White Fox
A fiction by dearestnoona
Starring*
Park Chanyeol
Byun Baekhyun
.
Chapter 2
.
.
.
Kemacetan memang menjadi suatu hal yang biasa, apalagi di kota-kota besar. Ketika menjelang akhir pekan, hampir setiap sudut jalanan dipenuhi kemacetan.
Dan untuk kali ini, mereka terjebak dalam kemcetan yang meresahkan.
Minseok sedari tadi masih saja asyik dengan camilannya, sementara Chanyeol hanya bisa menatap jenuh mobil di depannya. Lihat saja, mobil mereka masuk ke barisan tengah, dan hanya maju dua mobil setiap lima belas menit.
Diliriknya ponsel yang sempat menggeltak di atas dashboard, kemudian diraihnya. Jari-jari panjangnya menuntunnya mengetikkan beberapa angka yang membentuk sebuah pin keamanan ponsel. Jaga-jaga, siapa tahu kakaknya bisa saja mengotak-atik ponselnya.
Matanya mengerjap heran melihat notif yang menumpuk di bagian atas layar. Memang, sejak memulai perjalanan, Chanyeol sengaja membisukan ponselnya. Sesungguhnya bukan kemauannya membisukan benda tersebut, namun perintah sang kakak membuatnya berpikir kembali mengenai keselamatan pengendara.
Hampir sepuluh notifikasi yang tertera; beberapa panggilan yang tak terjawab, dan pesan line. Ia kemudian menyentuhkan ibu jarinya ke arah ikon telepon. Ketika layar baru terbuka, terpampanglah nama seseorang yang sudah sangat familiar di pikirannya.
Do Kyungsoo. Lagi-lagi dia, keluhnya membatin.
Tanpa menelpon kembali, Chanyeol malah menutup menunya, dan memilih membuka aplikasi lain. Disentuhnya ikon kotak hijau dengan di tengahnya terdapat tulisan line. Setelah terbuka, dikliknya ikon call out yang mana menuntunnya menuju obrolan.
Jerk Oh (5)
Ketika nama kontak yang sengaja dinamainya seperti itu berada di urutan pertama obrolan terkini. Penasaran, dibukanya segera obrolan tersebut.
Yoda 10:00 AM
Hei 10:01 AM
Setidaknya lihatlah dulu pesan dariku. Jangan diabaikan, idiot! 10:10 AM
Aku serius! 10:11 AM
Jika kau masih tidak membalas, kupastikan kakakmu akan melihat hal yang akan membuatnya mencelupkanmu ke genangan, Park. 10:13 AM
Ada apa? Aku sedang di perjalanan. 15:20 PM (sent)
Apa kau bilang? Tenang saja, aku juga akan mengadukanmu ke Kris. Kau tahu apa yang kumaksud, Oh. 15:21 PM (sent)
Ya, ya! Aku dulu yang akan mengadukanmu! 15:23 PM
Setidaknya kakakku lebih mempercayai adiknya ini, dibandingkan jerk sepertimu. 15:24 PM (sent)
Terserah. Apa kau tahu mengenai Luhan? 15:26 PM
Ketua kelas kita saat di sekolah dulu? 15:27 PM (sent)
Bukan itu maksudku, bodoh. Apa kau tahu tentang kepindahannya ke sini? 15:28 PM
Ah, itu. Lalu? 15:30 PM (sent)
Dia pindah ke fakultas yang sama denganmu. Jika kau menjawabnya seperti tadi, kutebas lehermu, Park. 15:31 PM
Coba saja. Paling tidak, kau dulu yang akan ditebas Minseok. 15:33 PM (sent)
Kekanakkan! enyah saja kau, Park. 15:35 PM
Melihat balasan Sehun, Chanyeol mendengus. "Apa-apaan dia? Dia saja kekanakkan. Enak saja, mengatai orang lain." Sungutnya pelan
Drrtt
Ponselnya kembali bergetar. Sesungguhnya Chanyeol sangat malas membalas pesan line dari sahabatnya, tapi mau bagaimana lagi. Jika tidak dituruti, mungkin si bayi besar itu akan mendiamkannya selama berhari-hari. Kekanakkan sekali.
Chan, aku serius. 15:39 PM
Kali ini, bantu aku. 15:39 PM
Apa? 15:41 PM
Bantu aku untuk mendekatinya. Kau tahu 'kan, kalau aku naksir dengannya sejak lama. 15:42 PM
Aku? Tidak, terima kasih. Aku masih punya harga diri, Oh. 15:42 PM
Oh, ayolah~ hanya kau satu-satunya sahabatku yang dengan senang hati membantuku, Chanyeol tersayang~ 15:43 PM
Hapus pesan itu. Kau tahu, rasanya makananku akan keluar dari perutku. 15:43 PM
Tidak. Sebelum kau membantuku. 15:44 PM
Terserah. 15:45 PM
Chanyeol mendengus kesal. Bisa-bisanya si Oh bodoh itu menyuruhku, cih. Dia kira aku ini biro jodoh, batinnya tanpa mempedulikan ponselnya yang terus bergetar.
