Festival

Disclaimer:

Pokoknya Kurobas bukan milik saya

Warning:

OOC, jayus, typo, garing, horor maksa, ngebut, dll.

.


"Okiku-san?" tanya Hyuuga dengan suara rendah, dibalas anggukan dari Miyaji. "Hii... Menyeramkan!" kata Riko pelan. Bahkan cerita Okiku di Shuutoku itu lebih menyeramkan dibandingkan pesan teror ancaman Hanamiya ketika Hyuuga sedang berdekatan dengan Kiyoshi –entah darimana peuda itu tahu jika sang center berdekatan dengan sang shooting guard-. "Tapi menurutku sedih juga, cinta Okiku-san tak pernah tersampaikan dan berakhir tragis..." ucap Izuki.

Wakamatsu merinding dan sedih disaat yang bersamaan, namun sepertinya ada yang mengganjal. "Lalu apa hubungannya dengan boneka yang diambil si Aho itu, bukankah boneka Okiku dan sumur Okiku memiliki kisah yang berbeda?"

"Memang berbeda, yang sama hanya namanya saja. Okiku tidak hanya satu legenda, ada dua legenda Okiku walau berbeda cerita, seperti nama 'Kiyoshi' yang merupakan nama dari Miyaji-san, dan nama keluarga dari Kiyoshi-san. Namanya sama, tapi beda tempatnya." Takao bicara. "Di daerah kanan sekolah ini, ada sebuah kuil tua."

.

.

.

.

.

.

Seorang pemuda memarkirkan motor sport hitamnya di basemant apartemen. Manik azure pemuda itu menatap layar ponselnya yang menunjukkan hampir tengah malam. Pemuda itu langsung menuju lift dan menekan tombol angka ke lantai yang akan ia tuju. Ia melepas jaket birunya, memperlihatkan atasan kimono hitam yang ia kenakan walau bawahannya sudah diganti dengan celana jeans hitam, senada dengan rambutnya –walau kontras dengan kulitnya yang sangat putih-.

Lift sampa di lantai tujuan, pemuda itu langsung melesat ke kamar tujuan yang tidak terlalu jauh.

.

.

.

"Kagami-kun, ini sepupuku yang akan pindah ke Seirin minggu depan." Kuroko memperkenalkan pemuda yang sangat mirip dengannya. Kagami tidak akan bisa membedakan mereka jika warna rambut sepupu Kuroko hitam. "Tetsuya, tolong sebutkan saja namaku padanya."

Kuroko menghela napas. "Namanya Kuroko Nigou, dia agak cerewet dan bersemangat." Kagami memandang Nigou sebentar, lalu tersenyum. "Nigou-kun, ini Kagami Taiga-kun. Sama sepertimu."

Nigou tersenyum lebar. "Salam kenal, Kagami-san!" ujarnya semangat, tanpa menyadari tatapan aneh dari Kagami dan Kuroko. "Nigou-kun, kau belum melepas helm."

.

.

.

.

.

.

Lampion warna-warni masih menghiasi taman SMA Shutoku. Keadaan semakin terang saja karena kembang api yang diluncurkan ke langit malam sebagai acara penutup. "Haah... Kalau saja Makoto ada disini, pasti akan lebih romantis..." monolog Kiyoshi sambil melihat kembang api. Dasar.

"Aku juga rindu pada Yoshitaka-san. Dia sedang apa sekarang di Kanagawa sana?" sang pelawak –garing- pun ikut bermonolog. "Ngomong-ngomong di Kanagawa, Kise juga sedang apa disana ya?" dan sekarang Aomine. Mungkin Kouganei beruntung karena Mitobe ada bersamanya, dan Tsuchida sedang chat dengan sang pacar. Sisanya jones (#plak!).

"Hei, nanti kalian pulang lewat jalan mana?" tanya Miyaji sambil meletakan jus buah-buahan di tikar. "Kalau aku dan Riko-san lewat jalan Usagi. Tidak terlalu jauh, dan kita bisa jalan kaki dari sini. Kebetulan rumah bibiku bersebelahan dengan rumah nenek Riko-san." Momoi menjawab. "Eh? Kalian menginap?" keduanya mengangguk. "Kami lewat jalan Hebi, karena mau menginap di rumah Aomine." Susa bicara.

"Eh? Tapi kalian bawa mobil, 'kan?" suara Takao terdengar dari stand. "Iya, kita bawa mobil sedan milik Aomine. Memang kenapa?" sahut Imayoshi. "Tidak, lupakan saja. Rombongan dari Seirin bagaimana?"

"Menginap di rumah Kiyoshi, lewat jalan Ookami. Pakai mobil van Kiyoshi." Hyuuga menjawab singkat.

.

.

.

.

.

.

