CKLEK!

Hinata menoleh saat pintu kamarnya terbuka. Gadis itu menatap Sasuke yang melangkah masuk dengan mengangkan kursi dorong yang terlipat di tangan kanannya. Pria dengan paras tampan itu nampak sudah berganti pakaian yang lebih santai, sepertinya ia baru saja selesai mandi melihat rambut hitamnya agak basah.

Sasuke tersenyum tipis memandang Hinata. Dia sudah bisa lebih tenang saat ini, meski penampilannya masih begitu berantakan dengan rambut acak-acakan dan jejak air mata yang menghiasi wajahnya.

"Sebaiknya kau mengobati lukamu, setelah itu kita bisa makan." Sasuke membuka kursi dorong itu dan meletakkannya di samping tempat tidur Hinata. Ia menarik laci meja kecil disana dan mengambil sebotol alkohol, kapas, salep pengering luka, dan dua jenis obat minum. "Tapi sebelumnya sebaiknya kau mencuci rambut dan wajahmu dulu." Hinata berjengit saat Sasuke menyingkirkan beberapa anak rambut yang menempel di wajahnya lalu menyisir rambutnya dengan sangat perlahan dari belakang.

"A-aku bisa melakukannya sendiri, paman," tolak Hinata lembut sembari sedikit memajukan kepalanya.

"Dengan tangan yang terluka parah seperti itu?" Sasuke mengangkat kedua alisnya. Hinata menatap kedua lengannyanya yang terhias berbagai luka sabetan yang nampak mengerikan. Sedikit menggerakkannya saja mampu membuatnya meringis kecil, apalagi harus digunakan untuk menyisir rambutnya yang saat ini benar-benar kusut.

"Maaf aku terus merepotkan paman." Hinata menunduk dan menatap selimut yang menutupi kedua kakinya.

"Tidak. Kau tenang saja." Sasuke kembali menyisir lembut rambut Hinata. Setelahnya mereka berada dalam keheningan. Sasuke sibuk merapikan rambut Hinata dan Hinata sibuk dengan pikirannya, merasa masih belum percaya dengan yang ia alami dalam satu hari ini.

Ia melirik jam dinding yang menunjukkan pukul enam sore, biasanya jam segini ia dan ibunya sedang menyiapkan makan malam. Sedangkan adik dan kakaknya sedang asik menonton televisi. Lalu ayahnya akan pulang dan Hinata akan berlari menyambut kedatangan ayahnya dengan senyuman lebar.

Sungguh.. ia rindu dengan kebahagiaan itu.

"Sudah, sekarang rambutmu bisa dikeramasi."

Hinata mengangguk saat ucapan Sasuke membuyarkan lamunannya. Dia hanya diam menurut saat Sasuke mengangkatnya perlahan menuju kamar mandi. Beberapa detik kemudian kedua mata Hinata membulat. "A-aku bisa mandi sendiri, paman!" ucapnya panik setengah gugup.

Sasuke terkekeh melihat wajah Hinata yang memerah malu. "Tubuhmu belum boleh terkena air, kita hanya akan mencuci rambutmu."

Hinata menunduk salah tingkah mendengar ucapan Sasuke. Sepertinya pikirannya terlalu mengarah ke hal-hal memalukan. Lagipula bukankah tadi Sasuke sudah bilang rambutnya akan dikeramasi, kenapa ia malah berpikiran Sasuke akan memandikannya? Ugh, memalukan sekali jalan pikirannya.

Dengan hati-hati Sasuke membaringkan tubuh Hinata di bath up kering dan menyandarkan kepala Hinata di salah satu ujungnya. Dia mengambil shower yang tergantung dan botol sampo lalu berjongkok di belakang Hinata.

Sasuke membasahi seluruh surai indigo Hinata lalu menuangkan cairan sampo di tangannya. Sasuke mengernyit memandang cairan kental berwarna kebiruan di telapak tangannya, ini sampo anti-ketombe dan ia yakin rambut Hinata tak berketombe saat menyisirnya tadi. Ia membuangnya dan mencuci tangannya sebelum mengambil sampo lain di rak kecil yang tergantung, kali ini ia memastikan tak salah ambil sampo khusus untuk rambut kusut dan sulit diatur.