Baru saja ia meletakkan ponselnya ke saku, kepalan tangan sudah mendarat di pelipisnya. "Aw! Apa-apaan sih, Kak? Kau ingin adikmu ini terjangkit amnesia?" pekiknya kemudian yang diikuti raut masam sang kakak.
"Kau bodoh atau apa sih? Lihat ke depan! Sedari tadi sudah tiga mobil berjalan, dan sedari tadi juga klakson mobil di belakang berbunyi terus. Kau ingin dikeroyok massa, huh?" Mendapati hal itu, segera dilajukan mobilnya tanpa mempedulikan suara klakson bising yang memprotesnya.
Mungkin ini akan menjadi perjalanan yang cukup panjang. Ralat, mungkin ini akan menjadi perjalanan yang memakan waktu cukup panjang. Dan mungkin ini akan menjadi perjalanan yang menggerahkan bagi Chanyeol. Tentu saja, sedari tadi kakaknya mengeluh karena harus terjebak di kemacetan yang begitu panjang.
Hei! Salah siapa itu? Bukankan dia sendiri yang merengek memintaku untuk ikut dengannya ke rumah? Chanyeol membatin, tentu saja. Jika tidak mungkin kepalanya akan menjadi bulan-bulanan sang kakak.
Jadi, kita tinggalkan suasana menggerahkan ini. Biarkan Chanyeol dan kakaknya menikmati kemacetan yang panjang.
Semoga Tuhan memberkatimu, Park.
.
.
.
Hampir empat jam lamanya mereka melalui perjalanan. Seharusnya sudah dua jam sebelumnya, mereka sampai, namun kemacetan semakin memperparah keadaan.
Chanyeol menghembuskan nafasnya, bersyukur telah melewati masa-masa kesulitannya di perjalanan tadi. Mungkin kemacetan yang terjadi tadi masuk black list-nya, tetapi adanya Minseok malah menggantikan kemacetan yang harusnya berada pada nomor dua, jadi masuk ke urutan pertama.
Selama di perjalanan, Minseok memang sangat sensitif, mungkin akibat pms. Tapi, pada nyatanya dia memang selalu sensitif, menurut Chanyeol.
Mobil mereka kini telah terparkir di rumah keluarga Park. Rumah yang tidak terlalu besar, namun cukup untuk memarkirkan tiga mobil sekaligus. Suasana di sekitarnya juga sangat mendukung. Dimulai dari pemandangan pegunungan yang indah, serta udara sejuk yang mampu merefleksikan diri.
Ah, Chanyeol sangat menyukai ini. Rumahnya. Chanyeol, ia begitu merindukan kediaman lamanya.
Jika saja jadwal kuliahnya tidak terlalu padat, mungkin setiap minggu ia akan berkunjung ke rumah kedua orang tuanya. Selain itu juga jadwal perform yang menuntutnya harus menyiapkan diri, jikalau ada jadwal tampil ke luar kota.
Tapi setidaknya Chanyeol sudah di sini. Dan pastinya ia akan segera membaringkan diri ke kamar lamanya.
Oh, Chanyeol sungguh merindukan semua ini. Semua kebahagian ini, bahkan tidak pernah bisa tergantikan, yang mana selalu memasuki urutan pertama sebelum dia.
"Chan!" pekik Minseok tanpa melihat ke arahnya. Chanyeol yang tadinya sedang melamun, segera membuyarkan lamunannya. Cari aman, pikirnya. Segera, ia menghampiri sang kakak yang tengah kerepotan membuka bagasi.
"Kau ini, bukannya membantu malah melamun. Mau jadi adik durhaka?" Chanyeol bersungut ria. Dirinya sudah cukup kebal dengan kalimat pedas nan menyakitkan, namun apa daya. Ia hanyalah adik yang tersakiti. Begitulah batin melankolis seorang Park Chanyeol.
Tanpa membalas ucapan kakaknya, Chanyeol langsung membuka bagasi lalu mengambil beberapa koper di sana. Kedua tangannya kini memegang satu koper beserta matilda, kemudian berjalan pergi tanpa mengindahkan keberadaan sang kakak.
Minseok mendengus kesal, "Awas kau, Park Chanyeol!"
Setelah kekesalannya kepada sang adik, Minseok segera mengangkat barang-barangnya. Dua koper, beserta tas sedang di pegangnya. Dengan tergopoh-gopoh, dibawanya barang-barang itu seraya mendesis kesal. "Bisa-bisanya dia melakukan hal setega ini pada kakaknya sendiri. Memangnya dia kira dia siapa? Seenaknya saja. Cih."
