GREP!

Ketika Hibari masuk ke jok belakang taksi, ia merasa lengannya dicengkram kuat, membuatnya terkejut.

"Apa-apaan kau?!" hardik Hibari pada orang yang mencengkram lengan kanannya. Tapi Hibari tidak berhasil melihat pelakunya karena dengan gerakan cepat sang pelaku menggunakan tangannya yang bebas untuk menutup mata Hibari.

"Aku perlu membicarakan sesuatu denganmu." Suara yang samar-samar Hibari ingat itu sukses membuat rasa takut dan cemas bermunculan di batin pria blasteran Jepang Perancis ini.

'Shit. Apakah aku sudah ketahuan?!'

.

Kiss of Revenge

Katekyou Hitman Reborn by Amano Akira

Rate: T

Genre: Hurt/Comfort , Romance

TYL scene, Adult Arcobaleno, super OOC! Dino, typo(s) maybe

Kiss of Revenge game originally belong to Voltage . Inc

Enjoy~

.

Chapter 3

.

"Masuk!" suara memerintah itu memaksa Hibari untuk segera masuk ke dalam taxi dengan tergesa-gesa dan perasaan dag dig dug. Setelah telinga Hibari mendengar suara pintu ditutup, barulah orang yang 'menculiknya' itu melepaskan tangannya yang sedari tadi menutup kedua manik biru metal Hibari.

"Cavallone?" Hibari menatap Dino dengan keheranan. Sedangkan yang ditatap hanya diam, terlihat sang dokter sedang memperhatikan wajah Hibari dengan seksama.

'Apa yang ingin dia tanyakan hingga harus menculikku seperti ini? Aku tidak pernah membicarakan hal lain selain operasi didepannya…' pikir Hibari ketika sorot mata Dino semakin fokus ke wajahnya, membuatnya mau tidak mau menjadi sedikit cemas dan salah tingkah dipandangi seperti itu.

"A-Ada apa?"

Oh, sungguh. Hibari sekarang merasa seperti gadis remaja baru kasmaran yang sedang salah tingkah di pandangi secara interns oleh sang pujaan hati.

Dino mengalihkan pandangannya ke samping, seakan ragu-ragu untuk menjawab pertanyaan Hibari, "Ah.. Tidak.. Aku hanya…"

Pria bermata sipit itu mengernyitkan dahinya sedikit saat mendengar nada Dino yang ragu-ragu dan terkesan bahwa dokter berambut pirang itu akan menanyakan sebuah hal yang tabu bagi Hibari.

"Ada apa?"

"Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?"

Ah, hati Hibari mencelos mendengar pertanyaan Dino.

Tidak mungkin.

Kejadian itu terjadi dua belas tahun yang lalu, apakah iya saat itu Dino yang kemungkinan masih berstatus residen pernah melihat dan mengingat wajahnya?

Hibari mengeratkan kepalan tangan kanannya, walau tidak disadari oleh Dino karena yang bersangkutan sibuk berbicara dengan sang sopir taksi, memerintahkannya untuk terus saja jalan.

Lagipula, apakah iya ingatan Dino benar-benar kuat sehingga ia masih bisa mengingat Hibari padahal Hibari sendiri merasa tidak pernah melihat Dino di rumah sakit dua belas tahun silam.

Sial, Hibari meruntuki dirinya sendiri karena tidak begitu memperhatikan keadaan sekitar dua belas tahun lalu sehingga sekarang ia bisa menentukan kepada dokter siapa yang mungkin mengingat wajahnya ia mesti waspada.

'Tenang Kyouya, tenang. Jika kau gugup, maka orang ini akan curiga.' Batin Hibari.

"Ini terkesan sangat tiba-tiba, Dokter." Tukas Hibari yang sudah bisa mengendalikan emosi dan menggunakan topeng wajah datarnya. Raut wajah Dino menunjukkan bahwa sepertinya ia menyesal telah menanyakan pertanyaan itu pada Hibari.

"Tidak, aku hanya merasa familiar dengan wajahmu.." respon Dino dengan suara yang makin memelan.

