Our Beloved Imouto
Naruto © Masashi Kishimoto
Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadoshi
Rated T.
Romance, Family & Drama.
Main Chara : [ Hinata H. & Kagami T. ] Kiseki no Sedai.
Warnings : OOC, Crossover, Hinata-Cent!, Typo, etc.
.
.
Happy Reading!
.
.
"Hinata-Chan!"
Momoi berteriak histeris dengan kehadiran Hinata di sekolahnya bersama Aomine. Membuat mereka menjadi pusat perhatian siswa yang berlalu lalang di jam istirahat ini.
Momoi membawa Hinata kedalam pelukan eratnya. Gadis bermata magenta itu sungguh rindu dengan Hinata yang sudah ia anggap adiknya.
"Kenapa kau tidak bilang jika sudah kembali ke Jepang?" Hinata tersenyum kaku. Bukan keinginannya untuk tak menghubungi Momoi, tapi kakaknya yang melarangnya.
Momoi menunjukkan wajah sedih yang membuat Hinata makin tak enak hati. "Gomenne, Sat-chan." Ucapnya manja sambil memeluk erat lengan Momoi dan tentu di balas pelukan oleh gadis cantik itu.
Aomine mengerutkan kening melihat tingkah dua gadis di hadapannya. Inilah mengapa dia tak mau memberi tahu tentang kepulangan Hinata pada Momoi. Bukan jahat, tapi liat saja Momoi yang seolah tak mau melepas pelukannya pada gadis itu, sama seperti Kise.
"Jika aku memberitahumu, kau pasti langsung memonopolinya dan membawanya kabur."
Momoi langsung menatap Aomine tajam, cemberut. Apa maksudnya bocah malas itu? Memang tak boleh apa jika nanti dia mengajak Hinata jalan-jalan?
"Ku dengar kau sedang memilih sekolah?" Momoi tak mau membalas ucapan Aomine. Ia lebih memilih topik yang beberapa saat lalu Aomine beritahukan padanya.
Mengangguk semangat, Hinata menjawab pertanyaan gadis yang Hinata anggap sebagai kakak perempuannya.
"Kyaaa! Bagus sekali..!" Momoi loncat-loncat kegirangan. Entah apa yang membuat kabar itu sangat menggembirakan baginya.
"Kalau begitu, di Touou saja!" Tawar Momoi terlampau semangat.
Meski berisik, tapi inilah yang Aomine suka dengan kehadiran Momoi. Dengan adanya Momoi, Akademi Touou pasti mendapat nilai lebih bagi Hinata. Disini ada dirinya dan Momoi, dua orang yang sudah sangat akrab dengan gadis itu. Pastinya, Hinata tak akan ragu-ragu lagi kan?
"Tidak begitu, aku tetap harus melihat sekolah yang lain."
Aomine mendesah. Adiknya ternyata masih gadis baik yang tak mau melukai perasaan orang.
Meski sedikit kecewa, Momoi tak bisa memaksa. Kalau begitu, "Aku akan beri tahu semua padamu keistimewaan Touou, data-data yang kumiliki pasti tak diragukan lagi keakuratannya. Ayo Hinata!" dengan semangat, Momoi menarik lengan Hinata. Mengajaknya memasuki gedung sekolah Touou.
"Dengan begitu nilai Touou akan lebih dari sekolah lainnya,"
.
.
Momoi menjelaskan setiap detail bagian Akademi Touou dengan sangat jelas. Hinata selalu takjub dengan ketepatan Momoi dalam memperoleh data-data informasi. Jika kau mempunyai lelaki idaman dan ingin mengetahui segala sesuatunya, mungkin Momoi bisa jadi tempat untukmu bertanya. Berlebihan? Tapi seperti itulah Momoi dimata Hinata.
Aomine yang mengekor kedua gadis itu, hanya menguap tak tertarik dengan penjelasan manajer tim basketnya. Meski dalam hati, diam-diam pemuda itu mensyukuri ada Momoi disini. Jika tidak, bisa bayangkan apa yang akan Aomine jelaskan pada Hinata? secara yang dirinya tahu hanya ruang kelasnya, lab-lab yang biasa untuk praktek, lapangan basket timnya, atap tempatnya tidur, kantin dan toilet. Hanya seputar itu kehidupannya di Touou.
