Title : The Kingka Strawberry and Vanilla

Author: Sulis Kim

Main C : Kim Jaejoong

Jung Yunho

Other

Rate : T~M

Genre : School life, Family, Comedy (gagal) Friendship.

WARNING

YAOI Boy x Boy, jika tidak suka jangan baca, Author cinta damai.

Ff ini milik saya seorang. Jika ada kesalahan typo dan salah kata mohon maaf. Menerima kritik dan saran yang membangun.

Don't like Don't read.

Alwasy keep the faith.

Happy Reading ...!

" Jiji."

Changmin menutup kedua telinganya mendengar jeritan Jaejoong. Pemuda itu sudah membuat seisi kelas kacau akibat tingkah kucing kecil yang ia bawa dan tidak bisa diam barang sedetikpun. Sungguh persis seperti sang majikanya, batin Changmin.

"Yoochun, bantu aku menemukan Jiji." suara Jaejoong dari bawah meja, pemuda cantik itu tidak bisa diam ketika kucing nakalnya berkeliaran di antara kaki bersepatu di bawah meja, jika tidak memainkan tali sepatu kucing bermata besar seperti Jaejoong itu dengan senang hati menggigit sepatu lain dan membuat sang empu menggerutu.

Mr. Lee mendesah pasrah. Tidak ada cara selain membawa kucing itu pergi atau ia tidak bisa mengajar dengan tenang. "Kim Jaejoong, untuk sementara aku akan membawa kucingmu keruang kepala sekolah sampai kau pulang nanti. Dan besok kau tidak diijinkan membawa binatang berbulu ini lagi kesekolahan."

Suara benda membentur meja membuat semua orang merunduk untuk melihat Jaejoong membungkuk memegangi kepalanya akibat benturan yang tidak disengaja.

Oh, sial kepalanya seperti akan pecah. Dengan sigap Jaejoong berdirI menatap ngeri kearah Mr. Lee dan juga Jiji yang sudah berada dalam genggaman pria tua itu.

"Mr. Lee anda tidak boleh membawanya pergi." protesnya.

"Aku bisa dan akan aku lakukan, sampai kau berhenti membawa binatang apapun kesekolahan ini." tangan Jaejoong masih mengusap kepalanya yang sakit ketika ia berkata. "Dia akan kesepian tanpa Jongie disisinya,"

"Omong kosong, aku tetap akan membawanya, apapun alasanmu, kau sudah membuat kelasku tidak bisa belajar dengan tenang!" tanpa banyak kata pria yang sudah beruban itu keluar kelas dengan Jiji bersamanya.

"Itu bukan salah Jiji, salahkan mereka yang takut kepadanya. Mr. Lee, tunggu." Jaejoong berteriak histeris, ia sudah akan mengejar Mr. Lee jika Yoochun tidak melarangnya.

"Jongie, sudahlah."

"Kau harus membantuku Yoochun," dengan tidak elit mata Jaejoong berkaca kaca, memohon kepada sahabatnya itu.

Ya, Tuhan. Changmin menepuk jidatnya sendiri. "Ingatlah kau Kingka,"bisiknya. "Kingka tidak boleh mengeluh dan menangis." nasehat Changmin.

"Aku tidak menangis, Min." menggunakan lengan baju Jaejoong mengusap air mata di sudut matanya. "Akukan laki laki, mana mungkin menangis. Hanya saja aku takut Jiji kesepian di ruangan kepala sekolah, mereka pasti akan mengurungnya."

Seisi kelas menahan tawa. Sudah jelas pemuda cantik itu menangis namun tidak mau mengakuinya.

"Baiklah kau tidak menangis, tenanglah sampai jam istirahat. Kau bisa meminta bantuan keponakan kepala sekolah, adik kelas kita untuk mengambil Jiji." Yoochun memberi saran.

Rambut almond Jaejoong bergoyang ketika pria itu mengangguk. "Baiklah, tidak bisakah sekarang, Min?" bujuknya.

"Demi Tuhan, tidak Jongie! Kita masih ada ulangan di kelas Mr. Lee."

.

.

.

