Unpredictable Future
It's BTS fanfic | TaeGi | OOC | M-Preg, maybe/? | do not plagiarism | this story copyright © by WithYoongi
Enjoy!
.
.
.
.
.
.
.
Jimin menatap Taehyung dan Yoongi bergantian. Setelah Yoongi menanyakan hal itu, entah kenapa Jimin jadi ragu membahasnya.
Bukannya ia tidak mau menjelaskan pada mereka.
Hanya saja, Taehyung yang berada di hadapannya ini adalah Taehyung dengan pemikiran 18 tahun.
Yang artinya, ia masih membenci Yoongi.
.
.
"kau serius?" Jimin bertanya untuk meyakinkan.
Yoongi mengangguk. "tentu saja! Ini untuk kepentingan kedepannya."
Jimin ikut mengangguk. Matanya menatap Taehyung. "dan kau, Tae?"
"aku akan mendengarkannya."
Yah, walaupun jawabannya tidak memuaskan tapi Jimin tahu Taehyung akan menyimaknya baik-baik.
Jimin berdehem, ia juga menyamakan duduknya terlebih dahulu.
"suatu hari, di saat kita masih di bangku menengah atas. Yoongi datang menghampirimu, Taehyung, seperti biasa. Yoongi berkata padamu jika ia sudah menyerah. Menyerah untuk mendapatkan hatimu, karena Yoongi tahu jika kau membencinya dan tidak akan mungkin membalas cintanya."
Yoongi menganga mendengarnya. Benarkah ia menyerah?
"setelah itu Yoongi benar-benar tidak menampakkan wajahnya di hadapanmu lagi. Bahkan ia menukar tempat duduknya menjadi di barisan paling belakang."
"awalnya Tae, kau senang senang mengetahui fakta bahwa orang yang selalu mengganggumu akhirnya menghilang."
Jimin dapat melihat raut wajah Yoongi yang berubah menjadi sendu. "itu baru awalnya." dan ia langsung menekankan kata itu. Berharap Yoongi tidak terlalu memikirkannya.
"tapi, kau merasakan ada sesuatu yang hilang. Hari-harimu jadi terasa hampa karena kau merasakan sebagian hatimu terasa hilang, kau bilang begitu padaku."
"sampai kau menyadarinya bahwa Yoongi yang membuatmu seperti ini. Hatimu setengahnya dibawa pergi oleh Yoongi, dia yang membuat harimu terasa hampa karena Yoongi sama sekali tidak pernah menemuimu lagi."
"beberapa minggu kemudian, ada kabar yang mengatakan bahwa Yoongi pindah sekolah. Aku dan Taehyung tentu saja kaget. Terlebih Taehyung. Awalnya Taehyung pikir itu hanya bercanda, tapi wali kelas kami juga mengumumkannya. Dan Yoongi benar-benar pindah."
"aku, sebagai sahabatnya, dapat lihat bagaimana Taehyung berubah drastis saat kau meninggalkannya, Yoongi." Jimin tersenyum tipis ke arah Yoongi.
"Taehyung jadi lebih pendiam, bahkan penggemarnya semakin sedikit dari hari per hari, sampai tidak ada yang mengagguminya lagi. Temannya hanya aku seorang." Jimin terkekeh, ia sangat mengingat kejadian itu dimana para penggemar Taehyung berpindah haluan menjadi penggemarnya.
"setiap tanggal 30 desember, Taehyung akan selalu menunggu di taman kota, berharap kau akan menunggunya juga di sana. Sama seperti hari ulang tahun sebelumnya."
Astaga, Yoongi tidak pernah menyangka dia telah membuat hidup Taehyung berubah.
Dan Taehyung tidak menyangka ia akan menjadi merana seperti itu.
"tapi Yoongi tidak pernah datang. Dan itu membuatmu semakin tersiksa. Rasa penyesalan selalu memakanmu hidup-hidup, bahkan kau tidak pernah tersenyum saat itu."
"tapi, Tuhan mempertemukan kalian lagi. Di bangku kuliah."