Melihat respon yang janggal itu, Hibari jadi berpikir, apakah ia terlalu dingin sehingga Dino seperti tidak enak begitu setelah mendapat balasan darinya. Oke, sekarang Hibari harus memutar otak lagi untuk mencari kalimat pencair suasana.

"Mungkin, ini bukan kali pertama kita bertemu." Cicit Hibari dengan suara nyaris tidak bisa di dengar. Tapi, di taksi yang sepi itu tentu saja Dino bisa mendengarnya dengan jelas, dan mata berwarna coklat madu miliknya langsung membelak dan memandang Hibari dengan ekspresi heran.

"Aku pernah melihatmu sewaktu interview sebelum bekerja disini. Kau bisa saja tidak sengaja melihatku juga. Dan mungkin karena wajah Asia-ku yang khas membuatmu mengingat dengan mudah."

Ya, Hibari sengaja tidak menyebut "wajah blasteran Eropa-Asia" karena ia takut, ada kemungkin Dino memang benar-benar pernah melihatnya dulu dan jika ia buka kartu, rencana balas dendam Hibari bisa dipastikan gagal. Dino tampaknya tidak puas dengan jawaban Hibari dan ia kembali melekatkan pandangannya pada wajah lawan bicaranya itu.

Hibari diam-diam meneguk ludah ketika mata Dino menelurusi wajah dan lehernya, seakan-akan benar-benar ingin menyatakan bahwa Hibari sepenuhnya orang Asia yang pernah ia lihat secara tidak sengaja.

Entah Dino menyadarinya atau tidak, namun di samping kulit putih dan rambut hitam legam khas orang Asia Hibari, ada beberapa titik yang menunjukkan bahwa ia memiliki darah Perancis.

Mata biru gelap –nyaris hitam jika tidak diperhatikan dengan seksama- dan hidung yang lumayan mancung warisan sang ayah.

Setelah beberapa menit terdiam, Dino akhirnya tampak menyerah dan mengiyakan pernyataan Hibari.

"Kau benar, mungkin itu penyebabnya. Maaf sudah mengganggumu—Stop disini pak!" kata Dino sebari merongoh dompet untuk membayar taksi, namun tangan Hibari spontan memegang tangan dokter bedah ternama itu, bermaksud untuk mencegahnya.

"Tidak perlu. Kau pulang menggunakan taksi ini saja. Ini sudah malam."

Hibari tidak percaya ia mengatakan hal yang menurutnya memalukan itu. Namun, di dalam hatinya ia penasaran dengan tempat tinggal sang direktur. Di benaknya terpikir, mereka berdua adalah ayah dan anak. Pasti tinggal di satu rumah yang sama. 'Ini kesempatanku!'

Dino menggelengkan kepalanya dan menolak dengan halus.

"Apa kau akan menuju ke arah yang berlawanan?" desak Hibari.

"Tidak…" kata Dino yang sedang memalingkan wajahnya ke arah jendela dan menikmati pemandangan padatnya Roma di malam hari.

"Kalau begitu tidak masalah, lanjut jalan pak." Titah Hibari kepada sang supir taksi yang sedari tadi terpaku memperhatikan perdebatan kecil mereka.

-x-

"Berhenti disini, pak."

Taksi berwarna putih itu berhenti di depan sebuah gedung apartemen. Tampaknya Dino sendiri tidak tinggal bersama dengan ayahnya, entah karena alasan apa Hibari tidak tahu.

Pria berumur tiga puluh empat tahun itu akhirnya beranjak turun setelah sebelumnya membayar tagihan yang terpampang di mesin menghitung jarak taksi.

"Selamat malam." Ucap Dino sebelum menutup kembali pintu taksi dan menghilang ke dalam gedung apartemen super mewah itu.

-x-

Hibari datang pagi-pagi sekali ke rumah sakit. Bukan karena ia yang terlalu rajin, hanya saja ia secara tidak sadar telah memajukan wekernya satu jam lebih awal dari biasanya. Sehingga sekarang, ia di sambut dengan kekosongan di Nurse Station. Tampaknya perawat yang berjaga malam kemarin sedang keluar sebentar untuk sarapan. Berhubung, biasanya para suster akan sibuk di siang hari membantu dokter di sana.

