Alchemist : The last Number

Inspired from Fullmetal Alchemist Brotherhood

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

.

.

Sinopsis : Ayah yang dicintainya dengan tega membunuh ibu mereka sendiri. Uzumaki Naruto bersama adiknya, Uzumaki Menma melakukan larangan terbesar dalam dunia Alkemi. Mereka berdua mencoba menghidupkan kembali ibu mereka dengan transmutasi manusia. Sebuah hal tabu yang seharusnya tidak dilakukan. Sebagai bayaran atas perbuatan mereka sang kakak harus menerima konsekuensinya yaitu kehilangan adik yang ia sayangi. Disinilah awal baru cerita sang kakak dimulai...

Let's Go Happy Reading

.

.

Chapter 3 : Naruto vs Leto

"Tangkap bocah itu! Jangan biarkan mereka lari" teriak Leto kepada seluruh bawahannya. Mereka yang mendengar perintah tuannya langsung melesat cepat mengejar Naruto dan yang lain.

"Hoi bocah berhenti kau..." ucap salah satu pria berseragam hitam kepada Naruto. Pria itu menggenggam sebuah pistol dan mengarahkannya kearah remaja pirang itu.

"Heh, sepertinya ini akan menarik! Shion, tolong kau jaga Sara sebentar.." perintah Naruto lalu melepaskan gendongannya. Gadis bersurai merah itu kini telah berada disamping Shion. Oke kita bereskan masalah ini. Mata Naruto memandang kedepan tepatnya kearah bawahan Leto. Seulas senyum tercipta dari bibirnya.

"A-Apa yang ingin kau lakukan Naru?!" tanya Shion. Remaja pirang itu sepertinya akan melakukan sesuatu yang mengejutkan lagi.

"Hanya memberi pelajaran sedikit!" ucap Naruto kemudian menyatukan kedua tangannya. Remaja pirang itu kemudian memegang katana yang dibuatnya tadi lalu tiba-tiba sebuah cahaya terang muncul.

SRINGG...

"A-Apa itu...?!" ucap salah satu bawahan Leto. Cahaya terang itu kemudian perlahan sirna. Katana yang Naruto pegang ternyata secara ajaib berubah menjadi sebuah bola besi raksasa. Lantai yang berada disekitarnya ternyata menjadi tambahan untuk membuat benda tersebut.

"Dengan ini pertarungan menjadi seimbang bukan..." sahut Naruto lalu menempelkan tangan kanannya dibola itu. Remaja itu menghirup nafas sebentar lalu dengan cepat menghentakan tangannya. Bola besi tersebut dengan cepat mengarah kearah bawahan Leto. Mereka yang melihat itu dengan cepat berlari kearah yang berlawanan.

"Minna! Cepat lari sekarang juga" teriak salah satu bawahan. Mereka semua berlari meninggalkan Naruto yang tersenyum puas. Setidaknya ini dapat mengulur waktu lebih lama lagi. Baiklah, lebih baik ia segera bergegas.

"Sara, Shion! Ayo kita perg..-"

"Tidak akan kubiarkan kalian pergi!"

SRINGG...

Permukaan lantai disekitar pintu keluar kini tertutup. Leto menggunakan alkeminya untuk memblokade jalan keluar mereka bertiga. Remaja pirang itu harus memikirkan rencana lain sekarang.

"Sara! Beraninya kau menghianatiku. Terimalah kematianmu sekarang!" teriak Leto

SRINGG...

Tumbukan batu tepat mengarah kearah Shion dan Sara. Kedua gadis itu memeluk satu sama lain. Apakah ini akhir dari hidup mereka..?! Tidak, cerita ini masih panjang dan tokoh utama kita pasti tidak akan membiarkan mereka terbunuh.

BLARR...

Beberapa meter sebelum serangan itu mengenai mereka. Sebuah dinding batu nampak tercipta dan melindungi Shion dan Sara. Sepertinya kalian sudah tau siapa pelakunya. Yap Naruto, remaja pirang itu menggunakan alkeminya untuk menghalangi tumbukan batu tadi. Iris berbeda warna itu kemudian menatap tajam Leto. Bersiaplah kali ini remaja pirang itu dalam mode serius.