Kaki jenjangnya dipaksa untuk berjalan setelah keadaan sulit yang diterima. Dengan perlahan, ditariknya kedua koper dengan kedua tangannya pula. Tak lupa dengan tas yang digantungkan di lengan kirinya.
Setelah memasuki pintu masuk, matanya melirik ke arah sofa. Di sana tampak sang Ibu tengah mengelu-elukan kehadiran si bungsu. Minseok mendengus, tak percaya dengan pemandangan di hadapannya.
"Ibu!" pekik Minseok dengan raut memelas. Sang Ibu yang melihatnya terkejut, "Ya ampun! Ibu kira kau tidak ikut dengan Chanyeol," sang Ibu segera menghampiri anak sulungnya.
"Bu, Chanyeol sama sekali tidak membantu! Lihat, aku membawa barang-barang yang berat seperti ini, tapi dia tidak membantuku sekali," keluh Minseok yang masih memasang wajah memelasnya.
Nyonya Park yang mendengarnya, langsung menoleh ke Chanyeol. "Chan, apa benar itu?" Nyonya Park bertanya dengan suara lembut, beda sekali dengan Minseok.
"Lagipula kakak hanya menyuruh membuka bagasi. Tidak menyuruhku membawa barang-barangnya itu, Bu," Chanyeol membela diri. Sang Ibu yang melihat tingkah kedua anaknya hanya bisa menggeleng pelan. "Chan, bantu kakakmu, sana. Walaupun kakakmu tidak meminta, sudah seharusnya kau membantunya, 'kan?"
Suara lembut sang Ibu memang lah obat yang paling mujarab dalam urusan meluluhkan hati sang anak, termasuk untuk Chanyeol. Dengan terpaksa, dituntunnya kedua kaki panjangnya menuju sang kakak. Minseok yang melihat pemandangan tersebut langsung menjulurkan lidahnya, seraya tersenyum penuh kemenangan.
"Rasakan itu, Park!" desis Minseok pelan yang kemudian diikuti decihan adiknya. Lekas, diambilnya kedua koper itu dari tangan lentik Minseok. Ia kemudian berjalan menuju kamar lama sang kakak. Dengan langkah gontai, dipaksakannya menaiki setiap anak tangga yang dilewatinya.
Setelah Chanyeol menghilang dari pandangan keduanya, Minseok segera membuka suara. "Bu, kemana Ayah?" sahutnya seraya mendudukkan diri ke sofa. Nyonya Park yang mendengarnya langsung merubah raut wajahnya menjadi muram. Merasa ada yang tidak beres, segera dihampiri sang Ibu.
"Apa masih sering kambuh?" kini suara Minseok bahkan terdengar begitu lembut, sama seperti sang Ibu. Minseok sangat mengerti apa masalah yang tengah dilanda keluarganya. Dengan tangan terbuka, segera direngkuh tubuh sang Ibu.
"Apa perlu kita membawa Ayah ke kota? Setidaknya di sana lebih terjamin kualitasnya." Lanjutnya kemudian. Sang Ibu tersenyum tipis, "Tidak, tidak apa-apa. Ayah lebih baik di sini," sahut Nyonya Park.
"Kau tahu, 'kan. Di sini, setidaknya masih ada udara bersih. Ibu takut jika dipindahkan ke kota, penyakitnya malah akan bertambah parah." Nyonya Park masih tersenyum tipis, setidaknya itu lah jalan terbaik untuk menghilangkan perasaan khawatir dari si sulung.
Kini sepasang Ibu dan anak tengah berpelukan, menyalurkan kedua perasaan mereka. Perasaan yang hanya dimiliki oleh mahluk yang memiliki hubungan spesial di antaranya; Ibu dan anak.
.
.
.
Sore telah berganti malam, bagai pergantian waktu tak terhenti sesaat saja. Sang dewi malam, tengah keluar dari persembunyiannya, setelah dua belas jam tidak menampakkan diri.
Keadaan ruang keluarga, kini menjadi lebih ramai. Kebersamaan yang telah dinanti akhirnya terwujud juga. Sekiranya, itulah yang dirasakan sepasang insan yang tengah merajut kebersamaan lebih dari 30 tahun.
Nyonya Park yang tadinya sempat bersendu ria, kini menampilkan tawa khasnya. Kedua mata yang sangat mirip dengan kedua kakak beradik itu. Sedari tadi, tak henti-hentinya Chanyeol melontarkan beberapa candaan yang menghiasi ruangan tersebut. Tak segan, diikuti pekikan kesal dari sang kakak.
Minseok memang tidak bisa berbuat seperti biasa. Mengingat kini mereka berada di rumah kedua orangtuanya, ia lebih memilih untuk mencibir kesal sang adik. Chanyeol pun hanya tertawa melihat bendera putih yang tanpa langsung dikibarkan sang kakak.