Jaejoong melongokan kepalanya ke dalam kelas yang berisik melebihi pasar pagi dengan sembunyi sembunyi, rambut almond miliknya terlihat kontras dari pintu kayu berwarna hitam yang hanya memperlihatkan separuh dari wajahnya.

Ia merutuki ide Changmin dengan meminta bantuan sembilan gadis yg super berisik itu, jika bukan karena kucing kecintaanya yang malang Jaejoong tidak akan meminta bantuan siapapapun. Hey, dia Kingka disini.

Sekelompok gadis sedang berkumpul tertawa cekikikan. Sampai salah satu dari mereka melihat Jaejoong mengintip dengan malu malu. Yuri melihat Jaejoong dan tersenyum cerah, menyenggol siapapun yang berada di sisi kanan dengan siku.

"Lihat siapa yang datang kekelas kita," serunya histeris, melompat dari atas meja yang didudukinya. " The Kingka Vanilla," seru yang lain.

Senyum cerah Jaejoong terbit dan tanpa canggung ia memperlihatkan seluruh wajah kemudian disusul tubuh mungilnya yang berseragam tidak rapi. Dasi terbuka tanpa jas dan kemeja yang tidak di masukkan ke dalam celana. Sedikitpun tidak mengurangi ketampanan dan kecantikan pemuda manis itu.

Sunny menarik Jaejoong masuk bergabung dengan sembilan wanita yang di beri nama genk Gomiho oleh Jaejoong sendiri, mereka seperti sembilan ekor siluman yang berkeliaran kemana mana dan selalu bersama. Dan lihatlah sekarang ia seperti diculik oleh sembilan ekor Siluman yang yang sedang menatapnya dengan mata berbinar kagum tanpa berniat untuk menyembunyikan perasaan mereka.

"Aku tahu aku tampan," Jaejoong berkata penuh bercaya diri," jadi, berhenti menatapku seperti kalian akan memakanku bulat bulat."

"Kami akan melakukanya seandainya kami bisa," si maknae paling tinggi berkata.

"Tapi kau begitu menggemaskan untuk kami makan, Jongie." sahut Tiffany.

Jessica berkata." Apa yang membawa The Kingka yang super sibuk kita ini kekelas ini?"

Jaejoong memberengut imut. "Aku kehilangan kucingku," adunya. "Kepala sekolah mengurungnya. Mr Lee membawa kucing itu ke kantor kepala sekolah." wajahnya mulai menunjukan keterlukaan yang mendalam. "Oh, Sunny kau adalah keponakan tersayang Mr. Lee Sooman, maukah kau membantuku."

Bagaimana Sunny bisa menolak jika di hadapkan pada pria manis nakal badung menggemaskan yang menatapnya dengan wajah teraniyaya yang membuat Sunny tersentuh setengah mati. Demi Tuhan, batin mereka, tidak usah memasang wajah nelangsa tingkat dewa mereka akan memaksa Sunny melakukanya.

"Tidak usah memasang wajah seperti itu, Jongie Sunbaenim." Sunny sengaja menambahkan kata sunbaenim, karena ia tahu Jaejoong sangat suka di anggap lebih hebat dari mereka. Dan see... Wajahnya berbinar bahagia secerah matahari pagi.

"Oh, Sunny kau begitu baik. Aku akan melakukan apapun untukmu, asal jangan memintaku untuk jadi kekasihmu," ucapnya sok jual mahal. "karena Mom... " ia meralat. "Umma melarangku pacaran sampai aku kuliah nanti."

Senyum Sunny sedikit berkurang. Dan tentu saja dia tidak akan meminta permintaan yang akan membuat seluruh sekolahan menjadi musuhnya. Hallo, Sunny masih sayang nyawanya sendiri. "Baiklah... Tunggu, tinggal duduk manis disini atau kau mau ikut denganku, kau bisa menunggu di luar pintu selama aku mengambil kucing ..."

Jaejoong memotong. "Jiji, itu namanya."

"...Jiji dari pamanku, tapi aku tidak janji."