"Jii-san! Apa kau tidak pernah belajar menghormati seorang perempuan. Kalau begitu aku akan mengajarkanmu.." ucap Naruto dingin. Remaja pirang itu merapatkan kedua tangannya lagi. Sebuah palu raksasa tercipta, Naruto tanpa aba-aba langsung melesat kearah Leto.

"K-Konoyaro! Jangan meremehkanku bocah!" teriak Leto. Kakek tua itu juga tak mau kalah. Entah darimana ia dapat membuat puluhan pisau, padahal tidak ada materi logam ditempat tersebut. Ini sama seperti ia membuat bunga menjadi sebuah kristal.

"Yabai! Kalau seperti ini akan susah mendekatinya.." pikir Naruto melihat puluhan pisau itu melesat kearahnya. Remaja pirang itu dengan cekatan menghindarinya. Tapi meskipun begitu, beberapa dari benda itu terlihat menusuk kaki dan juga tangannya.

"Hahaha! Inilah kekuatan tuha..-"

DUAKKK...

"Jangan lengah, Jii-san!" teriak Naruto yang berhasil mendapatkan celah. Leto terlihat terpental jauh. Namun sepertinya kakek tua itu mulai bangkit lagi. Remaja pirang itu menatap waspada sekarang.

"K-Kusoo! Dasar bocah yang merepotkan. Pergilah ke neraka sekarang juga!" teriak Leto. Perlahan dari arah cincinnya, sebuah cahaya berwarna merah muncul. Bersamaan dengan itu juga tubuh Leto pun berubah menyerupai seekor gorila. Jadi dengan benda itu ia membuat chimera pikir Naruto.

BLARR...

Ledakan dahsyat tercipta. Leto yang telah berwujud gorilla itu kemudian melesat kearah Naruto.

"Shimata!" pikir Naruto menghindar. Tapi sepertinya luka di kaki dan juga tangannya menghambat gerakannya. Alhasil Leto berhasil memukul kepala remaja pirang itu hingga terpental sampai ketempat Sara dan Shion.

"Naru! Kau terluka..." teriak Shion panik. Gadis pirang itu dengan cepat membantu Naruto berdiri, menghiraukan keberadaan Sara disampingnya. Pemilik surai merah itu juga sepertinya mengkhawatirkan Naruto. Hanya saja gadis itu tidak berani mengatakannya.

"Ja-Jangan khawatir Shion, ini hanya luka kecil" rintih Naruto. Remaja pirang itu tidak ingin Shion khawatir. Lagipula beberapa luka tidak buruk juga, bukannya ia akan terlihat keren jika mempunyainya. Oke kita bahas itu lain kali, Terlihat Leto lagi-lagi melesat kearah mereka bertiga.

"Cih! Dia tidak memberiku kesempatan. Kalau begini.." ucap Naruto merapatkan tangannya lagi. Remaja pirang itu kemudian menutup mata kanannya lalu membiarkan mata kirinya terbuka. Iris merahnya itu menatap tajam Leto. Dengan cepat, tangan Naruto menyentuh lantai yang ada dibawahnya. Kali ini serangannya berbeda dari sebelumnya.

SRINGG...

BRAKK...

Benturan keras terdengar. Debu dari benturan itu pun berangsur-angsur hilang hingga menampakan apa yang terjadi sebelumnya. Betapa terkejutnya Leto, remaja pirang itu...?! Ia membuat tangannya menjadi batu.

"B-Bagaimana kau melakukannya...?" ucap Leto kaget. Seberapa hebat sebenarnya bocah ini. Sepertinya kakek tua itu mulai ragu untuk mengalahkan Naruto. Belum lagi cincin merahnya yang terlihat meredup. Sepertinya benda itu tidak akan bertahan lebih lama lagi.

"Entahlah, hal ini sudah ada didalam kepalaku. Tapi sebelum itu, terima pukulanku ini!" teriak Naruto memukul Leto dengan kedua tangan batunya. Kakek tua itu pun mau tak mau harus terpental karna serangan itu. Tidak sampai disitu saja, tangan batu itu kemudian perlahan berubah menjadi runcing.

"Sudah berakhir, kakek tua.." ucap Naruto melesat kearah Leto. Kakek tua itu mencoba menghindar. Tapi sebelum itu, cahaya merah dari cincinnya kini telah hilang. Tubuh Leto kini berubah seperti semula lagi.