Hibari menyadari adanya komputer di pojok dan berbagai berkas yang sudah tertata rapi di lemari di tempat serba putih yang memiliki jendela tanpa kaca raksasa untuk memudahkan para suster berinteraksi dengan pasien yang meminta informasi tersebut. Kaki jenjang Hibari yang terbalut celana kain berwarna hitam secara otomatis langsung membawanya menuju komputer. Menurut pengalaman Hibari bekerja di berbagai rumah sakit sebelum ini, biasanya komputer di kantor atau pos perawat itu memiliki beberapa data pasien. Berusaha untuk mencoba peruntungan, Hibari akhirnya mengambil keputusan ia akan mengorek isi folder dari komputer tersebut.

Beruntung baginya, sepertinya suster yang berjaga baru saja mengutak-atik komputer tersebut sehingga Hibari mendapati komputer itu tanpa adanya password. Hibari mengklik sebuah icon, dan langsung muncul berbagai folder. Dengan asal-asalan dan sedikit menebak-nebak, Hibari mengklik sebuah folder dan terpampanglah berbagai nama dan umur pasien sebagai judul dari puluhan file itu.

"Alaude… Nuvola…" desis Hibari selagi matanya sibuk meneliti berbagai nama yang berderet di layar.

Bodoh. Dengan mudahnya ia berpikir bahwa file dari ayahnya masih ada? Kejadian itu sudah sangat lama.

"Selamat pagi, dokter!" suara sopran itu mengejutkan Hibari, tangan Hibari yang awalnya bergerak lincah meng-scroll mouse menjadi terhenti seketika. Dokter muda itu memutar kursi putar tempat ia duduk dan melihat seorang suster muda dengan rambut coklat tua dan diikat ponytail ke belakang.

"Selamat pagi…eh…"

"Miura Haru! Senang bisa bekerja denganmu, Dokter Hibari. Aku sudah mendengar banyak tentangmu dari Sasagawa-san." Timpal perawat yang menurut Hibari kelewat enerjik itu.

Ah, jadi ini dia, perawat yang kemarin dikatakan sedang membantu Dino operasi. Ia kira perawat yang membantu Dino adalah perawat senior yang mungkin sudah berusia kepala tiga.

Perawat berwajah imut dan sepertinya memiliki usia yang tidak jauh dari Hibari itu menaikkan satu alisnya ketika menyadari bahwa Hibari sedang duduk di kursi komputer yang sebelumnya ia duduki.

"Hahi? Kau sedang apa, dokter?" tanyanya dengan raut wajah penasaran. Mungkin tidak biasanya para dokter mengecek data pasien dari sini, entahlah Hibari belum mengetahui kebiasaan dokter-dokter disini.

Hibari tampak berpikir, jawaban apa yang bagus untuk ia gunakan menjawab pertanyaan sang suster. Apakah ia harus menjawab 'Tidak, hanya melihat-lihat data pasien secara keseluruhan.'?

Tidak. Menurut Hibari kesannya akan aneh, terkesan kurang kerjaan karena bagaimana pun ia sudah menggunakan fasilitas privasi.

Atau ia harus menjawab "Oh bukan siapa-siapa."? Ini apalagi, tambah terkesan mencurigakan.

Namun, jika ia langsung bertanya nama pada Haru, itu akan menimbulkan kecurigaan yang lebih besar lagi, karena ia baru sehari bekerja disini dan bukankah aneh jika secara tiba-tiba ia bertanya sebuah nama yang sudah ditangani rumah sakit ini bertahun-tahun silam?

Akhirnya, Hibari memutuskan untuk menjawab, "Hanya melihat data pasien yang kemarin kutangani…"

Di luar dugaan, Haru malah terkekeh pelan, "Sangat berdedikasi."