Oh, betapa bahagianya Jaejoong sampi ia melompat dan duduk di salah satu bangku dengan begitu tenang. Semua orang melongo. "Aku akan duduk manis sampai kau kembali." cengiran madu yang membuat siapapun tengelam dengan kemanisan dalam suaranya.

Sekitar sepuluh menit kemudian, Sunny belum juga kembali Jaejong mulai gelisah, ia memperhatikan sekeliling yang berubah menjadi hening. Delapan ekor Gomiho yang tersisa mengikutinya dengan duduk manis di Sekelikingnya, menatap Jaejoong dengan penuh kekaguman.

Susah payah Jaejoong menahan diri untuk tidak bergerak terlalu banyak, untuk pertama kali dalam hidupnya ia tidak bergerak dalam jangka waktu selama ini dalam keadaan sadar. Dimana Sunny? kenapa gadis mungil itu belum juga kembali?

Seakan membaca kegugupan Jaejoong Seoyoung berkata. "Sunbae tenang saja Sunny pasti akan membawa kucing itu kembali." Anggukan lemah Jaejoong membuat poninya menutupi separuh mata.

Kikikan geli mereka tunjukan ketika tangan mereka gatal untuk menyingkirkan rambut almond itu dari wajah mulus bak peri milik Jaejoong.

Lima menit kemudian Sunny kembali dengan Jiji dalam gendonganya. Jaejoong Melompat menghampiri mereka. "Jiji ..." seru Jaejoong, memeluk Jiji pegitu posesif sampai kucing kecil itu bergerak gerak gelisah. " aku kira tidak akan melihatmu lagi, anak nakal. Kau tidak boleh kabur dari Appa, tahu?"

Appa! Ya Tuhan, Jaejoong sendiri masih membutuhkan Appa bagaimana bisa ia menganggap dirinya seorang Ayah untuk kucing itu, akan lebih cocok jika dia menjadi Umma-nya.

Kebahagiaan Jaejoong tak begitu lama sampai Jessica merebut Jiji dengan begitu mudah, semua mata menatap gadis bermata berbie itu gelisah. "Aku akan mengembalikan Jiji padamu dengan satu syarat,"

"Syarat." yang lain membeo.

"Syarat apa?" Sunny bertanya.

"Bukankah kita sedang mencoba membuat Disain pakaian peri terbaru untuk ujian Disainer yang kita ikuti di butik Ibuku," Yang lainya mengangguk antusias. "Dan kita membutuhkan model, salah satu dari kita tidak cocok memakai Disain terbaru itu ...jadi," semua mata menatap Jaejoong berbinar.

"Kami akan menjaga Jiji untukmu sampai acara itu selesai." sahut Yuri.

"Malam ini, Jangan lupa." si maknae berkata.

"Kami akan menjemputmu jam tujuh malam," entah siapapun yang berkata Jaejoong sudah tidak memperhatikannya.

Ya Tuhan, ia salah dengan meminta pertolongan mereka. Setidaknya Mr. Lee tidak akan menyuruh Jaejong berjalan di bawah lampu dengan pakaian yang entah seperti apa nantinya. Ia hanya berdoa semoga apapun nanti yang ia pakai masih masuk dalam katagori pakaian orang waras, kalau tidak ia akan mencekik mereka semua.

Tidak ada jalan lain, selain menyetujui mereka atau ia akan kehilangan Jiji. Oh, kucingnya yang malang berada dalam genggaman sempilan ekor Gomiho.

.

.

.

Cuaca tidak bersahabat siang ini, ketika Yunho dan kawan kawan berlarih di lapangan. Latihan itu dengan terpaksa di tunda, Yunho tidak suka berlatih di tempat tertutup yang tersedia. Ia akan merasa bebasa dan puas ketika matahari membakar kulit dan angin berhembus menyapu wajahnya ketika ia melompat atau melempar bola lebih tinggi.

"Pertandingan nanti aku yakin kita akan menang," salah seorang berkata, suaranya tersamarkan oleh suara teriakan penonton di lapangan dalam gedung.

"Kali ini kita memiliki tambahan pemain yang hebat, aku tidak sabar untuk bertandingan nanti." yang lain menimpali.