"Yoongi datang sebagai mahasiswa pindahan dari Daegu. Aku dan Taehyung melihatmu saat berada di kantin. Dan Taehyung langsung meninju lenganku dan berkata 'apa itu Yoongi?' lalu menunjukmu."
"awalnya aku berpikir bahwa orang itu hanya mirip denganmu. Tapi setelah dilihat baik-baik, itu memang dirimu. Taehyung bilang, ia bisa langsung mengenalimu dengan hanya melihat senyumanmu."
Taehyung diam-diam mengerutkan keningnya. Kenapa dia jadi cheesy begitu?
"akhirnya, Taehyung menghampirimu. Dan aku sungguh kaget saat ia langsung memelukmu."
Taehyung? Memeluknya? Mustahil! Yoongi benar-benar tidak percaya dengan semua yang terjadi beberapa tahun yang lalu.
"setelah kejadian itu, semuanya berbalik. Saat itu, Taehyung yang selalu mengejarmu." Jimin terkekeh.
"dan hasilnya seperti ini. Yoongi, kau mengaku jika dirimu belum bisa melupakan Taehyung sepenuhnya, walaupun kau berada jauh dengan Taehyung, hatimu berkata untuk kembali."
"dan Tae, kau berjanji tidak akan pernah meninggalkan Yoongi lagi. Kau berkata seperti itu padaku."
.
"Selesai, apa kurang memuaskan?"
Taehyung dan Yoongi sama-sama terdiam. Mencerna baik-baik semua penjelasan Jimin.
Jujur saja, Yoongi sangat senang setelah mengetahui bahwa Taehyung membalas cintanya. Kerja kerasnya berarti membuahkan hasil yang sangat memuaskan. Tanpa sadar Yoongi tersenyum sendiri.
Di sisi lain, Taehyung masih membeku. Bertanya-tanya apakah benar semua itu terjadi padanya? Atau Jimin sedang mengada-ada? Tapi Jimin selalu serius dengan perkataanya.
Taehyung melirik sedikit ke arah Yoongi. Haruskah ia melupakan semua kebenciannya?
.
"tunggu dulu! Aku punya pertanyaan lagi."
Jimin tersenyum seraya mengangguk. "apa itu?"
Dan Yoongi jadi kesulitan sendiri untuk mengatakannya.
"itu," ia menghela nafas terlebih dahulu.
"tanggal dan tahun berapa kami menikah?"
Itu bukan Yoongi yang bertanya.
Dan Jimin tersenyum ke arah sahabatnya yang baru saja bertanya. Sedikit demi sedikit mungkin Taehyung bisa menerimanya.
"2020, umur kalian 23 tahun dan di tanggal 30 desember."
"hah?! Hari ulang tahunku?" Taehyung membolakan matanya, Jimin hanya mengangguk.
"yap! Dan Yoongi yang mengusulkannya." Yoongi di sisi lain menganga. Hari ini sepertinya ia banyak menganga.
"Heol, keren." ini Yoongi.
.
"oh Yoongi, apa yang ingin kau tanyakan?"
Yoongi langsung teringat kembali. Tadinya dia sudah lupa, tapi setelah teringat lagi ia jadi susah juga untuk mengucapkannya 'kan.
"uh, apa Yoonji dan Taeguk anak angkatku atau mereka anak kandungku?"
Jimin terkekeh mendengarnya. Astaga, entah kenapa Yoongi yang seperti ini terlihat menggemaskan.
"tentu saja mereka anak kandungmu."
"HAH?!" baik Yoongi dan Taehyung sama-sama kaget.
"bagaimana bisa akuㅡ Hamil?" heol, dia ini 'kan laki-laki.
"kau tahu, pria mempunyai kemungkinan hamil 1% dan kau adalah salah satunya."
Wow, Yoongi jadi berpikir bahwa dirinya ini benar-benar hebat.
"oh! Dan sepertinya aku harus memberitahumu tentang ini, Tae."
