Tittle : My Guide Tour
Main Cast : Kim Jongin and Wu Yifan
Rate :T
.
.
.
Jongin memutuskan akan menikmati rasa gatal ini. Embusan kebawah kulit pun rasanya juga menyenangkan. Inikah rasanya berpacaran? Sejak kejadian di kamar bernomor 21 itu, Jongin tak menolak ketika Yifan memutuskan secara sepihak untuk memiliki Jongin. Sepertinya Jongin setengah dimabukkan oleh sesuatu, bagai mabuk laut saat menyebrangi pulau Jindo sewaktu karya wisatanya di sekolah menengah.
Untunglah Jongin tak sering beradu pandang dengan Yifan di hostel. Yeah, Yifan masih menempati kamar nomor 21 dan membookingnya selama beberapa lama. Meskipun begitu, saat mereka beradu pandang, Jongin berusaha sekuat tenaga untuk mengalihkan pandangan. Tapi saat berpisah, ia sendiri yang akan mencarinya lebih dulu, tentu saja tanpa diketahui oleh Yifan. Laki-laki itu benar-benar serius atas ucapannya berganti kewarganegaraan menjadi Korea. Mungkin, dia akan lebih lama tinggal di Korea karena ia sekarang sudah menjadi salah satu actor pendatang baru di Korea. Setidaknya, itu hal bodoh yang dipikirkan Jongin.
Jongin berjalan keluar melalui pelataran kampusnya yang luas. Ia tersenyum dan sesekali memejamkan matanya, merasakan embusan angin. Namun, langkahnya terhenti ketika sebuah uluran tangan menggenggam kotak merah muda bertali pita dihadapannya. Ia menoleh ke pemilik kotak itu, Krystal Jung. Ia tersenyum pada perempuan itu.
"Ini untukmu, Jongin-sunbae." Jongin menerima kotak merah muda itu dengan senyum lebarnya,
"Apa ini?" tanyanya sembari mengkocok kotaknya di udara.
"Kau bisa membukanya ketika dirumah, sunbae." Jongin mengangguk kemudian membungkuk kecil pada Krystal.
"Kalau begitu, aku pulang dulu."
"Ehn… Bisakah temani aku ke kedai bubble tea?"
Jongin nampak berpikir. Ia menganggukkan kepalanya.
"Baiklah. Ayo! Aku akan mentraktirmu, Krystal." Jongin memutuskan untuk mentraktir Krystal, hitung-hitung membalas kebaikan Krystal yang sejak seminggu lalu memberinya beberapa kotak kecil setiap pulang kuliah. Jongin bahkan heran bagaimana jam kuliah mereka bisa berakhir bersama. Tanpa laki-laki itu tau, Krystal memperhatikan Jongin sejak dua minggu lalu. Tentu saja ia akan mencatat di ponselnya jam berapa ia akan pulang, walau ia harus meninggalkan kelasnya. Bodoh.
Krystal tersenyum kemudian berjalan beriringan dengan Jongin keluar area kampus.
.
.
Tenggorokan Jongin terasa sakit dan hatinya tertegun. Jongin yang sedikit naïve berpikir jika Krystal memberikan kotak yang sama pada beberapa senior, sebagai ucapan rasa hormat. Namun, jika dipikir kembali, tak mungkin ia menghabiskan puluhan ribu won untuk memberikan secara personal pada sunbaenya. Jongin memiringkan kepalanya untuk berpikir. Ini agak berlebihan. Ia melirik ekspresi Krystal, tidak ada yang membuatnya ragu-ragu. Krystal menopang kepalanya dengan kedua tangannya di meja. Ia menyeruput sedikit bubble tea rasa coklat miliknya,
"Jadi.. Bagaimana sunbae?" Pertanyaan Kyrstal kembali memecah keheningan yang mereka ciptakan dengan sendirinya.
"Apa kau baru saja memintaku untuk menjadi namjachingu mu?"
Krystal mengangguk antusias.
"Aku menyukai sunbae sejak hari pertama di kampus. Maukah sunbae menjadi namjachinguku?"
Mereka berada dalam keheningan sepersekian detik. Ia belum pernah menolak perempuan dengan sendirinya. Ia butuh Chanyeol untuk membantunya saat ini.
"Jongin itu milikku." Suara maskulin seseorang menginterupsi mereka untuk menoleh ke arah suara. Jongin sedikit melotot, sedangkan Krystal senang bukan main. Dihadapannya sekarang, seorang actor pendatang baru yang menghiasi beberapa layar televisi berdiri. Wu Yifan berdiri dengan angkuhnya bak pangeran yang sedang meminta pengawalnya untuk melakukan sesuatu.
"Wu. Apa yang kau lakukan?" tentu saja, Jongin nampak terheran karena Yifan berada disini. Bukankah selama seminggu akhir ini, ia meninggalkan Busan dan pergi ke Seoul untuk melakukan scenario reading dan beberapa take untuk drama terbarunya yang akan tayang tujuh bulan kedepan?
"Aku? Tentu saja menjemput kekasihku." Wajah Yifan tampak tenang.