"Ada klub seperti itu juga di Touou."
Momoi mengangguk, "Benar, kerenkan?" Hinata tersenyum antusias membalasnya.
Aomine, dia sudah tak tahu lagi yang gadis-gadis ini tengah bicarakan.
Bruuk
"S-sumimasen, sumimasen!"
Seseorang menjatuhkan tumpukan buku-buku yang tadi dibawanya. Sebenarnya ia jatuh karena tersandung kakinya sendiri, tak ada juga orang yang terluka karena kesalahannya, tapi pemuda itu berkali-kali mengucapkan maaf sambil membenahi sendiri bukunya yang berantakan.
Hinata menatap bingung pemuda itu. Dia minta maaf pada siapa?
"Sakurai-san?" Eh, Momoi mengenalnya? Buru-buru gadis cantik itu membantu pemuda sumimasen itu.
"Ah, kenapa dia selalu ceroboh?" Hinata menatap Aomine. Sepertinya kakaknya juga mengenal pemuda itu.
"M-Momoi-san, Sumimasen, Arigatou, s-sumimasen." Pemuda itu, berkali-kali ber-ojigi pada Momoi. Dibalas senyum canggung dari Momoi. Bingung juga, sebenarnya pemuda itu mau berterima kasih atau minta maaf?
"Hei, hentikan tingkahmu itu, Sakurai." Aomine datang dari belakang Momoi. Mengejutkan pemuda itu yang wajahnya menjadi semakin pucat. Melihatnya, Hinata semakin bingung, raut mukanya seperti dia baru saja melakukan kesalahan yang tak bisa diampuni meski ia sudah dihukum 100 tahun penjara.
"Ah, Aomine-san. H-hai sumimasen!" lagi-lagi dia membungkuk. Momoi hanya tersenyum maklum dan Aomine memutar bola mata bosan.
"Kau baik-baik saja?" Hinata memberanikan diri bertanya.
"Ha'i, S-su.." ucapan Sakurai terhenti di tenggorakan saat melihat gadis asing dihadapanya.
"Siapa?" sambungnya.
"Adikku," eh, Adik Aomine?
"H-hyuuga san?" ucapnya hati-hati.
Hinata mengangguk.
"Aaa, Sumi."
"Hentikan, Sakurai!" geraman Aomine sukses membuat Sakurai menutup mulutnya. Hinata terkekeh melihat Sakurai yang langsung menurut begitu pada Aomine. Dan jika di lihat, Hinata pernah melihat pemuda sumimasen ini. Dimana ya?
"Haa~" teriakan Hinata membuat Sakurai, Momoi bahkan Aomine berjengit kaget. Buru-buru Hinata mengambil sesuatu di dalam tasnya –sebuah majalah. Ia membukanya dan mencocokan gambar yang ada di majalah dan seseorang yang tengah berdiri di depannya sambil menatapnya bingung dan horror.
"Huaah, lihat ini kau?"
Kirain apa?!
Aomine dan Momoi hanya mendesah tak percaya pada kelakuan Hinata. Sakurai hanya tersenyum canggung dan menggaruk pelipisnya. Tak percaya jika ada seseorang yang memperhatikan fotonya di majalah. Padahal fotonya cukup kecil dan bukan sebagai fokus utama. Karena ya pasti semua juga tahu siapa fokus utamannya.
"Kau keren," Hinata benar-benar tulus mengatakannya. Gadis itu mengacungkan jempol kirinya, tanda salut.
"Arigatou," rona merah terlihat samar dipipi tembem pemuda itu.
Hinata memperhatikannya. Manis sekali, pikir gadis itu jujur.
"Ah, aku harus segera pergi." Teringat akan tugasnya mengembalikan buku yang dibawa ke perpustakaan, Sakurai segera meninggalkan mereka, setelah pamit dan mengucapkan lima kali sumimasen –Hinata sempat menghitungnya- pada mereka bertiga.
"Nii-chanmu ini juga keren,"
"Lihat?" Aomine menunjuk-nunjuk fotonya yang terlihat paling besar.
Hinata menyipit sinis melihat kakaknya. "Kau tidak bosan, selalu ku bilang keren?" ucapnya.