"Jika ingin bekerja disini, aku harus tau setidaknya data para pasien, terutama bagian bedah. Jika tidak, aku akan menjadi beban bagi para dokter bedah yang lain." Jawab Hibari dengan sedikit nada tersirat bahwa ia tidak terima ditertawakan oleh Haru. "Tapi jangan terlalu memaksakan diri juga, dokter—Ah! Ini data untuk pasien lama, untuk pasien baru di sebelah sini." Kata Haru sebari menunjuk sebuah folder di pojok ketika Hibari secara otomatis membalikkannya ke folder utama.

"Ngomong-ngomong tentang data pasien lama…" Hibari mengalihkan pembicaraan. "Hng?"

"Semua data sudah di rekap dan di simpan di sebuah server pusat… kan? Maksudku data yang berupa kertas."

"Seharusnya sih begitu…"

"Kalau data yang di komputer atau yang disimpan secara elektronik rentang waktunya lima tahun ya?"

Di sini Haru terdiam sejenak, "Ya… Kurasa.."

"…"

"Bukan, sepuluh tahun."

Hibari dan Haru secara bersamaan menoleh ke asal suara, dan Hibari kembali tidak mengenali pria bersurai pirang yang terkesan sedikit berantakan namun memiliki aura berwibawa ini.

"Dokter Giotto…"

"Kudengar dari Reborn, direktur memang memerintahkan untuk menjadikan rentang waktu hanya lima tahun, namun Dino bersikeras pada ayahnya agar menetapkan menjadi sepuluh tahun." Jelas Giotto seraya menarik kursi dari meja persegi panjang yang ada di tengah-tengah ruangan itu untuk duduk.

"Cavallone?" pertanyaan retoris terlontar dari bibir tipis Hibari. Giotto mengangguk,

".. Iya, seingatku dia berkata itu adalah rentang waktu yang ideal untuk meraih kepercayaan dari pihak luar dan para pasien disini." Lanjut Giotto sebelum menyesap kopi yang ia bawa sejak masuk ruangan tadi.

Sepuluh tahun? Hibari sedikit kecewa dalam hati karena ada kemungkinan bahwa data tentang ayahnya telah dihilangkan.

"Namun, ada juga data-data pasien yang meninggal saat operasi. Data mereka permanen."

Hibari bersorak dalam hati, berarti ia masih bisa menemukan data ayahnya.

"Apakah iya, dokter?!" tanya Haru dengan mata membelak.

"Belakangan ini tidak ada kasus seperti itu, jadi mungkin tau tidak tau. Terlebih kamu baru bekerja disini sekitar dua tahun—Tapi, kamu harus ingat itu, Suster Miura." Sahut Giotto dengan tegas.

"Tentu, dokter!"

Hibari menimang-nimang dalam hati, ia tahu data ayahnhya masih ada disini. Namun, dimana ia bisa mendapatkannya? Mungkin ia harus menanyakannya.

"Bolehkah aku melihat data-data itu?" tanyanya dengan gamblang, dan mendapat respon kerutan dahi dari dokter yang terlihat sudah memasuki umur kepala lima tersebut. "Maaf Hibari-kun, tapi sepertinya tidak. Setahuku hanya direktur dan para petinggi yang bisa mengaksesnya."

Wah sayang sekali. Hibari mengangguk pelan, kemudian bermaksud untuk pergi dari ruangan itu. Jika ia tidak bisa menemukan data ayahnya, buat apa ia berlama-lama berinteraksi dengan orang-orang di kantor perawat?

Namun, langkahnya terhenti ketika Giotto meluncurkan pertanyaan yang mengundang kecurigaan,

"Apakah ada sesuatu yang kau pikirkan tentang itu?" sorot mata milik pria berwibawa itu menajam dan seakan-akan ingin memasuki pikiran Hibari. Ia terdiam sejenak sebelum menjawab pertanyaan Giotto, "Tidak ada, hanya ingin menggunakannya sebagai refrensi."

"Oh, sungguh berdedikasi dokter!" lagi-lagi Haru menimpali jawaban Hibari dengan nada kelewat ceria.

"Bukan begitu, Suster Miura…" Hibari menghela nafas sebelum melanjutkan perkataanya, ".. Aku hanya ingin mempelajari rumah sakit ini lebih lanjut. Aku harap aku bisa bekerja di sini dalam waktu lama dan membantu para pasien semaksimal mungkin."

