalam jiwa mengisahkan kisah suci abadi dihati Harry dan Draco. Kesempurnaan mereka telah terlengkapi dengan hadirnya ukiran-ukiran cinta di hati mereka.

-0-

"Draco...aku mencintaimu Draco" kata Harry dalam dekapan Draco, tubuh mereka basah berpeluh. Asa mereka raih dalam degup jantung beradu.

"Aku juga Harry, sangat mencintaimu" jawab Draco, Draco meraih tongkat mereka dan menjetikkannya. Tubuh mereka telah terbungkus kembali dengan jubah mereka.

Draco berdiri dan menarik tangan Harry. "Ayo love, kita sambut kemenangan kita" Draco tersenyum dan menggenggam erat tangan Harry melewati koridor sepi.

-0-

Tiga bulan setelah perang besar.

"Mate, kau melamun lagi! Makanan mu dingin" kata Ron mengagetkan Harry yang terbuai dalam lamunannya.

Aula Besar kini kembali diramaikan dengan berbagai macam kesibukkan para siswa- siswi Hogwarts. Harry merasa amat lega, kemenangan atas perang besar membuat perubahan besar di dunia sihir. Para Death Eater yang selamat dari kematian kini mendekam di Azkaban untuk selama-lamanya, keamanan Azkaban pun telah di daur ulang sehingga semakin ketat pengawasannya.

"Menyebalkan...sehabis perang, kita malah dihadapi dengan ujian NEWT tahun ini" gerutu Ron sambil memotong bacoon di piringnya dengan kesal. Tahun ketujuh mereka di Hogwarts menjadi rintangan terakhir mereka menuju dunia orang dewasa.

"Ayolah Ron, kita memang harus melewati ujian NEWT tak peduli kita ikut berperang atau tidak." Terang Hermione pada Ron yang memajukkan bibirnya tanda ia amat kesal.

Harry tersenyum melihat kelakuan dua sahabatnya yang kini terlihat amat dekat. Tiba-tiba sebuah tangan merangkul leher Harry dari belakang.

Rambut pirang dan wajah pucat menyender dipundak Harry, sukses membuat wajah Harry merona panas.

"Morning Love" kata Draco di telinga Harry.

Harry tersenyum malu dan membiarkan Draco mengecup lembut pipinya. Hermione merona melihat kemesraan Draco dan Harry, Ron merasa jengah dan melahap makanannya, sedangkan gadis-gadis terkikik kecil. Ada pula yang merasa kesal mendapati pangeran mereka telah mempunyai orang yang ia kasihi.

"Kyyaaa~Dracie...kenapa kau..kau...kau" teriak seorang wanita dari bangku Slytherin.

Dengan kesal Draco duduk disebelah Harry, memeluk pinggang Harry dan mengacuhkan gadis itu.

Pansy memang sebenarnya gadis baik walau ayahnya adalah seorang Death Eater, ia mencintai Draco juga tulus dan apa adanya, hanya saja caranya itu yang membuat Draco kesal.

Pansy berjalan kearah Harry dan Draco, ia meraih tangan Draco dan memaksanya duduk dibangku Slytherin.

"Pans, apa yang kau lakukan pada pengkhianat itu?" tanya anak-anak Slytherin yang lain, yang ternyata membenci Draco karena telah berkhianat.

"My Draco bukan pengkhianat!"teriak Pansy masih memaksa Draco, Harry terkejut dengan perkataan Pansy. Hatinya begitu perih melihat ketulusan cinta Pansy pada kekasihnya.

"Parkinson. Tolong biarkan aku memilih dimana aku mau duduk" tegas Draco dingin sambil melepaskan tangan Pansy dengan lembut.

"Ada apa ini?" tanya dua pemuda dari Slytherin yang baru datang. Pemuda yang satu langsung duduk disisi lain Harry yang kosong dan membalik piringnya.

Sedangkan yang satu lagi berkulit hitam menepuk pundak Draco menenangkan Draco.

"Blaise" lirih Pansy, matanya mulai berkaca-kaca. Ia menunduk dan terisak.

Hanya dua orang pemuda Slytherin ini yang tidak berpihak manapun, dan kondisi itu membuat Draco nyaman bergaul dengan mereka.

Harry menatap wajah Pansy yang memerah, Hermione dan Ron tak berani berkomentar apapun. Harry berdiri dan menarik tangan Draco beserta Pansy keluar ruangan. Blaise, Theo, Hermione dan Ron mengikuti mereka di belakang.

-0-

Mereka berada di taman samping sekarang, masih sepi karena para murid Hogwarts sedang sibuk menyantap sarapan mereka.

"Parkinson. Aku tegaskan sekali lagi aku mencintai Harry." Kata Draco kesal yang duduk disebelah Harry sambil merangkul pinggangnya.

"Tapi Dracie..aku mencintaimu dari dulu!" isak Pansy.

"tapi aku tidak, Parkinson..."

"Parkinson, aku tau kau begitu mencintai Draco. Aku pun begitu. Biarkan Draco memilih" kata Harry memotong, tubuhnya kali ini bergetar. Wajahnya memerah, Hermione mengusap pelan punggung Harry.

"Ku mohon kau mengerti, hanya Harry yang kuinginkan dari dulu Pans.." pinta Draco lirih, kali ini ia terduduk didepan Pansy. Pansy tercekat melihat pemuda bangsawan yang ia cintai ini memohon pengertiannya atas cinta yang di berikan pemuda itu pada orang lain.

Pansy menangis sejadi-jadinya dan berlari meninggalkan trio Gryffindor dan trio Slytherin itu.

Draco memeluk tubuh Harry yang tengah terisak. Ia memang tak menutupi hubungannya dengan Harry pada siapapun, bahkan ia telah meminta restu pada Sirius dan memohon pada kedua orang tuanya selama liburan.

Usahanya pun tak sia-sia, kini Harry telah menjadi kekasih resminya. Dan ternyata teman-temannya pun tak keberatan mengingat perjuangan Draco melindungi Harry dengan pertaruhan nyawa.

"Harry, i love you Harry" Kata Draco di rambut Harry, Harry memeluk tubuh Draco erat. Tak ingin dipisahkan dan tak kan terpisahkan kisah cinta yang terpatri jelas di hati mereka.

Hermione menyandarkan kepalanya dipundak Ron yang tengah membelai lembut rambut ikal Hermione. Dan Blaise menggenggam tangan Theo dibalik jubah mereka. Diri mereka terasa terlengkapi dengan kebahagiaan sempurna yang disuguhkan pasangan mereka.

+ The End +

GJ? Gag tau ahh...bingung buat kaiia gimana...maaf jelek yah?