"Jika itu dari adiku tersayang," Aomine menggeleng sambil menatap Hinata dalam, "..maka aku tak akan pernah bosan,"
Meski ada rona dipipinya. Hinata hanya dapat menghela napas, malas. Kakaknya masih pandai menggoda rupanya.
"Hyaa, siapa ini? Daichan yang ku kenal? Manis sekali?" goda Momoi sambil menyodok-nyodokan telunjuknya ke perut Aomine.
"Aku memang manis, karena itu kau menyukaiku, kan?" Jawab Aomine narsis dan blak-blakan.
Momoi terdiam. Ia mengedipkan matanya beberapa kali menatap Aomine. "S-siapa yang menyukaimu?" Bentak Momoi. "Kau kurang putih. Bukan tipe-ku!" setelah mengatakannya, Momoi berjalan cepat meninggalkan kakak-beradik itu.
"Hey, jika kau tidak menyukaiku tidak mungkin kau selalu membuntutiku?" Aomine mengeraskan suaranya untuk memastikan Momoi mendengarnya di depan sana.
Hinata menatap kakaknya dan punggung Momoi bergantian dengan jengah. Sudah seperti itu, kenapa mereka masih belum pacaran juga sih?
Hinata memeluk lengan Aomine, mendongak untuk menatap kakaknya. "Ayo lanjutkan tournya, Niichan. Kau harus bertanggung jawab karena membuat pemanduku kabur!"
Aomine terkekeh. Mengacak poni Hinata dan mengajaknya mengejar si pemandu cantik di depan sana.
.
.
Hinata dan Murasakibara berangkat dari rumah lebih pagi dari saudara-saudara lainnya. Mereka bahkan tak menunggu Kise yang biasanya berangkat bersama Murasakibara, meski begitu mereka baru sampai di Yosen 10 menit sebelum bel jam pertama berbunyi. Yosen memang yang paling jauh dibanding dengan yang lainnya.
"Apa Nii-chan selalu telat?"
Murasakibara mengangguk dengan gamblang. Hinata cengo melihat jawaban datar kakaknya itu. Selain makanan dan basket, sepertinya tak ada lagi yang ia pedulikan.
Hinata membuntuti Murasakibara yang lebih dulu berjalan memasuki gedung sekolahnya, meninggalkan Kotetsu yang tengah memakirkan mobil di parkiran Yosen.
"Niichan, tidak buru-buru?" melihat Murasakibara yang hanya berjalan santai membuat Hinata sedikit heran, rasanya kontras sekali dengan beberapa siswa-siswi yang mulai berlarian di koridor takut tertinggal pelajaran.
"Untuk apa? Kelasku kosong untuk jam pertama dan kedua nanti." Ha? Hinata berkedip tak mengerti. Dengan gerakan tak ada niat, Murasakibara merogoh kantung celananya, mengambil smartphonenya, melihatnya sebentar lalu menunjukkannya pada Hinata.
Sebuah pesan dari seseorang bernama Muro-chin.
Tersenyum miring, Hinata hanya bisa mendesah dengan tingkah kakaknya. Jika begini, seharusnya mereka masih bisa menunggu Kise tadi.
"Aku baru mendapat pesannya, Nata-chin~" Bela Murasakibara.
Iya, Hinata tahu. Hanya saja terburu-burunya tadi pagi rasanya jadi sia-sia.
"Eh, Muro-chin."
"Atsushi," di depan pintu kelas, Himuro menghentikan langkahnya menunggu Murasakibara yang berjalan ke arahnya bersama gadis asing yang tak memakai seragam sekolah. Gadis itu memakai pakaian informal. Membuat Himuro memicingkan mata penasaran.
"Ku kira kau tidak akan berangkat pagi?"
"Nee, aku baru menerima pesanmu di jalan," Murasakibara mulai makan snack maiobu-nya.
"Lalu, siapa gadis ini?"
Hinata segera merunduk memberi salam. "Hyuuga Hinata desu."
"Ah, Kiseki no sedai no Imouto?" Hinata hanya tersenyum menanggapi pernyataan dari teman kakaknya.
"Atsushi sudah bercerita banyak tentangmu, aku juga melihat fotomu di ponselnya. Tapi kau tetap terlihat berbeda jika melihat langsung begini. Lebih cantik ternyata."