Dan, jawaban yang terkesan ngeles dari Hibari sukses mengembangkan sebuah senyuman penuh kepuasan di wajah Giotto. Tanpa basa basi lebih lanjut, Hibari kembali berjalan keluar.

-x-

Hibari tengah berjalan di lorong utama rumah sakit itu dengan langkah lambat. Udara di lorong pagi itu bisa di bilang cukup dingin, namun tidak menyurutkan niat para suster dan dokter untuk membantu pasien. Terbukti dengan di waktu yang masih dibilang sangat pagi ini para suster sudah berlalu lalang dengan troli penuh makanan, obat-obatan untuk check up berkala, dan tidak jarang Hibari menemukan para suster yang mendorong pasien menggunakan kursi roda, mungkin itu adalah permintaan khusus dari sang pasien agar ditemani berjalan-jalan sekitaran rumah sakit.

Karena Hibari tahu, opname itu benar-benar membosankan.

Mungkin karena udara yang dingin inilah kemarin ketika di ajak berkeliling oleh Reborn, Hibari secara tidak sengaja menemukan sejumlah alat pemanas ruangan. Jas putih yang memang sengaja tidak dikancing senantiasa melekat di tubuhnya tampak melambai-lambai dengan indah seiring gerakan tubuh Hibari, sorot matanya tajam dan bentuk yang menyipit menambah kesan serius dan berkharisma.

Sesekali, beberapa suster yang memang pernah bertemu dengan Hibari ketika pertama kali ke kantor perawat bersama Reborn mengangguk hormat dan menyapanya. Namun, Hibari hanya mengangguk, atau sekedar menjawab "Iya,". JIka diperhatikan lebih saksama, walau sorot matanya tajam, sorot itu sama sekali tidak fokus. Tampak sekali dokter muda itu tengah memikirkan sesuatu,

'Dino adalah orang yang mendukung menyimpanan data selama rentang waktu sepuluh tahun sejak data itu di catat dan dia juga yang memerintahkan agar pasien yang tewas agar dijadikan permanen…

'… Berarti dia mengetahuinya… Perbuatan ayahnya dua belas tahun yang lalu…'

Ternyata Hibari sedang memikirkan perkataan Giotto mengenai data-data pasien. Entah Hibari mesti terkesima atau malah terganggu menganggap Dino terlalu gawat dan perfeksionis mengenai hal itu. Tapi, sepertinya untuk kali ini, ia harus berterima kasih kepada dokter bersurai pirang itu karena secara tidak sengaja, ia membuka peluang bagi Hibari untuk mengetahui data ayahnya.

Tanpa Hibari sadari, kakinya sejak tadi berjalan menuju lorong yang tembus ke ruang direktur. Hibari agak tersentak ketika mendapati dirinya sudah berdiri di depan pintu berukiran kayu mahal itu. Pria bersurai segelap malam itu sempat berpikir, apakah data-data itu ada di dalam sini? Apakah direktur sedang ada di dalam? Apakah wajar jika aku memintanya?

Dan lagi-lagi, tangannya bergerak sesuai insting dengan menyentuh gagang pintu, bermaksud untuk membuka dan menyeruak mencari berkas-berkas ayahnya yang terdahulu.

"Apakah kau ada perlu dengan direktur?" suara berat yang jelas Hibari ketahui menginterupsi kegiatannya untuk membobol kantor direktur. "Reborn…"

Yang bersangkutan tidak mengatakan sepatah kata pun, langkah kaki tegas dari sang dokter mendekati Hibari, dan perlahan ia merongoh kantong untuk mengambil sesuatu.

Kunci ruang direktur.

Hibari sedikit terperangah, mengapa Reborn yang memegang kunci untuk ruang direktur? Namun, demi menjaga image, Hibari hanya terdiam dan membiarkan Reborn melanjutkan kegiatannya. Membuka pintu itu.