Perkataan yang memang ditunjukkan untuk Taehyung membuatnya sedikit gugup. Lihat saja dari sorot mata Jimin yang terlihat serius itu.
"sekarang ini kau meneruskan saham perusahaan ayahmu, Presdir Kim." ucapan terakhir Jimin terdengar sedang mengejek tapi tetap saja Taehyung kaget mendengarnya.
Hm, Presdir Kim tidak terlalu buruk juga untuknya. Namanya jadi lebih beribawa.
"dan kau, Yoongi," sekarang Jimin menatap Yoongi dengan senyuman tipis.
"kau hanya bekerja malam sabtu dan malam minggu sebagai pianist di sebuah cafe yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumahmu. Taehyung tidak mengijinkanmu untuk bekerja sebenarnya, tapi kau memaksanya." Jimin tertawa di akhir kalimatnya.
Yoongi menghela napasnya. Untungnya saja tangannya ini sudah terlatih untuk mamainkan piano sedari kecil. Jadi ia tidak perlu terlalu khawatir.
"dan tenang saja Tae, aku ini sekretaris pribadimu, tangan kanan kepercayaanmu. Jadi kau bisa bernapas lega sekarang." dan Taehyung benar-benar menghela napasnya yang sedari tadi ditahannya.
"kau masih dalam masa liburmu, kau akan masuk minggu depan."
Jimin kemudian berdiri, menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah pukul tiga sore.
"seperti sudah cukup. Aku harus kembali sekarang. Kalau ada apa-apa, rumahku ada di samping kalian."
Taehyung dan Yoongi mengangguk bersamaan. Sepertinya sekarang mereka akan mengandalkan Jimin.
"terima kasih sudah repot-repot ke sini, Jimin-ah." Yoongi membungkuk sedikit dan Jimin terkekeh melihatnya. Astaga, Yoongi dimasa depan mana mau membungkuk untuknya.
"sama-sama," tangan Jimin mengacak rambut Yoongi dengan gemas. Lalu ia menatap Taehyung dan memberikannya sebuah pelukan.
Dan Jimin berbisik di telinga Taehyung. "jaga baik-baik keluargamu. Lupakan semua kebencianmu pada Yoongi. Kau harus berusaha mencintainya, dan tentunya keluarga kecil kalian." setelahnya Jimin menepuk pundaknya.
.
Setelah kepergian Jimin, di ruang tengah hanya menyisakan Taehyung dan Yoongi. Sebenarnya Yoongi agak risih melihat Taehyung yang hanya terdiam saja sedari tadi. Membuatnya ingin mengacak-acak wajahnya.
Mata Yoongi menatap ruang tengah rumahnya ini. Dan alisnya mengerut melihat banyak mainan yang berserakan di lantai dan di sofa. Dan memang dasarnya Yoongi tidak menyukai ruangan yang berantakan.
Yoongi meninggalkan Taehyung di ruang tengah. Dan entah kenapa kakinya dengan cepat menemukan kamar kedua anaknya. Ia membuka pintunya dan terlihatlah Yoonji dan Taeguk yang tengah bermain Lego di kamar.
"bereskan mainan kalian, se-ka-rang."
"huwee~ Eomma memang selalu menakutkan!"
.
Dan Taehyung tidak pernah tahu jika Yoongi mempunyai sisi yang seperti itu. Kalau kata orang, sisi keibuan.
.
.
.
.
.
.
.
To Be Continue
.
.
.
.
Chapie ini spesial untuk penjelasan aja ya.. Jadinya pendek. Besok-besok dipanjangin ko :"D
Dan sepertinya ada slight Minyoon sedikit gapapa kan ya? ;) I know you'll like it. Sepertinya pun chap-chap kedepannya bakal ada Minyoon juga hihihiw :3
Sebenenrnya belum tau juga chimin mau dipasangin sama siapa :\ liat nanti aja deh bwahahaha
I love you all and review pleajeu? :3 kindly cek my bio for my Personal Account ;) we can be friends~
With Love,
WithYoongi
Muah~