Hinata tak bisa menahan rona merah di pipinya. Gadis itu merunduk sambil memegangi pipinya. Dan tanpa sadar, Hinata juga menarik-narik kemeja Murasakibara, saking malunya. Hinata di goda atau dipuji kakaknya yang sudah biasa saja masih suka merona apalagi pria lain?.
Murasakibara hanya menatap Hinata yang menarik-narik kemejanya dengan tatapan datar. Sebenarnya, melihat adiknya yang malu-malu seperti itu Murasakibara juga gemas. Tapi ya, dia tak terlalu bisa berekpresi.
"Nee, Muro-chin, jangan menggodanya." Cuma itu yang bisa dikatakan Murasakibara, kemudian melanjutkan lagi makan snack kesayangannya.
"Haha, sumanai." Himuro tersenyum canggung menanggapi. Tadi itu dia tak ada niatan menggoda padahal. "Oh iya, Hinata-san aku Himuro Tatsuya desu, Yoroshiku nee." sambung Himuro ramah.
"Yoroshiku"
"Jadi kau ingin melihat-lihat Yosen?" Hinata mengangguk. Tak hanya melihat-lihat, hari ini rencananya Hinata juga akan menemani Murasakibara berlatih basket. Karena memang Yosen paling jauh dari rumahnya Hinata tak mau merepotkan supirnya untuk bolak-balik mengantarnya dan kembali lagi menjemput kakaknya, jadi Hinata memutuskan untuk seharian berada di Yosen. Karenanya Hinata berharap perpustakaan Yosen nyaman untuknya.
"Nee, Muro-chin bisa membantuku kan?"
Melihat seperti apa Murasakibara, bantuan Himuro untuk mengantar keliling dan menjelaskan seputar Yosen pasti akan sangat berguna. Tadinya Hinata sudah membayangkan perjalanannya keliling Yosen sama seperti saat bersama Kise dan mungkin Murasakibara bahkan hanya memakan maibonya.
"Ha'i, aku akan membantu sebisanya." Seperti biasa, sopan dan ramah.
"Hinata-san kau ingin mulai dari m.." ucapan Himuro terhenti, saat suara dering smartphonenya terdengar. Mengambil di sakunya, Himuro menjawab panggilan tersebut.
"Ya, Taiga?" seseorang di sebrang sana berbicara. Himuro memberi gesture untuk pamit sebentar. Hinata mengerti dan mengangguk sebagai jawaban. Membiarkan Himuro berjalan mencari tempat yang lebih tenang.
"Siapa itu Taiga?" bukan urusan Hinata sih, tapi dia penasaran.
"Orang tidak penting," jawab cuek Murasakibara.
Hinata menyipit menatap wajah kakaknya. "hmmm, sepertinya kau tidak menyukai orang yang bernama Taiga itu?" goda Hinata.
"Memang. Nata-chin harus menjauhinya."
"Issh" Kenal aja nggak, kenapa harus menjauhinya. Hinata hanya mengedikkan bahu menanggapi.
.
.
Mobil yang ditumpangi Hinata dan Murasakibara baru sampai pukul 7 malam di kediaman kiseki no sedai. Keduanya bahkan tidur dengan nyamannya selama perjalanan. Hinata yang tidur terlebih dahulu, Murasakibara menyusul saat persediaan snacknya sudah habis.
Murasakibara mengerang, ia kejapkan mata ngantuknya beberapa kali saat seseorang memanggil-manggil namanya.
"Atsushi-san, kita sudah sampai." Panggil Kotetsu sabar, mencoba untuk tetap melirihkan suaranya namun tetap membuat pemuda tinggi itu bisa mendengarnya.
Meregangkan badannya, Murasakibara keluar saat sebelumya melihat kondisi Hinata yang masih tertidur dengan pulasnya.
"Bagaimana dengan Hinata-san?"
"Biarkan saja, dia masih tidur. Aku akan panggilkan Mine-chin untuk menggendongnya." Jawab Murasakibara sambil sesekali menguap.
Pemuda tinggi itu berjalan menuju pintu. Langkahnya agak limbung menahan ngantuk yang masih menempel.
"Kau sudah pulang?" belum sampai, Akashi sudah ada di depannya. Murasakibara mengangguk.
"Dimana Hinata?"
"Dia di mobil, masih tidur."
"Kau meninggalkannya?"