Ya setidaknya, kini ialah yang berkuasa. Chanyeol berpikir seolah-olah tidak ada beban yang merutukinya akibat kalimat pedas Minseok.
"Ibu! Lihat lah anak kesayanganmu itu, dia bahkan berani mempermalukanku seperti ini!" pekik Minseok tak habis-habisnya. Wajahnya sudah memerah, pertanda kesabarannya sudah berada diambang batas.
"Memang benar, 'kan?" Chanyeol mencemooh, "Bahkan kau saja masih betah sendiri hanya karena mantanmu—ah, aku saja sudah lupa mantan yang ke berapa," sahutnya kemudian tanpa mengindahkan kekesalan sang kakak.
"Awas saja kau, Park!" desis Minseok tak sabar. Chanyeol tersenyum penuh kemenangan, lalu mengedipkan sebelah matanya ke arah kakaknya. Minseok menyipitkan matanya, seakan menyiratkan rencana balas dendam untuknya kelak.
"Sudah, sudah. Minseok, lebih baik kau bantu Ibu menyiapkan makan malam," lerai sang Ibu seraya menahan kekehannya. "Dan kau Chanyeol, jangan meledek kakakmu. Kasihanilah dia. Lebih baik kau bantu Ibu juga. Ayo, ayo!"
Nyonya Park memang sangat pintar melelehkan suasana. Suara lembutnya, masih saja menyertai tiap-tiap perbuatan yang dilakukannya. Minseok hanya bisa menarik nafasnya dalam-dalam, berusaha menahan emosi. Tak lupa dengan Chanyeol yang sedari tadi menahan tawanya. Setidaknya ia masih berpikir jernih agar tidak menjadi bulan-bulanan kakaknya sepulang ke kota.
Mereka pun berjalan ke arah ruang makan. Sang Ibu menginsturksikan langkah-langkah dalam memasak hidangan untuk makan malam nanti. Sedangkan Chanyeol, ia hanya diam, masih memandang gerak-gerik Ibunya.
"Chan, ambilkan kol dan wortel yang ada di kulkas!" suruh Minseok yang masih fokus pada gerak-gerik sang Ibu. Tanpa membantah, segera diambilnya bahan-bahan yang disuruh Minseok tadi.
Ya, setidaknya ia bisa berguna untuk malam ini. Pikirnya yang membuat dirinya tidak membantah suruhan kakaknya.
Proses yang dimulai dari pemotongan bahan-bahan, merebus sebentar bahannya, lalu meniriskannya kemudian ditaruh ke atas wajan. Diraciknya beberapa bumbu, kemudian ditaburkan ke atas makanan yang masih dimasak di atas wajan.
Banyak hal-hal yang dialami, dari Minseok yang terciprat minyak panas, Chanyeol yang tak sengaja menabur banyak garam, dan makanan yang sempat gosong. Hingga pada akhirnya, mereka memutuskan memakannya, walau ada beberapa sajian yang sempurna—tentu saja tanpa bantuan tangan dari Minseok dan Chanyeol.
Setelah proses-proses yang menyenangkan sekaligus menegangkan itu, akhirnya mereka lewati juga. Dengan sigap, segera diambilnya beberapa mangkuk kecil untuk tempat nasi mereka nanti. Minseok pun campur tangan, dengan membantu menaruh hidangan ke atas meja.
"Chan, panggilkan Ayahmu," kata Ibunya lembut. Lekas, ia dirikan tubuhnya yang tadinya sempat duduk santai di atas kursi setelah membantu Ibunya tadi. Kaki panjangnya melangkah dengan cepat hendak menghampiri sang Ayah yang masih sibuk dengan televisnya.
"Ayah," katanya seusai berdiri di samping sofa. "Makan malam sudah siap." Tanpa basa-basi lagi, ditinggalkan sang Ayah yang masih menatapnya.
Pria paruh baya itu menatap seasaat si bungsu yang hanya mengucapkan beberapa kata, lalu meninggalkannya. Ia menatap sendu sang anak. Tatapan sendu, seakan-akan memiliki makna tersendiri di baliknya.
Segera ditepis segala pikiran negatif yang menghantuinya. Ia mengangkat tubuhnya, lalu merefleksikan otot-otot yang sekiranya kaku. Maklum, faktor usia.
Kaki tuanya melangkah pelan, berusaha berjalan selayaknya. Faktor usia, dan faktor penyakit yang dialaminya, membuat dirinya harus berhati-hati dalam melakukan sesuatu. Seakan dimakan oleh waktu, perubahan tubuh dan tulang mempengaruhinya juga.
Sebab-sebab itulah yang membuatnya terkadang harus berbaring di ranjang, tanpa melakukan aktifitas apapun.
"Ah! Duduk di sini, Yah!" seru Minseok terburu-buru. Ditariknya kursi di sebelah kursinya, lalu menuntun sang Ayah duduk di sana.