Yunho mengabaikan mereka. Saat ini ia duduk di bangku penonton memperhatikan pemainnan voli, sebagian teman temanya ikut bergabung bermain dengan begitu bersemangat ketika melempar dan memukul bola dengan tangan kosong mereka.

Peluit istirahat terdengar dari sang pelatih, menggiring mereka bubar ketepi lapangan. Siwon diikuti Seunghyun berjalan kearah Yunho, Yunho melempar handuk dengan Siwon menangkap botol mineral yang dilemparkan tangan lain kearahnya.

"Apa kau tidak ingin ikut gadung? Sangat menyenangkan ketika kau bisa memukul bola yang biasanya kau lempar." Seunghyun berkata antusias. Ia masih merasakan kepuasan dengan menyalurkan tenaganya memukul benda bulat itu.

Duduk di samping Yunho, Siwon menoleh kearah sahabatnya dan menggeryit. "Apa yang kau pikirkan?"

Yunho menoleh. "Aku tidak melihat Jaejoong siang ini, apa kalian melihatnya." ucapnya di sela sela gigi yang mengunyah Strowberry yang entah ia dapat dari mana.

Seakan mengerti dengan tatapan Siwon,Yunho menunjuk dengan dagu kearah gadis yang menjauh dari mereka.

Fans lagi, pikir Siwon. Mereka selalu memberikan Strawberry untuk Yunho, mengingat pemuda itu penggila buat berbintik berwarna merah darah itu.

Mereka heran, apakah Yunho tidak bosan tiap hari mendapat buah masam menurut Siwon, untuk ia kunyah, sedangkan Siwon sendiri cukup ngeri dengan melihat Yunho memasukkan benda merah itu satu persatu kedalam mulutnya.

Seunghyun bergabung. "Aku juga tidak melihatnya sejak pagi tadi." Yunho mengikuti pandangan Seunghyun ke arah para penonton untuk mencari.

"Siapa?" Siwon bertanya.

"Tentu saja Kingka kita,"

Siwom menunjuk Yunho. Seunhyun menggeleng. "Bukan, bukan, bukan Kingka Stowberry, Kingka Vanilla kita, si manis itu tidak kelihatan berulah siang ini aku takut dia tertangkap oleh Mr. Lee dan dihukum, kau tahu diluar hujan Jaejoongie tidak memiliki tempat untuk berlari menyelamatkan diri dari kepala sekolah botak itu."

Yunho menghentikan suapan berikutnya. Benar, ia juga memikirkan hal sama mengingat pemuda manis yang usil dan tidak pernah diam itu." Mungkin ia bersama Changmin dan Yoochun."

"Mereka disana." Siwon menunjuk Changmin dan Yoochun yang sedang berbicara di antara puluhan penonton Voli lainya. "Dimana Kitten," lirikan mata Yunho yang ditunjukan kepada Siwon membuat tawa Seunghyun meledak.

"Ayolah, Dude kami tidak akan menyentuh apapun yang sudah kau klaim menjadi milikmu, meskipun kami ingin setengah mati untuk mendapakan perhatian Kitten-mu."

Yunho mengambil dua buah strawberry segaligus memasukkanya kedalam mulut, dengan pipi menggembung ia mendesah ketika kembali melirik ke arah Yoochun dan Changmin.

"Malam ini, Ayahku meresmikan klub baru di Incheon, bagaimana kalau kita kesana?" Seughyun menaruh lenganya di pundah siwon dan Yunho. Ia menambahkan. " Kita akan bersenang senang disana banyak sesuatu yang akan membuat kita merasa di surga."

"Maaf, malam ini aku harus menemani Mama kebutik langgananya, kau tahu Ibuku bisa sangat memaksa."

"Dimana supirmu, kalian memiliki dua supir, bukan? Ayolah Dude tidak seru tanpamu kaulah yang seperti maknet membawa para gadis maupun wanita mendekat dengan suka rela."

Benar, itu memang terjadi. Bukanya Siwon dan Seunghyun tidak cukup tampan, akan tetapi mereka akan lebih dikejar kejar banyak wanita jika ada Yunho yang berkulit gelap dan bertubuh lebih berisi di antara mereka.