"Aku akan memanggil Mine-chin untuk menggendongnya."
Akashi menatap Murasakibara. Padahal badannya tinggi dan besar tapi menggendong Hinata yang bobotnya tidak seberapa saja minta bantuan orang. Akashi geleng-geleng memikirkannya.
"Aku ngantuk, Aka-chin," lagi-lagi Murasakibara membela dirinya padahal tidak ada yang mengeluarkan suara menyalahkannya.
Akashi menghela napas, "Tak perlu panggil Daiki, biar aku saja." Akashi hendak pergi tapi Murasakibara tetap diam sambil menatapnya, membuat sang pemilik surai merah menyala itu mengernyit heran.
"Memangnya Aka-chin bisa?"
Perempatan muncul di dahi mulus Akashi. Menahan napas, Akashi mencoba tetap stay cool dan menyabarkan diri.
"Kau meragukanku?" jawabnya tajam.
"Tidak. Aku hanya bertanya,?" jawab Murasakibara cepat dan santai. Lalu berlalu begitu saja seolah tak terjadi apapun.
Akashi mendesah pelan. Pemikiran Murasakibara yang seperti anak-anak itu memang terkadang sangat menyebalkan. Well, jika dipikirkan adik-adiknya memang menyebalkan semua dengan cara mereka masing-masing.
.
.
Akashi membuka pintu mobil, mengecek keadaan Hinata yang masih pulas bersama mimpinya. Mungkin gadis ini terlalu lelah menyamakan langkah kakinya dengan langkah kaki Murasakibara tadi.
Tak mau berlama-lama membiarkan adik bungsunya tidur dengan posisi yang akan membuat lehernya sakit, Akashi mulai melepas sabuk pengaman yang melindungi gadis itu selama perjalanan. Dengan perlahan Akashi membenarkan posisi Hinata agar mudah ia gendong tanpa harus membangunkan gadis itu.
Beberapa kali Hinata bergumam dan menggerang merasa terganggu namun ia sama sekali tak membuka matanya.
Akashi hanya tersenyum melihat raut tidur Hinata. "Dasar putri tidur," gumamnya.
Ternyata Hinata lebih ringan dari yang dibayangkannya. Mengingat gadis ini sangat suka makan dan ngemil. Akashi kira adiknya akan lebih berat dari ini, nyatanya tidak. Dia benar-benar akan membuat para gadis iri jika mengetahuinya.
Baru Akashi akan memikirkan bagaimana caranya dia membuka pintu sedangkan kedua tangannya menggendong Hinata, pintu besar kediamannya tiba-tiba terbuka lebar, memperlihatkan Aomine yang terkejut melihat Akashi dan Hinata di gendongan kakaknya itu.
"Waah, kau berhasil membawanya?" alis Akashi terangkat. Apa maksudnya?
"Tadinya, aku akan menyusulmu," lagi, Akashi harus menahan napas untuk menenangkan diri. Adiknya benar-benar meremehkannya. Mentang-mentang tinggi dan berbadan besar.
"Kalau begitu bawa dia ke kamarnya," Akashi menyerahkan Hinata pada Aomine. Kesal.
"Ha'i" Aomine tahu Akashi sedang menahan marah, karenanya ia buru-buru pergi ke kamar Hinata sebelum Akashi benar-benar meledak lalu menghukumnya membersihkan rumah mereka.
Lagi pula Hinata, ribut-ribut begitupun masih lelap? Dekapan kakaknya terlalu nyaman untuknya pasti.
.
.
"Kau mau makan apa? Biar aku pesankan."
Sekarang Hinata dan Akashi berada di kantin milik Rakuzan yang lebih mirip restoran berbintang. Setelah tadi mengelilingi Rakuzan yang luasnya bikin Hinata memikirkan memesan tukang pijat untuk kakinya. Herannya sekolah seluas ini tak membuat Akashi bingung dan tersesat. Bagi Hinata, itu luar biasa.
"Aku mau satu paket lengkap sushi, spageti, burger dan sosis. Aku juga mau strawberry milk shake."
"Kau akan memakannya?" tanya Akashi takjub.
"Aku kelaparan dan kelelahan." Rengek Hinata.
"Baiklah, tunggu sebentar ya, Nona." Canda Akashi dan berlalu. Hinata hanya tersenyum menatap punggung kakaknya yang menjauh.