Setelah membusakannya di kedua telapak tangannya, Sasuke memulai menggosok rambut Hinata dari atas kepala hingga ujung rambutnya. Hinata yang diperlakukan dengan sangat lembut oleh Sasuke hanya bisa terdiam. Segala sikap yang ditunjukkan pria dewasa itu padanya benar-benar membuatnya nyaman.

"Paman, apakah keluargaku sudah dikebumikan?" tanya Hinata yang merasa rileks dengan pijatan-pijatan kecil jemari besar Sasuke di tangannya.

"Ya, tadi pagi," jawab Sasuke singkat. Ia nampak begitu fokus mencuci rambut Hinata yang panjang.

"Aku ingin mengunjungi makam mereka."

Sasuke berhenti sejenak dari kegiatannya. "Baiklah, besok kita akan mengunjungi makam keluargamu."

Hinata tersenyum mendengarnya. Akhirnya ia bisa bertemu dengan keluarganya lagi meski kini orang-orang yang dicintainya itu telah tiada. Dia menunduk sedih, semua ini karena dirinya, karena dirinyalah keluarganya kini telah tiada. Harusnya cukup dia saja yang mati, bukan keluarganya. Tapi sekarang seluruh keluarganya telah tiada karenanya.

"Hinata, dengar aku." Sasuke lagi-lagi membuyarkan pikirannya, ia bermaksud untuk menoleh ke belakang. Tapi Sasuke mencegahnya, ia khawatir busa sampo di rambut Hinata mengenai luka-lukanya. "Kau harus tetap hidup, dan membalas semua yang dilakukan Gaara padamu."

Tubuh Hinata menegang saat mendengar nama itu. Entah mengapa ia masih belum mau mempercayai bahwa Gaara lah yang menghancurkan hidupnya seperti ini. Tapi, Sasuke benar. Mungkin ia terlalu munafik menganggap semua orang di sekitarnya adalah orang baik.

"Tapi.. bagaimana aku membalasnya dengan keadaanku yang seperti ini?"

Sasuke tersenyum tipis meski Hinata tak bisa melihatnya. "Aku akan selalu disisimu, Hinata. Kita berdua yang akan membuat dia membayar semua ini."

Hinata tersenyum haru mendengar ucapan Sasuke. Pria yang selalu dihormatinya itu benar-benar baik dan rela membantunya sampai seperti ini. "Terima kasih, paman."

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

The Red Room © Hyuuga Sabaku

Thriller

OOC, Typo(s), Psychological

.

.

Hinata kembali duduk di ranjangnya setelah Sasuke selesai mengeramasi rambutnya. Kali ini Sasuke tengah mengeringkan rambutnya dengan menggosok-gosokkan handuk di kepala dan rambutnya. Wajah Hinata sudah tampak lebih segar karena Sasuke juga membantunya membersihkan wajahnya dengan sabun pencuci muka. Hinata merasa benar-benar tak berguna, ia sudah seperti boneka hidup saja.

"Nah, sekarang kita bisa mengobati lukamu."

Hinata terdiam, mencoba tak memikirkan hal-hal negatif lagi. Tapi mau bagaimanapun ucapan Sasuke tak bisa mengandung makna lain lagi selain itu berarti bahwa Sasuke akan melihat seluruh tubuhnya yang terhias luka sabet. "K-Kali ini aku akan melakukannya sendiri, paman," ucap Hinata saat Sasuke bangkit untuk mengambil alkohol dan kapas.

"Kau malu dengan paman?" tanya Sasuke dengan nada heran.

Hinata mengangguk perlahan dengan wajah merah.

Sasuke yang melihatnya hanya terkekeh. "Baiklah kau bisa melakukannya sendiri." Pria itu menyerahkannya pada Hinata lalu berjalan menuju lemari ganti untuk membawakan set pakaian ganti untuk Hinata kenakan. Ia memilih pakaian dengan bahan yang ringan dan lembut agar Hinata tak kesakitan saat luka itu bergesekan dengan pakaian.