"Maaf, sobat. Aku tidak bisa, sopir Ibuku sedang libur, istrinya sedang melahirkan..." Siwon sudah akan berkata ketika mendengar suara gaduh para gadis yang menjerit histeris.

Di sisi lain lapangan, Yunho melihat bidadarinya berjalan dengan bahu lunglai tak bertenaga. Ia berhenti mengunyah ketika tidak bisa melihat wajah Jaejoong karena pemuda itu menunduk lesu.

Tidak seperti biasanya jika mendapat sambutan Jaejoong akan sangat bahagia dan tersenyum begitu cerah. Kali ini pemuda itu sedikitpun tidak tertarik dengan banyaknya penggemar yang menjeritkan namanya.

"Sesuatu terjadi padanya!" Kenyataan akan Siwon mengetahui ketidak biasaan Jaejoong dalam bersikap membuat Yunho geram. Apakah teman temanya begitu memperhatikan Jaejoong sampai mereka mampu membaca keanehan yang ia juga rasakan dari wajah pemuda itu.

Di sisi lain lapangan, Jaejoong susah payah mengangkat kepalanya yang begitu berat hanya untuk melihat dua sahabat menatap balik kearahnya. Dua pasang mata yang menatap sendu kearahnya setelah mereka saling tukar pandang satu sama lain. "Tidak berhasil?" Changmin bertanya.

Jaejoong menggeleng kemudian mengangguk. Alis kedua sahabatnya mengkerut heran. "Jadi, berhasil atau tidak." Yoochun menarik Jaejoong untuk bergadung duduk.

Di apit kedua sahabat yang merangkul pundaknya entah mengapa Jaejoong merasa di dekat mereka dirinya merasa lebih aman. "Bagaimana ini, Chwang, Yoochun-a ..." melepaskan kedua lengan sahabatnya Jaejoong menyandarkan kepala di dada Yoochun. "Mereka menyandera Jiji." tangisnya pecah dalam dekapan Yoochun, pemuda itu menatap Changmin bertanya.

Menggedikkan bahu Changmin memeluk keduanya dalam lengan panjangnya. " Tenanglah... Jiji akan kembali ketika kita pulang nanti." mencoba menghibur Jaejoong alih alih ia menapat cubitan manis di lenganya.

"Gomiho itu menyandera Jiji."

"Gomiho?"

"Jessica Cs," Changmin menjawab pertanyaan Yoochun. Kemudian mengalihkan tatapanya ke wajah Jaejoong. "Apa yang mereka lakukan kepada Jiji?"

Kembali ke sisi lapangan lain. Selera makan Yunho mendadak sirna, ia menyerahkan kotak yang masih berisi separuh strowberry kepada Siwon. "Aku sudah tidak berselera." kemudian Yunho beranjak dan melangkah kearah pintu keluar.

Sebelah alis siwon terangkat. "Apa aku salah dengar."

Seunghyun menyerigai pandanganya tertuju kearah sisi lain lapangan. "Tidak, dude ...aku tahu mengapa?" ia menunjuk dengan dagu.

Siwon tertawa ketika melihat ketiga sahabat itu saling berpelukan layaknya teletubies. "Akan lebih baik jika Yunho mengatakan perasanya pada Jaejoong kalau dia menyukainya,"

"Dia terlalu posesife."

.

.

.

Jaejoong menatap cermin dengan mata berbinar binar cerah. Ia tidak menyesal berbohong kepada Ibunya dengan alasan akan belajar bersama di rumah Yoochun.

Oh, ia sangat bangga dengan kerja keras sembilan Gomiho yang baik hati. Mulai saat ini Jaejoong akan bersikap baik kepada mereka. Ia berjanji!

Kedua mata besar Jaejoong mengerjak ngerjap, bulu lentik tampa olesan apapun sudah cukup membuatnya menawan. Ia tidak salah lihat bukan? Bayangan itu dirinya, Oh Tuhan ia begitu cantik dengan pakaian ini.