"Haah," Hinata menghela napas. Entah disini atau dimana, orang-orang masih tetap saja memperhatikannya. Ada yang meliriknya diam-diam dan ada yang jelas-jelas menatapnya tajam lalu berbisik menanyakan tentang siapa dirinya. Hinata maklum. Selain dia ini memang baru pertama kali terlihat di Rakuzan, orang yang sedari tadi disamping Hinata juga adalah Akashi. Siapa yang tak mengenal Akashi? Hinata yakin, bahkan anak yang jarang masuk sekolah pun akan mengenal Akashi kecuali dia hidup di bawah batu. Dan keberadaan orang asing bergender gadis cantik di dekat sang idola Rakuzan dan terlihat sangat akrab, pasti menjadi trending topic sendiri dikalangan fans, hater maupun kalangan putih.
Hinata memperbaiki duduknya, saat Akashi datang menghampirinya, dibelakang pemuda itu seseorang yang pasti adalah pelayan di kantin membawakan makanan pesanan Hinata.
"Arigatou," ucap hinata pada pelayan manis tadi.
"Sei-niichan, are you sure, just drink a coffe?" Hinata menatap heran kakaknya. Dia tidak lapar memangnya? Hinata saja sangat kelaparan sampai merasa seperti orang sakit.
"Kau sudah memesan banyak, aku bisa memintanya."
Hinata membuat perlindungan pada makanannya dan menatap Akashi tajam.
"Aku tidak akan membaginya,"
"Cih, Stingy." Decih Akashi, menatap adiknya tak percaya.
Tak peduli dengan ledekan Akashi Hinata mulai memakan makananya. Dimulai dari sushi, lalu spagety. Sepertinya Hinata akan menghabiskannya secara bersamaan. Bukan menunggu ketika dari salah satu jenis makanan itu habis terlebih dahulu.
"Nee, nii-chan. Apa kau punya wanita yang kau sukai?" Hinata memulai obrolan yang jauh dari perkiraan.
Menurut Hinata, kakak-kakaknya itu tampan, popular dan berbakat, masa iya masih pada jomblo? Mereka itu kandidat sangat kuat untuk jadi player. Tapi selain Kise, mereka sepertinya tak pernah yang namanya dekat-dekat dengan kata pacaran, bahkan Kise saja sekarang malah ikut menjomblo.
"Ada," jawab Akashi cepat, membuat Hinata hampir tersedak sosis yang akan ditelannya.
"Siapa?" Tanya Hinata penasaran.
"Kau dan Okaa-san." Hinata terdiam. Menatap kakaknya jengah. Ia makan sushi di sumpitnya yang tadi sempat tertunda masuk mulutnya dengan kasar.
"Tentu selain aku dan Kaa-san,"
"Telan dulu makananmu sebelum bicara," Akashi mengernyit melihat Hinata yang makan bukan seperti anak gadis dari kalangan atas.
Setelah menghabiskan spagety yang menurut Hinata isinya sangat sedikit untuk ukuran satu porsi. Hinata menatap kakaknya dengan pandangan menyipit yang diserius-seriuskan, badannya condong kearah Akashi.
"Nee, kalau Sat-chan bagaimana? Nii-chan tidak menyukainya? Dia cantik dan pintar loh."
Akashi melirik Hinata. Ia menatap tajam adiknya yang antusias menunggu jawabannya.
"Kau mau Daiki membunuhku?"
Berkedip beberapa kali, Hinata perlahan menjauhkan badannya dari Akashi. Kembali ia mulai menghabiskan sushi dan sosis yang tersisa.
"Benar. Aku juga akan membunuhmu jika nii-chan berani-berani merebutnya."
Akashi hanya terkekeh. Tiba-tiba bertanya hal-hal yang aneh, adiknya ini susah diprediksi.
Hinata menopang dagunya dengan tangan kirinya dan menatap Akashi yang masih menyedot ice coffe di tangan kirinya dan memainkan smartphone di tangan kanannya.
Merasa diperhatikan, Akashi mengalihkan perhatiannya dari smartphone ke Hinata di sampingnya.
"Apa lagi?"
"Kau benar-benar sudah kembali?" Akashi mengangkat sebelah alisnya.
