ORDINARY SCHOOL

Disclaimer: I just own the story

.

.

Warning: tanpa edit

.

.

Bocah api itu bukan Wu Yifan, pemuda angkuh itu hanya pengendali api biasa yang saat ini sedang uring-uringan karena apinya tidak cukup panas untuk membuat salah seorang siswa baru terusik.

"Sunbae, boleh aku peringatkan satu hal? Jangan menganggap api adalah kekuatan paling besar, api tidak akan menyala tanpa udara"

Setelah kalimat itu terucap, bocah dengan wajah seperti gadis tomboy yang imut itu pergi begitu saja bersama sebuah seringai menyebalkan.

Kenapa ia harus meladeni anak-anak seperti mereka sejak awal?

Seharusnya Wu Yifan bisa sedikit bersabar ketika salah satu dari mereka meniup api di tangannya beberapa menit lalu, jadi tidak mempermalukan dirinya sendiri seperti ini.

"dan Sunbae, ku beri satu info penting. Aku pengendali udara"

Bocah dengan kulit pucat memberikan informasi yang menurutnya penting itu dengan suara berisiknya, tersenyum sangat lebar sambil melambaikan tangan dan berjalan menjauhinya. Hal seperti itu tidak akan membuatnya lemah.

Apinya akan tetap menyala.

Dan ketika api paling besar Yifan benar-benar di arahkan pada pemuda paling tinggi, bocah yang sedang terbakar itu hanya meliriknya lantas seluruh apinya padam.

Ini tidak masuk akal.

Dia bersyukur tidak ada seorang pun disana yang menyaksikan Wu Yifan di permalukan. Mungkin bocah pengendali udara ini benar-benar bisa memadamkan apinya, atau sebenarnya pemuda yang masuk kategori pembantu pahlawan inilah yang kuat.

"Kami sudah mencari tempat yang paling tidak terurus, menghindari bertemu dengan orang yang akan mengandalkan kekuatannya, dan sunbae adalah orang yang tiba-tiba datang mengganggu kami dengan api yang tak seberapa itu, bukan salah kami jika kami tidak mau mengalah, lagipula kami tidak selemah itu"

Kemudian ketiga bocah itu menghilang setelah pemuda dengan kulit kecoklatan itu mengoceh panjang lebar.

Sumpah serapah yang di ucapkan Wu Yifan sia-sia.

Tidak ada yang mendengarnya.

Jiwa bersaingnya terbakar, dan ia tidak akan membiarkan siapapun mempermalukan seperti ini.

.

.

.

.
"Apa itu tadi tidak terlalu berbahaya untukmu?"

"Tenang saja Jongin, kesombongannya tidak akan membiarkannya menceritakan hal ini pada orang lain"

Chanyeol melirik Jongin sekilas kemudian menatap lurus ke depan pintu kamar mereka, ada api kecil di matanya, ia marah.

"Hyung selalu seperti ini" Sehun dengan cepat meraih kedua telapak tangan pemuda yang paling tinggi, menyatukan dengan tangannya dan mengatur nafas untuk memadamkan api hyungnya.

"Belajarlah mengendalikan emosimu jika tidak ingin tertangkap" kali ini Jongin yang berkomentar. "Kita ada di sarang musuh saat ini"

Chanyeol tersenyum mengamati kedua sahabatnya.

Dulu ia tidak mengerti kenapa orang tuanya harus memilih dua bocah ini untuk menjadi sahabatnya, tidak ada yang istimewa dari mereka, terlebih melihat Oh Sehun yang sangat manja itu.

Mereka mengganggu, yang satu suka mengatur dan yang satu tukang mengadu.

"Terimakasih"

"Hyung tidurlah disini malam ini" Sehun mengalihkan pembicaraan, hawa panas di kamar mereka sudah menghilang sejak pertama kali tangannya menyentuh Chanyeol.

"Kau tidak menyuruhnya pun dia akan masuk dalam selimutku setelah pukul 10"

Chanyeol berdiri, berjalan menuju lemarinya dan mengambil handuk. Ia mengamati jendela di sudut kamar beberapa saat kemudian berjalan kembali mendekati kedua sahabatnya.

"Persiapan pertandingan sudah di mulai"

.

.

.

Pertandingan itu di laksanakan minggu ini, Chanyeol tidak terlalu peduli dengan itu.