Makan malam berjalan normal seperti biasa. Namun, bedanya lebih terasa hangat dan ramai. Seakan-akan ini lah makna keluarga sesungguhnya. Begitu lah yang dirasakan mereka.
Minseok dan Chanyeol biasanya hanya memakan roti mentega di pagi hari, dan malam dengan ayam siap saji. Namun, sekarang mereka bisa menikmati makanan buatan sang Ibu. Bahkan lidah mereka bergerak begitu mempesona, seolah mendamba tiap cita rasa yang ditimbulkan tiap gigitannya.
Mereka merindukan ini semua. Setelah suasana rumah yang dirindukan, tentu saja.
"Bu, besok kami berencana untuk pergi ke gunung. Ya sekali-kali refreshing," Minseok terkekeh pelan walau ucapannya bukan candaan. Merasa ada yang janggal, Chanyeol mengernyitkan dahinya.
"Kita?" tanya Chanyeol. "Kurasa kau belum mengatakan apapun, Kak." Chanyeol berucap polos, bagai bocah lima tahun yang mengakui sebuah kebohongan tak disengaja.
"Memangnya kenapa? Mau tidak mau, kau pasti ikut," sergah Minseok cepat. Chanyeol mendengus pelan, "Kata siapa? Jangan sok tahu." Chanyeol mengelak tanpa melihat ekspresi kakaknya yang dirundungkan kekesalan.
Sabar, sabar. Awas saja dia! Minseok membatin keras.
"Ya sudah! Jika tidak mau, biar aku sendiri," saking kesalnya, ia bahkan memakan nasinya agak brutal.
"Kak,"
"Apa? Mau ikut? Maaf saja, aku tidak akan berubah pikiran."
"Tidak. Di pipimu masih ada nasi tertinggal, hendak menyisakannya untuk pasanganmu?" Chanyeol berucap tanpa dosa. "Ah ya, kau 'kan tidak punya pasangan."
Suara mereka kemudian pecah, mendengar perdebatan yang diakhiri dengan kalimat Chanyeol tadi. Wajah Minseok sudah memerah akibat malu yang dideranya. Benar-benar anak ini! Batinnya memekik kesal.
Walau terjadi perdebatan di antara mereka, tetap saja, suasana yang tadinya hening berubah menjadi penuh canda dan tawa. Berterima kasihlah kepada Chanyeol yang tak segan-segan melontarkan kalimat penuh canda. Terkecuali untuk Minseok. Mungkin sepulang dari rumah itu, Chanyeol harus bersiap-siap menerima amukan sang kakak.
Begini lah keluarga. Ketika mereka bersatu kembali, seakan melengkapi puzzle, maka akan terlihat sempurna.
Layaknya keluarga yang sempurna. Keluarga Park bahkan terlihat lebih sempurna.
.
.
.
Pagi pertama yang cerah. Untuk kesekian kalinya ia mengunjungi tempat tersebut, seakan menyimpan banyak kenangan. Burung-burung berkicauan, disertai embun di pagi buta yang menyertai indahnya pagi hari di kampung halaman.
Matahari memang belum sepenuhnya menampakkan diri, namun keindahan ini tidak bisa dilewati. Perlahan, sepasang mata itu mengerjap, menerima pandangan yang sudah lama tak dilihatnya.
Pemandangan pagi hari di kampung halaman memang berbeda. Bahkan aromanya berbanding terbalik dengan yang ada di kota.
Kicauan burung memang sempat mengusik tidurnya, namun kali ini berbeda. Ia masih mengerjapkan matanya, berusaha melihat dengan baik-baik apa yang tengah ada di hadapannya. Menyadari sesuatu, ia kemudian tersenyum tipis. Oh, sungguh ini indah sekali, pikirnya yang masih terbaring di atas ranjang.
Direnggangkannya otot-otot yang tak bekerja semalaman. Segera, ia mendudukkan tubunya dan menyender pada ujung atas ranjang. Pikirannya masih menikmati pagi hari yang begitu indah ini. Kini, dilihatnya pakaian yang melekat di tubuhnya. Piyama lama bergaris, piyama pemberian Ibunya yang masih tersimpan di lemari kamar tersebut.
Segera diturunkan kedua kaki panjang yang ditutupi celana panjang bergaris. Kakinya menuntun dirinya menuju balkon kamar. Di sana, dihirupnya dalam-dalam udara pagi yang sejuk.
Sudah berapa lama aku tidak merasakan ini? Ia membatin, masih menikmati pasokan oksigen segar. Matanya kini tertuju pada pemandangan di hadapannya. Kabut putih masih menutupi sebagian view di hadapannya. Tapi, inilah nilai lebih dari bangun di pagi hari. Apapun itu, pasti terasa indah.