"Sempurna," Jessica berseru girang menatap puas hasil karya pertamanya. Ibunya pasti akan bangga melihat ...? Ia tidak yakin, ibunya akan kagum kepada karyanya ataukah dengan sang model cantiknya.

"Demi, Tuhan. Dia lebih cantik dari yang ku bayangkan." Delapan sahabat Jessica lainya berseru senang. Tidak percuma mereka menyempatkan diri berkunjung di butik ternama milik keluarga Jessica Jung.

Tubuh mungil Jaejoong berbalut gaun putih berbahan sutra dengan begitu sempurna, memperlihatkan lekuk tubuh yang seharusnya dimiliki para wanita. Jangan lupa Wig panjang berwarna pirang begitu kontras dengan kulit Jaejoong yang tanpa cacat.

"Kau seperti peri sungguhan," Yoona menatap Jaejoong iri. "Lihatlah gaun itu, begitu pas di tubuhmu."

Lirikan mengerikan ia tunjukan kepada sembilan gadis yang mengelilinya. "Kalian sudah berjanji akan merahasiakan ini dari siapapun, bukan?," ia memperingatkan. "Aku adalah Kingka sangat tidak pantas mengenakan pakaian seperti ini. Ya Tuhan, aku bisa gila kalau sampai seseorang melihatku dengan pakaian peri ini"

"Tidak, tidak. Kau sangat cantik, tidak ada yang akan melihatmu atau mengenali dirimu adalah Kim Jaejoong si Kingka Vanilla kita." Tiffany berkata. Di dukung yang lain dengan anggukan antusias.

Jaejoong berbinar bahagia, meskipun ia sendiri menghianati jati diri kelelakianya. Ia merasa tidak nyaman dengan gaun yang lebih cocok untuk wanita, ia sempat memprotes ketika Jessica memperlihatkan gaun berwarna putih di atas lutut dengan rok sedikit mengembang di bagian bawahnya.

Renda di lengan atas begitu transparan seakan Jaejoong tidak mengenakan kain tipis itu sana. Leher gaun itu cukup sopan dengan pernak pernik yang entah apa namanya di bagian depan yang Jaejoong tidak tahu, dan tidak mau tahu. Ia hanya berharap penderitaan ini segera berakhir, meskipun ia suka melihat Jaejoong si cantik yang berdiri di hadapanya saat ini, bagian dari dirinya.

Wajahnya kembali cemberut kerika mengingat mereka telah berhasil memaksanya untuk mengenakan bra yang membuat dadanya menggembung sempurna, Ya Tuhan, mereka akan mencabuti bulu Jiji kalau Jaejoong tidak memakainya. Ia tidak akan suka Jiji tanpa bulu, itu mengerikan. Kucingnya yang malang. Batin Jaejoong sengsara.

"Tunggulah disini aku akan memanggil Mama, dia sedang bersama Mrs. Jung yang datang bersama keponakanya di lantai atas." Jessica membetulkan poni Jaejoong sebelum ia berjalan keluar.

"Mrs. Jung?" seru yang lain.

Jessica berhenti di ambang pintu." Ya, Ibu Yunho, dia pelanggan tetap butik Mama, ku rasa Yunho juga datang bersama ibunya"

"Aku ikut." Taeyoon berseru dan menyerbu keluar bersama Jessica, diikuti teman teman lainya.

Mata Jaejoong mendelik menatap pintu ruang ganti tertutup di belakang sembilan ekor gomiho. Yunho disini, di butik para wanita? Bagaimana pria itu bisa disini? Ya Tuhan, apa yang harus ia lakukan sendainya pemuda itu melihatnya.

Jaejoong ngeri sendiri membayangkan Yunho akan menertawakan dirinya, pemuda itu pasti akan merebut jabatan Kingka di sekolah seandainya melihat Jaejoong dalam balutan gaun seorang gadis kecentilan yang ia akui dengan berat hati begitu sexy ia kenakan.

Ia menelusuri ruang tunggu yang menyatu dengan ruang ganti dengan debaran jantung yang mulai menggila. Semoga Tuhan melindunginya, semoga Yunho mengikuti Ibunya ke lantai atas dan semoga ...