Jongin dan Sehun tidak boleh terlalu menampakkan kekuatan asli mereka dan Chanyeol sendiri sudah jelas mengaku tidak punya kekuatan.

Jadi apa yang bisa di lihat dari pertandingan itu?

Mungkin menonton Hakyeon sunbae. Dia adalah teman Taekwoon sunbae yang sangat di idolakan Kyungsoo. Pemuda itu sangat cerewet, hampir sama seperti Jongin yang suka mengeluh.

"Apa bulan depan angkatan kalian yang bertanding?" Hakyeon yang tiba-tiba muncul di acara 'makan siang bersama senior Taekwoon yang hebat' bertanya bersama senyum lebarnya yang aneh.

"Kau tidak bisa hitung ya? Mereka belum genap dua bulan disini"

Selalu seperti itu, Taekwoon tidak pernah berkata dengan ramah dan Hakyeon yang langsung mengomel panjang lebar karena itu.

"Bulan depan angkatan dua ya?" Kyungsoo bertanya pelan, hanya Taekwoon yang bereaksi atas pertanyaan itu, pemuda pendiam itu melirik Kyungsoo kemudian menggumamkan kata 'lima'.

Sangat pelit bicara.

"Wow, tiba-tiba aku cemburu pada kalian. Sepertinya aku harus menenangkan diri" Hakyeon menatap Kyungsoo dan temannya bergantian, kemudian berdiri dan berjalan menjauh.

Sehun mengamati kejadian itu dalam diam, kemudian beringsut mendekati Jongin yang ada di samping kirinya, ia membisikkan sesuatu seraya melirik Chanyeol dan Baekhyun yang masih sibuk membahas proyek baru mereka.

"Kupikir hanya aku yang pernah merasa cemburu karena temanku punya teman baru"

Jongin tidak menjawab pernyataan itu, ia hanya menatap sahabat tingginya selama beberapa detik kemudian menjitak kepala Sehun pelan. Dan si manja Sehun sudah pasti merengek karena itu.

"Ya, Park Chanyeol! Kau masih ingat jika kau punya tanggungan satu bocah manja kan?"

Dengan itu Chanyeol mengalihkan seluruh perhatiannya pada sahabat mudanya, membelai kepala Sehun yang masih merengut dan melempar tatapan mematikan pada Jongin.

"Dasar anak kecil"

Kyungsoo yang berkomentar seperti itu. Sepertinya dia lupa, umur Chanyeol 2 bulan lebih tua darinya.

.

.

.

Hari pertandingan datang.

Jika didaratan yang sesungguhnya mungkin seluruh siswa akan berkumpul di kursi penonton dan menyaksikan pertandingan (Cara paling menyenangkan untuk membolos).

Sedangkan disini, sudah bisa di tebak. Para siswa lebih memilih untuk berlatih memperkuat diri sendiri daripada mendukung temannya bertanding.

Lagipula tidak ada satupun dari mereka yang berteman.

Chanyeol, Sehun dan Jongin bukan bagian dari orang-orang itu. Menyeret Kyungsoo dan Baekhyun bersama duduk di kursi penonton, menyaksikan satu persatu sunbae mereka masuk ke arena dan membungkuk pada juri.

Termasuk sunbae pengendali api yang sombong juga ada disana.

.

.

.

.

Luhan tidak suka kalah.

Ia juga tidak ingin membuat orang lain merasa menang atas dirinya. Ia ingin mengalahkan semua orang.

Pada dasarnya ia sama saja dengan kebanyakan siswa disana, sama-sama ingin menang dan menghancurkan semua musuhnya.

Walaupun pemuda dengan mata indah itu masih memiliki sedikit sisi manusiawi. Tidak ingin membuat lebih banyak orang mempunyai naluri penghancur itu.

Suara khas angin yang sedang di mainkan terdengar dalam ruangan yang di tempatinya. Seorang sunbae angkatan enam yang menjadi temannya di ruang tunggu yang melakukan itu.

Hari ini ada dua pertandingan penyisihan, dan dia akan menjadi yang pertama kali bertarung untuk angkatan ke tiga.
Melawan seorang gadis pengendali besi.

"Jangan meremehkan musuhmu dengan tidak berlatih"

Itu yang selalu di ajarkan semua guru di sekolah mereka.

Jangan meremehkan siapapun yang menjadi musuh kalian, karena kalian tidak tau akan sekuat apa lawan kalian itu.