Nigou tengah asyik memandangi langit malam di balkon apartemen Kagami. Tadinya ia mendapat pesan dari sang sepupu yang mengajaknya ke festival SMA Shutoku, sebelum akhirnya mendapat pesan lagi lima jam setelahnya yang mengabarkan cahaya sang sepupu tidak bisa ikut karena sakit dan akan menemaninya. Karena tidak tega, Nigou memutuskan untuk menemani Kuroko disini.

"Sepertinya asyik juga tinggal disini." Kuroko menghampiri sepupunya. "Nigou-kun, nanti kau tinggal di rumahku saja." Nigou yang keasyikan berjengit kaget. "HII! Tetsuya?! Huft, kau mengejutkanku. Memang tidak apa-apa? Aku takut merepotkan baa-san, ba-san, dan ji-san. Kau juga sih..." balas si surai hitam. "Kau ini sepupuku, mana mungkin akan merepotkan? Ayo masuk, udara malam kurang baik."

Nigou tersenyum sekilas, lalu kembali memandang langit. "Kau duluan saja, aku akan menyusul." Kuroko mengangguk dan kembali masuk ke apartemen. Baru saja pemuda bersurai hitam itu berbalik, matanya tidak sengaja menangkap sekelebat bayangan menuju balkon kamar apartemen sebelah kanan. Memberanikan diri, Nigou melihat balkon tetangga Kagami. 'Musang?'

Seekor musang hitam menggemaskan. Musang itu masuk lewat jendela apartemen. "Wah, pasti dia pulang ke pemiliknya..." gumam Nigou. Ia kembali memasuki apartemen Kagami, tak lupa mengunci pintu balkon. Manik azure pemuda itu tertuju pada Kuroko yang baru saja keluar dari kamar tidur si pemilik apartemen. "Kagami-san sudah tidur?" tanyanya. "Ya, setelah makan dan minum obat, dia langsung tertidur."

"Hmm... Tetsuya, kita tidur di sofa saja. Mau tidak?" tanya si surai hitam. "Eh? Tapi tadi Kagami-kun bilang kita bisa tidur di kamarnya saja sambil menggelar futon." Kuroko mengelak, walau sebenarnya dia juga mau saja tidur di sofa. "Ayolah, aku takut kita akan mengganggu istirahat Kagami-san. Selain itu, kita sudah lama tidak tidur di sofa 'kan?" apa yang dikatakan Nigou ada benarnya juga, Kuroko tidak mau mengganggu istirahat sang coretsemecoret cahaya. Selain itu, ia juga sudah lama tidak tidur di sofa. Dulu saat rumah sepupunya di Shibuya, ia cukup sering menginap dan tidur di sofa ruang tamu –walau akhirnya mereka berdua diomeli neneknya-. Namun sejak Nigou pindah ke Osaka, mereka jarang melakukan kebiasaan itu lagi.

"Baiklah, lagipula ini sudah tengah malam lewat tiga puluh lima menit. Sebaiknya kita tidur saja sekarang."

.

.

.

.

.

.

"D'AHO! JANGAN NGEBUT!" pekik Hyuuga panik. Karena jalan sepi, Kiyoshi bebas mengemudikan mobilnya hampir 100 km/jam, ya ampun...

"Tenang, aku sering seperti ini jika sedang bersama Makoto." Hyuuga berpikir Kiyoshi dan Hanamiya adalah pasangan tergila yang pernah ada. Baiklah, pemuda itu boleh saja seperti ini di jalan raya yang luas. Tapi tidak di jembatan sempit dekat bendungan seperti ini juga, 'kan?! "KIYOSHI! AKU BELUM MAU MATI!" kali ini Izuki memekik dari kursi belakang. Jangan tanya kenapa, point guard yang satu itu cukup duduk di kursi belakang bersama tiga juniornya yang sekarang ia ragukan masih bernyawa. Tsuchida, Mitobe, dan Kouganei duduk di kursi tengah, sedangkan Hyuuga duduk di sebelah kursi Kiyoshi yang merupakan tersangka(?) dari aksi kebut-kebutan ini.

"Ambil nyawaku sekarang..." gumam sang kapten, pasrah.

CKIIIIT!

JDAGH!

"Eh, kau masih hidup ya?" sang shooting guard menatap tajam sang center.

"Eh itu siapa?" kata Fukuda menunjuk sosok bayangan dibelakang sana. Sosok bayangan hitam setinggi dua meter itu terus berjalan mendekat. "Papa Mbaye mungkin? Atau pemain dari Yosen?" Kouganei menjawab walaupun tidak yakin.

.

.

.

Kuroko membuka matanya perlahan. Maniknya melirik jam yang menunjukkan pukul dua pagi. Kuroko memutuskan untuk melihat kondisi Kagami. "Tetsuya, kau bangun juga?" si surai hitam sambil menggesek matanya. "Ya, entah kenapa aku-"

"Pergi!"

Keduanya saling menatap, pekikan yang terdengar parau itu berasal dari kamar...

"Kagami-kun/-san!"