"Catatan untukmu, Hibari. Direktur jarang berada di sini sepagi ini, lebih tepatnya dia nyaris tidak pernah berada disini." Tukas Reborn sambil memegang gagang pintu dan membukanya secara hati-hati, seakan-akan jika ia buka dengan kasar, pintu ini akan roboh seketika. "—Nah, mari masuk."

Dengan santai, Reborn melangkahkan kaki ke ruangan itu seakan-akan ruangan itu adalah miliknya sendiri. Ini adalah kedua kalinya Hibari menginjakkan kaki ke ruangan orang itu, pembunuh itu.

Tetap saja bagi Hibari, interior di ruangan ini terkesan terlalu mewah dan berkelas. Seperti… Interior di restoran berbintang lima.

"Direktur lebih condong ke urusan luar, urusan pengembangan rumah sakit ini. Beliau kadang bisa dalam sehari berkali-kali mendatangi rapat dan pertemuan antar petinggi rumah sakit ternama di Italia." Lanjut Reborn sebari menuju jendela dan menyibakkan tirainya, membuat ruangan gelap itu menjadi terang disinari sinar matahari pagi yang sehat.

"Tiap pagi, ini menjadi rutinitasku, mengantikan beliau mengerjakan beberapa paperwork. Maka dari itu aku selalu sibuk." Kata Reborn dengan ekspresi sedikit terganggu. Hibari memperhatikan wajah Reborn.

Ya, wajah dokter itu sedikit kuyu layaknya orang kurang tidur. Mungkin karena menjadi dokter, dosen dan 'direktur bayangan' secara bersamaan cukup menguras energinya. Bagaimana pun, Reborn hanyalaah manusia biasa.

Sayang sekali, Hibari pikir ia bisa bertemu dengan Direktur Cavallone sesering mungkin. Namun, sepertinya rencana balas dendamnya mesti sedikit menerima hambatan. Dokter muda itu hanya tersenyum hambar pada Reborn, dan iris blue metalnya secara tidak sengaja melihat jejeran data-data yang telah dikelompokkan dan tersusun rapi dari balik lemari kaca di belakang meja itu.

"Ah iya, jadi.. Ada apa gerangan sehingga kamu ingin bertemu dengan beliau?" tanya Reborn tanpa basa-basi lebih lanjut setelah menyelesaikan urusannya dengan tirai berwarna merah marun.

"TIdak, hanya ingin berterima kasih tentang kemarin." Jawab Hibari seadanya. Tanpa curiga, Reborn hanya mengangguk dan mengatakan, "Oh, kalau begitu aku akan menyampaikan ucapan itu padanya." dan dokter itu langsung menghempaskan dirinya pada kursi putar yang terdapat di belakang meja kayu mengkilap tempat direktur mengerjakan tugas.. Mungkin, jika ia ke rumah sakit.

"Baiklah, kalau begitu aku harus.." perkataan Hibari terputus ketika keduanya mendengar suara pintu dibuka dari luar,

"Dino…" Reborn secara tidak sadar mengucapkan nama dokter yang telah menginterupsi mereka berdua. Dino hanya diam dan menghampiri Reborn serta Hibari dengan raut wajah keras.

"Apa yang sedang kalian bicarakan disini?"

"Oh bukan apa-apa. Oh, ngomong-ngomong ada delapan alat yang harus di beli oleh direktur, dan aku…"

"Aku sudah bilang padamu untuk mengurus hal seperti ini,"

"Iya, tapi.. Aku adalah asistenmu."

"Direktur mempercayaimu, begitu juga aku. Jadi, lakukanlah" jawab Dino dengan tegas dan lugas, menandakan perkataannya tidak bisa di ganggu gugat lagi. Setelah mengatakan hal itu, pria berambut pirang tersebut langsung pergi tanpa menoleh ke arah Hibari sedikit pun.

"Arogan seperti biasa," sungut Reborn dengan suara pelan ketika sosok Dino menghilang dari pengelihatan mereka. "Kejar dia,"

Hah? Apa-apaan perintah Reborn pada Hibari? Mengejar? Apakah Hibari terlihat seperti gadis SMA yang cinta mati pada Dino sehingga Reborn sendiri harus memerintahkannya untuk mengejar Dino?