"Aku berlatih dengan otakku, tidak harus pamer seperti sunbae"

Dan benar, tidak ada peraturan dengan tata karma di tempat ini.

Pemuda itu mengepalkan tangannya kemudian menatap Luhan di mata, ia seketika mengalihkan pandangannya ketika menyadari juniornya itu justru menatap balik padanya dengan senyum meremehkan.

"Aku heran bagaimana dulu aku pernah menyukaimu"

"Karena sunbae pikir ini masih di bumi dan cinta masih bisa terjadi disini, konyol"

Luhan tertawa mencemooh, menatap seniornya yang semakin geram itu. kemudian keluar dari ruang tunggu dengan langkah angkuhnya.

Terlalu lama bergaul dengan Wu Yifan berpengaruh buruk pada kepribadiannya

.

Senior pengendali angin yang sempat menyukainya itu bernama Feng, sepertinya datang dari Vietnam (Luhan sendiri lupa Vietnam itu Negara di bagian mana, ia bahkan lupa kota di sebelah Beijing itu namanya apa)

Ketika Luhan berada di tingkat pertama pemuda itu mendekatinya, tidak ada yang salah dengan gender disana, yang di permasalahkan adalah.

Cinta tidak bekerja di tanah ajaib.

.

.

.

.

Puluhan besi tergeletak di lapangan pertandingan. Beberapa masih melayang di atas dua orang yang sedang bertanding menunggu perintah untuk di lemparkan pada musuhnya.

Luhan mengamati gerak gadis di hadapannya dengan senyum (sok) manisnya. Ia berjalan mendekat dengan membawa satu botol air mineral kemudian menodongkan pada gadis tersebut.

"Sepertinya kau lelah, beristirahatlah dulu" Kalimat manisnya seperti bensin yang menyulut amarah lawan tandingnya, dengan terburu-buru gadis itu melemparkan seluruh besi di lapangan padanya.

Terlalu membabibuta, tidak peduli tentang stamina.

"Ah"

Luhan meringis karena gagal menghindari serangan itu, salah satu besi mengenai lengannya dan beberapa besi lain menyusul terlempar padanya, walaupun dengan cepat telekinesisnya bisa mengendalikan benda-benda tersebut.

"Sepertinya kau harus di buat marah dulu agar aku bisa senang bertanding denganmu" Nafas gadis itu tersengal. Meskipun begitu ia masih terlihat sangat berambisi untuk melawan pemuda yang bahkan belum melakukan serangan sama sekali itu.

"Aku akan buat salah satu saraf di otakmu tidak bekerja, jadi kekuatanmu benar-benar tidak bisa digunakan"

Luhan pikir kalimat tersebut terlalu lucu, ia membuat tawanya terdengar lebih keras dari seharusnya kemudian menghentikan tawa itu secara tiba-tiba dan secara serius menatap gadis dengan kulit gelap dihadapannya. Dalam hitungan detik salah satu besi yang pernah menyerangnya itu berbalik menghantam pemiliknya. Secara bertubi-tubi.

Sang pemilik kekuatan telekinesis tersenyum sangat tenang ketika lawannya mulai kuwalahan dengan serangannya, dan setiap detik berlalu senyum tipis itu mengembang semakin lebar.

"Coba saja jika bisa"

Pemuda asal Beijing itu terlihat menyeramkan dengan senyum manis di wajah tampannya, ia mengamati lawannya yang tak juga bergerak kemudian mengalihkan pandangannya pada kursi penonton.

Mungkin para pembantu pahlawan yang sedang duduk di sana, atau anak-anak di tingkat satu yang ingin mengamati seperti apa pertandingan akan berlangsung.

Dan kemudian seluruh perhatiannya teralih pada pemuda yang sedang bersinar di samping beberapa bocah yang sedang berteriak 'menyemangatinya'

.

.

.

Bukan menyemangati, mereka memperingatkan.

Ketika detik berlalu ia merasa seluruh tubuhnya tidak bisa di gerakkan, sebuah besi dengan ukuran agak besar menimpa kepalanya yang kini berdenyut sakit. Gadis itu benar-benar mengincar saraf di otaknya.

Luhan mengatur nafas. Kemudian mengangkat seluruh besi di lapangan, besi itu bergerak maju mengikuti gerakan tangannya.

Sekali lagi, terlalu lama bergaul dengan Wu Yifan tidak berdampak baik pada emosinya.