Ya, begitu lah yang dirasa Chanyeol sekarang ini. Hatinya begitu gembira. Sebenarnya ia harus berterima kasih, karena kakaknya telah memaksa untuk datang ke rumah. Walau sesungguhnya ia juga tidak ingin, tapi keadaan dan semua yang ada membuatnya menjadi ingin. Lebih dari ingin, mungkin. Bagai godaan yang tak kuasa ditolaknya.
Diliriknya pohon-pohon yang menari-nari di sana. Angin berhembus begitu kuat namun lembut, seolah menuntutnya untuk segera mendamba tak henti. Rambutnya tersapu lembut, menghempasnya pelan penuh rasa. Saking menikmati keindahan duniawi, ia bahkan tidak sadar jika seorang wanita tengah memasuki kamarnya.
"Yoda!" seru seorang wanita itu. Merasa familiar, Chanyeol bahkan enggan untuk berbalik walau sesaat saja. "Park Chanyeol!" pekiknya kesal. Wanita itu, Minseok, merasa enggan untuk mengoceh di pagi hari yang indah ini.
Dengan malas, dibalikkannya tubuh jangkung itu ke arah sang kakak. Chanyeol menatap kakaknya tanpa bertanya apa-apa.
"Cepat mandi, dan bersiap. Kita akan ke gunung," Minseok berkata demikian. Terlihat sekelumit penolakan di wajah Chanyeol.
"Tidak ada penolakan. Titik." Sambungnya cepat tanpa mengindahkan tatapan penuh tanya sang adik. Chanyeol mendecih, ia bahkan tidak sempat mengatakan apapun.
Benar-benar. Pagi hari yang cerah, diakhiri dengan pagi yang menyuramkan. Chanyeol membatin penuh penyesalan. Seharusnya ia mengatakan beberapa alasan. Tapi, sekali lagi, apa daya. Apa daya seorang Park Chanyeol ini, ya Tuhan.
Setelah kepergian sang kakak, Chanyeol memutuskan untuk membersihkan diri terlebih dulu. Walaupun sempat membantah, namun hatinya tetap saja tidak bisa membantah. Maklum, faktor ketaatan pada orang yang lebih tua. Termasuk untuk sang kakak.
Diraihnya handuk beserta bathrobe, bekal untuk nanti. Digerakkannya sepasang kaki panjang itu menuju kamar mandi yang ada di dalam kamar tidurnya juga.
Peralatan mandi masih sama seperti terakhir dirinya menginjakkan kakinya di rumah tersebut. Bahkan bebek karet masih tersimpan di dekat wastafel. Waktu itu Chanyeol memang memiliki kebiasaan mandi bersama bebek karet, walau usianya sudah menginjak 18 tahun.
Lucu sekali. Ia pun masih tergoda untuk bermain sebentar dengan kawan lamanya.
Seulas senyuman terukir di bibir tebalnya. Diraihnya kawan lama yang sudah lama tidak disentuhnya. Kwek. Bunyinya bahkan masih terdengar sama. Digenggamnya erat-erat, agar bunyi-bunyi menggemaskan itu kembali terdengar.
Chanyeol makin bahagia. Ditambah, keberadaan kawan lamanya.
Rasanya mengharukan, mengingat memori kecil masih tersimpan di sana. Lucu sekali, bukan. Terharu karena bebek karet yang harusnya sudah tidak disimpan, apalagi dimainkan lagi.
Seharusnya, kau sadar, Park. Jika kakakmu tahu, habislah.
Namun, Chanyeol tetaplah Chanyeol. Kebahagiaan seperti ini, tidak akan mudah didapatnya lagi jika dia pulang ke tempatnya di sana. Ya, sudah seharusnya aku menikmati ini semua. Selagi masih bisa menikmati, apa salahnya? Pikirnya sedemikian rupa.
.
.
.
Seusai bernostalgia dengan kawan lama, Chanyeol langsung menghampiri lemarinya. Ketika dibuka, baru disadari jika pakaiannya masih tersimpan di dalam koper. Chanyeol merutuki kebodohan dirinya. Tanpa bubibu lagi, diraihnya koper yang masih tertata rapi di dekat laci.
Diangkatnya ke atas ranjang, lalu mengambil beberapa pakaian lalu menggantungnya yang kemudian di masukkan ke dalam lemari. Satu dari beberapa pakaian di sana, diambilnya kemeja putih beserta skinny jeans.
Dilepasnya bathrobe yang sempat melekat di tubuh jangkungnya. Lekukan tubuh yang begitu menggoda, beserta jagoan kecilnya terlihat sempurna. Bahkan para gadis di sana akan berteriak histeris melihat pemandangan menggoda seperti itu. Terkecuali untuk kakaknya.
Dipakainya celana boxer beserta jeans yang sudah disiapkannya tadi. Kini, tubuhnya sudah half naked, masih menyisakan bagian sexy dada bidang beserta abs yang kian membentuk.