"Sekarang dihadapanku ini Akashi yang mana?" Akashi tersenyum setelah memahami apa perkataan Hinata, ia kemudian meniru posisi Hinata sehingga mereka berhadapan dengan posisi yang sama.
"Menurutmu yang mana?"
"Kalian berdua sama saja jika bersamaku, jadi tidak ada bedanya menurutku. Tapi jika dilihat dari hubungan nii-san dengan yang lain saat 2 tahun yang lalu dengan sekarang, aku bisa membedakannya. Dan kurasa kau benar-benar kembali ke Akashi yang diperkenalkan Otou-san dan Okaa-san kepadaku 10 tahun yang lalu."
"Okaa-san dan Otou-san sangat mengkhawatirkan Aka-nii dan yang lain saat itu, mereka benar-benar merasa bersalah harus meninggalkan kalian di Jepang."
"Tapi kalian benar-benar bisa berakting seolah semua baik-baik saja saat mengunjungi kami. Kalian benar-benar menyebalkan."
"Gomen,"
Hinata menghela napas, ia memperbaiki posisinya dan kembali mengambil sushi didepannya.
"Kenapa minta maaf? Lagi pula semua sudah baik-baik saja. Tak ada yang perlu dicemaskan lagi."
Akashi tersenyum, meski ucapan Hinata tadi membuatnya kembali merasakan rasa bersalah.
"Sekarang giliran nii-san yang bertanya."
"Apa?" jawab Hinata tanpa melihat Akashi. Hinata sibuk memakan burgernya sekarang setelah sushi dan sosisnya sudah habis.
"Jadi, apa kau sudah punya pilihan sekarang?"
"Aku belum mengunjungi Seirin,"
"Setidaknya kandidat kuat, Hinata."
"Mmm," Hinata mulai berpikir, kemudian mengangguk.
"Biar kutebak," Akashi menatap Hinata yang balas menatapnya.
"Touou?" Hinata mengangguk semangat. Pasti karena ada Momoi dan Aomine.
Adiknya memang penuh kejutan tapi mudah di tebak disaat bersamaan. "Lalu, Rakuzan? Bagaimana menurutmu?"
Hinata menatap sekelilingnya. "Sama seperti di London."
Anak-anak yang berada di Rakuzan bukan anak sembarangan, mereka adalah yang unggul dibidangnya, akademik ataupun non-akademik. Selain itu juga mereka dari anak-anak orang kaya, ataupun orang penting di negeri ini. Beberapa kali Hinata juga melihat anak-anak yang berwajah asing. Dilihat dari manapun Rakuzan bukan sekolah yang diisi siswa asal-asalan. Dari pakaian, cara mereka berjalan dan berinteraksi menunjukan kesan high class. Gedung dan segala isi penunjangnya juga high kuality. Pengajarnya pun adalah yang terbaik dibidangnya. Benar-benar ciri khas seorang Akashi Seijuro. Atau Hinata bisa bilang jika Rakuzan sangat Akashi sekali. Dan yang cocok dengan Akashi memang hanyalah Rakuzan ini. Intinya di sekolah yang sudah mentereng seperti ini, Akashi masih tetap bisa bersinar. Bukankah itu luar biasa? Bagaimana jika Akashi sekolah di luar Rakuzan? Pasti sinarnya justru akan menenggelamkan sekolahnya itu.
Jadi intinya, Rakuzan hampir mirip dengan sekolah Hinata dulu di London. Sekolahnya mentereng, di isi anak-anak yang mentereng dan berkilau pula seperti Akashi. Dan sebenarnya itu tak terlalu cocok untuknya, karena Hinata pasti akan tenggelam dalam kilauan itu dan menjadi tak terlihat. Berkilau itu bagus tapi jika terlalu silau akan mencelakakan. Menurut Hinata seperti itu.
"Sekolahmu bagus kan di London?"
Hinata mengangguk, "Aku ingin suasana sekolah baru," Hinata nyengir. Berharap Akashi mengerti.
Menghela napas, Akashi tak bisa memaksa. "Sepertinya dengan adanya aku pun tak bisa membuat Rakuzan mendapat nilai lebih."
"Sorry,"
.
.
.
To Be Continued
Sorry for late update :(
Thanks for Reading, I Hope you wanna give some Review for me.. :))
See yaa,
21/7/16, Mey Lv