"Kau akan membunuhku jika melemparkan semua besi padaku, dan itu artinya kau di diskualifiasi" Gadis itu berucap dengan tenang walaupun wajahnya terlihat ketakutan, ia mengamati seluruh besi itu dan menggerakkan tangannya untuk menghancurkan elemen yang di kuasainya tersebut, —melakukan segala cara untuk menyelamatkan diri sementara Luhan masih berpikir.

"Hancurkan saja besi yang kau buat sendiri, karena aku hanya butuh satu"

Dengan sama tenangnya Luhan menurunkan salah satu besi dan mendorongnya menyerang sang pemilik awal.

Gadis itu terlihat kesakitan, mewakilkan serangannya lewat tatapan matanya pada Luhan. Dua kali di hantam besinya sendiri seharusnya memberikan efek pada pertahannya.

"Babak penyisihan pertama angkatan tiga, pemenangnya Telekinesis Lu Han"

Mendengar pengumuman kemenangannya pemuda tampan itu berbalik dengan gaya dramatis, mengamati kursi penonton kemudian terpaku pada seseorang yang sedang tertawa di samping bocah yang beberapa menit lalu mengeluarkan sinar secara harfiah.

Ia merasa tertarik.

Konyol.

.

.

.

.
Pertandingan hari ini di menangkan seorang pengendali telekinesis dan pengendali angin.

Sehun masih ribut saja sejak tadi.

Membual ia akan menjadi lebih kuat dari pengendali angin yang baru saja menang dan mengalahkan pengendali telekinesis yang terlihat sombong itu.

"Semua orang disini angkuh seperti itu Oh Sehun, jangan berpikir ingin mengalahkan seseorang hanya karena mereka terlihat sombong, kau akan memiliki naluri bersaing seperti mereka"

Baekhyun berkomentar dengan tenang.

Dari semua orang disana, Ia lah yang paling berpengalaman tentang perasaan 'ingin mengalahkan orang-orang sombong'.
Meskipun begitu bocah-bocah di sampingnya tampaknya tak terlalu peduli dengan kalimatnya, dan terus saja pelontarkan pendapat tentang betapa menakjubkannya kekuatan para sunbae mereka.

"Ayo kita kembali ke asrama saja, aku mengantuk" si bocah yang bisa teleport berkomentar pelan, secara reflek menggandeng tangan Sehun dan Chanyeol yang ada di sampingnya, walaupun pemuda yang paling tinggi langsung memperingatkan tentang keberadaannya dan Kyungsoo Jadi dengan wajah lelah, pemuda dengan marga Kim tersebut terpaksa ikut berjalan kaki bersama yang lain.

"Sunbae, apa yang membuat sunbae berpikir menjadi 'penolong pahlawan' lebih menyenangkan?"

Do Kyungsoo yang bertanya, ia adalah juniornya yang paling normal, berbicara dengan gaya paling normal dan bertingkah normal. Tidak berambisi dengan kekuatan dan tidak aneh seperti 3 orang temannya yang lain.

"Aku di tolak dari group penghancur" akunya jujur.

Keempat bocah disana menghentikan langkahnya karena kaget, Kim Jongin bahkan menghilangkan wajah bosannya dan memandang Baekhyun tidak percaya, sesekali pemuda tersebut membersihkan wajahnya yang tertutup anak rambut berantakan karena angin sepoy di sore hari.

"Sebenarnya kekuatan sunbae kan cukup mengganggu, pengendali telekinesis yang barusan bertanding bahkan terkesima karena cahaya sunbae" si magnae yang selalu di panggil Chanyeol bocah manja itu berkomentar, ia memasang wajah seriusnya yang lucu.

Dan itu jelas membuat Jongin gemas untuk menempeleng kepalanya pelan.

Bocah kasar, pemalas dan penggerutu.

"Jadi kepala sekolah Han tidak langsung menerima setiap orang yang mempunyai kekuatan? Ada kesempatan untuk di tolak juga?"

"Dia menerima semua anak ajaib, tapi jika kekuatan yang dimiliki anak itu tidak cukup kuat, dia bisa saja di buang untuk di jadikan bahan percobaan"

"Dan sunbae beruntung karena bisa masuk ke dalam kategori anak jenius"

Benar. Jika bukan karena dendamnya ingin membalas pengendali api sombong itu, ia mungkin sudah di jadikan kelinci percobaan atau mungkin sudah tidak bisa menghirup udara lagi.

.

.