Seusai memakaikan bagian bawah, kini dituntaskannya bagian atas. Dimasukkannya lengan kanan dan kiri secara bergantian. Hingga akhirnya sepasang lengannya sudah masuk sempurna di selubung kemeja. Segera, dikancingkannya satu persatu, namun menyisakan kancing paling atas yang sengaja dibuka.
Biasa, gaya anak jaman sekarang. Agar terlihat keren, katanya.
Ia kemudian menata rambut hitamnya, sedikit menyisir namun tidak memakai gel. Sengaja, lagipula tanpa dipakai, 'pun dirinya tetap terlihat tampan. Sedikit memuji diri.
Setelah dirasa cukup, ia memutuskan untuk pergi ke bawah. Perlahan-lahan diturunkan sepasang kaki panjang itu, dengan sedikit menambah kecepatan tentunya. Setelah melewati beberapa anak tangga, pemandangan yang ada di hadapannya ialah sesosok wanita yang telah mengisi kehidupannya.
"Ternyata kau sudah bangun, huh?" sahut sang Ibu seraya melontarkan senyuman lembutnya. Chanyeol membalasnya dengan senyuman lebar, "Iya, Bu. Omong-omong, kemana kakak? Padahal dia yang menyuruhku cepat-cepat mandi," katanya mengeructukan bibir. Wanita paruh baya itu terkekeh pelan, "Usiamu sebenarnya berapa? Masih bertingkah seperti anak kecil," Nyonya Park kini yang mencibirnya.
Chanyeol meringis pelan, masih mempertahankan wajah cerahnya. "Aku memang anak kecilmu, Bu..," balasnya dengan raut menggoda. Kini mereka malah melontarkan beberapa godaan kecil antara Ibu dan anak. Ah, lihat saja, bahkan mereka seperti anak muda yang melontarkan rayuan kecil.
Candaan mereka berhenti kemudian ketika mendengar suara gaduh yang ditimbulkan dari arah tangga. Terlihat si sulung berjalan tergesa-gesa, sampai tidak menyadari kegaduhannya membuat yang lain tergerak untuk menatapnya.
"Selamat pagi, Bu!—Ah! Dan kau, selamat pagi adikku sayang!" sapanya penuh kegembiraan. Wajahnya terlihat begitu cerah, mungkin efek selesainya masa periode menstruasinya. Minseok menghampiri mereka satu persatu. Dimulai dari sang Ibu, ia bahkan tak henti-hentinya mengecup seluruh wajah Ibunya bertubi-tubi.
Kini Chanyeol lah yang menjadi sasarannya. Segera dihampiri sang adik yang masih tak berkutik di tempatnya.
Cup. Cup. Cup. Cup.
Kecupannya terkesan brutal, tidak ada lembut-lembutnya. Chanyeol bahkan harus menahan nafasnya karena tidak bisa bernafas dengan baik di saat sang kakak melontarkan kecupan secara bertubi-tubi.
"Mmmph—Kak!" pekik Chanyeol, lalu melepaskan diri dari tangkupan sepasang jemari kakaknya. Merasa puas, Minseok hanya tersenyum tanpa dosa, kemudian beralih ke meja makan.
"Kakak ini, apa-apaan sih? Asal mencium saja. Aku tidak mau menjadi bujangan tua!" Chanyeol mengeluh kesal sambil mengusap wajahnya. Wajah yang tadinya cerah, menjadi muram akibat kalimat singkat Chanyeol.
"Kau mau berakhir di panggangan, huh?" sewot Minseok dengan tatapan mengerikannya. Chanyeol yang menyadari memilih diam, daripada harus berakhir di panggangan. Sang Ibu menggeleng pelan sambil terkekeh pelan, "Sudah, sudah. Habiskan sarapan kalian, setelah itu kembali berdebat lagi," Minseok mengacungkan kedua ibu jarinya, lalu menyeringai licik.
Chanyeol memasang wajah masam. Kakaknya benar-benar mengubah mood-nya begitu cepat.
"Kemana Ayah?" Minseok membuka suara kembali, setelah merasa adanya kejanggalan. Raut wajah yang sempat menampilkan kebahagiaan, kini berubah menjadi sendu. Sempat tak ada jawaban, namun segera ditepis segala pikiran itu.
"Beliau sedang istirahat." Jawab Nyonya Park dengan lembut. Minseok mengangguk pelan, diikuti bibir yang membuat pola oh. Diam-diam Chanyeol mendengar perbincangan mereka, namun dirinya memilih bungkam.
Di tengah sarapan, mereka memilih diam. Termasuk Minseok. Biasanya ialah yang selalu cerewet menceritakan segala kejadian yang dialaminya di kota. Namun kali ini, ia juga memilih bungkam.
Mengetahui keheningan tersebut, Chanyeol membuka suara. "Bu, aku selesai," Chanyeol berdiri, lalu meninggalkan kursinya. Baru sampai di ujung tangga, ia berbalik. "Kak, katanya mau pergi. Kenapa malah diam saja?"