Krystal berdiri dari duduknya dengan mata berbinar. Ia memegang pergelangan tangan juga beberapa bagian tubuh Yifan, memastikan jika ia tak bermimpi di siang bolong.
"Apakah anda Wu Yifan?"
Yifan mengangguk. Kemudian Krystal melonjak gembira, ia mengeluarkan ponsel keluaran terbaru dari kantong celananya.
"Bolehkah aku meminta fotomu juga tanda tanganmu?"
Setelah meladeni Jung selama beberapa menit, Yifan duduk bergabung di meja itu. Jongin yang tampak gugup, ia terus menyeruput bubble tea mocca tanpa henti, membuat Yifan sedikit terkekeh.
"Maaf, Krystal-ssi. Jongin itu sudah menjadi kekasihku." Yifan mengetahui nama Krystal ketika perempuan itu meminta tanda tangan di salah satu notebook mata kuliahnya.
Krystal masih dalam keadaan tak percaya jika-ia-akan-bertemu-dengan-aktir-favorite nya dan juga tak percaya akan-perkataan-Yifan-yang-mengagetkan.
"Apa benar itu, Jongin?" dengan sedikit hati-hati Krystal bertanya pada laki-laki dihadapannya.
Jongin mengangguk lemas. Dengan perasaan bersalah ia memandang Krystal yang tersenyum seolah telah mengerti semuanya. Ini kelemahan Jongin, ia tak tega untuk menyakiti hati perempuan yang menyukainya. Walaupun semua berakhir penolakan. Yeah, Jongin itu populer di sekolah menengahnya, siapa yang tak tertarik padanya? Kadang-kadang, perempuan yang menyukai Jongin sering memanfaatkan sifat Jongin yang terlalu-tak-ingin-menyakiti-hati-seorang-perempuan dengan memaksanya menjadi namjachingunya. Beruntunglah saat itu Chanyeol membantu Jongin mengatasi perempuan-perempuan itu. Ah.. Jongin jadi teringat pada Chanyeol. Ia merindukan temannya yang sudah pindah ke Seoul untuk meneruskan pendidikannya. Chanyeol lah yang mengajarkan sedikit demi sedikit bagaimana cara menolak pernyataan cinta perempuan-perempuan tersebut.
"Baiklah kalau begitu. Aku tak akan meminta Jongin-sunbae untuk menjadi namjachinguku lagi. Aku sudah kalah di muka karena Yifan-ssi." akhirnya Krystal angkat bicara. "Tapi ingat! Kalau anda menyakiti Jongin-sunbae sedikitpun, aku tak akan memaafkanmu, Yifan-ssi!"
Jongin tak bisa mengelak tentang rahasia itu. Seharusnya dalam hubungan yang taboo ini tidak perlu repot-repot menceritakan hal seperti ini. Nanti justru bisa menjadi kompleks dan bahkan Yifan telah mengutarakan niatnya untuk membawa Jongin ke Kanada, menikah disana dan kembali ke Korea setelahnya. Orang tua Jongin serta Jongdae merestui mereka. Setelah dua puluh satu tahun, akhirnya Jongin mempunyai kekasih. Mereka pikir, Jongin mempunyai sedikit kelainan karena tak sekalipun terlihat menjalin hubungan dengan perempuan. Yeah, mereka merasa bersyukur, walaupun kelak Jongin akan menjadi suami seorang laki-laki. Sepertinya mereka sudah putus asa.
Jongin membuka mulut bermaksud untuk menceritakan sesuatu, namun ganggaman Yifan menahannya.
"Kami harus segera pulang, Krystal-ssi." Ucap Yifan sembari menarik Jongin berdiri. "Tidak apa kan kami tinggal sendiri?"
Krystal mengangguk dengan senyum lebarnya, "Ku harap bisa bertemu dengan Yifan-ssi dengan sering."
'Pasti Sulli dan Luna iri melihat foto selcaku dengan Yifan', batinnya.
.
.
Ada arus kecil yang muncul dalam perasaan Jongin terhadap Yifan. Hanya sebuat riak kecil pada permukaan air karena embusan angin. Yang mungkin akan hilang seiring berjalannya waktu, atau semakin meluap karena arus deras yang menderanya.
Yifan menajamkan tatapan matanya dan menatap wajah Jongin, Jongin pun menundukkan kepala dan meskipun ia agak gugup, Jongin memeluk Yifan dengan kedua tangannya. Tangan Yifan terulur membalas pelukan hangat Jongin, ia terus mengelus puncak kepala Jongin dengan sesekali mengecupnya.
"Aku akan memberikan bulan untukmu." Yifan memandang langit sambil membayangkan bulan yang masih belum tampak.
Pasti dia akan memberikan semuanya.
"Aku akan memberikan matahari untukmu" sahut Jongin sembari menciumi bibir tipis Yifan. Jongin menyandarkan wajahnya di bahu Yifan dan sekali lagi aroma kasual, segar dan alami memenuhi kepala Jongin.
"Yifan?" Jongin memanggil tanpa mengandahkan wajahnya.
"Ya?"
"…Aku rindu padamu."
"Kau sedang punya masalah?"