Hinata menatap pakaian yang diletakkan di kasurnya, lalu dia menatap pakaian yang dikenakannya saat ini. Sepertinya ia baru menyadari sesuatu. "S-Siapa yang menggantikan pakaianku kemarin, paman?" tanyanya dengan menggigit bawah bibirnya.

"Tentu saja paman," jawab Sasuke dengan sebelah alis terangkat. Memangnya siapa lagi? Seperti itu wajahnya berekspresi di mata Hinata.

Wajah Hinata sukses memerah sempurna. Dia langsung menyilangkan kedua tangan di depan dadanya. "P-Paman Sasuke mesum!"

Sasuke menghela nafas kecil dan mengeleng-gelengkan kepalanya. "Itu darurat, Hinata. Paman langsung menyembunyikanmu disini sementara para polisi lain berusaha menangkap para penjahat itu."

Kedua mata Hinata terbelalak kaget. "Paman tidak membawaku ke rumah sakit?" tanyanya heran. Lalu bagaimana kakinya diamputasi kalau ia tak dibawa ke rumah sakit.

"Tidak." Sasuke menggeleng. "Kalau aku membawamu ke sana, kau akan dirawat disana dan Gaara bisa menyuruh suster disana untuk menangkapmu lagi."

Hinata menggigit bibirnya ketakutan. Mengapa Gaara begitu menyewa banyak orang hanya untuk mencarinya. Mengerikan sekali.

"Ya sudah, sebaiknya kau segera mengobati luka-lukamu." Sasuke mengambil salep luka di meja dan menaruhnya di kasur Hinata. "Obat ini diminum setelah makan saja."

Hinata mengerutkan keningnya bingung, kenapa ia harus minum obat segala. "Aku tidak sakit, paman."

"Selain diobati dari luar, obat minum ini membantu mempercepat penyembuhan luka-lukamu dari dalam."

Hinata mengangguk mendengar penjelasan Sasuke sebelum akhirnya pria itu keluar dari kamar.

.

.

Hinata menerima suapan Sasuke dengan membuka mulutnya. Enak. Sup ini terasa enak. "Paman memasaknya sendiri?"

Sasuke mengangguk kecil, "Aku bosan dengan makanan cepat saji, jadi aku belajar memasak."

Hinata merengut sedih, ia rindu memasak bersama ibunya. Sosok wanita yang disayanginya itu selalu mengajarkannya memasak hingga ia merasa memasak sudah seperti bagian dari hidupnya. Ia senang sekali memasak, tapi dengan kondisinya sekarang, mana mungkin ia bisa memasak. Walau luka di tangannya akan sembuh pun, kedua kakinya tak akan sanggup mencapai meja dapur.

Gadis itu tersentak kaget saat logam sendok menyentuh ujung bibirnya.

"Kau sering sekali melamun," ucap Sasuke sembari memasukkan suapannya ke mulut Hinata.

Sorot mata Hinata berubah sedih, "aku masih belum siap dengan semua ini, paman."

Sasuke tersenyum menatap gadis mungil di depannya, "Yang terpenting sekarang kau selamat, dan keluargamu sudah bahagia di surga, walau mereka sudah tiada tapi mereka masih hidup di dalam hatimu." Tangan besar itu mengelus pucuk kepala Hinata dengan lembut.

Hinata membalas senyuman lembut Sasuke. Dan selanjutnya Sasuke kembali menyuapi Hinata dalam keheningan. Hening bukan berarti canggung, Hinata justru merasa nyaman dengan keheningan ini. Ia sangat tahu bahwa Sasuke adalah orang yang sangat irit bicara, tapi entah kenapa seharian bersama pria dewasa itu membuatnya tahu bahwa Sasuke bukanlah orang yang dingin.

.

.

Dan tanpa terasa waktu seminggu pun berlalu dengan cepat. Dari hari ke hari, perlakuan Sasuke selalu sama untuknya. Begitu lembut dan mampu membuatnya nyaman. Perasaan Hinata berubah, dari yang semula menghormati kini menjadi menyayangi, ia seolah sudah menggantungkan hidupnya pada pria yang lebih cocok menjadi pamannya itu. Tapi ia tak mau berharap lebih, karena pikirnya Sasuke tak mungkin menyukai gadis kecil sepertinya.

"Hinata, ayo kita makan."