Keduanya langsung bergegas menuju kamar pemuda bersurai merah itu. Kuroko membuka pintu dan menyalakan saklar. "Kagami-kun!" kedua pemuda bermanik azure itu mendekati ace Seirin yang terduduk di tempat tidur sambil menutup mata dan telinganya ketakutan. "Kuroko, berhenti menyanyi..."

"Kagami-kun, aku tidak sedang bernyanyi." Kuroko menautkan alisnya bingung. "Kagami-san, buka matamu." Nigou bersuara, namun pemuda itu menggeleng. "Mereka disini, mereka tidak mau meninggalkanku..."

.

.

.

.

.

.

Bayangan itu berjalan mendekat dari kejauhan. "Sudahlah, ayo." Hyuuga menyadarkan lamunan Kiyoshi. Pemuda itu langsung kembali menjalankan mobilnya. Tapi sosok bayangan itu berjalan semakin cepat. "Dia mengejar kita?" gumam Izuki.

Kiyoshi menambah kecepatan, namun sosok itu berlari dan mengukuti mereka. Sampai di ujung bendungan.

"Dia sudah pergi?" tanya Tsuchida.

Tuk... Tuk... Tuk...

Furihata yang duduk di paling kanan menoleh ke jendeka yang hanya berjarak beberapa centi darinya dan pingsan seketika. Sosok menyeramkan itu ada disana. Jarinya yang kurus mengetuk jendela. Ia melotot, hanya menampilkan rongganya yang terdapat belatung dengan bola mata yang menggantung sampai dekat mulutnya yang sobek dan mengeluarkan darah. Rambutnya cukup panjang dan berantakan, sosok itu menyeringai.

.

.

.

.

.

.

Kagami memberanikan diri untuk membuka matanya, tidak ada apapun. "Apa yang tadi kau lihat?" tanya pemuda bersurai hitam itu. "Bayangan itu terus mengelilingiku, dan suara nyanyian tadi membuatku semakin pusing..." jawab si surai merah, hampir menyerupai bisikan.

"Halusinasi, apa mungkin kau... Scizophrenia?" kata Nigou. "Skizo... apa?" Kuroko mencoba mengejanya. Ia tidak mengerti bahasa kedokteran seperti sepupunya ini. Wajar saja, orang tua Nigou adalah dokter. "Scizophrenia, penyakit yang membuat si penderita mengalami halusinasi. Seperti melihat bayangan atau mendengar suara-suara yang sebenarnya tidak ada. Biasanya, bayangan dan suara itu menyuruh si penderita untuk melukai dirinya sendiri, bahkan orang lain." Nigou menjelaskan secara singkat. "Itu kemungkinan pertama sih..."

"Maksudmu, ada kemungkinan kedua?" si surai hitam mengangguk. "Aku tidak percaya hal mistis, tapi kemungkinan kedua itu Kagami-san sama seperti Kise-san yang sudah pernah kau ceritakan..."

Kuroko membulatkan matanya. Sama seperti Kise? "Kagami-kun, bayangan seperti apa yang kau lihat?" sang cahaya menatap bayangannya, lalu kembali menunduk. "Bayangan itu tinggi, kurus, pucat, tidak memiliki wajah, dan..."

Kagami menutupi wajahnya dengan bantal. "Bayangan itu berdiri..."

.

.

.

.

.

.

"Tepat dibelakangmu..."

.

.

.

.

.

.

TBC/Disc


A/N: AKHIRNYA UTS SELESAI JUGAAA! *tembak confetti#dihajartetangga (padahal nilai belum ketauan-_-')

Balasan untuk yg review:

Yuki Caniago: sip, ini dah lanjut :D

Satsuki90: memang pas kalau baca fic ini tengah malem, buat cerita pengantar tidur! hehe *ajaransesat* hontou ni? waah, saya senang Satsuki-san suka fic nya. sip, ini sudah lanjut :D

Ai and August 19: owl lover? sama! *tos* yup, cerita tentang Okoku memang sudah terkenal, dan saya suka legenda itu :D

XxxgakusahtaixxX: hihi, memang benar, si aho gak nyadar itu suara cewek di toilet cowok *geleng2kepala#dirajambolabasket* sankyuu, tapi gomen tidak bisa update cepat, karena seminggu ini saya UTS (TT,TT) hihi, hati-hati sama bang mine ^,^

Untuk yang kasus tim Seirin dikejar bayangan itu pengalaman asli paman saya. Bedanya, paman saya jalan kaki sendirian malam itu dan lewat bendungan. tapi dibelakangnya ada bayangan setinggi dua meter lebih ngikutin paman saya sampai teras rumah, dan bayangan itu hilang. Saya langsung mikir kalau itu Murasakibara yang tersesat karena tingginya dua meter :v *abaikan

Kalau readers punya pengalaman serem juga, bisa diceritakan di pm (atau di kolom review bagi yang tidak pnya akun) jika mau diceritakan untuk chapter 5 nanti ^^

Yosh, intinya itu saja. Maaf karena chapter ini terlalu pendek...

RnR?