"Jadi cincin itu tidak bisa bertahan selamanya. Baguslah, ini keuntungan buatku.." Naruto sudah berada beberapa meter dari Leto. Kakek tua itu kini tak dapat menghindar, tapi sebelum tangan runcing Naruto mengenai perut Leto. Remaja itu mengubah tangannya menjadi sedia kala.

"Terima ini!"

BUAKKK...

Pukulan keras dengan tepat mengenai perut Leto. Kakek tua itu terhempas hingga membentur dinding. Sepertinya untuk beberapa jam kakek itu harus tertidur lebih lama. Naruto menarik nafasnya tak beraturan. Jujur, ia sangat kelelahan sekarang. Keringat mengalir pelan dari pelipis miliknya. Hal pertama yang ia lakukan adalah berjalan kearah Shion dan Sara.

"Naruto!" teriak Shion. Gadis itu berlari kearah Naruto dengan diikuti langkah pelan Sara dari belakang. Ia dengan cepat menghamburkan pelukan kearah remaja pirang tersebut. Jika saja Naruto tidak menambah beban ditubuhnya, remaja pirang itu mungkin saja terjungkal akibat perlakuan Shion.

"Baka! Baka! Baka! Kau membuatku khawatir.." teriak Shion memukul pelan dada bidang Naruto. Pemilik marga uzumaki itu dengan pelan mengusap puncak kepala Shion. Ia tau... sangat tau kalau gadis didepannya ini sangat khawatir.

"Tenanglah Shion, aku tidak apa-apa.." ucap Naruto mendekap tubuh Shion, membuat surai pirang itu sedikit tenang sekarang. Sara yang melihat itu terbesit rasa iri dihatinya. Beruntung sekali Shion memiliki Naruto berbeda dengannya. Sejak kecil ia hanya sebatang kara, ditinggalkan ayah dan ibunya karena perang.

"Hei Sara! Apa yang kau lamunkan.." ucap Naruto membuyarkan pikiran Sara. Gadis bersurai merah itu kemudian mendekati Naruto dan Shion. Kedua remaja itu terlihat telah melepaskan pelukan mereka berdua, mencoba memberi ruang kepada Sara.

"Uhm tidak ada. N-Naru..-"

"Naruto...Uzumaki Naruto. Salam kenal Sara..." ucap Naruto dengan senyum hangatnya, membuat Sara sejenak terpukau. Gadis bersurai merah itu merasakan perasaan aneh dalam tubuhnya. Entahlah, ia bingung sebenarnya perasaan apa ini. Tapi yang pasti, hatinya menghangat saat melihat senyuman remaja pirang itu.

"Sa-Salam kenal juga Na-Naruto-kun.." sahut Sara dengan terbata-bata. Jika diperhatikan dengan jelas, ada sedikit rona merah muncul dari kedua pipinya dan Shion menyadari hal itu. Gadis pirang itu terlihat tidak suka melihat keadaan ini. Ia menggandeng lengan Naruto mencoba memberi isyarat kalau remaja pirang ini miliknya.

"Jadi...Apa yang akan kau lakukan sekarang Sara?!" tanya Naruto. Setelah mengetahui kebenaran bahwa Leto adalah seorang pembohong, tidak mungkin kalau gadis bersurai merah ini akan diam saja. Bukannya Naruto terlalu peduli pada gadis yang baru dikenalnya itu. Hanya saja, remaja itu sedikit bersimpati pada Sara.

"Se-Sebelumnya, apa benar Naruto-kun melakukan hal tabu?!" tanya Sara. Sebenarnya gadis itu sedikit ragu untuk menanyakan pertanyaan ini. Ia takut kalau remaja yang ada didepannya ini tidak menyukainya. Tapi, apa yang Sara dapat bukanlah tamparan atau bentakan. Naruto hanya tersenyum, lebih tepatnya tersenyum sendu. Ia dapat melihat tatapan remaja itu meredup.

"Aku hanya ingin melihat senyuman ibu lagi. Tapi apa yang kulakukan ternyata gagal, itu tidak terlihat seperti manusia. Adikku menjadi korban akibat kesalahanku. Dari situ aku menyadari kalau orang yang telah mati tak bisa dihidupkan lagi..." terang Naruto. Remaja pirang itu mengatakannya dengan lancar. Tak ada lagi air mata seperti dulu, ia tidak ingin menangisi apapun lagi saat ini.