Hinata menoleh dan tersenyum mendapati Sasuke yang baru saja memasuki kamarnya dengan bungkusan makanan di tangannya. "Paman, sebaiknya aku pesan saja untuk makan siang selanjutnya. Aku tidak ingin paman bolak-balik hanya untuk menemaniku makan siang." Hinata merasa tak tega dengan Sasuke yang mengorbankan waktu istirahat makan siangnya malah berkendara ke apartemen dan kembali lagi ke tempat kerja. Harusnya waktu itu ia gunakan untuk makan bersama teman-teman di kantornya.

"Tidak apa-apa, Hinata. Aku lebih senang makan disini, denganmu."

Gadis itu tersipu mendengan ucapan pria di depannya. Sasuke selalu membuatnya merasa istimewa. Bahkan dengan keadaannya yang seperti ini pun Sasuke masih mau menerimanya. Perlahan tapi pasti ia yakin akan mencintai pria yang selalu membuatnya nyaman itu. Sasuke begitu sempurna di matanya.

Hinata melahap makanan di depannya bersama Sasuke di atas ranjangnya. Karena lukanya sudah mulai mengering, rasa sakit dan nyerinya tak begitu terasa meski bekas-bekasnya masih terlihat. Dengan begini ia tak akan terlalu merepotkan Sasuke lagi karena ia sudah bisa melakukan hal-hal kecil seorang diri tanpa bantuan.

"Apa Gaara masih belum ditemukan?" tanya Hinata.

Sasuke menggeleng, "dia pandai sekali bersembunyi. Mungkin dia mengoprasi plastik wajahnya."

Hinata membelalakkan matanya, kalau perkataan Sasuke itu benar jelas itu akan menjadi sangat sulit.

"Tapi kau tenang saja, aku pasti akan segera menemukannya."

Hinata mengangguk. Ia percaya pada Sasuke.

.

.

Hinata menatap langit sore yang begitu indah. Sekarang dirinya tengah berada di balkon dengan duduk di atas kursi roda. Tak banyak hal yang bisa dilakukannya di apartemen Sasuke selain makan, tidur, dan melihat dunia luar dari balkon kamarnya. Namun, entah mengapa ia tak merasa bosan. Hari-hari suramnya tak terasa begitu menyedihkan karena ada Sasuke untuknya.

Sejenak dia menunduk. Ia sama sekali tak mempunyai tujuan hidup sekarang. Entah untuk apa dan untuk siapa dia hidup. Meski Sasuke sangat membuatnya nyaman, namun tak ada jaminan bukan bahwa Sasuke juga merasa nyaman dengannya untuk seterusnya?

Sasuke adalah pria dewasa yang tampan dan sukses, pasti banyak wanita cantik yang menyukainya. Dan pasti Sasuke akan memilih mereka, yang lebih cantik dan tidak cacat sepertinya. Dia tak memiliki apapun yang bisa dibanggakan di depan Sasuke. Dia tak memiliki apapun yang bisa membuat Sasuke mencintainya.

"HINATA!"

Nafas Hinata tercekat saat mendengar suara yang sangat dikenalnya itu. Suara yang dulu sangat menenangkannya, namun kini suara itu adalah suara yang mengerikan baginya. Dengan sangat perlahan Hinata menoleh ke arah balkon di apartemen sebelahnya. Dan tubuhnya bergetar hebat saat melihat sosok Gaara disana.

Hinata memundurkan kursi rodanya panik dengan wajah yang sangat ketakutan. Kenapa Gaara bisa tahu kalau ia ada disini?

Dia harus segera menelpon Sasuke!

"HINATA! JANGAN PERGI!"

Gadis bersurai indigo itu serasa hampir menangis saat kesulitan menggeser pintu kaca balkonnya. Mengapa begitu sulit untuk membukanya di saat-saat buruk seperti ini? Terlebih saat ini Gaara sudah mengambil ancang-ancang untuk memanjat dinding yang memisahkan tiap balkon.

Setelah berhasil membukanya, Hinata segera masuk dan mengunci rapat pintu kacanya.

"HINATA DENGARKAN AKU DULU!"