Jongin menggeleng. "Tidak. Aku kan sudah bilang aku merindukanmu"
"Untunglah kalau begitu."
"Kalau begitu, aku tak akan merindukanmu lagi."
Yifan melepaskan beban di lengannya dan langsung melingkarkan kedua lengannya di punggung Jongin. Ia mengecup rahang kanan Jongin dengan sekali.
"Kau senang sekali meralat kata-katamu, ya? Kalau begitu, aku harus lebih sering meninggalkanmu di Busan untuk pergi bekerja."
Jongin menggeram kesal, membuat Yifan tersenyum tulus. Yifan membalik tubuh Jongin kemudian membungkukkan badan lalu mengeluarkan kotak kecil berwarna silver dari saku celananya kemudian membuka tutupnya. Kotak kecil tersebut terukir kaligrafi China yang menunjukkan kepemilikan cincin tersebut. Kim Jongin.
"Maukah kau memakainya?"
Dalam tiga langkah Jongin sudah berdiri di hadapan Yifan. Yifan mengeluarkan cincin dari dalam kotak lalu memasangnya di jari manis Jongin. Cincin logam berwarna silver yang di dalamnya terukir nama Kim Jongin juga Wu Yifan, cincin indah yang dipilih Yifan itu didesain sama dengan cincin yang tergantung di leher Yifan. Jari jemarinya bergerak perlahan di jari-jari Jongin. Tubuh Jongin semakin gemetar kelika logam yang dingin bertemu dengan suhu tubuhnya yang hangat.
"Aku belum menyetujuinya, Yifan."
"Setuju ataupun tidak, kau tak akan menolak." Sergah Yifan, "Kau mencintaiku."
Kedua lengan Yifan mendekap dan menarik pinggang Jongin. Kemudian bibir Jongin pun mendarat di bibir Yifan. Kali ini, Jongin yang mencium Yifan dahulu. Jongin merasakan bibir Yifan terasa sangat manis. Mungkin karena Yifan tak pernah merokok. Jongin terus melumat bibir Yifan dengan mata terpejam. Yifan membuka mata kemudian memperhatikan Jongin yang sedang meluapkan kerinduannya pada dirinya.
"Bersiaplah untuk masa depan."
Yifan berkata dengan yakin sambil menatap wajah Jongin yang terbengong kaku seperti orang bodoh untuk beberapa kalinya.
Sejak pertama mengenal laki-laki bernama Kim Jongin ini, baru pertama kali Yifan melihatnya panik seperti ini. Yifan menatap Jongin yang tidak tau harus berbuat apa itu dengan lucu.
"Kau tidak suka?"
"Tidak. Bukan seperti itu."
Jongin menjawab pertanyaan Yifan dengan sungguh-sungguh dan mengeratkan pelukannya.
Tidak suka? Tidak mungkin ia tak suka mendengar berita ini. Ia selalu membayangkan keluarganya sendiri dengan laki-laki China ini. Setiap memikirkan anak yang mirip dengannya dan laki-laki ini, ia selalu berdebar-debar. Yah walaupun itu tak mungkin. Ia akan mengadopsi anak setelah menikah. Namun, ketika mimpinya itu sedikit lagi menjadi kenyataan, rasa bahagia yang luar biasa merasukinya seolah tak membiarkan ia berpikir secara jernih. Oleh karena itu, ia hanya terpikir untuk memeluk dan merasakan debaran jantungnya sendiri dengan Yifan yang saling berpacu.
Awalnya, Jongin menganggap bahwa cinta itu tak ada di dunia ini. Namun, setetelah membuat pilihan yang tak pernah ia duga sebelumnya, rasanya kini ia menjadi lelaki paling berbahagian di dunia ini.
"Saranghae, Yifan. Kau adalah pilihan yang terbaik bagiku."
"Bagaimana ya? Tapi kau adalah pilihan yang terburuk bagiku."
Mendengar pengakuan Yifan, Jongin memutar kembali ingatannya dan tertawa pelan.
Meskipun orang ini suka bersikap semaunya dan keras kepala, ia tetap memulai hubungannya dengan orang ini.
Meskipun dirinya adalah pilihan terburuk bagi Yifan, sekarang orang inilah yang menjadi orang yang dicintainya.
Cinta Yifan bukanlah cinta pada pandangan pertama. Namun, seuatu hari ia menjadi pelengkap kehidupan bagi orang ini.
Jongin belum memikirkan sejauh bagaimana ia akan berurusan dengan actor yang sedang melejit ini. Membayangkannya pun tak pernah, yang mungkin penggemar suaminya akan menendang jauh bokong seksi Jongin atau membunuhnya pun ia tak peduli. Yeah, katakan Jongin egois untuk saat ini.
Kini, kisah cinta mereka yang sesungguhnya telah dimulai.
.
.
.
THE END
A/N:
Sebenarnya chapter sebelumnya itu sudah sequel karena flashback Yifan, tapi sepertinya menggantung. Jadi saya buat chapter ini menjadi sequel. Maaf jika kurang puas.
Terimakasih yang sudah review.
Saya belum tau kapan akan melanjutkan fanfiction chaptered yang lain sebelum ini.