Hibari menaikkan satu alisnya, tidak langsung melaksanakan perintah Reborn,

"Aku tahu kau ada sesuatu yang ingin didiskusikan dengannya, kejar dia sekarang. Sebelum dia kembali seperti orang autis dengan dunia sendiri hanya dia dan pasien." Kata Reborn dengan sedikit nada geli terselip di dalamnya.

Akhirnya Hibari mengerti maksud Reborn, tanpa ba bi bu lagi, Hibari langsung setengah berlari mengejar Dino.

-x-

"Cavallone! Tunggu!" kata Hibari dengan suara sedikit meninggi ketika Dino nyaris berbelok ke lorong utama.

Dino memandangnya dengan raut wajah sedikit terganggu, "Pelankan suaramu, nanti mengganggu pasien."

Hibari mengabaikan hardikkan Dino. Dengan langkah yang sudah memelan sehingga ia bisa berjalan dengan kecepatan normal, Hibari mendekati dokter itu,

'Jika ingin mendekati ayahnya, mungkin aku bisa sedikit membangun kepercayaan kepada anaknya—'

"Bolehkan aku mendampingimu dalam operasi-operasi lain?"

Dino menunjukan ekspresi terkejut mendengar permintaan Hibari.

"Tidak apa-apa sebagai asisten kedua atau ketiga." Lanjut HIbari dengan raut wajah yang menunjukan keinginan teguh.

Dino terdiam beberapa saat menanggapi permintaan Hibari. Akhirnya, dengan wajah sedikit sangsi dan tidak yakin, Dino merespon permintaan dokter yang tinggi badannya tidak melebihi dirinya. "Apa.. Kau serius?"

"Serius, aku ingin belajar banyak darimu." Sahut Hibari.

"Baiklah, nanti akan kukabari lagi. Sekarang aku perlu ke UGD karena ada pasien yang sepertinya perlu operasi setelah melakukan aksi tabrak lari." Akhirnya, Dino menyanggupi permintaan Hibari dan ia kembali melenggang ke koridor utama untuk menuju UGD yang terletak di bagian depan rumah sakit, meninggalkan Hibari sendiri di lorong yang menuju ruang direktur.

Dan tanpa Dino ketahui, Hibari tengah mengulum senyum sinis dan misterius ketika melihat punggung tegap yang berbalut jas putih sepertinya menjauh.

'Aku akan membuatmu mempercayaiku, Cavallone…'

.

.

.

T

B

C

.

.

.

Me males nulis panjang-panjang, kokoro ini capek #ngeles, uas sudekat /guling-guling/

Terima kasih untuk review, fav, dan follownya ^^

Ciocarlie, susu soda gembira, byuubee, Hikage Natsuhimiko, Metthew Shinez, Colonello-shou.

Untuk yang log-in akan dibalas di PM, untuk anon:

Colonello-shou: hehe orang misterius itu sudah terungkap di chapter ini :3 Monggo dibaca~ thanks sudah review ^^

Mungkin di chapter ini dan seterusnya saya akan sedikit menyelipkan NG-shuu (sejenis behind the scene) kebanyakan nonton kurobas

KOR NG-SHUU:

"Cavallone! Tunggu!" kata Hibari dengan suara sedikit meninggi ketika Dino nyaris berbelok ke lorong utama.

Dino memandangnya dengan raut wajah sedikit terganggu, "Pelankan suaramu, nanti mengganggu pas—EEH?!"

Dan ketika Dino berbalik ia mendapati pemandangan Hibari terpeleset dan jatuh tersungkur dengan wajah menghantam lantai terlebih dahulu.

"Ada apa sih ribut-ribut?!" tanya Reborn sebari menyembulkan kepalanya dari dalam ruang direktur.

"Kyouya kepleset,"

"Oh iya, aku lupa bilang tadi lantai ini baru saja di pel dan mungkin masih basah, hati-hati kalau lari." Kata Reborn dengan tampang tidak berdosa dan pura-pura tidak sadar aura gelap yang dikeluarkan Hibari.

"…."

.

Last, thanks for reading and.. Review please?:3

-shizuka miyuki-