Hinata terlonjak saat Gaara tiba-tiba sudah berada didepannya. Gadis itu menggeleng-gelengkan kepalanya dan memundurkan kursi rodanya menuju ponsel di atas meja kecilnya.

PRANG!

Tubuh Hinata membeku saat mendengar pecahan kaca yang begitu keras. Ia sama sekali tak berani menoleh ke belakang, tubuhnya bergetar ketakutan. Bukankah ia akan menanyakan alasannya sendiri pada Gaara mengapa ia menghancurkan hidupnya? Tapi sekarang jangankan untuk menanyainya, melihat matanya saja ia sudah sangat ketakutan.

Sementara Gaara di belakangnya terengah dengan tangan kanan yang terluka parah setelah memecahkan pintu kaca itu.

Krak!

Krak!

Suara pecahan kaca yang terinjak menandakan bahwa kini Gaara berjalan perlahan mendekatinya. Hinata menangis keras dan begitu ketakutan. "K-Kumohon pergi dari sini!"

"Akhirnya aku menemukanmu, Hinata." Gaara memeluknya dari belakang, darah dari tangannya mengalir menodai baju Hinata.

"L-Lepaskan aku!" Hinata memberontak berusaha melepaskan tangan Garaa yang merangkul pundaknya. "KAU PEMBUNUH!" bentak Hinata dengan suara yang bergetar. Emosi dan ketakutannya bercampur menjadi satu saat melihat sosok berambut merah itu.

Hinata tersentak saat Gaara dengan cepat memutar kursi rodanya agar menghadap padanya. Kedua tangan kekar itu bertumpu pada masing-masing sisi kursi roda. Ia menatap lurus-lurus kedua mata lavender Hinata.

"Sasuke membohongimu, Hinata! Dia menjebakmu. Dia menjebakku juga, menjadikanku buronan seperti ini!"

Seluruh tubuh Hinata seperti tersetrum listrik mendengar ucapan Gaara. Tidak. Tidak mungkin Sasuke membohonginya. Tidak mungkin perlakuan lembut Sasuke selama ini hanyalah akting belaka.

"Sebaiknya kita pergi dari sini. Keluargamu pasti senang mengetahui kau masih hidup."

Kedua mata Hinata terbelalak. Keluarganya masih hidup? Tapi dia sudah mengunjungi makam ayah, ibu, kakak, dan adiknya seminggu lalu.

"T-Tapi Paman Sasuke bilang kau sudah membunuh keluargaku." Tubuh Hinata bergetar hebat. Ia benar-benar tak tahu siapa yang benar dan siapa yang membohonginya.

"Sudah kubilang, kan. Dia membohongimu, dia ingin memilikimu untuk dirinya sendiri. Dia bahkan memalsukan mayatmu dengan wanita lain setelah menghancurkan wajahnya agar tak dikenali. Entah bagaimana dia juga bisa memalsukan hasil otopsinya."

Kepala Hinata terasa begitu pening mendengar penjelasan Gaara. Seminggu yang lalu ia tak percaya jika Gaara tega melakukan hal ini padanya, sekarang setelah ia mempercayainya, Gaara tiba-tiba muncul dan memutar balikkan fakta yang selama ini tertanam di benaknya. Siapa yang harus dia percayai?

"Kita harus pergi dari sini sebelum Sasuke pulang."

Hinata hanya terdiam dengan kondisi syok saat Gaara menuntun kursi rodanya untuk keluar dari apartemen Sasuke.

"Pria gila itu benar-benar mengerikan," ucap Gara yang berjalan cepat menuju pintu keluar. "Untungnya aku bisa menemukan tempat tinggalmu setelah membuntutinya, dan menyewa apartemen kosong di sebelah apatemen ini."

Setelah sampai di depan pintu, Gaara meraih pegangan pintu untuk membukanya dan menemukan Sasuke yang menodongkan pistol ke arahnya.

"Sial!"

.

.

To be continue

.

.

Author Note :

Fanfic ini terinspirasi dari deepweb, hihi. Judulnya emang ngambil nama dari web itu. Dan The Red Room kalau dibalik jadi Murder, huft serem yah ternyata pembunuhan secara live begini beneran ada. Jadi menurut kalian siapa nih yang sebenernya jahat? Hihi.