Mendengar itu, Minseok langsung tersedak oleh makanannya sendiri. Ia merutuki kecerobohannya dalam mengingat sesuatu. Cepat-cepat dilahapnya nasi yang ada di mangkuk. Tak lupa dengan daging yang tersisa, ia kemudian menelannya bulat-bulat. Ia juga meneguk air mineral yang ada di gelasnya dengan cepat, hingga tak tersisa setetes pun.
"Maaf, Bu. Aku tidak bisa membantumu membersihkan piring. Jadi, lain kali saja, ya?" rayu Minseok tanpa menunggu jawaban dari sang Ibu. Wanita paruh baya itu hanya menggeleng sesaat, tak lupa dengan senyuman lembutnya.
Tatapannya berubah sendu, setelah sosok jangkung itu menghilang dari pandangannya. Ribuan pertanyaan memenuhi pikirannya. Sesekali ia melamun, memikirkan apa penyebab dari semua ini. Kini tatapannya menjadi kosong. Menyisakan mangkuk yang masih tergeletak di atas meja.
Kapan kau akan mengerti, Chanyeol?
.
.
.
To Be Continued…
Finally, ch 2 is up!
Sebenernya agak ga percaya bisa menyelesaikan chapter ini dalam seminggu. Tepatnya, menghasilkan 3,8k+ words! /clapping/
Dan kalian tau? Padahal aku terakhir nyelesain ini pas setelah update chap 1, tapi masih dalam kisaran 500+ words. Incredible. I've finished this chap aft school, till reached almost 4k. ;"")
Emang sih, buat kalian 3k sampai 4k itu hal yang biasa. Tapi engga buat aku. Aku ngerasa beneran hebat, karena dalam sehari bisa menyelesaikan ini, walaupun dalam 5 hari ga ngerjain apa-apa. Terharu ya;"D
Aku emang sengaja nganggurin ff ini. Biasa, tunggu inspirasi lain. Tapi setelah merenung, akhirnya bisa bikin kerangka. Dan kalian tau? Aku bahkan udah mikirin bakalan gimana endingnya /ga nanya/
Intinya untuk fanfic ini, bakalan complicated (halah) karena aku ngegabungin beberapa unsur yang agak belibet. Sengaja ya, biar ga kecepetan. Tapi untuk bagian konflik dan klimaks itu masih lama. Tapi masih kemungkinan ya. Gak janji juga. Sesuai mood lah xD
Dan setelah ff ini, aku bakalan kasih prequel (hayoloh). Prequel ya, bukan sequel. Eittss, tapi masih dirahasiakan /? Intinya gak ada chanbaeknya, malah mungkin kisah lain yang terselubung /?
Itu lah sekelumit perkiraanku. Ya semoga aku bisa nyelesaiin nih epep;")
Janji kok, ga bakal discontinued. Aku ga sejahat itu memberhentikan fanfic di tengah jalan;") tapi mungkin bakal late post. Ya u know lha. Di antara sengaja dan tak sengaja /ea
Berhubung minggu depan aku bakal menghadapi UN, jadi untuk minggu besok aku gak janji bisa post chap 3. Mungkin dua minggu kemudian hehe. Jadi, mohon bersabar ya. Tuntutan pelajar ya memang kek gini. Aku juga sampe ga tidur gegara rela-relain bikin kerangkanya doing;") /duh lebay
Btw, selain faktor urusan real, ada juga faktor urusan fanacc (apasih). Mengingat berita tao yang masih menggantung tanpa statement yang jelas. Jadi masih bisa berpeluang kalo berita itu hanya rumor belaka. Semoga aja rumor deh. Kasian, kalo tiap tahun harus ilang satu. Kan sedih. Duh jadi baper kan, heu.
Dan untuk nanti, jangan lupa nonton exo next door ya! (walaupun aku ga nonton. Tunggu upload-an senpai-senpai yang baik hati)
Terus juga, buat yang chanbaek shipper hardcore /? Selamat! Akhirnya impian kalian tercapai juga;") mengkhayal chanbaek bakal ngurus si kembar trouble maker. Sumpah, histeris banget, rasanya campur aduk gitu;")
Ya intinya tunggu jam tayangnya aja. Dan siapin kuota buat yang sering boros kuota (seperti diriku)
Sekian dari cuap-cuapnya. Mohon maaf jika ada kesalahan kata maupun kalimat. Jika kalian ingin memberi masukan, silahkan PM, atau letakkan di kolom review, sebagai bentuk partisipasi dari kalian. Terima kasih juga untuk readers yang menyempatkan untuk membaca fanfic absurd ini, dan untuk yang udah baca+review, beribu terima kasih saya ucapkan!
Akhir kata, wassalam.
Mind to review, guys?
Regards,
dearestnoona
28 April 2015