.

.

Mereka bertemu dengan salah satu pemenang pertandingan tadi siang ketika sedang makan malam di sebuah rumah makan China, pemuda itu menyapa mereka dengan senyum sangat lebar kemudian duduk di antara mereka tanpa menunggu persetujuan.

"Kau yang bersinar tadi siang?"

Pemuda itu mengajukan pertanyaannya pada Sehun, memandang si magnae dengan mata berbinar dan senyum tipis yang sangat tampan.

Bocah manja itu bingung, menunjuk Baekhyun tanpa mengucapkan apapun kemudian menunduk menghindari tatapan 'menjijikkan' pengendali telekinesis.

Sunbae itu akhirnya mengalihkan pandangannya pada Baekhyun, tersenyum ramah kemudian menguliti Sehun dengan tatapannya lagi.

"Jadi kau bukan pengendali cahaya?" pemuda itu bertanya, dan hanya di jawab gelengen si bocah Oh.

Baekhyun jadi ingin memberi pelajaran tentang sosialisasi pada pemuda berkekuatan angin ini.

"Lalu bagaimana caramu bisa bersinar di mataku? Kau malaikat?" Itu kampungan sekali.

Baekhyun kehilangan kata-katanya, Ia terpengarah menatap pemuda asal Beijing itu, kemudian beralih pada ketiga pemuda lain disana. Masih dengan ekspresi tidak percaya yang sama.

"Sunbae terdengar menggelikan, hyung aku mau daging" Bocah 15 tahun itu berkomentar acuh, ia mengangkat mangkuknya dan menyerahkannya pada Chanyeol yang dengan sigap memotong daging yang di panggangnya. Komentar itu jelas tidak membuat pemuda yang baru mengeluarkan rayuan itu jera.

"Siapa namamu?"

"Oh Sehun"

Kemudian mereka menyebutkan nama mereka masing-masing ketika mata mirip mata rusa itu memandang mereka. Baekhyun benar-benar bisa setuju pada Akkira sunbae jika melihat pengendali telekinesis ini dari jarak sedekat ini.

"Namaku Luhan"

Luhan sunbae memiliki wajah tanpa cacat.

.

.

.

Apa seorang penyembuh boleh beristirahat?

Di tempat seperti ini, yang setiap detik pasti ada kecelakaan ketika latihan, tidak ada istilah istirahat untuk tuan healing.

"Tiga jam cukup" kalimat seseorang membuat Yixing berjingkat kaget, sang tersangka tersenyum lebar kemudian duduk di hadapan Yixing tanpa merasa bersalah. "Gege harus beristirahat, biar ku hentikan waktu ketika gege tidur"

"Tidak apa Zitao, aku baik"

Dan kemudian semua hal di sekitarnya berhenti, termasuk dentingan jam di dinding, Yixing menghela nafas berat kemudian memandang pemuda yang sedang mengendalikan waktu ini tak terima.

"Ini bagian dari latihanku ge, aku tidak melakukan ini untuk membantu gege. Jadi manfaatkan waktu ini untuk tidur"

Pemuda dengan aura misterius itu tersenyum lembut kemudian menepuk kepala pemuda lebih pendek darinya itu dengan tidak sopannya.

Yixing tidak sempat protes, suasana hening seperti ini membuat semua lelahnya langsung terasa, jadi ia menguap beberapa kali lantas memposisikan diri di ranjang tempatnya menyembuhkan seorang mengendali pasir beberapa menit lalu.

Ia tertidur.

"Seorang tuan healing juga bisa sakit, kenapa dia keras kepala sekali tidak mau tidur"

Huang Zitao si pengendali waktu mengamati wajah lelah Yixing yang sudah terlelap kemudian tersenyum lembut, ia ikut berbaring di samping tuan healing dan menutup matanya.

"Mungkin lima jam cukup"

Ucapnya sebelum memejamkan mata.

.

.

.
Continued

.

Apa ini cukup kilat?

makasi yang review kemarin ya..
buat Odiodi, maaf ya belum ada yang Chanyeol diukein (?), part ini sama part depan udah selesai ketik soalnya, sabar nunggu ya.. :D

.

Anyway.. Unfair keterlaluan~~ saya pernah mikir harusnya EXO punya lagu yang cute (karena BAP sama VIXX aja punya) dan beneran di turutin~~

.

Oke makasi uda meluangkan waktu membaca ini.

Review boleh

.