"Mata ini adalah bukti kalau aku seorang pendosa. Aku berfikir untuk mengakhiri hidupku saat itu. Tapi...Seseorang menyelamatkanku. Ia sangat menyebalkan, selalu memukulku, dan sangat cerewet..." ucap Naruto. Remaja pirang itu terdiam sejenak lalu melirik Shion disampingnya. Gadis itu lah alasan kenapa ia masih bisa berdiri sekarang. Karena itu ia tidak ingin mengecewakan kesempatan yang telah diberikan gadis itu. Shion terlalu baik...bahkan terlalu baik untuk seorang pendosa sepertinya.

"Karna itulah...Karena itulah...aku tidak mau menyesali apapun" ucap Naruto menatap Sara. Tak ada keraguan disetiap ucapannya dan Sara tau itu. Pemilik surai merah itu kini mengerti apa yang harus dilakukannya sekarang. Ia akan seperti Naruto, mulai sekarang ia tidak akan menyerah. Remaja pirang ini memberikan banyak pelajaran padanya.

"Naruto-kun...Arigatou. Mulai sekarang aku tidak akan menyerah. Setelah semua ini berakhir aku akan memberitahukan penduduk tentang kebenaran ini. Terima kasih... karenamu aku...aku.." Sara tidak bisa berkata-kata lagi. Liquid bening mengalir pelan dikedua pipinya. Melihat itu Naruto senang. Untuk saat ini ia tidak ingin mencampuri urusan Sara. Karna itu, jika ada waktu mereka pasti akan bertemu lagi..

"Sara... bangkit dan berjuanglah!" ucap Naruto. Meninggalkan Sara dalam kesendiriannya. Remaja pirang itu bersama Shion berjalan pergi tanpa melihat gadis bersurai merah itu. Bagi Naruto, inilah yang terbaik. Remaja pirang itu harus fokus dengan apa yang harus ia lakukan sekarang.

.

~The last Number~

.

.

"Nhe Naru apa tidak apa-apa seperti ini..?!" tanya Shion kearah Naruto. Mereka berdua terlihat berada disebuah kereta yang sepertinya akan menuju kekonoha. Tidak aneh, jarak kekonoha memakan waktu lama sehingga kereta menjadi salah satu kendaraan efektif.

"Daijobu aku baik-baik saja. Selain itu, apa kau punya sesuatu untuk dimakan..." ucap Naruto semangat. Shion yang melihat itu tersenyum, sepertinya tak ada yang perlu dikhawatirkan. Yap, Naruto tetaplah Naruto. Remaja pirang bodoh yang selalu semangat. Tapi karena itulah Shion menyukainya.

"Kau ini...Tahanlah sedikit lagi. Dikonoha kau boleh makan ramen sepuasnya!" teriak Shion. Naruto yang mendengar itu tak dapat menyembunyikan kesenangannya. Ia meloncat kegirangan seperti anak kecil yang senang dibelikan mainan oleh ibunya. Melihat itu, Shion mau tak mau ikut senang. Mereka berdua melupakan semua kejadian yang telah berlalu.

KRINGGG...

"Untuk penumpang sekalian kita sudah sampai di Konoha. Harap tenang dan keluar dengan tertib..." ucap suara masinis

"Nhe-nhe Shion Hayakun!" teriak Naruto sambil menggandeng tangan Shion. Yang digandeng hanya bisa menurut dan lagipula ia senang dengan perlakuan remaja pirang itu. Terbukti dari raut merah yang muncul dari pipi Shion.

"I-Iya Naru pelan-pelan..." balas Shion.

Sesampainya diluar kereta. Hal pertama yang ingin diucapkan Naruto adalah luar biasa. Konoha benar-benar kota yang hebat, remaja pirang itu baru pertama kali mengunjungi tempat ini. Mereka berdua terlihat berjalan-jalan mengelilingi kota itu. Beberapa pasang mata melihat mereka seperti kekasih, yah tidak aneh mereka sangat cocok kok. Yang satu bodoh dan satunya lagi cerewet.