Pintu ruang tunggu terbuka dan Jaejoong menatap horor kebelakang, melewati bahu kearah pemuda yang berdiri di ambang pintu. Sial, bagaimana Yunho bisa masuk ...

"Maaf, Aku kira tidak ada orang di dalam sini. Barusan aku melihat sembilan gadis berlarian keluar," Tangan kanan pria itu masih memegang handle pintu ketika mata pemuda itu menatap kearah Jaejoong.

Dengan kaku Jaejoong mengangguk, berharap Yunho segera keluar, akan tetapi alih alih keluar Yunho melenggang masuk dan berjalan kearahnya. Mata pria itu tidak luput mengamati tubuh Jaejoong dari atas sampai ke bawah. "Gaun yang indah," Yunho berkata.

Jaejoong merasa wajahnya menghangat mendengar pujian Yunho barusan. "Seindah dirimu, nona."

Jaejoong menunduk. Ya Tuhan, benarkah ini Yunho, pemuda saingan yang ia benci. Jaejoong yakin wajahnya sudah pasti berubah merah, ia menatap kaca dan mendapati Yunho juga memandangnya disana.

Pria itu berdiri tepat di belakang Jaejoong, tinggi mereka hampir sama mengingat Jaejoong memakai High hell milik Jessica. Jaejoong. memberanikan diri mengangkat pandanganya untuk melihat Pemuda itu di pantulan kaca. Mata mereka kembali bertemu dalam pantulan kaca bening yang membuat dunia seakan berhenti detik itu juga.

Oh Tuhan, Yunho sungguh tampan dengan pakaian santai yang ia kenakan. Kaos putih longgar dengan celana selutut berwarna biru pudar. Kaca mata hitam menggantung indah di kaus tepat di tengah dada pemuda itu, memperlihatkan dada bagian dalam Yunho yang terdorong tekanan kaca mata.

Jantung Jaejoong berdebar debar. Oh ia takut pastinya! Akan tetapi ada perasaan lain yang tidak ia ketahui apa, menelusup dalam perut Jaejoong ketika tatapan mata musang Yunho menelanjangi tubuhnya dari atas kebawah dan kembali berulang kali.

Jaejoong memutar tubuh berniat menjauh dari pemuda itu. Akan getapi ia melupakan kenyataan tentang High hell yang ia pakai, tubuhnya limbung sebelum ia mengakat kaki lain untuk menyesuaikan diri. Jaejoong sudah siap merelakan wajah tampanya mencium lantai yang keras, alih alih sepasang lengan merengkuh pinggangnya sampai ia merasakan sesuatu yang keras membentur punggungnya.

Takut takut Jaejoong membuka mata, ia menunduk menemukan sepasang lengan memeluknya begitu erat di perut bagian atas. Jaejoong menoleh melewati bahu menemukan sepasang mata musang yang menatapnya cemas. "Kau tidak apa apa?" kekhawatiran dalam suara Yunho begitu nyata.

Tenggorokan Jaejoong terasa kering untuk sekedar bersuara, Ia mengangguk kaku. Yunho masih tidak melepaskan lengannya ketika salah satu tangan pemuda itu terangkat dan membelai sisi wajah Jaejoong. Jaejoong yakin Yunho mampu mendengar debaran jantungnya yang begitu keras.

Mata Jajeoong terbelalak ngeri mendengar pertanyaan yang di lontarkan pemuda itu selanjutnya.

"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"

~TBC~

Typo dimana mana. Sudah aku edit, maaf seandainya masih ada typo. Karena Author ngetik di hape.

Trimakasih atas RCLdan masukan Dari kalian. Terutama yang mengatakan kesalahan sulis dengan sopan. Gamsahamnida RCLnya.

BoW *peluk reader satu satu

#lebay.

Trimakasih atas masukan kalian Author sangat berterimakasih, dan itu sangat membantu untuk menginhatkan Author.

Mohon di maklumi karena author ngetiknya di HP jadi banyak Typo. *alasan*

Tengok juga FF Author di wattpat : SulisKim.

kamsahamnida.