"Shion kota ini sangat hebat! Kapan-kapan kita ajak Baa-chan kesini.." ucap Naruto. Sejak keluarnya dari kereta remaja itu sangat gembira. Shion yang melihat itu ikut senang. Yah meskipun gadis pirang itu dibuat ilfeel oleh kelakuan Naruto tapi ia tak bisa menutupi bahwa ia senang menghabiskan waktu bersama remaja itu.

BRUKKK...

"I-Ittai...!" teriak Naruto

"Na-Naru kau tidak apa-apa?! Hei nona kalau jalan hati-hati..." ucap Shion kepada perempuan yang ada didepannya.

"A-Aku minta maaf! Hari ini aku sedang buru-buru. J-Jika tidak aku akan telat ke Academy Konoha..." terang perempuan itu.

Naruto yang mendengar perempuan itu mengucapkan Academy Konoha langsung berdiri. Jadi orang yang di depannya ini adalah salah satu murid disana. Sepertinya ini hari keberuntungannya, ia tidak perlu repot-repot mencari tempat itu sekarang.

"Tidak apa-apa kok. Soal dia tolong maafkan yah, ia memang cerewet sejak lahir" sahut Naruto kepada perempuan didepannya. Shion yang mendengar itu langsung memberikan tatapan tajam kearah remaja pirang itu. Seenaknya saja bilang kalau dia cerewet..

"Jadi, sebagai permintaan maafmu. Bisakah nona manis ini mengajakku juga ke Academy Konoha...Nhe..?!"

"H-Hinata...Hyuga Hinata. Ba-Baiklah dengan senang hati eto...?" pikir Hinata tidak tau nama pemuda didepannya.

"Uzumaki Naruto, salam kenal Nata-chan..." ucap Naruto dengan senyumnya

BLUSHH...

Hinata mendadak memerah. Shion yang melihat kelakuan Naruto menggeram kesal. Dasar playboy cap rubah, Waktu itu Sara dan sekarang gadis yang bernama Hinata. Apa ia akan menggoda seluruh wanita yang ditemuinya. Kalau seperti itu Shion tidak akan membiarkan itu terjadi..

KRETEKK...KRETEKK...

"Na...Ru~" bisik Shion yang dengan sukses membuat bulu kuduk Naruto berdiri. Dengan gerakan patah-patah remaja itu menatap Shion. Aura suram nampak mengelilingi gadis pirang itu. Oh shit ini gawat pikir Naruto melihatnya.

"S-Shion K-Kau kenapa.." ucap Naruto takut-takut. Remaja pirang itu mencoba mencari kesalahan yang membuat Shion seperti ini. Tapi seberapa keras pun, remaja yang memang dasarnya kurang peka terhadap perasaan perempuan itu tidak akan bisa menemukannya. Hah betapa malangnya dirimu Naruto.

BLETAKK...BLETAKK...

"I-Ittai! Apa yang kau lakukan Shion.." teriak Naruto yang mendapatkan beberapa pukulan manis dikepala pirang miliknya. Pelaku yang tidak lain adalah Shion terlihat mengembungkan pipinya. Yah, kebiasaan gadis itu saat marah akhirnya muncul lagi.

"Urusai! Dasar playboy cap rubah!" teriak Shion. Gadis pirang itu kembali mendaratkan pukulannya kearah kepala Naruto. Sepertinya remaja pirang itu memang benar-benar perlu waktu yang lama untuk memahami perasaan seorang gadis

"H-Hei kalian berdua kenapa..?!" tanya Hinata melihat dua remaja yang baru dikenalnya itu nampak sedang bertengkar. Tapi sepertinya salah satu dari mereka tak berniat sedikit pun menjawab pertanyaan gadis hyuga itu.

"Korra! Jangan menghindar kau Naru!"

"Arghh! Berhenti memukulku Shionn!"

.

.

To Be Continued

Author Note : Yosh chapter 3 selesai. Untuk pertanyaan kenapa Menma tidak diambil jiwanya oleh Naruto dengan pertukaran setara. Itu memang ide saya, karena tidak asik kalo cerita ini terlalu mengikuti alur dari animenya. Untuk Shion memang hampir mirip meranin Winry tapi dicerita ini dia bukanlah seorang ahli automail. Oke segitu dulu dari ane karna gak baik kalo semuanya dibocorin. So ane author danu izin logout...